• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2020"

Copied!
123
0
0

Teks penuh

(1)

Disusun dan di usulkan oleh: ARROFIQUL YA’LA

Nomor Induk Mahasiswa : 10564 02279 15

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(2)

i Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan

Disusun dan Diajukan Oleh ARROFIQULYA’LA

Nomor Induk Mahasiswa : 105640 2279 15

Kepada

PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN FAKULTAS ILMU SOSIAL ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

(3)
(4)
(5)

iv

Na ma : Arro fiqul Ya’la

NIM : 105640 2279 15

Pro gram St ud y : I lmu Pe mer int a ha n

Me nyat ak a n ba hw a be nar kar ya ilmia h in i ada la h p e ne lit ia n s a ya se nd ir i t anpa ba nt ua n p iha k la in at au t e la h d it u lis /d ipu b lika s ika n o rang la in at au me laku ka n p lag iat . Per nya t aan in i s a ya buat de nga n se su nggu hn ya da n apa bila d ike mu d ia n har i per nyat aa n in i t idak be nar maka sa ya bers ed ia me ner ima s a nk s i ak a de mik se sua i at ura n ya ng ber lak u sek a lipu n p e nca but an ge lar a kade mik.

Maka s sar, 9 Fe br uar i 2020

Ya ng me nyat ak a n

(6)

v

Tujuan penelitian untuk mengetahui proses implementasi perlindungan hak masyarakat adat Kajang di Kabupaten Bulukumba. Hasil penelitian ini menunjukkan implementasi perlindungan hak masyarakat adat Kajang melalui enam indikator. Pertama, standard pelaksanaan Perlindungan Hak Masyarakat Adat Kajang yang terdapat dalam Perda No. 9 Tahun 2015 yaitu; a. partispasi, b. keadilan, c. transparansi, d. kesetaraan, e. kepentingan umum, f. keselarasan, g. keberlanjutan lingkungan. Sasarannya yaitu; a. memberikan kepastian hukum bagi hak masyarakat Ammatoa Kajang agar dapat hidup aman, tumbuh dan berkembang sebagai kelompok masyarakat sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaannya serta terlindungi dari tindakan diskriminasi, b. memberikan perlindungan terhadap hak masyarakat Ammatoa Kajang di Kabupaten Bulukumba dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.

Kedua, sumber daya yang ada pada pelaksanaan perlindungan hak masyarakat adat kajang adalah tim khusus penanganan sengketa yang dibentuk oleh pemerintah daerah yang bersifat ad hoc

Ketiga, hubungan antar instansi yaitu dinas kehutanan, dinas pariwisata, bagian hukum pemerintah daerah Kabupaten Bulukumba serta beberapa organisasi terkait yang ikut berpartispasi seperti Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sulawesi Selatan, LSM Balang dan Tim Governance AgFor Sulawesi dari CIFOR. Cifor dan LSM Balang bertugas melakukan penelitian lapangan. Sedangkan Pemerintah Kabupaten Bulukumba berperan menjelaskan situasi lokal Bulukumba dan kawasan adat Kajang.

Keempat, karakteristik pelaksanaannya adalah senantiasa terbuka untuk melakukan musyawarah jika ada hak-hak masyarakat adat Kajang yang terampas serta mencari solusi dan penindakan bagi pelaku.

Kelima, kondisi sosial, ekonomi dan politik kondisi sosial dimana masyarakat masih memegang teguh prinsip kamase-masea serta keterbukaan masukan dari pihak luar selama tidak bertentangan dengan prinsip hidup masyarakatnya, politik masyarakat adat Kajang masih memegang teguh kepemimpinan adat yang di pegang oleh Ammatoa dan ekonomi masyarakat adat Kajang melakukan kegiatan perekonomian dengan cara bertani dan menggarap sawah.

Keenam, disposisi implementor dimana pemerintah Kabupaten Bulukumba selaku agen pelaksana selalu berupaya hadir dalam setiap permasalahan yang menyangkut keseluruhan perlindungan hak-hak adat. Selain itu pemerintah benar-benar melakukan pengkajian yang mendalam serta mendukung sepenuhnya kebijakan terkait perlindungan hak-hak masyarakat adat.

(7)

vi

Alhamdulilah penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan Hidayah-nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Implementasi Kebijakan Perlindungan Hak Masyarakat Adat Kajang di Kabupaten Bulukumba.

