Nila Wardani
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung
ABSTRAK
Sebagai salah satu daerah sentra penanaman cabai di Propinsi Lampung, Lampung Selatan mempunyai potensi sumberdaya lahan maupun manusia yang masih bisa dikembangkan untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani cabai. Peningkatan potensi sumberdaya lahan bisa dilakukan dengan menerapkan teknologi inovasi yang lebih baik. Sedangkan untuk meningkatkan potensi sumberdaya manusia dilakukan dengan melakukan pelatihan-pelatihan. Dengan melakukan survei PRA dapat diketahui kendala-kendala yang dihadapi dalam budidaya cabai dan solusi yang akan dilakukan untuk mengatasinya. Penerapan teknologi inovasi budidaya cabai diharapkan mampu untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani cabai. Dari hasil PRA diketahui bahwa rata-rata petani cabai di Desa Sidoreno, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan masih melakukan budidaya konvensional dengan produksi yang relatif rendah. Cara budidaya dengan tingkat pemakaian pestisida kimia yang tinggi menambah rendahnya pendapatan petani cabai. Penerapan budidaya teknologi PTT cabai di Desa Sidoreno, Sidomulyo, Lampung Selatan lebih ditekankan pada budidaya sehat dengan sedikit menggunakan pestisida kimia. Kombinasi perlakuan dari pembibitan sampai panen diarahkan untuk melindungi tanaman dari serangan organisme pengganggu seperti barrier jagung, perangkap kuning, petrogenol dan monitoring setiap 3 hari sekali. Dari pengkajian ini terlihat bahwa dengan menghemat pengeluaran untuk pembelian pestisida kimia, maka input dapat ditekan + 12% dan produksi meningkat + 18%. Serangan hama dan penyakit relatif tidak berbeda di antara kedua teknik budidaya.
Kata kunci: Profil, PTT, cabai merah
ABSTRACT
The one of centre area red chili cropping system in Lampung, South Lampung have potential area and human that can growing to increasing production and incomes. To increasing area potential can do with good innovation technology application. And to increasing the human potential can do with trainings. The PRA survey showed problems that red chili cropping system and solution can do it. The Innovation technology the red chili cropping system application in Sidoreno, can to increasing production and farmers income. With PRA survey can knows in Sidoreno village the red chili farmers doing conventional cropping system with low production. Cropping system red chili used height chemical pesticide, so it decreased farmer income. Application the integrated Crop Management in Sidoreno village, Sidomulyo, South Lampung, more stressing to healthy cropping system with little used chemical pesticides. Combination treatment from seedling until harvest to plant protection from pest and diseases by corn barrier, yellow traps, petrogenol and monitoring one of three day. The assessment showed with decreased of chemical pesticides, can decreasing input + 12%, and increased production + 18%. Pest and diseases attached no contras between cropping system.
Key words : Profile, ICM, red chili
PENDAHULUAN
Komoditas tanaman sayuran unggulan di Propinsi Lampung adalah cabai merah, bawang merah, dan kentang (Napitupulu, 2002). Komoditi tersebut banyak diusahakan di lahan kering baik dataran tinggi maupun dataran rendah.
Propinsi Lampung mempunyai potensi sumberdaya alam khususnya lahan kering yang cocok untuk pengembangan tanaman pangan dan hortikultura. Hasil identifikasi kesuaian lahan dan agroklimat (agroecological zone) menunjukkan bahwa luas lahan kering di Lampung yang sesuai untuk pengembangan komoditas sayuran cukup luas (Tabel 1).
Tabel 1. Luas zona agroekologi lahan kering pada berbagai tipe iklim yang berpotensi untuk usahatani tanaman pangan dan hortikultura di Propinsi Lampung, 2000 (LPTP Natar, 2000).
