• Tidak ada hasil yang ditemukan

355 Potensi dan Kendala dalam Budidaya Tanaman Kedelai

Berbagai tantangan dan permasalahan dalam budidaya tanaman kedelai menjadi penyebab terjadinya kesenjangan hasil antar agroekosistem. Kesenjangan hasil ini masih menjadi perhatian untuk mencapai kemandirian swasembada kedelai saat ini. Kendala tersebut berbeda antar agroekosistem.

Potensi dan kendala pengembangan kedelai di lahan sawah

Kedelai di lahan sawah ditanam setelah atau sebelum tanaman padi. Agar kedelai produktivitasnya tinggi, perlu dipilih varietas yang toleran terhadap kekeringan dan genangan. Selain itu pengaturan pengolahan tanah, pola tanam dan manajemen organisme pengganggu tanaman (OPT) juga perlu diperhatikan.

Kendala utama penanaman kedelai di lahan sawah adalah kondisi iklim yang tidak menentu dan tingginya serangan hama dan penyakit. Perubahan iklim yang secara tiba-tiba akan mengganggu pertumbuhan dan produksi kedelai. Kedelai merupakan tanaman yang sangat peka pada curah hujan yang tinggi dan kekeringan yang berkepanjangan.

Kedelai lahan kering/tadah hujan

Petani lahan kering/tadah hujan masih menghadapi permasalahan penyediaan teknologi spesifik lokasi. Hal ini diindikasikan oleh penerapan teknik budidaya kedelai yang umumnya masih sangat sederhana, yaitu dalam penerapan teknologi pengolahan tanah, pemupukan, dan pemberantasan hama/penyakitnya. Petani juga menghadapi kendala utama berupa kurang tersedianya benih yang berkualitas, terutama pada saat-saat dibutuhkan oleh para petani.

Tingkat capaian produksi yang tinggi sebenarnya bukan jaminan tingkat pendapatan yang tinggi pula. Pendapatan dipengaruhi oleh harga jual panen dan biaya sarana produksi.

Untuk itu strategi yang tepat sangat diperlukan untuk meningkatkan produksi sekaligus meningkatkan pendapatan petani kedelai

Kedelai di bawah tegakan hutan muda/karet

Konversi lahan pertanian untuk lahan non pertanian masih terus berlangsung dengan intensitas yang semakin tinggi. Padahal perluasan tanam kedelai sangat mendesak untuk terus dilakukan seiring dengan dengan pertambahan jumlah penduduk.

Pemanfaatan ruang di antara pohon di hutan jati untuk produksi kedelai cukup potensial. Pengkajian usahatani kedelai di areal hutan jati yang berada di bawah penguasaan Perum Perhutani membuktikan bahwa produktivitas tanaman kedelai di kawasan hutan jati masih dapat ditingkatkan. Potensi lahan Perum Perhutani yang dikelola sebagai hutan produksi di Jawa mencakup jumlah keseluruhan 1.767.304 Ha dengan rincian Jawa Tengah seluas 546.290 ha, Perhutani II (Jawa Timur) 809.959 ha dan Perhutani III (Jawa Barat) 411.055 ha. Berdasarkan hasil survey Tim Puslitbangtan potensi hutan yang dikelola Perum Perhutani yang sesuai untuk pertanaman tanaman pangan termasuk kedelai adalah seluas 290.103 ha, dan peluang perluasan areal tanam kedelai di Jawa Tengah seluas 108.000 Ha.

Permasalahan yang dihadapi dalam budidaya tanaman kedelai lahan hutan jati muda adalah penentuan saat tanam terkait dengan ketersediaan air di saat terjadi perubahan jadwal saat musim hujan. Selain itu kendala yang dirasakan para petani adalah kurang tersedianya benih yang berkualitas, terutama pada saat-saat dibutuhkan oleh para petani. Inovasi teknik budidaya kedelai yang dilakukan sebagian besar petani umumnya masih sangat sederhana baik dalam pengolahan tanah, pemupukan dan pemberantasan hama/penyakitnya. Oleh karenanya diperlukan upaya/strategi khusus untuk meningkatkan produksi kedelai di bawah tegakan hutan jati.

|357

PENUTUP

Perluasan areal budidaya kedelai berbagai agroekosistem membutuhkan penyediaan dan penerapan inovasi teknologi. Pendekatan konsep pengelolaan tanaman terpadu (PTT) pada tanaman kedelai sangat tepat karena terbukti mampu meningkatkan produktivitas dan mengurangi kesenjangan hasil.