Skripsi ini merupakan tugas akhir yang diajukan untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar sarjana Ilmu Pemerintahan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

Penulis menyadari skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada yang terhormat :

1. Bapak Dr. H. Muhammadiah M,M selaku pembimbing I dan Ibu Dr. Hj. Ihyani Malik, S.Sos, M.Si selaku pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

2. Ibu Dr. NuryantiMustari, S.IP, M.Si selaku ketua jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Ibu Dr. Hj. Ihyani Malik, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Kasubag pendataan, pelaporan dan evaluasi, Kasubag penanganan masalah sosial, Kakanda teman-teman masyarakat adat nusantara serta Masyarakat

(8)

vii

Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar, yang senantiasa meluangkan waktunya untuk memberi ilmu kepada penulis selama menempuh perkuliahan.

6. Kepada para pegawai atau karyawan Fisipol Universitas Muhammadiyah Makassar yang senantiasa memberikan pelayanan dan membantu saya dalam segala urusan perkuliahan.

7. Kedua Orang tua tercinta yang sangat berjasa dan senantiasa membesarkan, merawat, memberi pendidikan sampai pada jenjang saat ini, mendoakan, memberi semangat dan motivasi serta bantuan baik moril ataupun materi dan tak lupa kasih sayang yang tak hentinya beliau berikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Akhirnya dengan segala kerendahan hati penulis menyadari bahwa skripsi ini sangatlah jauh dari kesempurnaan karena segala sesuatu yang sempurna itu hanya milik ALLAH SWT, dan oleh karena itu demi kesempurnaan skripsi ini, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan. Semoga karya skripsi ini bermanfaat dan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pihak yang membutuhkan.

Makassar, 06 Februari 2020

(9)

viii

PENERIMAAN TIM………...iii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH ... iv

ABSTRAK ... .v KATA PENGANTAR ... vi DAFTAR ISI……….viii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 6 C. Tujuan Penelitian ... 6 D. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Implementasi Kebijakan ... 7

B. Konsep Masyarakat Adat ... 12

C. Konsep Pemerintah Daerah ... 16

D. Kerangka Pikir ... 21

E. Fokus Penelitian ... 23

F. Deskripsi Fokus Penelitian ... 23

BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 24

(10)

ix

F. Teknik Analisis Data ... 27

G. Keabsahan Data ... 29

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Obyek Penelitian ... 31

B. Implementasi Perlindungan Hak Masyarakat Adat Kajang Di Kabupaten Bulukumba ... 41

a. Standard dan sasaran Kebijakan ... 42

b. Sumber Daya ... 48

c. Hubungan Antar Organisasi ... 53

d. Karakteristik Pelaksana ... 60

e. Kondisi sosial, politik dan ekonomi ... 66

f. Disposisi Implementor ... 72 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 79 B. Saran ... 81 DAFTAR PUSTAKA ... 82 LAMPIRAN-LAMPIRAN……….………. .84

(11)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Masyarakat Hukum Adat di Indonesia merupakan kesatuan kemasyarakatan yang berkembang sejalan dengan perkembangan kehidupan bermasyarakat. Secara historis, masyarakat adat sudah ada, hidup, tumbuh dan berkembang di Indonesia sejak masa kerajaan, penjajahan Belanda dan pada masa kemerdekaan Indonesia. Campur tangan oleh pemerintah kerajaan, penjajah dan pemerintah Indonesia terus berubah sesuai dengan perkembangan ketatanegaraan. Campur tangan pemerintah tersebut ada yang bersifat menguatkan dan ada pula yang bersifat melemahkan masyarakat adat.

Seluruh rakyat Indonesia tanpa kecuali harus menjadi rujukan utama ketika pemerintah berbicara mengenai tanggung jawab negara. Berdasarkan konstitusi pula, dapat diartikan secara sederhana bahwa negara Indonesia yang akan dibentuk pada saat itu tidak akan membedakan orang perorangan atau kelompok orang dalam melaksanakan tanggung jawabnya. Pemikiran ini muncul dari kesadaran bahwa rakyat adalah pemegang kedaulatan tertinggi dari satu negara, sedangkan negara dibentuk dengan kewajiban untuk memberikan perlindungan kepada seluruh rakyatnya tanpa diskriminasi atau pembedaan berdasarkan agama, suku, pandangan politik, letak geografis, dan sebagainya. Termasuk di dalamnya adalah masyarakat hukum adat khususnya yang berada di daerah perbatasan.

