Analisis Pengaruh Suku Bunga Kredit, Kurs, Dan Inflasi Terhadap Ekspor Komoditas Pertanian Sumatera Utara

95 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI

MEDAN

ANALISIS PENGARUH SUKU BUNGA KREDIT, KURS, DAN INFLASI

TERHADAP EKSPOR KOMODITAS PERTANIAN SUMATERA

UTARA

Proposal Skripsi Diajukan Oleh:

NAMA : HERAMIDA YANTY BATUBARA

NIM : 050501006

DEPARTEMEN : EKONOMI PEMBANGUNAN

Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

(2)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI

MEDAN

PENANGGUNG JAWAB SKRIPSI

N a m a : HERAMIDA YANTI BATUBARA N I M : 050501006

Departemen : EKONOMI PEMBANGUNAN

Judul Skripsi : ANALISIS PENGARUH SUKU BUNGA KREDIT, KURS, DAN INFLASI TERHADAP EKSPOR KOMODITAS PERTANIAN SUMATERA UTARA

Tanggal ... Pembimbing,

( HB. TARMIZI, SU )

(3)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI

MEDAN

BERITA ACARA UJIAN H a r i :

Tanggal :

N a m a : HERAMIDA YANTI BATUBARA N I M : 050501006

Departemen : EKONOMI PEMBANGUNAN

Judul Skripsi : ANALISIS PENGARUH SUKU BUNGA KREDIT, KURS, DAN INFLASI TERHADAP EKSPOR KOMODITAS PERTANIAN SUMATERA UTARA

Ketua Departemen, Pembimbing Skripsi,

(Wahyu Ario Pratomo, S.E, M.Ec) ( HB. Tarmizi, SU ) NIP. 132206574 NIP.

Penguji I Penguji II

(4)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI

MEDAN

PERSETUJUAN ADMINISTRASI AKADEMIK

N a m a : Heramida Yanti Batubara N I M : 040501093

Departemen : Ekonomi Pembangunan

Judul Skripsi : ANALISIS PENGARUH SUKU BUNGA KREDIT, KURS, DAN INFLASI TERHADAP EKSPOR KOMODITAS PERTANIAN SUMATERA UTARA

Tanggal ... Ketua Departemen,

(Wahyu Ario Pratomo, S.E, M.Ec) NIP. 132206574

Tanggal ... Dekan,

(5)

ABSTRACT

Sumatera Utara exists in equator line, it means that its regional has a bigger potential in agriculture sector. Therefore, agricultural development is pure to be used, remembering agriculture sector is one of livehood of amount of societies in Sumatera Utara and one of moving force for a development output and diversification of productions in other economy sectors.

For analyzing the influence of interest rate, kurs, and inflation to exports of agriculture commodities is used OLS method. The source data comes from BPS-Statistics of Sumatera Utara Province and others sources references that relate to this research. The data used in this research is time series data from 1985 to 2006 (22 years). This research is hoped be able to give the description of information accurately about the influence of interest rate, kurs, and inflation to exports of agriculture commodities.

The result of the research shows that the interest rate, kurs, and inflation give a significance influence to exports of agriculture commodities with a determinant coefficient (R2) 77%.

(6)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillaahi Rabbil‘alamin tak terhingga Penulis ucapkan kehadirat Allah SWT

atas segala kesempatan, karunia, dan hidayah-Nya yang sangat berarti, sehingga Penulis bisa

menyelesaikan studi dengan skripsi yang berjudul “Analisis Pengaruh Suku Bunga Kredit,

Kurs, dan Inflasi Terhadap Ekspor Komoditas Pertanian Sumatera Utara”. Dan juga shalawat

berangkaikan salam buat junjungan umat Nabi Besar Muhammad SAW yang sama-sama kita

harapkan syafaatnya di hari akhir kelak.

Dalam penulisan skripsi ini, Penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak,

baik materi maupun nonmateri. Oleh karena itu, pada kesempatan ini Penulis ingin

menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah

meluangkan waktunya memberikan bantuan dan bimbingan, yaitu kepada:

1. Kedua orang tua Penulis yang tercinta, Ayahanda H. Rido Batubara dan Ibunda Hj.

Nelmi Sari Nasution yang selalu dan senantiasa mencurahkan kasih sayangnya,

memandu ke jalan yang benar, menyalakan api semangat dan menjaganya agar tak

pernah padam, serta aliran do’a restu yang takkan pernah terhenti kepada Penulis

sepanjang hayat.

2. Bapak Drs. Jhon Tafbu Ritonga, M.Ec, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas

Sumatera Utara.

3. Bapak Wahyu Ario Pratomo, SE, M.Ec, selaku Ketua Departemen Ekonomi

Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Paidi Hidayat, SE, M.Si selaku Dosen Wali yang telah membimbing Penulis

(7)

5. Bapak Tarmizi, SU selaku Dosen Pembimbing yang penuh keikhlasan menyisihkan

waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membimbing Penulis menyelesaikan skripsi

dengan baik.

6. Bapak Drs. Rahmad Sumanjaya, M.Si dan Kasypul Mahali, M.Si selaku Dosen

Pembanding I dan Dosen Pembanding II, yang telah banyak memberi saran yang

sangat berharga.

7. Seluruh dosen dan pegawai administrasi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera

Utara, khususnya Departemen Ekonomi Pembangunan, yang telah memberikan ilmu

pengetahuan dan kemudahan kepada penulis selama mengikuti perkuliahan hingga

selesainya skripsi ini.

8. Staf dan pegawai BI cabang Medan dan BPS Sumatera Utara yang telah menyediakan

data penelitian, sehingga memberikan kemudahan bagi Penulis. Juga kepada para

penulis buku, jurnal, artikel, dan opini yang telah menyediakan literatur yang sangat

berarti. Jangan berhenti berkarya.

9. Abang Sorymuda Pulungan, S.Sos., Drg. Ahmad Zarnawi, Juni Ashari Nasution, SE.,

Dani Sahputra, SE. Terima kasih atas segala bantuan dan bimbingannya serta telah

menjadi teladan yang baik.

10. Sahabat Sekaligus rekan kerjaku Suhailah, Yeno, Herna, Yesi, Maisyarah, Yola, dll

serta rekan-rekan seperjuangan di Ekonomi Pembangunan.

11. Teman, rekan, sahabat, saudara, keluarga, dan semua nyawa lainnya yang telah dan

selalu menemani, mewarnai kehidupan dan mendewasakan Penulis, memberikan

inspirasi serta meneriakkan bahwa “aku bias” yang tidak mungkin dapat disebutkan

(8)

Penulis menyadari bahwa isi skripsi ini sangat jauh dari kata sempurna. Oleh sebab

itu, Penulis dengan segala keterbatasannya sangat mengharapkan saran yang konstruktif,

sehingga karya lain dari Penulis di masa yang akan datang jauh lebih baik.

Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan dan pengorbanan yang telah diberikan

kepada Penulis. Akhirul kalam, semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca sekalian,

terutama Penulis.

Medan. Mei 2009

Penulis,

HERAMIDA YANTI BATUBARA

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRACT ... i

ABSTRAK ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR LAMPIRAN... xii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 7

1.3 Hipotesis ... 8

1.4 Tujuan Penelitian ... 8

1.5 Manfaat Penelitian ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi Sektor Pertanian ... 9

2.1.1 Klasifikasi Sektor Pertanian ... 9

2.2 Ekspor... 11

2.2.1 Pengertian Ekspor ... 11

2.2.2 Teori Tentang Ekspor ……… 11

2.2.3 Strategi dan Aneka Cara Pelaksanaan Ekspor ...………... 17

2.2.4 Manfaat Ekspor ……….. 23

2.3 Suku Bunga ... 23

(10)

2.3.2 Fungsi Tingkat Suku Bunga ... 24

2.3.3 Jenis-jenis Suku Bunga ... 25

2.3.4 Teori Suku Bunga ... 26

2.4 Kurs ... 32

2.4.1 Pengertian Kurs ... 32

2.4.2 Pasar Valuta Asing ... 34

2.4.3 Keseimbangan Kurs ... 34

2.5 Inflasi... 35

2.5.1 Pengertian Inflasi... 35

2.5.2 Jenis-jenis Inflasi... 37

2.5.3 Sebab-sebab Inflasi ... 42

2.5.4 Pengaruh Inflasi ………. 44

2.5.5 Teori Inflasi ……… 45

2.5.6 Biaya Sosial dari inflasi ………. 47

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian . ... 50

3.2 Jenis dan Sumber Data ... 50

3.3 Metode dan Tekhnik Pengumpulan Data ... 50

3.4 Pengolahan Data ... 51

3.5 Model Analisis Data ... 51

3.6 Uji Kesesuaian (Test of Goodness of Fit) ... 52

3.6.1 Koefisien Determinasi (R-Square)... 52

3.6.2 T-Test (Uji Parsial) ... 52

3.6.3 F-Statistik (Uji Serempak) ... 53

(11)

3.8 Defenisi Operasional Variabel ……… 59

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Provinsi Sumatera Utara... 60

