• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 10 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 10 Universitas Kristen Petra"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

10

Universitas Kristen Petra 2. LANDASAN TEORI

2.1. Teori Sinyal (Signalling Theory)

Signalling theory menurut Wolk dalam Thiono (2006 : 4) menjelaskan tentang alasan mengapa perusahaan mempunyai suatu dorongan untuk memberikan informasi laporan keuangan pada pihak eksternal yaitu karena terdapat asimetris informasi (asymmetri information) antara perusahaan dan pihak luar. Perusahaan (agent) lebih banyak mengetahui mengenai perusahaan (principal) dan prospek yang akan datang daripada pihak luar (investor, kreditor).

Informasi yang kurang dari pihak luar mengenai perusahaan akan dapat menyebabkan mereka melindungi dirinya dengan memberikan harga yang rendah untuk perusahaan. Jensen dan Meckling (1976) menjelaskan bahwa hal yang dapat terjadi atas asimetri dapat menimbulkan 2 (dua) permasalahan, yaitu :

1. Moral Hazard, yaitu permasalahan yang muncul jika agen tidak melaksanakan hal-hal yang telah disepakati dalam kontrak kerja.

2. Adverse selection, yaitu suatu keadaan dimana prinsipal tidak dapat mengetahui apakah suatu keputusan yang telah diambil oleh agen benar-benar didasarkan atas informasi yang telah diperolehnya, atau terjadi sebuah kelalaian dalam tugas.

Teori sinyal menjelaskan tentang bagaimana sebuah perusahaan yang seharusnya memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan. Sinyal tersebut dapat berupa sebuah informasi mengenai apa yang telah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik. Sinyal dapat berupa seperti promosi atau informasi lain yang telah menyatakan bahwa perusahaan tersebut lebih baik daripada perusahaan lain (Jama’an , 2008).

Kesimpulan yang dapat ditarik dengan adanya signalling theory ini adalah bahwa pihak manajemen perusahaan yang khususnya perusahaan yang telah go public pasti memberikan informasi kepada para investor sehingga investor dapat mengetahui keadaan perusahaan dan prospeknya di masa depan. Investor dapat membedakan perusahaan mana yang memiliki nilai perusahaan yang baik sebelum investor mengambil keputusan untuk berinvestasi sehingga di masa

(2)

11

Universitas Kristen Petra mendatang dapat memberikan keuntungan bagi investor tersebut (Alivia, 2013).

Signalling theory menjelaskan bahwa dalam pengeluaran investasi dapat memberikan sinyal positif tentang pertumbuhan perusahaan dimasa yang akan datang, sehingga dapat meningkatkan harga saham yang sebagai indikator nilai perusahaan (Jama’an, 2008). Praktik penghindaran pajak bagi pihak manajemen yang telah dilakukan diharapkan dapat memberikan sinyal yang positif kepada pihak investor yang akan berdampak terhadap naiknya nilai perusahaan. Nilai perusahaan pada dasarnya dapat dikatakan baik salah satunya ditunjukkan oleh peningkatan harga saham perusahaan dari waktu ke waktu.

2.2. Penghindaran Pajak (Tax Avoidance)

Wajib pajak selalu ingin membayar pajak dengan nilai yang kecil sehingga timbul suatu keinginan untuk tidak mematuhi peraturan perpajakan dan membuat adanya perlawanan pajak yang mereka berikan. Budiman dan Setiyono (2012) berpendapat bahwa perlawanan terhadap pajak dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu perlawanan pasif dan perlawanan aktif. Perlawanan pasif berupa suatu hambatan yang akan mempersulit suatu pemungutan pajak dan mempunyai hubungan yang erat dengan struktur ekonomi, sedangkan perlawanan aktif adalah semua usaha dan perbuatan yang secara langsung ditujukan kepada pemerintah (fiskus) yang memiliki tujuan untuk menghindari pajak. Perusahaan akan mengupayakan cara untuk dapat meminimumkan pembayaran pajaknya baik secara legal maupun ilegal. Penghindaran pajak secara legal dapat disebut dengan tax avoidance, sedangkan penghindaran pajak secara ilegal disebut dengan tax evasion.

Lim (2010) mendefinisikan bahwa penghindaran pajak yaitu sebagai penghematan pajak yang timbul dengan cara memanfaatkan ketentuan perpajakan yang telah dilakukan secara legal untuk meminimalkan kewajiban. Dyreng, et. al (2008) berpendapat bahwa tax avoidance merupakan segala bentuk kegiatan yang dapat memberikan efek terhadap kewajiban pajak, baik dari segi kegiatan yang diperbolehkan oleh pajak atau kegiatan khusus yang bertujuan untuk mengurangi pajak. Tax avoidance biasanya dilakukan dengan cara memanfaatkan kelemahan- kelemahan hukum pajak dan tidak melanggar aturan hukum perpajakan.

(3)

12

Universitas Kristen Petra Hanlon dan Heitzman (2010) menjelaskan bahwa secara teori, faktor- faktor yang mempengaruhi kepatuhan perpajakan individual maupun untuk perusahaan telah ditentukan oleh tarif pajak dan kemungkinan terdeteksinya suatu penghindaran pajak, hukuman, denda, dan tidak mau menanggung risiko. Slemrod (2004) dalam Hanlon dan Heitzman (2010) berpendapat bahwa tambahan faktor untuk perusahaan dalam mematuhi pajak yaitu terpisahnya suatu kepemilikan dan kontrol dalam perusahaan. Hal tersebut dapat menyebabkan keputusan pajak perusahaan yang dapat mencerminkan kepentingan suatu manajemen sehingga dapat menyebabkan adanya suatu penghindaran pajak perusahaan.

