Nurani dan Ego
J: Upaya untuk memperoleh tubuh ideal merupakan usaha mandiri Sebaliknya, upaya kita untuk mendapatkan pekerjaan sangat
interdependen, dan tergantung pada pengembangan pengaruh yang efektif terhadap orang lain.
Mari kita pikirkan bagaimana cara mendapat pekerjaan yang Anda inginkan dengan melihat keempat atribut dari pengaruh pribadi Anda: visi, disiplin, gairah, dan nurani. Kuncinya adalah keempat-empatnya. Abaikan salah satu saja, maka Anda akan jauh lebih sulit u n t u k mendapatkan pekerjaan yang Anda inginkan, dan kalaupun Anda mendapatkannya, amat mungkin bahwa Anda tak akan dapat mempertahankan komitmen Anda, atau tak akan mampu memenuhi tuntutannya.
Marilah kita andaikan bahwa kebutuhan akan tenaga kerja amat kecil; para pengusaha bahkan sedang banyak memutuskan hubungan kerja, dan tidak merekrut tenaga baru—khususnya di industri dan di kota di mana Anda hendak bekerja dan bertempat tinggal. Bagaimana Anda bisa mendapatkan pekerjaan yang Anda inginkan?
P e r t a m a - t a m a , u n t u k m e n d a p a t k a n visi, A n d a p e r l u m e n g e t a h u i apa pekerjaan itu. G u n a k a n disiplin u n t u k mengetahui apa sebenarnya tuntutan pekerjaan itu. Gunakan disiplin u n t u k m e m a h a m i pekerjaan tersebut, m e m a h a m i organisasi di mana Anda ingin bekerja, memahami tuntutan yang unik dari pekerjaan itu, dan memahami pasar sehingga Anda memahami kekuatan-kekuatan yang ada, termasuk persaingan, keinginan dan kebutuhan pelanggan, serta karakteristik maupun trend di industri tersebut. Dengan kata lain, bayarlah harga yang harus dibayar untuk memahami tantangan dan masalah yang dihadapi oleh organisasi di mana Anda hendak bergabung.
Berikutnya, identifikasi di mana letak gairah hidup Anda. Misalnya, apakah pekerjaannya mencerminkan bakat, kecerdasan, kepentingan, kemampuan, dan keahlian Anda yang unik? Bila ya, apakah nurani Anda menyatakan bahwa pekerjaan itu pantas mendapat komitmen Anda? Bila ya, dapatkah Anda membayang-
THE 8 T H HABIT
kan diri Anda melakukan pekerjaan tersebut, dengan cara-cara yang dituntut oleh pekerjaan tersebut?
Setelah Anda melakukan semua pekerjaan awal tersebut, Anda siap u n t u k menjalani w a w a n c a r a , di m a n a A n d a h a r u s memosisikan diri bukan sebagai masalah lain yang harus dihadapi oleh si pewawancara, melainkan sebagai solusi terhadap masalah yang dihadapi oleh para pembuat keputusan.
Tunjukkan pemahaman Anda mengenai masalah mereka yang paling penting dengan lebih baik daripada kebanyakan orang yang sudah bekerja di situ. Tunjukkan gairah hidup dan komitmen untuk menghadapi situasi tersebut dengan lebih baik daripada kebanyakan orang yang sudah bekerja di situ. Bila perlu, usulkan jangka waktu untuk percobaan, bahkan atas biaya Anda, sampai mereka menjadi yakin bahwa Anda merupakan solusi yang lebih baik terhadap masalah yang ada, daripada orang lain yang sedang mereka cari, atau bahkan lebih baik daripada banyak pekerja lain yang sudah bekerja di situ, hanya karena Anda adalah seorang pemimpin. Anda mengambil inisiatif untuk membuat hal-hal baik terjadi. Anda tidak menunggu untuk diberi tahu. Tanpa disuruh-suruh pun Anda sudah tahu. Anda bertindak, tapi Anda juga cukup bijak untuk tidak bertindak bodoh. Anda amat sadar. Anda sangat peka. Anda amat empatik dan hormat.
