• Tidak ada hasil yang ditemukan

UPAYA PENGEMBANGAN KAWASAN JAGUNG KOMPOSIT

Joko Triastono dan Forita Diah Arianti

UPAYA PENGEMBANGAN KAWASAN JAGUNG KOMPOSIT

Terdapat beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam upaya pengembangan kawasan jagung komposit di Kabupaten Banjarnegara, yaitu :

Aspek Sumberdaya Alam

Kabupaten Banjarnegara mempunyai kelas iklim basah maupun iklim kering dan termasuk daerah yang mempunyai tingkat kesesuaian sumberdaya lahan untuk budidaya jagung komposit yang cukup baik. Kondisi iklim untuk tanaman jagung adalah daerah-daerah beriklim sedang hingga daerah beriklim sub-tropis/tropis yang basah, dan jagung dapat tumbuh didaerah yang terletak antara 0 - 5 oLU hingga 0 - 40 oLS.

Keragaman kondisi lahan di kabupaten Banjarnegara pada lahan yang tidak beririgasi, pertumbuhan tanaman memerlukan curah hujan ideal sekitar 85 - 200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji tanaman jagung perlu mendapatkan cukup air. Kondisi suhu di Kabupaten Banjarnegara pada kawasan sentra tanaman jagung daerah dataran tinggi memiliki suhu yang dikehendaki untuk pertumbuhan tanaman jagung antara 21 - 34 oC, akan tetapi pertumbuhan tanaman yang ideal memerlukan suhu optimum antara 23 - 27 oC. Pada proses perkecambahan benih jagung memerlukan suhu yang cocok sekitar 30 oC. Pertumbuhan tanaman jagung sangat membutuhkan sinar matahari. Tanaman jagung yang ternaungi, pertumbuhannya akan

|233

terhambat/merana dan menghasilkan biji yang kurang baik bahkan tidak dapat membentuk buah.

Kondisi tanah di kawasan sentra jagung Kabupaten Banjarnegara didominasi jenis tanah cukup subur dan berhumus. Jenis tanah dimaksud adalah antara lain andosol, latosol, grumosol dan tanah berpasir. Pada tanah-tanah dengan tekstur berat masih dapat ditanami jagung dengan hasil yang baik dengan pengolahan tanah secara baik, sedangkan untuk tanah dengan tekstur lempung/liat berdebu adalah yang terbaik untuk pertumbuhan tanaman. Keasaman (pH) erat hubungannya dengan ketersediaan unsur-unsur hara tanaman.

Keasaman tanah yang ada di Kabupaten Banjarnegara sebesar 5,6 - 7,5; kemasaman ini masih toleran terhadap pertumbuhan tanaman jagung. Tanaman jagung membutuhkan tanah dengan aerasi dan ketersediaan air dalam kondisi baik. Tanah dengan kemiringan kurang dari 8% dapat ditanami jagung, karena terjadinya erosi tanah sangat kecil. Pada daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8%, sebaiknya dilakukan pembentukan teras terlebih dahulu. Jagung dapat ditanam dari dataran rendah sampai di daerah pegunungan yang memiliki ketinggian antara 350 - 1000 m dpl. Daerah dengan ketinggian optimum antara 0 - 600 m dpl merupakan ketinggian yang baik bagi pertumbuhan tanaman jagung.

Aspek Sumberdaya Manusia dan Kelembagaan

Tingkat pengetahuan dan ketrampilan petani dalam mengusahakan budidaya jagung komposit, serta dukungan kelembagaan kelompok tani dan penentu kebijakan memegang peranan cukup penting dalam pengembangan kawasan jagung komposit. Hal ini dapat diwujudkan dengan melakukan sinergi antara lembaga institusi terkait dan kelompok tani dengan

melakukan penguatan kelembagaan kelompok, unit penyedia saprodi, dan operasional pembiayaan usahatani jagung. Kondisi sumber daya manusia, terutama petani, yang ada saat ini pada umumnya memiliki tingkat pendidikan masih relatif rendah. Sehingga untuk peningkatan pengetahuan dan ketrampilan usahatani jagung perlu dilakukan dukungan kemampuan petani dalam usahatani jagung yang dapat dilakukan melalui pelatihan budidaya jagung, kunjungan lapang sebagai wahana belajar teknis dan pendampingan penerapan teknologi budidaya jagung oleh petugas lapang (PPL).

