11
Universitas Kristen Petra
2. LANDASAN TEORI
2.1 Agency Theory Versus Stewardship Theory
Dua teori yang terkait dengan corporate governance adalah agency theory dan stewardship theory (Chinn, 2000; Shaw, 2003). Stewardship theory dibangun berdasarkan asumsi filosofis mengenai sifat manusia yakni bahwa manusia pada hakekatnya dapat dipercaya, mampu bertindak dengan penuh tanggung jawab, memiliki integritas dan kejujuran terhadap pihak lain. Dengan kata lain, stewardship theory memandang manajemen sebagai dapat dipercaya untuk bertindak dengan sebaik-baiknya bagi kepentingan publik maupun stakeholder (Davis, Schoorman & Donaldson, 1997). Manager disebut sebagai good steward, dimana merupakan suatu kesatuan dalam team players dan manager tidak dimotivasi oleh kepentingan individual, namun manager bersama-sama menyatukan diri dengan tujuan dan kepentingan principal-nya. Perilaku manager dikatakan jauh dari istilah opportunistic behavior, dimana manager pada dasarnya ingin melakukan suatu pekerjaan dengan sangat baik sehingga dapat menjadi steward yang baik. Selain itu, seorang steward memiliki cooperative behavior, sehingga steward akan berperilaku sesuai dengan yang seharusnya dimana akan berusaha untuk mencapai tujuan perusahaan (misalnya melalui peningkatan profitabilitas) sehingga akan memberikan keuntungan kepada principal-nya.
Dalam stewardship theory ini, corporate governance berfokus pada struktur yang menfasilitasi dan memberdayakan para managers dibandingkan dengan melakukan monitor dan control dalam agency theory (Davis et al., 1997).
Sedangkan konsep agency theory didasari pada permasalahan agensi yang muncul ketika pengurusan suatu perusahaan terpisah dari kepemilikannya. Agency theory dikemukakan oleh Jensen dan Meckling (1976), merupakan teori yang menjelaskan hubungan keagenan (agency relationship) yang muncul ketika satu orang atau lebih (principal) mempekerjakan orang lain (agent) untuk memberikan suatu jasa dan kemudian mendelegasikan wewenang pengambilan keputusan kepada agent tersebut. Sebagai agent (manajer) bertanggung jawab untuk mengoptimalkan keuntungan para pemilik (principal) dengan berkewajiban
12
Universitas Kristen Petra
memberikan informasi mengenai kondisi perusahaan kepada pemilik (principal).
Salah satu infomasinya seperti laporan keuangan perusahaan. Namun hal ini dapat menimbulkan masalah seperti hubungan antara pemilik (principal) dengan agent dapat mengarah kepada ketidakseimbangan informasi (asymmetrical information).
Hal ini dikarenakan selain memandang bahwa manajemen perusahaan sebagai agents bagi para pemegang saham, akan bertindak dengan penuh kesadaran untuk memaksimumkan kepentingannya sendiri, bukan sebagai pihak yang arif dan bijaksana serta adil terhadap pemegang saham. Dengan menggunakan posisi agent yang cenderung memiliki informasi lebih banyak tentang perusahaan dibandingkan dengan pemilik (principal). Dimana posisi agent perusahaan berada pada pihak yang paling mengetahui keadaan perusahaan yang sesungguhnya karena setiap hari terlibat secara langsung dalam kegiatan perusahaan. Sedangkan pemilik (principal) hanya mengandalkan laporan dari pihak agent untuk mengetahui keadaan perusahaan pada saat itu. Sehingga hal tersebut dapat mendorong agent untuk menyembunyikan informasi yang tidak diketahui pemilik dengan cara mempengaruhi angka-angka akuntansi yang disajikan dalam laporan keuangan (La Porta, L´opez-de-Silanes, Shleifer & Vishny 2002; Albuquerque &
Wang, 2007).
Salah satu mekanisme yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah keagenan tersebut adalah corporate governance. Corporate governance memiliki prinsip-prinsip dasar pengelolaan perusahaan yang baik sehingga diharapkan dapat berfungsi sebagai alat untuk mengurangi ketidakseimbangan informasi yang terjadi antara pemilik (principal) dengan agent, serta dapat memberikan keyakinan kepada investor bahwa mereka akan mendapakan informasi yang sama dan menerima pengembalian atas dana yang telah diinvestasikan (Aras &
Crowther, 2008).
2.2 Signaling Theory
Signaling theory sangat erat kaitannya dengan agency theory. Hal ini dikarenakan dalam hubungan keagenan akan timbul ketidakseimbangan informasi, sehingga pengungkapan suatu informasi sangat diperlukan sebagai upaya pensinyalan yang dilakukan oleh agen kepada prinsipal. Suatu
13
Universitas Kristen Petra
pengungkapan dikatakan mengandung informasi apabila dapat memicu reaksi pasar, yaitu dapat berupa perubahan harga saham atau abnormal return. Apabila pengungkapan tersebut memberikan dampak positif berupa kenaikan harga saham, maka pengungkapan tersebut merupakan sinyal positif. Namun jika pengungkapan tersebut memberikan dampak negatif, maka pengungkapan tersebut merupakan sinyal negatif (Abdolmohammadi, 2005). Salah satu cara penyampaian sinyal tersebut yaitu melalui annual report, karena dalam annual report mencakup informasi keuangan maupun non keuangan yang berguna sebagai alat pengawasan dan mengandung informasi penting yang dapat mempengaruhi investor dalam proses pengambilan keputusan.
Menurut Inchausti (1997), teori signaling menyatakan bahwa perusahaan lebih menguntungkan jika perusahaan tersebut mengungkapan lebih untuk menginformasikan kepada stakeholder tentang kinerja yang baik. Menurut Miller dan Whiting (2005), signaling theory mengindikasikan bahwa perusahaan termotivasi untuk mengungkapkan private information secara sukarela dengan berusaha menunjukkan sinyal berupa informasi penting yang positif mengenai kinerja perusahaan melalui pengungkapan dalam laporan keuangan kepada pihak di luar perusahaan seperti investor dalam keputusan investasinya. Informasi tersebut merupakan unsur penting bagi investor dan pelaku bisnis karena informasi pada hakekatnya menyajikan keterangan, catatan atau gambaran baik untuk keadaan masa lalu, saat ini maupun keadaan masa yang akan datang bagi kelangsungan hidup perusahaan dan efek pasarnya. Informasi yang lengkap, relevan, akurat dan tepat waktu sangat diperlukan oleh investor di pasar modal sebagai alat analisis untuk mengambil keputusan investasi (Leland & Pyle, 1977).
Sinyal positif inilah diharapkan akan mendapatkan respon positif dari pasar, sehingga dapat memberikan keuntungan kompetitif serta memberikan nilai yang lebih tinggi bagi perusahaan. Williams (2001) dan Miller dan Whiting (2005) menyatakan bahwa pengungkapan sukarela mengenai modal intelektual memungkinkan investor dan stakeholder lainnya untuk lebih baik dalam menilai kemampuan perusahaan di masa depan, melakukan penilaian yang tepat terhadap perusahaan, dan mengurangi persepsi risiko mereka. Selain itu, pengungkapan ini juga dapat meningkatkan nilai perusahaan.
14
Universitas Kristen Petra
2.3 Good Corporate Governance (GCG)
Secara teoritis, penerapan good corporate governance (GCG) dapat meningkatkan nilai perusahaan karena dengan adanya penerapan GCG yang baik dapat mengurangi resiko yang mungkin dilakukan oleh seseorang dengan keputusan-keputusan yang dapat menguntungkan dirinya sendiri, dan umumnya corporate governance dapat meningkatkan tingkat kepercayaan para investor (Newell & Wilson, 2002). Terdapat banyak definisi tentang corporate governance yang dipengaruhi oleh teori yang melandasinya. Salah satunya adalah menurut Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI, 2002) dan menurut Organization for Economic Corporation and Development (OECD, 2004) mendefinisikan sebagai seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antar pihak yang berkepentingan (Stakeholder) dan mengendalikan perusahaan.