Anda juga perlu melakukan pencarian pekerjaan ini dengan cara-cara yang sesuai dengan prinsip yang benar. Tak perlu melebih-lebihkan sesuatu untuk sekadar memberi impresi positif. Upayakan agar tidak ada penipuan, tidak ada manipulasi, tak ada kebohongan, tak ada kepalsuan, atau menginjak orang lain dan membuatnya terpuruk. Anda menjadi amat fokus pada kebutuhan organisasi, kepedulian mereka, masalah mereka, dan terhadap kebutuhan, kepedulian serta masalah para pelanggan. Anda perlu berkata-kata dengan bahasa itu.
Orang yang menghadapi seorang pengambil keputusan dengan pendekatan seperti itu akan mendapatkan perhatian. Para pe- wawancara akan terkesan dengan persiapannya, disiplinnya, ke-
Ekspresikan Suara Anda
sediaannya untuk berkorban, dan kesediaannya untuk membayar harga yang harus dibayar.
Berkali-kali saya memberikan nasihat seperti ini kepada banyak orang b e r t a h u n - t a h u n lamanya. Ada sejumlah kecil yang menurutinya, dan hampir semua orang yang menerapkan pendekatan seperti itu benar-benar mendapatkan pekerjaan yang mereka inginkan. Biasanya saya juga menganjurkan u n t u k mempelajari edisi terakhir buku What Color Is Your Parachute?
karya Richard Bolles, untuk membantu mereka memahami proses ini dengan lebih baik.
T: Bagaimana d e n g a n pencapaian k e s e i m b a n g a n h i d u p ?
J: Banyak sekali penelitian menyatakan bahwa tantangan paling besar yang dihadapi oleh kebanyakan orang adalah keseimbangan hidup. Orang cenderung untuk terlalu berfokus pada pekerjaan dan kegiatan lain yang mendesak, sehingga hubungan dan kegiatan yang sebenarnya amat mereka hargai menjadi terke- s a m p i n g k a n . D a l a m proses itu akhirnya mereka menjadi "kecanduan hal-hal yang mendesak", mereka menjadi kalang kabut karena setiap saat menghadapi hal yang berbeda-beda, yang sifatnya mendesak.
Biarkan saya menggambarkan pemecahannya dengan sebuah kisah, mengenai seorang pria yang terperangkap pada hal-hal yang mendesak seperti itu. Perhatikan bahwa dia memerlukan waktu u n t u k memikirkan apa yang paling penting baginya (nurani, visi, dan gairah hidup), dan kemudian memanfaatkan kriteria itu untuk secara kreatif memutuskan bagaimana mengatur hidupnya sejalan dengan prioritas-prioritasnya (disiplin) dan menciptakan keseimbangan hidup yang diinginkan. Perhatikan juga bagaimana pemecahan masalah itu muncul dari sinergi dengan istrinya. Inilah kisah nyata yang secara langsung diceritakan oleh pelakunya:
Saya selalu berteman dekat dengan ibu saya. Bersama-sama, kami menjalani peristiwa-peristiwa hidup, yang menciptakan hubungan yang mengagumkan. Pada suatu saat, kendati saya amat mencintai ibu saya dan benar-benar menikmati waktu bersama dengannya, saya terperangkap dalam komitmen saya terbadap pekerjaan, komunitas, dan keluarga saya sendiri. Saya menjadi begitu sibuk, sebingga berminggu-minggu berlalu di mana saya sama sekali tak sempat menelepon ibu saya, bahkan untuk sekadar mengetabui apakah dia baik-baik saja. Ketika akhirnya ada kesempatan untuk mengunjunginya, saya hanya dapat duduk sebentar untuk bicara dengannya, lalu saya barus segera meninggalkannya lagi, karena ada pertemuan lain yang harus saya hadiri, ada tenggat waktu yang harus saya penuhi. Hubungan saya dengan ibu saya menjadi tak teratur dan semakin jarang.
Ibu saya tidak pernah mendesak agar saya sering berkunjung, tetapi saya tidak senang dengan keadaan itu. Saya tabu, hidup saya lepas kendali bila saya tidak dapat secara teratur meluangkan waktu bersama dengan ibu saya. Karena itu, saya ngobrol dengan istri untuk mencari solusi. Dia mengusulkan untuk menjadwalkan waktu setiap minggu untuk urusan keluarga dan ibu saya. Ketika kami memperhatikan penanggalan kami, kami tabu bahwa setiap Rabu sore istri saya ikut
latihan paduan suara. Nah, waktu itulah yang saya pakai untuk mengunjungi ibu saya.