Aspek Introduksi Teknologi

Berdasarkan observasi lapang di tiga kecamatan sentra produksi jagung komposit di Kabupaten Banjarnegara sebagian besar petani masih terjadi adanya keterbatasan informasi dan kurang tersedianya benih bermutu dengan harga terjangkau di tingkat lapangan. Kondisi demikian masih banyak dijumpai di tingkat petani di pedesaan yang belum menggunakan benih bermutu dari varietas unggul jagung komposit (Subandi, 1998). Dampak keterbatasan pilihan varietas unggul jagung komposit dan ketersediaan benih di tingkat lapangan, menyebabkan masih banyak petani di lahan kering dataran tinggi menggunakan benih jagung lokal putih dengan produktivitas rendah. Mempertimbangkan aspek agroekosistem yang ada di Kabupaten Banjarnegara prospek pengembangan kawasan jagung komposit melalui inovasi teknologi PTT jagung cukup baik.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Litbang Pertanian) telah menghasilkan berbagai inovasi teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas jagung, diantaranya varietas unggul yang sebagian telah dikembangkan oleh petani.

|235

Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, Badan Litbang Pertanian telah mengembangkan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) yang mampu meningkatkan produktivitas jagung dan efisiensi penggunaan input produksi.

Inovasi teknologi PTT jagung dibagi dalam dua kelompok, yaitu : 1) komponen dasar, adalah komponen teknologi yang relatif dapat berlaku umum di wilayah yang luas, antara lain : a) varietas unggul, baik dari jenis hibrida maupun komposit (bersari bebas), b) benih bermutu, c) populasi tanaman minimal 66.600 tanaman/ha, d) pemupukan berimbang, dan e) saluran drainase (lahan kering) atau irigasi (lahan sawah); dan 2) komponen pilihan, adalah komponen teknologi yang lebih bersifat spesifik lokasi, antara lain : a) penyiapan lahan, b) bahan organik, pupuk kandang dan amelioran, c) penyiangan, d) pengendalian OPT tepat sasaran, dan e) penanganan panen dan pascapanen (Departemen Pertanian, 2008; Badan Litbang Pertanian, 2016).

Mengingat tanaman jagung dapat diusahakan di berbagai jenis tanah, baik lahan kering maupun lahan sawah (tadah hujan atau irigasi), maka komponen teknologi yang dapat diterapkan dalam produksi jagung sesuai inovasi teknologi PTT (Subandi, 2006; Akil dan Dahlan, 2007; Zubachtirodin et al., 2007; BPTP Jambi, 2009; Samijan et al., 2009; Iriani dan Jauhari, 2013) terdiri atas :

Komponen Dasar

1. Varietas unggul yang sesuai dengan karakteristik lahan, lingkungan, dan keinginan petani setempat, baik jenis komposit maupun hibrida. Diantara komponen teknologi produksi jagung, varietas unggul (baik hibrida maupun komposit) mempunyai peranan penting dalam upaya peningkatan produktivitas jagung. Peranannya menonjol baik dalam potensi peningkatan hasil per satuan luas maupun sebagai salah satu komponen pengendalian hama dan penyakit.

Selain potensi produktivitas dan ketahanannya terhadap hama dan penyakit, karakter tanaman lain yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan varietas jagung unggul adalah kesesuaiannya dengan kondisi lingkungan (tanah dan iklim), toleran kekeringan atau tanah masam, pola tanam, pola usahatani, serta preferensi petani terhadap karakter lainnya seperti umur, warna biji, atau hijauan untuk pakan ternah. Preferensi petani di Kabupaten Banjarnagara adalah jenis jagung komposit karena untuk keperluan pangan dengan karakter warna biji putih. Varietas unggul jagung komposit yang warna bijinya putih adalah varietas Srikandi Putih-1, Anoman-1, Pulut URI-1, Pulut URI-2 dan Pulut URI-4 (Puslitbangtan, 2013).

