• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KERANGKA TEORI, HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II KERANGKA TEORI, HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS"

Copied!
77
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KERANGKA TEORI, HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS

A. Kerangka Teori 1. Tindak Pidana

Delik atau tindakan pidana adalah perbuatan yang dapat dihukum, merupakan perbuatan manusia yang bertentangan dengan undang-undang yang dilakukan dengan sengaja (dengan niat, ada kesalahan atau “schuld”) oleh orang yang dapat dipertanggungjawabkan. (Sri Harini Dwiyatmi;

2013)

Strafbaar feit berasal dari bahasa Belanda yang diartikan tindak pidana, terdiri dari tiga suku kata, yaitu straf yang berarti pidana dan hukum, baar diartikan sebagai dapat dan boleh, dan feit diartikan sebagai tindak, peristiwa, pelanggaran dan perbuatan.

Pengertian strafbaar feit atau tindak pidana menurut para pakar hukum memiliki arti yang berbeda-benda. Berikutnya penulis akan memaparkan beberapa pengertian strafbaar feit menurut beberapa pakar hukum antara lain;

Menurut S. R Sianturi, tindak pidana merupakan:

“Tindak Pidana adalah sebagai suatu tindakan pada, tempat, waktu dan keadaan tertentu yang dilarang (atau diharuskan) dan diancam dengan pidana oleh undang- undang bersifat melawan hukum, serta dengan kesalahan dilakukan oleh seseorang (yang bertanggungjawab)”.1

Menurut Simons dikutip dalam buku Leden Marpaung strafbaar feit merupakan;

“Strafbaarfeit adalah suatu tindakan yang melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak sengaja oleh seseorang yang tindakannya tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan oleh undang-undang telah dinyatakan sebagai suatu tindakan yang dapat dihukum”2

1 Amir Ilyas, Op cit. hlm. 22.

2Leden Marpaung 2012, Asas Teori Hukum Pidana, Cet. Ketujuh, Jakarta, Sinar Grafika, hlm. 8

(2)

Menurut Amir Ilyas tindak pidana merupakan:

“Tindak pidana merupakan suatu istilah yang mengandung suatu pengertian dasar ilmu hukum sebagai istilah yang dibentuk dengan kesadaran dalam memberikan ciri tertentu pada peristiwa hukum pidana.

Tindak pidana mempunyai pengertian yang abstrak dari peristiwa-peristiwa yang konkrit dalam lapangan hukum pidana, sehingga tindak pidana haruslah diberikan arti yang bersifat ilmiah dan ditentukan dengan jelas untuk dapat memisahkan dengan istilah yang dipakai sehari-hari dalam kehidupan masyarakat”.3

Menurut Moeljatno perbuatan pidana merupakan:

“Perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan yang mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu bagi siapa saja yang melanggar larangan tersebut”4

Menurut Roeslan Saleh perbuatan pidana merupakan:

“Perbuatan pidana adalah perbuatan yang oleh masyarakat dirasakan sebagai perbuatan yang tidak boleh atau tidak dapat dilakukan.”5

Menurut Wirjono Prodjodikoro tindak pidana merupakan:

“Definisi tindak pidana berarti suatu perbuatan yang pelakunya dapat dikenakan pidana.”6

Menurut R. Abdoel Djamali tindak pidana merupakan:

“Peristiwa Pidana atau sering disebut Tindak Pidana (Delict) ialah suatu perbuatan atau rangkaian perbuatan yang dapat dikenakan hukuman pidana. Suatu peristiwa hukum dapat dinyatakan sebagai peristiwa pidana kalau memenuhi unsur-unsur pidananya. Tindak Pidana merupakan suatu perbuatan yang diancam hukuman sebagai kejahatan atau pelanggaran.”7

Berdasarkan rumusan yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa tindak pidana (strafbaar feit) merupakan suatu perbuatan yang dilarang dan diancam dengan hukuman yang telah berlaku pada Undang-

3 Amir Ilyas. 2012. Asas-asas Hukum Pidana. Rangkang Education: Yogyakarta

4 Ibid

5 Ibid

6 Ibid

7 R. Abdoel Djamali, 2006. Pengantar Hukum Indonesia, Edisi Revisi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, hlm. 175-176.

(3)

Undang dan perbuatan yang dilakukan oleh seseorang tersebut dapat dipertanggungjawabkan.

Banyak istilah yang digunakan untuk mengartikan pengertian strafbaar feit, bermacam-macam istilah dan pengertian yang digunakan oleh para pakar dengan alasan dan pertimbangan yang rasional sesuai dengan sudut pandang masing-masing.

2. Unsur-Unsur Tindak Pidana

Unsur-unsur tindak pidana dibagi menjadi dua sudut pandang, yakni dari sudut teoritis dan sudut Undang-Undang. Sudut pandang teoritis artinya pendapat para ahli hukum yang tercermin pada bunyi rumusannya, sedangkan dari sudut pandang Undang-Undang adalah bagaimana kenyataan tindak pidana dirumuskan menjadi tindak pidana tertentu dalam pasal-pasal peraturan perundang-undangan yang ada.

Pada hakikatnya, setiap perbuatan pidana harus terdiri dari unsur- unsur lahiriah (fakta) oleh perbuatan, mengandung kelakuan dan akibat yang ditimbulkan karenanya. Keduanya memunculkan kejadian dalam alam lahir (dunia).8

Menurut R.Tresna sebagaimana definisi beliau yang menyatakan bahwa:

“Peristiwa pidana itu adalah suatu perbuatan atau rangkaian perbuatan manusia, yang bertentangan dengan undang-undang atau peraturan perundang-undangan lainnya, terhadap perbuatan mana diadakan tindakan penghukuman.”9

Menurut Adami Chazawi yang dikutip dari bukunya, memaparkan tentang pendapat ahli hukum tentang unsur-unsur tindak pidana teoritis antara lain:

1. Unsur Tindak Pidana Menurut Teoritis10

8 Rahman Syamsuddin dan Ismail Aris, 2004. Merajut Hukum di Indonesia, Mitra Wacana Media, Jakarta, hlm. 193.

9 Adami Chazawi, 2002. Pelajaran Hukum Pidana, Bagian 1. Raja Grafindo Persada. Jakarta, hlm.

79.

10 Ibid hlm. 72

(4)

Adami Chazawi merumuskan unsur-unsur tindak pidana dari berbagai pendapat ahli hukum, seperti Moeljatno, Jonkers dan Scharvendijk.

a. Moeljatno mengatakan bahwa unsur pidana meliputi:

1) Perbuatan

2) Yang dilarang; (oleh aturan hukum)

3) Ancaman pidana (bagi yang melanggar larangan) b. R. Tresna tindak pidana terdiri dari unsur-unsur, yakni:

1) Perbuatan/rangkaian perbuatan (manusia)

2) Yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan;

3) Diadakan tindakan pengukuhan.

c. Jonkers merinci unsur-unsur pidana sebagai berikut:

1) Perbuatan (yang);

2) Melawan hukum (yang berhubungan dengan);

3) Kesalahan (yang dilakukan oleh orang yang dapat);

4) Dipertanggungjawabkan

d. Sedangkan unsur yang dikemukakan oleh Schravendijk adalah:

1) Kelakuan (orang yang)

2) Bertentangan dengan keinsyafan hukum;

3) Diancam dengan hukum;

4) Dilakukan oleh orang (yang dapat) 5) Dipersalahkan/kesalahan.

Rincian rumusan tentang unsur-unsur pidana dari keempat pakar tersebut penulis menyimpulkan bahwa unsur-unsur mengenai perbuatan dengan unsur-unsur mengenai diri orang yang melakukan perbuatan pidana tidak dapat dipisahkan.

2. Unsur-unsur Tindak Pidana dalam Undang-Undang

Sudut pandang undang-undang adalah bagaimana kenyataan tindak pidana itu dirumuskan menjadi tindak pidana tertentu dalam pasal-pasal peraturan perundang-undangan yang ada.

