4.1 Hasil Penelitian
4.1.3 Uji Hipotesis Penelitian I
Hipotesis penelitian I adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi di kelas V SD. Variabel dependen pada hipotesis di atas adalah kemampuan mengeksplanasi sedangkan variabel independen yaitu penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT. Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel dependen terdiri atas 3 nomor soal yaitu item 5 yang mengandung indikator menjelaskan analisis dan penilaian terhadap suatu permasalahan melalui gambar, memaparkan strategi
73 yang digunakan untuk mengambil keputusan secara rasional, memaparkan strategi yang digunakan untuk mengambil keputusan secara rasional.
Hasil analisis statistik secara keseluruhan dihitung dengan menggunakan program statistik yaitu IBM Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Tahap analisis data yang dilakukan adalah uji asumsi yaitu melakukan uji normalitas distribusi data dengan tujuan untuk mengetahui data berdistribusi normal atau tidak, sehingga dapat digunakan untuk menentukan analisis selanjutnya menggunakan statistik parametrik atau nonparametrik, kemudian dilakukan uji homogenitas varian untuk memastikan apakah skor rerata dua kelompok yang dibandingkan memiliki varian yang homogen atau tidak.
Setelah uji asumsi kemudian dilakukan uji signifikansi pengaruh perlakuan yang diperoleh melalui tiga tahapan yaitu uji perbedaan kemampuan awal, uji signifikansi dan uji besar pengaruh. Kemudian dilanjutkan analisis lebih lanjut, dengan melakukan uji presentase peningkatan dan besar efek peningkatan, lalu melakukan uji korelasi rerata pretest ke posttestI dan uji retensi pengaruh perlakuan.
4.1.3.1 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan 1. Uji perbedaan kemampuan awal
Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan untuk mengukur apakah kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan yang sama pada kemampuan mengeksplanasi. Pengambilan sampel penelitian tidak diakukan secara random, maka kemampuan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dibandingkan. Uji perbedaan kemampuan awal juga dilakukan untuk mengontrol ancaman terhadap validitas internal yaitu karakteristik subjek. Kemampuan awal yang berbeda pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat mempengaruhi hasil posttest (Neuman, 2013: 238).
a. Uji asumsi normalitas distribusi data
Sebelum dilakukan uji perbedaan kemampuan awal, perlu dilakukan uji asumsi. Uji asumsi yang dilakukan adalah uji normalitas distribusi data untuk mengetahui apakah distribusi data normal atau tidak normal. Kemudian dilakukan lagi uji homogenititas varians untuk memastikan
74 apakah skor rerata dua kelompok yang dibandingkan memiliki varian yang homogen atau tidak homogen.
Uji normalitas data dilakukan dengan uji One-Sample Kolmogrorov-Smirnov test. Data yang diuji normalitasnya yaitu skor pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Adapun kriteria untuk menolak jika harga p< 0,05 maka ada deviasi (penyimpangan) artinya data tidak terdistribusi normal. Hasil uji normalitas skor pretest
kemampuan mengeksplanasi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.3.1).
Tabel 4. 5Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest Kemampuan Mengeksplanasi
Kelompok p Keputusan
Kontrol 0,050 Normal
Eksperimen 0,197 Normal
Tabel 4.5 menunjukkan harga p > 0,05 pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, hal tersebut menunjukkan bahwa skor pretest
kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki distribusi data normal.
b. Uji asumsi homogenitas varians
Setelah mengetahui normal tidaknya distribusi data, kemudian dilakukan uji homogenitas varians. Teknik pengujian yang dilakukan menggunakan Levene’s test. Kriteria yang digunakan untuk mengetahui homogenitas varian adalah jika harga p< 0,05 maka ditolak dan diterima. Hal ini menunjukkan ada perbedaan varian yang signifikan. Dengan kata lain, varian kedua kelompok tersebut tidak homogen. Hasil uji homogenitas varian untuk selisih pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperiman pada kemampuan mengeksplanasi dapat dilihat dalam tabel berikut (lihat Lampiran 4.4.1.2).