2. Benih bermutu (kemurnian/bersertifikat dan daya kecambah > 95 %), diberi perlakuan benih dengan metalaksil 2 g per 1 kg benih. Kebutu han benih 15 – 20 kg/ha tergantung ukuran benih, semakin kecil ukuran benih semakin sedikit kebutuhan benih. Selain varietas unggul yang mampu memberikan produktivitas tinggi, kualitas benih juga merupakan salah satu faktor penentu produktivitas. Pemilihan suatu varietas unggul yang sesuai kondisi lingkungan setempat, dengan penggunaan benih bermutu merupakan langkah awal menuju keberhasilan dalam usahatani jagung.

Penggunaan benih berserifikat dengan vigor tinggi sangat dianjurkan. Disarankan juga sebelum melakukan penanaman hendaknya dilakukan pengujian daya kecambah benih. Hal ini penting karena dalam budidaya jagung tidak dianjurkan melakukan penyulaman tanaman yang tidak tumbuh. Pertumbuhan tanaman sulaman biasanya tidak normal karena adanya persaingan untuk tumbuh, dan biji yang terbentuk dalam tongkol tidak penuh akibat penyerbukan tidak sempurna, sehingga tidak akan mampu meningkatkan hasil. Sedangkan perlakuan benih

|237

dimaksudkan untuk mencegah serangan penyakit utama pada jagung. Benih jagung umumnya yang dijual dalam kemasan biasanya sudah diperlakukan dengan metalaksil (warna merah) sehingga tidak perlu lagi diberi perlakuan benih.

3. Populasi tanaman antara 66.600 – 71.000 tanaman/ha, jarak tanam 75 cm x 40 cm, 2 tanaman/lubang atau 75 cm x 20 cm, 1 tanaman/lubang untuk musim hujan, 70 cm x 40 cm, 2 tanaman/lubang atau 70 cm x 20 cm, 1 tanaman/lubang untuk musim kemarau. Penanaman dengan menggunakan tugal kayu atau alat tanam mekanis. Salah satu faktor penentu produktivitas jagung adalah populasi tanaman yang terkait erat dengan jarak tanam dan mutu benih. Jarak tanam yang digunakan disesuaikan dengan kondisi lahan, sifat varietas dan musim.

Pada kondisi lahan subur sebaiknya digunakan jarak tanam agak lebar dibandingkan lahan kurang subur. Pada tanah subur pertumbuhan tanaman lebih besar dibanding tanah kurang subur sehingga membutuhkan ruang tumbuh yang lebih lebar. Selain faktor kesuburan tanah, ada varietas yang secara genetis memiliki kanopi lebar sehingga jarak tanam yang digunakan lebih lebar dibanding varietas yang secara genetis memiliki kanopi sempit. Selain itu, faktor yang menentukan terhadap jarak tanam adalah musim. Pada musim hujan jarak tanam yang digunakan lebih lebar dibanding musim kemarau dan sebaliknya. Hal ini disebabkan pada musim kemarau penguapan air lebih tinggi dibanding musim hujan sehingga untuk mengurangi penguapan air digunakan jarak tanam yang lebih rapat. 4. Pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status

hara tanah. Pemupukan Nitrogen (Urea) berdasarkan stadia pertumbuhan tanaman dan Bagan Warna Daun (BWD). Pemupukan P dan K berdasarkan status hara tanah sesuai

hasil analisis laboratorium atau anjuran setempat. Bahan organik atau pupuk kandang 1,5 – 3,0 t/ha sebagai penutup benih pada lubang tanam untuk mengatasi permasalahan kesuburan tanah terutama pada lahan kering masam.

Tanaman jagung digolongkan sebagai salah satu tanaman indikator untuk mengetahui ketersediaan hara dalam tanah, oleh karena itu untuk dapat tumbuh dan berkembangnya tanaman jagung secara optimal relatif dibutuhkan hara yang cukup, sehingga pemupukan merupakan salah satu faktor kunsi bagi keberhasilan budidaya jagung. Pemberian pupuk, baik pupuk organik maupun anorganik pada dasarnya adalah guna memenuhi kebutuhan hara yang diperlukan untuk tumbuh dan berkembangnya tanaman. Untuk efisiensi pemberian pupuk maka pemupukan dilakukan secara berimbang, artinya pemberian berdasarkan kepada keseimbangan antara hara yang dibutuhkan oleh tanaman jagung berdasarkan sasaran tingkat hasil yang ingin dicapai dengan ketersediaan hara dalam tanah.