Tax avoidance yang dalam teori tradisional telah dianggap sebagai aktivitas untuk dapat mentransfer kesejahteraan dari negara kepada pemegang saham (Kim et. al.; 2011), oleh karena itu pemisahan atas kepemilikan dan control menjadi hal yang penting. Pemilik saham yang risk - neutral akan menerima manajer yang bertindak atas nama mereka supaya dapat mencapai profit yang maksimal, termasuk dalam mengurangi kewajiban pajak selama keuntungan yang telah diharapkan masih berada di atas biaya yang diperkirakan.

Pemisahan kepemilikan dan manajemen telah mengarahkan keputusan pajak perusahaan yang dapat mencerminkan kepentingan pribadi manajer.

Pemisahan dari kepemilikan dan pengawasan ini telah menunjukkan bahwa tax avoidance merupakan suatu aktivitas yang penting, sehingga pemilik perlu untuk merancang insentif dan pengawasan yang tepat bagi manajemen agar manajer dapat mengambil keputusan pajak yang efektif dan efisien, yaitu ketika biaya yang harus dikeluarkan masih lebih kecil daripada benefit yang akan diterima (Tryas Chasbiandani dan Dwi Martani , 2012).

Penghindaran pajak (tax avoidance) memiliki berbagai cara untuk dapat dilakukan ( Merks, 2007) sebagai berikut:

a. Subjek pajak dan/atau objek pajak dipindahkan ke negara-negara yang dapat memberikan perlakuan pajak khusus atau keringanan pajak (tax haven country) atas suatu jenis penghasilan (substantive tax planning).

b. Usaha penghindaran pajak yaitu dengan mempertahankan substansi ekonomi dari suatu transaksi melalui pemilihan formal yang dapat memberikan beban pajak yang paling rendah (formal tax planning).

(4)

13

Universitas Kristen Petra c. Ketentuan dari Anti Avoidance atas transaksi transfer pricing, thin capitalization, treaty shopping, dan controlled foreign corporation (Specific Anti Avoidance Rule), serta transaksi yang tidak memiliki substansi bisnis (General Anti Avoidance Rule).

Komite fiskal OECD (Spitz, 1983) menjelaskan bahwa telah terdapat tiga karakter dari tax avoidance yaitu :

a. Unsur yang ada di dalam karakter tax avoidance adalah artificial arrangement, dimana seolah-olah terdapat berbagai pengaturan di dalamnya padahal kenyataannya tidak, dan ini dilakukan karena ketiadaan faktor pajak.

b. Loopholes (celah) dimanfaatkan dengan sering dari undang-undang atau menerapkan ketentuan-ketentuan yang legal untuk berbagai macam tujuan yang berlawanan dari isi undang-undang sebenarnya.

c. Unsur yang ada di dalam karakter tax avoidance juga terdapat unsur kerahasiaan. Konsultan biasanya menunjuk perusahaan untuk mengurus pajak perusahaan tersebut dengan menunjukkan cara penghindaran pajak yang dapat dilakukannya dengan syarat bahwa wajib pajak harus menjaga kerahasiaannya sedalam mungkin.

Skema dari penghindaran pajak di berbagai negara menurut Darussalam (2009) dapat dibagi menjadi dua, yaitu :

a. Penghindaran pajak yang telah diperkenankan (acceptable tax avoidance).

b. Penghindaran pajak yang tidak diperkenankan (unacceptable tax avoidance).

Slemrod (2004), Chen dan Chu (2005), serta Crocker dan Slemrod (2005) menjelaskan bahwa dasar untuk dapat memahami suatu penghindaran pajak adalah dengan agency framework. Desai dan Dharmapala (2009) telah berpendapat bahwa penghindaran pajak dianggap sebagai suatu aktivitas yang dapat mentransfer kesejahteraan dari negara ke pemegang saham dan aktivitas dari penghindaran pajak akan menimbulkan suatu kesempatan bagi manajemen dalam melakukan aktivitas yang telah didesain untuk dapat menutupi berita buruk yang ada dalam perusahaan atau bahkan yang dapat menyesatkan investor.

(5)

14

Universitas Kristen Petra Penghindaran pajak yang dalam literatur keagenan, dapat memfasilitasi kesempatan manajerial untuk dapat memanipulasi laporan yang tidak sesuai, dimana aktivitas ini memunculkan suatu kesempatan bagi manajemen untuk dapat menutupi berita buruk atau yang dapat menyesatkan investor. Manajer dapat membenarkan tentang aktivitas ini dengan mengatakan ketidaktahuannya dalam meminimalkan terdeteksinya suatu aktivitas penghindaran pajak oleh pemeriksa pajak atau fiskus (Martani dan Chasbiandani, 2011).

Hanlon (2010) telah mendefinisikan tax avoidance sebagai pengurangan pajak yang secara eksplisit. Tax avoidance telah menggambarkan sebuah kelanjutan dari suatu strategi perencanaan perpajakan perusahaan. Aktivitas tax avoidance dapat memunculkan kesempatan bagi manajemen dalam melakukan suatu aktivitas yang telah didesain untuk dapat menutupi berita buruk atau yang dapat menyesatkan investor (Desai dan Dharmapala, 2006). Manajer dapat membenarkan tentang transaksi atas tax avoidance dengan mengklaim bahwa kompeksitas dan ketidaktauan dapat menjadi hal yang penting dalam meminimalkan terdeteksinya suatu aktivitas tax avoidance pemeriksa pajak.

Perbedaan antara penghindaran pajak (tax avoidance) dengan penyelundupan pajak (tax evasion) adalah jika tax avoidance tidak melanggar perundang-undangan, hanya memanfaatkan celah dari kelemahan yang ada di dalam undang-undang tersebut. Tax evasion merupakan suatu usaha yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk menghindari kewajiban perpajakannya dengan melanggar peraturan perundang-undangan yang ada (Herdiyanto, 2015).