Menurut P. A. F Lamintang “Tindak Pidana yang terdapat dalam KUHP pada umumnya dapat dijabarkan ke dalam unsur-unsur yang

(5)

pada dasarnya dapat dibagikan menjadi dua unsur, yakni unsur subyektif dan unsur obyektif”. Unsur Subyektif dan Obyektif dari suatu tindak pidana menurut P. A. F Lamintang yaitu: 11

1) Unsur Obyektif

Yaitu unsur yang ada hubungan dengan keadaan yang terjadi, dalam keadaan dimana si pelaku itu harus dilakukan. Unsur Obyektif terdiri dari:

a) Melanggar hukum (wedenrechttelijkheid)

b) Kualitas dari si pelaku, misalnya “keadaan sebagai pegawai negeri” di dalam kejahatan jabatan menurut pasal 415 KUHP atau “keadaan sebagai pengurus atau komisaris dari suatu perseroan terbatas” di dalamnya kejahatan menurut Pasal 398 KUHP. Kausalitas, yaitu hubungan antara sesuatu tindakan sebagai penyebab dengan sesuatu kenyataan sebagai akibat 2) Unsur Subyektif

Yaitu unsur yang melekat pada diri si pelaku atau yang berhubungan dengan diri si pelaku dan termasuk ke dalamnya yaitu segala sesuatu yang ada dalam diri dan pikirannya. Unsur ini terdiri dari:

a) Kesengajaan (dolus) dan tidak kesengajaan (culva);

b) Maksud atau voornemen pada suatu percobaan seperti yang dimaksud dalam pasal 53 ayat (1) KUHP;

c) Macam-macam maksud atau oogmerk seperti yang terdapat dalam kejahatan pencurian, penipuan, pemerasan, pemalsuan, dan lain sebagainya;

d) Perasaan takut atau vress;

e) Merencanakan terlebih dahulu atau voorbedachte raad.

Menurut Wirjono Prodjodikoro, dari sudut pandang undang- undang antara lain:

1. Subyek tindak pidana

11 P.A.F. Lamintang. 2014. Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, PT Citra Aditya Bakti:

Bandung, hlm. 193

(6)

Dalam pandangan KUHP, yang dapat menjadi subyek tindak pidana adalah seorang manusia, sebagai oknum ini mudah terlihat pada rumusan-rumusan dari tindak pidana yang ada dalam KUHP, yang menampakkan daya pikir sebagai syarat dari subyek tindak pidana. Hal itu juga terlihat pada wujud hukuman/pidana yang termuat dalam pasal-pasal KUHP yaitu hukuman penjara dan hukuman denda.12

2. Perbuatan dari tindak pidana

Berbicara tentang subyek tindak pidana, pikiran selanjutnya akan diarahkan kepada wujud perbuatan sebagai unsur dari tindak pidana. Wujud dari perbuatan ini pertama-tama harus dilihat pada rumusan tindak pidana dalam pasal-pasal tertentu dari peraturan pidana. Perumusan ini dalam bahasa Belanda dinamakan delict omschriving. Misalnya dalam tindak pidana pencurian, perbuatan di rumuskan sebagai “mengambil barang”. Ini merupakan secara formal, yaitu benar-benar disebutkan wujud suatu gerakan tertentu dari seorang manusia.13

3. Hubungan sebab akibat

Bahwa unsur pokok tindak pidana harus ada akibat tertentu dari perbuatan si pelaku berupa kerugian atas kepentingan orang lain. Hal ini menandakan adanya keharusan ada hubungan sebab akibat antara perbuatan si pelaku dan kerugian kepentingan tertentu.14

4. Sifat melanggar hukum

Biasanya oleh para penulis barat dikatakan bahwa sifat penting dari tindak pidana (strafbaar feit) adalah onrechmatigheit atau sifat melanggar tindak pidana itu. Berdasarkan uraian diatas, dapat dikatakan bahwa tindak pidana adalah rumusan dari hukum pidana yang membuat ancaman hukuman pidana atas pelanggaran

12 Wirjono Prodjodikoro, 1981, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia, Bandung, Eresco, 1981, hlm.

50

13 Ibid hlm. 51

14 Ibid hlm. 52

(7)

norma-norma yang ada dibidang hukum lain, yaitu hukum perdata, hukum tata negara, hukum tata usaha Negara. Dengan demikian, sampai sekarang tergambar dari unsur-unsur tindak pidana yaitu:

a) Perbuatan pidana yang dilarang

b) Akibat dari perbuatan itu yang menjadi alasan mengapa perbuatan itu dilarang

c) Sifat melanggar hukum dalam rangkaian sebab akibat.15 5. Kesalahan pelaku tindak pidana

Karena si pelaku oleh seorang manusia, maka hubungan ini mengenai hal kebatinan, yaitu hal kesalahan si pelaku tindak pidana.

Hanya dengan hukuman batin ini perbuatan yang dilarang dapat dipertanggung jawabkan pada si pelaku dan kalau ini tercapai, maka benar ada suatu tindak pidana yang pelakunya dapat dijatuhi hukuman pidana.16

6. Kesengajaan (opzet)

Sebagai unsur tindak pidana mempunyai unsur kesengajaan atau opzet, bukan unsur culva. Hal ini layak karena yang pantas mendapatkan hukuman pidana itu adalah orang yang melakukan sesuatu dengan sengaja, kesengajaan ini harus mengenai ketiga unsur dari tindak pidana tersebut, yaitu:

a) Perbuatan yang dilarang

b) Akibat yang menjadi alasan diadakan larangan itu c) Bahwa perbuatan itu melanggar hukum17

7. Kesengajaan yang bersifat umum

Bahwa kesengajaan yang bersifat tujuan si pelaku dapat dipertanggungjawabkan oleh khalayak ramai. Maka, apabila kesengajaan semacam ini ada pada suatu tindak pidana, tidak ada yang menyangkal bahwa si pelaku pantas dikenai hukuman pidana.18

15 Ibid hlm. 54

16 Ibid hlm. 55

17 Ibid hlm. 56

18 Ibid hlm. 56

(8)

Dari rumusan-rumusan tindak pidana tertentu dalam KUHP, maka dapat diketahui adanya 8 unsur tindak pidana. Dari 8 unsur tersebut unsur kesalahan dan melawan hukum termasuk unsur subyektif sedangkan selebihnya adalah unsur obyektif. Unsur yang bersifat obyektif adalah semua unsur yang berada diluar keadaan batin manusia/si pembuat, yakni semua unsur mengenai perbuatannya, akibat perbuatan dan keadaan-keadaan tertentu yang melekat (sekitar) pada perbuatan. Sedangkan unsur yang bersifat subyektif adalah semua unsur yang mengenai batin atau melekat pada keadaan batin orangnya.

Ke 8 (delapan) unsur tindak pidana tersebut yakni:

a) Unsur Tingkah Laku

Tingkah laku merupakan unsur mutlak tindak pidana. Unsur mutlak ini dikarenakan tindak pidana adalah mengenai larangan berbuat, untuk itu tingkah laku merupakan hal yang harus disebutkan dalam rumusan.

Dalam tindak pidana, tingkah laku dibedakan atas tingkah laku aktif atau positif (handelen), juga dapat disebut perbuatan materiil (materiel feit) dan tingkah laku pasif atau negatif (natalen) Tingkah laku aktif adalah suatu bentuk tingkah laku yang untuk mewujudkannya atau melakukannya diperlukan wujud gerakan atau gerakan-gerakan dari tubuh atau bagian dari tubuh, misalnya mengambil (362) atau memalsu dan membuat secara palsu (268).Sebagian besar (hampir semua) tindak pidana tentang unsur tingkah lakunya dirumuskan dengan perbuatan aktif, dan sedikit sekali dengan perbuatan pasif.

Sedangkan tingkah laku pasif adalah berupa tingkah laku membiarkan (natalen), suatu bentuk tingkah laku yang tidak melakukan aktivitas tubuh atau bagian tubuh, yang seharusnya seseorang itu harus dalam keadaan-keadaan tertentu harus melakukan perbuatan aktif, dan dengan tidak berbuat demikian seseorang itu disalahkan karena tidak melaksanakan kewajiban

(9)

hukumnya. Contoh perbuatannya yaitu tidak memberikan pertolongan (531).

Dalam hal pembentuk undang-undang merumuskan unsur tingkah laku, ada 2 tingkah laku, yaitu dirumuskan dalam bentuk yang abstrak dan dalam bentuk tingkah laku kongkret.

Yang dimaksud tingkah laku abstrak ialah di dalam tingkah laku abstrak dapat terdiri wujud-wujud tingkah laku kongkret bahkan bisa menjadi tidak terbatas banyaknya. Contohnya perbuatan: menghilangkan nyawa (338), abstrak, terdiri banyak wujud-wujud kongkret dalam pelaksanaannya. Misalnya mencekik, menembak, meracun, dan tidak terbatas banyaknya.