Hubungan antara pihak yang berkepentingan ini antara lain hubungan antara pemegang, pengelola (pengurus) perusahaan, pihak kreditur, pemerintahan, karyawan, serta pemegang kepentingan internal dan eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka demi tercapainya tujuan perusahaan. GCG dimaksudkan untuk mengatur hubungan-hubungan dan mencegah terjadinya kesalahan-kesalahan signifikan dalam strategi perusahaan serta memastikan bahwa kesalahan-kesalahan yang terjadi dapat segera diperbaiki.
Selain itu, menurut Velnampy (2013), corporate governance merupakan suatu sistem yang terdiri dari sekumpulan struktur, prosedur, dan mekanisme yang dirancang untuk pengelolaan perusahaan dengan berlandaskan prinsip akuntabilitas yang dapat meningkatkan nilai perusahaan dalam jangka panjang.
Dari beberapa definisi yang dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa good corporate governance (GCG) merupakan sistem, proses dan seperangkat peraturan yang mengatur dan mengendalikan perusahaan yang menciptakan hubungan yang baik dan menjadi nilai tambah (value added) untuk semua stakeholder yang terkait dalam perusahaan (Monks & Minow, 2003).
Beberapa manfaat yang dapat diambil dari penerapan corporate governance, antara lain meningkatkan kinerja perusahaan dan corporate value, mempermudah mendapatkan kepercayaan investor untuk kembali menanamkan modalnya, dana pembiayaan menjadi lebih murah dyeran juga pemegang saham
15
Universitas Kristen Petra
akan merasa puas dengan kinerja perusahaan karena sekaligus akan meningkatkan shareholder’s value dan dividen (FCGI, 2002).
2.3.1 Prinsip-prinsip Good Corporate Governance
Setiap perusahaan harus memastikan bahwa prinsip GCG diterapkan pada setiap aspek bisnis dan disemua jajaran perusahaan. Lima prinsip dasar dari corporate governance yang disusun oleh Organization for Economic Corporation and Development (OECD, 2004) yaitu keterbukaan (transparancy), akuntanbilitas (accountability), pertanggungjawaban (responsibility), kemandirian (independency), kewajaran (fairness).
1. Keterbukaan (transparency)
Maksud dari keterbukaan (transparency) adalah keterbukaan informasi (disclosure) dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengungkapkan informasi materiil dan relevan mengenai perusahaan. Prinsip dasar transparansi berhubungan dengan kualitas informasi yang disajikan oleh perusahaan. Dalam prinsip ini, perusahaan harus menyediakan informasi yang harus diungkapkan secara teratur, tepat waktu (timely basis) dan benar (akurat) kepada berbagai pihak yang berkepentingan dengan perusahaan tersebut. Informasi yang di berikan berupa keadaaan keuangan, kinerja keuangan dan kepemilikan perusahaan. Hal ini dilakukan agar pemegang saham dan orang lain mengetahui keadaan perusahaan sehingga nilai pemegang saham dapat ditingkatkan. Selain itu, para investor dapat mengakses informasi penting perusahaan secara mudah pada saat diperlukan karena kualitas informasi yang disampaikan perusahaan akan sangat berpengaruh terhadap kepercayaan investor.
2. Akuntabilitas (accountability)
Akuntabilitas (accountability) yaitu menciptakan sistem pengawasan untuk melihat kejelasan fungsi, struktur, sistem dan pertanggungjawaban organisasi perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif. Prinsip ini memuat kewenangan-kewenangan dan keseimbangan kekuasaan antar dewan komisaris, dewan direksi, pemegang saham dan juga pengawas.
16
Universitas Kristen Petra
3. Pertanggungjawaban (responsibility)
Maksud dari pertanggungjawaban (responsibility) yaitu kepatuhan di dalam pengelolaan perusahaan terhadap prinsip dan peraturan yang berlaku termasuk tanggap terhadap lingkungan dimana perusahaan berada. Prinsip ini menekankan pada adanya sistem yang jelas untuk mengatur mekanisme pertanggungjawaban perusahaan kepada pemegang saham dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.
4. Kemandirian (independency)
Kemandirian (independency) yaitu suatu keadaan dimana perusahaan dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh atau tekanan dari pihak manajemen yang tidak sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.
5. Kewajaran dan kesetaraan (fairness)
Kewajaran dan kesetaraan (fairness) yaitu perlakukan yang adil dan setara dalam memenuhi hak-hak dari stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian serta peraturan perundangan yang berlaku. Prinsip ini menekankan pada jaminan perlindungan hak dari pemegang saham. Seluruh pemangku kepentingan harus memiliki kesempatan untuk mendapatkan perlakukan yang adil dari perusahaan.
2.3.2 Indikator Good Corporate Governance
Corporate governance dibagi atas dua struktur yaitu ownership structure yang merupakan adanya kepemilikan saham internal dan kepemilikan saham eksternal, dan juga board structure yang meliputi board size, proportion of outside director, board independence, dan gender diversity (Ehikioya, 2009;
Fauzi & Locke, 2012).
Dalam penelitian ini, corporate governance yang digunakan berdasarkan mekanisme pengendalian internal perusahaan yaitu melalui ownership structure yang digunakan adalah managerial ownership (kepemilikan manajerial), dan melalui board structure yang digunakan adalah board size, board independence dan gender diversity. Di Indonesia menggunakan sistem dua tingkat (two tier board) dimana sistem ini merupakan badan yang terpisah yaitu dewan komisaris (dewan pengawas) dan dewan direksi (dewan manajemen) (IFC Advisory
17
Universitas Kristen Petra
Services in Indonesia, 2014; Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG), 2006). Selain itu, menurut KNKG (2006) dewan komisaris merupakan mekanisme penggendalian internal tertinggi yang bertanggung jawab secara kolektif. Sehingga, istilah yang ada didalam penelitian ini akan disesuaikan dengan konteks di Indonesia, yaitu board of directors diluar Indonesia dianggap setara dengan dewan komisaris.
2.3.2.1 Ownership Structure
2.3.2.1.1 Managerial Ownership
Menurut Downes dan Goodman (1998), kepemilikan manajerial adalah para pemegang saham yang juga berarti dalam hal ini sebagai pemilik dalam perusahaan dari pihak manajemen yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan pada suatu perusahaan yang bersangkutan.
Kepemilikan manajerial adalah situasi dimana manajer memiliki saham perusahaan atau dengan kata lain manajer tersebut sekaligus sebagai pemegang saham perusahaan (Christiawan & Tarigan, 2007).
Dalam teori keagenan dijelaskan bahwa kepentingan manajemen dan kepentingan pemegang saham mungkin bertentangan. Hal tersebut disebabkan manajer mengutamakan kepentingan pribadi, sebaliknya pemegang saham tidak menyukai kepentingan pribadi manajer tersebut, karena pengeluaran tersebut akan menambah biaya perusahaan yang menyebabkan penurunan keuntungan perusahaan dan penurunan deviden yang akan diterima. Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa pemisahan antara kepemilikan perusahaan dan pengelolaan perusahaan akan menimbulkan benturan kepentingan antara pemegang saham dan pihak manajemen. Benturan kepentingan meningkat seiring keinginan manajemen memaksimalkan keuntungan mereka sendiri. Oleh karena itu, kepemilikan manajerial dipandang dapat meluruskan kembali kepentingan manajemen sejalan dengan kepentingan pemegang saham (Palia &
Licthenberg, 1999). Pihak manajemen bertindak sekaligus pemegang saham, maka informasi mengenai kondisi perusahaan yang sebenarnya akan mereka ketahui sehingga pihak manajemen akan lebih berhati-hati
18
Universitas Kristen Petra
mengambil tindakan maupun keputusan karena mereka turut menanggung hasil keputusan yang diambil (Nurziah and Darmawati, 2014).
