Kelembagaan • KTNA
DI WILAYAH MARJINAL KABUPATEN BLORA
(The carrying capacity for cattle farming based on food croping in marginal areas of Blora)
Subiharta, Budi Hartoyo dan Sarjana Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah
ABSTRAK
Blora dikenal sebagai sentra usaha ternak sapi dengan multi tujuan, yaitu untuk penggemukan, perbibitan, dan tenaga kerja untuk pengolahan lahan. Kapasitas penyediaan pakan merupakan faktor utama yang menentukan kinerja usaha ternak sapi. Isu ini menjadi topik bahasan dalam studi ini, meliputi sistem pasokan, kuantitas, dan strategi yang diambil petani pada saat terjadi kelangkaan pakan. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara terstruktur, farm record keeping, dan pengamatan lapang. Skala penguasaan lahan petani adalah sekitar 0,35 ha per rumah tangga. Karena pendeknya musim hujan (5 bulan), pola tanam yang digunakan adalah padi gogo - kacang-kacangan - bero. Dari usahatani tersebut dapat dihasilkan jerami dan rendeng sebagai bahan pakan sapi sebanyak 5.174,8 kg per tahun. Jumlah tersebut hanya bisa mencukupi kebutuhan pakan untuk sekitar 97,8 hari. Hasil studi ini menunjukkan bahwa salah satu faktor penyebab rendahnya kinerja usaha ternak sapi di Blora adalah kekurangan ketersediaan pakan. Sebagai implikasinya perlu adanya pengembangan sumber-sumber pakan alternatif untuk memperbaiki kinerja usaha ternak sapi.
Kata kunci: Kapasitas penyediaan pakan, hasil sampingan usahatani, ternak sapi
ABSTRACT
Blora is being well known as the central of cattle farming, which have multi purposes, i.e. fattening, breeding, and source of power in land preparation. Feed carrying capacity has been constantly highlighted as the most determinant factors for this cattle farming performances. This particular issue is being major subject of this study, i.e. supply systems, quantities, and farmers’ survival strategies to manage the impacts of feed scarcity incidents. Data collection consisted of standardized interview to farmers, farm record keeping, and observations. The farmers land areais about 0.35 ha in average. On the limited of rainy season (5 months), the planting pattern is up land rice-peanuts-fallow. This cropping pattern produces farming by product as the feed material about 5,174.8 kg in average. This farming by product can cover the feed for 97.8 days only. The results show that, the limited carrying capacity is a determinant factor of the cattle farming low performance. This implies the urge development of alternative source of feed to improve the cattle farming performance.
Key words: Carrying capacity, croping by product, cattle farming
PENDAHULUAN
Kabupaten Blora dengan luasan wilayah 1.820,59, yang didominasi oleh hutan jati (49,66%), sebagian untuk lahan pertanian (25,35%), yang menjadi tumpuan bagi 424.096 orang petani (Renstra Kabupaten Blora, 2003). Lahan pertanian di kabupaten Blora didominasi oleh sawah tadah hujan dan tegalan. Usahatani tanaman pangan sangat tergantung pada ketersediaan air hujan, dengan agroekosistem seperti ini, petani mengusaha- kan tanaman pangan padi gogo, jagung dan kacang tanah.
Untuk menambah pendapatan, petani mengusahakan ternak sapi potong dengan tujuan untuk menghasilkan bibit (anak). Populasi ternak di Kabupaten Blora sebesar 197.392 ekor dan tertinggi untuk populasi ternak sapi potong di Jawa Tengah (BPS Propinsi Jawa Tengah, 2003). Menurut laporan Subiharta at al. (2005) sebanyak 90,5% petani di Kabupaten Blora memelihara ternak sapi. Berdasarkan Renstra Kabupaten Blora bahwa populasi sapi potong naik 3,22% per tahun (Dinas Pertanian Kabupaten Blora, 2004).
Permasalahan yang dihadapi dengan tingginya populasi adalah kekurangan
ketersediaan pakan pada musim kemarau yang terus terulang setiap tahunnya. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Subiharta et al. (2005) bahwa sebanyak 90,5% petani mengatakan kesulitan pakan selama musim kemarau. Kesulitan pakan terutama dialami oleh petani yang memiliki lebih dari satu ekor sapi. Permasalahan pakan akan menjadi tambah rumit mengingat populasi ternak sapi potong terus naik, sementara lahan pertanian sebagai salah satu sumber pakan tetap bahkan justru berkurang. Sementara itu karena ternak sapi potong merupakan usaha sambilan, sehingga petani tidak pernah merencanakan usaha ternak sapi potong, termasuk dalam ketersediaan pakan pada musim kemarau. Peternak menyimpan jerami secukupnya saja tanpa memperhitungkan kebutuhan pakan selama musim kemarau dan awal musim hujan. Akibatnya, jerami padi sebagai salah satu sumber pakan yang berlimpah pada saat panen, lebih banyak dibakar dari pada untuk pakan. Wawancara langsung dengan beberapa peternak sapi potong (tahun 2005) bahwa
mereka terpaksa mengeluarkan uang
Rp 450.000 untuk beli jerami di sekitar Kabupaten Blora, bahkan untuk jarak yang jauh petani harus mengeluarkan ongkos beli jerami sebesar Rp 700.000. Beberapa petani yang memiliki sapi banyak terpaksa harus menjual sapi untuk beli pakan atau istilah para petani “sapi makan sapi”.