Tanggapan tanaman terhadap pupuk yang diberikan bergantung pada jenis pupuk dan tingkat kesuburan tanah, sehingga takaran pupuk berbeda untuk setiap lokasi. Oleh karena itu, pemupukan berimbang sering pula disebut pemupukan atau pengelolaan hara spesifik lokasi. Penentuan takaran pupuk (N, P, dan K) yang tepat untuk tanaman jagung dapat dilakukan melalui analisis tanah sebelum penanaman. Selain itu, dapat pula dilakukan dengan menggunakan BWD, seperti yang biasa dilakukan pada tanaman padi. Takaran pupuk yang diberikan secara tepat pada waktu yang tepat, akan lebih efisien dibanding dengan takaran yang tepat tetapi saat pemberiannya tidak tepat. Dalam hal ini yang penting adalah porsi pemberian pupuk N pada setiap aplikasi perlu disesuaikan dengan stadia pertumbuhan tanaman.

|239

Komponen Pilihan

1. Penyiapan lahan, diolah sempurna dengan bajak dan garu atau cangkul, atau tanpa olah tanah.

2. Pembuatan saluran drainase (khusus untuk pertanaman pada lahan kering saat musim hujan) sekaligus pembubunan.

3. Pembuatan saluran irigasi dan cara pendistribusian air (khusus untuk pertanaman pada lahan sawah saat musim kemarau).

4. Pengendalian gulma secara terpadu.

5. Pengendalian hama dan penyakit secara terpadu (PHT). 6. Panen dan prosesing.

Berdasarkan sifatnya, komponen-komponen teknologi tersebut dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu : 1) teknologi untuk tujuan memecahkan masalah setempat atau spesifik lokasi, dan 2) teknologi untuk perbaikan cara budidaya yang efisien. Tidak semua komponen teknologi diterapkan sekaligus, terutama di lokasi yang mempunyai masalah spesifik. Terdapat empat komponen teknologi yang harus diterapkan (komponen dasar) secara bersamaan. Jika keempat komponen teknologi dasar tersebut diterapkan secara bersamaan, sumbangan terhadap peningkatan dan efisiensi produksi jagung cukup besar.

Aspek Adopsi Teknologi

Untuk meningkatkan adopsi teknologi usahatani jagung komposit di Kabupaten Banjarnegara perlu dilakukan diseminasi teknologi melalui serangkaian kegiatan diseminasi. Kegiatan diseminasi yang dapat dilakukan antara lain : a) sosialisasi teknologi PTT jagung bagi petani dan penyuluh pendamping; b) mendistribusikan media cetak dalam bentuk leaflet dan juknis

teknologi jagung; dan c) demplot teknologi budidaya jagung, pelatihan dan pendampingan penerapan teknologi budidaya jagung. Teknologi jagung yang didesiminasikan diantaranya benih bermutu, varietas unggul komposit, budidaya tanpa olah tanah (TOT), pemupukan berimbang, pengendalian OPT, dan teknologi pasca panen. Aspek yang dipertimbangkan petani dalam mengadopsi inovasi teknologi adalah ketersediaan benih/bibit, harga benih/bibit, produktivitas, harga jual, akses pasar, keuntungan, kompatibilias, tingkat kerumitan, kemudahan untuk dicoba dan perubahan fisik (Hendayana et al., 2006).

Tahapan Pengembangan Kawasan Jagung Komposit

Prospek lahan tadah hujan dan lahan kering dataran tinggi di Kabupaten Banjarnegara sebagai salah satu lahan potensial di Kabupaten Banjarnegara untuk pengembangan kawasan tanaman jagung komposit perlu diidentifikasi dan karakterisasi secara rinci dan cermat digunakan untuk menentukan: kesesuaian lahan, sasaran calon lokasi, luas areal, calon petani atau kelompok tani, peluang untuk peningkatan intensitas pertanaman, ketersediaan tenaga kerja, permasalahan dan kendala yang dihadapi dalam pengembangan kawasan jagung komposit.