Kesimpulannya apabila perusahaan memiliki kepemilikan manajerial, maka manajer yang sekaligus pemegang saham tentunya akan menselaraskan kepentingannya sebagai manajer dengan kepentingannya sebagai pemegang saham. Sementara apabila perusahaan tanpa kepemilikan manajerial, maka manajer yang bukan pemegang saham kemungkinan hanya mementingkan kepentingannya sendiri (Christiawan
& Tarigan, 2007). Dengan adanya kepemilikan manajerial tentu akan mendorong manajer bertindak sejalan dengan keinginan pemegang saham dengan meningkatkan pengawasan maupun kinerja dan tanggung jawab dalam mencapai kemakmuran pemegang saham. Hal ini dikarenakan manajer akan merasakan langsung manfaat dari setiap keputusan yang diambil dan kerugian yang timbul apabila membuat keputusan yang salah.
Seperti umumnya para manajer juga mempunyai kecenderungan untuk menggunakan hutang yang tinggi bukan untuk memaksimumkan nilai perusahaan, melainkan untuk kepentingan oportunistik manajer. Hal ini akan meningkatkan beban bunga hutang karena risiko kebangkrutan perusahaan yang meningkat, sehingga agency cost of debt semakin tinggi. Agency cost of debt yang tinggi pada gilirannya akan berpengaruh pada penurunann nilai perusahaan. Dengan adanya kepemilikan saham oleh pihak insiders, maka insiders akan ikut memperoleh manfaat langsung atas keputusan-keputusan yang diambilnya, namun juga akan menanggung risiko secara langsung bila keputusan itu salah. Selain itu kepemilikan manajemen dapat digunakan sebagai alat untuk mengurangi konflik kepentingan yang diharapkan penerapan GCG dapat dilaksanakan dengan baik sehingga dapat menjadi sinyal positif bagi kreditur dalam menilai perusahaan (Bringham & Ehrhardt, 2005).
Kepemilikan manajerial diukur dari presentase kepemilikan saham yang dimiliki manajemen (Demsetz & Villalonga, 2001). Semakin besar persentase kepemilikan saham manajemen maka mereka akan semakin giat untuk meningkatkan kemakmuran. Dalam penelitian ini, pengukuran
19
Universitas Kristen Petra
kepemilikan manajerial mengikuti pengukuran dalam penelitian Chen dan Steiner (1999) yaitu menggunakan skala rasio melalui presentase kepemilikan saham manajemen dibagi jumlah saham beredar.
Kepemilikan Manajerial = ∑ saham manajemen
∑ saham yang beredar x 100% (2.1) 2.3.2.2 Board Structure
2.3.2.2.1 Board Size
Board size atau ukuran dewan adalah jumlah personel dewan direksi dan komisaris dalam suatu perusahaan (termasuk independen maupun tidak independen). Jumlah personel dewan akan meningkatkan kinerja perusahaan yang semakin baik (Yermack, 1996). Board size dalam suatu perusahaan akan menentukan kebijakan atau strategi perusahaan dan memastikan, bahwa perusahaan telah sepenuhnya menjalankan seluruh ketentuan yang diatur dalam anggaran dasar dan peraturan perundang- undangan yang berlaku. Di Indonesia, struktur dewan menganut sistem two-boards, yaitu yang terdiri dari dewan komisaris dan dewan direksi (IFC Advisory Services in Indonesia, 2014; Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG), 2006). Sehingga, istilah yang ada didalam penelitian ini akan disesuaikan dengan konteks di Indonesia, yaitu board of directors diluar Indonesia dianggap setara dengan dewan komisaris.
Board size yang digunakan dalam penelitian ini adalah dewan komisaris dikarenakan aplikasi corporate governance tercermin dari dewan komisaris yang bertugas untuk mengatur dan mengendalikan perusahaan dalam mengawasi dan menciptakan value added untuk semua pihak yang berkepentingan dalam perusahaan (Beasly & Mark, 1996).
Dewan komisaris dalam suatu perusahaan adalah organ perusahaan yang bertugas melakukan pengawasan secara umum dan khusus kepada dewan direksi sesuai dengan anggaran dasar serta mengendalikan dan memberi nasehat dari implementasi kebijakan dewan direksi, sehingga kinerja yang dihasilkan sesuai dengan kepentingan pemegang saham (Velnampy, 2013).
KNKG (2006) mendefinisikan dewan komisaris sebagai mekanisme penggendalian internal tertinggi yang bertanggung jawab secara kolektif untuk melakukan pengawasan dan memberi masukan kepada direksi serta
20
Universitas Kristen Petra
memastikan bahwa perusahaan melaksanakan GCG. Sementara Forum for Corporate Governance Indonesia (FCGI, 2002) mendefinisikan dewan komisaris sebagai inti corporate governance (tata kelola perusahaan) yang ditugaskan untuk menjamin pelaksanaan strategi perusahaan, mengawasi manajemen dalam mengelola perusahaan serta mewajibkan terlaksananya akuntabilitas.
Di Indonesia, dewan komisaris ditunjuk oleh RUPS. Menurut UU No. 40 Tahun 2007 pasal 108 ayat 5 perusahaan perseroan terbatas wajib memiliki sedikitnya dua anggota dewan komisaris. Sedangkan menurut Pedoman Umum GCG Indonesia (KNKG, 2006), jumlah anggota dewan komisaris harus disesuaikan dengan kompleksitas perusahaan dengan tetap memperhatikan efektivitas dalam pengambilan keputusan. Dewan komisaris juga selayaknya memiliki kompetensi maupun independensi yang baik agar dapat mendukung efektivitas kinerjanya.
Jumlah dewan komisaris merupakan jumlah anggota dewan komisaris dalam suatu perusahaan (termasuk dewan komisaris independen maupun tidak independen). Jumlah personel dewan akan meningkatkan kinerja perusahaan (Yermack, 1996). Hal ini dikarenakan semakin besar ukuran atau jumlah dewan komisaris maka semakin tinggi pengawasan dalam perusahaan yang dilakukan untuk mengurangi adanya asimetri informasi. Fungsi pengendalian (kontrol) dewan komisaris dapat mengurangi biaya agensi yaitu mampu menyelaraskan perbedaan kepentingan antara pihak agen dengan pihak principal yaitu manajer dengan pemilik perusahaan (Haji & Ghazali, 2013). Hal ini serupa dengan Collier dan Gregory (1999) yang menyatakan bahwa semakin besar jumlah anggota dewan komisaris maka akan semakin mudah untuk mengendalikan manajemen dan monitoring yang dilakukan juga akan semakin efektif sehingga akan meminimalisasi agency cost.
Board size diukur dengan skala rasio yaitu melihat dan menjumlahkan seluruh anggota dewan komisaris dalam perusahaan.
Informasi mengenai board size dapat dilihat pada annual report perusahaan dalam bagian laporan corporate governance (Cerbioni &
21
Universitas Kristen Petra
Parbonetti, 2007; Abeysekera, 2010; Hidalgo et al. 2011; Haji & Ghazali, 2013; Yermack, 1996).
2.3.2.3 Board Independence
Aktivitas pengawasan yang dilakukan oleh boards terhadap manajer akan lebih efektif jika boards memiliki board independent (Fama
& Jensen, 1983). Dalam penelitian ini board independence diproksikan oleh dewan komisaris independen. Istilah independen pada komisaris independen maupun direksi independen bukan menunjukkan bahwa komisaris atau direksi lainnya tidak independen. Istilah komisaris independen ataupun direksi independen menunjukkan keberadaan mereka sebagai wakil dari pemegang saham independen (minoritas) dan juga mewakili kepentingan investor. Menurut teori agensi, dewan komisaris independen mampu meningkatkan keefektifan peran dewan komisaris (Jensen & Meckling, 1976). Fama & Jensen (1983) menyatakan bahwa komisaris independen dapat melakukan pemantauan manajemen yang efektif dan pengendalian kegiatan internal perusahaan. Pengertian dari komisaris independen sendiri adalah anggota dewan komisaris yang berasal dari luar perusahaan yang tidak memiliki kepentingan (independen) dari para stakeholder perusahaan atau dapat dikatakan tidak terafiliasi dengan direksi, anggota dewan komisaris lainnya dan pemegang saham pengendali, serta bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen atau bertindak semata-mata untuk kepentingan perseroan (KNKG, 2006).