Alternatif lain bagi petani untuk mengatasi kekurangan pakan pada musim kemarau antara lain dengan pengurangan jumlah pakan. Menurut Subiharta et al. (2006), pengurangan jumlah pakan berkisar antara 10 – 40% dari jumlah yang diberikan pada musim hujan. Berdasarkan pada masalah dan potensi yang ada, maka dilakukan pengkajian integrasi tanaman dan ternak dengan tujuan untuk mengetahui sumbangan dari limbah tanaman pangan sebagai salah satu
sumber pakan sapi potong, terutama musim kemarau.
BAHAN DAN METODE
Kajian dimulai penentuan lokasi dengan kriteria desa tersebut merupakan sentral pengembangan sapi potong yang populasinya tinggi di daerah lahan kering. Berdasarkan informasi serta saran dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Blora dipilih Desa Tlogo Wungu, Kecamatan Japah, Kabupaten Blora. Kajian dilaksanakan bekerja sama dengan 12 orang peternak anggota Kelompok Tani “Tlogo Sari”. Kajian dilaksanakan dari bulan Oktober 2005 sampai dengan April 2006. Kajian dilanjutkan pengumpulan data sekunder yang terkait dengan agro ekosistem, populasi ternak dan ketersediaan pakan. Tahap selanjutnya survei terhadap pola tanam dan kepemilikan ternak sapi, dilanjutkan dengan penimbangan sampel ternak sapi. Penimbangan ternak sapi diambil 15 ekor dari umur muda dan dewasa serta jantan dan betina dari masing-masing umur. Untuk mengetahui sumbangan pakan yang berasal dari limbah dilakukan pengamatan produksi limbah jerami padi dan kacang tanah dari 12 orang petani kooperator. Analisa menggunakan presentasi tabel dan gambar.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Agro-Ekosistim Wilayah Kajian Kondisi Agro-ekosistim wilayah Desa Tlogo Wungu, Kecamatan Japah sebagian besar merupakan wilayah lahan kering, hutan, sawah, dan pekarangan. Lokasi kajian terletak pada ketinggian 40-500 m dpl dengan curah hujan dan hari hujan yang tidak merata sepanjang tahun. Pada Tabel 1 di bawah ini disajikan jumlah hari hujan dan curah hujan lokasi kajian.
Tabel 1. Jumlah hari hujan dan curah hujan lokasi kajian (2003)
Parameter Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Agts Sep Okt Nov Des Hari hujan 44 15 9 7 6 1 0 1 1 0 0 0 Curah hujan 809 273 168 146 116 10 0 4 1 0 0 0
Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa hujan dimulai pada bulan Januari dan berakhir pada bulan Mei. Pada bulan Juni sampai dengan Desember hampir tidak terjadi hujan atau di lokasi kajian mengalami 7 musim kemarau.
Pola Tanam Tahunan Tanaman Pangan Pola tanam tahunan tanaman pangan lahan kering yang berkembang di lokasi pengkajian sebagian besar adalah kombinasi antara
tanaman padi dan palawija dengan pola yang cukup beragam untuk jenis komoditas yang diusahakan. Dari hasil baseline survey menunjukkan bahwa pola padi – kacang tanah/kacang tunggak – bera mendominasi pola tanam yang ada di lokasi pengkajian
disusul pola padi gogo – kacang tanah – jagung, sedangkan pola tanam lainnya tersebar merata. Pola tanam tahunan yang berkembang secara berurutan sesuai dengan banyaknya petani yang mengusahakan disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Pola tanam tahunan tanaman pangan eksisting di lahan kering
No Pola Tanam Proporsi (%)
1. Padi gogo – kacang tanah/kacang tunggak – bera 45,5
2. Padi gogo – kacang tanah – jagung 16
3. Padi gogo – kacang tanah – kacang tanah 5,5
4. Padi – kacang tanah – jagung 5,5
5. Padi gogo – padi gogo – kacang tanah 5,5
6. Padi gogo – kacang tanah+jagung – bera 5,5
7. Kacang tanah – kacang tanah – bera 5,5
8. Jagung + kacang tanah – bera – bera 5,5
9. Padi gogo – padi gogo – bera 5,5
Keterangan: jumlah n = 12
Produksi Limbah Jerami Padi dan Kacang Tanah
Pada Tabel 3 disajikan luas lahan kepemilikan kooperator dan produksi limbah yang dihasilkan dari pola tanam yang ada. Di lokasi kajian pola tanam dominan petani adalah padi gogo-kacang tanah-bera. Rata-rata penguasaan lahan petani kooperator hanya 0,35 ha, produksi limbah jerami sebesar 2.866,5 kg dan limbah kacang tanahnya adalah 1.435,0 kg. Limbah kacang tanah tidak menjadi masalah bagi petani, karena begitu panen limbah langsung untuk pakan dan kalau berlebih dengan cara dijemur dan disimpan.
