DAN RENCANA PENINGKATAN
6.2.2 Realisasi Pengeluaran
Belanja daerah diarahkan unt uk dapat m endukung pencapaian visi dan misi pem bangunan lim a t ahun ke depan dit am bah sat u t ahun t ransisi. Sesuai dengan visi pem bangunan yang t elah dit et apkan, belanja daerah dapat digunakan sebagai inst rum en pencapaian visi t ersebut . Pengelolaan belanja sejak proses perencanaan, pelaksanaan hingga pert anggungjaw aban harus m em perhat ikan aspek efekt ivit as, efisiensi, t ransparansi dan akunt abilit as.
Pengelolaan belanja daerah diarahkan pada efesiensi dan efekt ivit as penggunaan anggaran belanja bagi kepent ingan pelayanan publik secara opt imal dengan t et ap m enjaga eksist ensi sert a kesinam bungan penyelenggaraan pem erint ahan. Pengelolaan belanja harus pula diadm inist rasikan sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.
Orient asi belanja daerah unt uk efekt ifit as pelaksanaan t ugas pokok dan fungsi m asing-m asing Sat uan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Nam un dem ikian, pengalokasian anggaran perlu dilaksanakan secara t erbuka berdasarkan skala priorit as dan kebut uhan. Pendekat an capaian kinerja (input -out put -out comes) secara konsist en selalu dikedepankan. Oleh karena it u, perum usan t arget kinerja harus selalu dilakukan selalu cerm at dan t epat ; sebagai basis evaluasi kinerja set elah pelaksanaan program kegiat an. Unt uk it u, belanja daerah pada set iap kegiat an harus disert ai t olok ukur dan t arget kinerja yang t epat dan sesuai. Peningkat an alokasi belanja SKPD harus diikut i dengan peningkat an prest asi kerja. Dengan dem ikian, t idak boleh ada kecenderungan unt uk selalu menaikkan alokasi belanja t anpa diikut i oleh prest asi kerja.
Usulan program , kegiat an dan anggaran dinilai t ingkat kew ajaran melalui akselerasi dan sinkronisasi program bersam a st akeholders. Penilaian kew ajaran m enyangkut dan m eliput i, ant ara lain kesesuaian t ugas pokok dan fungsi SKPD dengan program dan kegiat an yang diusulkan dalam m endukung t erw ujudnya visi daerah; kait an logis ant ara perm asalahan yang akan diselesaikan SKPD dengan priorit as program dan kegiat an yang diusulkan; kapasit as SKPD unt uk m elaksanakan kegiat an dalam pencapaian kinerja yang diinginkan; dan keselarasan dan ket erpaduan kegiat an dari m asing-m asing SKPD sehingga m em berikan manfaat dampak posit if bagi masyarakat .
Selanjut nya, salah sat u hal krusial yang harus m endapat kan perhat ian adalah aspek st andar dalam penganggaran dan pelaksanaan anggaran belanja. Pemerint ah Kabupat en M aluku Barat Daya perlu segera m em iliki Analisa St andar Belanja (ASB) yang m erupakan
perkiraan kew ajaran anggaran yang dilaksanakan unt uk suat u kegiat an pada suat u unit kerja. ASB dalam hal ini m erupakan pendukung bagi pelaksanaan anggaran daerah yang disusun dengan berdasarkan pendekat an kinerja. ASB ini m erupakan pagu/ bat as kew ajaran anggaran dan kegiat an sehingga lebih m udah, baik bagi pihak pim pinan, pengawas int ernal m aupun ekst ernal unt uk melakukan evaluasi hasil kinerja at as suat u kegiat an. Dengan ASB ini m aka suat u kegiat an dapat dinilai berhasil m encapai kinerjanya apabila t elah sesuai dengan indikat or input, out put dan out come dengan bat as kew ajaran anggaran yang t elah dit et apkan dalam ASB.
6.3
Permasalahan dan Analisis Keuangan
6.3.1.
Kondisi Keuangan Pemerintah Kabupaten M aluku Barat DayaDana yang didapat oleh pemerint ah daerah baik dari PAD, DAU, dan DAK sert a penerim aan daerah lainnya yang sah, pada kenyat aannya dana t ersebut t idak dapat m em biayai seluruh sekt or kegiat an pem bangunan daerah t erm asuk pem bangunan perkot aan. Dengan kondisi t ersebut unt uk mengat asi kebut uhan pem biayaan pem bangunan kot a yang akan sem akin besar, pemerint ah daerah perlu m elakukan langkah-langkah kebijakan dalam upaya meningkat kan penerim aan dari sum ber-sum ber pendapat an asli daerah.
Kebijakan um um belanja daerah diarahkan pada peningkat an efisiensi, efekt ivit as, t ransparansi, akunt abel dan penet apan priorit as alokasi anggaran, guna m encapai sasaran, t ujuan, m isi dan visi yang t elah dit et apkan.