Suandy (2011) berpendapat bahwa terdapat beberapa faktor yang memotivasi wajib pajak untuk melakukan penghematan pajak dengan ilegal:

1. Jumlah pajak yang harus dibayar. Jumlah pajak yang semakin besar yang harus dibayar maka semakin besar kecenderungan wajib pajak untuk melakukan pelanggaran.

2. Biaya untuk menyuap fiskus. Biaya yang semakin kecil untuk menyuap fiskus maka semakin besar kecenderungan wajib pajak untuk melakukan pelanggaran.

(6)

15

Universitas Kristen Petra 3. Kemungkinan untuk ketahuan. Kemungkinan yang semakin kecil dalam suatu pelanggaran yang terdeteksi maka semakin besar kecenderungan wajib pajak untuk melakukan pelanggaran.

4. Besar sanksi. Sanksi yang semakin ringan dikenakan terhadap pelanggaran maka semakin besar kecenderungan wajib pajak untuk melakukan pelanggaran.

Suandy (2011) menjelaskan setidak-tidaknya terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dalam suatu perencanaan pajak, yaitu:

1. Tidak melanggar ketentuan perpajakan. Perencanaan pajak yang dipaksakan dengan melanggar ketentuan perpajakan, bagi wajib pajak merupakan risiko pajak yang sangat berbahaya dan justru mengancam keberhasilan perencanaan pajak tersebut.

2. Perencanaan pajak merupakan bagian yang tidak terpisah dari perencanaan menyeluruh (global strategy) perusahaan, baik jangka panjang maupun jangka pendek sehingga dari segi bisnis dikatakan masuk akal. Perencanaan pajak yang tidak masuk akal akan memperlemah perencanaan itu sendiri.

3. Bukti-bukti pendukungnya memadai, misalnya dukungan perjanjian (agreement), faktur (invoice) dan juga perlakuan akuntansinya (accounting treatment).

2.2.1. Pengukuran Penghindaran Pajak Jangka Panjang (Long Run Tax Avoidance)

Tax avoidance telah membuat negara kehilangan potensi pendapatan pajak yang seharusnya dapat digunakan untuk mengurangi beban anggaran negara (Budiman dan Setiyono, 2012). Tax avoidance dalam konteks perusahaan sengaja dilakukan oleh perusahaan untuk memperkecil besarnya tingkat pembayaran pajak yang harus dilakukan dan sekaligus meningkatkan cash flow perusahaan.

Pengukukuran tax avoidance dapat menggunakan ETR yang menurut Dyreng, et. al (2008) baik digunakan untuk menggambarkan kegiatan penghindaran pajak oleh perusahaan karena ETR tidak terpengaruh dengan adanya perubahan estimasi seperti penyisihan penilaian atau perlindungan pajak. ETR

(7)

16

Universitas Kristen Petra (effective tax rate) menilai pembayaran pajak dari laporan arus kas nya, sehingga kita bisa mengetahui berapa nilai pajak yang dibayar oleh perusahaan.

Peneliti seperti Timothy (2010) dan Balakrishnan, dkk (2011) dalam Yoehana (2013), serta Lanis dan Richardson (2012) menggunakan ETR untuk mengukur penghindaran pajak. Lanis dan Richardson (2012) menyatakan bahwa terdapat beberapa alasan menggunakan ETR sebagai proksi untuk mengukur penghindaran pajak antara lain penelitian terdahulu seperti penelitian yang dilakukan oleh Slemrod (2004), Dyreng et.al (2008), serta Robinson et.al (2010) menggunakan ETR untuk mengukur penghindaran pajak.

Proksi ETR adalah proksi yang paling banyak digunakan dalam literatur, dan nilai yang rendah dari ETR dapat menjadi indikator adanya penghindaran pajak. Perusahaan-perusahaan secara keseluruhan yang menghindari pajak perusahaan dengan mengurangi penghasilan kena pajak mereka dengan tetap menjaga laba akuntansi keuangan dan memiliki nilai ETR yang lebih rendah. ETR dapat digunakan untuk mengukur penghindaran pajak. ETR semakin besar mengindikasi semakin rendah tingkat penghindaran pajak (Budiman dan Setiyono, 2012).

Penelitian ini meneliti pengaruh tax avoidance dalam jangka panjang sehingga pengukurannya menggunakan Long Run ETR. Long Run ETR adalah pengukuran tax avoidance dalam jangka panjang yang merupakan pengembangan dari pengukuran dengan ETR. Pengukuran ini merupakan model yang dikembangkan oleh Dyreng, et al.(2008). Dyreng, et. al (2008) mengembangkan pengukuran tax avoidance dengan menggunakan ukuran long run ETR.

Pengukuran ini dilakukan dalam jangka waktu yang lebih panjang, misalnya 10 tahun. Cara yang digunakan adalah dengan menjumlahkan total income tax dalam waktu 10 tahun, kemudian dibagi dengan total pre tax income dalam jangka waktu yang sama, dengan demikian pengukuran tersebut dapat menggambarkan kondisi ETR yang lebih mendekati biaya pajak perusahaan dalam jangka panjang.

2.2.2. Short Run Tax Avoidance terhadap Long Run Tax Avoidance

Peneliti ingin melihat bagaimana pengaruh antara tax avoidance jangka pendek terhadap tax avoidance jangka panjang pada perusahaan manufaktur 2010- 2013. Peneliti melakukan penelitian mengenai tax avoidance namun dengan

(8)

17

Universitas Kristen Petra menggunakan pengukuran jangka panjang (5 tahun). Penggunaan periode waktu yang panjang ini dianggap mampu menggambarkan keseluruhan dari aktivitas perencanaan pajak perusahaan, yang menunjukkan keseluruhan unsur dari tax avoidance. Penggunaan periode waktu yang panjang juga dapat digunakan untuk menguji apakah perusahaan tersebut mampu melakukan tax avoidance dalam jangka waktu yang lama secara terus menerus, serta keterkaitan tax avoidance tahunan dengan tax avoidance jangka panjang (Chasbiandani dan Martani, 2012).