Banyak tindak pidana yang menyebutkan unsur tingkah laku dengan lebih kongkret, misalnya mengambil (362, pencurian), memberi keterangan (242), mengedarkan (247), dan lain-lain.

b) Unsur Melawan Hukum

Melawan hukum adalah suatu sifat tercela atau terlarang dari suatu perbuatan, yang mana sifat tercela tersebut dapat bersumber pada Undang-Undang (melawan hukum formil/formelle wederrechtelijk) dan dapat bersumber pada masyarakat (melawan hukum materiil/materiel wederrechtelijk).19 Karena bersumber pada masyarakat, maka sifat tercela tersebut tidak tertulis.

Dari sudut pandang undang-undang, suatu perbuatan tidaklah mempunyai sifat melawan hukum sebelum perbuatan itu diberi sifat terlarang (wederrechtelijk) dengan memuatnya sebagai dilarang dalam peraturan perundang-undangan, artinya sifat terlarang disebabkan atau bersumber pada dimuatnya dalam peraturan perundang-undangan.

Unsur melawan hukum adalah suatu sifat tercela, maka sifat tercela tersebut dinyatakan dalam rumusan tindak pidana dengan berbagi istilah, yakni:

19 Ibid hlm. 86

(10)

(1) Melawan Hukum (wederrechtelijk) , istilah inilah yang paling sering digunakan oleh pembentuk UU, misalnya dalam pasal 362, 368, 369, 372, 378.

(2) Tanpa hak atau tidak berhak, atau tanpa wewenang (zonder daartoe gerichtigdte zijn), misalnya pasal 548, 549c.

(3) Tanpa izin (zonder verlof), misalnya pada pasal 496, 520.

(4) Melampaui kekuasaannya (met over schrijding van sijne bevoegdheid), misalnya pada pasal 430.

(5) Tanpa memperhatikan cara yang ditentukan dalam peraturan umum (zonder inachteming van de bij algemeene verordening bepaalde vormen), misalnya pada pasal 429.

c) Unsur Kesalahan

Kesalahan (schuld) adalah unsur mengenai keadaan atau gambaran batin orang sebelum atau pada saat memulai perbuatan, karena itu unsur ini selalu melekat pada diri pelaku dan bersifat subjektif. Istilah kesalahan (schuld) adalah pengertian hukum yang tidak sama dengan pengertian harfiah. 20

Maksudnya adalah sesuatu yang dianggap sebagai suatu tindak pidana haruslah mempunyai unsur kesalahan, yang mana unsur tersebutlah yang menjadi tolak ukur tindakan tersebut di sebut suatu yang dilarang atau suatu tindak pidana.

d) Unsur Keadaan yang Menyertai

Unsur keadaan yang menyertai adalah unsur tindak pidana yang berupa semua keadaan yang ada dan berlaku dalam mana perbuatan dilakukan. Unsur keadaan yang menyertai ini dalam kenyataan rumusan tindak pidana dapat: 21

(1) Mengenai cara melakukan perbuatan, artinya cara itu melekat pada perbuatan yang menjadi unsur tindak pidana, misalnya kekerasan dan ancaman kekerasan menurut pasal 285, 289, dan 368.

20 Ibid hlm. 89-90

21 Ibid hlm. 103-106

(11)

(2) Mengenai cara untuk dapatnya dilakukan perbuatan, hal ini merupakan syarat untuk dapat dilakukannya suatu perbuatan yang menjadi larangan, dan bukan cara melakukan perbuatan yang menjadi larangan, misalnya pada pasal 363 (1) sub 5 tentang cara-cara merusak, memotong, memanjat, memakai anak kunci palsu, atau pakaian jabatan palsu.

(3) Mengenai obyek tindak pidana, yakni berupa semua keadaan yang melekat pada atau mengenai obyek tindak pidana, misalnya unsur “milik orang lain” yang melekat pada benda yang menjadi obyek pencurian (pasal 362).

(4) Mengenai subyek tindak pidana, yaitu segala keadaan diri subyek tindak pidana, baik yang bersifat obyektif maupun subyektif. Bersifat obyektif adalah segala keadaan diluar keadaan batin pelakunya misalnya seorang warga Negara RI (451). Sedangkan, yang bersifat subyektif adalah keadaan mengenai batin subyek hukum, misalnya dengan rencana lebih dulu (pasal 340, 353)

(5) Mengenai tempat dilakukannya tindak pidana, unsur ini adalah mengenai segala keadaan mengenai tempat dilakukannya tindak pidana, misalnya sebuah kediaman atau pekarangan yang tertutup yang ada ditempat kediaman (pasal 363 ayat 1 ke3)

(6) Mengenai waktu dilakukannya tindak pidana, unsur ini adalah mengenai waktu dilakukannya tindak pidana yang dapat berupa syarat memperberat pidana maupun yang menjadi unsur pokok tindak pidana.

3. Tindak Pidana Kekerasan a. Pengertian Kekerasan

Kekerasan adalah suatu perbuatan dengan menggunakan tenaga atau kekuatan jasmani secara tidak sah, membuat orang tidak berdaya.

Melakukan kekerasan artinya mempergunakan tenaga atau kekuatan jasmani secara tidak sah, misalnya memukul dengan tangan atau dengan

(12)

segala macam senjata, menyepak, menendang, dan sebagainya, atau membuat orang jadi pingsan serta tidak berdaya.22

Istilah kekerasan digunakan untuk menggambarkan sebuah perilaku, baik yang terbuka atau tertutup, baik yang bersifat menyerang maupun yang bertahan yang disertai penggunaan kekuatan pada orang lain.23

Kekerasan disebut sebagai tindakan yang mengakibatkan terjadinya kerusakan baik fisik maupun psikis adalah kekerasan yang bertentangan dengan hukum, maka oleh karena itu kekerasan adalah sebagai suatu bentuk kejahatan.24

Tindakan kekerasan menunjukkan pada tingkah laku yang pertama-tama harus bertentangan dengan undang-undang, baik berupa ancaman saja maupun sudah merupakan tindakan nyata dan memiliki akibat-akibat kerusakan terhadap harta benda atau fisik atau dapat mengakibatkan kematian pada seseorang. Dilihat dari perspektif kriminologi, kekerasan menunjukkan pada tingkah laku yang berbeda- beda baik motif maupun mengenai tindakannya.25

Menurut Yesmil dan Adang Kekerasan dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu kekerasan individual (perseorangan) dan kekerasan kelompok (kolektif). Tingkah laku kekerasan yang individual menurut John Conrad dapat dibagi ke dalam enam bagian jenis kekerasan yaitu (2010:412):

1. Kekerasan yang dipengaruhi oleh faktor budaya yang menganggap bahwa suatu tindakan kekerasan adalah tingkah laku yang diharapkan untuk dilakukan dalam situasi tertentu, dan kekerasan merupakan cara hidup bagi kebudayaan tertentu.

2. Kekerasan yang dilakukan dalam rangka kejahatan, yang dilakukan untuk mencapai tujuan kejahatan.

22 Maidin Gultom, (2010) Perlindungan Hukum Terhadap Anak dalam Sistem Peradilan Pidana Anak di Indonesia, Bandung, Refika Aditama, hlm. 1

23 Nursariani Simatupang Faisal, (2018), Hukum Perlindungan Anak, Medan, Pustaka Prima, hlm. 66

24 Yesmil Anwar dan Adang, (2010), Kriminologi, Bandung, Refika Aditama, hlm. 410-411

25 Ibid hlm. 66

(13)

3. Kekerasan patologis, berupa kekerasan yang mengalami gangguan kejiwaan atau kerusakan otak.

4. Kekerasan situasional.

5. Kekerasan yang tidak disengaja.

6. Kekerasan institusional.

b. Jenis-jenis Kekerasan

Ada beberapa jenis kekerasan atau ancaman kekerasan dalam hal tindak pidana yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan antara lain:

1. Kekerasan yang dilakukan secara bersama-sama di muka umum (pasal 170 KUHP)

2. Kejahatan terhadap nyawa orang lain (Pasal 338-350 KUHP) 3. Kejahatan penganiayaan (Pasal 351-358 KUHP)

4. Kejahatan seperti pencurian, penodongan, perampokan (Pasal 365 KUHP)

5. Kejahatan terhadap kesusilaan (Pasal 285 KUHP)

6. Kejahatan yang menyebabkan kematian atau luka karena kealpaan (Pasal 359-367 KUHP)

c. Kekerasan Dalam Rumah Tangga

1. Pengertian Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Istilah kekerasan dalam rumah tangga adalah bentuk kekerasan yang berhubungan antara suami dan istri, yang salah satu diantaranya bisa menjadi pelaku atau korban (istri, anak maupun pasangan). Pada Pasal 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, bahwa yang dimaksud dengan kekerasan dalam rumah tangga yaitu:

“Setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan, atau penderitaan secara fisik, seksual psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga”

(14)

Kekerasan dalam rumah tangga adalah perbuatan yang dilakukan oleh seseorang atau beberapa orang terhadap orang lain yang berakibat suatu penderitaan secara fisik, seksual maupun psikologis, termasuk ancaman perbuatan tertentu, pemaksaan, perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, penekanan secara ekonomis, yang terjadi dalam lingkup rumah tangga atau personal.