Tabel 4. 6 Hasil Uji Homogenitas Varian Skor Rerata Pretest Kemampuan Mengeksplanasi
Uji statistik F df1 df2 p Keputusan
Levene’s Test Equality
of Variances
75 Leneve’s test dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan F (1,40) = 0,264 dan p = 0,911. Data tersebut menunjunjukkan bahwa terdapat homogenitas data karena p > 0,05.
c. Uji statistik
Berdasarkan hasil uji asumsi tersebut, maka uji perbedaan kemampuan awal ini menggunakan statistik parametrik independent samples t-test karena distribusi data normal pada kelompok kontrol dan eksperimen. Kriteria yang digunakan untuk menolak yaitu jika p < 0,05, artinya ada perbedaan rerata pretest yang signifikan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hasil uji perbedaan kemampuan awal untuk rerata pretest kelompok kontrol dan eksperiman dapat dilihat pada tabel berikut (lihat Lampiran 4.4.3.1)
Tabel 4. 7Hasil Uji Perbedaan Rerata Pretest Kemampuan Eksplanasi
Uji statistik p Keputusan
Independent sample t-test 0,610 Tidak ada perbedaan
Analisis dengan menggunakan statistik parametrik independent samples t-test dengan tingkat kepercayaan 95% diperoleh harga p = 0,610, artinya Hnull diterima dan Hi ditolak. Sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata pretest kelompok kontrol dengan rerata pretest kelompok eksperimen atau dengan kata lain kedua sampel memiliki kemampuan awal yang sama karena harga p > 0,05.
2. Uji signifikansi
Uji signifikansi pengaruh perlakuan digunakan untuk mengetahui pengaruh perlakuan atau penerapan model TGT terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri, dengan melihat perbedaan dari rerata skor selisih posttest dan pretest dari kedua kelompok. Uji ini diperoleh dengan mengurangkan rerata selisih skor posttest ke pretest pada kelompok kontrol dengan rerata selisih skor posttest ke pretest pada kelompok eksperimen (Sugiyono, 2012: 76). Uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan rumus (O2 - O1) - (O4 - O3), yaitu dengan mengurangi selisih skor posttest I – pretest
pada kelompok eksperimen dengan selisih skor postetest I – pretest pada kelompok kontrol. Apabila hasil perhitungan lebih besar dari 0 maka ada pengaruh perlakuan.
76 Hasil perhitungan menunjunjukkan selisih skor posttest I – pretest pada kelompok eksperimen dan selisih skor postetest I – pretest pada kelompok kontrol . Hasil perhitungan diperoleh hasil angka 0,571 atau positif (diperoleh dari selisih 1,1272 – 0,5562). Sehingga terdapat perbedaan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap kemampuan mengeksplanasi. Untuk mengetahui apakah perbedaannya signifikan atau tidak maka dilakukan uji statistik yaitu dengan cara menghitung selisih antara skor posttest I dan pretest
dalam kemampuan mengeksplanasi pada kedua kelompok. Selisih tersebut kemudian dilakukan diuji normalitasnya menggunakan Kolmogorov-Smirnov.
a. Uji asumsi normalitas distribusi data
Sebelum dilakukan uji signifikansi pengaruh perlakuan, perlu dilakukan uji asumsi. Uji asumsi yang dilakukan adalah uji normalitas distribusi data untuk mengetahui apakah distribusi data normal atau tidak normal. Uji normalitas data menggunakan Kolmogorov-Smirnov.Adapun kriteria untuk menolak jika harga p< 0,05 maka ada deviasi (penyimpangan) artinya data tidak terdistribusi normal. Hasil uji normalitas selisih skor pretest-posttest I kemampuan mengeksplanasi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut (lihat Lampiran 4.3.1).
Tabel 4. 8Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Pretest-Posttest I Kemampuan Mengeksplanasi
Kelompok p Keputusan
Kontrol 0,51 Normal
Eksperimen 0,120 Normal
Tabel 4.8 menunjukkan kedua harga p > 0,05 sehingga data dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terdistribusi normal.
b. Uji asumsi homogenititas varians
Setelah diketahui bahwa data terdistribusi normal, maka perlu dilakukan uji asumsi dengan Leneve’s test untuk mengetahui homogenitas varians. Kriteria yang digunakan untuk mengetahui homogenitas varian adalah jika harga p< 0,05 maka ditolak dan diterima. Hal ini menunjukkan ada perbedaan varian yang signifikan. Dengan kata lain, varian kedua kelompok tersebut tidak homogen. Hasil uji homogenitas varian untuk selisih pretest-posttest I dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen pada kemampuan
77 mengeksplanasi dapat dilihat dalam tabel 4.9 tersebut (lihat Lampiran 4.4.1.3).