Pengembangan kawasan jagung komposit di Kabupaten Banjarnegara pada lahan kering dan lahan tadah hujan dibutuhkan beberapa tahapan pelaksanaan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Diperlukan minimal selama 4 (empat) tahun dalam upaya pengembangan kawasan jagung komposit di Kabupaten Banjarnegara dengan tahapan sebagai berikut :

|241

1. Pengenalan/introduksi varietas unggul jagung komposit Badan Litbang Pertanian (Balitserealia).

2. Karekterisasi jagung komposit unggul lokal oleh UPTD Perbenihan Dinas Pertanian Kabupaten Banjarnegara

Kegiatan tahun kedua

1. Gelar teknologi varietas unggul jagung komposit putih yang adaptif dan sesuai preferensi petani (spesifik lokasi) dengan teknologi PTT jagung

2. Perbenihan jagung komposit oleh UPTD Perbenihan Dinas Pertanian Kabupaten Banjarnegara

3. Pemurnian jagung komposit unggul lokal oleh UPTD Perbenihan Dinas Pertanian Kabupaten Banjarnegara

4. Pemberdayaan kelompok tani penangkar benih jagung

Kegiatan tahun ketiga

1. Pengembangan varietas unggul jagung komposit putih spesifik lokasi dengan teknologi PTT jagung di enam kecamatan (Kecamatan Pejawaran, Pagentan, Karangkobar, Wanayasa, Kalibening dan Pandanarum) sentra produksi jagung lokal (komposit)

2. Perbenihan jagung komposit oleh UPTD Perbenihan Dinas Pertanian Kabupaten Banjarnegara

3. Inisiasi pendaftaran/pelepasan varietas jagung unggul lokal oleh UPTD Perbenihan Dinas Pertanian Kabupaten Banjarnegara

4. Pemberdayaan kelompok tani sebagai penangkar benih jagung

Kegiatan tahun keempat

1. Pengembangan varietas unggul jagung komposit putih spesifik lokasi dengan teknologi PTT jagung di enam

kecamatan (Kecamatan Pejawaran, Pagentan, Karangkobar, Wanayasa, Kalibening dan Pandanarum) sentra produksi jagung lokal (komposit) dan daerah penyangga (Kecamatan Banjarmangu, Pagendon, Batur, Wanadadi, Rakit, dan Punggelan) sentra produksi jagung lokal (komposit)

2. Perbenihan jagung komposit oleh UPTD Perbenihan Dinas Pertanian Kabupaten Banjarnegara

3. Pendaftaran/pelepasan varietas jagung unggul lokal oleh UPTD Perbenihan Dinas Pertanian Kabupaten Banjarnegara 4. Pembentukan kelompok tani sebagai penangkar benih

jagung

PENUTUP

Jagung merupakan komoditas pangan penting di Kabupaten Banjarnegara karena menjadi bahan makanan pokok bagi penduduk yang berdomisili di lahan kering bagian utara Kabupaten Banjarnegara yang merupakan daerah perbukitan. Program peningkatan produksi jagung perlu dilakukan untuk mendukung ketahanan pangan di Kabupaten Banjarnegara.

Pengembangan jagung di kawasan perbukitan lahan kering Banjarnegara menghadapi permasalahan berupa adanya persaingan dengan komoditas lain, walaupun potensi luas lahan kering dan sawah tadah hujan yang dapat dimanfaatkan masih masih cukup memadai. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi jagung adalah melalui peningkatan produktivitas dengan penerapan inovasi teknologi PTT Jagung.

Strategi pengembangan kawasan jagung komposit di Kabupaten Banjarnegara perlu disusun agar dapat digunakan sebagai acuan bagi semua pihak terkait yang terkait engan peningkatan produksi jagung komposit. Berdasarkan analisis, setidaknya diperlukan waktu empat tahun untuk mewujudkan pengembangan kawasan jagung komposit di Kabupaten Banjarnegara.

|243