Pengertian Kekerasan Dalam Rumah Tangga menurut Deklarasi PBB tahun 1993 (Herlina Manullang, 2007, “Penelitian Dosen”) adalah sikap tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat atau mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik seksual atau psikologi termaksud ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang baik yang terjadi di depan umum atau dalam kehidupan sehari-hari atau pribadi.

Kekerasan dalam rumah tangga memakan cukup banyak korban dari berbagai kalangan masyarakat. Tindak kekerasan yang dilakukan akan memberikan dampak dan risiko yang sangat besar bagi perempuan atau istri dan anak.

2. Ruang Lingkup Rumah Tangga

Menurut pasal 2 Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Tahun 2004 bahwa lingkup rumah tangga meliputi :

1) Suami, istri dan anak.

2) Orang-orang yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan orang yang dimaksud pada huruf :

a. Karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian yang menetap dalam rumah tangga.

b. Perwalian yang menetap dalam rumah tangga

3) Orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut.

(15)

3. Bentuk-bentuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga Menurut pasal 5 Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga meliputi :

1) Kekerasan Fisik

Sesuai dengan pasal 6 Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat (penganiayaan).

2) Kekerasan Psikis

Menurut pasal 7 Undang-undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya dan atau penderitaan psikis berat pada seseorang, mengancam/menakut-nakuti sebagai sarana memaksa kehendak, mengisolasi istri dari dunia luar, hak- hak dalam bidang produksi.

Contohnya seperti:

‐ Hak untuk mendapatkan informasi dan pendidikan

‐ Hak untuk memutuskan kapan dan akan mempunyai anak.

‐ Hak memiliki atau memberontak keluarga

‐ Hak untuk mendapatkan kebebasan berpikir 3) Kekerasan Seksual

Menurut pasal 8 Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, bentuk-bentuk kekerasan seksual antara lain:

a. Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetapkan dalam lingkup rumah tangga tersebut.

b. Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangga dengan orang lain untuk tujuan komersial atau tujuan tertentu.

4) Penelantaran Rumah Tangga

(16)

Menurut pasal 9 Undang-undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga yaitu:

a. Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuannya atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang tersebut.

b. Penelantaran sebagaimana dimaksud ayat (1) juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut

4. Ketentuan Pidana Mengenai Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Dalam Bab VIII yang tersebar dalam Pasal 44 sampai dengan Pasal 49 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga diatur ketentuan pidana yang memuat sanksi pidana bagi pelaku tindak pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Penulis akan menguraikan unsur-unsur tindak pidana yang ada pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga yakni:

a. Pasal 44 ayat (1) yang berbunyi:

“Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp15.000.000,00 (lima belas juta rupiah).

Pada pasal 44 ayat (1) memiliki unsur:

1. Setiap Orang

Yang dimaksud dengan “setiap orang“ merupakan penunjukan kata ganti orang sebagai subyek/pelaku tindak

(17)

pidana, yaitu setiap Warga Negara Republik Indonesia yang tunduk kepada Undang-Undang dan Hukum Negara Republik Indonesia atau yang tercakup dalam ketentuan Pasal 2, 3, 4, 5, 7 dan 8 KUHP yang mampu bertanggungjawab secara hukum.

2. Melakukan Kekerasan Fisik

Yang dimaksud dengan “melakukan kekerasan fisik”

adalah melakukan perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 6 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

3. Dalam Lingkungan Rumah Tangga

Sedangkan yang dimaksud “dalam lingkup rumah tangga” adalah kekerasan tersebut dilakukan terhadap suami, istri, anak, orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan dan perwalian yang menetap dalam rumah tangga dan/atau orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut.

b. Pasal 45 ayat (1) yang berbunyi:

“Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan psikis dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud pada Pasal 5 huruf b dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp9.000.000,00 (sembilan juta rupiah).”

Pada pasal 45 ayat (1) memiliki unsur:

1. Setiap Orang

Pengertian “setiap orang“ di sini sama dengan yang dijelaskan dalam penjelasan unsur pidana pada Pasal 44.

2. Melakukan Kekerasan Psikis

Yang dimaksud dengan “melakukan kekerasan psikis“

adalah setiap perbuatan yang mengakibatkan ketakutan,

(18)

hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang, sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 7 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

3. Dalam Lingkup Rumah Tangga

Sedangkan pengertian “dalam lingkup rumah tangga“

di sini sama dengan yang dijelaskan dalam penjelasan unsur pidana pada Pasal 44.

c. Pasal 46 yang berbunyi:

“Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan seksual sebagaimana dimaksud pada Pasal 8 huruf a dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun atau denda paling banyak Rp36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah).”

Pada pasal 46 memiliki unsur:

1. Setiap Orang

Pengertian “setiap orang“ di sini sama dengan yang dijelaskan dalam penjelasan unsur pidana pada Pasal 44.

2. Melakukan Kekerasan Seksual

Yang dikategorikan sebagai “melakukan kekerasan seksual“ adalah meliputi pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkungan rumah tangga tersebut dan pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan tertentu, sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 8 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

d. Pasal 47 berbunyi:

“Setiap orang yang memaksa orang yang menetap dalam rumah tangganya melakukan hubungan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf b dipidana dengan pidana penjara paling

(19)

singkat 4 (empat) tahun dan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun atau denda paling sedikit Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah) atau denda paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).”

Pada pasal 47 memiliki unsur:

1. Setiap Orang

Pengertian “setiap orang“ di sini sama dengan yang dijelaskan dalam penjelasan unsur pidana pada Pasal 44.

2. Yang Menetap Dalam Rumah Tangganya

Sedangkan yang dimaksud dengan “yang menetap dalam rumah tangganya“ adalah orang atau siapa saja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, yang hidup dan bertempat tinggal serta melakukan aktivitas sehari-hari di rumah tersebut.

3. Melakukan Hubungan Seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf b.

Pengertian “melakukan hubungan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf b“ yaitu pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan tertentu. Tujuan tertentu di sini seperti untuk kepuasan pribadi akibat kelainan seksual yang dialaminya maupun untuk tujuan komersial.

e. Pasal 49 yang berbunyi:

“Dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp15.000.000,00 (lima belas juta rupiah), setiap orang yang:

a) menelantarkan orang lain dalam lingkup rumah tangganya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1);

(20)

b) menelantarkan orang lain sebagaimana dimaksud Pasal 9 ayat (2).”

Pada pasal 49 memiliki unsur:

1. Setiap Orang

Pengertian “setiap orang“ di sini sama dengan yang dijelaskan dalam penjelasan unsur pidana pada Pasal 44.

2. Menelantarkan orang lain dalam lingkup rumah tangganya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1).

Yang dimaksud dengan “menelantarkan orang lain dalam lingkup rumah tangganya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat(1)” adalah perbuatan menelantarkan orang lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004, dimana menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut.

3. Menelantarkan orang lain sebagaimana dimaksud Pasal 9 ayat (2).

Yang dimaksud dengan menelantarkan orang lain sebagaimana dimaksud Pasal 9 ayat (2) adalah perbuatan menelantarkan orang lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004, yaitu bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau diluar rumah sehingga korban berada dibawah kendali orang tersebut.

4. Anak

a. Pengertian Anak

Anak adalah generasi muda penerus harapan bangsa dan salah satu sumber daya manusia yang memiliki peran penting. Anak membutuhkan

(21)

perlindungan dan bimbingan untuk menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental dan sosial anak.

Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (selanjutnya akan disingkat KUHP) memang tidak secara tegas mengatur tentang batasan seseorang yang dikatakan dewasa atau masih kategori anak.

Ketentuan hukum di Indonesia belum mempunyai penjelasan yang pasti mengenai apa yang dimaksud dengan anak, tidak adanya kesepakatan pengertian diantara perundang-undangan tersebut, antara lain:

a. Menurut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak.

