4.1 Hasil Penelitian
4.1.4 Uji Hipotesis Penelitian II
Hipotesis penelitian II adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri siswa kelas V SD. Variabel dependen pada hipotesis penelitian ini adalah kemampuan meregulasi diri, sedangkan variabel independennya adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). Instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel meregulasi diri terdiri dari 3 soal uraian yaitu item soal nomor 6 yang mengandung indikator refleksi diri: merefleksikan cara berpikirnya sendiri, refleksi diri: menilai apakah ada kekeliruan dalam cara berpikir sendiri, dan koreksi diri: memastikan apakah koreksi-koreksi tersebut dapat mengubah posisi yang dipegang sebelumnya.
Hasil analisis statistik secara keseluruhan dihitung dengan menggunakan program statistik yaitu IBM Statistics 22 for Windows dengan tingkat kepercayaan 95%. Tahap analisis data yang dilakukan adalah uji asumsi yaitu melakukan uji normalitas distribusi data dengan tujuan untuk mengetahui data berdistribusi normal atau tidak, sehingga dapat digunakan untuk menentukan analisis selanjutnya menggunakan statistik parametrik atau nonparametrik, kemudian dilakukan uji homogenitas varian untuk memastikan apakah skor rerata dua kelompok yang dibandingkan memiliki varian yang homogen atau tidak.
Setelah uji asumsi kemudian dilakukan uji signifikansi pengaruh perlakuan yang diperoleh melalui tiga tahapan yaitu uji perbedaan kemampuan awal, uji signifikansi dan uji besar pengaruh. Kemudian dilanjutkan analisis lebih lanjut,
89 dengan melakukan uji presentase peningkatan dan besar efek peningkatan, lalu melakukan uji korelasi rerata pretest ke posttestI dan uji retensi pengaruh perlakuan.
4.1.4.1 Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan 1. Uji Perbedaan Kemampuan Awal
Uji perbedaan kemampuan awal dilakukan untuk mengukur apakah kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki kemampuan yang sama pada kemampuan mengeksplanasi. Pengambilan sampel penelitian tidak dilakukan secara random, maka kemampuan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dibandingkan. Uji perbedaan kemampuan awal juga dilakukan untuk mengontrol ancaman terhadap validitas internal yaitu karakteristik subjek. Kemampuan awal yang berbeda pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat mempengaruhi hasil posttest (Neuman, 2013: 238).
a. Uji Asumsi Normalitas Distribusi Data
Sebelum dilakukan uji perbedaan kemampuan awal, perlu dilakukan uji asumsi. Uji asumsi yang dilakukan adalah uji normalitas distribusi data untuk mengetahui apakah distribusi data normal atau tidak normal. Kemudian dilakukan lagi uji homogentitas varians untuk memastikan apakah skor rerata dua kelompok yang dibandingkan memiliki varian yang homogen atau tidak homogen.
Uji normalitas data dilakukan dengan uji One-Sample Kolmogrorov-Smirnov test. Data yang diuji normalitasnya yaitu skor pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Adapun kriteria untuk menolak jika harga p< 0,05 maka ada deviasi (penyimpangan) artinya data terdistribusi tidak normal. Hasil uji normalitas skor pretest kemampuan meregulasi diri kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel berikut (lihat
Lampiran 4.3.2).
Tabel 4. 20Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata PretestKemampuan Meregulasi Diri
Kelompok p Keputusan
Kontrol 0,103 Normal
90 Tabel 4.20 menunjukkan bahwa harga p > 0,05 pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, hal tersebut menunjukkan bahwa skor pretest
kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki distribusi data normal. b. Uji Homogenitas Varians
Setelah mengetahui normal tidaknya distribusi data, kemudian dilakukan uji homogenitas varians. Teknik pengujian yang dilakukan menggunakan Levene’s test. Kriteria yang digunakan untuk mengetahui homogenitas varian adalah jika harga p< 0,05 maka ditolak dan diterima. Hal ini menunjukkan ada perbedaan varian yang signifikan. Dengan kata lain, varian kedua kelompok tersebut tidak homogen. Hasil uji homogenitas varian untuk selisih pretest dari kelompok kontrol dan kelompok eksperiman pada kemampuan meregulasi diri dapat dilihat dalam tabel berikut (lihat Lampiran 4.4.2.1).
