• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Penerapan Manajemen Risiko Kred (16)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Penerapan Manajemen Risiko Kred (16)"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Analisis Penerapan Manajemen Risiko Kredit dan

Instrumen Derivatif pada Bank Sinarmas Tbk.

Nita Indra Saphira Universitas Trilogi

1. Latar Belakang Masalah

Bank mempunyai beberapa produk di antaranya adalah berupa tabungan dan deposito. Untuk masyarakat, bank memberikan kemudahan berupa likuiditas yang tinggi karena dapat diambil setiap waktu, serta kemudahan bertransaksi: pengiriman uang, pembayaran telepon, kartu kredit, listrik, dan lain-lain. Namun, selain memberikan kemudahan, bank juga mempunyai risiko terjadinya sebuah kegagalan atau kerugian dan bukannya menguntungkan bank. Risiko ini tidak dapat dihilangkan melainkan diminimalisir. Salah satu risiko yang terjadi pada perbankan adalah pada saat krisis moneter pada tahun 1997, terjadi kegagalan kepada sistem perbankan dan bahkan sistem perekonomian, sehingga menyebabkan jatuhnya ratusan bank di Indonesia.

Berdasarkn penelitian yang dilakukan oleh Pricewaterhouse Coopers

(PwC) seperti dikutip The Independent UK dan badan akuntan profesional,

ICAS, benua Asia dan negara-negara berkembang akan mendominasi peringkat pertumbuhan ekonomi teratas dunia pada 2030 mendatang. Penelitian tersebut juga menunjukkan jika Indonesia masuk ke dalam lima

besar daftar negara dengan perekonomian terkuat di dunia, didahului oleh China, Amerika Serikat, India, dan Jepang.

(2)

memperhatikan tingkat kehati-hatian dan kemampuan dalam permodalan yang dimiliki dalam menyusun rencana bisnis.

Berdasarkan uraian di atas, penulis melihat potensi ekonomi Indonesia yang bagus dan potensi pasar wealth management Indonesia dinilai masih sangat besar. maka penulis bermaksud untuk melakukan penelitan dengan judul Analisis Penerapan Manajemen Risiko Kredit dan Instrument

Derivatif pada Bank Sinarmas Tbk. 2. Tujuan Penulisan

Untuk menentukan dan menganalisis instrumen-instrumen derivatif untuk mengatasi risiko pada Bank Sinarmas Tbk.

3. Literatur

Hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan kredit dapat dilihat dari studi yang dilakukan oleh Levine dan Zervos. Studi yang dilakukan di 47 negara dengan rentan waktu 1976 – 1993 menunjukkan jika ada korelasi positif antara pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan kredit. Studi itu juga mengatakan jika dinamika institusi keuangan adalah faktor penting sebuah negara untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya. Pertumbuhan ekonomi mengakibatkan adanya peningkatan permintaan kredit (pertumbuhan kredit) untuk menarik kesempatan-kesempatan investasi.

Dalam meminjamkan uang, bank harus memerhatikan beberapa faktor seperti, tingkat suku bunga, inflasi, GDP, pertumbuhan kredit, dan juga performa bank itu sendiri seperti rasio pendapatan bunga bersih-Net Interest

Margin- (NIM), kredit macet-Non-Performing Loan- (NPL), dan kemampuan pendanaan bank. Bank akan sulit untuk berkembang ketika pertumbuhan kredit terus menurun, seperti yang terjadi pada tahun 2012 – 2016. Penurunan tersebut secara tidak langsung dipengaruhi oleh meningkatnya NPL.

(3)

NPL (%) NIM (%)

2015 2,99 5,77

2016 1,47 6,44

Tabel 1. Perbandingan NPL dan NIM pada Bank Sinarmas Tbk. tahun 2015 - 2016

Berdasarkan perbandingan NPL pada tahun 2015 dan 2016, dapat terlihat jika terdapat penurunan NPL sebesar 1,52% pada Bank Sinarmas Tbk., maka dapat disimpulkan jika terjadi peningkatan profitabilitas dan kesehatan bank, artinya bank tidak perlu meningkatkan cadangan aset pendapatan. Sementara NIM pada Bank Sinarmas Tbk. mengalami peningkatan dari tahun 2015 ke 2016 sebesar 0,67%. NIM sendiri menunjukkan kemampuan bank dalam menghasilkan pendapatan dari bunga dengan melihat kinerja bank dalam menyalurkan kredit. Besarnya NIM akan memengaruhi Earning After Tax (EAT), dimana bila NIM besar maka potensi EAT juga akan besar. Semakin tinggi bunga bersih yang diperoleh bank, maka mengindikasikan jika bank tersebut mampu mengolah kreditnya dan semakin tinggi pula laba bersih yang didapatkan.