Tabel 4. 9Hasil Uji Homogenitas Varians Rerata Pretest – Posttest I Kemampuan Mengeksplanasi
Uji statistik F Sig. Levene’s test Keputusan
Levene’s Test Equality of
Variances
9,086 0,716 Homogen
Levene’s Test dengan tingkatkepercayaan 95% menunjukkan harga F = 9,086 dan harga Sig. Levene’s test = 0,716. Data tersebut menunjukkan bahwa terdapat homogenitas varian data karena harga Sig. Levene’s test > 0,05.
c. Uji Statistik
Analisis selanjutnya menggunakan analisis parametrik independent samples t-test. Analisis parametrik independent samples t-test digunakan karena data berdistribusi normal dan homogen. Kriteria yang digunakan adalah untuk menolak adalah jika harga p < 0,05 (Priyanto, 2012: 24). Hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan dapat dilihat pada tabel 4.10 (lihat
Lampiran 4.5.1)
Tabel 4. 10Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Kemampuan Mengeksplanasi
Uji Statistik p Keputusan
independent sample t-test
0,004 Signifikan
Rerata selisih skor pada kelompok eksperimen (M = 1,12, SE = 0,12) lebih tinggi daripada rerata selisih skor pada kelompok kontrol (M= 0,55, SE = 0,14). Perbedaan tersebut signifikan dengan t(40) = -3,01 dan p = 0,004. Hasil tersebut menunjukkan harga p < 0,05 maka ditolak dan diterima, artinya ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest-posttest I
pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament
(TGT) berpengaruh terhadap kemampuan mengeksplanasi. Untuk lebih memperjelas perbedaan selisih antara kedua kelompok dapat dilihat pada gambar 4.1 dan 4.2 berikut.
78 Gambar 4. 1 Rerata Skor Pretest-Postest I Kemampuan Mengeksplanasi
Grafik 4.1 menunjukkan bahwa rerata skor pretest pada kelompok kontrol adalah 1,69 dan rerata skor posttest I adalah 2,25. Sedangkan rerata skor
pretest pada kelompok eksperimen adalah 1,77 dan rerata skor posttestI
adalah 2,90. Hasil perbandingan rerata selisih skor posttest I-pretest pada kemampuan mengeksplanasi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat diagram berikut.
Gambar 4. 2 Diagram Perbandingan Selisih Skor Pretest-Posttest I Kemampuan Mengeksplanasi 16.981 22.543 17.776 29.048 0 5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000 35.000 Pretest Posttest I Rer a ta Kontrol Eksperimen
79 Diagram tersebut menunjukkan bahwa selisih skor pretest ke posttest I
pada kelompok kontrol adalah 0,55 sedangkan selisih skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen adalah 1,12. Kelompok kontrol memiiki selisih skor pretest dan posttest I yang lebih rendah daripada kelompok eksperimen.
4.1.3.2 Uji Besar Pengaruh Perlakuan
Uji besar pengaruh perlakuan bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penerapan modep pembelajaran tipe TGT terhadap kemampuan mengeksplanasi. Data yang diperoleh berdistribusi normal sehingga menggunakan rumus koefisien Pearson (Field, 2009: 57). Dalam menghitung effect size,
diperlukan beberapa tahapan. Independent samples t-test digunakan untuk memperoleh t dalam melakukan uji besar pengaruh perlakuan. Sedangkan untuk memperoleh persentase pengaruh perlakuan didapatkan dengan menghitung koefisien determinasi dengan cara mengkuadratkan harga r (harga koefisien
Pearson yang di dapat) selanjutnya dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Berikut ini hasil perhitungan besar pengaruh perlakuan pada kemampuan mengeksplanasi (lihat Lampiran 4.6).
Tabel 4. 11Hasil Uji Besar Pengaruh Perlakuan Kemampuan mengeksplanasi
Variabel t df r (Effect size) % Kategori
Efek
Eksplanasi -3,014 9,084 40 0,430 18,5 Menengah
Berdasarkan tabel di atas, harga r (effect size) pada kemampuan mengeksplanasi sebesar 0,430 yang setara dengan efek menengah. Harga yaitu 0,185 sehingga jika dikalikan dengan 100% maka persentase besar pengaruh perlakuan pada kemampuan mengeksplanasi yaitu 18,5 %. Dengan kata lain, model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) memberikan pengaruh sebesar 18,5% terhadap kemampuan mengeksplanasi. Sedangkan, sebesar 81,5% sisanya merupakan pengaruh dari variabel lain atau diluar variabel yang diteliti. Variabel lain tersebut misalnya inteligensi, motivasi, kesehatan tubuh, lingkungan kelas, atau latar belakang siswa (Kasmadi & Sunariah, 2013: 151).