4.1.1 Kondisi Geografis ... 60

4.1.2 Kondisi Iklim dan Topografi... 61

4.1.3 Kondisi Demografi ... 61

4.1.4 Potensi Wilayah... 62

4.2 Perkembangan Ekspor Komoditas Pertanian Sumatera Utara ... 63

4.3 Perkembangan Suku Bunga Kredit ... 65

4.4 Perkembangan Kurs ... 67

4.5 Perkembangan Inflasi ... 69

4.6 Analisis Data ... 71

4.7.1 Interpretasi Model ... 72

4.7.2 Uji Kesesuaian (Test of Goodness of Fit)... 73

4.7.3 Uji Asumsi Klasik... 78

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 82

5.2 Saran... 83

(12)

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Hal

1.1 Nilai FOB Ekspor Sumatera Utara Tahun 2006……….. 2

1.2 Perkembangan Tingkat Suku Bunga Kredit Tahun 2000-2006……… 4

1.3 Perkembangan Kurs Rupiah tahun 2000-2006 ... 5

2.1 Model Sembilan Faktor Penentuan Daya Saing Internasional . 16

2.2 Kurva Teori Klasik tentang Tingkat Bunga... 27

2.3 Kurva Teori Keynes tentang Tingkat Bunga………. 30

2.4 Inflationary Gap……… 39

2.5 Kurva Demand-Pull Inflation………... 40

2.6 Kurva Cost-Push Inflation……… 41

3.1 Kurva Uji t Statistik . ... 53

3.2 Kurva Uji f Statistik……….. 54

3.3 Kurva D-W Statistik………. 58

4.1 nilai FOBEkspor Komoditas Pertanian Sumatera Utara Tahun 2006... 64

4.2 Uji t-Statistik Suku Bunga Kredit... 74

4.3 Uji t-Statistik Kurs... 75

4.4 Uji t-Statistik Inflasi... 76

4.5 Uji F-Statistik... 78

(13)

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Hal

1.1 Perkembangan Tingkat Inflasi Sumatera Utara 2000-2006... 6

3.1 Kriteria Pengambilan Keputusan D-W Test……… 57

4.1 Perkembangan Ekspor Komoditas Pertanian Sumatera Utara 1985-2006... 65

4.2 Perkembangan Suku Bunga Kredit 1985-2006... 67

4.3 Perkembangan Kurs 1985-2006... 69

4.4 Perkembangan Inflasi Sumatera Utara 1985-2006... 70

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Judul

1 Data Variabel Dependen dan Indepanden

2 Hasil Regresi Linear Berganda

(15)

ABSTRACT

Sumatera Utara exists in equator line, it means that its regional has a bigger potential in agriculture sector. Therefore, agricultural development is pure to be used, remembering agriculture sector is one of livehood of amount of societies in Sumatera Utara and one of moving force for a development output and diversification of productions in other economy sectors.

For analyzing the influence of interest rate, kurs, and inflation to exports of agriculture commodities is used OLS method. The source data comes from BPS-Statistics of Sumatera Utara Province and others sources references that relate to this research. The data used in this research is time series data from 1985 to 2006 (22 years). This research is hoped be able to give the description of information accurately about the influence of interest rate, kurs, and inflation to exports of agriculture commodities.

The result of the research shows that the interest rate, kurs, and inflation give a significance influence to exports of agriculture commodities with a determinant coefficient (R2) 77%.

(16)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sumatera Utara memiliki luas daratan sekitar 71.680 km2. Letaknya yang berada

dekat dengan garis khtulistiwa menyebabkan Sumatera Utara mengalami iklim tropis basah

dengan curah hujan berkisar antara 1.800 - 4.000 m per tahun dan suhu udara beragam antara

12,40 – 34,20 C. Dengan kondisi tersebut, Sumatera Utara memiliki potensi yang besar di

sektor pertanian.

Salah satu potensi tersebut dapat dilihat pada subsektor perkebunan. Seluruh dunia

tahu bahwa daerah yang paling cocok untuk menanam kelapa sawit adalah daerah yang

berada di sekitar khatulistiwa. Daerah di sekitar itu membentang dari Afrika hingga Amerika

Latin. Namun, ternyata tidak semua daerah yang berada di sekitar khatulistiwa cocok untuk

tanaman kelapa sawit karena unsur hara yang terkandung dalam tanah tidak mendukung

untuk tanaman kelapa sawit. Daerah yang paling cocok dan memungkinkan kelapa sawit

tumbuh dengan baik adalah Sumatera (Suryopratomo, 2004). Selain kelapa sawit, Sumatera

Utara juga dikenal dengan kopi Sidikalang. Kopi Sidikalang sudah terkenal hingga Pulau

Jawa, bahkan Eropa. Masih banyak lagi potensi yang dimiliki, termasuk dari subsektor

kehutanan, peternakan, dan perikanan.

Sebagai daerah yang memiliki potensi yang besar di sektor pertanian, sudah

sepantasnya Sumatera Utara mengandalkan komoditas pertanian. Hampir seluruh kabupaten

yang ada di Sumatera Utara memiliki komoditas pertanian yang berlimpah. Berlimpahnya

komoditas pertanian yang dihasilkan menyebabkan komoditas pertanianan menjadi

komoditas yang srategis untuk dipasarkan ke luar negeri (ekspor). Hal tersebut dapat dilihat

(17)

mencapai 1.790,8 juta dollar Amerika dan diikuti oleh getah karet alam sebesar 1.319,3 juta

dollar Amerika serta kopi sebesar 176,5 juta dollar Amerika.

1790.8

Lemak dan Minyak Nabati Getah Karet Alam

Kopi Kayu Lapis dan Sebagainya

Udang, Kerang, dan Sebagainya Lainnya Komoditas Pertanian

Sumber : BPS Sumatera Utara (diolah)

Grafik 1.1

Nilai FOB Ekspor Sumatera Utara Tahun 2006

Secara keseluruhan pada tahun 2006, Sumatera Utara telah mengekspor komoditas

pertanian dengan nilai FOB 3.890,2 juta US$. Hasil tersebut telah mengalami peningkatan

jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya sebesar 3.242,3 juta US$.

Pada sisi lainnya, produktivitas eksportir juga ditentukan oleh kemampuannya

mengolah modal yang dapat berasal dari modal pribadi maupun bank. Stabilitas modal

memastikan stabilitas produktivitas perusahaan dalam memproduksi barang (Hanjaswara,

2006). Jika eksportir tidak memiliki modal pribadi yang cukup besar, eksportir dapat

mengajukan kredit kepada pihak ketiga, seperti bank. Hal tersebut perlu dilakukan karena

menurut Tjoekam (1999), kredit dapat membuat kegiatan usaha semakin lancar dan baik

(18)

Mengkhusus pada modal bank, besar kecilnya kredit tergantung pada tingkat bunga

kredit. Tingkat bunga kredit yang semakin tinggi menyebabkan pengusaha atau eksportir

akan mengurangi jumlah pinjamannya, sehingga berdampak pada jumlah penawaran yang

mampu diciptakan eksportir. Sejak tahun 2000 hingga tahun 2006 terlihat adanya

kecenderungan penurunan tingkat suku bunga kredit (Grafik 1.2). Pada tahun 2000, suku

bunga kredit berada pada titik 25,2 %. Kemudian turun lagi pada tahun berikutnya menjadi

24,95 %. Hingga akhirnya pada tahun 2006 menyentuh angka 14,26 %. Keadaan ini tentu

saja menjadi pertanda yang baik bagi para debitur.

25.2 24.95

22.8 23.68 22.2

14.71 14.26

0 5 10 15 20 25 30

Suku Bunga Kredit Tingkat Suku Bunga Kredit (%)

2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Tahun

Sumber : BPS Sumatera Utara (diolah)

Grafik 1.2

(19)

Menurut Amir (2004), ekspor merupakan upaya mengeluarkan barang-barang dari

peredaran dalam masyarakat dan mengirimkan ke luar negeri sesuai ketentuan pemerintah

dan mengharapkan pembayaran dalam valuta asing. Dengan kata lain, dalam melakukan

ekspor besar-kecilnya nilai ekspor tergantung dari ekspor.

Oleh sebab itu, perlu dilihat perkembangan kurs mata uang dalam negeri terhadap

mata uang asing, khususnya Dollar Amerika, karena Dollar Amerika merupakan mata uang

utama dunia sejak perang II. Hal ini dapat dimengerti mengingat pada saat itu, perekonomian

di negara Eropa hancur akibat perang dan di lain pihak tanah Amerika tidak tersentuh oleh

perang tersebut, walaupun Amerika ikut serta dalam peperangan tersebut (Berlianta, 2004).

Kurs valuta asing mempunyai hubungan yang searah dengan volume ekspor. Apabila

nilai kurs dollar meningkat, maka volume ekspor juga akan meningkat (Sukirno, 2000). Jadi

jika nilai tukar Rupiah melemah terhadap Dollar Amerika, maka eksportir akan memperoleh

keuntungan lebih. Namun kenyataan di lapangan tidak selalu berpihak kepada eksportir. Nilai

tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika selalu berfluktuasi. Pada tahun 2000, nilai kurs Rupiah

berada pada angka Rp 9.525. Kemudian melemah menjadi Rp 10.625 pada tahun berikutnya

dan keadaan ini terus berfluktuasi hingga tahun 2006 (Grafik 1.3)

(20)

9525

Sumber : BPS Sumatera Utara (diolah)

Grafik 1.3

Perkembangan Kurs Rupiah 2000 – 2006

Ternyata tidak hanya kurs yang berfluktuasi. Tingkat inflasi pun ikut mengalami hal

yang sama. Seperti yang terlihat pada tabel 1.1 , 5,73 % adalah titik inflasi pada tahun 2000.

