BAB II LANDASAN TEORI
B. Landasan Teori
1. Teori Membaca
Pada hakikatnya membaca adalah suatu aktivitas yang melibatkan banyak hal,tidak hanya sekedar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktifitas visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif (Crawley dan Mountain dalam Rahim 2005:2). Dalam hakikat membaca ini akan dibahas tentang pengertian membaca, tujuan membaca, manfaat membaca, dan jenis membacakan. Hodgson (dalam Tarigan 1987:7) berpendapat bahwa kegiatan membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang
14
hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis. Untuk memperoleh pesan melalui media kata-kata, kegiatan ini menurut adanya suatu kesatuan yang berupa kelompok kata yang dapat terlihat dalam pandangan sekilas dan mengetahui makna setiap kata.
Membaca adalah aktivitas yang kompleks yang melibatkan berbagai faktor yang datangnya dari dalam diri pembaca dan faktor luar. Selain itu, membaca juga dapat dikatakan sebagai jenis keterampilan manusia sebagai produk belajar dari lingkungan, dan bukan keterampilan yang bersifat instingtif atau naluri yang dibawa sejak lahir (Nurhadi 2005:123).
Menurut Haryadi (2006:77) membaca merupakan interaksi antara pembaca dan penulis. Interaksi tersebut tidak langsung, tetapi bersifat komunikatif.
Komunikasi antara pembaca dan penulis akan baik jika pembaca mempunyai keterampilan yang lebih baik. Pembaca hanya dapat berkomunikasi dengan karya tulis yang digunakan oleh pengarang sebagai media untuk menyampaikan gagasan, perasaan, dan pengalamannya.
Membaca adalah aktifitas pencarian informasi melalui lambang-lambang tertulis (Endang dalam Tarigan 1990:133). Membaca menurut Harjasujana (1998:1.3) merupakan interaksi antara pembaca dan penulis.Interaksi tersebut tidak secara langsung, namun bersifat komunikatif. Berdasarkan pendapat dari beberapa tokoh di atas maka dapat disimpulkan bahwa membaca adalah interaksi antara pembaca dan penulis untuk mencari informasi.
15 a. Jenis Membaca
Tarigan (1987:22) membagi kegiatan membaca menjadi dua bagian, yaitu membaca nyaring atau membaca bersuara yang bersifat mekanis dan membaca dalam hati yang bersifat pemahaman.
Membaca nyaring atau membaca bersuara adalah suatu aktifitas yang menggunakan penglihatan dan ingatan, juga turut aktif ingatan pendengaran dan ingatan yang bersangkutan dengan otot-otot kita untuk menangkap serta memahami informasi, pikiran, dan perasaan seseorang pengarang.
Membaca dalam hati adalah suatu aktifitas yang hanya mempergunakan ingatan visual dan melibatkan pengaktifan mata dan ingatan. Secara garis besar, membaca dalam hati dibagi menjadi dua, yaitu membaca ekstensif dan membaca intensif.
Membaca ekstensif berarti membaca secara luas. Objeknya meliputi sebanyak mungkin teks dalam waktu yang sesingkat mungkin (Tarigan 1987:31).Membaca ekstensif meliputi membaca survey (survey reading), membaca sekilas (skimming), dan membaca dangkal (superficial reading).
Membaca intensif adalah membaca studi seksama, telaah teliti, dan penanganan terperinci yang dilaksanakan di dalam kelas terhadap suatu tugas yang pendek, kira-kira dua sampai empat halaman setiap hari (Tarigan 1987:35).Membacaintensif terbagi menjadi dua kelompok, yaitu membaca telaah isi (contentstudy reading) dan membaca telaah bahasa (linguistic study reading).
Djumini (dalam Lutfiani 2006:30) menegaskan pendapat Tarigan tersebut dengan berpendapat bahwa, karena tujuan kegiatan membaca yang beraneka
16
ragam muncul jenis membaca yang biasa dipakai, yaitu sebagai berikut ini.
Pertama, membaca intensif, yang merupakan membaca cermat yang bertujuan
untuk memahami keseluruhan bahan bacaan secara mendalam sampai bagian yang sekecil-kecilnya. Kedua, membaca kritis yang digunakan untuk menemukan fakta-fakta yang terdapat dalm bacaan kemudian memberikan penilaian terhadap fakta-fakta tersebut. Ketiga, membaca cepat yang menitikberatkan pada kecepatan memahami isi bacaan dengan cepat dan tepat dalam waktu yang singkat. Keempat, membaca indah yang lebih menitikberatkan pada pengungkapan segi keindahan yang terdapat pada karya sastra. Dan kelima, membaca teknik atau membaca nyaring untuk membaca kalimat dengan lancar tanpa cacat baca.