Lain halnya dengan limbah jerami padi, yang pada saat panen produksinya berlimpah,
namun baru sedikit yang memanfaatkan untuk pakan. Sebagai gambaran pada tahun 90 an hanya 4% dari produksi jerami untuk pakan sisanya dibakar (Tangendjaja, 1991). Petani kebanyakan memanfaatkan jerami untuk pakan dalam keadaan segar. Permasalahan dengan pemanfantan jerami sebagai pakan adalah kandungan nutrisi yang rendah dan polatabilitas yang rendah. Menurut Van Soest (1999) kandungan protein jerami hanya -5% yang hanya untuk hidup pokok saja belum cukup. Tangendjaja (1991) melaporkan, bahwa sapi dengan diberi pakan jerami saja pertumbuhan badan akan menurun. Menyadari hal tersebut, pemanfaatan jerami untuk pakan diperlukan perlakuan untuk peningkatan nilai nutrisi dan peningkatan daya cerna.
Tabel 3. Luas pemilikan lahan, produksi limbah jerami padi dan kacang tanah.
No. Kooperator Pemilikan lahan (ha) Produksi jerami pad (kg) Produksi jerami kacang tanah (kg) 1. Untoro 0,16 1.710,1 656,0 2. Tarjan 0,15 1,603,2 615,0 3. Pardi 0,19 2.603,2 779,0 4. Kasmin 0,35 2.030,7 1.435,0 5. Pasidin 0,24 3.740,8 984,0 6. Mardi 0,34 2.65,1 1.394,0 7. Legiman 0,27 3.633,9 1.107,0 8. Kasirin 0,25 2.885,8 1,025,0 9. Suparman 0,43 2,672,0 1,763,0 10. Rusman 0,48 4.595,8 1.968,0 11. Sukarjan 0,24 5.130,2 984,0 12. Nyomo 1,10 11.756,8 4.510,0
Σ
4,20 34.398,7 17.220,0 X 0,35 2.866,5 1.435,0Perlakuan (treatment) yang banyak diteliti adalah untuk menghancurkan ikatan-ikatan ester hemiselulosa dan liguin (Chesson, 1998). Perlakuan dengan penambahan NaOH merupakan paling efektif, namun harganya mahal dan meninggalkan residu berbahaya (Doyle et al., 1986). Pada akhir-akhir ini telah banyak produk untuk peningkatan daya cerna dan protein jerami menggunakan mikroorganisme (biostarter) (Haryanto et al., 2003). Fermentasi dengan mikroorganisme dapat meningkatkan daya cerna dari 30% menjadi 50% dan protein dari 3-5% menjadi 7- 8% (Haryanto et al., 2003). Dalam kajian ini diintroduksikan fermentasi jerami dengan menggunakan biostarter produk dari salah satu perusahaan di sekitar lokasi kajian dengan tujuan petani mudah mendapatkan. Selain itu diintroduksikan alat pengepers jerami, karena sifat jerami yang memakan tempat. Alat tersebut digunakan setelah jerami difermentasi dijemur atau diangin-anginkan. Seperti telah disebutkan bahwa Kabupaten Blora dikenal populasi ternak sapi tertinggi di Jawa Tengah dan Kecamatan Japah merupakan populasi
sapi tertinggi di Kabupaten Blora. Rata-rata pemilikan sapi petani kooperator sebanyak 2,67 ekor, dengan kisaran antara memiliki satu ekor sampai lima ekor (Tabel 4).