Tahun berikutnya inflasi melambung hingga menjadi dua digit (15,5 %). Tetapi, selama dua

tahun berikutnya inflasi terus menurun hingga menyentuh titik 4,23 %. Pada tahun 2005,

tingkat inflasi kembali melambung hingga menyentuh level dua digit.

Tabel 1.1

(21)

2006 6,11

Sumber : BPS Sumatera Utara

Tingkat inflasi yang tinggi sangat mengkhawatirkan eksportir, apalagi jika mencapai

dua digit. Jika inflasi meningkat maka harga barang di dalam negeri terus mengalami

kenaikan. Naiknya inflasi menyebabkan biaya produksi barang ekspor akan semakin tinggi

(Hanjaswara, 2006).

Fluktuasi mata uang dalam negeri yang sangat drastis terhadap Dollar Amerika

disertai inflasi yang tinggi sangat memberi pengaruh pada kemampuan berproduksi dan

menjual para pengekspor dalam negeri. Oleh sebab itu, penulis ingin mengetahui seberapa

besar pengaruh suku bunga kredit, kurs, dan inflasi terhadap ekspor komoditas pertanian

Sumatera Utara. Judul yang diangkat penulis untuk menganalisa hal tersebut adalah “Analisis Pengaruh Suku Bunga Kredit, Kurs, dan Inflasi Terhadap Ekspor Komoditas Pertanian Sumatera Utara”.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian sebelumnya, penulis membuat perumusan masalah sebagai

berikut:

a. Bagaimana pengaruh suku bunga kredit terhadap ekspor komoditas pertanian

Sumatera Utara?

b. Bagaimana pengaruh kurs terhadap ekspor komoditas pertanian Sumatera Utara?

c. Bagaimana pengaruh inflasi terhadap ekspor komoditas pertanian Sumatera Utara?

1.3 Hipotesis

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka penulis membuat hipotesis sebagai

(22)

a. Suku bunga kredit berpengaruh negatif terhadap ekspor komoditas pertanian

Sumatera Utara.

b. Kurs berpengaruh positif terhadap ekspor komoditas pertanian Sumatera Utara.

c. Inflasi berpengaruh negatif terhadap ekspor komoditas pertanian Sumatera Utara.

1.4 Tujuan Penelitian

Penulisan skripsi ini memiliki beberapa tujuan, yaitu:

1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh tingkat suku bunga kredit terhadap ekspor

komoditas pertanian Sumatera Utara.

2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kurs terhadap ekspor komoditas pertanian

Sumatera Utara.

3. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh tingkat inflasi terhadap ekspor komoditas

pertanian Sumatera Utara.

1.5 Manfaat Penelitian

Ada beberapa manfaat yang diharapkan dari penelitian ini, diantaranya:

1. Guna memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana ekonomi.

2. Sebagai bahan studi atau literatur bagi mahasiswa yang ingin mengetahui tentang

pengaruh suku bunga kredit, kurs, dan inflasi terhadap ekspor.

3. Sebagai pelengkap sekaligus pembanding hasil-hasil penelitian dengan topik yang

sama yang sudah ada sebelumnya.

4. Sebagai tambahan wawasan bagi penulis dalam kaitannya dengan disiplin ilmu yang

penulis tekuni.

5. Sebagai bahan masukan atau pemikiran bagi instansi yang terkait dalam mengambil

(23)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Sektor Pertanian 2.1.1 Klasifikasi Sektor Pertanian

Sektor pertanian Sumatera Utara diklasifikasikan menjadi lima subsektor, yaitu:

a. Subsektor Tanaman Bahan Makanan

1) Kelompok padi dan palawija, terdiri dari padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang

tanah, kacang, kedelai, dan kacang hijau.

2) Kelompok sayur-sayuran, terdiri dari bawang merah, bawang putih, bawang daun,

kentang, kubis, sawi, wortel, lobak, kacang merah, kacang panjang, cabe, tomat,

terung, buncis, ketimun, labu siam, kangkung, bayam, ercis, dan kol bunga.

3) Kelompok buah-buahan, terdiri dari alpukat, jeruk, mangga, rambutan,

duku/langsat, durian, sawo, jambu biji, pepaya, pisang, nenas, salak, manggis,

nangka, sirsak, dan belimbing.

b. Subsektor Perikanan

1) Kelompok perikanan laut

a) Subkelompok ikan, terdiri dari ikan manyung, kerapu, kakap, ekor kuning,

cucut, bawal hitam, bawal putih, selar, teri, kembung, tuna, dan tongkol.

b) Subkelompok binatang berkulit keras, terdiri dari udang windu, udang

dogol, udang putih, dan udang lainnya serta kepiting.

c) Subkelompok binatang berkulit lunak, terdiri dari cumi-cumi, kerang, dan

(24)

d) Subkelompok binatang air lainnya, terdiri dari ubur-ubur, penyu, dan

teripang.

e) Subkelompok tanaman air, terdiri dari rumput laut.

2) Kelompok perikanan darat

a) Subkelompok ikan, terdiri dari ikan mas, tawes, mujair, gabus, lele, sepat

siam, bandeng, dan gurami.

b) Subkelompok binatang berkulit keras, terdiri dari udang galah, udang

putih, udang api-api, dan udang windu.

c. Subsektor Peternakan

1) Kelompok ternak besar, terdiri dari sapi, sapi perah, kerbau, dan kuda.

2) Kelompok ternak kecil, terdiri dari kambing, domba, dan babi.

3) Kelompok unggas terdiri dari ayam ras petelur, ayam ras pedaging, ayam

kampung, dan itik manila.

d. Subsektor Kehutanan

1) Hasil utama, terdiri dari log rimba, log pinus, kayu gergajian, kayu lapis, PULP,

block board, dan moulding.

2) Hasil ikutan, terdiri dari rotan, arang, dan getah tusam.

e. Subsektor Perkebunan

1) Perkebunan rakyat, terdiri dari kelapa sawit, karet, kopi arabika, kopi arabusta,

kelapa, coklat, cengkeh, kemenyan, kulit manis, nilam, tembakau, kemiri, tebu,

pala, lada, kapuk, gambir, teh, aren, pinang, vanili, jahe, kapulaga, jambu mente,

(25)

2) Perkebunan negara, terdiri dari kelapa sawit, karet, coklat, teh, tembakau, kopi,

dan tebu (SHS dan tetes).

2.2 Ekspor

2.2.1 Pengertian Ekspor

Menurut Undang-undang Perdagangan Tahun 1996 tentang Ketentuan Umum di

Bidang Ekspor, ekspor adalah kegiatan mengeluarkan dari Daerah Pabean. Keluar dari daerah

pabean berarti keluar dari wilayah yuridiksi Indonesia.

Defenisi lain menyebutkan bahwa ekspor merupakan upaya mengeluarkan

barang-barang dari peredaran dalam masyarakat dan mengirimkan ke luar negeri sesuai ketentuan

pemerintah dan mengharapkan pembayaran dalam valuta asing (Amir, 2004).

2.2.2 Teori Tentang Ekspor (Perdagangan Internasional)

Perkembangan ekspor dari suatu negara tidak hanya ditentukan oleh faktor-faktor

keunggulan komparatif, tetapi juga oleh faktor-faktor keunggulan kompetitif. Inti dari

paradigma keunggulan kompetitif adalah keunggulan suatu negara di dalam persaingan

global selain ditentukan oleh keunggulan komparatif (teori-teori klasik dan H-O) yang

dimilikinya dan juga karena adanya proteksi atau bantuan fasilitas dari pemerintah, juga

sangat ditentukan oleh keunggulan kompetitifnya. Keunggulan kompetitif tidak hanya

dimiliki oleh suatu negara, tetapi juga dimiliki oleh perusahaan-perusahaan di negara tersebut

secara individu atau kelompok. Perbedaan lainnya dengan keunggulan komparatif adalah

bahwa keunggulan kompetitif sifatnya lebih dinamis dengan perubahan-perubahan, misalnya

teknologi dan sumber daya manusia (Tambunan, 2001).

Berikut ini adalah beberapa tokoh yang membahas tentang ekspor (perdagangan

(26)

a. Adam Smith (1729 – 1790)

Buah pemikiran dari Adam Smith adalah teori “keunggulan absolut (absolute

advantage)”. Teori ini sering disebut sebagai teori murni perdagangan internasional.

Dasar pemikiran dari teori ini adalah bahwa suatu negara akan melakukan spesialisasi

dan ekspor terhadap suatu jenis barang tertentu, di mana negara tersebut memiliki

keunggulan absolut dan tidak memproduksi atau melakukan impor terhadap jenis

barang lain yang tidak memiliki keunggulan absolut. Dengan kata lain, suatu negara

akan mengekspor suatu jenis barang jika negara tersebut dapat membuatnya lebih

efisien atau lebih murah daripada negara lain. Jadi, teori ini menekankan pada

efisiensi dalam penggunaan input, misalnya tenaga kerja, di dalam proses produksi

yang sangat menetukan keunggulan atau tingkat daya saing.

b. David Ricardo

David Ricardo dikenal melalui teorinya “keunggulan komparatif (comparative

adavantage)”. Teori ini muncul sebagai kritik terhadap teori keunggulan absolut

milik Adam Smith. Menurut Ricardo, perdagangan internasional dapat saja terjadi,

meskipun suatu negara tidak memiliki keunggulan absolut terhadap kedua barang

yang diciptakan. Misalnya, Indonesia unggul secara absolut atas Vietnam dalam

memproduksi beras dan buah-buahan. Walaupun begitu, Vietnam bisa saja memiliki

keunggulan komparatif paling besar dibandingkan Indonesia dalam memproduksi

salah satu dari kedua komoditi tersebut. Dengan kata lain, Vietnam akan

berspesialisasi pada dan mengekspor suatu komoditi tertentu, di mana Vietnam

(27)

tersebut akan timbul bila masing-masing negara memilki biaya relatif yang terkecil

untuk jenis barang yang berbeda.

