A. Pemberitahuan Pabean dan Tanggung Jawab Bea Masuk
3) Tanggung jawab atas Bea Masuk
Berdasarkan ketentuan Kepabeanan, terhadap barang yang dimasukan ke dalam daerah pabean diperlakukan sebagai barang impor dan terutang bea masuk. Barang impor begitu memasuki batas daerah pabean sudah terutang bea masuk, namun mengingat barang tersebut belum tentu diimpor untuk dipakai, maka kewajiban melunasi bea masuk baru timbul sejak tanggal pemberitahuan pabean atas impor.
Dalam pasal 30 Undang-undang Kepabeanan disebutkan bahwa:
(1) Importir bertanggung jawab terhadap Bea Masuk yang terutang sejak tanggal Pemberitahuan Pabean atas Impor.
(2) Bea Masuk yang harus dibayar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung berdasarkan tarif yang berlaku pada tanggal Pemberitahuan Pabean atas Impor dan nilai pabean sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15.
(3) Bea masuk harus dibayar dalam mata uang rupiah.
(4) Ketentuan mengenai nilai tukar mata uang yang digunakan untuk penghitungan dan pembayaran bea masuk diatur lebih lanjut dengan peraturan menteri.
Nilai pabean yang dimaksud dalam pasal 15 tersebut diatas adalah nilai pabean untuk perhitungan bea masuk berdasarkan nilai transaksi dari barang yang bersangkutan.
Undang-Undang Pabean
DTSD Kepabeanan dan Cukai 76
Tanggung jawab importir bukan hanya terhadap pelunasan bea masuk atas importasi barang yang dilakukannya, akan tetapi juga konsekuensi dari pemberitahuan impor barang yang disampaikan ke pihak Bea dan Cukai. Konsekuensi tersebut meliputi kemungkinan pengenaan sanksi administrasi ataupun sanksi pidana atas pelanggaran ketentuan Undang-undang Kepabeanan sesuai ketentuan yang berlaku.
Pada prinsipnya pungutan bea masuk atas barang impor merupakan tanggung jawab importir yang bersangkutan. Namun apabila pengurusan pengajuan pemberitahuan impor dikuasakan kepada pengusaha pengurusan jasa kepabeanan (PPJK), maka pihak PPJK juga dapat dimintakan pertanggungjawabannya atas bea masuk yang terhutang. Hal ini dapat terjadi apabila karena sesuatu hal ( misalnya terjadi pelanggaran kepabeanan) dilakukan penagihan bea masuk atau denda administrasi, namun importirnya tidak dapat ditemukan, misalnya melarikan diri atau alamatnya palsu dan sebagainya. Dalam hal demikian maka tanggung jawab atas bea masuk tersebut beralih kepada pihak pengusaha pengurusan jasa kepabeanan. Ketentuan mengenai tanggung jawab PPJK tersebut tercantum dalam pasal 31 Undang-undang Kepabeanan, sebagai berikut :
Pengusaha pengurusan jasa kepabeanan yang mendapat kuasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (2) bertanggung jawab terhadap Bea Masuk yang terutang dalam hal importir tidak ditemukan.
Pihak lain yang juga dapat dimintakan pertanggungjawabannya atas pungutan bea masuk adalah pengusaha TPS ( Tempat Penimbunan Sementara ).
Berkaitan dengan tanggung jawab Pengusaha TPS atas bea masuk, disebutkan dalam pasal 32 Undang-undang Kepabeanan, sebagai berikut :
(1) Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara bertanggung jawab terhadap Bea Masuk yang terutang atas barang yang ditimbun di Tempat Penimbunan Sementaranya.
(2) Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara dibebaskan dari tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dalam hal barang yang ditimbun di Tempat Penimbunan Sementaranya :
Undang-Undang Pabean
DTSD Kepabeanan dan Cukai 77
- telah diekspor kembali, diimpor untuk dipakai, atau diimpor sementara; atau
- telah dipindahkan ke Tempat Penimbunan Sementara lain, Tempat Penimbunan Berikat, atau Tempat Penimbunan Pabean.
(3) Perhitungan Bea Masuk yang terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sepanjang tidak dapat didasarkan pada tarif dan nilai pabean barang yang bersangkutan, didasarkan pada tarif tertinggi untuk golongan barang yang tertera dalam Pemberitahuan Pabean pada saat barang tersebut ditimbun di Tempat Penimbunan Sementara dan nilai pebean ditetapkan oleh Pejabat Bea dan Cukai.
(4) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) termasuk tatacara penagihan diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan peraturan menteri.