Komisaris yang berasal dari luar perusahaan cenderung akan bertindak lebih independen, sehingga dapat memonitor dan mengontrol manajemen dengan baik. Tujuan adanya komisaris independen adalah sebagai penyeimbang pengambilan keputusan dewan komisaris (agar dapat diambil secara efektif, tepat, dan independen), perlakuan yang adil terhadap pemegang saham minoritas dan stakeholder, mengungkapkan transaksi yang mengandung benturan kepentingan secara wajar dan adil, serta menjamin transparansi, keterbukaan dan akuntanbilitas. Status independen terfokus kepada tanggung jawab untuk melindungi pemegang
22
Universitas Kristen Petra
saham, khususnya pemegang saham independen dari praktik curang atau melakukan tindak kejahatan pasar modal. Menurut Forum for Corporate Governance in Indonesia (2002), dalam penyelenggaraan GCG, proporsi dewan komisaris independen dapat memberikan kontribusi yang efektif terhadap hasil dari proses penyusunan laporan keuangan yang berkualitas atau kemungkinan terhindar dari kecurangan laporan keuangan, maka harus didukung oleh ketersediaan jumlah komisaris independen adalah sekurang-kurangnya 30% dari seluruh jumlah anggota komisaris.
Dalam penelitian ini, board independence diukur melalui proporsi komisaris independen dari jumlah anggota dewan komisaris dalam sebuah perusahaan (Li, Pike dan Haniffa, 2008; Eng dan Mak, 2003; Haniffa dan Cooke, 2002; Chen dan Jaggi, 2000; Haji and Ghazali, 2013; Hidalgo et al., 2011).
Board Independence = ∑ 𝐾𝑜𝑚𝑖𝑠𝑎𝑟𝑖𝑠 𝐼𝑛𝑑𝑒𝑝𝑒𝑛𝑑𝑒𝑛
∑ 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐷𝑒𝑤𝑎𝑛 𝐾𝑜𝑚𝑖𝑠𝑎𝑟𝑖𝑠 x 100% (2.2) 2.3.2.4 Gender Diversity
Gender diversity merupakan keanekaragaman yang timbul dari jumlah wanita dan laki-laki serta kehadirannya dalam kunci dari posisi governance dengan poin penting dalam gender equality. Van der Walt dan Ingley (2003) dalam Luckerath-Rovers (2010) mendefinisikan diversitas dewan komisaris dan direksi dalam konteks corporate governance sebagai komposisi dewan perusahaan dan kombinasi dari kualitas, karakteristik, dan keahlian yang berbeda antara individu anggota dewan dalam kaitannya dengan pengambilan keputusan dan proses lainnya dalam dewan perusahaan. Keragaman gender juga dapat mengurangi biaya agensi (Fama & Jensen, 1983).
Gender diversity yang digunakan dalam penelitian ini adalah proposi dewan komisaris wanita. Dengan menggunakan persentase wanita yang lebih tinggi, perusahaan cenderung melakukan kinerja finansial yang lebih baik (Blackburn, Doran & Shrader, 1994), dan menjadi lebih progresif dan kompetitif, karena kontingen manajemen mereka lebih mencerminkan komposisi pasar yang ada (Shrader, Blackburn & Iles, 1997). Schubert (2006) mencatat bahwa wanita memiliki keterampilan multi-tasking yang lebih baik, manajemen risiko dan kemampuan komunikatif dibandingkan dengan pria.
23
Universitas Kristen Petra
Memilki lebih banyak anggota dewan wanita dapat memberikan lebih banyak fakta dan detail. Wanita cenderung lebih tertarik dalam mencari fakta, bertanya banyak pertanyaan yang penting, tertarik untuk mengetahui bagaimana organisasi sebenarnya beroperasi, serta jujur tentang kelemahan organisasi (Sweetman dalam Johl dan Kaur, 2012). Kemampuan ini membuat mereka lebih kompeten dan bersedia mengambil tanggung jawab yang berbeda pada saat bersamaan sehingga membuat mereka lebih baik dalam berkomunikasi dan mengelola situasi yang berbeda di dalam dan di luar organisasi. Selain itu, wanita telah dikaitkan dengan kepuasan yang lebih kuat dari komitmen organisasi melalui sikap dari wanita. Kusumastuti, Supatmi dan Perdana (2006) mengungkapkan bahwa wanita memiliki sikap kehati-hatian yang sangat tinggi, cenderung menghindari risiko, dan lebih teliti dibandingkan pria. Sisi inilah yang membuat wanita siap menghadapi dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan, sehingga dengan adanya wanita dalam jajaran dewan perusahaan dikatakan dapat membantu mengambil keputusan yang lebih tepat dan berisiko lebih rendah. Dan adanya wanita lebih teliti membuat perusahaan tidak melakukan kesalahan dalam pengawasan. Kusumastuti et al. (2006) menyatakan bahwa diversitas anggota dewan komisaris dan direksi yang semakin besar dapat memberikan alternatif penyelesaian masalah yang semakin beragam daripada anggota dewan yang homogen. Selain itu, diversitas dewan memberikan karakteristik yang unik bagi perusahaan dan dapat menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham.
Dalam penelitian ini, gender diversity diukur melalui proporsi wanita dari total jumlah anggota dewan komisaris dalam perusahaan (Jhunjunwala &
Mishra; Gyamera & Agyei, 2016; Swartz & Firer, 2005; Campbell & Minguez- Vera, 2007; Dunstan, Keeper, Truong & Zijl, 2011).
Gender Diversity = 𝑃𝑟𝑜𝑝𝑜𝑟𝑠𝑖 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐷𝑒𝑤𝑎𝑛 𝐾𝑜𝑚𝑖𝑠𝑎𝑟𝑖𝑠 𝑊𝑎𝑛𝑖𝑡𝑎
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐷𝑒𝑤𝑎𝑛 𝐾𝑜𝑚𝑖𝑠𝑎𝑟𝑖𝑠 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑃𝑒𝑟𝑢𝑠𝑎ℎ𝑎𝑎𝑛 x 100% (2.3)
2.4 Intellectual Capital
Intellectual capital seringkali didefinisikan sebagai sumber daya pengetahuan dalam bentuk karyawan, pelanggan, proses atau teknologi yang mana perusahaan dapat menggunakannya dalam proses penciptaan nilai bagi
24
Universitas Kristen Petra
perusahaan (Bukh et al. 2005). Menurut Stewart (1997) mendefinisikan intellectual capital sebagai "packaged useful knowledge" yang merupakan sumber daya berupa pengetahuan yang tersedia pada perusahaan yang menghasilkan aset bernilai tinggi dan manfaat ekonomi di masa mendatang bagi perusahaan. Selain itu menurut Brooking (1996), intellectual capital merupakan kombinasi intangible asset dari nilai pasar, intellectual property, sumber daya manusia dan infrastruktur yang memungkinkan perusahaan menjalankan fungsinya dengan baik. Intellectual capital mencakup semua pengetahuan karyawan, organisasi dan kemampuan perusahaan untuk menciptakan nilai tambah dan keunggulan kompetitif. Selain itu merupakan aset tak berwujud yang memegang peran penting dalam meningkatkan daya saing perusahaan dan dimanfaatkan secara efektif untuk meningkatkan keuntungan perusahaan. Intellectual capital juga dijadikan sebagai landasan perusahaan untuk berkembang dan mempunyai keunggulan dibandingkan perusahaan lain. Chen, Cheng dan Hwang (2005) juga menyatakan bahwa investor akan memberikan nilai yang lebih tinggi pada perusahaan yang memiliki sumber daya intelektual yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki sumber daya intelektual yang rendah. Dan nilai yang diberikan oleh investor kepada perusahaan tersebut akan tercermin dalam harga saham perusahaan. Dari beberapa definisi yang dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa modal intelektual (intellectual capital) dipandang sebagai sumber daya yang strategis dalam pengetahuan, pengalaman dan keahlian yang berkaitan dengan keahlian karyawan, hubungan baik dengan pelanggan dan kapasitas teknologi informasi milik perusahaan yang secara signifikan berkontribusi dalam proses penciptaan nilai. Sehingga dapat memberikan keunggulan kompetitif (competitive advantage) bagi perusahaan yang membuat perusahaan dapat bertahan dalam bersaing. Dari keunggulan kompetitif tersebut secara tidak langsung modal intelektual mempunyai value added yang berguna bagi peningkatan kinerja perusahaan.