Pasal 1 angka 2 menyebutkan“Anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun dan belum pernah kawin.

b. Menurut Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak.

Pasal 1 angka 1 menyebutkan, “Anak adalah orang yang dalam perkara anak nakal telah mencapai usia 8 (delapan) tahun, tetapi belum mencapai usia 18 (delapan belas) tahun, dan belum pernah menikah”.

c. Menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Pasal 1 angka 2 menyebutkan, “Anak yang berkonflik dengan hukum yang selanjutnya disebut anak adalah anak yang berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana.

d. Menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Pasal 1 angka 1 menyebutkan, “Anak adalah seorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan”.

Ada pun beberapa pendasaran lain perihal pengertian anak:

(22)

1) Convention On The Rights Of Child (1989) yang telah diratifikasi pemerintah Indonesia melalui Keppres Nomor 39 Tahun 1990 disebutkan bahwa anak adalah mereka yang berusia 18 tahun ke bawah.

2) UNICEF mendefinisikan anak sebagai penduduk yang berusia 0 sampai dengan 18 tahun. Berdasarkan beberapa pendapat diatas, maka dapat dinyatakan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun (0-18 tahun).

b. Perlindungan Anak

Di Indonesia tentang perlindungan anak diatur dalam Undang- Undang Nomor 35 Tahun 2014 Pasal 1 ayat (2) disebutkan bahwa perlindungan anak merupakan segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi Anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan anak dalam Pasal 2 Ayat (3) dan (4) menentukan bahwa:

“Anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan, baik semasa dalam kandungan maupun sesudah dilahirkan. Anak berhak atas perlindungan- perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangan dengan wajar”.

Dalam melaksanakan perlindungan hukum terhadap anak, harus memenuhi syarat antara lain:

1) Merupakan pengembangan kebenaran, keadilan dan kesejahteraan anak;

2) Harus mempunyai landasan filsafat, etika dan hukum;

3) Secara rasional positif dan dapat dipertanggungjawabkan;

4) Bermanfaat untuk yang bersangkutan;

5) Mengutamakan perspektif kepentingan yang diatur, bukan kepentingan yang mengatur;

(23)

6) Tidak bersifat insidental / kebetulan dan komplementer / pelengkap, namun harus dilakukan secara konsisten;

7) Melaksanakan respon keadilan yang restoratif (bersifat pemulihan);

8) Tidak merupakan wadah dan kesempatan orang yang mencari keuntungan pribadi/kelompok;

9) Anak diberi kesempatan berpartisipasi sesuai dengan situasi dan kondisinya;

10) Berdasarkan citra yang tepat mengenai anak manusia;

11) Berwawasan permasalahan atau problem oriented dan bukan berwawasan target;

12) Tidak merupakan faktor kriminogen dan bukan faktor viktimogen.26 c. Hak Anak

Hak-hak anak yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak antara lain:

Pasal 4

“Setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.”

Pasal 5

“Setiap anak berhak atas suatu nama sebagai identitas diri dan status kewarganegaraan.”

Pasal 6

“Setiap anak berhak untuk beribadah menurut agamanya, berpikir, dan berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya, dalam bimbingan orang tua.”

Pasal 7

(1) Setiap anak berhak untuk mengetahui orang tuanya, dibesarkan, dan diasuh oleh orang tuanya sendiri.

(2) Dalam hal karena suatu sebab orang tuanya tidak dapat menjamin tumbuh kembang anak, atau anak dalam keadaan terlantar maka anak tersebut

26 Abintoro Prakoso, 2016, Hukum Perlindungan Anak, LaksBang PRESindo, Yogyakarta hlm. 14

(24)

berhak diasuh atau diangkat sebagai anak asuh atau anak angkat oleh orang lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 8

“Setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual, dan sosial.”

Pasal 9

(1) Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya.

(2) Selain hak anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), khusus bagi anak yang menyandang cacat juga berhak memperoleh pendidikan luar biasa, sedangkan bagi anak yang memiliki keunggulan juga berhak mendapatkan pendidikan khusus.

Pasal 10

“Setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan.”

Pasal 11

“Setiap anak berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri.”

Pasal 12

“Setiap anak yang menyandang cacat berhak memperoleh rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial.”

Pasal 13

(1) Setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain mana pun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan:

i. diskriminasi;

ii. eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual;

iii. penelantaran;

(25)

iv. kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan;

v. ketidakadilan; dan vi. perlakuan salah lainnya

(2) Dalam hal orang tua, wali atau pengasuh anak melakukan segala bentuk perlakuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), maka pelaku dikenakan pemberatan hukuman.

Pasal 14

“Setiap anak berhak untuk diasuh oleh orang tuanya sendiri, kecuali jika ada alasan dan/atau aturan hukum yang sah menunjukkan bahwa pemisahan itu adalah demi kepentingan terbaik bagi anak dan merupakan pertimbangan terakhir.”

Pasal 15

“Setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari :

a. penyalahgunaan dalam kegiatan politik;

b. pelibatan dalam sengketa bersenjata;

c. pelibatan dalam kerusuhan sosial;

d. pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan; dan

e. pelibatan dalam peperangan.”

Pasal 16

(1) Setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan, penyiksaan, atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi.

(2) Setiap anak berhak untuk memperoleh kebebasan sesuai dengan hukum.

(3) Penangkapan, penahanan, atau tindak pidana penjara anak hanya dilakukan apabila sesuai dengan hukum yang berlaku dan hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir.

Pasal 17

(1) Setiap anak yang dirampas kebebasannya berhak untuk:

a. mendapatkan perlakuan secara manusiawi dan penempatannya dipisahkan dari orang dewasa;

b. mendapatkan perlakuan secara manusiawi dan penempatannya dipisahkan dari orang dewasa;

c. memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya secara efektif dalam setiap tahapan upaya hukum yang berlaku; dan

(26)

d. membela diri dan memperoleh keadilan di depan pengadilan anak yang objektif dan tidak memihak dalam sidang tertutup untuk umum.

(2) Setiap anak yang menjadi korban atau pelaku kekerasan seksual atau yang berhadapan dengan hukum berhak dirahasiakan.

Pasal 18

“Setiap anak yang menjadi korban atau pelaku tindak pidana berhak mendapatkan bantuan hukum dan bantuan lainnya.”

Perlindungan hukum tersebut dapat diwujudkan melalui perlindungan terhadap hak-hak anak, yang meliputi;

a. Hak terhadap kelangsungan hidup, berupa hak-hak anak untuk melestarikan dan mempertahankan hidup, dan hak untuk memperoleh standard kesehatan tertinggi dan perawatan yang sebaik baiknya.

b. Hak terhadap perlindungan (protection rights), yaitu perlindungan anak dari diskriminasi dan eksploitasi.

c. Hak untuk tumbuh berkembang (development rights), meliputi segala bentuk pendidikan (formal maupun non-formal), dan hak untuk mencapai standar hidup yang layak bagi perkembangan fisik, mental, spiritual, moral dan sosial anak.

d. Hak untuk berpartisipasi (participation rights), yaitu hak untuk menyatakan pendapat dalam segala hal yang mempengaruhi anak.

d. Anak Sebagai Pelaku Tindak Pidana

Anak sebagai pelaku tindak pidana atau anak yang berkonflik dengan hukum dapat diartikan sebagai kenakalan anak. Kenakalan anak diambil dari istilah juvenile delinquency. Istilah juvenile delinquency berasal dari juvenile artinya young, anak-anak, anak muda, ciri karakteristik pada masa muda, sifat-sifat khas pada periode remaja;

sedangkan delinquency artinya wrong doing, terabaikan/mengabaikan, yang kemudian diperluas artinya menjadi jahat, a-sosial, kriminal,

(27)

pelanggar aturan, pembuat rebut, pengacau, penteror, tidak dapat diperbaiki lagi, durjana, dursila, dan lain-lain.27

Menurut Anthony M. Platt definisi delinquency adalah perbuatan anak yang meliputi:28

1) Perbuatan tindak pidana bila dilakukan oleh orang dewasa.

2) Perbuatan yang melanggar aturan negara atau masyarakat

3) Perilaku tidak bermoral yang ganas, pembolosan, perkataan kasar dan tidak senonoh, tumbuh di jalanan dan pergaulan dengan orang yang tidak baik yang memungkinkan pengaruh buruk bagi anak di masa depan

Adanya perbedaan pengertian penggunaan istilah delinquency disebabkan pendekatan yang digunakan, latar belakang akademik, kekhususan ilmu yang digunakan dalam mengartikan delinquency.