Berbicara tentang perlindungan hukum masyarakat adat tentunya harus berangkat dari hak-hak masyarakat adat dalam kaitannya dengan pengakuan dan

(12)

pengaturannya di dalam hukum nasional. Untuk itu hal pertama yang harus dilakukan adalah mengetahui posisi dan kedudukan masyarakat adat itu sendiri sebagai subyek hukum yang memiliki hak-hak adat tersebut di dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Apakah negara mengakui dan menghormati atau tidak keberadaan dari masyarakat adat tersebut dengan segala hak-hak tradisional yang melekat padanya.

Menilik banyaknya peraturan perundang-undangan yang menyentuh masyarakat adat, seharusnya berimbang pada tingginya perlindungan terhadap mereka. Terlebih hingga saat ini sudah sangat banyak pertemuan atau diskusi baik di tingkat daerah maupun di tingkat nasional, yang diselenggarakan baik oleh pemerintah, kalangan kampus atau akademisi maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM) dari tahun ke tahun yang diharapkan dapat menginventarisir faktor-faktor pendorong dan penghambat terwujudnya pemberdayaan bagi masyarakat adat dalam sistem ketatanegaraan. Namun upaya pemberdayaan terhadap mereka masih belum optimal.

Lokasi tempat tinggal suku bangsa yang terasing atau terpencil mengakibatkan akses terhadap pelayanan publik menjadi terhambat dan menjadi rendah. Masyarakat adat yang selama ini dikenal dengan masyarakat terasing perlu dibina kesejahteraan sosialnya dengan memberdayakan dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan agar komunitas adat yang bersangkutan dapat hidup secara wajar baik jasmani, rohani, maupun sosial sehingga dapat berperan aktif dalam pembangunan.

(13)

Perjuangan masyarakat adat dalam mempertahankan hak-haknya selalu gagal karena mereka berhadapan dengan sistem politik yang oligarkis dan sentralistik serta sistem ekonomi yang berpihak pada kepentingan pemilik modal. Mereka selalu berhadapan dengan aparat keamanan yang memiliki senjata dan para pemilik modal yang dengan kekuatan uangnya dapat menggunakan aparat keamanan untuk menghadapi gelombang protes masyarakat adat.

Masyarakat adat kini tak hanya mengalami pelanggaran atas hak ulayat dan sumberdaya alamnya, mereka juga mengalami pelanggaran hak kekayaaan intelektual. Potensi-potensi budaya dan perekonomian lokal yang biasa digarap masyarakat adat seperti keterampilan dan pemahaman (traditional knowledges) mereka akan seni, termasuk tari-tarian, ukir-ukiran, tenunan, pengetahuan tentang pemeliharaan tanaman dan pengetahuan tentang tanaman obat-obat ditiru oleh para pedagang dan industri.

Hak-hak masyarakat adat yang selama ini tidak mendapat perlindungan negara mencakup dua hal, yaitu hak atas ulayat, hak sumber daya alam, dan hak kekayaan intelektual. Tidak terlindunginya tiga hal itu bukan hanya karena tidak ada payung hukum yang secara khusus melindungi masyarakat adat, tetapi dengan payung hukum ada pun penegakannya masih lemah. Dua faktor inilah yang hingga kini menjadikan masyarakat adat sebagai warga negara yang marjinal dan tidak mendapat hak yang semestinya sehingga sering ditemukan pelanggaran hak-hak masyarakat adat.

Secara normatif, beberapa peraturan perundang-undangan telah mengamanatkan adanya pengakuan dan perlindungan untuk Masyarakat Hukum

(14)

Adat, meskipun implementasinya belum seperti yang diharapkan. Pasal 18B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945), sebagai hasil amandemen pertama UUD 1945, menyatakan bahwanegara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan Masyarakat Hukum Adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam Undang-Undang. Ketentuan Pasal 18B UUD 1945 diperkuat dengan ketentuan Pasal 28I ayat (3) UUD 1945 bahwa identitas budaya dan masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban.