2.4.1 Komponen Intellectual Capital
Secara garis besar beberapa peneliti merumuskan komponen- komponen intellectual capital terdiri dari tiga komponen utama yang merupakan dasar utama bagi pengembangan intellectual capital yang dimiliki
25
Universitas Kristen Petra
perusahaan. Menurut Boekestein (2006); Stewart (1997) dan Yan (2017), tiga kategori yang membentuk suatu intellectual capital bagi perusahaan yaitu pengetahuan yang berhubungan dengan karyawan disebut sebagai human capital, pengetahuan yang berhubungan hanya dengan perusahaan disebut dengan structural atau organizational capital, dan pengetahuan yang berhubungan dengan pelanggan disebut dengan customer atau relational capital.
1. Human Capital (HC)
Human capital merupakan modal yang terkait dengan pengembangan sumber daya manusia perusahaan, seperti kompetensi, komitmen, motivasi, dan loyalitas karyawan yang dijadikan sebagai sumber innovation dan improvement. Human capital menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengelola sumber daya manusia dan menganggap manusia sebagai aset yang bernilai karena pengetahuan yang dimiliki. Selain itu, menurut Bontis (2000), human capital sangat penting karena di mata pasar sumber dari inovasi, strategi, mimpi dari perusahaan, proses reengineering, dan segala sesuatu yang menciptakan suatu persepsi pasar yang positif bagi perusahaan adalah ada pada personal skill yang dimiliki oleh karyawan suatu perusahaan sehingga perusahaan dapat mengungguli persaingan dan penjualan. Human capital akan meningkat jika perusahaan mampu menggunakan pengetahuan yang dimiliki oleh karyawannya secara baik.
2. Structural Capital (SC)
Structural capital atau organizational capital merupakan modal yang dimiliki perusahan tentang pengetahuan yang akan tetap berada dalam perusahaan yang bersifat bukan manusia seperti rutinitas perusahaan, prosedur, sistem, budaya, dan database. Structural capital merupakan kemampuan organisasi atau perusahaan dalam memenuhi proses rutinitas perusahaan dan struktur perusahaan yang mendukung usaha karyawan atau para pekerja perusahaan untuk dapat menghasilkan kinerja intelektual yang optimal serta kinerja bisnis secara keseluruhan. Structural capital dapat berupa sistem operasional perusahaan, proses manufaktur, budaya organisasi, filosofi manajemen dan semua bentuk kekayaan intellectual property yang dimiliki
26
Universitas Kristen Petra
oleh perusahaan. Selain itu, structural capital juga dapat membantu perusahaan meningkatkan hubungan terhadap koneksi baik yang dari dalam maupun dari luar perusahaan. Menurut Bontis (2000), structural capital adalah perangkat keras, perangkat lunak, database, struktur organisasi, paten, merek dagang, dan segala sesuatu lain dari kemampuan organisasi yang mendukung produktivitas karyawan. Structural capital juga menyediakan modal pelanggan, hubungan yang dikembangkan dengan pelanggan utama. Tidak seperti human capital, structural capital dapat dimiliki dan diperdagangkan. Structural capital mendukung human capital untuk menghasilkan kinerja yang optimal dengan sarana dan prasarana yang diberikan oleh perusahaan. Sehingga, apabila seorang individu dapat memiliki tingkat intelektual yang tinggi, tetapi jika perusahaan atau organisasi tersebut memiliki sistem dan prosedur yang buruk maka intellectual capital perusahaan atau organisasi tersebut tidak dapat mencapai kinerja secara optimal dan potensi yang ada tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal.
3. Relational Capital (RC)
Relational capital atau customer capital merupakan modal yang dimiliki perusahaan berupa dana keuangan dan aset fisik yang digunakan untuk membantu menciptakan nilai tambah bagi perusahaan secara nyata. Relational capital dapat muncul dari berbagai diluar lingkungan perusahaan dan memiliki hubungan yang harmonis (atau biasa disebut dengan istilah association network) oleh perusahaan dengan para mitranya, baik yang berasal dari para pemasok yang andal dan berkualitas, berasal dari pelanggan yang loyal dan merasa puas akan pelayanan perusahaan yang bersangkutan, berasal dari hubungan perusahaan dengan pemerintah maupun dengan masyarakat sekitar.
2.4.2 Intellectual Capital Disclosure
Salah satu penerapan GCG adalah transparansi yang dapat dilakukan perusahaan dengan pengungkapan informasi intellectual capital (mengungkapkan laporan tahunan) (FCGI, 2002). Dengan adanya pengungkapan dan pengelolaan intellectual capital yang efektif dan efisien, dapat membantu meningkatkan kinerja keuangan perusahaan dan memberikan sinyal positif serta menumbuhkan kepercayaan dari stakeholder. Pengungkapan
27
Universitas Kristen Petra
terdiri dua jenis, yaitu pengungkapan wajib (mandatory disclosure) dan pengungkapan sukarela (voluntary disclosure). Setiap perusahaan publik diwajibkan membuat laporan tahunan sebagai sarana pertanggungjawaban terutama kepada pemegang saham. Laporan tahunan (annual report) merupakan laporan yang diterbitkan oleh pihak manajemen perusahaan setahun sekali yang berisi informasi keuangan dan non keuangan perusahaan yang berguna bagi pihak stakeholders untuk menganalisis kondisi perusahaan pada periode tersebut. Pengungkapan inilah yang digunakan sebagai suatu cara perusahaan untuk menyampaikan informasi dalam bentuk annual report.
Pengungkapan modal intelektual (intellectual capital disclosure) adalah sebuah laporan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan informasi perusahaan secara luas bagi pengguna laporan yang tidak ikut serta dalam proses penyusunan laporan tersebut, sehingga para pengguna dapat memperoleh informasi yang mereka inginkan (Abeysekera, 2006). Mouritsen, Bukh, Larsen, Mikkel dan Katrine (2001) menyatakan bahwa intellectual capital disclosure dalam suatu laporan keuangan sebagai suatu cara untuk mengungkapkan bahwa laporan tersebut menggambarkan aktifitas perusahaan yang kredibel, terpadu (kohesif) serta ”true and fair”. Namun perusahaan saat ini sangat sedikit dalam menyampaikan pelaporan intellectual capital dikarenakan ketika IC disclosure dilaksanakan dengan cara yang berbeda, kemungkinan akan menyebabkan laporan-laporan yang kohesif, sehingga tidak perlu untuk menyediakan disclosure yang kredibel mengenai kegiatan perusahaan.
Mouritsen, Larsen, Bukh dan Johansen (2001) juga menjelaskan bahwa bentuk laporan yang lebih sempurna telah menjadi suatu cara untuk memberikan arahan mengenai aturan-aturan dan kewajiban baru bagi karyawan dan bagaimana seharusnya para karyawan tersebut memberikan kontribusi mereka terhadap penciptaan nilai bagi perusahaan. IC disclosure telah menjadi suatu bentuk komunikasi yang baru yang mengendalikan ”kontrak” antara manajemen dan pekerja. Bagi seorang manajer memungkinkan dapat membuat strategi-strategi untuk mencapai permintaan stakeholder seperti investor dan untuk meyakinkan stakeholder atas keunggulan atau manfaat kebijakan perusahaan. Tiga konsep disclosure yang umumnya dikemukakan yaitu
28
Universitas Kristen Petra
adequate (cukup), fair (wajar), full disclosure (pengungkapan yang lengkap).
Adequate disclosure mengandung arti disclosure yang minimal harus ada sehingga laporan tidak menyesatkan. Fair disclosure menyatakan tujuan-tujuan etis untuk memberikan perlakuan yang sama bagi semua pembaca potensial (dapat dimengerti oleh semua pihak yang berkepentingan). Full dislcosure berarti penyajian semua informasi yang relevan.