Oleh karena itu, teori Ricardo sering disebut teori biaya relatif. Titik pangkal

dari teori ini adalah nilai atau harga suatu suatu barang ditentukan oleh jumlah waktu

atau jam kerja yang diperlukan tiap pekerja dan jumlah tenaga kerja yang digunakan

untuk memproduksi suatu barang. Jadi, dalam model Ricardo, penilaian terhadap

keunggulan suatu negara atas negara lain dalam membuat suatu jenis barang

didasarkan pada tingkat efisiensi atau produktivitas tenaga kerja. Teori ini merupakan

yang sering digunakan di dalam banyak penelitian empiris mengenai kinerja ekspor.

c. Eli Heckscher dan Bertil Ohlin

Teori Heckscher dan Ohlin (H-O) termasuk dalam kelompok teori modern.

Teori H-O disebut juga sebagai factor proportion theory atau teori ketersediaan

faktor. Dasar pemikiran teori ini adalah bahwa perdagangan internasional, misalnya

antara Indonesia dan Jepang, terjadi karena biaya alternatif (opportunity cost) berbeda

antara kedua negara tersebut. Perbedaan tersebut disebabkan oleh adanya perbedaan

dalam jumlah faktor produksi (tenaga kerja, modal, dan tanah) yang dimilki oleh

kedua negara tersebut. Indonesia memliki tanah yang lebih luas dan tenaga kerja yang

jauh lebih banyak, namun memiliki modal yang lebih kecil daripada Jepang.

Maka sesuai hukum pasar (permintaan dan penawaran), harga faktor-faktor

produksi tersebut juga berbeda antara Indonesia dan Jepang. Upah tenaga kerja dan

harga tanah di Indonesia lebih murah, sebaliknya harga modal di Indonesia lebih

mahal dibandingkan di Jepang. Namun, bukan berarti Indonesia lebih unggul daripada

Jepang. Hal ini tergantung pada tingkat intensitas pemakaian tenaga kerja, tanah, dan

(28)

dapat diukur dengan rasio antara nilai faktor produksi dengan nilai output. Jelas

bahwa pertanian adalah jenis sektor yang proses produksinya lebih padat tenaga kerja

dan tanah daripada sektor industri manufaktur. Oleh sebab itu, paling tidak secara

teori, Indonesia memiliki keunggulan atas Jepang dalam menghasilkan komoditi

pertanian.

Jadi menurut teori H-O, struktur perdagangan luar negeri dari suatu negara

tergantung pada ketersediaan dan intensitas pemakaian faktor-faktor produksi dan

yang terakhir ini ditentukan oleh teknologi. Suatu negara akan berspesialisasi dalam

produksi dan mengekspor barang-barang yang input (faktor produksi) utamanya lebih

banyak di negara tersebut dan sebaliknya.

d. Cho dan Moon

Cho dan Moon menggunakan model sembilan faktor untuk menerangkan

siklus hidup daya saing internasional dari suatu negara, yang pada dasarnya sama

dengan model pembangunan bertahap dari Rostow. Menurut mereka status

perekonomian sebuah negara ditentukan oleh daya saing internasionalnya dan

kesembilan faktor memiliki bobot yang bervariasi sejalan dengan sebuah negara

beralih dari tahapan keterbelakangan menuju tahapan sedang berkembang,

(29)

Lingkungan Bisnis

Sumber Daya yang

Dianugerahkan Internasional Daya Saing Permintaan Domestik

Industri Terkait

Model Sembilan Faktor Penentuan Daya Saing Internasional

Menurut Sukirno (dalam Hanjaswara, 2006), faktor-faktor yang menentukan ekspor

sebagai berikut :

a. Daya saing dan keadaan ekonomi negara lain

Dalam suatu sistem perdagangan internasional yang bebas, kemampuan suatu

negara menjual barang ke luar negeri tergantung pada kemampuannya menyaingi

barang-barang yang sejenis di pasar internasional. Besarnya pasaran barang di luar

negeri sangat ditentukan oleh pendapatan penduduk di negara lain. Kemajuan yang

pesat di berbagai negara akan meningkatkan ekspor suatu negara.

(30)

Proteksi di negara-negara lain akan mengurangi tingkat ekspor suatu negara.

c. Kurs Valuta Asing

Peningkatan kurs mata uang negara pengimpor terhadap mata uang negara

pengekspor dapat meningkatkan daya beli negara pengimpor yang mengakibatkan

nilai ekspor negara pengekspor meningkat.

2.2.3 Strategi, Tata Cara Pelaksanaan, dan Prosedur Ekspor a. Strategi Memasuki Pasar Ekspor

Tujuan setiap usaha bisnis adalah mencari laba. Dengan laba, perusahaan

dapat mempertahankan hidup dan kehidupannya, dapat melakukan rehabilitasi dan

restrukturisasi aset perusahaan serta mampu melakukan perluasan dan diversifikasi

usaha. Agar perusahaan dapat memperoleh laba, maka perusahaan harus menjual

produknya di atas biaya produksi. Penjualan suatu komoditi akan terjadi setelah

melalui suatu proses kegiatan pemasaran. Bila suatu perusahaan ingin memasarkan

produknya ke luar negeri, maka manajemen perusahaan itu harus menentukan

langkah-langkah yang strategis guna menyukseskan kegiatan ekspornya. Berikut ini

adalah beberapa langkah strategis memasuki pasar ekspor menurut Amir (2004),

yaitu:

1) Keputusan manajemen untuk melakukan ekspor

Pola pikir pengusaha nasional yang cenderung bertahan di pasar

domestik, sebaiknya perlu diubah menjadi pola pikir yang positif dan agresif.

Dengan pola pikir yang positif seperti ini, mereka akan melihat globalisasi dan

liberalisasi sebagai sebagai suatu kesempatan untuk melakukan penetrasi pasar

di luar Indonesia, disamping tetap memperkuat kedudukan di pasar domestik.

(31)

tingkatan, baik pengusaha kecil, menengah, maupun besar, akan mengambil

keputusan untuk melaksanakan bisnis ekspor. Tanpa keputusan itu, perusahaan

tidak akan pernah memasuki pasar ekspor.

2) Menentukan komoditi yang akan di ekspor

Komoditi yang laku di pasar internasional adalah komoditi yang

mempunyai daya saing tinggi. Komoditi dengan daya saing tinggi pada

dasarnya adalah komoditi yang mutu (quality), kegunaan (function), daya

tahan (durability), harga (price), waktu penyerahan (shipment-date), dan

pelayanan purnajualnya (after sales sevices) sesuai dengan “selera dan daya

beli” pembeli di negara tujuan ekspor.

Sebagai suatu negara dengan ciri khas terletak di daerah tropis,

Indonesia memiliki tenaga kerja yang melimpah dan murah, maka komoditi

yang memiliki daya saing tinggi adalah komoditi yang bersumber dari

kekayaan alam tropika. Komoditi tersebut antara lain hasil hutan, hasil

perkebunan, hasil tambang, hasil petro kimia, dan hasil wilayah tropis lainnya.

Selain itu, termasuk juga komoditi hasil kerajinan rakyat dan industri padat

karya seperti garmen, sepatu, tas, dan hasil kerajinan kulit lainnya.

3) Menganalisis kondisi negara tujuan

Sebelum menentukan pilihan tentang negara mana yang akan dijadikan

tujuan ekspor, perlu sekali dilakukan penelitian awal tentang populasi suatu

negara termasuk agama, tradisi, kondisi ekonomi, politik, sosial, iklim,

peraturan ekspor-impor, perpajakan, perbankan, keuangan, transportasi, dan

sebagainya.

(32)

Contoh dari kegiatan tersebut adalah ketika kita ingin mengekspor

cornet beef, Arab Saudi adalah pilihan yang paling tepat dibandingkan India.

Selain faktor pendapatan per kapita masyarakat Arab Saudi yang jauh lebih

tinggi daripada India, faktor budaya juga menetukan. India secara budaya

adalah “anti sapi” karena menurut mereka sapi merupakan hewan suci

sehingga haram untuk dimakan.

5) Menentukan strategi operasional bersama mitra usaha

Strategi operasional yang akan diterapkan harus sesuai dengan pola

dasar bauran pemasaran (marketing mix), yang sudah dikenal oleh ahli

pemasaran dengan istilah 6P (Product, Price, Promotion, Place of

Distribution, Government Power, and Power of Parliament).

6) Menentukan sistem promosi dan pemilihan media massa

Pilihan media promosi yang dapat dipakai antara lain pameran dagang

internasional, brosur, iklan melalui media cetak (seperti koran, majalah,

tabloid, dan lain-lain), media elektronik (TV dan internet), melalui atase

perdagangan (Kadin, Badan Pengembangan Ekspor Indonesia, Lembaga

Penunjang Ekspor), dan media promosi lainnya.