Implementasi merupakan salah satu tahap dalam proses kebijakan publik. Biasanya implementasi dilaksanakan setelah sebuah kebijakan dirumuskan dengan tujuan yang jelas.Implementasi adalah suatu rangkaian aktifitas dalam rangka menghantarkan kebijakan kepada masyarakat sehingga kebijakan tersebut dapat membawa hasil sebagaimana yang diharapkan.

Sebuah kebijakan lahir dari berbagai permasalahan yang terjadi. Kebijakan pada dasarnya dibuat oleh pemerintah dalam mengatur tatanan Negara yang jauh lebih baik, keberhasilan sebuah kebujakan public dapat dilihat dari implementasi atau pelaksanaan dari kebijakan publik tersebut. Dalam penelitian ini membahas kebijakan publik pada wilayah menjaga hak-hak dasar dari masyarakat adat.

Kearifan lokal merupakan ekspresi yang nyata dari alam pikiran masyarakat yang akan mengabdikan sesuatu yang dianggap penting serta memberikan banyak sumbangan terhadap kehidupan masyarakat. Kearifan lokal tersebar di berbagai wilayah Nusantara. Di Sulawesi Selatan, suku Kajang sebagai salah satu suku

(15)

yang masih mempertahankan budaya sebagai bentuk kearifan lokal. Terletak di Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba, sekitar 250 kilometer dari kota Makassar Sulawesi Selatan.

Pola hidup masyarakat adat Kajang sangat berbasis pada kelestarian lingkungan alam. Pola hidup ini berhubungan erat dengan keyakinan yang tertuang dalam pasang(wajib dituruti dipatuhi dan dilaksanakan)dan dijalankan secara taat oleh Ammatoa (Pemimpin). Prinsip hidup sederhana yang dianut oleh masyarakat Kajang yang bersumber dari pasang ini diperkuat oleh prinsip kamase-masea, yaitu sikap merendahkan diri dan menerima apa adanya. Dengan demikian, segala aktivitas yang mereka lakukan hanya tunduk pada satu komando yang diberikan oleh Ammatoa yang merupakan sentra perintah dan larangan.

Perlindungan hak masyarakat adat Kajang yang dilakukan oleh pmerintah Kabupaten Bulukumba diatur melalui Perda No. 9 Tahun 2015 membuat masyarakat adat Kajang memiliki akses dan terjamin dalam mengelola sumber daya alam. Jika masyarakat adat diakui keberadaannya dan diberikan akses legal dalam pengelolaan SDA, mereka dapat membangun kemandirian tanpa memerlukan bantuan dari pihak luar, bahkan bisa berkontribusi untuk pendapatan asli daerah (PAD) dengan sangat signifikan.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka penulis tertarik mengangkat judul “Implementasi Kebijakan Perlindungan Hak Masyarakat Adat Kajang di Kabupaten Bulukumba”.

(16)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pemaparan pada latar belakang maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana Implementasi Kebijakan Perlindungan Hak Masyarakat Adat Kajang di Kabupaten Bulukumba?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Untuk mengetahui bagaimana cara Implementasi Kebijakan Perlindungan Hak Masyarakat Adat Kajang di Kabupaten Bulukumba.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi : 1. Secara Teoritis

Penelitian yang akan dilakukan ini dapat dijadikan suatu bahan studi perbandingan selanjutnya dan akan menjadi sumbansi pemikiran ilmiah dalam melengkapi kajian-kajian yang mengarah pada pengembangan kegiatan implementasi kebijakan khususnya pada, Implementasi Kebijakan Perlindungan Hak Masyarakat Adat Kajang di Kabupaten Bulukumba. 2. Secara Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi salah satu sumbangan pemikiran dan bahan masukan untuk pelaksanaan bagaimana kewajiban pemerintah dalam menjamin hak-hak masyarakat adat dengan menggunakan pendekatan implementasi kebijakan publik.

(17)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Implementasi Kebijakan

Esensi utama dari implementasi kebijakan adalah memahami apa yang seharusnya terjadi sesudah suatu program dinyatakan berlaku atau dirumuskan. Pemahaman tersebut mencakup usaha untuk melakukan penggadministrasian dan menimbulkan dampak nyata pada masyarakat atau kejadian-kejadian.