Pengungkapan intellectual capital diyakini amat penting untuk diungkapkan karena merupakan salah satu faktor yang memiliki peranan penting untuk mendapatkan kinerja keuangan yang baik bagi perusahaan, serta diharapkan dapat mengurangi asimetri informasi (ketidakseimbangan informasi), meningkatkan likuiditas pasar saham dan meningkatkan permintaan saham yang diterbitkan oleh perusahaan (Stewart, 1997). Pengungkapan intellectual capital diukur dengan ada tidaknya pengungkapan intellectual capital di dalam annual report. Indeks pengungkapan modal intelektual dalam penelitian ini menggunakan indeks yang dikembangkan oleh Yan (2017) yang berjumlah 37 item yang terdiri atas 3 komponen yaitu human capital, structural capital dan relational capital. Untuk mengukur pengungkapan modal intelektual yang dilakukan oleh perusahaan, maka diukur dengan menggunakan teknik analisis konten (content analysis) dengan bentuk yang paling sederhana. Skor 1 diberikan apabila item yang ditentukan diungkapkan oleh perusahaan di dalam laporan tahunan. Sementara skor 0 diberikan apabila item yang ditentukan tidak diungkapkan oleh perusahaan di dalam laporan tahunan. Selanjutnya, penilaian ICD adalah dengan skor dari setiap item dijumlahkan untuk memperoleh total skor pengungkapan modal intelektual untuk setiap perusahaan. Rasio tingkat pengungkapan modal intelektual dari masing-masing peruasahaan diperoleh dengan membagi total skor pengungkapan modal intelektual pada setiap perusahaan dengan total item (jumlah maksimum ICD yang harus diungkapkan oleh perusahaan = 37 item) dalam indeks pengungkapan modal intelektual. Dengan demikian, pengungkapan modal intelektual dihitung dengan rumus berikut:
ICDi = ∑Di
M
x 100%
(2.4)29
Universitas Kristen Petra
Keterangan:
ICDi = Indeks pengungkapan modal intelektual
Di = Skor 1 jika diungkapkan, skor 0 jika tidak diungkapkan
M =Jumlah maksimum item pengungkapan yang seharusnya diungkapkan perusahaan.
Berikut ini adalah tabel checklists dari komponen pengungkapan intellectual capital yang digunakan dalam penelitian ini (Yan, 2017) yaitu:
Tabel 2.1 Intellectual Capital Disclosure Checklists HUMAN CAPITAL (HC)
Item Explanation Keywords
Employee Education
Program pendidikan yang
diselenggarakan oleh perusahaan memberi kesempatan kepada karyawannya untuk belajar di sekolah.
Pendidikan, Edukasi, Beasiswa
Vocational Qualification
Kualifikasi yang diterima oleh karyawan, sebagai bukti atas keahlian dan pengetahuan profesional yang mereka butuhkan untuk melakukan pekerjaan tertentu.
Tingkat Pendidikan, Jenjang Pendidikan, Kualifikasi
Employee Engagement
Sesuatu yang mencerminkan derajat bahwa karyawan ingin mendedikasikan dirinya pada perusahaan
Dedikasi, Pengabdian, Employee Engagement, Keterikatan Karyawan Union Activity Konten yang berkaitan dengan kegiatan
serikat pekerja.
Buruh, Serikat Pekerja, Serikat Buruh, Union Employee
Thanked
Ucapan terima kasih secara eksplisit atas prestasi kerja karyawan.
Terima Kasih, Apresiasi Employee
Featured
Kinerja beberapa karyawan tertetntu yang sangat baik di sebuah perusahaan.
Kinerja Karyawan, Penghargaan Employee
Involvement in the Community
Keterlibatan dan kinerja karyawan dalam kegiatan masyarakat, misalnya kegiatan amal.
Terlibat, Keterlibatan, Diikuti, Partisipasi, Ikutserta Employee
Training
Program pelatihan yang diberikan perusahaan kepada karyawan, baik internal maupun eksternal.
Pelatihan
30
Universitas Kristen Petra
Employee Development
Peluang pengembangan karir masa depan karyawan dalam perusahaan.
Pengembangan, Karir,
Kesempatan
Succession Planning
Isi terkait pengaturan personil untuk masa depan, terutama untuk manajemen tingkat tinggi, seperti CEO.
Succession Planning, Suksesi, Calon Pemimpin, Future Leader
Innovative Skills Prestasi karyawan yang mewujudkan kreativitas mereka.
Prestasi Karyawan, Kreativitas, Inovasi
Equity Issues
Kesempatan yang adil diberikan kepada semua karyawan, terlepas dari jenis kelamin, agama, kecacatan dan ras.
Setara, Kesetaraan, Fairness, Keadilan, Diskriminasi Employee Safety
and Health
Sebuah perusahaan memiliki tindakan efektif untuk melindungi keselamatan dan kesehatan karyawan saat mereka bekerja.
Keselamatan, Kesehatan, Keamanan Skills / Know-
How
Karyawan memiliki keterampilan dan pengetahuan profesional yang dibutuhkan untuk posisi mereka.
Pengalaman, Keterampilan Profesional Employee Work-
Related Competence
Kompetensi lain yang dibutuhkan karyawan, seperti kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerja tim, kepekaan, dan sebagainya.
Kompetensi, Komunikasi, Kepemimpinan, Kerjasama Tim, Kepekaan Expert Seniority Jumlah tahun dimana eksekutif telah
bekerja untuk perusahaan. Selama, Sejak Senior Executive
Performance and Results
Prestasi eksekutif senior untuk sebuah perusahaan.
Prestasi Eksekutif, Pencapaian Eksekutif, Berhasil STRUCTURAL CAPITAL (SC)
Item Explanation Keywords
Management Philosophy
Bagaimana perusahaan dikelola, seperti
strategi dan misi perusahaan. Misi, Strategi Corporate Culture Nilai dan kepercayaan suatu perusahaan Budaya, Nilai
31
Universitas Kristen Petra
Management Process
Isi yang berkaitan dengan rencana pengelolaan dan prosedur operasi yang dapat diikuti oleh karyawan
Standar Operasi Prosedur, Rencana, Strategi, Pedoman, Prosedur kinerja Achievement Klarifikasi prestasi tertentu dari sebuah
perusahaan.
Apresiasi, Penghargaan, Award, Sertifikasi Information
Systems
Sistem informasi yang dimiliki oleh perusahaan, seperti database, perangkat lunak komputer dan perangkat keras, dan sebagainya
Sistem Informasi, Software, Database, Aplikasi, Erp Networking
Systems
Media yang melaluinya perusahaan dapat memperoleh akses yang lebih baik kepada pemangku kepentingannya, seperti e-mail, surat kabar dan internet.
Email, Website
Intellectual Property
Properti intelektual yang dilindungi undang-undang, seperti hak cipta, merek dagang, hak paten, dan sebagainya.
Paten, Trademark, Copyright, Hak Cipta, Hak Paten, Merek Dagang
Organization Flexibility
Kemampuan perusahaan untuk bertahan dalam lingkungan yang menantang.
Bertahan, Tantangan, Krisis Organization
Learning
Kemampuan perusahaan untuk belajar dari pengalaman sebelumnya dan melakukan perbaikan di masa depan
Meningkat, Perbaikan, Peningkatan, Pertumbuhan Research and
Development
Investasi pada hal-hal seperti produk, proyek, dalam upaya menciptakan potensi pertumbuhan di masa depan bagi perusahaan.
R&D, Penelitian, Pengembangan, Riset
RELATIONAL CAPITAL (RC)
Item Explanation Keywords
Brands Konten yang terkait dengan merek
perusahaan. Merek, Brand
32
Universitas Kristen Petra
Customers
Perusahaan berbasis pelanggan, yang didukung oleh loyalitas dan kepercayaan pelanggan
Customer Base, Loyal,
Pelanggan Utama, Customer
Company Names
Pengaruh dan reputasi nama perusahaan dirasakan oleh pemangku kepentingan di pasar.
Reputasi, Terkenal, Eksistensi, Citra, Terkemuka Favorable
Contracts
Kontrak yang berhasil diperoleh perusahaan, berkat posisinya yang dominan di pasar.