Walaupun secara singkat tabel.1 menunjukkan performa bank yang

baik, namun usaha perbankan adalah usaha yang mempunyai banyak risiko yang berhadapan langsung dengan perimbangan kekuatan ekonomi yang

berada di luar pengendalian para manajer bank. Risiko Bank Sinarmas Tbk. berasal dari internal ataupun eksternal perusahaan. Risiko yang berasal dari internal perusahaan, yaitu: kurangnya pengetahuan dan keahlian para pegawai dalam menganalsis kelayakan pemberian kredit. Risiko yang berasal dari eksternal perusahaan, beberapa di antaranya, yaitu: munculnya kredit macet, berkurangnya kemampuan debitur dalam melunasi pembayaran kredit. Melihat hasil tabel.1, maka dapat disimpulkan jika strategi Bank Sinarmas Tbk. untuk menurunkan NPL-nya telah berhasil.

Untuk mengurangi risiko tersebut diperlukan suatu analisis kredit dan pengawasan oleh bank. Adapun usaha Bank Sinarmas Tbk. dalam pemantauan risiko kredit meliputi:

(4)

2. Memantau Risk Profile Bank setiap berkala berdasarkan pendekatan Risk Based Bank Rating yang telah ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan.

3. Melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan tugas komite Manajemen Risiko dan SKMR/UMR

4. Melakukan kajian (assessment) berdasarkan kondisi risiko di lapangan,

antara lain dengan mempertimbangkan BWMK, SDM, Kecukupan sarana dan prasarana kantor. Informasi dari pihak lain yang terkait aktivitas operasional yang terekspos risiko manajemen risiko.

4. Rekomendasi

i) Bank Sinarmas Tbk. mempertahankan dan mencari strategi baru untuk manajemen risiko perbankan agar nilai NPL tetap stabil dan tidak meningkat. Dengan begitu, tidak akan terjadi penurunan Return on Asset

(ROA) dan bank tidak perlu meningkatkan cadangan aset pendapatan. ii) Bank Sinarmas Tbk. mempertahankan dan mencari strategi baru untuk

manajemen risiko perbankan agar nilai NIM meningkat setiap tahunnya. NIM yang meningkat dapat memengaruhi peningkatan EAT.

5. Kesimpulan

Melihat penurunan nilai NPL dan peningkatan nilai NIM pada Bank Sinarmas Tbk. maka dapat disimpulkan jika bank telah berhasil mengatasi risiko kredit macet dan tidak perlu meningkatkan cadangan aset pendapatan untuk mengatasi risiko kredit. Pendapatan bunga bersih pun menggambarkan jika bank sudah mampu mengolah kreditnya dan menyebabkan adanya peningkatan laba bersih.

6. Daftar Pustaka

Kisman, Z. Model For Overcoming Decline in Credit Growth (Case Study of Indonesia with Time Series Data 2012M1-2016M12). Journal of Internet Banking and Commerce.Vol.22, No. 3,2017.

(5)

Kisman, Z.Disappearing Dividend Phenomenon: A Review of Theories and

Evidence.Transylvanian Review.Vol XXIV, No. 08,2016.

Setiawan, Dharma. Analisis Terhadap Penerapan Manajemen Risiko Kredit pada PT. Bank Ekspor Indonesia, 2007.

Utomo, Lisa. Instrumen Derivatif: Pengenalan dalam Strategi Manajemen Risiko Perusahaan. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Vol. 2, No. 1, 2000

Savitri, Oka. Analisis Manajemen Risiko Kredit dalam Meminimallisir Kredit Bermasalah pada Kredit Usaha Rakyat (Studi pada Bank Jatim Cabang Mojokerto). Jurnal Administrasi Bisnis Vol. 12, No. 1, 2014

Suhardi, Gunarto. Resiko dalam Pemberian Kredit Perbankan. Jurnal Hukum Projustitia Vol. 24, No. 1, 2006

Hendrio. Analisis Penerapan Manajemen Risiko Kredit dan Instrument

Derivatif pada Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat & Banten (Persero) Tbk., Universitas Trilogi: Proposal Diterbitkan

Laporan Keuangan PT Bank Sinarmas Tbk., 2016

Referensi

Dokumen terkait

Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dari tahun 2017 ke akhir tahun mengalami penurunan, ini menyatakan bahwa Bank BNI mampu mengatasi risiko yang dihadapi.. Pengelolaan manajemen

Adanya risiko-risiko yang dihadapi Bank inilah yang menjadi tolak ukur dalam tingkat kinerja Bank untuk mengurangi kemungkinan terjadinya risiko, terutama

Bank terus melanjutkan untuk mengelola dan mengawasi secara aktif kualitas portofolio pinjaman yang diberikan dengan cara meningkatkan kebijakan manajemen risiko kredit

ANALISIS PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO KREDIT DAN INSTRUMEN DERIVATIF PADA PT BANK DANAMON INDONESIA Tbk.. Amanda Latifah

Rekomendasi yang dapat diberikan untuk Bank BRI Agro dalam menerapkan manajemen risiko kredit dan instrumen derivatif yang digunakan telah

Menurut surat edaran tersebut, penerapan manajemen risiko harus dilakukan pada risiko kredit, risiko pasar, risiko operasional, risiko likuiditas, risiko hukum,

D alam menj alankan manajemen resiko kredit bank D anamon terus menjaga prinsip kehati-hatian, dengan mempertajam fokus pada kualitas kredit dan manajemen risiko dalam

Penerapan kerangka kerja manajemen risiko yang efektif, efisien dan profesional terhadap 8 (delapan) jenis risiko yaitu risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko