• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sosok Dosen di Abad

Dalam dokumen Arah Perkembangan Pendidikan TINGGI INDO (Halaman 74-80)

G. TANTANGAN DOSEN DALAM DUNIA PENDIDIKAN TINGGI MASA DEPAN

2. Sosok Dosen di Abad

Pada karakter ini, peserta didik memiliki kemampuan untuk mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru kepada yang lain, bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan berbeda.

Selain pendekatan pembelajaran, peserta didik pun harus diberi kesempatan untuk mengembangkan kecakapannya dalam menguasai teknologi informasi dan komunikasi khususnya Teknologi ICT- Komputer.

Literasi ICT adalah suatu kemampuan untuk menggunakan teknologi dalam proses pembelajaran untuk mencapai kecakapan berpikir dan belajar peserta didik. Kegiatan-kegiatan yang harus disiapkan oleh pendidik adalah kegiatan yang memberikan kesempatan pada peserta didik untuk menggunakan teknologi komputer untuk melatih keterampilan berpikir kritisnya dalam memecahkan masalah melalui kolaborasi dan komunikasi dengan teman sejawat, dosen, ahli atau orang lain yang memiliki minat yang sama.

2. Sosok Dosen di Abad 21

Dosen abad 21 harus menguasai banyak pengetahuan (akademik, pedagogik, sosial dan budaya), mampu berpikir kritis, tanggap terhadap setiap perubahan, dan mampu menyelesaikan masalah. Dosen tidak boleh hanya datang ke kampus melulu untuk mengajar saja. Kemampuan untuk mengelola kelas saja tidak cukup lagi. Dosen diharapkan bisa menjadi pemimpin dan agen perubahan, yang mampu mempersiapkan anak didik untuk siap menghadapi tantangan global di luar kampus. Selain orang tua peran dosen dalam mengarahkan masa depan anak didiknya sangat signifikan. Bisa dibayangkan apa jadinya kalau dosen tidak siap menghadapi semua tantangan dinamika pendidikan abad 21 ini, yang nota-bene masih terus akan berubah.

Gambar 16. Ciri Pendidik abad 21

Dalam konteks dosen profesional dengan semangat tinggi, ia akan selalu memiliki inisiatif, gigih, tidak putus asah dan tidak gampang menyerah. Sebaliknya, ia akan jarang mengeluh. Dan hatinya akan senantiasa berbunga kata ―There are two kinds of days:good days and great days‖ atau hanya ada dua macam hari: hari baik dan hari sangat baik. Dosen dalam dimensi kekinian digambarkan sebagai sosok manusia yang berakhlak mulia, arif, bijaksana, berkepribadian stabil, mantap, disiplin, santun, jujur, obyektif, bertanggung jawab, menarik, mantap, empatik, berwibawa, dan patut diteladani.

Dengan sosok kekiniannya, seorang dosen harus manjadi manusia yang dinamis dan berfikir ke depan(futuristic) dengan tanda-tanda dimilikinya sifat informatif, modern, bersemangat, dan komitmen untuk pengembangan individu maupun bersama-sama. Dan yang tak kalah penting, dosen diharuskan mampu menguasai IT, atau setidak-tidaknya mampu mengoperasionalkan. Dosen diharapkan benar- benar mampu mengajak mahasiswanya siap dalam menghadapi tantangan zaman.

Sebagai dosen profesional juga wajib tumbuh dalam dirinya jiwa semangat dan sebagai penyemangat. Untuk yang satu ini, hal mendasar yang harus dimiliki dosen adalah kekayaan pengetahuan dan kompetensi materi yang akan diajarkan. Tanpa itu, mustahil dosen akan dapat mengajar dengan baik, lugas dan lancar. Keminiman penguasaan materi dan wawasan pendukungnya akan mendosenng dosen pada keminderan dan bahkan merasa takut berhadapan dengan mahasiswa.

Dalam Jurnal Educational Leadership 1993 (dalam Supriadi 1998) dijelaskan bahwa untuk menjadi profesional seorang dosen dituntut untuk memiliki lima hal: (1) Dosen mempunyai komitmen pada mahasiswa dan proses belajarnya, (2) Dosen menguasai secara mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarnya kepada mahasiswa, (3) Dosen bertanggung jawab memantau hasil belajar mahasiswa melalui berbagai cara evaluasi, (4) Dosen mampu berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya, (5) Dosen seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya.