Tabel 4. 21Hasil Uji Homogenitas Varian Rerata Pretest Kemampuan Meregulasi diri
Uji Statistik F df1 df2 p Keputusan
Leneve’s Test Equality of Variances 1,615 1 40 0,757 Homogen
Leneve’s test dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan harga F
(1,40) = 1,615 dan p = 0,757. Data tersebut menunjukkan bahwa terdapat homogenitas varian data karena harga p > 0,05.
c. Uji Statistik
Berdasarkan hasil uji asumsi tersebut, maka uji perbedaan kemampuan awal ini menggunakan statistik parametrik Independent samples t-test karena distribusi data normal pada kelompok kontrol dan eksperimen. Data yang digunakan adalah data pretest. Kriteria yang digunakan untuk menolak yaitu jika p < 0,05, artinya ada perbedaan rerata pretest yang signifikan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hasil uji perbedaan kemampuan awal untuk rerata pretest kelompok kontrol dan eksperimen kemampuan meregulasi diri dapat dilihat pada tabel 4.22 berikut (lihat Lampiran 4.4.3.2).
Tabel 4. 22Hasil Uji Perbedaan Rerata Pretest Kemampuan Meregulasi Diri
Uji statistik p Keputusan
91 Analisis dengan menggunakan statistik parametrik Independent samples t-test dengan tingkat kepercayaan 95% diperoleh harga p = 0,211, artinya Hnull
diterima dan Hi ditolak. Sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara rerata pretest kelompok kontrol dengan rerata pretest
kelompok eksperimen atau dengan kata lain kedua sampel memiliki kemampuan awal yang sama karena harga p > 0,05.
2. Uji signifikansi
Uji signifikansi pengaruh perlakuan digunakan untuk mengetahui pengaruh perlakuan atau penerapan model TGT terhadap kemampuan mengeksplanasi dan meregulasi diri, dengan melihat perbedaan dari rerata skor selisih posttest dan pretest dari kedua kelompok. Uji ini diperoleh dengan mengurangkan rerata selisih skor posttest ke pretest pada kelompok kontrol dengan rerata selisih skor posttest ke pretest pada kelompok eksperimen (Sugiyono, 2012: 76). Uji signifikansi pengaruh perlakuan menggunakan rumus (O2 - O1) - (O4 - O3), yaitu dengan mengurangi selisih skor posttest I – pretest
pada kelompok eksperimen dengan selisih skor postetest I – pretest pada kelompok kontrol. Apabila hasil perhitungan lebih besar dari 0 maka ada pengaruh perlakuan.
Hasil perhitungan menunjukkan selisih skor posttest I – pretest pada kelompok eksperimen sebesar 1,0795 dan selisih skor posttest I – pretest pada kelompok kontrol sebesar 0,6029. Hasil perhitungan diperoleh hasil angka 0,4767 atau positif (diperoleh dari selisih 1,0795 – 0,6029). Sehingga terdapat perbedaan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT terhadap kemampuan meregulasi diri. Untuk mengetahui apakah perbedaannya signifikan atau tidak maka dilakukan uji statistik yaitu dengan cara menghitung selisih antara skor
posttest I dan pretest dalam kemampuan meregulasi diri pada kedua kelompok. Selisih tersebut kemudian dilakukan diuji normalitasnya menggunakan
Kolmogorov-Smirnov.
a. Uji asumsi normalitas distribusi data
Sebelum dilakukan uji signifikansi pengaruh perlakuan, perlu dilakukan uji asumsi. Uji asumsi yang dilakukan adalah uji normalitas distribusi data untuk mengetahui apakah distribusi data normal atau tidak normal. Uji
92 normalitas data menggunakan Kolmogorov-Smirnov.Adapun kriteria untuk menolak jika harga p< 0,05 maka ada deviasi (penyimpangan) artinya data terdistribusi tidak normal. Hasil uji normalitas selisih skor pretest-posttest I kemampuan meregulasi diri kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada tabel 4.23 berikut (lihat Lampiran 4.3.2).
Tabel 4. 23Uji Normalitas Distribusi Data Selisih Pretest-Posttest I Kemampuan Meregulasi diri
Kelompok p Keputusan
Kontrol 0,156 Normal
Eksperimen 0,200 Normal
Tabel 4.23 menunjukkan kedua harga p > 0,05 sehingga data dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen terdistribusi normal.
b. Uji asumsi homogenititas varians
Setelah diketahui bahwa data terdistribusi normal, maka perlu dilakukan uji asumsi dengan Leneve’s test untuk mengetahui homogenitas varians. Kriteria yang digunakan untuk mengetahui homogenitas varian adalah jika harga p<0,05 maka ditolak dan diterima. Hal ini menunjukkan ada perbedaan varian yang signifikan. Dengan kata lain, varian kedua kelompok tersebut tidak homogen. Hasil uji homogenitas varian untuk selisih
pretest-posttest I dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen pada kemampuan meregulasi diri dapat dilihat dalam tabel 4.24 tersebut (lihat
Lampiran 4.4.2.3).
Tabel 4. 24Hasil Uji Homogenitas Varians Rerata Selisih Pretest – Posttest I Kemampuan Meregulasi Diri
Uji statistik F Sig. Levene’s test Keputusan
Levene’s Test Equality of Variances 7,331 0,930 Homogen
Levene’s Test dengan tingkatkepercayaan 95% menunjukkan harga F
= 7,331 dan harga Sig. Levene’s test = 0,930. Data tersebut menunjukkan bahwa terdapat homogenitas varian data karena harga Sig. Levene’s test > 0,05.
c. Uji statistik
Analisis selanjutnya menggunakan analisis parametrik independent samples t-test. Analisis parametrik Independent samples t-test digunakan
93 karena data berdistribusi normal dan homogen. Kriteria yang digunakan untuk menolak adalah jika harga p < 0,05 (Priyanto, 2012: 24). Hasil uji signifikansi pengaruh perlakuan dapat dilihat pada tabel 4.25 berikut (lihat
Lampiran 4.5.2).
Tabel 4. 25Hasil Uji Signifikansi Pengaruh Perlakuan Kemampuan Meregulasi diri
Uji Statistik p Keputusan
independent sample t-test 0,010 Signifikan
Rerata selisih skor pada kelompok eksperimen (M = 1,07, SE = 0,12) lebih tinggi daripada rerata selisih skor pada kelompok kontrol (M= 0,60, SE = 0,12). Perbedaan tersebut signifikan dengan t(40) = -2,708 dan p = 0,010. Hasil tersebut menunjukkan harga p < 0,05 maka ditolak dan diterima, artinya ada perbedaan yang signifikan antara selisih skor pretest-posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Dengan kata lain penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) berpengaruh terhadap kemampuan meregulasi diri. Untuk lebih memperjelas perbedaan selisih antara kedua kelompok dapat dilihat pada gambar 4.6 dan 4.7 berikut.
Gambar 4. 6Perbandingan Selisih Skor Pretest-Posttest I Kemampuan Meregulasi Diri
Grafik 4.6 menunjukkan bahwa rerata skor pretest pada kelompok kontrol adalah 1,72 dan rerata skor posttest I adalah 2,33. Sedangkan rerata skor
pretest pada kelompok eksperimen adalah 1,90 dan rerata skor posttestI adalah 2,98. Hasil perbandingan rerata selisih skor posttest I pretest ke terhadap kemampuan meregulasi diri pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dapat dilihat pada diagram berikut.