Inovasi pendekatan PTT kedelai perlu disosialisasikan mengingat tingkat adopsi teknologi oleh petani relatif masih rendah. Hal ini ditunjukkan oleh adopsi varietas unggul baru dan teknik budi daya kedelai masih kurang dikuasai dan belum diterapkan oleh petani, sehingga senjang hasil produksi kedelai di tingkat petani dengan potensi hasil genetik kedelai masih tinggi.

Dukungan kebijakan pemerintah sangat diperlukan, khususnya terkait dengan perijinan penggunaan lahan dan tata ruang untuk pengembangan budidaya tanaman kedelai di lahan kering kawasan hutan. Ijin penggunaan kawasan hutan diperlukan untuk mencapai target produksi dan swasembada kedelai.

Potensi hasil varietas unggul dengan budi daya anjuran di berbagai agroekosistem dapat mencapai > 2 t/ha, sedang rata-rata produktivitas di tingkat petani hanya 1,29 t/ha. Hasil rata-rata kedelai yang masih rendah di tingkat petani dan harga yang murah menyebabkan banyak petani kedelai beralih kepada usahatani non-kedelai. Peningkatan produktivitas dapat dilakukan melalui penerapan inovasi spesifik lokasi disesuaikan dengan kondisi agroekologi setempat.

DAFTAR PUSTAKA

Atman. 2006. Pengembangan Kedelai Dilahan Kering. BPTP Sumbar. Harian Singgalang, Kamis, 27Juli 2006

Achmad Baihaki .2013. Manfaat dan Implementasi UU NO. 29 TH 2000 tentang PVT dalam Pembangunan Industri Perbenihan LB. www. Langkahbisnis.com. 2013

Adisarwanto, T. dan R. Wudianto. 1999. Meningkatkan Hasil Panen Kedelai di Lahan Sawah-Kering-Pasang Surut. Penebar Swadaya. Bogor. 86 hal.

Adisarwanto, T. 2005. Budidaya dengan Pemupukan yang Efektif dan Pengoptimalan Peran Bintil Akar Kedelai. Penebar Swadaya.Bogor.

Bambang P, Suprapto, Agus Suprio, Tri Sudaryanto, Retno Pangestuti dan sartono 2012. Laporan Kegiatan Budidaya Tanaman Kedelai di lahan Tegakan Hutan Jati Muda. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian.

Balai Penelitian Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian. 2008. Budidaya Kedelai pada Berbagai Agroekosistem Balai Penelitian Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian. Badan Litbang Pertanian. BPTP Sumatra Barat. 2002. Diseminasi Budidaya Tanaman Kedelai.

Sukarami Solok

Copyright © 2012 Balitkabi. Teknologi Pengembangan Tanaman Kedelai di Kawasan Hutan Kayu Putih Melaleuca leucadendra Sebagai Sumber Benih Kedelai Jl. Raya Kendalpayak km 8, PO Box 66 Malang 65101, Indonesia Telp. (0341) 801468 Fax. (0341) 801496 e-mail: [email protected]

Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Jabar. 2006. Demplot Budidaya Tanaman Kedelai. Bandung

Hidayat, O. D. 1985. Morfologi Tanaman Kedelai. Hal 73-86. Dalam S.Somaatmadja et al. (Eds.). Puslitbangtan. Bogor.

|359

Fachruddin, Lisdiana, Ir. 2000. Budidaya Kacang-kacangan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Prasastyawati, D. dan F. Rumawas. 1980. Perkembangan Bintil Akar Rhizobium Javonicum Pada Kedelai. Bul. Agron. 21(1): 4. Rukmana, S. K. dan Y. Yuniarsih. 1996. Kedelai, Budidaya Pasca

Panen. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. 92 hal.

Sumarno dan Harnoto. 1983. Kedelai dan Cara Bercocok Tanamnya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Buletin Teknik 6:53 hal.

|361

TEKNOLOGI PENGEMBANGAN