80 4.3.1.3 Analisis Lebih Lanjut
1. Uji persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I
Penghitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan rerata skor yang signifikan dari
pretest ke posttest I baik pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. a. Uji asumsi normalitas distribusi data
Sebelum melakukan analisis perhitungan persentase peningkatan rerata
pretest ke posttest I, perlu diketahui terlebih dahulu distribusi normalitas data skor pretest ke posttest I. Skor pretest dan posttest I diuji normalitasnya menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Kriteria untuk menolak jika harga p < 0,05 maka ada deviasi (penyimpangan) artinya data tidak terdistribusi normal. Hasil uji normalitas skor pretest dan posttest I kemampuan mengeksplanasi kelompok kontrol dan kelompok eksperiman dapat dilihat pada tabel 4.12 berikut (lihat Lampiran 4.3.1).
Tabel 4. 12Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest dan Posttest I Kemampuan Mengeksplanasi
Kelompok Aspek p Keputusan
Kontrol Pretest 0,50 Normal
Posttest I 0,197 Normal
Eksperimen Pretest 0,178 Normal
Posttest I 0,158 Normal
Tabel 4.12 menunjukkan bahwa harga p > 0,05 terdapat pada skor pretest
dan posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki distribusi data yang normal.
b. Uji statistik
Uji peningkatan skor pretest ke posttest I dilakukan penggunakan paired samples t-test karena hasil analisis data normal. Hasil perhitungan persentase peningkatan rerata skor pretest ke posttest I kemampuan mengeksplanasi dapat dilihat pada tabel 4.13 berikut (lihat Lampiran 4.7.1).
Tabel 4. 13Peningkatan Rerata Pretest ke Postetest I Kemampuan Mengeksplanasi
No Kelompok Rerata Persentase (%) p Signifikansi
Pretest Postest I
1 Kontrol 1,69 1,77 33 0,04 Signifikan
81 Tabel 4.13 menunjukkan peningkatan rerata pretest ke posttest I
kemampuan mengeksplanasi. Hasil pretest kelompok kontrol sebesar 1,69 dan rerata pretest pada kelompok eksperimen sebesar 1,77. Nilai rerata posttest I
pada kelompok kontrol sebesar 2,25 dan rerata posttest I pada kelompok eksperimen sebesar 2,90. Hasil perhitungan persentase peningkatan rerata
pretest ke posttest I pada kelompok kontrol sebesar 33% sedangkan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen sebesar 63%. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan skor
pretest ke posttest I terhadapkemampuan mengeksplanasi.Grafik perbandingan rerata skor pretest ke posttest I dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut.
Gambar 4. 3 Perbandingan Peningkatan Rerata Skor Pretest ke Posttest I
Gambar 4.3 menunjukkan bahwa hasil uji signifikansi rerata skor pretest
ke posttest I pada kelompok kontrol menunjukkan harga p sebesar 0,004. Sedangkan hasil uji signifikansi rerata skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen menunjukkan harga p sebesar 0,004. Kedua kelompok sama-sama memiliki harga p sebesar 0,004, artinya p < 0,05 maka ditolak dan diterima. Hal ini berarti bahwa ada peningkatan yang signifikan antara rerata skor pretest ke posttest I terhadap kemampuan mengeksplanasi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
c. Gain score
Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I dapat dilihat lebih jelas pada gambar 4.4 menggunakan grafik poligon untuk melihat perbedaan selisih
pretest-posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Berikut
1,69 1,77 2,25 2,9 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 Kontrol Eksperimen Rer a ta Pretest Posttest I
82 adalah grafik yang menunjukkan frekuensi selisih pretest-posttest I (gain score) pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.7.3).
Gambar 4. 4Gain Score Kemampuan Mengeksplanasi
Gambar 4.4 di atas menunjukkan bahwa grafik gain terendah pada kelompok kontrol adalah -0,67, sedangkan gain terendah pada kelompok eksperimen adalah 0,00. Kedua kelompok memiliki frekuensi paling tinggi pada
gain score 0,67. Gain tertinggi pada kelompok kontrol adalah 1,67 sedangkan
gain tertinggi pada kelompok eksperimen adalah 2,00. Hal ini menunjukkan bahwa selisih pretest-posttest I pada kelompok eksperimen lebih besar daripada selisih pretest-posttest I pada kelompok kontrol.