7) Mempelajari peta pemasaran komoditi tertentu

Cara ini dapat ditempuh dengan mengumpulkan data impor dari

komoditi yang rencananya akan diekspor.

8) Mempelajari nama dan alamat lengkap badan-badan promosi

Hal ini bertujuan untuk mempermudah dan memperlancar kegiatan

promosi dari komoditi yang akan diekspor.

(33)

Supaya calon pembeli mengenal komoditi yang akan diekspor, bila

memungkinkan calon pembeli dikirimkan contoh komoditi yang dimaksud

dalam bentuk brosur berikut dengan daftar harganya. Tujuannya agar calon

pembeli mendapat gambaran mengenai bentuk visual dari komoditi yang

ditawarkan dan dapat membandingkan harganya dengan komoditi serupa dari

negara lain.

10) Menyiapkan surat perkenalan usaha dan komoditi

Promosi dapat juga dilakukan dengan membuat surat perkenalan yang

dikirimkan kepada asosiasi importir di negara tujuan ekspor atau atase

perdagangan asing atau calon pembeli lainnya. Surat perkenalan itu sebaiknya

dilengkapi dengan brosur dan daftar harga.

b. Aneka Cara Pelaksanaan Ekspor

Menurut Amir (1999), dalam melaksanakan ekspor ke luar negeri dapat

ditempuh dengan beberapa cara yaitu:

1) Ekspor Biasa

Dalam hal ini barang-barang dikirim ke luar negeri sesuai dengan

peraturan umum yang berlaku yang ditujukan kepada pembeli di luar negeri

untuk memenuhi suatu transaksi yang sebelumnya sudah diadakan dengan

importir di luar negeri.

2) Barter

Barter adalah pengiriman barang-barang ke luar negeri untuk

(34)

Hal ini berarti bahwa yang mengirimkan barang tidak menerima pembayaran

dalam uang asing, tetapi dalam bentuk barang yang dapat dijual di dalam

negeri untuk mendapatkan kembali pembayaran dalam mata uang rupiah.

3) Konsinyasi (consignment)

Konsinyasi adalah pengiriman barang-barang ke luar negeri untuk

dijual, sedangkan hasil penjualannya diperlakukan sama dengan hasil ekspor

biasa. Dalam hal ini barang-barang akan dikirim ke luar negeri bukan untuk

ditukarkan dengan barang atau untuk memenuhi transaksi, melainkan dijual di

pasar bebas atau diikutsertakan dalam lelang (comodities exchange).

4) Package Deal

Package deal merupakan suatu bentuk perjanjian antara dua negara.

Pada perjanjian tersebut ditetapkan sejumlah barang yang akan diekspor ke

negara tertentu dan sebaliknya dari negara tujuan itu akan diimpor sejumlah

barang yang yang dihasilkan di negara tersebut. Pada prinsipnya semacam

barter, namun terdiri dari beragam komoditi.

Ekspor sebagai bagian dari perdagangan internasional bisa dimungkinkan oleh

berbagai kondisi, antara lain:

1) Adanya kelebihan produksi dalam negeri sehingga kelebihan produksi tersebut

dapat dijual ke luar negeri.

2) Adanya permintaan luar negeri untuk suatu produk walaupun untuk dalam

negeri masih kekurangan.

3) Adanya keuntungan yang lebih besar dari penjualan ke luar negeri dari pada

penjualan di dalam negeri karena harga di pasaran dunia lebih

(35)

4) Adanya barter dengan produk tertentu dengan produk lain yang diperlukan dan

tidak dapat diproduksi di dalam negeri.

5) Adanya kebijakan ekspor yang bersifat politik.

2.2.4 Manfaat Ekspor

Secara umum, ada beberapa manfaat atau peranan yang dapat diperoleh dari kegiatan

ekspor (Amir, 2004), antara lain:

a. Meningkatkan laba perusahaan melalui perluasan serta untuk memperoleh nilai jual

yang lebih baik (optimalisasi laba).

b. Membuka pasar baru di luar negeri sebagai perluasan pasar domestik (membuka pasar

ekspor).

c. Memanfaatkan kelebihan kapasitas terpasang (idle capacity).

Membiasakan diri bersaing di pasar internasional sehingga terlatih dalam persaingan

yang ketat dan terhindar dari sebutan “jago kandang”.

2.3 Suku Bunga

2.3.1 Pengertian suku Bunga

Suku bunga adalah harga yang dibayar “ peminjam” (debitur) kepada pihak yang

meminjamkan (kreditur) untuk pemakaian sumber daya selama interval waktu tertentu.

Jumlah pinjaman yang diberikan disebut prinsipal dan harga yang dibayar biasanya

(36)

Sunariyah (2004) mengatakan bahwa tingkat bunga yang dibayarkan sebagai

persentase uang pokok per unit waktu. Bunga merupakan suatu ukuran harga sumber daya

yang digunakan debitur yang dibayarkan kepada kreditur. Unit waktu biasanya dinyatakan

dalam satuan tahun (satu tahun investasi) atau bisa lebih pendek dari satu tahun. Uang pokok

berarti jumlah uang yang diterima kreditur kepada debitur.

Bagi dunia perbankan, suku bunga dapat diartikan sebagai harga yang harus

dikeluarkan bank pada nasabah yang menyimpan dananya di bank,dan disisi lain dapat

diartikan sebagai harga yang dibayar nasabah kepada bank atas dana yang telah dipinjamkan

(nasabah yang memperoleh pinjaman).

2.3.2 Fungsi Tingkat Suku Bunga

Tingkat suku bunga terbentuk dipasar sebagai akibat interaksi kekuatan pasar uang

dan modal. Sunariyah (2004) menguraikan fungsi-fungsi tingkat suku bunga pada suatu

perekonomian negara, yaitu:

a. Sebagai daya tarik bagi penabung, baik individu, institusi atau lembaga, yang

mempunyai dana lebih untuk diinvestasikan.

b. Tingkat bunga dapat digunakan sebagai alat kontrol bagi pemerintah terhadap dana

langsung atau investsi pada sektor-sektor ekonomi.

c. Tingkat bunga dapat digunakan sebagai alat moneter dalam rangka mengendalikan

penawaran dan permintaan uang yang beredar dalam suatu perekonomian.

d. Pemerintah dapat memanipulasi tingkat bunga untuk meningkatkan produksi, sebagai

(37)

2.3.3 Jenis-Jenis Suku Bunga

Dalam realitas sehari-hari terdapat berbagai jenis suku bunga. Jenis- jenis suku bunga

ini dapat dikelompokkan menjadi empat jenis suku bunga, yaitu:

a. Suku Bunga Dasar (Bank Rate), yaitu tingkat suku bunga yang ditentukan oleh

bank sentral atau kredit yang diberikan oleh perbankan dan tingkat suku bunga yang

ditetapkan oleh bank sentral untuk mendiskontokan surat-surat berharga yang ditarik

atau diambil oleh bank sentral. Dengan perhitungan tingkat suku bunga ini juga

dipakai oleh bank komersil untuk menghitung suku bunga kredit yang dikenakan

kepada nasabahnya.

b. Suku Bunga Efektif (Effective Rate), yaitu tingkat suku bunga yang atas harga beli

suatu obligasi. Semakin rendah harga pembelian suatu obligasi dengn tingkat bunga

nasinal tertentu, maka semakin tinggi tingkat bunga efektifnya dan sebaliknya. Jadi,

ada hubungan terbalik antara harga yang dibayarkan untuk obligasi dengan tingkat

bunga efektifnya.

c. Suku Bunga Nominal (Nominal Rate), yaitu tingkat suku bunga yang dibiarkan tanpa

dilakukan penyesuian terhadap akibat-akibat inflasi

d. Suku Bunga Pedoman (Equivalent Rate), yaitu tingkat suku bunga yang besarnya

dihitung setiap hari (harga harian), setiap minggu (harga mingguan), setiap tahun

(harga tahunan), untuk sejumlah pinjaman atau investasi secara jangka waktu tertentu,

yang apabila dihitung secara anuitas (bunga berbunga) akan menawarkan penghasilan

bunga dalam jumlah yang sama.

Berdasarkan kegiatan bank dalam menghimpun dan menyalurkan dana dari

masyarakat (dalam hubungan dengan nasabah), maka suku bunga dikelompokkan menjadi

(38)

a. Bunga Simpanan, yaitu bunga yang diberikan sebagai rangsangan atas balas jasa bagi

nasabah yang menyimpan uangnya di bank yang merupakan harga yang harus dibayar

bank kepada nasabahnya. Contohnya: Giro, bunga tabungan, dan bunga deposito.

b. Bunga Pinjaman, yaitu bunga atau harga yang diberikan oleh nasabah (pinjaman)

kepada bank atas dana pinjaman yang diberikan kepadanya.

2.3.4 Teori Suku Bunga

a. Teori Klasik

Bunga adalah “harga” dari pengunaan loanable funds, terjemahan langsung dari

istilah tersebut adalah dana yang tersedia untuk “dipinjamkan”, atau disebut “dana

investasi” sebab menurut teori klasik bunga adalah harga-harga yang terjadi di “pasar”

dana investasi.

Dalam suatu periode ada anggota masyarakat yang menerima pendapatan

melebihi apa yang mereka perlukan untuk konsumsinya selama periode tersebut.