Gambar 17. Peran dan fungsi dosen dalam proses pembelajaran abad 21

Dengan adanya persyaratan profesionalisme dosen ini, perlu adanya paradigma baru untuk melahirkan profil dosen Indonesia yang profesional di abad 21 yaitu; (1) memiliki kepribadian yang matang dan berkembang; (2) penguasaan ilmu yang kuat; (3) keterampilan untuk membangkitkan peserta didik kepada sains dan teknologi; dan (4) pengembangan profesi secara berkesinambungan. Keempat aspek tersebut merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan dan ditambah dengan usaha lain yang ikut mempengaruhi perkembangan profesi dosen yang profesional. Apabila syarat-syarat profesionalisme dosen di atas itu terpenuhi akan mengubah peran dosen yang tadinya pasif menjadi dosen yang kreatif dan dinamis.

Pemenuhan persyaratan dosen profesional akan mengubah peran dosen yang semula sebagai orator yang verbalistis menjadi berkekuatan dinamis dalam menciptakan suatu suasana dan lingkungan belajar yang invitation learning environment. Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, dosen memiliki multi fungsi yaitu sebagai fasilitator, motivator, informator, komunikator, transformator, change agent, inovator, konselor, evaluator, dan administrator.

Pengembangan profesionalisme dosen menjadi perhatian secara global, karena dosen memiliki tugas dan peran bukan hanya memberikan informasi-informasi ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan juga membentuk sikap dan jiwa yang mampu bertahan dalam era hiperkompetisi. Tugas dosen adalah membantu peserta didik agar mampu melakukan adaptasi terhadap berbagai tantangan kehidupan serta desakan yang berkembang dalam dirinya. Pemberdayaan peserta didik ini meliputi aspek-aspek kepribadian terutama aspek intelektual, sosial, emosional, dan keterampilan. Tugas mulia itu menjadi berat karena bukan saja dosen harus mempersiapkan generasi muda memasuki abad pengetahuan, melainkan harus mempersiapkan diri agar tetap eksis, baik sebagai individu maupun sebagai profesional. H.GAMBARAN PEMBELAJARAN DUNIA PENDIDIKAN TINGGI MASA DEPAN

Kampus memerlukan sumber belajar yang banyak. Tetapi kampus dihadapkan pada kenyataan bahwa sumber belajar yang ada di perpustakaan sangat terbatas. Koleksi buku dan compact disk (CD) yang dimiliki kampus pun acapkali sudah usang. Pembaharuan koleksi buku dan CD tentu memerlukan biaya yang sangat besar. ICT dapat dijadikan solusi bagi permasalahan ini.

Praktek pembelajaran yang terjadi sekarang ini masih didominasi oleh pola atau paradigma yang banyak dijumpai di abad industri. Pada abad pengetahuan (abad 21) paradigma yang digunakan jauh berbeda dengan pada abad industi. Pendekatan pembelajaran yang digunakan pada abad pengetahuan adalah pendekatan campuran yaitu perpaduan antara pendekatan dari dosen, belajar dari mahasiswa lain, dan belajar pada diri sendiri.

Pergeseran tata cara penyelenggaraan kegiatan pendidikan dan pembelajaran di era pengetahuan dan informasi (abad 21) meliputi Pergeseran proses pembelajaran sebagai berikut.

 Dari berpusat pada pengajar menuju berpusat pada peserta didik.

Saat ini dosen harus lebih banyak mendengarkan peserta didiknya saling berinteraksi, berargumen, berdebat, dan berkolaborasi. Fungsi Dosen dari pengajar berubah dengan sendirinya menjadi fasilitator bagi siswa-siswanya

 Dari satu arah menuju interaktif.

Jika dahulu mekanisme pembelajaran yang terjadi adalah satu arah dari dosen ke peserta dididk, maka saat ini harus terdapat interaksi yang cukup antara dosen dan peserta dalam berbagai bentuk komunikasinya. Dosen berusaha membuat kelas semenarik mungkin melalui berbagai pendekatan interaksi yang dipersiapkan dan dikelola.

 Dari isolasi menuju lingkungan jejaring.

Peserta didik dapat menimba ilmu dari siapa saja dan dari mana saja yang dapat dihubungi serta diperoleh via internet.

 Dari pasif menuju aktif-menyelidiki.

Peserta didik harus lebih aktif dengan cara memberikan berbagai pertanyaan yang ingin diketahui jawabannya.

 Dari maya/abstrak menuju konteks dunia nyata

Dosen harus dapat memberikan contoh-contoh yang sesuai dengan konteks kehidupan sehari-hari dan relevan dengan bahan yang diajarkan.

 Dari pribadi menuju pembelajaran berbasis tim

Jika dahulu proses pembelajaran lebih bersifat personal atau berbasiskan masing-masing individu, maka yang harus dikembangkan saat ini adalah model pembelajaran yang mengedepankan kerjasama antar individu.