Perbedaan tersebut digolongkan menjadi tiga pengertian, yaitu:29 a) The legal definition (definisi secara hukum), yaitu

definisi yang menitikberatkan pada perbuatannya atau perbuatan melanggar yang dilakukan seorang anak yang dikualifikasikan sebagai delinquency.

Perbuatan yang digolongkan sebagai delinquency tentunya diatur dalam hukum yang tertulis, sehingga secara legal definition, delinquency adalah sejumlah tindakan yang apabila dilakukan oleh orang dewasa dinyatakan tindak kriminal. Tindak kriminal yang dilarang dan diatur dalam perundang-undangan;

b) The role definition (definisi pemerannya), yaitu definisi yang menitikberatkan pada pelaku tindakan yang diklarifikasikan sebagai anak atau delinquent.

Fokus utama dalam menentukan pengertian deinquency yaitu umur seseorang dibandingkan jenis pelanggaran yang dilakukannya, sehingga pengertian delinquency mengacu pada siapa yang dimaksud dengan delinquent. Delinquent yaitu seseorang yang mendukung sebuah bentuk pelanggaran dalam sebuah periode waktu tertentu dan berada dalam lingkungan pola perilaku menyimpang. Pelaku sendiri telah mempunyai komitmen lebih dahulu terhadap perbuatan

27 Ibid

28 Marlina, Peradilan Pidana Anak di Indonesia, PT Refika Aditama, Bandung, hlm. 37

29 Ibid

(28)

melanggar dengan mengikuti perilaku melanggarnya;

c) The societal reponse definition (definisi atas dasar tanggapan masyarakat), yaitu menitikberatkan pada penilaian masyarakat sebagai anggota kelompok masyarakat yang bereaksi terhadap pelaku tindak pidana dan pada akhirnya menentukan apakah pelaku dan perbuatannya tersebut merupakan deliquency atau tidak. Aturan yang dibuat masyarakat di lingkungan pelaku bertujuan untuk melakukan perlindungan dan tanggung jawab pelaku yang melanggar atau deliquency.

Pada hakikatnya anak tidak dapat melindungi dirinya sendiri dari berbagai macam bentuk tindakan yang menimbulkan kerugian mental, fisik dan sosial dalam berbagai bentuk bidang kehidupan dalam dirinya.

Anak sangat membutuhkan bantuan hukum untuk melindungi dirinya, mengingat situasi dan kondisinya, khususnya dalam pelaksanaan peradilan pidana yang asing baginya, anak memerlukan hak untuk mendapat perlindungan dari kesalahan yang anak itu perbuat dari peraturan perundang-undangan yang berlaku terhadap dirinya.

Perlindungan hukum tersebut dapat diwujudkan melalui perlindungan terhadap hak-hak anak, yang meliputi:30

a) Hak terhadap kelangsungan hidup, berupa hak-hak anak untuk melestarikan dan mempertahankan hidup, dan hak untuk memperoleh standar kesehatan tertinggi dan perawatan yang sebaik- baiknya.

b) Hak terhadap perlindungan (protection right), yaitu perlindungan anak dari diskriminasi dan eksploitasi.

c) Hak untuk tumbuh berkembang (development right), meliputi segala bentuk pendidikan (formal maupun non-formal), dan hak untuk mencapai standar hidup yang layak bagi perkembangan fisik, mental, spiritual, modal dan sosial anak.

30 Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan HAM RI, 2010, Aspek Hukum Perlindungan Terhadap Anak, Jakarta, hlm. 17.

(29)

d) Hak untuk berpartisipasi (participation rights), yaitu hak untuk menyatakan pendapat dalam segala hal untuk mempengaruhi anak.

d. Jenis Sanksi Pidana dan Tindakan Terhadap Anak 1. Jenis Sanksi Pidana

Mengenai sanksi pidana ini terdapat dalam Pasal 10 KUHP.

Dalam Pasal tersebut disebutkan mengenai sanksi pidana, yang terdiri atas:

1) Pidana Pokok

Pidana pokok terdiri atas empat macam pidana, yaitu terdiri dari:

a) Pidana Mati

Pidana mati hanya dijatuhkan untuk tindak pidana yang sangat berat. Salah satu tindak pidana yang diancam dengan pidana mati adalah tindak pidana pembunuhan berencana yang diatur dalam Pasal 340 KUHP.

b) Pidana Penjara

Pidana penjara adalah suatu bentuk pidana terhadap perampasan kemerdekaan. Lamanya pidana penjara dapat seumur hidup atau untuk sementara waktu diberikan batasan jangka waktu yang jelas, yaitu minimal satu hari dan maksimal lima belas tahun. Pembatasan pidana penjara maksimal dua puluh tahun adalah mutlak, hal ini disebutkan dalam Pasal 12 ayat (4) KUHP.

c) Pidana Kurungan

Pidana kurungan adalah bentuk pidana badan yang kedua, yang lebih ringan daripada pidana penjara. Pidana kurungan berlaku untuk pidana kejahatan yang dilakukan dengan tidak sengajaan (culpa) dan untuk hukuman terbarat dari tindak pidana pelanggaran. Pidana kurungan juga dapat merupakan pengganti dari pidana denda yang tidak dibayar.

Batas waktu pidana kurungan pengganti pidana denda adalah minimal satu hari dan maksimal delapan bulan.

(30)

d) Pidana Denda

Pidana denda adalah pidana yang mewajibkan kepada terpidana untuk membayar sejumlah uang yang telah ditetapkan dalam putusan pengadilan kepada negara.

Apabila terpidana tidak dapat memenuhinya, maka terpidana dapat menggantinya dengan menjalani pidana kurungan pengganti denda.

e) Pidana Tutupan

Pidana tutupan adalah pidana yang diancamkan kepada pelaku tindak pidana di bidang politik.

2) Pidana Tambahan

Ketentuan hukum pidana di Indonesia juga mengenal adanya pidana tambahan. Pidana tambahan terdiri dari beberapa ketentuan yaitu:

a) Pencabutan hak-hak tertentu

Pencabutan tersebut dapat dilakukan terhadap hak-hak tertentu, yaitu:

1. Hak memegang jabatan pada umumnya atau jabatan tertentu;

2. Hak memasuki angkatan bersenjata;

3. Hak memilih atau dipilih dalam pemilihan yang berdasarkan aturan umum;

4. Hak menjadi penasehat menurut hukum, hak menjadi wali dan sebagainya terhadap anak yang bukan anaknya;

5. Hak menjalankan kekuasaan bapak atau pengampunan atas anak sendiri;

6. Hak menjalankan mata pencaharian tertentu.

b) Perampas beberapa barang tertentu

Perampasan merupakan pidana tambahan yang sering dilakukan. Barang yang dapat dirampas adalah barang- barang kepunyaan terpidana yang diperoleh dari kejahatan atau sengaja digunakan untuk melakukan kejahatan.

(31)

Perampasan ini juga berlaku terhadap barang milik terpidana yang telah disita sebelumnya.

Pengumuman putusan hakim Pada hakikatnya semua putusan hakim telah diucapkan di depan umum, akan tetapi bila dianggap perlu maka putusan itu dapat disiarkan lagi dengan jelas dengan cara-cara yang ditentukan oleh hakim.

Jadi pidana tambahan berupa pengumuman putusan hakim ini hanya dapat dijatuhkan dalam hal-hal yang ditentukan dalam undang-undang.

2. Jenis Sanksi Pidana Anak Diatur Dalam Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak

Jenis-jenis sanksi pidana dan tindakan terhadap anak yang melakukan tindak pidana diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana anak, antara lain:

Pasal 71 ayat (1): Pidana pokok bagi Anak terdiri atas:

a. pidana peringatan;

b. pidana dengan syarat:

1) pembinaan di luar lembaga;

2) pelayanan masyarakat; atau 3) pengawasan.

c. pelatihan kerja;

d. pembinaan dalam lembaga; dan e. penjara.

ayat (2): Pidana tambahan terdiri atas:

a. Perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindakan pidana; atau

b. Pemenuhan kewajiban adat

ayat (3): Apabila dalam hukum materiil diancam pidana kumulatif berupa penjara dan denda, pidana denda diganti dengan pelatihan kerja

(32)

ayat (4): Pidana yang dijatuhkan kepada Anak dilarang melanggar harkat dan martabat Anak.

ayat (5): Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk dan tata cara pelaksanaan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 72: Pidana peringatan merupakan pidana ringan yang tidak mengakibatkan pembatasan kebebasan anak.