Mereka ini adalah kelompok “penabung”. Bersama-sama jumlah seluruh tabungan

mereka membentuk suplai/ penawaran akan loanable funds. Dilain pihak, dalam periode

yang sama ada anggota masyarakat yang membutuhkan dana, mungkin mereka ingin

berkonsumsi lebih dari pendapatan yang diterima selama periode tertentu. Dengan kata

lain, mereka digolongkan pengusaha yang membutuhkan dana untuk operasi perluasan

usahanya. Mereka ini adalah investor. Jumlah dari seluruh kebutuhan mereka akan dana

membentuk permintaan akan loanable funds selanjutnya para penabung dan para

investor ini akan bertemu dipasar loanable funds, dan dari proses tawar-menawar antara

mereka akhirnya akan dihasilkan kesepakatan/ keseimbangan. Terjadinya tingkat bunga

keseimbangan dipasar dan investasi loanable funds dalam suatu periode dapat

(39)

Tingkat Bunga

Kurva Teori Klasik tentang Tingkat Bunga

Keseimbangan tingkat bunga ada pada titik Io, dimana jumlah tabungan sama

dengan investsi. Apabila tingkat bunga Io, jumlah tabungan melebihi keinginan

pengusaha untuk melakukan investasi. Para penabung akan saling bersaing untuk

meminjam dananya dan persaingan ini akan menekan tingkat bunga turun balik ke

posisi Io. Sebaiknya, apabila tingkat bunga io, para pengusaha akan bersaing

memperoleh dana yang relatif lebih kecil. Persaingan ini akan mendorong tingkat bunga

naik lagi ke io.

b. Teori Keynes

Menurut Keynes, tingkat bunga merupakan suatu fenomena moneter yang

artinya tingkat bunga ditentukan oleh permintaan dan penawaran akan uang (ditentukan

dalam pasar uang). Uang akan mempengaruhi kegiatan ekonomi (GNP) sepanjang uang

itu mempengaruhi tingkat bunga. Perubahan tingkat bunga selanjutnya akan

mempengaruhi keinginan untuk mengadakan investasi, dengan demikian akan

mempengaruhi GNP (Gross National product). Sedangkan menurut kaum klasik, uang

(40)

Dalam hal ini ada tiga motif mengapa orang mnghendaki memegang uang

tunai, yaitu meliputi:

1) Motif Transaksi

Keynes tetap menerima pendapat golongan cambridgo bahwa orang

memegang uang tunai guna memenuhi dan melancarkan transaksi yang dilakukan dan

permintaan masyarakat untuk tujuan ini dipengaruhi oleh pendapatan nasional,

semakin besar volume transaksi dan semakin besar pula kebutuhan uang untuk

memenuhi transaksi.

2) Motif Berjaga-Jaga

Keynes membedakan permintaan akan uang untuk tujuan melakukan

pembayaran-pembayaran tidak reguler, atau yang di luar rencana transaksi normal.

Misalnya untuk pembayaran keadaan-keadaan darurat, seperti kecelakaan, sakit, dan

pembayaran yang tidak terduga tersebut, karena sifat uang yang likuid, yaitu mudah

ditukarkan dengan barang lain.

3) Motif Spekulasi

Sesuai dengan namanya, motif dari memegang uang ini adalah terutama untuk

memperoleh keuntungan yang bisa diperoleh dari seandainya pemegang uang tersebut

meramal apa yang terjadi diwaktu yang datang dengan betul. Teori Keynes khususnya

menekankan adanya hubungan langsung antara kesediaan untuk tujuan spekulasi.

Permintaan besar apabila tingkat bunga rendah, dan apabila tingkat bunga tinggi

permintaan kecil, orang perlu memegang uang tunai dan karena kegiatan spekulasi

tersebut mendapatkan keuntungan, maka orang akan bersedia membayar harga

(41)

Permintaan akan uang menurut Keynes disebut dengan “Liquidity Preference”.

Harga tergantung dari tingkat bunga. Sumbu horizontal mengukur jumlah dan

permintaan uang dengan sumbu vertikal untuk tingkat bunga.

Tabungan (%)

Jumlah uang

(Liquidity Preference)

r

Jumlah Uang dan Permintaan

Gambar 2.3

Teory Keynes Tentang Tingkat Bunga

Permintaan akan uang memiliki hubungan negatif dengan tingkat bunga Keynes

mengatakan bahwa masyarakat mempunyai keyakinan adanya tingkat bunga yang

normal. Apabila tingkat bunga turun di bawah tingkat bunga normal, makin banyak

orang yakin bahwa tingkat bunga akan naik di waktu yang akan datang. Jika mereka

(42)

mereka akan menderita kerugian (Capital Loss). Mereka akan menghindari kerugian ini

dengan mengurangi surat berharga yang dipegangnya dengan sendirinya menambah

uang kas yang dipegangnya pada waktu tingkat bunga naik. Hubungan permintaan

negatif dengan tingkat bunga juga berkaitan dengan ongkos memegang uang kas

(Opportunity Cost Holding Money). Makin tinggi tingkat bunga, makin tinggi pula

ongkos memegang uang kas (dalam bentuk tingkat bunga yang tidak diperoleh karena

kekayaan diwujudkan dalam bentuk uang kas). Sehingga keinginan memegang uang kas

juga menurun, sebaliknya jika tingkat bunga turun berarti ongkos memegang uang kas

juga makin rendah sehingga permintaan uang kas juga naik.

c. Teori Paritas Tingkat Bunga.

Teori paritas tingkat bunga adalah salah satu teori yang penting mengenai penentuan

tingkat bunga dalam sistem devisa bebas, yaitu apabila penduduk masing-masing negara

bebas memperjualbelikan devisa.

Teori ini pada dasarnya menyatakan bahwa “ dalam sistem devisa bebas tingkat

bunga di negara yang satu akan cenderung sama dengan tingkat bunga di negara lain,

setelah diperhitungkan perkiraan mengenai laju depresiasi mata uang satu negara dengan

negara lain’’.

Secara aljabar dirumuskan sebagai berikut:

Rn = Rf +E *

Dimana =

Rn = Tingkat bunga nominal didalam negeri

Rf = Tingkat bunga nominal diluar negeri

E* = Laju depresiasi mata uang dalam negeri terhadap mata uang asing yang diperkirakan

(43)

Dalam analisa diasumsikan bahwa tingkat bunga dalam perekonomian terbuka kecil

sama dengan tingkat bunga dunia (Rn = Rf ). Namun demikian, karena beberapa alasan

tingkat bunga berbeda diseluruh dunia. Ketika diasumsikan tingkat bunga dalam

perekonomian kecil ditentukan oleh tingkat bunga dunia. Jika tingkat suku bunga domestik

berada diatas tingkat bunga dunia, penduduk domestik akan memberikan pinjaman ke luar

negeri untuk mendapatkan pengembalian yang lebih tinggi yang mendorong tingkat bunga

domestik naik akhirnya tingkat bunga domestik akan sama dengan tingkat bunga dunia.

Perlu dicatat bahwa dalam praktek dan biaya transaksi untuk memindahkan dana

dari dalam negeri. Oleh sebab itu, teori paritas tingkat bunga ini lebih tepat jika berbunyi

bahwa tingkat bunga antara dua negara cenderung sama, setelah dikoreksi dengan laju

depresiasi yang diperkirakan dari mata uang yang satu terhadap mata uang negara lain dan

biaya transaksi tersebut sangat rendah, tetapai dalam sistem devisa yang kurang bebas, biaya

tersebut lebih tinggi. Oleh karena itu, dalam sistem devisa yang tidak bebas, ada

kemungkinan tingkat bunga didalam negeri sangat berbeda dengan tingkat bunga diluar

negeri, meskipun telah dikoreksi dengan laju depresiasi yang diperkirakan.

2.4 Kurs

2.4.1 Pengertian Kurs

Dalam perdagangan internasional pertukaran antara satu mata uang dengan mata uang

lain menjadi hal yang terpenting untuk mempermudah proses transaksi jual-beli barang dan

jasa. Dari pertukaran ini, terdapat perbandingan nilai atau harga antara kedua mata uang

tersebut, dan inilah yang dinamakan kurs. Abimanyu (2004) mendefenisikan kurs sebagai

harga relatif mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain.

Kurs adalah harga mata uang domestik terhadap mata uang asing dihitung

(44)

tukar rupiah digunakan sebagai proyeksi dari nilai tukar negara mitra dagang Indonesia

(Syarief, 2003).

Kurs merupakan salah satu harga yang terpenting dalam perekonomian terbuka

mengingat pengaruhnya yang sedemikian besar bagi transaksi berjalan maupun terhadap

variabel-variabel ekonomi lainnya. Kurs juga memerankan peranan sentral dalam

perdagangan internasional.

Dalam mekanisme pasar, kurs dari suatu mata uang akan mengalami fluktuasi yang

berdampak langsung pada harga barang-barang ekspor dan impor. Perubahan yang dimaksud

adalah:

a. Apresiasi

Yaitu peristiwa menguatnya nilai tukar mata uang secara otomatis akibat

bekerjanya kekuatan-kekuatan penawaran dan permintaan atas mata uang yang

bersangkutan dalam sistem pasar bebas. Sebagai akibat dari perubahan kurs ini adalah

harga produk negara itu bagi pihak luar negeri makin mahal, sedangkan harga impor

bagi penduduk domestik menjadi lebih murah.

b. Depresiasi

Yaitu peristiwa penurunan nilai tukar mata uang secara otomatis akibat

bekerjanya kekuatan penawaran dan permintaan atas mata uang yang bersangkutan

dalam sistem pasar bebas. Sebagai akibat dari perubahan kurs ini adalah produk

negara itu bagi pihak luar negeri menjadi murah, sedangkan harga impor bagi

penduduk domestik menjadi mahal.