 Dari luas menuju perilaku khas memberdayakan kaidah keterikatan

.Jika dahulu ilmu atau materi yang diajarkan lebih bersifat umum (semua materi yang dianggap perlu diberikan), maka saat ini harus dipilih benar-benar ilmu atau materi yang benar-benar relevan untuk ditekuni dan diperdalam secara sungguh-sungguh (hanya materi yang relevan bagi kehidupan sang siswa yang diberikan).

 Dari stimulasi rasa tunggal menuju stimulasi ke sehala penjuru.

Jika dahulu Peserta didik hanya menggunakan sebagian panca inderanya dalam menangkap materi yang diajarkan guru (mata dan telinga), maka saat ini seluruh panca indera dan komponen jasmani-rohani harus terlibat aktif dalam proses pembelajaran (kognitif, afektif, dan psikomotorik).

 Dari alat tunggal menuju alat multimedia.

Jika dahulu ilmu dosen hanya mengandalkan papan tulis untuk mengajar, maka saat ini diharapkan dosen dapat menggunakan beranekaragam peralatan dan teknologi pendidikan yang tersedia – baik yang bersifat konvensional maupun moderen.

 Dari hubungan satu arah bergeser menuju kooperatif

Jika dahulu Peserta didik harus selalu setuju dengan pendapat dosen dan tidak boleh sama sekali menentangnya, maka saat ini harus ada dialog antar dosen dan Peserta didik untuk mencapai kesepakatan bersama.

 Dari produksi massa menuju kebutuhan pelanggan.

Setiap Peserta didik berhak untuk mendapatkan konten sesuai dengan ketertarikan atau keunikan potensi yang dimilikinya.

 Dari usaha sadar tunggal menuju jamak.

 Dari satu ilmu pengetahuan bergeser menuju pengetahuan disiplin jamak

Jika dahulu Peserta didik hanya mempelajari sebuah materi atau fenomena dari satu sisi pandang ilmu, maka saat ini konteks pemahaman akan jauh lebih baik dimengerti melalui pendekatan pengetahuan multi disiplin.

 Dari kontrol terpusat menuju otonomi dan kepercayaan.

Peserta didik diberi kepercayaan untuk bertanggung jawab atas pekerjaan dan aktivitasnya masing-masing.

 Dari pemikiran faktual menuju kritis.

Jika dahulu hal-hal yang dibahas di dalam kelas lebih bersifat faktual, maka sekarang ini harus dikembangkan pembahasan terhadap berbagai hal yang membutuhkan pemikiran kreatif dan kritis untuk menyelesaikannya.

 Dari penyampaian pengetahuan menuju pertukaran pengetahuan.

Jika dahulu yang terjadi di dalam kelas adalah ―pemindahan‖ ilmu dari dosen ke Peserta didik, maka dalam abad moderen ini yang terjadi di kelas adalah pertukaran pengetahuan antara Peserta didik dan Peserta didik maupun antar Peserta didik.

Gambar 19. Kompetensi mahasiswa yang diharpakan dari hasil pembelajaran abad 21

Prinsip Pokok Pembelajaran di era pengetahuan dan informasi (abad 21) yang digagas Jennifer Nichols tersebut dapat dijelaskan dan dikembangkan sebagai berikut.

a. Instruction should be student-centered

Pengembangan pembelajaran menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. peserta didik ditempatkan sebagai subyek pembelajaran yang secara aktif mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya. peserta didik tidak lagi dituntut untuk mendengarkan dan menghafal materi pelajaran, tetapi berupaya mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, sesuai dengan kapasitas dan tingkat perkembangan berfikirnya, sambil diajak berkontribusi untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang terjadi di masyarakat.

Dosen berperan sebagai fasilitator yang berupaya membantu mengaitkan pengetahuan awal (prior knowledge) yang telah dimiliki peserta didik dengan informasi baru yang akan dipelajarinya. Memberi kesempatan peserta didik untuk belajar sesuai dengan cara dan gaya belajarnya masing-masing dan mendorong peserta didik untuk bertanggung jawab atas proses belajar yang dilakukannya. Selain itu, dosen juga berperan sebagai pembimbing, yang berupaya membantu peserta didik ketika menemukan kesulitan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya.