Variabel short run tax avoidance dengan long run tax avoidance merupakan variabel yang berhubungan karena short run tax avoidance merupakan dasar dari long run tax avoidance.

Penghindaran pajak jangka pendek yang diukur dengan menggunakan ETR tahunan tidak dapat menggambarkan dan memprediksi atas penghindaran pajak jangka panjang, karena bukan merupakan prediktor yang baik (Dyreng et. al, 2008). Oleh sebab itu, peneliti ingin melihat apakah terdapat hubungan antara ETR jangka pendek dengan ETR jangka panjang yang diukur secara kumulatif 5 tahun.

2.2.3. Short Run Tax Avoidance dikatakan persistence atau tidak persistence Dyreng et, al (2008) melakukan penelitian yang menguji persistensi dari ETR jangka pendek yang sebagai proksi dari tax avoidance jangka pendek yang dilakukan oleh perusahaan. Dyreng et al (2008) telah menemukan bahwa ETR cenderung akan persisten pada perusahaan dengan ETR yang rendah dan ETR yang sedang. Perusahaan yang memiliki ETR yang tinggi, ETR tahunannya telah terbukti tidak persisten. Perencanaan pajak dalam perusahaan di Indonesia masih menjadi topik yang hangat dalam usaha efektivitas dan efisiensi pembayaran pajak.

2.3. Profitabilitas

Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan dalam memperoleh profit pada periode tertentu (Susanti, 2010:29). Pengertian yang sama disampaikan oleh Husnan (2001) bahwa profitabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan keuntungan (profit) pada tingkat penjualan, aset, dan modal saham tertentu. Ukuran profitabilitas dapat berbagai macam seperti laba operasi, laba bersih, tingkat pengembalian investasi atau aktiva, dan tingkat

(9)

18

Universitas Kristen Petra pengembalian ekuitas pemilik. Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba pada masa mendatang dan merupakan indikator dari keberhasilan operasi perusahaan.

Tingkat profitabilitas yang tinggi diinginkan oleh setiap perusahaan.

Perusahaan harus berada dalam keadaan yang menguntungkan (profitable) untuk dapat melangsungkan hidupnya,. Tinggi rendahnya laba yang didapat oleh perusahaan juga merupakan indikator kinerja manajemen perusahaan. Apabila perusahaan berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan, maka akan sulit bagi perusahaan untuk memperoleh pinjaman dari kreditor maupun investasi dari pihak luar (Rustam, 2013).

Analisis mengenai profitabilitas sangat penting bagi kreditor dan investor ekuitas. Bagi kreditor, laba merupakan sumber pembayaran bunga dan pokok pinjaman sedangkan bagi investor ekuitas adalah bahwa laba merupakan salah satu faktor penentu perubahan nilai efek. Hal yang terpenting bagi perusahaan adalah bagaimana laba tersebut bisa memaksimalkan pemegang saham bukan seberapa besar laba yang dihasilkan oleh perusahaan (Ayu Sri Mahatma Dewi dan Ary Wirajaya, 2013).

Profitabilitas suatu perusahaan akan mempengaruhi kebijakan para investor atas investasi yag dilakukan. Kemampuan peurusahaan untuk menghasilkan laba akan dapat menarik para investor untuk menanamkan dananya guna memperluas usahanya. Laba yang semakin tinggi didapatkan maka pemegang saham mempunyai persepsi bahwa perusahaan sudah melakukan efisiensi dalam menggunakan aset yang dimiliki, sehingga dapat menghasilkan keuntungan (Mardiyati et al, 2012:6). Sebaliknya tingkat profitabilitas yang rendah akan menyebabkan para investor menarik dananya.

Profitabilitas dapat digunakan sebagai evaluasi atas efektivitas dari pengelolaan badan usaha tersebut bagi perusahaan itu sendiri. Profitabilitas perusahaan merupakan salah satu dasar penilaian kondisi suatu perusahaan. Para investor yang menanamkan saham pada perusahaan adalah untuk mendapatkan return, yang terdiri dari yield dan capital gain. Kemampuan perusahaan yang semakin tinggi dalam memperoleh laba, maka semakin besar return yang diharapkan investor, sehingga menjadikan nilai perusahaan menjadi lebih baik.

(10)

19

Universitas Kristen Petra Dibutuhkan suatu alat analisis untuk bisa menilainya yaitu rasio profitabilitas (Hermuningsih, 2012).

2.3.1. Rasio Profitabilitas

Rasio profitabilitas mengukur efektifitas manajemen berdasarkan hasil pengembalian yang diperoleh dari penjualan dan investasi. Ang (1997) mengungkapkan bahwa rasio profitabilitas atau rasio rentabilitas menunjukkan keberhasilan dalam menghasilkan keuntungan. Analisis profitabilitas menekankan pada kemampuan perusahaan dalam mendayagunakan kekayaan yang ada untuk menghasilkan laba selang periode tertentu yang diukur melalui rasio-rasio profitabilitas, (Riyanto, 1999).

Rasio profitabilitas adalah sekelompok rasio yang menunjukkan gabungan efek-efek dari likuiditas, manajemen aktiva, dan hutang pada hasil-hasil operasi Brigham dan Houston (2001). Rasio profitabilitas (profitability ratio) menurut Van Horne dan Wachowicz (2005 : 222) adalah “rasio yang menghubungkan laba dari penjualan dan investasi”. Rasio profitabilitas mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dari kegiatan bisnis yang dilakukan.

Hasilnya adalah investor dapat melihat seberapa efisien perusahaan menggunakan asset dan dalam melakukan operasinya untuk menghasilkan keuntungan. Rasio profitabilitas merupakan hasil akhir dari sejumlah kebijakan dan keputusan yang dilakukan oleh perusahaan.