Kini ibu saya tabu bahwa setiap minggu, atau setiap dua minggu, saya akan datang pada hari dan jam tertentu. Saya tidak merasa tergesa-gesa, dan obrolan kami bisa berlangsung tanpa banyak interupsi. Kalau dia mau olahraga, kami berjalan-jalan bersama. Pada kesempatan lain dia memasak untuk saya. Kadang-kadang saya bawa dia untuk belanja ke mal, yang karena jauh dia jarang mengendarai mobiI sendiri ke sana. Tak peduli apa pun yang sedang kami lakukan, kami selalu ngobrol—tentang keluarga, tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi belakangan, atau sekadar membicarakan kenangan masa silam.
Setiap sore yang saya lewatkan dengan ibu saya menjadi semacam oasis yang penuh kedamaian dalam kehidupan saya yang sibuk. Saya
katakan pada istri saya, penjadwalan ini merupakan salah satu usulan terbaik yang dia berikan kepada saya.
Kisah kecil yang indah ini merupakan salah satu ilustrasi mengenai apa yang dapat dilakukan kalau kita memfokuskan hati dan pikiran kita pada hal-hal yang sungguh-sungguh penting, dan kemudian hidup dengan integritas untuk melakukannya. Ketika ayah saya meninggal, saya memutuskan untuk menjaga, bahkan meningkatkan, hubungan saya dengan ibu saya, karena sepeninggal ayah tentu ada kekosongan dalam diri ibu saya. Saya bertekad bahwa w a l a u p u n saya sedang melakukan banyak perjalanan, di mana pun saya berada, saya akan menelepon ibu saya setiap hari, selama sisa hidupnya. Kendati kami hidup terpisah d e l a p a n p u l u h a n k i l o m e t e r , saya j u g a b e r t e k a d u n t u k mengunjungi ibu paling tidak setiap dua minggu. Beliau bisa bertahan hidup sepuluh tahun lagi, dan saya tak tahan untuk m e n y a t a k a n betapa d a l a m n y a rasa terima kasih saya atas hidupnya, dan atas begitu berharganya waktu yang kami jalani bersama.
Saya belajar bahwa bila kita berhubungan dengan orang lain secara rutin, kita mencapai tingkat pemahaman baru yang lebih dalam. Saya menemukan bahwa telepon yang saya lakukan setiap hari tidak terlalu berbeda dengan kunjungan mingguan atau dua mingguan saya. Dalam telepon itu kami bisa sedemikian dekat satu sama lain, terbuka dan jujur sebagaimana kalau kami bertatap muka. Tak jauh berbeda apakah itu telepon atau kunjungan langsung. Ini agak mengagetkan saya, karena saya dulu selalu mengira bahwa tak ada yang bisa menggantikan hubungan langsung secara tatap m u k a . Saya yakin, dalam arti tertentu itu juga benar. Karena setiap pembicaraan merupakan timbunan efek dari pembicaraan sebelumnya, hampir tak ada sesuatu yang perlu diterka-terka lagi. Kami bisa menyatakan pikiran dan perasaan apa adanya, dan bukan sekadar pengalaman. Hubungan intim berarti "melihat kedalaman diri saya."
THE 8 T H HABIT
Sama seperti pria dalam kisah di atas, saya juga amat beruntung memiliki seorang istri yang amat mendukung, penuh pengertian, dan memiliki "mentalitas berkelimpahan". Istri saya, Sandra, tidak memandang kehidupan ini sebagai sepotong kue, yang kalau kita ambil berarti ada pihak lain yang bakal tak kebagian. Dia tidak memandang waktu saya bersama dengan ibu saya sebagai waktu keterpisahan saya darinya. Dia bisa melihat bahwa waktu- waktu saya bersama dengan ibu saya sesungguhnya justru memperdalam hubungan saya dengan istri saya.