Luas lahan berdasarkan tipe iklim Zona Agro Ekologi A B1 C1 C2 D2/D3 IIax2 - 130.514 93.224 130.514 18.644 IIbx2 - 27.515 - - - IIIax2 15.500 61.900 92.998 139.498 - IIIbx2 - 31.395 - - - Ivax2 6.395 31.976 95.928 460.453 51.161 Jumlah 21.895 283.499 282.151 730.465 69.805
Keterangan : IIIax2 dan IIIbx2 sesuai untuk tanaman perkebunan, tanaman pangan dan
hortikultura; IVax2 sesuai untuk tanaman pangan dan hortikultura. Tipe iklim A = BB >9 bulan, BK <2 bulan; B1 = BB 7-9 bulan, BK <2 bulan; C1 = BB 5-6 bulan, BK <2 bulan; C2 = BB 5-6 bulan, BK 2-3 bulan, D2 = BB 3-4 bulan, BK 2-3 bulan.
Faktor-faktor yang sangat menentukan keberhasilan usahatani cabai di daerah Lampung Selatan adalah penggunaan tenaga kerja terampil, teknik pengolahan tanah yang baik, penggunaan bibit unggul asal persemaian di bumbunan, sistem tanam segitiga dan segiempat, waktu tanam yang tepat, populasi 25.000-27.000 tanaman/ha, penggunaan mulsa plastik hitam dan jerami, pemupukan berimbang, dan pengendalian hama dan penyakit, pengairan teratur, serta pemasaran yang terjamin (Hutagalung et al., 1999/2000). Walaupun telah banyak terjadi perbaikan teknik budidaya dalam berusahatani cabai (tanam varietas unggul, pakai mulsa plastik, dan pengendalian hama dan penyakit), namun dampaknya terhadap tingkat produktivitas belum memuaskan. Rerata produktivitas di pusat produksi tanaman cabai di Lampung Selatan dan Lampung Barat baru 2,87 - 3,50 t/ha (Hutagalung et al., 2001), padahal potensi produktivitasnya mencapai 8,00-18,00 t/ha (Permadi dan Kusandriani, 1995; Hutagalung et al., 1995; Puslitbang Hortikultura, 2002). Dengan penerapan teknologi introduksi, produktivitas cabai kultivar Cemeti dan TM-30448 di Lampung dapat mencapai 5,80-12,12 t/ha atau meningkat 346,29 % (Hutagalung et al., 1999/2000).Kesenjangan tingkat produktivitas tersebut terutama disebabkan oleh kesehatan tanaman yang buruk, yaitu masalah utama dalam pembudidayaan cabai. Kesehatan tanaman yang buruk merupakan resultante dari interaksi antara faktor-faktor tingginya
gangguan hama dan penyakit, kultivar yang ditanam, penanaman benih produksi sendiri, kurangnya perhatian terhadap praktek pemupukan dan kesuburan tanah, teknik budidaya (persemaian, sistem tanam) yang tidak sesuai dengan kondisi setempat, pemasaran yang tidak baik, keterbatasan modal, harga jual yang sangat fluktuatif, serta rendahnya tingkat pengetahuan dan keterampilan petani.
Strategi/pendekatan PTT mengutamakan sinergi antara komponen teknologi dalam suatu paket teknologi, dan antara paket teknologi dengan lingkungan biofisik dan sosial ekonomi petani. Inovasi paket teknologi yang menekankan kepada peningkatan efisiensi usahatani, efisiensi pemberian external input dan peningkatan nilai tambah produk yang didukung oleh revitalisasi kelembagaan agribisnisnya diharapkan dapat meningkatkan pendapatan usahatani.
BAHAN DAN METODE
Studi ini dilakukan dengan cara PRA (Partisipatory Rural Appraisal) dilakukan di Desa Sidoreno, Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan pada bulan Juni tahun 2004. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara semi struktural terhadap petani di lokasi serta hasil observasi langsung di lapangan. Wawancara informal tanpa kuisioner dilakukan terhadap beberapa petani dan informan kunci. Data dan
informasi yang diperoleh dianalisa secara deskriptif. Untuk penerapan PTT Cabai di
aplikasikan teknologi inovasi seperti pada tabel di bawah ini:
Tabel 2. Ringkasan Teknologi PTT Cabai Merah yang diimplementasikan di Lampung Selatan