Frekuensi siswa yang mendapat nilai ≥ 0,67 pada kelompok eksperimen
ada 19 siswa, sedangkan pada kelompok kontrol 13 siswa. Nilai 0,67 merupakan nilai tengah gain score yang didapat dengan menghitung 50% dari nilai tertinggi. Persentase gain score ≥ pada kelompok kontrol sebesar 61,19%, sedangkan pada
kelompok eksperimen sebesar 90,04%. Hal ini menunjukkan bahwa pada kelompok eksperimen model pembelajaran kooperatif TGT memberi dampak pengaruh lebih besar daripada kelompok kontrol dengan model pembelajaran ceramah. 1 2 4 1 7 2 2 2 1 1 6 3 4 3 3 0 1 2 3 4 5 6 7 8 -0,67 -0,33 0 0,33 0,67 1 1,33 1,67 2 F re k uens i Gain Score
Grafik Gain Score Kelompok Kontrol dan Eksperimen Pada Kemampuan Mengeksplanasi
83 1. Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I
Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen.Uji yang digunakan adalah statistik parametrik paired samples t-test, hal ini karena data yang diuji adalah data berdistribusi normal dan berasal dari kelompok yang sama. Tingkat kepercayaan pada uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I adalah 95%.Hasil uji peningkatan rerata skor pretest ke posttest I terdapat pada tabel 4.14 berikut (lihat
Lampiran 4.8.1.1).
Tabel 4. 14Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I
No Kelompok t t2 df r (effect size) R2 % Kategori Efek
1 Kontrol -3,912 20 0,65 0,433 43,3 Besar
2 Eksperimen -9,029 20 0,89 0,802 80,2 Besar
Tabel 4.14 di atas menunjukkan bahwa peningkatan rerata pretest ke
posttest I pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Peningkatan rerata
pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen pada saat posttest I (M = 2,90) lebih besar daripada pretest (M = 1,77) dengan harga t = -9,029, r = 0,89 atau setara dengan efek besar. Peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol pada saat posttest I (M= 2,25) lebih besar daripada pretest (M = 1,69) dengan harga t = -3,912, r = 0,65 atau setara dengan efek besar. Persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I kemampuan mengeksplanasi pada kelompok kontrol sebesar 43,3% dengan kategori efek besar dan pada kelompok eksperimen sebesar 80,2% dengan kategori besar.
2. Uji korelasi antara rerata pretest dan posttest I
Uji korelasi bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat bias regresi statistik yang dapat mengancam validitas internal penelitian (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). Ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik tidak dapat dikendalikan dengan baik jika kolerasinya negatif dan signifikan.
a. Uji asumsi normalitas distribusi data
Sebelum melakukan analisis perhitungan uji korelasi antara rerata
84 skor pretest ke posttest I. Skor pretest dan posttest I diuji normalitasnya menggunakan Kolmogorov-Smirnov.Kriteria untuk menolak jika harga p < 0,05 maka ada deviasi (penyimpangan) artinya data tidak terdistribusi normal. Hasil uji normalitas skor pretest dan posttest I kemampuan mengeksplanasi kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel 4.15 berikut (lihat Lampiran 4.3.1).
Tabel 4. 15Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest dan Posttest I Kemampuan Mengeksplanasi
Kelompok Aspek p Keputusan
Kontrol Pretest 0,50 Normal
Posttest I 0,197 Normal
Eksperimen Pretest 0,178 Normal
Posttest I 0,158 Normal
Tabel 4.15 menunjukkan bahwa harga p > 0,05 terdapat pada skor
pretest dan posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki distribusi data yang normal.
b. Uji statistik
Data untuk uji korelasi skor pretest dan posttest I diambil dari skor
pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Analisis data menggunakan statistik parametrik Pearson’s correlation karena distribusi data normal. Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika harga p <0,05 (Priyanto, 2012: 45). Berikut merupakan tabel hasil uji kolerasi antara rerata skor pretest ke posttest I kemampuan mengeksplanasi (lihat Lampiran 4.9.1).