Profitabilitas juga mempunyai arti penting dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka panjang, karena profitabilitas menunjukkan apakah badan usaha tersebut mempunyai prospek yang baik di masa yang akan datang. Dengan demikian setiap badan usaha akan selalu berusaha meningkatkan profitabilitasnya, karena semakin tinggi tingkat profitabilitas suatu badan usaha maka kelangsungan hidup badan usaha tersebut akan lebih terjamin (Hermuningsih, 2013).

Return on asset (ROA) merupakan bagian dari rasio profitabilitas yang ada kaitannya dengan investasi (Ang, 1997:18.33). Pengukuran profitabilitas dalam penelitian ini digunakan return on investment (ROI). ROI merupakan tingkat pengembalian atas investasi perusahaan pada aktiva. ROI sering disebut juga return on asset (ROA) . Nilai ROI sebuah perusahaan diperoleh dengan rumus:

(11)

20

Universitas Kristen Petra ROA = Laba Bersih / Jumlah aktiva perusahaan

ROA merupakan perbandingan laba bersih dengan jumlah aktiva perusahaan. Ang (1997:18.33) berpendapat bahwa Return on Assets (ROA) ini termasuk dalam salah satu rasio profitabilitas dalam mengukur kinerja keuangan perusahaan. ROA menunjukkan rasio laba setelah pajak terhadap total aktiva.

Tingkat rendahnya Return on Assets perusahaan selain tergantung pada keputusan perusahaan dalam alokasi dana yang mereka miliki pada berbagai bentuk investasi atau aktiva (keputusan investasi) juga tergantung pada tingkat efisiensi pengguna aktiva perusahaan. Penggunaan aktiva yang tidak efisien seperti banyaknya dana menganggur dalam persediaan, lamanya dana tertanam dalam piutang, berlebihnya uang kas, aktiva tetap beroperasi dibawah kapasitas normal, dan lain sebagainya akan berakibat pada rendahnya rasio ini, demikian pula sebaliknya.

ROA menunjukkann efektifitas perusahaan dalam mengelola aktiva baik modal sendiri maupun dari modal pinjaman, investor akan melihat seberapa efektif perusahaan dalam mengelola aset. Ang (1997:18.33) berpendapat bahwa semakin besar ROA menunjukan kinerja yang semakin baik, karena tingkat kembaliannya semakin besar. ROA yang semakin tinggi dapat meningkatkan daya tarik investor sehingga harga saham meningkat.

Return on Assets yang positif menunjukkan bahwa total aktiva yang digunakan untuk operasi perusahaan mampu memberikan laba bagi perusahaan.

Return on Assets yang negatif menunjukkan bahwa total aktiva yang digunakan perusahaan telah mengalami kerugian. Hal ini menunjukan kemampuan dari modal yang dinvestasikan secara keseluruhan belum mampu untuk menghasilkan laba (Kieso, et.al., 2005:780).

Rasio ini paling sering disoroti dalam analisis laporan keuangan karena mampu menunjukkan keberhasilan perusahaan menghasilkan keuntungan. ROA mampu mengukur kemampuan perusahaan manghasilkan keuntungan pada masa lampau untuk kemudian diproyeksikan di masa yang akan datang. Assets atau aktiva yang dimaksud adalah keseluruhan harta perusahaan, yang diperoleh dari modal sendiri maupun dari modal asing yang telah diubah perusahaan menjadi aktiva-aktiva perusahaan yang digunakan untuk kelangsungan hidup perusahaan (Abdul Halim 2003:159)

(12)

21

Universitas Kristen Petra Peneliti dalam penelitian ini memilih untuk menggunakan ROA sebagai alat pengukur dari profitabilitas karena ROA mempunyai keunggulan.

Keunggulan ROA menurut Linawati (2006) adalah bahwa ROA merupakan pengukuran yang komprehensip dimana seluruhnya mempengaruhi laporan keuangan yang tercermin dari rasio ini, ROA mudah dihitung, dipahami, dan sangat berarti dalam nilai absoulut, dan ROA merupakan denominator yang dapat diterapkan pada setiap unit organisasi yang bertanggung jawab terhadap profitabilitas dan unit usaha.

2.4. Nilai Perusahaan

Nilai perusahaan diciptakan oleh perusahaan melalui kegiatan perusahaan dari waktu ke waktu agar mencapai nilai perusahaan yang maksimum di atas nilai buku (Lifessy, 2011). Penilaian terhadap suatu perusahaan dalam bidang akuntansi dan keuangan sekarang ini masih beragam. Di suatu pihak, nilai perusahaan ditunjukkan dengan laporan keuangan perusahaan, khususnya neraca yang berisi informasi keuangan masa lalu, sementara pihak lain beranggapan bahwa nilai suatu perusahaan tergambar dari nilai saham perusahaan. Nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap perusahaan yang sering dikaitkan dengan harga saham. Harga saham yang tinggi membuat nilai perusahaan juga tinggi.

Tujuan jangka panjang dari perusahaan adalah mengoptimalkan nilai perusahaan (Wahyudi dan Pawestri, 2006). Andri dan Hanung (2007) dalam Nica Febrina (2010: 5) berpendapat bahwa nilai perusahaan adalah nilai jual perusahaan atau nilai tumbuh bagi pemegang saham, nilai perusahaan akan tercermin dari harga pasar sahamnya. Harga saham yang semakin tinggi berarti semakin tinggi tingkat pengembalian kepada investor dan itu berarti semakin tinggi juga nilai perusahaan terkait dengan tujuan dari perusahaan itu sendiri, yaitu untuk memaksimalkan kemakmuran pemegang saham (Gultom dan Syarif, 2008). Nilai perusahaan dapat memberikan kemakmuran pemegang saham secara maksimum apabila harga saham perusahaan meningkat. Harga saham yang semakin tinggi maka semakin tinggi juga kemakmuran pemegang saham (Sari, 2010).