1,7295 2,3333 1,9043 2,9838 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5
Pretest Post Test 1
Rer
a
ta
Kontrol Eksperimen
94 Gambar 4. 7Diagram Perbandingan Selisih Skor Pretest-Posttest I
Kemampuan Meregulasi diri
Diagram tersebut menunjukkan bahwa selisih skor pretest ke posttest I
pada kelompok kontrol adalah 0,60 sedangkan selisih skor pretest ke posttest I
pada kelompok eksperimen adalah 1,07. Kelompok kontrol memiiki selisih skor pretest dan posttest I yang lebih rendah daripada kelompok eksperimen.
4.1.4.2 Uji Besar Pengaruh Perlakuan
Uji besar pengaruh perlakuan bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penerapan modep pembelajaran tipe TGT terhadap kemampuan meregulasi diri. Data yang diperoleh berdistribusi normal sehingga menggunakan rumus koefisien Pearson (Field, 2009: 57). Dalam menghitung effect size,
diperlukan beberapa tahapan. Independent samples t-test digunakan untuk memperoleh t dalam melakukan uji besar pengaruh perlakuan. Sedangkan untuk memperoleh persentase pengaruh perlakuan didapatkan dengan menghitung koefisien determinasi dengan cara mengkuadratkan harga r (harga koefisien
Pearson yang didapat) selanjutnya dikalikan 100% (Field, 2009: 179). Berikut ini hasil perhitungan besar pengaruh perlakuan pada kemampuan meregulasi diri (lihat Lampiran 4.6).
Tabel 4. 26Hasil Uji Besar Pengaruh Perlakuan Kemampuan Meregulasi diri
Variabel t df r (Effect size) % Kategori Efek
Meregulasi
95 Berdasarkan tabel di atas, harga r (effect size) pada kemampuan meregulasi diri sebesar 0,393 yang setara dengan efek menengah. Harga yaitu 0,154 sehingga jika dikalikan dengan 100% maka persentase besar pengaruh perlakuan pada kemampuan mengeksplanasi yaitu 15,4 %. Dengan kata lain, model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) memberikan pengaruh sebesar 15,4% terhadap kemampuan meregulasi diri. Sedangkan, sebesar 84,6% sisanya merupakan pengaruh dari variabel lain atau diluar variabel yang diteliti. Variabel lain tersebut misalnya inteligensi, motivasi, kesehatan tubuh, lingkungan kelas, atau latar belakang siswa (Kasmadi & Sunariah, 2013: 151).
4.1.4.3 Analisis Lebih Lanjut
1. Uji persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I
Penghitungan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan rerata skor yang signifikan dari
pretest ke posttest I baik pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. a. Uji asumsi normalitas data
Sebelum melakukan analisis perhitungan persentase peningkatan rerata
pretest ke posttest I, perlu diketahui terlebih dahulu distribusi normalitas data skor pretest ke posttest I. Skor pretest dan posttest I diuji normalitasnya menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Kriteria untuk menolak jika harga p < 0,05 maka ada deviasi (penyimpangan) artinya data tidak terdistribusi normal. Hasil uji normalitas skor pretest dan posttest I kemampuan meregulasi diri kelompok kontrol dan kelompok eksperiman dapat dilihat pada tabel 4.27 berikut (lihat Lampiran 4.3.2).
Tabel 4. 27Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest dan Posttest I Kemampuan Meregulasi diri
Kelompok Aspek p Keputusan
Kontrol Pretest 0,103 Normal
Posttest I 0,74 Normal
Eksperimen Pretest 0,92 Normal
96 Tabel 4.27 menunjukkan bahwa harga p > 0,05 terdapat pada skor
pretest dan posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki distribusi data yang normal.
b. Uji statistik
Uji peningkatan skor pretest ke posttest I dilakukan penggunakan
paired samples t-test karena hasil analisis data normal. Hasil perhitungan persentase peningkatan rerata skor pretest ke posttest I kemampuan meregulasi diri dapat dilihat pada tabel 4.28 berikut (lihat Lampiran 4.7.1).