Secara spesifik, efisiensi dan efekt ivit as belanja harus m eliput i pos–pos belanja. Belanja daerah dikelom pokan ke dalam belanja langsung dan t idak langsung yang m asing– m asing kelom pok dirinci ke dalam jenis belanja.
a) Belanja Tidak Langsung
Arah kebijakan belanja t idak langsung sam pai dengan 2012 diperkirakan akan didom inasi oleh belanja pegaw ai yang m asih merupakan proporsi t erbesar. Kem ungkinan dalam t iga t ahun ke depan pemerint ah akan menaikkan kem bali gaji PNS, sehingga selama t iga t ahun mendat ang diperkirakan belanja t idak langsung akan m engalam i kenaikan yang cukup signifikan t erut am a unt uk biaya gaji t et ap. Kenaikan gaji PNS t ersebut dibiayai oleh
sum ber pendapat an DAU. Dengan dem ikian kenaikan gaji pegaw ai diharapkan dapat diikut i oleh kenaikan DAU.
Belanja yang signifikan pada kelom pok belanja t idak langsung adalah belanja bant uan sosial. Alokasi bant uan sosial diarahkan kepada m asyarakat dan berbagai organisasi baik profesi maupun kem asyarakat an. Tujuan alokasi belanja bant uan sosial m erupakan m anifest asi pem erint ah dalam m emberdayakan m asyarakat . M ekanisme anggaran yang dilaksanakan adalah bersifat block grant, art inya m asyarakat dapat m erencanakan sendiri sesuai dengan kebut uhan, dengan t idak keluar dari koridor perat uran yang berlaku.
Belanja bant uan keuangan dalam rangka pem erat aan dan peningkat an kemam puan keuangan pem erint ah desa, dialokasikan sesuai dengan perat uran perundang-undangan yang berlaku dengan t et ap m em pert im bangkan kem am puan keuangan daerah.
Selain it u, kom it m en Pemerint ah Kabupat en M aluku Barat Daya unt uk m em perbaiki kualit as pendidikan dan kesehat an juga berim plikasi pada meningkat nya belanja subsidi pendidikan dan kesehat an, yang juga akan berpengaruh pada peningkat an belanja t idak langsung.
b) Belanja Langsung
Belanja langsung adalah belanja pem erint ah daerah yang berhubungan langsung dengan program dan kegiat an. Program dan kegiat an yang diusulkan pada belanja langsung disesuaikan dengan kebijakan um um APBD, priorit as dan plafon anggaran, dan Rencana St rat egis SKPD. Belanja langsung unt uk jangka w akt u t iga t ahun ke depan dan sat u t ahun t ransisi diarahkan unt uk m engurangi jum lah penduduk yang t erm asuk kat egori m iskin m elalui program kegiat an yang lint as sekt oral secara sinergis dan t erint egrasi.
Selain it u, mengingat posisi pem erint ah daerah m asih dom inan sebagai sent ral m endorong dan menggerakan roda perekonom ian daerah; m aka upaya unt uk mew ujudkan sosok birokrasi yang m ampu m enjadi model pelayan publik yang handal, profesional dan t aat asas harus dilakukan secara berkesinam bungan dan t erukur. Upaya unt uk m ew ujudkan sosok birokrasi yang dapat menjadi m odel pelayan publik ini harus pula dilakukan secara sinergis dan t erint egrasi.
Unt uk lebih m engefekt ifkan belanja langsung barang dan jasa, m aka pemerint ah Kabupat en M aluku Barat Daya secara bert ahap akan m erum uskan model rem unerasi bagi
para aparat urnya. Dengan dem ikian, alokasi belanja pegaw ai dalam belanja langsung yang ant ara lain berupa honorarium , dapat secara bert ahap dikurangi. Hal ini sejalan dengan arah reform asi birokrasi yang dijalankan oleh Pemerint ah Pusat .
Sem ent ara it u, khusus unt uk belanja modal, pengeluaran belanja m odal dipriorit askan unt uk m enyediakan dan mem bangun prasarana dan sarana pelayanan publik yang mem adai.
Dengan diberlakukannya anggaran kinerja, m aka dalam penyusunan APBD dim ungkinkan adanya defisit at au surplus. Kebut uhan belanja daerah t iap t ahunnya cenderung lebih besar dari perkiraan pendapat an daerah sehingga performance budget ing
APBD m enunjukan defisit . Kebijakan unt uk m enut up defisit anggaran diopt imalkan m elalui sisa lebih perhit ungan anggaran t ahun lalu dan at au penggunaan dana cadangan. Nam un jika t idak mem ungkinkan, m aka akan dilakukan pinjam an daerah.
Pinjam an daerah harus direncanakan secara hat i-hat i. Tujuan pinjam an daerah hendaknya diarahkan agar m em punyai mult iplier effect dan cost recovery sehingga m am pu m eningkat kan laju pert um buhan ekonom i dengan berkem bangnya sekt or perdagangan dan jasa. Selain disesuaikan dengan kem am puan keuangan daerah, pinjam an yang dilakukan harus t epat sasaran. Unt uk it u, pengaw asan yang efekt if dan efisien m ut lak dilakukan.
Selanjut nya unt uk pengeluaran pembiayaan dipriorit askan pada pengeluaran yang bersifat w ajib, ant ara lain unt uk pembayaran hut ang pokok yang t elah jat uh t empo. Set elah pengeluaran w ajib t erpenuhi, maka pengeluaran pembiayaan diarahkan unt uk penyert aan modal kepada PM D yang berorient asi keunt ungan dan bert ujuan unt uk meningkat kan pelayanan kepada masyarakat . Dengan penyert aan modal yang dilakukan diharapkan dapat menghasilkan bagi hasil laba yang