• Tidak ada hasil yang ditemukan

SIDANG PLENO ISEI XIII DAN SEMINAR NASIONAL

Dalam dokumen Memperkuat Ketahanan Pangan dan Energi N (Halaman 35-39)

Mataram, 17-18 Juli 2008

Pendahuluan

Pangan dan energi adalah penopang utama kehidupan manusia. Karena itu seminar nasional dalam rangka Sidang Pleno ISEI XIII ini mengangkat tema “Memperkuat Ketahanan Pangan dan Energi Nasional dalam Era Persaingan Global”. Pada seminar ini telah kita lakukan diskusi untuk membahas beragam isu di sekitar topik tersebut.

Ada beberapa sebab krisis energi dan pangan yang terjadi belakangan ini. Pertumbuhan ekonomi yang belakangan sangat tinggi di Asia Timur, memiliki dampak yang meluas ke seluruh dunia, terutama bagi negara-negara berkembang. Pertumbuhan ekonomi membutuhkan energi yang besar dengan ketersediaan pangan yang cukup. Di sisi lain harga pangan dan energi mengandung elemen spekulatif (bubble) yang cukup signifikan. Spekulasi yang terjadi membuat ekspektasi inflasi tetap tinggi dan berlanjut, sehingga pengendalian inflasi menjadi semakin sulit. Kredibilitas bank sentral menjadi syarat utama dalam pengendalian ekspektasi inflasi. Oleh karena itu bank sentral tetap menjaga stabilitas harga daripada pertumbuhan. Dengan kredibilitas yang baik, biaya pengendalian inflasi menjadi lebih murah, seiring dengan rendahnya ekspektasi inflasi. Rasa optimisme bahwa hari esok menjadi lebih baik menjadi tugas bersama untuk disebarkan kepada seluruh masyarakat.

Jaminan ketersediaan dan daya beli masyarakat terhadap pangan dan energi merupakan prasyarat utama bagi ketahanan pangan dan energi di dalam negeri, untuk keberlangsungan perekonomian negara, maupun untuk menghadapi guncangan (shock) dari luar negeri. Strategi peningkatan kemampuan daya beli masyarakat dan penguatan basis ketahanan pangan dan energi harus diciptakan untuk menjaga keberlangsungan ketersediaan pangan dan energi tersebut. Kebijakan ekonomi yang dibutuhkan, tidak hanya pada bidang pangan dan energi sendiri, tetapi merupakan kebijakan ekonomi yang menyeluruh. Kerjasama antara pemerintah dan swasta dalam menjamin ketersediaan dan kemampuan masyarakat untuk membeli, juga merupakan hal penting yang harus dipikirkan.

Elemen-elemen Ketahanan Pangan dan Energi

Kondisi terpenuhinya pangan tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik jumlah maupun mutunya, merata dan terjangkau. Peningkatan produksi pertanian merupakan solusi untuk mengatasi masalah ketahanan pangan dari sisi suplai. Peningkatan produksi pangan akan lebih efektif dengan meningkatkan produktivitas pertanian seperti perbaikan irigasi/infrastruktur pertanian, diversivikasi pangan, teknologi pertanian, distribusi hasil pertanian, intensifikasi, ekstensifikasi, penataan fungsi kelembagaan, dan pembiayaan (pasar dan kemitraan).

Ketahanan pangan dan energi dipengaruhi juga oleh struktur penduduk dan pola konsumsi masyarakat serta adanya fenomena urbansasi sehingga perlu

regional self sufficiency dan sistem zoning bagi produksi dan penyediaan komoditi.

Untuk meningkatkan daya beli otomatis harus meningkatkan pendapatan masyarakat seperti program padat karya serta menciptakan pertumbuhan ekonomi. Isu ketahanan pangan sangat erat kaitannya dengan permasalahan mendasar makro ekonomi, seperti kebijakan harga, dan harus memperhitungkan dampaknya terhadap angka kemiskinan dan inflasi. Peningkatan harga pangan akan mengancam ketahanan pangan. Untuk membangun ketahanan pangan yang berkelanjutan diperlukan kebijakan-kebijakan pro perlindungan lahan pertanian dan pengembangan kawasan pangan.

Kebijakan stabilisasi harga saja tidak cukup, diperlukan infrastuktur untuk mengurangi dampak inflasi dan kemiskinan. Selain itu kebijakan subsidi, khususnya subsidi yang bersifat less distortive bagi harga dan bukan kebijakan yang berdasarkan komoditi, tetapi berdasarkan kelompok peruntukan.