(13)

22

Universitas Kristen Petra Kenaikan nilai perusahaan dapat menggambarkan kesejahteraan pemilik perusahaan, sehingga pemilik perusahaan berupaya untuk bekerja lebih keras dengan menggunakan berbagai intensif untuk memaksimalkan nilai perusahaan dengan cara mendorong manajer. Perusahaan yang telah go public maka nilai pasar wajar perusahaan ditentukan mekanisme permintaan dan penawaran di bursa, yang tercermin dalam listing price. Harga pasar merupakan gambaran berbagai keputusan dan kebijakan manajemen. Nilai perusahaan yang belum go public nilainya terealisasi apabila perusahaan akan dijual (total aktiva dan prospek perusahaan, risiko usaha, lingkungan usaha, dan lain-lain) (Muhsyi, 2014).

Harga pasar dari saham perusahaan yang terbentuk antara pembeli dan penjual disaat terjadi transaksi disebut nilai pasar perusahaan, karena harga pasar saham dianggap cerminan dari nilai aset perusahaan sesungguhnya (Sartono, 2001). Nilai perusahaan yang dibentuk melalui indikator nilai pasar saham sangat dipengaruhi oleh peluang-peluang investasi. Horngren dan Harrison (2007) menyatakan adanya peluang investasi dapat memberikan sinyal positif tentang pertumbuhan perusahaan dimasa yang akan datang, sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan.

Nilai perusahaan merupakan perbandingan antara nilai pasar dengan nilai buku perusahaan per sahamnya (Ross et al, 2008:54). Pemegang saham menilai dengan bersedia untuk membeli saham pada harga tertentu dengan persepsi dan keyakinannya (Sukirno, 2012:3). Nilai suatu perusahaan terkait pada harga sahamnya juga didefinisikan oleh (Sujoko dan Soebiantoro, 2007: 43), menyatakan bahwa nilai perusahaan sebagai persepsi pemegang saham terhadap perusahaan dan sering dikaitkan dengan harga saham.

Tandelilin (2001) berpendapat bahwa dalam penilaian saham dikenal ada tiga jenis nilai, yaitu nilai buku, nilai pasar dan nilai intrinsik. Martalina (2011) berpendapat beberapa konsep nilai yang menjelaskan nilai suatu perusahaan adalah nilai nominal, nilai pasar, nilai intrinsik, nilai buku dan nilai likuidasi.

Martalina (2011) menjelaskan bahwa nilai nominal adalah nilai yang tercantum secara formal dalam anggaran dasar perseroan, disebutkan secara eksplisit dalam neraca perusahaan dan juga ditulis jelas dalam surat saham kolektif. Nilai pasar adalah harga yang terjadi dari proses tawar menawar di pasar

(14)

23

Universitas Kristen Petra saham. Nilai ini hanya bisa ditentukan jika saham perusahaan dijual di pasar saham. Nilai pasar merupakan nilai perusahaan, karena nilai perusahaan yang dapat memberikan kemakmuran pemegang saham secara maksimum apabila harga saham perusahaan meningkat.

Nilai intrinsik merupakan konsep yang paling abstrak, karena mengacu pada perkiraan nilai riil suatu perusahaan sedangkan nilai buku adalah nilai perusahaan yang dihitung dengan dasar konsep akuntansi. Secara sederhana dihitung dengan membagi selisih antara total aktiva dan total utang dengan jumlah saham yang beredar. Nilai likuidasi adalah nilai jual seluruh aset perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban yang harus dipenuhi. Nilai sisa merupakan bagian para pemegang saham (Martalina, 2011).

Martalina (2011) menyatakan bahwa nilai pemegang saham akan meningkat apabila nilai perusahaan meningkat yang ditandai dengan tingkat pengembalian investasi yang tinggi kepada pemegang saham. Nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap perusahaan yang sering dikaitkan dengan harga saham. Harga saham yang tinggi membuat nilai perusahaan juga tinggi.

“Harga saham merupakan harga yang terjadi pada saat saham diperdagangkan di pasar “ (Martalina, 2011).

Penilaian perusahaan (corporate value) merupakan bagian penting dalam proses privatisasi perusahaan. Proses ini seringkali hanya memperhatikan aspek keuangan yang terfokus pada nilai aset fisik (tangible asset) yang direfleksikan dalam bentuk laporan balance sheeets dan income statement. Nilai potensial suatu perusahaan dapat dilihat atas dua hal, yaitu modal keuangan dan modal intelektual. Para CEO perusahaan seringkali hanya memperhatikan aspek modal keuangan, sementara peranan modal intelektual menjadi suatu keharusan dalam paradigma organisasi di era global (Nofrita, 2013).

Terdapat beberapa konsep dasar dalam penilaian perusahaan yaitu dengan nilai yang ditentukan untuk suatu waktu ada periode tertentu, nilai harus ditentukan pada harga yang wajar, penilaian tidak dipengaruhi oleh kelompok pembeli tertentu. Kusumadilaga (2010) dalam penelitiannya menyebutkan metode dan teknik dalam penilaian perusahaan yang mana sudah banyak dikembangkan oleh peneliti lainnya, yaitu :

(15)