Tabel 4. 28Peningkatan Rerata Pretest ke Postetest I Kemampuan Meregulasi diri
Tabel 4.28 menunjukkan peningkatan rerata pretest ke posttest I
kemampuan meregulasi diri. Hasil pretest kelompok kontrol sebesar 1,72 rerata dan rerata pretest pada kelompok eksperimen sebesar 1,90. Nilai rerata posttest I pada kelompok kontrol sebesar 2,33 dan rerata posttest I pada kelompok eksperimen sebesar 2,98. Hasil perhitungan persentase peningkatan rerata
pretest ke posttest I pada kelompok kontrol sebesar 35% sedangkan persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen sebesar 57%. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan skor
pretest ke posttest I terhadapkemampuan meregulasi diri.Grafik perbandingan rerata skor pretest ke posttest I dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut.
Gambar 4. 8Perbandingan Peningkatan Rerata Skor Pretest ke Posttest I
1,72 1,90 2,33 2,98 0,00 0,50 1,00 1,50 2,00 2,50 3,00 3,50 Kontrol Eksperimen Rer a ta
Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I
Pretest Posttest I
No Kelompok Rerata Persentase (%) p Signifikansi
Pretest Postest I
1 Kontrol 1,72 2,33 35 0,010 Signifikan
97 Diagram tersebut menunjukkan bahwa selisih skor pretest ke posttest I
pada kelompok kontrol adalah 0,61 sedangkan selisih skor pretest ke posttest I
pada kelompok eksperimen adalah 1,08. Kelompok eksperimen memiiki selisih skor pretest dan posttest I yang lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan skor pretest ke
posttest I terhadapkemampuan meregulasi diri.
Hasil uji signifikansi rerata skor pretest ke posttest I pada kelompok kontrol menunjukkan harga p sebesar 0,010. Sedangkan hasil Hasil uji signifikansi rerata skor pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen menunjukkan harga p sebesar 0,010. Kedua kelompok sama-sama memiliki harga p sebesar 0,010, artinya p < 0,05 maka ditolak dan diterima. Hal ini berarti bahwa ada peningkatan yang signifikan antara rerata skor pretest ke
posttest I terhadap kemampuan meregulasi diri kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
c. Gain score
Persentase peningkatan skor pretest ke posttest I dapat dilihat lebih jelas pada gambar 4.9 menggunakan grafik poligon untuk melihat perbedaan selisih
pretest-posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Berikut adalah grafik yang menunjukkan frekuensi selisih pretest-posttest I (gain score) pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (lihat Lampiran 4.7.3.2).
Gambar 4. 9Gain Score Kemampuan Meregulasi diri
1 5 4 3 4 3 1 1 3 3 5 3 4 2 0 1 2 3 4 5 6 -0,33 0,00 0,33 0,67 1,00 1,33 1,67 2,00 F re k uens i
Gain Score Kelompok Kontrol dan Eksperimen Pada Kemampuan Regulasi Diri
Kontrol Eksperimen
98 Gambar 4.9 di atas menunjukkan bahwa grafik gain terendah pada kelompok kontrol adalah -0,33, sedangkan gain terendah pada kelompok eksperimen adalah 0,00. Kelompok kontrol memiliki frekuensi paling tinggi pada gain score 0,00. Sedangkan kelompok eksperimen memiliki frekuensi paling tinggi pada gain score 1,00. Gain tertinggi pada kelompok kontrol adalah 1,67 sedangkan gain tertinggi pada kelompok eksperimen adalah 2,00. Hal ini menunjukkan bahwa selisih pretest-posttest I pada kelompok eksperimen lebih besar daripada selisih pretest-posttest I pada kelompok kontrol.