2.4.2 Pasar Valuta Asing

Kurs ditentukan oleh interaksi antara berbagai rumah tangga, perusahaan dan

(45)

pembayaran internasional. Pasar yang memperdagangkan mata uang internasional disebut

dengan pasar valuta asing (foreign exchange market).

Dengan kata lain, pasar valuta asing adalah tempat bertemunya pembeli dan penjual

dari berbagai mata uang asing.

2.4.3 Keseimbangan Kurs

Keseimbangan nilai tukar pada dasarnya mempunyai fungsi ganda, pertama yaitu

mempertahankan keseimbangan neraca pembayaran yang akhirnya bermuara kepada tingkat

kecukupan cadangan devisa yang dikelola oleh Bank Indonesia. Kedua adalah menjaga

kestabilan pasar domestik.

Pada umumnya, kurs ditentukan oleh perpotongan kurva permintaan pasar dan kurva

penawaran dari mata uang asing tersebut. Permintaan valuta asing timbul terutama bila kita

mengimpor barang-barang dan jasa-jasa dari luar negeri atau melakukan investasi dan

pinjaman luar negeri.

Perbedaan tingkat kurs timbul karena beberapa hal:

a. Perbedaan antara kurs beli dan jual oleh para pedagang valuta asing/bank, dimana

kurs beli adalah kurs yang dipakai apabila para pedagang valuta asing/bank membeli

valuta asing, dan kurs jual apabila mereka menjual valuta asing. Selisih kurs jual dan

kurs beli merupakan keuntungan bagi para pedagang.

b. Perbedaan kurs yang diakibatkan oleh perbedaan waktu pembayaran, dimana kurs TT

(telegraphic transfer) lebih tinggi karena lebih cepat dibanding dengan kurs MT (mail

transfer).

Perbedaan dalam tingkat keamanan dalam penerimaan hak pembayaran. Sering terjadi

penerimaan hak pembayaran yang berasal dari bank asing yang sudah terkenal, kursnya lebih

(46)

2.5Inflasi

2.5.1 Pengertian Inflasi

Defenisi inflasi secara umum adalah gejala kenaikan harga barang-barang yang

bersifat umum dan terus menerus serta suatu keadaan yang mengidentifikasikan semakin

melemahnya daya beli masyarakat yang dikuti oleh semakin merosotnya nilai mata uang

suatu negara. Angka inflasi merupakan salah satu indikator stabilitas ekonomi, dan beberapa

tahun terakhir ini menjadi pusat perhatian banyak orang. Inflasi telah dianggap sebagai

penyakit ekonomi yang selalu menyertai perjalanan pertumbuhan perekonomian suatu

negara. Secara teori angka inflasi dipengaruhi oleh adanya permintaan yang lebih tinggi dari

penawaran. Fluktuasi angka inflasi ini dapat menggambarkan besarnya gejolak ekonomi

terutama harga disuatu negara, disamping itu angka inflasi mencerminkan pula besarnya daya

beli masyarakat terhadap barang-barang dan jasa.

Ada beberapa defenisi inflasi yang dikemukakan oleh ahli ekonomi, diantaranya:

a. A.C Pigou

Inflasi adalah suatu bentuk keadaan dimana pendapatan dalam bentuk uang

bertambah lebih besar daripada pertumbuhan output yang dihasilkan oleh para penerima

pendapatan tersebut.

b. G. Cowth Hrey

Inflasi adalah keadaan dari nilai uang turun terus menerus dan harga naik terus

menerus.

c. Hawty

Inflasi adalah suatu keadaan karena terlalu banyak uang yang beredar.

(47)

Inflasi terjadi dalam suatu keadaan ekonomi yang dinamis pergeseran permintaan

dan sekumpulan barang tertentu ke sekelompok barang yang lain sehingga terjadi

tekanan permintaan terhadap sektor-sektor tertentu dalam ekonomi

Meskipun defenisi diatas berbeda-beda tetapi ada suatu hal yang sama yaitu inflasi

merupakan proses kenaikan harga dan bukan merupakan keadaan harga yang tinggi.

Kenaikan harga tersebut terjadi secara umum, mencakup beberapa macam barang saja, tidak

disebut dengan inflasi kecuali jika kenaikan harga barang terebut mengakibatkan kenaikan

sebagian dari barang lain.

Inflasi merupakan salah satu bentuk penyakit ekonomi yang sering muncul dan

dialami oleh hampir semua negara. Tidak dapat dipungkiri bahwa memerangi laju inflasi

merupakan salah satu kebijakan ekonomi yang sering dikenal dengan stabilitas harga.

Defenisi yang sederhana mengenai inflasi adalah merupakan kecenderungan kenaikan

harga-harga umum secara teus menerus. Dari defenisi ini dapat dikatakan bahwa kenaikan satu atau

beberapa pada suatu saat tertentu dan hanya sementara belum tentu menimbulkan inflasi.

2.5.2 Jenis-Jenis Inflasi

Ada beberapa jenis inflasi yang dapat terjadi dalam perekonomian diantaranya:

a. Ditinjau dari parah tidaknya suatu inflasi

1) Inflasi Ringan, yaitu inflasi yang besarnya lebih kecil dari 10% per tahun

2) Inflasi Sedang, yaitu inflasi yang besarnya 10 sampai 30% per tahun

3) Inflasi Berat, yaitu inflasi yang besarnya 30 sampai 100% per tahun

4) Hiperinflasi, yaitu inflasi yang besarnya lebih besar dari 100% per tahun.

b. Ditinjau dari asal inflasi

(48)

Inflasi jenis ini terjadi karena kenaikan harga yang terjadi di dalam

negeri, baik karena perilaku masyarakat maupun pemerintah, yang mengakibatkan

kenaikan harga.

2) Imported Inflation

Inflasi ini terjadi karena harga-harga luar negeri yang tercermin pada

harga barang-barang impor. Dengan demikian, kenaikan indeks harga luar negeri

akan mengakibatkan kenaikan indeks harga umum dan dengan sendirinya akan

mempengruhi laju inflasi.

c. Ditinjau berdasarkan faktor penyebabnya

1) Inflasi Tekanan Permintaan (demand-pull inflation)

Inflasi ini bermula dari adanya kenaikan permintaan total (agregate

demand), sedangkan produksi telah berada pada keadaan kesempatan kerja

penuh atau hampir mendekati kesempatan kerja penuh. Dalam keadaan hampir

mendekati kesempatan kerja penuh, kenaikan permintaan total disamping

menaikkan harga dapat juga menaikkan hasil produksi (output). Apabila

kesempatan kerja penuh (full-employment) telah tercapai penambahan

permintaan selanjutnya hanyalah akan menaikkan harga saja. Apabila kenaikan

permintaan ini menyebabkan keseimbangan GNP berada di atas atau melebihi

GNP pada kesempatan kerja penuh maka akan terdapat adanya “inflationary

(49)

C+I

Inflationary

Gap C’’+I’

C + I

YFE Y1

Gambar 2.4

Inflationary Gap

Kenaikan pengeluaran total dari C + I menjadi C + I’ akan

menyebabkan keseimbangan pada titik B berada diatas GNP full-imployment

(YFE). Jarak A – B atau YFE-YI menunjukkan besarnya inflotionari gap.

Dengan menggunakan kurva permintaan dan penawaran total proses

(50)

AD1 ke AD2 menyebabkan ada sebagian permintaan yang tidak dapat dipenuhi

oleh penawaran yang ada. Akibatnya, harga naik menjadi P2 dan output naik

menjadi QFE. Kenaikan AD2 selanjutnya menjadi AD3 menyebabkan harga naik

menjadi P3 sedangkan output tetap pada QFE. Kenaikan harga disebabkan oleh

adanya inflationary gap.

Proses kenaikan harga ini akan berjalan terus sepanjang permintaan

total terus naik (misalnya AD4).

2) Cost–Push Inflation

Berbeda dengan demand full inflation, cost-push inflation biasanya

ditandai dengan kenaikan harga serta turunnya produksi. Jadi, inflasi yang dikuti

(51)

dimulai dengan adanya penurunan dalam penawaran total (agregate supply)

sebagai akibat biaya kenaikan produksi.

Kenaikan biaya produksi pada gilirannya akan menaikkan harga dan

turunnya produksi. Kalau proses ini berjalan terus maka timbullah cost-push

inflation. Gambar berikut menjelaskan terjadinya cost- push inflation.

P2

P1

P3

P

Gambar 2.6

Q2 Q1 QFE Q

Cost Push Inflation

Bermula pada harga P1 dan QFE kenaikan biaya produksi (disebabkan

baik karena berhasilnya tuntutan kenaikan upah oleh serikat buruh ataupun

kenaikan harga bahan baku untuk industri) akan menggeser kurva penawaran total

dari AS1 menjadi AS2. Konsekuensinya harga naik menjadi P2 dan produksi turun

menjadi Q1. Kenaikan harga selanjutnya akan menggeser kurva AS menjadi AS3,

(52)

Proses ini akan berhenti apabila AS tidak lagi bergesr ke atas. Proses

kenaikan harga ini (yang sering juga dibarengi dengan turunnya produksi) disebut

dengan cost push inflation.