Berdasarkan pendapat kedua tokoh di atas dapat disimpulkan bahwa secara garis besar jenis membaca itu ada dua, yaitu membaca nyaring atau membaca bersuara dan membaca dalam hati. Membaca nyaring digunakan untuk mencapai tujuan dalam keterampilan membaca mekanis, sedangkan membaca dalam hati digunakan untuk keterampilan pemahaman.
b. Membaca Pemahaman
Membaca pemahaman (atau reading for understanding) yang dimaksudkan di sini adalah sejenis membaca yang bertujuan untuk memahami:
a) standar-standar atau norma-norma kesastraan (literary standards) b) resensi kritis (critical review)
c) drama tulis (printed drama) d) pola-pola fiksi (pattern of fiction)
17
(Tarigan 1987:56) Menutur Bond dkk. (dalam Kholid A. Harnas 1990:42), membaca pemahaman adalah kegiatan membaca yamg bertujuan memperoleh pemahaman dan penafsiran yang memadai terhadap makna-makna yang terkandung di dalam lambang-lambang tulis. Sasaran utamanya adalah menghasilkan membaca efektif.
Adapun aspek-aspek dalam membaca pemahaman menurut Kholid A.
Harnas (1990:42) adalah sebagai berikut.
1. Memahami pengertian-pengertian sederhana mencakup:
a. Keterampilan memahami kata-kata atau istilah baik secara leksikal maupun secara gramatikal yang terdapat dalam suatu bacaan.
b. Keterampilan memahami pola-pola kalimat, bentuk kata serta susunan kalimat-kalimat panjang yang sering dijumpai didalam tulisan resmi.
c. Keterampilan menafsirkan lambing atau tanda tulisan yang terdapat dalam bacaan.
2. Memahami signifikan atau makna yang mencakup:
a. Keterampilan memahami ide-ide pokok yang dikemukakan oleh pengarang,
b. Keterampilan mengaplikasi isi karangan dengan kebudayaan yang ada,
c. Dapat meramalkan relasi-relasi yang kemungkinan timbul dari si pembaca.
18
3. Dapat mengevaluasi isi dan bentuk-bentuk karangan.
4. Dapat menyelesaikan kecepatan membaca dengan tujuan yang hendak dicapai. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam membaca pemahaman adalah bahan bacaannya. Bahan bacaan yang memiliki tingkat kesukaran tinggi akan menjadi kendala bagi pembaca dalam memahami, tetapi sebaliknya peserta didik akan memahami dengan baik bacan yang tergolong mudah.
Berdasarkan aspek-aspek membaca pemahaman menurut Harnas, mengandung pengertian bahwa membaca pemahaman merupakan jenis kegiatan membaca yang dimaksudkan untuk memahami makna yang tersirat ataupun yang tersurat dalam bacaan. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa membaca pemahaman adalah suatu kegiatan untuk memahami pesan-pesan media tulis yang dipengaruhi pula oleh faktor internal dan eksternal pembaca.
c. Membaca Ekspresif
Ekspresif menurut Alwi (KBBI 2002:291) tepat (mampu) memberikan (pengungkapan) gambaran, maksud, gagasan, perasaan.
Menurut Sunaryo (2005:17) membaca ekspresif merupakan keterampilan berbahasa tingkat lanjut. Artinya, untuk dapat melakukan kegiatan membaca ekspresif,seseorang harus telah menguasai aspek-aspek dasar bahasa.
Orang tersebut tidak lagi dalam rangka belajar menguasai bahasa, tetapi dia telah masuk dalam kegiatan berkreasi. Dalam hal ini, seseorang harus berkreasi untuk dapatmengekspresikan teks. Membaca ekspresif dalam konteks ini
19
tidak lain sebagai aktivitas mengekspresikan teks sehingga apa yang mulanya berbentuk tulis (teks) dapat “dihidupkan” dalam bentuk lisan dengan segala muatan emosi dan karakter.
Membaca ekspresif disikapi sebagai aktivitas berkesenian, yang sangat menuntut keterampilan kreatif seseorang (Tarigan dalam Sunaryo 2005:18). Hal ini dikarenakan oleh kenyataan bahwa aktivitas membaca dengan target menghidupkan teks dengan muatan emosi dan karakter lebih berkenaan dengan aktivitas kreatif (berkesenian): dramatisasi, membaca puisi (deklamasi), pengisahan cerita (storytelling).
Dalam kaitannya sebagai aktivitas kreatif, membaca ekspresif merupakan aktifitas khusus dan khas yang menuntut banyak potensi pendukung dan prosedur kerja tertentu. Potensi pendukung akan mencakup aspek diri dan nondiri yang ada pada pelaku kegiatan (pembaca). Prosedur kerja akan berkenaan dengan jenis dan tataurutan aktivitas yang ditempuh oleh pelaku (pembaca) (Sunaryo 2005:18).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa membaca ekspresif adalah membaca dengan mengekspresikan teks atau “menghidupkan” teks.