Frekuensi siswa yang mendapat nilai ≥ 0,67 pada kelompok eksperimen
ada 17 siswa, sedangkan pada kelompok kontrol 11 siswa. Nilai 0,67 merupakan nilai tengah gain score yang didapat dengan menghitung 50% dari nilai tertinggi. Persentase gain score ≥ 0,67 pada kelompok kontrol sebesar 52,38%, sedangkan pada kelompok eksperimen sebesar 80,95%. Hal ini menunjukkan bahwa pada kelompok eksperimen model pembelajaran kooperatif TGT memberi dampak pengaruh lebih besar daripada kelompok kontrol dengan model pembelajaran ceramah.
1. Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I
Uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I dilakukan untuk mengetahui besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen.Uji yang digunakan adalah statistik parametrik paired samples t-test, hal ini karena data yang diuji adalah data berdistribusi normal dan berasal dari kelompok yang sama. Tingkat kepercayaan pada uji besar efek peningkatan rerata pretest ke posttest I adalah 95%.Hasil uji peningkatan rerata skor pretest ke posttest I terdapat pada tabel 4.29 berikut (lihat
Lampiran 4.8.1.2 ).
Tabel 4. 29Uji Besar Efek Peningkatan Rerata Pretest ke Posttest I
No Kelompok t t2 df r (effect size) R2 % Kategori
Efek
1 Kontrol -4,895 23,6 20 0,65 0,545 54,5 Besar
99 Tabel 4.30 di atas menunjukkan bahwa peningkatan rerata pretest ke
posttest I pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Peningkatan rerata
pretest ke posttest I pada kelompok kontrol pada saat posttest I (M = 2,33) lebih besar daripada pretest (M = 1,72) dengan harga t = -4,895, r = 0,65 atau setara dengan efek besar. Peningkatan rerata pretest ke posttest I pada kelompok eksperimen pada saat posttest I (M= 2,98) lebih besar daripada pretest (M = 1,90) dengan harga t = -8,571, r = 0,89 atau setara dengan efek besar. Persentase peningkatan rerata pretest ke posttest I kemampuan meregulasi diri pada kelompok kontrol sebesar 54,5% dengan kategori efek besar dan pada kelompok eksperimen sebesar 78,6% dengan kategori besar.
2. Uji korelasi antara rerata pretest dan posttest I
Uji korelasi bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat bias regresi statistik yang dapat mengancam validitas internal penelitian (Fraenkel, Wallen, & Hyun, 2012: 283). Validitas internal penelitian berupa regresi statistik tidak dapat dikendalikan dengan baik jika kolerasinya negatif dan signifikan.
a. Uji asumsi normalitas data
Sebelum melakukan analisis perhitungan uji korelasi antara rerata
pretest dan posttest I, perlu diketahui terlebih dahulu distribusi normalitas data skor pretest ke posttest I. Skor pretest dan posttest I diuji normalitasnya menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Kriteria untuk menolak jika harga p < 0,05 maka ada deviasi (penyimpangan) artinya data tidak terdistribusi normal. Hasil uji normalitas skor pretest dan posttest I kemampuan meregulasi diri kelompok kontrol dan kelompok eksperiman dapat dilihat pada tabel 4.29 berikut (lihat Lampiran 4.3.2).
Tabel 4. 30Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Pretest dan Posttest I Kemampuan Meregulasi diri
Kelompok Aspek p Keputusan
Kontrol Pretest 0,103 Normal
Posttest I 0,074 Normal
Eksperimen Pretest 0,092 Normal
Posttest I 0,183 Normal
Tabel 4.30 menunjukkan bahwa harga p > 0,05 terdapat pada skor
pretest dan posttest I kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki distribusi data yang normal.
100 b. Uji statistik
Data untuk uji korelasi skor pretest dan posttest I diambil dari skor
pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Analisis data menggunakan statistik parametrik Pearson’s correlation karena distribusi data normal. Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah jika harga p <0,05 (Priyanto, 2012: 45). Berikut merupakan tabel hasil uji kolerasi antara rerata skor pretest ke posttest I kemampuan meregulasi diri (lihat Lampiran 4.9.2).