Pada prinsipnya importir bertanggung jawab atas pembayaran bea masuk barang yang diimpornya. Namun berdasarkan ketentuan dalam pasal 30 ayat (1) Undang-undang pabean tersebut diatas bahwa importir baru dinyatakan bertanggung jawab atas bea masuk terhitung sejak diajukan atau didaftarkaannya dokumen pemberitahuan pabean dalam hal ini sejak diajukannya dokumen PIB (Pemberitahuan Impor Barang) kepada Kantor Bea dan Cukai setempat. Sebelum PIB/pemberitahuan pabean didaftarkan di kantor pabean, maka tanggung jawab atas bea masuk berada pada pengusaha Tempat Penimbunan Sementara, dimana barang impor ditimbun sebelum dikeluarkan dari Kawasan Pabean.
Sebagai contoh di pelabuhan Tanjung Priok atas barang yang ditimbun di UTPK (Unit Terminal Peti Kemas) yang tidak dapat dibuktikan pengeluarannya secara sah, maka pihak Pelindo harus bertanggung jawab terhadap bea masuk yang terutang atas barang yang ditimbun di tempat tersebut. Kecuali dapat dibuktikan bahwa barang dimaksud musnah, direekspor, diimpor atau dipindahkan ke TPS lain, TPB atau TPP.
Dalam hal barang yang ditimbun dipindahkan ke TPS lain atau ke TPB, maka tanggung jawab atas bea masuk barang impor beralih kepada pengusaha TPS lain atau pengusaha TPB. Namun jika barang impor tersebut dipindahkan ke
Undang-Undang Pabean
DTSD Kepabeanan dan Cukai 78
TPP (Tempat Penimbunan Pabean) maka status barang tersebut menjadi barang tidak dikuasai. Namun kepada pemilik barang masih diberi kesempatan untuk menyelesaikannya sampai batas waktu pelelangan. TPP berada dibawah pengelolaan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
Apabila terjadi kasus pertanggungjawaban bea masuk oleh pengusaha TPS terdiri dari beberapa jenis barang impor dengan satu nama umum, maka perhitungan bea masuknya dilakukan dengan cara sebagai berikut: Apabila barang impor yang harus dilunasi bea masuknya terdiri dari beberapa jenis dengan satu nama umum/golongan barang (karena biasanya nama barang yang ditimbun tidak rinci) sedangkan jenis barang yang sebenarnya tidak dapat diketahui, maka sebagai dasar perhitungan bea masuk diambil tarif tertinggi yang berlaku atas golongan barang tersebut, dan nilai pabean ditetapkan oleh pejabat Bea dan Cukai.
Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara yang tidak dapat mempertanggungjawabkan barang yang seharusnya berada di tempat tersebut selain harus membayar bea masuk juga dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 25 % (dua puluh lima persen) dari bea masuk yang seharusnya dibayar (lihat pasal 43 tentang Tempat Penimbunan Sementara).
Selanjutnya apabila barang impor ditimbun di TPB ( tempat penimbunan berikat ), tanggung jawab bea masuk atas barang yang ditimbun disitu menjadi beban pengusaha TPB yang bersangkutan.
Seperti kita ketahui bahwa barang-barang impor yang ditimbun di TPB mendapat penangguhan bea masuk sampai barang tersebut diekspor kembali atau diimpor untuk dipakai.
Dalam pasal 33 Undang-undang Kepabeanan diatur sebagai berikut:
(1) Pengusaha Tempat Penimbunan Berikat bertanggung jawab terhadap Bea Masuk yang terutang atas barang yang ditimbun di Tempat Penimbunan Berikatnya.
(2) Pengusaha Tempat Penimbunan Berikat dibebaskan dari tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dalam hal barang yang ditimbun di Tempat Penimbunan Berikatnya :
a. musnah tanpa sengaja;
b.telah diekspor kembali, diimpor untuk dipakai, atau diimpor sementara; atau
Undang-Undang Pabean
DTSD Kepabeanan dan Cukai 79
c.telah dipindahkan ke Tempat Penimbunan Sementara, Tempat Penimbunan Berikat lain, atau Tempat Penimbunan Pabean.
(3) Perhitungan Bea Masuk atas barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang harus dilunasi didasarkan pada tarif yang berlaku pada saat dilakukan pencacahan dan nilai pabean barang pada saat ditimbun di Tempat Penimbunan Berikat.
Sebagai contoh barang yang ditimbun di Kawasan Berikat berupa kain katun untuk diolah menjadi kemeja, dan selanjutnya diekspor atau diimpor untuk dipakai. Jika pada waktu pencacahan oleh petugas ditemui adanya kekurangan/kehilangan kain katun, maka atas kekurangan tersebut pihak pengusaha Kawasan Berikat harus melunasi bea masuk beserta pungutan impor lainnya (pajak-pajak dalam rangka impor).
Selain itu terhadap pengusaha TPB yang tidak dapat mempertanggungjawabkan barang yang seharusnya berada di tempat tersebut, dikenakan sanksi administrasi berupa denda sebesar 100% (seratus persen) dari bea masuk yang seharusnya dibayar. Dengan demikian disampaing adanya kewajiban membayar bea masuk yang terutang, kepada pengusaha TPB juga dikenai sanksi administrasi berupa denda.