Kebutuhan pakan dengan rata-rata pemilikan 2,67 ekor sebesar 19,82 kg per hari, dengan asumsi bahwa rata-rata bobot badan sapi potong peranakan Ongole sebesar 198,2 kg dan kebutuhan pakan 10% dari bobot badan. Berdasarkan perhitungan tersebut selama musim kemarau (7 bulan), maka kebutuhan pakan sebesar 11.099,2 kg. Produksi limbah jerami padi dan jerami kacang tanah dari luasan 0,35 ha adalah 5.174,8 kg atau hanya dapat mencukupi kebutuhan pakan dari 2,67 ekor selama 97,8 hari dari 7 bulan musim kemarau. Untuk dapat memenuhi kebutuhan pakan selama 7 bulan kemarau diperlukan luasan lahan kering 7.500 m2 untuk memproduksi jerami padi gogo dan kacang tanah. Menurut Haryanto et al. (2003) bahwa produksi jerami padi per ha per musim tanam dapat memenuhi kebutuhan pakan 2-3 ekor sapi dewasa.
Tabel 4. Jumlah pemilikan sapi dan kebutuhan pakan selama musim kemarau (7 bulan)
No. Kooperator Pemilikan ternak (ekor)
Kebutuhan pakan selama 7 bulan (kg)
Produksi jerami padi dan kacang tanah (kg) 1. Untoro 2 8.324,4 2.366,1 2. Tarjan 1 4.162,2 2.218,2 3. Pardi 1 4.162,2 2.809,7 4. Kasmin 2 8.324,4 5.175,0 5. Pasidin 4 16.648,8 3.549,1 6. Mardi 3 12.486,6 5.017,9 7. Legiman 2 8.324,4 3.992,8 8. Kasirin 4 16.648,8 3.697,0 9. Suparman 5 20.8110,0 6.358,8 10. Rusman 3 12.486,6 7.098,2 11. Sukarjan 2 8.324,4 3.549,1 12. Nyomo 3 12.486,6 16.266,8
Σ
32 133.190,4 62.098,2 X 2,67 11.099,2 5.174,8Keterangan : Rata-rata bobot sapi ditimbang dari 15 kooperator sebesar 198,2 kg/ekor. Kebutuhan pakan sebesar 10 kg dari obot badan : 19,82 kg/ekor/hari.
KESIMPULAN
1. Berdasarkan hasil pengamatan musim
hujan hanya 5 bulan (Januari – Mei), dan musim kemarau dari bulan Juni – desember (7 bulan).
2. Pola tanam dominan di lahan kering desa
Tlogo Wungu adalah padi gogo – kacang tanah/kacang tunggak – bera.
3. Limbah jerami padi gogo dan kacang
tanah dari luas penguasaan lahan petani, yaitu + 0,35 ha hanya dapat memenuhi kebutuhan pakan 97,8 hari dari 7 bulan musim kemarau dengan pemilikan 2,67 ekor. Untuk dapat memenuhi kebutuhan pakan selama musim kemarau diperlukan luasan sebesar 7,500 m2.
SARAN
Untuk dipertimbangkan oleh Pemerintah daerah agar dapat mengintroduksikan rumput maupun legum yang tahan kekeringan. Sedang untuk peternak agar direncanakan kebutuhan pakan pada musim kemarau, dengan mengumpulkan pakan pada saat musim hujan (pakan berlebih).
PUSTAKA
BPS Propinsi Jawa Tengah. 2003. Jawa Tengah Dalam Angka. Statistik Peternakan. BPS Jawa Tengah
Chesson, A. 1998. Lignin-polysaccharide complexes of the plat cell wall and their effect on microbial degradation in the rumen. Anim Feed Sci and Tech. 21 : 219 – 228.
Dinas Pertanian Kabupaten Blora. Rencana Strategis Dinas Pertanian Kabupaten Blora tahun 2002 – 2005. Pemerintah Kabupaten Blora.
Doyle, P.T., C. Devendra and G.R. Pearce. 1986. Rice Straw as feed for ruminants.IDP, Canberra.
Haryanto, B., Ismeth Induna, IGM. Budi Aryana dan K. Budiyanto, 2003. Manajemen Pemeliharaan Sapi dalam Pola CLS Lahan Kering. Materi disampaikan pada Teknis Program Litkaji Pola CLS di Lahan Kening Sukamandi 30 Juni - Juli 2003.
Subiharta, Sarjana dan Agus Hermawan. 2006. Bora Catle Breeding Farm’s. Farmers Proctices and The Improvement Nelded. The 4 tahun International Seminar Tropical animal Production (ISTAP-4) Yogyakarta.
Subiharta, B. Hartoyo, Widarto, Yuni K. W., Suharno. 2005. Kajian SUT integrasi tanaman pangan dan ternak di daerah lahan kering kabupaten Blora. Laporan hasil pengkajian BPTP Jawa Tengah. Tangendjaya. 1991. Pemanfaatan limbah padi
untuk pakan. Kumpulan makalah Padi Buku 3. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Bogor. Van Soest. 1994. Nutrional Ecology of The
Ruminant. Second Ed. Published by Conell University. Itacha and Lordan.
PENGARUH BEBERAPA PUPUK ORGANIK CAIR PADA PRODUKSI CABAI