Tabel 4. 16Hasil Uji Kolerasi antara Rerata Pretest dan Posttest I
No Kelompok Pearson’s
Correlation p Keputusan
1 Kontrol 0,040 0,863 Positif dan tidak signifikan
2 Eksperimen 0,325 0,151 Positif dan tidak signifikan
Tabel 4.16 menunjukkan hasil uji korelasi antara pretest dan posttest I
pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Harga p pada kelompok kontrol sebesar 0,863 (p>0,05) dan harga p pada kelompok eksperimen 0,151 (p>0,05), artinya Hnull diterima dan Hi ditolak. Analisis hasil uji kolerasi menunjukkan bahwa tidak ada kolerasi atau hubungan yang tidak signifikan antara hasil rerata pretest dan posttest I pada kemampuan mengeksplanasi
85 kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hasil Pearson’s Correlation pada kelompok kontrol sebesar 0,040 dan hasil Pearson’s Correlation pada kelompok eksperimen sebesar 0,325 yang berarti korelasi antara pretest dan
posttest I menunjukkan hasil yang positif. Hasil Pearson’s Correlation positif artinya jika rerata skor siswa pada pretest tinggi maka hasil rerata skor siswa pada posttest I juga tinggi, begitu juga sebaliknya.
Hasil uji kolerasi antara rerata pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diatas menunjukkan bahwa kedua kelompok memiliki kolerasi positif dan tidak signifikan. Hal ini berarti bahwa ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik bisa dikendalikan dengan baik dalam penelitian ini.
3. Uji retensi pengaruh perlakuan
Uji retensi pengaruh perlakuan bertujuan untuk mengetahui apakah pengaruh perlakuan masih akurat kekuatannya setelah satu minggu dilakukan perlakuan (treatment). Uji retensi pengaruh dilakukan dengan memberikan
posttest II pada kedua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok ekperimen. Posttest II dilakukan beberapa hari setelah pelaksanaan posttest I.
a. Uji asumsi normalitas distribusi data
Sebelum melakukan analisis perhitungan uji retensi pengaruh perlakuan, perlu diketahui terlebih dahulu distribusi normalitas data skor
posttest I dan skor posttest II. Skor posttest I dan posttest II diuji normalitasnya menggunakan Kolmogorov-Smirnov Test. Kriteria untuk menolak jika harga p < 0,05 maka ada deviasi (penyimpangan) artinya data terdistribusi tidak normal. Hasil uji normalitas skor posttest I dan posttest II kemampuan mengeksplanasi kelompok kontrol dan kelompok eksperiman dapat dilihat pada tabel 4.17 berikut (lihat Lampiran 4.3.1).
Tabel 4. 17Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Posttest I dan Posttest IIKemampuan Mengeksplanasi
Kelompok Aspek p Keputusan
Kontrol Posttest I 0,197 Normal
Posttest II 0,128 Normal
Eksperimen Posttest I 0,158 Normal
86 Tabel 4.17 menunjukkan bahwa harga p > 0,05 terdapat pada skor
posttest I dan posttest II kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki distribusi data yang normal.
b. Uji statistik
Analisis data menggunakan statistik parametrik Paired samples t-test, karena data yang diuji adalah data yang berdistrinusi normal. Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah p < 0,05 dan rerata skor posttest I> rerata skor posttest II. Artinya terjadi penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Hasil uji retensi pengaruh perlakuan pada kelompok kontrol dan kelompok ekperimen dapat dilihat pada tabel 4.18 berikut ini (lihat Lampiran 4.10.1)
Tabel 4. 18Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan
No Kelompok Rerata Peningkatan
(%) p Keterangan
Posttest I Posttest II
1 Kontrol 2,2543 2,1424 -5,22 0,576 Tidak Signifikan
2 Eksperimen 2,9048 2,7781 -4,56 0,619 Tidak Signifikan
Tabel 4.18 menunjukkan hasil uji retensi pengaruh perlakuan skor
posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terhadap kemampuan mengeksplanasi. Pada kelompok kontrol menunjukkan harga p sebesar 0,576 (p> 0,05) maka Hnull diterima dan Hi ditolak sehinggga penurunannya tidak signifikan antara skor posttest I ke posttest II. Persentase peningkatan rerata skor posttest I ke posttest II pada kelompok kontrol sebesar -5,22%. Pada kelompok ekspreimen menunjukkan harga p sebesar 0,619 (p > 0,05) maka Hnull diterima dan Hi ditolak sehinggga penurunannya tidak signifikan antara skor posttest I ke posttest II. Persentase peningkatan rerata skor posttest I ke posttest II pada kelompok eksperimen sebesar -4,56%. Untuk memperjelas besar peningkatan dapat dilihat pada gambar 4.5 berikut.
87 Gambar 4. 5 Perbandingan Skor Pretest, Posttest I, dan Posttest IIKemampuan Mengeksplanasi.
Grafik perbandingan skor pretest, posttest I dan posttest II
menunjukkan bahwa rerata pretest kelompok kontrol adalah 1,6 sedangkan