Ketika Ibu meninggal dunia, kami menuliskan kalimat soneta ke-29 karya Shakespeare: "For thy sweet love remember'd such wealth brings..." (Karena cinta manismu mengingatkan kekayaan yang dibawanya). Saya ingin sekali mengajak Anda membaca soneta berikut dengan pelan dan cermat. Biarkan imajinasi Anda menjangkau kekayaan dan makna dari setiap frase berikut:
Ketika Dewi Fortuna dan manusia memandang aib padaku, Seorang diri aku meratapi pengasinganku,
Mengguncang surga yang tuli dengan tangisan sia-siaku, Dan menatap diriku sendiri serta mengutuki nasibku, Berharap seperti orang yang lebih berharta,
Menonjol seperti dia, seperti dia yang banyak berteman, Mendambakan kecakapannya, keleluasaannya,
Dengan yang paling kunikmati pun ternyata tak memuaskanku: Meski begitu, dalam pikiran yang nyaris kubenci ini,
Tiba-tiba aku memikirkanmu, lalu keadaanku,
(Seperti burung yang bangkit saat fajar dari bumi yang gelap) Aku menyanyikan kidung suci di gerbang surga,
Karena cinta manismu mengingatkan kekayaan yang dibawanya Hingga aku tak mau bertukar nasibku dengan para raja.
Ekspresikan Suara Anda
Mungkin jalan terbaik untuk menciptakan keseimbangan dalam hidup adalah keluarga. Bentuk pertumbuhan pribadi yang utama dan paling menuntut banyak hal juga terjadi di dalam k e l u a r g a , d a n m e m b e r i k a n s u m b a n g a n t e r b e s a r k e p a d a masyarakat.
Saya yakin, sebagaimana pernah dikatakan oleh seorang pemimpin yang bijaksana, bahwa pekerjaan yang paling penting yang kita lakukan di dunia adalah pekerjaan yang kita lakukan di dalam t e m b o k r u m a h kita sendiri. David O. McKay mengajarkan, "Tak ada keberhasilan lain yang bisa menggantikan kegagalan di dalam rumah."1 2 Keyakinan saya m e n g e n a i
pentingnya keluarga begitu dalam dan kuat, sampai-sampai beberapa tahun yang lalu saya menulis buku The 7 Habits of Highly Effective Families.
Peran sebagai orangtua merupakan t a n g g u n g jawab ke- pemimpinan yang paling penting dalam kehidupan dan akan memberikan kebahagiaan maupun kesukaan terbesar. Dan bila kepemimpinan yang benar—yaitu visi, disiplin, gairah hidup, dan nurani—tidak tenvujud dalam peran kita sebagai orangtua, itu akan menjadi sumber penderitaan dan kekecewaan terbesar.
Saya amat takjub bagaimana penyesuaian kecil terhadap kehidupan kita agar sejalan dengan visi, disiplin, gairah dan nurani, dapat memiliki akibat yang besar sekali. Saya yakin bahwa kita semua di masa mendatang akan dibuat kagum sekaligus sedih oleh kesadaran betapa perubahan kecil seperti itu dapat menimbulkan akibat-akibat yang besar.
Saya kira, ujian yang paling baik dan paling penting bagi para orangtua adalah bagaimana ia menanamkan visi dan sebuah keyakinan bahwa segalanya mungkin, di samping juga untuk m e m p r a k t i k k a n disiplin d a n kesediaan b e r k o r b a n d e m i terwujudnya visi itu, dan bertahan dalam saat-saat sulit dengan tetap bergairah, bersemangat dan mempertahankan komitmen, yang semuanya dijalankan dengan berpegang pada tuntunan
nuraninya. Bila bagian dari visi itu adalah melihat budaya keluarga itu diwariskan dari generasi pendahulu ke generasi berikut, mungkin di situ saja hidup kita sudah akan terasa penuh dan membahagiakan, bahkan kalaupun kita tidak punya prestasi lain selain itu. Tetapi, bila kita gagal di situ, mungkin kita akan menemukan bahwa keberhasilan kita di tempat lain tidak cukup bisa menggantikan kegagalan tersebut. Saya sering memikirkan kata-kata tajam yang diucapkan oleh John Greenleaf Whittier, "Dari semua kata-kata sedih yang biasa diucapkan dan ditulis, yang paling sedih adalah ini: Mestinya dulu begitu!"13 Tetapi ada orang lain lagi yang bilang, "Tak pernah terlalu terlambat untuk menjadi seperti apa yang mestinya sudah kita raih sejak dulu."