Pasal 73 ayat (1): Pidana dengan syarat dapat dijatuhkan oleh Hakim dalam hal pidana penjara yang dijatuhkan paling lama 2 (dua) tahun.

ayat (2): Dalam putusan pengadilan mengenai pidana dengan syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan syarat umum dan syarat khusus.

ayat (3): Syarat umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah Anak tidak akan melakukan tindak pidana lagi selama menjalani masa pidana dengan syarat.

ayat (4): Syarat khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah untuk melakukan atau tidak melakukan hal tertentu yang ditetapkan dalam putusan hakim dengan tetap memperhatikan kebebasan Anak.

ayat (5): Masa pidana dengan syarat khusus lebih lama daripada masa pidana dengan syarat umum.

ayat (6): Jangka waktu masa pidana dengan syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lama 3 (tiga) tahun.

ayat (7): Selama menjalani masa pidana dengan syarat, Penuntut Umum melakukan pengawasan dan Pembimbing Kemasyarakatan melakukan pembimbingan agar Anak menempati persyaratan yang telah ditetapkan.

(33)

ayat (8): Selama Anak menjalani pidana dengan syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (7), Anak harus mengikuti wajib belajar 9 (sembilan) tahun.

Pasal 75 ayat (1): Pidana pembinaan di luar lembaga dapat berupa keharusan:

a. mengikuti program pembimbingan dan penyuluhan yang dilakukan oleh pejabat pembina;

b. mengikuti terapi di rumah sakit jiwa; atau c. mengikuti terapi akibat penyalahgunaan

alkohol, narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya.

ayat (2): Jika selama pembinaan anak melanggar syarat khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 ayat (4), pejabat pembina dapat mengusulkan kepada hakim pengawas untuk memperpanjang masa pembinaan yang lamanya tidak melampaui maksimum 2 (dua) kali masa pembinaan yang belum dilaksanakan.

Pasal 76 ayat (1): Pidana pelayanan masyarakat merupakan pidana yang dimaksudkan untuk mendidik Anak dengan meningkatkan kepeduliannya pada kegiatan kemasyarakatan yang positif.

ayat (2): Jika Anak tidak memenuhi seluruh atau sebagian kewajiban dalam menjalankan pidana pelayanan masyarakat tanpa alasan yang sah, pejabat pembina dapat mengusulkan kepada hakim pengawas untuk memerintahkan Anak tersebut mengulangi seluruh atau sebagian pidana pelayanan masyarakat yang dikenakan terhadapnya.

(34)

ayat (3): Pidana pelayanan masyarakat untuk Anak dijatuhkan paling singkat 7 (tujuh) jam dan paling lama 120 (seratus dua puluh) jam.

Pasal 77 ayat (1): Pidana pengawasan yang dapat dijatuhkan kepada Anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 ayat (1) huruf b angka 3 paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 2 (dua) tahun.

ayat (2): Dalam hal Anak dijatuhi pidana pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Anak ditempatkan di bawah pengawasan Penuntut Umum dan dibimbing oleh Pembimbing Kemasyarakatan.

Pasal 78 ayat (1): Pidana pelatihan kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 ayat (1) huruf c dilaksanakan di lembaga yang melaksanakan pelatihan kerja yang sesuai dengan usia Anak.

ayat (2): Pidana pelatihan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 1 (satu) tahun.

Pasal 79 ayat (1): Pidana pembatasan kebebasan diberlakukan dalam hal Anak melakukan tindak pidana berat atau tindak pidana yang disertai dengan kekerasan ayat (2): Pidana pembatasan kebebasan yang dijatuhkan

terhadap Anak paling lama 1/2 (satu perdua) dari maksimum pidana penjara yang diancamkan terhadap orang dewasa.

ayat (3): Minimum khusus pidana penjara tidak berlaku terhadap Anak.

ayat (4): Ketentuan mengenai pidana penjara dalam KUHP berlaku juga terhadap Anak sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini.

(35)

Pasal 80 ayat (1): Pidana pembinaan di dalam lembaga dilakukan di tempat pelatihan kerja atau lembaga pembinaan yang diselenggarakan, baik oleh pemerintah maupun swasta.

ayat (2): Pidana pembinaan di dalam lembaga dijatuhkan apabila keadaan dan perbuatan Anak tidak membahayakan masyarakat.

ayat (3): Pembinaan dalam lembaga dilaksanakan paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 24 (dua puluh empat) bulan.

ayat (4): Anak yang telah menjalani 1/2 (satu perdua) dari lamanya pembinaan di dalam lembaga dan tidak kurang dari 3 (tiga) bulan berkelakuan baik berhak mendapatkan pembebasan bersyarat.

Pasal 81 ayat (1): Anak dijatuhi pidana penjara di LPKA apabila keadaan dan perbuatan Anak akan membahayakan masyarakat.

ayat (2): Pidana penjara yang dapat dijatuhkan kepada Anak paling lama 1/2 (satu perdua) dari maksimum ancaman pidana penjara bagi orang dewasa.

ayat (3): Pembinaan di LPKA dilaksanakan sampai Anak berumur 18 (delapan belas) tahun.

ayat (4): Anak yang telah menjalani 1/2 (satu perdua) dari lamanya pembinaan di LPKA dan berkelakuan baik berhak mendapatkan pembebasan bersyarat.

ayat (5): Pidana penjara terhadap Anak hanya digunakan sebagai upaya terakhir.

ayat (6): Jika tindak pidana yang dilakukan Anak merupakan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau pidana penjara

(36)

seumur hidup, pidana yang dijatuhkan adalah pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun.

Dalam sidang anak, Hakim dapat menjatuhkan pidana atau tindakan. Pidana tersebut dapat berupa pidana pokok atau pidana tambahan. Sedangkan untuk tindakan dapat dilihat dalam Pasal 82 dan 83 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Tindakan yang dapat dikenakan terhadap anak dapat berupa:

1) Pengembalian kepada orang tua / wali.

2) Penyerahan kepada seseorang. Penyerahan kepada seseorang adalah penyerahan kepada orang dewasa yang dianggap cakap, berkelakuan baik, dan bertanggungjawab oleh Hakim serta dipercaya oleh anak.

3) Perawatan di rumah sakit jiwa. tindakan ini diberikan kepada anak yang pada waktu melakukan tindak pidana menderita gangguan jiwa atau penyakit jiwa.

4) Perawatan di LPKS.

5) Kewajiban mengikuti pendidikan formal dan/atau pelatihan yang diadakan oleh pemerintah atau badan swasta.

6) Pencabutan surat izin mengemudi.

7) Perbaikan akibat tindak pidana. Yang dimaksud di sini misalnya memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh tindak pidana dan memulihkan keadaan sesuai dengan sebelum terjadi tindak pidana.

Peraturan sanksi pidana pada anak dalam KUHP menyebutkan antara lain:

Pasal 10 (b) poin 1 dan 3 KUHP menyatakan:

“Pidana tambahan tidak dapat dijatuhkan pada anak, dan pidana denda dapat dijatuhkan pada anak, dan pidana denda dapat dijatuhkan pada naka paling banyak ½ (satu perdua) dari maksimum ancaman pidana denda bagi orang dewasa, dan apabila pidana denda sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ternyata tidak dapat dibayar, maka diganti dengan wajib latihan kerja”.

(37)

Pasal 14 a ayat (1) KUHP menyatakan:

“Pidana bersyarat (tidak secara spesifik diberlakukan untuk anak) dapat dijatuhkan untuk putusan pemenjaraan maksimum 1 tahun.”

Pasal 45 KUHP menyatakan:

“Dalam menuntut orang yang belum cukup umur (minderjarig) karena melakukan perbuatan sebelum umur 16 (enam belas) tahun, hakim dapat menentukan: memerintahkan supaya yang bersalah dikembalikan kepada orang tua, walinya atau pemeliharanya, tanpa pidana apapun, atau memerintahkan supaya yang bersalah diserahkan kepada pemerintah, tanpa pidana apa pun, yaitu jika perbuatan merupakan kejahatan atau salah satu pelanggaran tersebut pasal 489, 490, 492, 496, 497, 503, 505, 514, 517-519, 526, 532, 536 dan 540 serta belum lewat 2 (dua) tahun sejak dinyatakan salah karena melakukan kejahatan atau salah satu pelanggaran tersebut diatas, dan putusannya menjadi tetap; atau menjatuhkan pidana” (Moeljatno, 2003: 22).