Dari uraian diatas jelas bahwa pada prinsipnya tanggung jawab barang impor berada pada importir, atau dalam hal barang belum diimpor untuk dipakai, tanggung jawab berada pada pengusaha TPS atau pengusaha TPB.dimana barang tersebut disimpan.
Namun dalam hal barang impor berupa barang yang mendapat fasilitas pembebasan atau keringanan bea masuk, tanggung jawab bea masuk dapat berada pada orang yang mendapat pembebasan bea masuk atau orang yang menguasai barang yang bersangkutan.
Penjelasannya adalah bahwa terhadap importasi barang yang mendapat fasilitas pembebasan/keringanan bea masuk, terikat dengan persyaratan pemberian pembebasan/keringanan bea masuk. Jika persyaratan atau ketentuan pemberian pembebasan tidak dipenuhi jika mengakibatkan kerugian pada penerimaan negara, dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 100% (seratus persen) dari bea masuk yang seharusnya dibayar.
Undang-Undang Pabean
DTSD Kepabeanan dan Cukai 80
Sebagai contoh atas impor sementara barang berupa alat berat perata tanah yang mendapat pembebasan/keringanan bea masuk, apabila peralatan tersebut digunakan tidak sesuai tujuan semula, maka atas barang tersebut ditagih bea masuk beserta dendanya. Dalam hal demikian orang yang mendapat pembebasan atau orang yang menguasai barang yang bersangkutan (dalam hal importirnya tidakditemukan) bertanggung jawab atas bea masuk yang terutang beserta dendanya.
Berkaitan dengan hal tersebut diatas, dalam pasal 34 Undang-undang Kepabeanan disebutkan sebagai berikut:
(1) Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 dan Pasal 26
tidak lagi dipenuhi, Bea Masuk atas barang impor yang terutang menjadi tanggung jawab :
- Orang yang mendapatkan pembebasan atau kekeringan; atau
- Orang yang menguasai barang yang bersangkutan dalam hal Orang sebagaimana dimaksud huruf a tidak ditemukan.
(2) Perhitungan Bea Masuk yang terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada tarif dan nilai pabean yang berlaku pada tanggal Pemberitahuan Pabean atas Impor.
Pembebasan atau keringanan bea masuk sebagaimana dimaksud dalam pasal 25 dan pasal 26 pada hakekatnya tidak membebaskan importir dari tanggung jawab atas bea masuk yang harus dilunasi, karena pembebasan atau keringana tersebut harus memenuhi persyaratan tertentu yang telah ditetapkan secara limitatif pada saat fasilitas pembebasan/keringanan tersebut diberikan. Dengan demikian tidak tertutup kemungkinan bahwa fasilitas tersebut pada suatu saat digunakan tidak sesuai dengan fasilitas yang diberikan.
Oleh karena prinsip pengenaan bea masuk melekat erat pada barang impor maka untuk menghindari kemungkinan penyalahgunaan fasilitas yang telah diberikan sehingga syarat yang ditetapkan tidak lagi dipenuhi, perlu ditegaskan letak tanggung jawab atas bea masuk yang terutang yaitu berada pada orang yang mendapatkan fasilitas pembebasan/keringanan, atau yang menguasai barang tersebut. Tujuan perluasan tanggung jawab atas bea masuk sebagaimana diatur dalam pasal 34 tersebut diatas adalah untuk menjamin hak-hak negara.
Undang-Undang Pabean
DTSD Kepabeanan dan Cukai 81
Berkaitan dengan tanggung jawab atas bea masuk, dalam pasal 35 Undang-undang Kepabeanan ditegaskan siapa yang harus bertanggung jawab atas barang impor yang kedapatan berada dibawah penguasaan seseorang yang tidak termasuk dalam pasal-pasal sebelumnya.
Selengkapnya bunyi pasal 35 adalah sebagai berikut:
Barangsiapa yang kedapatan menguasai barang impor di tempat kedatangan sarana pengangkutan atau di daerah perbatasan yang ditunjuk bertanggung jawab terhadap Bea Masuk yang terutang atas barang tersebut.
Yang dimaksud dengan tempat kedatangan sarana pengangkut adalah pelabuhan laut, pelabuhan udara maupun darat. Sedangkan tempat tertentu didaerah perbatasan yang ditunjuk adalah suatu tempat di daerah perbatasan yang merupakan bagian dari jalan perairan, daratan atau jalan darat diperbatasan yang ditunjuk sebagai tempat lintas batas (point of entry).
Sebagai contoh pada saat kedatangan penumpang dari luar negeri,, awak sarana pengangkut, pelintas batas atau siapapun yang kedapatan menguasai barang impor di pelabuhan atau ditempat-tempat tertentu diperbatasan, bertanggung jawab atas barang yang berada padanya..