24

Universitas Kristen Petra a. Pendekatan laba antara lain metode rasio tingkat laba atau price

earning ratio, metode kapitalisasi proyek laba,

b. Pendekatan arus kas antara lain metode diskonto arus kas, c. Pendekatan dividen antara lain metode pertumbuhan dividen, d. Pendekatan aktiva antara lain metode penilaian aktiva, e. Pendekatan harga saham, dan

f. Pendekatan economic added value 2.4.1. Pengukuran Nilai Perusahaan

Nilai perusahaan dapat diartikan sebagai tingkat ekspektasi nilai investasi pemegang saham (harga pasar ekuitas) ataupun ekspektasi nilai total perusahaan (harga pasar ekuitas dijumlahkan dengan nilai pasar utang), ataupun ekspektasi nilai pasar aktiva. Nilai perusahaan dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan Tobin’s Q. Rasio ini dikembangkan oleh James Tobin (1967) dan dinilai dapat memberikan informasi yang paling baik, karena rasio ini dapat menjelaskan berbagai fenomena yang terjadi dalam kegiatan perusahaan seperti terjadinya perbedaan crossectional dalam pengambilan keputusan investasi. Rasio ini dinilai dapat memberikan informasi yang paling baik, karena dapat menjelaskan berbagai fenomena dalam kegiatan perusahaan seperti terjadinya perbedaan crossectional dalam pengambilan keputusan investasi dan diversifikasi, hubungan antar kepemilikan saham manajemen dan nilai perusahaan (Sukamulja, 2004).

Brealy dan Myers (2000) dalam Sukamulja (2004) menyebutkan bahwa perusahaan dengan nilai Q yang tinggi biasanya memiliki brand image perusahaan yang sangat kuat, namun pada perusahaan dengan nilai Q yang rendah umumnya berada pada industri yang sangat kompetitif atau industri yang mulai mengecil.

Rasio ini merupakan konsep yang berharga karena dapat menunjukkan estimasi pasar keuangan saat ini tentang nilai hasil pengembalian setiap dana yang diinvestasikan (Herawati, 2008). Nilai Tobin’s Q yang semakin besar menunjukkan bahwa perusahaan memiliki prospek pertumbuhan yang baik. Hal ini dapat terjadi karena semakin besar nilai pasar aset perusahaan dibandingkan dengan nilai buku aset perusahaan maka semakin besar kerelaan investor untuk

(16)

25

Universitas Kristen Petra mengeluarkan pengorbanan yang lebih untuk memiliki perusahaan tersebut (Sukamulja, 2004). Pernyataan tersebut dengan menggunakan rasio, yaitu jika rasio-Q diatas satu, ini menunjukkan bahwa investasi dalam aktiva menghasilkan laba yang memberikan nilai yang lebih tinggi daripada pengeluaran investasi sehingga akan menarik munculnya investasi baru, sedangkan jika rasio-Q dibawah satu menunjukkan bahwa investasi dalam aktiva tidak menarik investor untuk memberikan investasinya yang baru.

2.5. Hubungan Antar Konsep

Berdasarkan teori penunjang yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, diketahui bahwa variabel yang digunakan dalam penelitian ini ialah tax avoidance, profitabilitas dan nilai perusahaan. Terdapat berbagai macam teori untuk mengukur tiap-tiap variabel, yang diambil dapat benar-benar mendukung penelitian ini dengan baik, sehingga peneliti memilih teori yang sesuai dengan ruang lingkup, objek, dan tujuan penelitian. Selanjutnya, untuk mengetahui apa saja yang mempengaruhi nilai perusahaan, peneliti harus mengerti hubungan antar konsep. Berikut adalah beberapa hal yang menurut peneliti dapat mempengaruhi nilai perusahaan.

2.5.1. Hubungan antara Tax Avoidance Jangka Pendek dengan Tax Avoidance Jangka Panjang

Dyreng, et.al (2008) melakukan penelitian mengenai tax avoidance namun dengan pengukuran jangka panjang (10 tahun). Penggunaan periode waktu yang panjang ini dianggap mampu menggambarkan keseluruan aktivitas perencanaan pajak perusahaan, yang menunjukkan keseluruhan unsur dari tax avoidance.

Penggunaan periode waktu yang panjang juga dapat digunakan untuk menguji apakah perusahaan mampu melakukan tax avoidance dalam jangka waktu yang lama secara terus menerus, serta keterkaitan tax avoidance tahunan dengan tax avoidance jangka panjang (Chasbiandani dan Martani, 2012).

Penghindaran pajak jangka pendek yang diukur dengan ETR tahunan tidak dapat menggambarkan dan memprediksi atas penghindaran pajak jangka panjang, karena bukan merupakan prediktor yang baik (Dyreng et .al, 2008). Oleh sebab itu, peneliti ingin melihat apakah terdapat hubungan antara ETR jangka pendek dengan ETR jangka panjang yang diukur secara kumulatif 5 tahun. Dyreng et .al,

(17)

26

Universitas Kristen Petra (2008) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara ETR tahunan dengan pengukuran ETR jangka panjang.

Didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Tryas Chasbiandani dan Dwi Martani (2012) dengan judul “Pengaruh Tax Avoidance Jangka Panjang terhadap Nilai Perusahaan” dimana Short run tax avoidance berpengaruh positif terhadap long run tax avoidance. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dyreng et. al yang menyatakan bahwa short run tax avoidance berpengaruh positif terhadap long run tax avoidance. Perilaku tax avoidance jangka pendek pada perusahaan di Indonesia bersifat persisten dari tahun ke tahun. Penelitian Tryas Chasbiandani dan Dwi Martani (2012) ini menggunakan periode 10 tahun, yaitu dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2010.

2.5.2. Tax Avoidance Jangka Pendek persistence dari waktu ke waktu

Penelitian yang dilakukan oleh Dyreng et, al (2008) juga menguji persistensi dari ETR jangka pendek sebagai proksi dari tax avoidance jangka pendek yang dilakukan oleh perusahaan. Dyreng et al menemukan bahwa ETR cenderung persisten pada perusahaan dengan ETR rendah dan ETR sedang.

Perusahaan dengan ETR yang tinggi, ETR tahunannya terbukti tidak persisten.