b. Education should be collaborative

peserta didik (mahasiswa) harus dibelajarkan untuk bisa berkolaborasi dengan orang lain. Berkolaborasi dengan orang-orang yang berbeda dalam latar budaya dan nilai-nilai yang dianutnya. Dalam menggali informasi dan membangun makna, peserta didik perlu didorong untuk bisa berkolaborasi dengan teman-teman di kelasnya. Dalam mengerjakan suatu proyek, peserta didik perlu dibelajarkan bagaimana menghargai kekuatan dan talenta setiap orang serta bagaimana mengambil peran dan menyesuaikan diri secara tepat dengan mereka. Begitu juga, lembaga pendidikan tinggi (termasuk di dalamnya dosen) seyogyanya dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan lainnya di berbagai belahan dunia untuk saling berbagi informasi dan penglaman tentang praktik dan metode pembelajaran yang telah dikembangkannya. Kemudian, mereka bersedia melakukan perubahan metode pembelajarannya agar menjadi lebih baik.

c. Learning should have context

Pembelajaran tidak akan banyak berarti jika tidak memberi dampak terhadap kehidupan peserta didik di masyarakat. Oleh karena itu, materi pelajaran perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Dosen mengembangkan metode pembelajaran yang memungkinkan peserta didik terhubung dengan dunia nyata (real word). Dosen membantu peserta didik agar dapat menemukan nilai, makna dan keyakinan atas apa yang sedang dipelajarinya serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya.

d. Schools should be integrated with society

Dalam upaya mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang bertanggung jawab, lembaga/institusi pendidikan seyogyanya dapat memfasilitasi peserta didik untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya. Misalnya, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, peserta didik dapat belajar mengambil peran dan melakukan aktivitas tertentu dalam lingkungan sosial. dilibatkan dalam berbagai pengembangan program kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, dan sebagainya.

A. INDUSTRI DALAM ERA GLOBALISASI

Globalisasi membuat keterikatan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer dan bentuk interaksi lain. Globalisasi dalam perekonomian merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, dimana negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negara. Globalisasi perekonomian di satu pihak akan membuka peluang pasar produk dari dalam negeri ke pasar internasional secara kompetitif, dan sebaliknya juga membuka peluang masuknya produk- produk global ke dalam pasar domestik.

Globalisasi di bidang ekonomi ini juga akan mempengaruhi bidang industri. Globalisasi ini akan menghambat pertumbuhan sektor industri. Misalnya dalam perkembangan sistem perdagangan luar negeri yang lebih bebas. Perkembangan ini akan menyebabkan negara-negara berkembang tidak dapat lagi menggunakan tarif yang tinggi untuk memberikan proteksi kepada industri yang baru berkembang. Akibatnya sektor industri domestik akan sulit berkembang. Ketergantungan kepada industri yang dimiliki perusahaan multinasional pun semakin meningkat. Ketika SDM dalam negeri tidak dibekali dengan kemampuan dan keterampilan yang baik untuk mendobrak industri dan bersaing dengan kompetitor lain, maka industri dalam negeri akan berakhir dengan banyaknya industri yang dikuasai oleh asing.

Globalisasi juga mempengaruhi tenaga kerja. Perusahaan akan mampu memanfaatkan tenaga kerja dari seluruh dunia sesuai dengan kelasnya seperti penggunaan staf profesional diambil dari tenaga kerja yang telah memiliki pengalaman internasional. Tenaga kerja dalam negeri juga harus bersaing dengan tenaga kerja dari luar negeri untuk mendapatkan pekerjaan. Ketika SDM bangsa tidak mampu bersaing, maka pengangguran akan semakin memburuk, pendapatan nasional berkurang dan akan memberikan efek buruk pada pertumbuhan ekonomi jangka panjang suatu negara.

Cara yang ditempuh untuk mengatasi hal-hal di atas adalah mempersiapkan SDM yang handal, mempunyai kemampuan dan keterampilan untuk bersaing dalam sektor industri dalam era globalisasi ini baik SDM sebagai pembangun/ pemilik industri atau sebagai tenaga kerja yang ahli dan profesional. Pendidikan harus dipahami dalam konteks mempersiapkan peserta didik untuk menguasai spektrum pengetahuan dan keterampilan tertentu. Keberlangsungan hidup sebuah lembaga pendidikan ditentukan oleh peran yang dimainkannya. Eksistensi lembaga tersebut ditentukan oleh relevasinya terhadap perkembangan dan perubahan kebutuhan serta persoalan di masyarakat. Lembaga pendidikan harus mengambil peran sebagai learning service center, dan healthy personality self-identification and development center. Dengan senantiasa melakukan peningkatan profesionalitas kinerja di seluruh komponen penyelenggaraannya, maka harapan bahwa lembaga pendidikan sebagai lembaga yang bergerak dalam industri produk jasa pengetahuan dan keterampilan tetap diminati dan survive di era globalisasi dan persaingan bebas.

Dalam dokumen Arah Perkembangan Pendidikan TINGGI INDO (Halaman 74-80)