Peningkatan daya beli dapat dilakukan dengan menciptakan kerjasama dengan pihak asing untuk melakukan R&D karena dapat mendorong pertumbuhan. Deregulasi pasar akan mendorong masuknya investasi baru ke pasar. Khusus bagi energi, harus dilakukan kebijakan perubahan energy mix, perubahan UU Migas untuk mendorong eksplorasi dan regionalisasi tarif dan subsidi energi yang tepat.

Rekomendasi Kebijakan

Kebijakan ketahanan pangan dan energi merupakan kebijakan yang bersifat

economic wide, artinya tidak hanya kebijakan dalam bidang pangan dan energi tetapi menyangkut segala aspek ekonomi. Hal yang mendasar bagi kebijakan tersebut adalah perubahan pada UU dan sistem kelembagaan untuk mengatur ketersediaan pangan dan energi dengan lebih efisien. Selain itu terobosan teknologi dan peningkatan produktivitas merupakan hal yang mutlak harus dilakukan.

Dimensi kebijakan tidak hanya terbatas kepada kebijakan di bidang pangan dan kebijakan energi. Implikasi kebijakan dari rangkaian diskusi Sidang Pleno XIII ini adalah perlunya kebijakan ekonomi dalam perspektif yang lebih luas.

Untuk peningkatan ketersediaan, masing-masing sektor harus memiliki iklim yang kondusif untuk pengusahaan, produksi, teknologi dan distribusi. Banyak pembicara telah menguraikan secara rinci kebijakan-kebijakan yang terkait dengan hal tersebut. Di sektor energi, perlu segera dilakukan penyempurnaan UU migas untuk mendorong eksplorasi. Indonesia perlu memberdayakan sumber-sumber ekonomi baru untuk menunjang kebutuhan energi dalam negeri. Begitu pula, perlu penggunaan dan transfer teknologi yang ramah lingkungan dan mendorong efisiensi. Di bidang produksi pangan diperlukan perbaikan produktivitas melalui perbaikan bibit, irigasi, dan pengolahan pangan. Kebijakan perlindungan lahan pertanian dan pengembangan kawasan agribisnis dan lahan potensial.

Peningkatan daya beli didorong oleh rangkaian kebijakan pertumbuhan dan kebijakan subsidi. Khusus bagi kebijakan subsidi, perlu diperhatikan bahwa subsidi untuk mendukung kerentanan ekonomi (economic vulnerability) harus berfokus pada kelompok ekonomi. Untuk subsidi yang mendukung produktivitas berfokus pada subsidi yang bukan commodity base dan tidak mendistorsi harga. Satu alternatif adalah subsidi kredit dengan skema eligibility yang berfokus pada kelompok ekonomi lemah dan miskin.

Kebijakan harga memegang peranan penting. Harus dipahami bahwa kebijakan harga di satu sektor akan memiliki dampak mekanisme keseluruhan harga-harga lain di perekonomian. Kita tahu bahwa harga yang stabil memiliki dampak kepada pengendalikan inflasi dan pengentasan kemiskinan, meskipun harus diperhatikan pula dampaknya kepada output.

Dimensi kebijakan lainnya adalah dimensi regional. Dengan kondisi geografis yang sedemikian besar, Indonesia perlu memperhatikan dimensi regional dari ketahanan dan energi. Peningkatan ketahanan pangan dan energi bisa sangat mungkin berbasis regional. Perbedaan energy mix dan konsumsi pangan antar daerah bisa jadi adalah solusi awal ketahanan pangan dan energi Indonesia. Beberapa isu yang timbul di sini adalah misalnya, identifikasi potensi energi lokal, dan juga regionalisasi harga. Dimensi kebijakan regional ini perlu terus didalami sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing.

Penutup

Demikianlah hasil berupa rumusan elemen-elemen ketahanan pangan dan energi serta rekomendasi kebijakan yang diperoleh selama rangkaian acara Sidang Pleno ISEI XIII ini. Alangkah baiknya jika rumusan yang telah kita hasilkan bersama ini dapat ditindaklanjuti melalui pelaksanaan seminar atau diskusi di tingkat cabang menuju pengimplementasian kebijakan guna memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional.

Mataram, 18 Juli 2008

BAGIAN III.

KONDISI DAN DAMPAK GLOBALISASI

Dalam dokumen Memperkuat Ketahanan Pangan dan Energi N (Halaman 35-39)