Kontrak
Market Share Pangsa pasar perusahaan. Pangsa Pasar Distribution
Channels
Proses dimana perusahaan mendistribusikan produk dan layanannya kepada pelanggan.
Distribusi
Business Collaborations
Bekerja sama dengan perusahaan lain dalam proses menghasilkan produk dan memberikan layanan kepada pelanggan.
Kolaborasi, Partner, Mitra, Kemitraan, Kerjasama Licensing
Agreements
Kesepakatan dengan organisasi lain untuk menyediakan produk dan layanan kepada organisasi-organisasi tersebut.
Lisensi, Perjanjian Franchising
Agreements
Kontrak yang diberikan kepada franchisee untuk menjual produk dan layanan perusahaan.
Waralaba, Franchise
Financial Relations
Hubungan perusahaan dengan para investor, kreditur dan pendukung keuangan lainnya.
Hubungan Investor, Relation, Investor,
Kreditur, Bank, Hubungan Finansial 2.5 Earnings Variability
Earning yaitu semua pendapatan yang merupakan hasil usaha dalam jangka waktu tertentu. Variability dapat diartikan fakta atau kebenaran dari suatu kejadian seperti adanya perubahan (baik ukuran mapun bentuknya). Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa earnings variability adalah
33
Universitas Kristen Petra
penerimaan pendapatan dalam jangka waktu tertentu yang sifatnya dapat berubah- ubah bergantung pada situasi dan kondisinya (Kustini & Pratiwi, 2011).
Earnings variability merupakan sebuah pola berfluktuasi dari laba bersih perusahaan atau earning per share (EPS) selama periode waktu tertentu. Laba variabilitas (Earnings Variability) umumnya dianggap sebagai indikator negatif karena membuat laba masa depan per saham dan dividen kurang menentu (dianggap sebagai resiko perusahaan). Akibatnya, earnings variability mungkin, kadang-kadang, dilihat sebagai hambatan pada saham perusahaan dengan lebih rendah rata-rata price earning rasio (P/E ratio). Namun demikian, investor yang rasional fokus pada pengembalian dan risiko dalam hal arus kas sekarang dan masa depan, bukan laba atau historis cash flows. Variabilitas laba kadang-kadang dianggap sebagai tanda negatif karena investor tidak mengetahui apakah pendapatan perusahaan dalam satu tahun dapat dipertahankan selanjutnya.
Sehingga sebagian besar analis melihat earnings variability sebagai memiliki dampak terbatas atau tidak ada dampak nilai pasar dan shareholder returns (Financial Encyclopedia, Financial Analysis, 2013). Selain itu, menurut Brown (2001) menunjukkan bahwa investor menghadapi lebih banyak kesulitan untuk menilai perusahaan dengan laba negatif karena perusahaan-perusahaan tersebut cenderung memanipulasi pendapatan mereka ke tingkat yang lebih besar, meningkatkan ketidakpastian dan meningkatkan biaya ekuitas (cost of equity) dan modal utang (debt capital). Variabilitas laba menunjukkan ketidakpastian yang lebih tinggi tentang kegigihan laba masa depan, peningkatan biaya modal saham dan utang (Jaggi & Jain, 1998; Graham, Harvey & Rajgopal, 2005).
Earnings Variability diukur dengan rumus (Orens, Aerts & Lybaert, 2009):
Earnings variability = Logarithm of the percentage change in earnings per share between 2002 and 2001
Earnings Variability 𝑡0 = EPS 𝑡1 – EPS 𝑡0
EPS 𝑡0 (2.5)
Earnings variability disini diukur dari nilai perusahaan yang diproksikan oleh earning per share (EPS). Earning Per Share (EPS) adalah rasio yang menunjukkan seberapa besar keuntungan (return) yang diperoleh investor atau pemegang saham per
34
Universitas Kristen Petra
saham. Pada umumnya pemegang saham biasa dan calon inverstor sangat tertarik dengan earning per share, karena hal ini menggambarkan jumlah rupiah yang diperoleh untuk setiap lembar saham. Para calon investor tertarik dengan earning per share karena merupakan salah satu indikator keberhasilan suatu perusahaan, angka earning per share sering digunakan dalam publikasi mengenai performance perusahaan yang menjual sahamnya kepada masyarakat. Earning per share merupakan ukuran dimana baik manajemen maupun pemegang saham memberikan perhatian yang besar karena EPS memberikan gambaran mengenai berapa keuntungan yang didapat per lembar sahamnya. Dimana earning per share menunjukkan rasio, seberapa besar kemampuan per lembar saham untuk menghasilkan laba. EPS memberikan ukuran profitabilitas yang memasukkan dan menggabungkan keputusan operasi, investasi dan pembiayaan (Stickney & Weil, 2006 and Tan, Plowman & Hancocok, 2007). Sedangkan menurut Weygandt, Donald dan Walter (1996) dan Elliot dan Jamie (1993) earning per share menilai pendapatan bersih yang diperoleh setiap lembar saham biasa. Salah satu alasan investor membeli saham adalah untuk mendapatkan deviden, jika nilai laba per saham kecil maka kecil pula kemungkinan perusahaan untuk membagikan deviden. Maka dapat dikatakan investor akan lebih meminati saham yang memiliki earning per share tinggi dibandingkan saham yang memiliki earning per share yang rendah. Dalam hal ini apabila earning per share tinggi maka, variabilitas laba (earnings variability)akan menurun sehingga membuat resiko perusahaan rendah. EPS dapat dihitung dengan rumus:
Earning per share = 𝐿𝑎𝑏𝑎 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖ℎ 𝑆𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘
∑ 𝐿𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝐵𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟 x 100% (2.6) Besarnya earning per share akan mempengaruhi tingkat kepercayaan para investor dalam melakukan investasi terhadap saham yang dipengaruhi oleh informasi laba akuntansi, yang dalam hal ini diwakili oleh EPS sebagai cerminan kinerja keuangan atau nilai perusahaan selama periode tertentu.
35
Universitas Kristen Petra
2.6 Kajian Penelitian Terdahulu
Tabel 2.2 Mapping Penelitian Terdahulu
No Nama dan Tahun
Variabel
Populasi dan Sampel Hasil Penelitian dan Penjelasan X (Independen) Y (Dependen)
1 Bukh, et al.
(2005)
Industry differences, Managerial ownership, company size, company
age
Intellectual Capital Disclosure
Di Denmark (68 IPO prospectuses were obtained either from the companies themselves or from the
underwriting banks)
Kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap
pengungkapan modal intelektual
2
Sheu, Liu dan Yang (2007)
directors’ compensation, board size, diversified ownership, managerial ownership, government ownership, institutional
ownership
Voluntary Disclosure
Listed company from Taiwan Stock Exchange and Gre Tai Securities
from 1998 to 2005
1. Board size memiliki pengaruh positif terhadap pengungkapan sukarela.
2. Kepemilikan manajerial memiliki pengaruh positif signifikan terhadap pengungkapan sukarela
3
Nurziah dan Darmawati
(2014)
Corporate governance, Kepemilikan manajerial, Kepemilikan institusional
Intellectual Capital Disclosure
(ICD)
132 perusahaan
manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2013
1. Corporate governance berpengaruh positif signifikan terhadap ICD 2. Kepemilikan manajerial
berpengaruh negatif terhadap pengungkapan sukarela.