2.5.3 Sebab-Sebab Inflasi

Ada beberapa sebab yang dapat meninbulkan inflasi, antara lain:

a. Pemerintah yang terlalu berambisi untuk menyerap sumber-sumber yang dapat

dilepaskan oleh pihak bukan pemerintah pada tingkat harga yang berlaku.

b. Berbagai golongan ekonomi dalam masyarakat berusaha memperoleh pendapatan relatif

lebih besar daripada kenaikan produksi mereka.

c. Adanya harapan yang berlebihan dari masyarakat sehingga permintaan barang-barang

dan jasa naik lebih cepat daripada tambahan keluarnya (output) yang mungkin dicapai

oleh perekonomian yang bersangkutan

d. Pengaruh alam yang dapat mempengaruhi produksi dan kenakan harga

e. Pengaruh inflasi luar negeri apabila negara yang mempunyai sistem perekonomian

terbuka pengaruh inflasi ini terlihat melalui pengaruh terhadap harga-harga barang

impor.

Di negara-negara industri pada umumnya inflasi bersumber dari salah satu

gabungan dari dua masalah berikut:

a. Tingkat pengeluaran agregat yang melebihi kemampuan perusahaan-perusahaan

untuk menghasilkan barang dan jasa. Keinginan untuk mendapatkan barang yang

mereka butuhkan akan mendorong para konsumen meminta barang tersebut pada

harga yang lebih tinggi. Sebaliknya para pengusaha akan mencoba menahan

barangnya dan hanya menjual kepada pembeli-pembeli yang bersedia membayar pada

(53)

b. Pekerja-pekerja diberbagai bidang kegiatan ekonomi menuntut kenaikan upah.

Apabila para pengusaha mulai mengalami kesukaran dalam tambahan pekerja untuk

menambah produksinya, pekerja-pekerja akan terdorong untuk menuntut kenaikan

gaji. Apabila tuntutan kenaikan upah berlaku secara meluas, akan terjadi kenaikan

biaya produksi dari berbagai barang dan jasa yang dihasilkan dalam perekonomian.

Kenaikan biaya produksi tersebut akan mendorong perusahaan-perusahaan menaikkan

harga-harga barang mereka.

Kedua masalah yang diterangkan diatas biasanya berlaku apabila perekonomian

sudah mendekati tingkat penggunaan tenaga kerja penuh. Dengan perkataan lain didalam

perekonomian yang sudah sangat maju, masalah inflasi sangat erat kaitannya dengan

tingkat penggunaan tenaga kerja. Di samping itu inflasi dapat pula berlaku sebagai akibat

(1) kenaikan haraga-harga barang yang dimpor, (2) penambahan penwaran uang yang

berlebihan tanpa dikuti oleh penambahan produksi dan penawaran barang, (3) kekacauan

politik dan ekonomi sebagai akibat pemerintahan yang kurang bertanggung jawab.

2.4.4 Pengaruh Inflasi

Menurut Sadono sukirno (2000) di dalam suatu kegiatan inflasi sangat

mempengaruhi stabiliatas perekonomian negara tersebut :

a. Tingkat inflasi yang tinggi mempengaruhi tingkat produksi dalam negeri melemahkan

produksi barang ekspor. Tingkat inflasi yang tinggi menurunkan produksi karena

harga yang menjadi tinggi dan permintaan akan barang menurun sehingga produksi

menurun.

b. Inflasi menyebabkan terjadinya kenaikan harga barang dan kenaikan harga upah

buruh, maka kalkulasi harga pokok meninggikan harga jual produk lokal. Dilain pihak

(54)

tidak semua bahan habis terjual. Inflasi menyebabkan naiknya harga jual produksi

barang ekspor, dan berpengaruh terhadap neraca pembayaran.

Dismping menimbulkan efek buruk terhadap kegiatan ekonomi negara, inflasi juga

akan menimbulkan efek-efek berikut kepada individu dan masyarakat yaitu:

a. Inflasi akan menurunkan pendapatan rill oarng-orang yang berpendapatan tetap. Pada

umumnya kenaikan upah tidak secepat kenaikan harga-harga. Maka inflasi akan

menurunkan upah rill individu-individu yang berpendapatan tetap.

b. Inflasi akan mengurangi kekayaan yang berbentuk uang. Sebagian kekayaan

mesyarakat disimpan dalam bentuk uang . baik simpanan di bank, simpanan tunai,

dan simpanan-simpanan dalam institusi lain merupakan simpanan keuangan yang

nilainya akan menurun apabila inflasi berlaku.

c. Memperburuk pembagian kekayaan. Telah ditunjukkan bahwa penerima pendapatan

tetap akan menghadapi kemerosotan dalam nilai riil pendapatannya dan pemilik

kekayaan bersifat keungan mengalami penurunan dalam nilai rill kekayaannya. Akan

tetapi pemilik harta-harta tetap (tanah, bangunan, rumah) dapat menambah atau

mempertahankan nilai rill kekayaannya. Juga sebagian penjual/pedagang dapat

mempertahankan nilai riil pendapatannya. Dengan demikian, inflasi menyebabkan

pembagian pendapatan diantara golongan berpendapatan tetap pemilik-pemilik harta

tetap dan penjual/pedagang akan semakin menjadi tidak merata.

2.4.5 Teori Inflasi

Menurut Waluyo (2004), ada beberapa teori yang berkenaan dengan inflasi, yaitu : a. Teori Kuantitas

Teori ini merupakan teri yang mendekati inflasi dari segi permintaan. Teori ini

(55)

bahwa inflasi hanya dapat terjadi bila ada kenaikan jumlah uang yang beredar.

Harga-harga akan naik karena adanya kelebihan uang yang diciptakan dan diproduksi oleh

Bank Sentral. Meningkatnya jumlah uang yang beredar berarti meningkatkan saldo kas

yang dimiliki oleh rumah tangga konsumen dan akibatnya akan meningkatkan

pengeluaran konsumsi masyarakat. Peningkatan konsumsi masyarakat akan

mengakibatkan kenaikan tingkat harga, sehingga berakibat terjadinya inflasi.

Disamping penambahan jumlah uang yang beredar, mereka berpendapat

bahwa sebab dasar adanya kenaikan inflasi adalah keadaan sosial dan politik

masyarakat. Faktor ini berkaitan erat dengan harga yang diterapkan (price expectation)

terjadi disaat yang akan datang. Dengan sendirinya prilaku masyarakat mengenai

perubahan harga dan ekonomi akan besar pengaruhnya terhadap laju inflasi.

b. Teori Keynes dan Teri Tekanan Biaya (cosh push theory)

Teori ini mengatakan bahwa inflasi terjadi karena suatu kelompok masyarakat

ingin hidup di luar batas kemampuan ekonominya, sehingga proses tarik menarik antar

golongan masyarakat untuk memperoleh bagian masyarakat yang lebih besar daripada

yang mampu disediakan oleh masyarakat sendiri. Golongan yang berhasil dengan

aspirasinya akan mencerminkan keberhasilannya dalam suatu permintaan yang efektif.

Bila hal ini selalu terjadi maka akan timbul suatu kesenjangan inflasi (inflationary gap)

yang akan mengakibatkan kenaikan biaya (cosh push).

c. Teori Strukturalis

Teori ini juga disebut sebagai teori inflasi jangka panjang yang didasarkan

pada pengalaman di negara-negara Amerika Latin dan mengaitkan timbulnya inflasi.

Figur

Grafik 1.1 Nilai FOB Ekspor Sumatera Utara
Grafik 1 1 Nilai FOB Ekspor Sumatera Utara . View in document p.17
Grafik 1.2 Perkembangan Tingkat Suku Bunga Kredit
Grafik 1 2 Perkembangan Tingkat Suku Bunga Kredit . View in document p.18
Tabel 1.1
Tabel 1 1 . View in document p.20
Grafik 1.3 Perkembangan Kurs Rupiah
Grafik 1 3 Perkembangan Kurs Rupiah . View in document p.20
Gambar 2.1 Model Sembilan Faktor Penentuan Daya Saing Internasional
Gambar 2 1 Model Sembilan Faktor Penentuan Daya Saing Internasional . View in document p.29
Gambar 2.2
Gambar 2 2 . View in document p.39
Gambar 2.4 Inflationary Gap
Gambar 2 4 Inflationary Gap . View in document p.49
Gambar 2.5 Demand Pull Inflation
Gambar 2 5 Demand Pull Inflation . View in document p.50
 Gambar 2.6 Cost Push Inflation
Gambar 2 6 Cost Push Inflation . View in document p.51
Gambar 3.1 Kurva Uji t Statistik
Gambar 3 1 Kurva Uji t Statistik . View in document p.62
Gambar 3.2
Gambar 3 2 . View in document p.63
Tabel  3.1
Tabel 3 1 . View in document p.65
Gambar 3.1  Kurva D-W Statistik
Gambar 3 1 Kurva D W Statistik . View in document p.66
Grafik 4.1
Grafik 4 1 . View in document p.71
Tabel 4.1
Tabel 4 1 . View in document p.72
Tabel 4.3
Tabel 4 3 . View in document p.75
Tabel 4.4
Tabel 4 4 . View in document p.76
Tabel 4.5
Tabel 4 5 . View in document p.85
Gambar 4.6
Gambar 4 6 . View in document p.86

Referensi

Memperbarui...