Pasal 47 ayat (1) KUHP menyatakan:

“Pidana poko maksimum 2/3 dari pidana pokok untuk orang dewasa”

Pasal 47 ayat (2) KUHP menyatakan:

“Ancaman pidana mati atau penjara seumur hidup, dikonversi menjadi pidana penjara maksimum 15 tahun”

Dari pernyataan tersebut, artinya seseorang yang berumur lebih dari 16 (enam belas) tahun dapat dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan pidana yang berlaku bagi orang dewasa.

Dalam Pasal 47 KUHP ancaman pidana untuk anak yang belum berumur 16 tahun dapat berupa:

1. Jika hakim menjatuhkan pidana, maka maksimum pidana pokok terhadap perbuatan pidananya dikurangi sepertiganya.

2. Jika perbuatan merupakan kejahatan maka yang diancam dengan pidana mati atau pidana seumur hidup, maka dijatuhkan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun.

(38)

3. Pidana tambahan yang dimaksud dalam Pasal 10 b, nomor 1 dan 3, tidak dapat dijatuhkan terhadap anak nakal yang berumur 12 (dua belas) tahun dan melakukan tindak pidana sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 huruf a Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 yang diancam dengan hukuman mati atau seumur hidup.

Khusus mengenai sanksi terhadap anak dalam undang–undang ini ditentukan berdasarkan perbedaan umur anak, yaitu bagi anak yang masih berumur 8 sampai 12 tahun hanya dikenakan tindakan, sedangkan terhadap anak yang telah mencapai umur 12 sampai 18 tahun dijatuhkan pidana. Pembedaan perlakuan tersebut didasarkan atas pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental dan sosial anak (Soetodjo, 2005: 29).

Apabila perbuatan anak dianggap akan membahayakan masyarakat, maka anak dijatuhi pidana penjara di LPKA. Dalam hal ini pidana penjara yang dapat dijatuhkan kepada anak paling lama ½ dari maksimum pidana bagi orang dewasa. Pembinaan di LPKA dilakukan sampai anak berusia 18 tahun.

Apabila anak sudah menjalani ½ dari lamanya pembinaan di LPKA dan berkelakuan baik, maka berhak mendapatkan pembebasan bersyarat. Pidana penjara dalam Undang-Undang tentang Sistem Peradilan Pidana Anak juga menganut asas ultimum remidium yang berarti bahwa pidana penjara terhadap anak hanya digunakan sebagai upaya terakhir. Undang-Undang ini menyebutkan bahwa jika tindak pidana yang dilakukan anak merupakan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, maka pidana penjara yang dijatuhkan pada anak paling lama 10 tahun.

5. Pertimbangan Aspek Yuridis, Filosofis, dan Sosiologis Dalam Putusan Hakim

Mahkamah Agung RI sebagai badan tertinggi pelaksana kekuatan kehakiman yang membawahi 4 badan peradilan di bawahnya yaitu

(39)

peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer, dan peradilan tata usaha Negara, telah menentukan bahwa putusan hakim harus mempertimbangkan segala aspek yang ingin dicapai, diwujudkan, dan dipertanggungjawabkan dalam putusan hakim adalah keadilan yang berorientasi pada keadilan hukum (legal justice), keadilan moral (moral justice), dan keadilan masyarakat (social justice).31

Aspek yuridis merupakan aspek yang pertama dan utama dengan berpatokan kepada undang-undang yang berlaku. Hakim sebagai aplikator undang-undang, harus memahami undang-undang dengan mencari undang-undang yang berkaitan dengan perkara yang sedang dihadapi. Hakim harus menilai apakah undang-undang tersebut adil, ada kemanfaatannya, atau memberikan kepastian hukum jika ditegakkan, sebab salah satu tujuan hukum itu unsurnya adalah menciptakan keadilan.32

Mengenal aspek filosofis, merupakan aspek yang berintikan pada kebenaran dan keadilan, sedangkan aspek sosiologis, mempertimbangkan tata nilai budaya yang hidup dalam masyarakat.

Aspek filosofis dan sosiologis, penerapannya sangat memerlukan pengalaman dan pengetahuan yang luas serta kebijaksanaan yang mampu mengikuti nilai-nilai masyakat yang terabaikan. Jelas penerapannya sangat sulit sebab tidak mengikuti asas legalitas dan tidak terkait pada sistem. Pencantuman ketiga unsur tersebut tidak lain agar putusan dianggap adil, dan diterima masyarakat.

Keadilan hukum (legal justice), adalah keadilan berdasarkan hukum dan perundang-undangan. Dalam arti hakim hanya memutuskan perkara hanya berdasarkan hukum positif dan peraturan perundang- undangan keadilan seperti ini keadilan menurut penganut aliran legalistic positivism. Di dalam menegakkan keadilan ini hakim atau pengadilan hanya sebagai pelaksana undang-undang berkala, hakim tidak perlu mencari sumber-sumber hukum di luar dari hukum tertulis

31 Mahkamah Agung Republik Indonesia, 2006, Pedoman Perilaku Hakim (Code Of Conduct), Kode Etik dan Makalah Berkaitan, Pusdiklat MA RI, Jakarta, hlm 2

32 Ibid

(40)

dan perkara konkret rasional belaka. Dengan kata lain, hakim sebagai corong atau mulut undang-undang.33

Keadilan hukum (legal justice) hanya didapat dari undang- undang, justru pada suatu kondisi, akan menimbulkan ketidakadilan bagi masyarakat, sebab undang-undang tertulis yang diciptakan mempunyai daya laku tertentu yang suatu saat daya laku tersebut akan mati, karena saat undang-undang diciptakan unsur keadilannya membela masyarakat, akan tetapi setelah diundangkan, seiring dengan perubahan nilai-nilai keadilan masyarakat, akibatnya pada undang- undang unsur keadilannya akan hilang.34

Keadilan moral (moral justice) dan keadilan sosial (social justice) diterapkan hakim, dengan pernyataan bahwa “hakim harus menggali nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat” (vide Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009), yang jika dimaknai secara mendalam hal ini sudah masuk kedalam perbincangan tentang moral justice) dan social justice.

Sejatinya pelaksanaan tugas dan kewenangan seorang hakim dilakukan dalam rangka menegakkan kebenaran dan berkeadilan, dengan berpegang pada hukum, undang-undang dan nilai-nilai keadilan dalam masyarakat. Di dalam diri hakim diemban amanah agar peraturan perundang-undangan akan menimbulkan ketidakadilan, maka hakim wajib berpihak pada keadilan (moral justice) dan mengenyampingkan hukum atau peraturan perundang-undangan (legal justice). Hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat (the living law) yang tentunya sesuai pula atau merupakan pencerminan dari nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat (social justice). Keadilan yang dimaksudkan di sini bukanlah keadilan proseduril (formil), akan tetapi keadilan subtantif (materil), yang sesuai dengan hati nurani hakim.

33 Ibid hlm. 3

34 Ibid hlm. 4

Referensi

Dokumen terkait

Majelis Hakim menyimpulkan bahwa telah jelas perbuatan dari Heru, Ardian terhadap korban Vicki yang telah memegang dan meremas payudara korban di dalam Kamar

Dari penelitian terdahulu dapat disimpulkan bahwa penelitian yang berjudul Analisis Buku Anak Seri Pengetahuan Bencana Alam “Yuk, Cegah Kebakaran” yaitu setiap orang tua

1) Pada tahun 2016 Kepolisian mendapatkan laporan bahwa telah terjadi tindak pidana fidusia dimana dengan sengaja memalsukan, mengubah, menghilangkan atau dengan

Pemenuhan unsur dalam pertimbangan hakim dalam memutus perkara unsur yang ada dalam yang lebih bersesuaian dengan fakta yang terungkap dipersidangan,.. Unsur Setiap

Gaya pengasuhan anak yang permisif cenderung memanjakan anak. Anak lebih bebas menetukan keinginannya dan mengemukakan pendapatnya. Dalam gaya parenting ini, peraturan

Berdasarkan Pasal 260 ayat 1 huruf (d) UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang menyebutkan bahwa “ melakukan penyitaan terhadap Surat Izin

BA/ 25/ X/ 2017 diperoleh kesimpulan METHAMPITHAMIN positif (+) serta AMPHETAMIN positif (+) positif, dari hasil pemeriksaan laborat dari Rumah Sakit Umum Daerah

Jadi pelaku balap liar itu sendiri adalah orang yang melanggar tindak pidana yaitu adu kecepatan yang di lakukan di tempat umum. Hal itu sangat melanggar karena sudah di