4
Donnelly dan Mulcahy
(2008)
Board Independence, CEO Duality, Managerial Ownership
Voluntary disclosure
51 perusahaan yang terdaftar di Irish Market pada tahun 2002
1. Board Independence
berpengaruh positif terhadap pengungkapan sukarela 2. Kepemilikan saham
manajerial tidak berpengaruh terhadap pengungkapan sukarela
36
Universitas Kristen Petra No Nama dan
Tahun
Variabel
Populasi dan Sampel Hasil Penelitian dan Penjelasan X (Independen) Y (Dependen)
5
Dewi, Young dan
Sundari (2014)
Firm Size, Firm Age, Listing Status, Type of Industry and Managerial
Ownership
Intellectual Capital Disclosure
226 service
companies listed in Indonesia Stock Exchange period 2008-2012
Kepemilikan saham manajerial tidak berpengaruh
terhadap pengungkapan modal intelektual
6 Eng dan Mak (2003)
Managerial Ownership, Government Ownership, proportion of outside
directors
Voluntary Disclosure
158 perusahaan yang terdaftar di Singapore Stock Exchange pada
tahun 1995
1. Managerial ownership berpengaruh negatif terhadap voluntary disclosure.
2. Proportion of outside directors (independen) berpengaruh negatif terhadap voluntary disclosure.
7
Firer and William
(2005)
Insider director ownership
Intellectual capital disclosure
390 perusahaan di Singapura tahun 1998-2000
Insider director ownership berpengaruh signifikan negatif terhadap intellectual
capital disclosure
8 Kateb
(2014) Managerial ownership
Intellectual capital disclosure
55 perusahaan di Perancis dari tahun 2006-2010
Managerial ownership berpengaruh signifikan negatif terhadap intellectual
capital disclosure
9
Allegrini dan Greco
(2011)
Board Independent, Board Size, CEO duality, Lead
Independent Director, Board Committees, Board
and Audit Committee diligence
Voluntary Disclosure
177 companies listed on the Italian stock exchange in 2007
Ukuran dewan komisaris berpengaruh positif terhadap
voluntary disclosure
37
Universitas Kristen Petra No Nama dan
Tahun
Variabel
Populasi dan Sampel Hasil Penelitian dan Penjelasan X (Independen) Y (Dependen)
10 Hidalgo et al. (2011)
Board size, board independence, CEO
duality, Insider Ownership, Family Ownership, Ownership
Concentration, Institutional Shareholding
Intellectual capital disclosure
100 perusahaan industri yang terdaftar di Mexican Stock Exchange tahun 2005-2007
1. Board size berpengaruh positif signifikan terhadap intellectual capital
disclosure
2. Board independence dan insider ownership tidak berpengaruh terhadap intellectual capital disclosure.
11
Cerbioni dan Parbonetti
(2007)
Ukuran dewan, komposisi dewan, dualitas CEO, board structure (dewan komite)
Voluntary Disclosure
54 perusahaan bioteknologi yang terdaftar di negara-negara Eropa dari 10 kota yang berbeda tahun
2002-2004.
1. Komposisi dewan
(independen) berpengaruh positif terhadap
pengungkapan sukarela IC.
2. Ukuran dewan berpengaruh negatif terhadap pengungkapan sukarela IC
12
Barako, Hancock, Izan (2006)
Proporsi dewan komisaris, struktur kepemimpinan
ganda, keberadaan komite audit
Voluntary Disclosure
43 perusahaan yang terdaftar di Nairobi Stock Exchange (Kenya)
tahun 1992- 2001.
Proporsi dewan komisaris independen berpengaruh
negatif terhadap pengungkapan sukarela
13
Li, Pike dan Haniffa
(2008)
Komposisi dewan, struktur kepemilikan, ukuran komite
audit, frekuensi pertemuan komite audit, dualitas peran
Intellectual Capital Disclosure
100 perusahaan yang terdaftar di London Stock Exchange (Inggris)
Komposisi dewan independen berpengaruh positif terhadap
IC disclosure
38
Universitas Kristen Petra No Nama dan
Tahun
Variabel
Populasi dan Sampel Hasil Penelitian dan Penjelasan X (Independen) Y (Dependen)
14
White, Lee dan Tower
(2007)
Size of Firm, Ownership concentration, Board independence, Age of firm, Firm leverage
Voluntary intellectual
capital disclosure
96 perusahaan bioteknologi di Australia tahun 2005
Komisaris independen berpengaruh positif dengan
pengungkapan sukarela model intelektual
15 Yan (2017)
Board size, proporsi dewan independen (board composition), shares concentration
Intellectual Capital Disclosures
78 perusahaan (London Stock Exchange with the highest market
capitalization)
1. Board size tidak berpengaruh terhadap pengungkapan modal intelektual.
2. Board composition berpengaruh positif dengan pengungkapan modal intelektual
16
Cheng dan Courtenay
(2004)
Board size, board independent, dan CEO
duality
voluntary disclosure
104 firms listed on the Singapore Stock Exchange (SGX) in the year
2000
1. Board size tidak berpengaruh terhadap pengungkapan sukarela 2. Dewan independen
berpengaruh positif terhadap pengungkapan sukarela.
17
Sartawi, Hindawi, Bsoul dan Ali (2014)
Board size, proportion of non-executive directors,CEO duality and
chairman position, board ownership concentration, institutional ownership, foreign ownership,directors
age, directors gender
Voluntary disclosure in annual report
103 perusahaan Jordanian yang terdaftar di Bursa Efek Amman
Board size, board independence dan directors
gender berpengaruh signifikan dan positif terhadap voluntary disclosure
in annual report
39
Universitas Kristen Petra No Nama dan
Tahun
Variabel
Populasi dan Sampel Hasil Penelitian dan Penjelasan X (Independen) Y (Dependen)
18
Oba, Ibikunle,
dan Damagum
(2013)
Board independence, audit committee independence, board gender diversity, board size, nationality diversity
dan firm size
Intellectual capital disclosure
20 perusahaan Nigeria yang membuat Forbes Afrika top 25 (di
Afrika Barat) perusahaan tahun 2012
Board independence dan gender diversity tidak berpengaruh signifikan terhadap intellectual capital
disclosure.
19
Rasmini, Wirakusum
a, dan Yuniasih
(2014)
Diversity of Gender, Foreign Directors,
Education of Board,Proportion of Independent Board of
Director
IC Disclosure
33 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2004-
2009
Diversity of Gender memiliki pengaruh positif terhadap IC
Disclosure
20 Nalikka A.
(2009) Gender Diversity
Voluntary Disclosure in
Annual Report
108 companies listed on the Helsinki Stock Exchange (Eropa)
during the fiscal year 2008
Keberadaan perempuan dalam dewan komisaris dan
direksi tidak berpengaruh signifikan pada pengungkapan sukarela
21
Gyamerah dan Agyei
(2016)
Majority Independent Directors, Board Size,
Audit Committee Independence, Board Gender Diversity, Board
Compensation
Voluntary Disclosure
31 perusahaan yang terdaftar di Ghana Stock Exchange (GSE) Inggris periode 2005-2015
1. Board Size memiliki pengaruh negatif dengan voluntary disclosure 2. Board Gender Diversity
memiliki pengaruh positif terhadap voluntary
disclosure 22 Yeo et al.
(2002)
Management ownership, external unrelated block
holdings
Informativen ess of earning
490 perusahaan yang terdaftar di Stock Exchange of Singapure tahun
1990-1992
Managerial ownership berpengaruh positif terhadap
informativeness of earnings
40
Universitas Kristen Petra No Nama dan
Tahun
Variabel
Populasi dan Sampel Hasil Penelitian dan Penjelasan X (Independen) Y (Dependen)
(menggunaka n earning per
share dan variation of
earning), absolute discretionary
accruals
dimana menggunakan pengukuran earning per
share dan variation of earnings.
23
Sofyaningsi h dan Pancawati
(2011)
Kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, kebijakan pembayaran dividen, dan
kebijakan utang
Nilai perusahaan (earning per
share)
115 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
tahun 2007-2009
Kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap
nilai perusahaan
24
Wardani dan Hermuning
sih (2011)
Struktur kepemilikan, kebijakan hutang, kinerja
keuangan
Kebijakan hutang,
kinerja keuangan,
nilai perusahaan
Seluruh perusahaan yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia
pada tahun 2008
Kepemilikan insider tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan
25
Jahmani dan Ansari
(2006)
Managerial ownership Corporate performance
30 perusahaan AS yang dipilih secara acak dari empat industri yaitu sektor energi, sektor finansial,
sektor kesehatan dan sektor teknologi
Managerial ownership tidak memiliki pengaruh terhadap
corporate performance
26
Ahmed, Hossain dan Adams
Proportion of outdside directors, board size
Informativen ess of annual
earnings
615 perusahaan yang terdaftar di New Zealand Exchange (NZSE)
tahun 1991 sampai 1997
1. Proportion of outside directors tidak
berpengaruh terhadap