Tabel 4. 31Hasil Uji Kolerasi antara Rerata Pretest dan Posttest I
No Kelompok Pearson’s
Correlation p Keputusan
1 Kontrol 0,277 0,224 Positif dan tidak signifikan
2 Eksperimen 0,183 0,427 Positif dan tidak signifikan
Tabel 4.31 menunjukkan hasil uji korelasi antara pretest dan posttest I
pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Harga p pada kelompok kontrol sebesar 0,224 (p>0,05) dan harga p pada kelompok eksperimen 0,427 (p>0,05), artinya Hnull diterima dan Hi ditolak. Analisis hasil uji kolerasi menunjukkan bahwa tidak ada kolerasi atau hubungan yang tidak signifikan antara hasil rerata pretest dan posttest I pada kemampuan meregulasi diri kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Hasil Pearson’s Correlation pada kelompok kontrol sebesar 0,277 dan hasil Pearson’s Correlation pada kelompok eksperimen sebesar 0,183 yang berarti korelasi antara pretest dan
posttest I menunjukkan hasil yang positif. Hasil Pearson’s Correlation positif artinya jika rerata skor siswa pada pretest tinggi maka hasil rerata skor siswa pada posttest I juga tinggi, begitu juga sebaliknya.
Hasil uji kolerasi antara rerata pretest dan posttest I pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen diatas menunjukkan bahwa kedua kelompok memiliki kolerasi positif dan tidak signifikan. Hal ini berarti bahwa ancaman terhadap validitas internal penelitian berupa regresi statistik bisa dikendalikan dengan baik dalam penelitian ini.
3. Uji retensi pengaruh perlakuan
Uji retensi pengaruh perlakuan bertujuan untuk mengetahui apakah pengaruh perlakuan masih akurat kekuatannya setelah satu minggu dilakukan
101 perlakuan (treatment). Uji retensi pengaruh dilakukan dengan memberikan
posttest II pada kedua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok ekperimen. Posttest II dilakukan beberapa hari setelah pelaksanaan posttest I. a. Uji normalitas distribusi data
Sebelum melakukan analisis perhitungan uji retensi pengaruh perlakuan, perlu diketahui terlebih dahulu distribusi normalitas data skor
posttest I dan skor posttest II. Skor posttest I dan posttest II diuji normalitasnya menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Kriteria untuk menolak jika harga p < 0,05 maka ada deviasi (penyimpangan) artinya data tidak terdistribusi normal. Hasil uji normalitas skor posttest I dan posttest II kemampuan meregulasi diri kelompok kontrol dan kelompok eksperiman dapat dilihat pada tabel 4.32 berikut (lihat Lampiran 4.3.2).
Tabel 4. 32Hasil Uji Normalitas Distribusi Data Rerata Skor Posttest I dan Posttest II Kemampuan Meregulasi Diri
Kelompok Aspek p Keputusan
Kontrol Posttest I 0,074 Normal
Posttest II 0,084 Normal
Eksperimen Posttest I 0,183 Normal
Posttest II 0,129 Normal
Tabel 4.32 menunjukkan bahwa harga p > 0,05 terdapat pada skor
posttest I dan posttest II kelompok kontrol dan kelompok eksperimen memiliki distribusi data yang normal.
b. Uji statistik
Analisis data menggunakan statistik parametrik Paired samples t-test, karena data yang diuji adalah data yang berdistribusi normal. Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95%. Kriteria yang digunakan untuk menolak Hnull adalah p < 0,05 dan rerata skor posttest I> rerata skor posttest II. Artinya terjadi penurunan skor yang signifikan dari posttest I ke posttest II. Hasil uji retensi pengaruh perlakuan pada kelompok kontrol dan kelompok ekperimen dapat dilihat pada tabel 4.33 berikut ini (lihat Lampiran 4.10.2)
Tabel 4. 33Hasil Uji Retensi Pengaruh Perlakuan
No Kelompok Rerata Persentase (%) p Keterangan Posttest I Posttest