Perencanaan pajak dalam perusahaan di Indonesia masih menjadi topik yang hangat dalam usaha efektivitas dan efisiensi pembayaran pajak.

2.5.3. Hubungan antara Tax Avoidance Jangka Panjang dengan Nilai Perusahaan

Para pemegang saham menginginkan supaya perusahaaan memiliki nilai perusahaan yang maksimal. Investor akan cenderung menanamkan modalnya dengan melihat laba bersih perusahaan yang akan menggambarkan nilai perusahaan itu sendiri, sehingga manajer secara tidak langsung dituntut bagaimana untuk memaksimalkan nilai perusahaan tersebut salah satu caranya dengan melakukan penghindaran pajak (Ari Putra Permata Simarmata dan Nur Cahyonowati, 2014).

Desai dan Dharmapala (2009) mengatakan sudut pandang tradisional terhadap penghindaran pajak perusahaan menunjukkan bahwa nilai pemegang saham seharusnya meningkat seiring dengan aktifitas penghindaran pajak perusahaan, namun hal itu berbeda bila dilihat dari sudut pandang manajer

(18)

27

Universitas Kristen Petra perusahaan terhadap penghindaran pajak, dimana perusahaan akan memberikan prediksi yang berbeda. Perspektif manajer atas penghindaran pajak mengatakan penghindaran pajak tidak selalu diinginkan oleh pemegang saham karena terdapat biaya yang harus dikeluarkan di waktu yang akan datang, seperti biaya yang dikeluarkan untuk perencanaan pajak, tambahan biaya kepatuhan (Wang, 2010).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Tryas Chasbiandani dan Dwi Martani (2012) dengan judul “Pengaruh Tax Avoidance Jangka Panjang terhadap Nilai Perusahaan” dimana long run tax avoidance berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan.

Didukung juga oleh penelitian yang dilakukan oleh Ari Putra Permata Simarmata dan Nur Cahyonowati (2014) dengan judul “Pengaruh Tax Avoidance Jangka Panjang terhadap Nilai Perusahaan dengan Kepemilikan Institusional sebagai Variabel Pemoderasi” dimana long run tax avoidance berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan.

2.5.4. Hubungan Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan

Pertumbuhan profitabilitas yang semakin baik berarti prospek perusahaan di masa depan dinilai semakin baik juga, artinya semakin baik pula nilai perusahaan dimata investor. Apabila kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba meningkat, maka harga saham juga akan meningkat (Husnan, 2001:317).

Harga saham yang meningkat mencerminkan nilai perusahaan yang baik bagi investor.

Berdasarkan pada penelitian yang telah dilakukan oleh Ria Nofrita (2013) dengan judul “Pengaruh Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan dengan Kebijakan Deviden sebagai Variabel Intervening” menemukan bahwa profitabilitas berpengaruh signifikan positif terhadap nilai perusahaan.

Hal tersebut berarti bahwa apabila profitabilitas semakin meningkat maka nilai perusahaan tersebut juga akan meningkat. Hal ini sesuai dengan teori Weston dan Brigham (2001) yang menyatakan bahwa profitabilitas yang diukur dengan ROA yang tinggi mencerminkan posisi perusahaan yang bagus sehingga nilai yang diberikan pasar yang tercermin pada harga saham terhadap perusahaan tersebut juga akan bagus.

(19)

28

Universitas Kristen Petra Didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Dwi Retno Wulandari (2014) dengan judul “Pengaruh Profitabilitas, Operating Leverage, Likuiditas terhadap Nilai Perusahaan dengan Struktur Modal sebagai Intervening” dimana profitabilitas berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

Didukung juga oleh penelitian yang dilakukan oleh Li-Ju Chen dan Shun- Yu Chen (2011) dengan judul “The influence of profitability on firm value with capital structure as the mediator and firm size and industry as moderators”

dimana profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

2.6. Hipotesa

H1 : Diduga ada pengaruh tax avoidance jangka pendek terhadap tax avoidance jangka panjang.

H2 : Diduga short run tax avoidance perusahaan persistence dari waktu ke waktu.

H3 : Diduga ada pengaruh tax avoidance terhadap nilai perusahaan.

H4 : Diduga ada pengaruh antara profitabilitas terhadap nilai perusahaan.

2.7. Kerangka Berpikir

H1 H3

H2

H4

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir Hipotesis SRTAt+1

SRTA

Nilai Perusahaan

Profitabilitas Long Run Tax

Avoidance

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir Hipotesis SRTAt+1

Referensi

Dokumen terkait

Yang dimaksud dengan subjek pajak bentuk usaha tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia

Persepsi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah persepsi objek dimana stimulus yang akan dipersepsikan adalah pajak, dengan hal ini yang ingin diketahui adalah Pengaruh

Memperhitungkan nilai kebutuhan bulanan dari seseorang yang bergantung terhadap penghasilan dari orang lain, yang apabila nilai tersebut diinvestasikan ke dalam

Sedangkan dikatakan opportunistic apabila insentif manajer dan pemegang saham yang tidak terarah memicu manajer untuk menggunakan fleksibilitas yang diberikan oleh

Ada beberapa bentuk pola hubungan antara arsitektur dan struktur, Macdonald membagi pola hubungan tersebut dalam dua ekstrim, yaitu perancangan bangunan yang sama

Sehingga teori-teori ini dapat digunakan sebagai dasar pedoman untuk membuktikan bahwa intellectual capital berpengaruh terhadap competitive advantage melalui

Ditambah dengan penelitian yang dilakukan oleh Muksin dan Sunarti (2018) dengan judul “Pengaruh Motivasi Terhadap Keputusan Berkunjung wisatawan di Ekowisata Mangrove

Oleh karena itu, semakin besar kepemilikan institusional dalam sebuah perusahaan maka semakin besar tujuan investor institusional ini untuk memperoleh laba