Implementasi kebijakan adalah pelaksanaan keputusan kebijakan dasar, biasanya dalam bentuk undang-undang, namun dapat pula berbentuk perintah-perintah atau keputusan-keputusan eksekutif yang penting atau keputusan badan peradilan. Lazimnya, keputusan tersebut mengidentifikasikan masalah-masalah yang ingin diatasi, menyebutkan secara tegas tujuan dan sasaran yang ingin dicapai, dan berbagai cara untuk menstrukturkan atau mengatur proses implementasinya(Mazmanian dan Sabatier dalam Agustino 2008: 196).

Implementasi kebijakan merupakan tahap yang krusial dalam proses kebijakan publik. Suatu program kebijakan harus diimplementasikan agar mempunyai dampak atau dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Studi implementasi merupakan suatu kajian mengenai studi kebijakan yang mengarah pada proses pelaksanaan dari suatu kebijakan (Winarno 2012).

Implementasi kebijakan merupakan tahap yang krusial dalam proses kebijakan publik. Suatu program kebijakan harus diimplementasikan agar mempunyai dampak atau dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Studi

(18)

implementasi merupakan suatu kajian mengenai studi kebijakan yang mengarah pada proses pelaksanaan dari suatu kebijakan (Winarno 2012:35).

Implementasi kebijakan adalah salah satu tahap kebijakan publik, antara pembentukan kebijakan dan konsekuensi- konsekuensi kebijakan bagi masyarakat yang dipengaruhinya.Jika suatu kebijakan tidak tepat atau tidak dapat mengurangi masalah yang merupakan sasaran dari kebijakan, maka kebijakan itu mungkin akan mengalami kegagalan sekalipun kebijakan itu diimplementasikan dengan sangat baik (Indiahono 2009).

Implementasi adalah memahami apa yang senyatanya terjadi sesudah suatu program dinyatakan berlaku atau dirumuskan merupakan fokus perhatian implementasi kebijaksanaan yakni kejadian-kejadian dan kegiatan-kegiatan yang timbul sesudah disahkannya pedoman-pedoman kebijaksanaan Negara yang mencakup baik usaha-usaha untuk mengadministrasikannya maupun untuk menimbulkan akibat/dampak nyata pada masyarakat atau kejadian-kejadian (Wahab 2008:65).

Implementasi kebijakan merupakan tahap dalam proses kebijakan publik, suatu programharus diimplementasikan agar mempunyai dampak agar tujuan yang diinginkan tercapai. Secara garis besar, implementasi merupakan setiap kegiatan yang dilakukan menurut rencana untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.Upaya untuk memahami adanya perbedaan antarayang diharapkan dengan fakta yang telah terjadi dengan menimbulkan kesadaran mengenai pentingnya suatu pelaksanaan (Yousa 2007).

(19)

Terdapat enam variabel yang mempengaruhi kinerja implementasi, yakni (Meter dan Horn dalam Subarsono : 2010):

1. Standar dan sasaran kebijakan, di mana standar dan sasaran kebijakan harus jelas dan terukur sehingga dapat direalisir apabila standar dan sasaran kebijakan kabur.

2. Sumberdaya, dimana implementasi kebijakan perlu dukungan sumberdaya, baik sumber daya manusia maupun sumber daya non manusia.

3. Hubungan antar organisasi, yaitu dalam banyak program, implementor sebuah program perlu dukungan dan koordinasi dengan instansi lain, sehingga diperlukan koordinasi dan kerja sama antar instansi bagi keberhasilan suatu program.

4. Karakteristik pelaksana yaitu mencakup stuktur birokrasi, norma-norma dan pola-pola hubungan yang terjadi dalam birokrasi yang semuanya itu akan mempengaruhi implementasi suatu program. 5. Kondisi sosial, politik, dan ekonomi. Variable ini mencakup

sumberdaya ekonomi lingkungan yang dapat mendukung keberhasilan implementasi kebijakan, sejauh mana kelompok-kelompok kepentingan memberikan dukungan bagi implementasi kebijakan, karakteristik para partisipan, yakni mendukung atau menolak, bagaimana sifat opini publik yang ada di lingkungan, serta apakah elite politik mendukung implementasi kebijakan.

(20)

6. Disposisi implementor yang mencakup tiga hal yang penting, yaitu respon implementor terhadap kebijakan, yang akan mempengaruhi kemauannya untuk melaksanakan kebijakan, kognisi yaitu pemahaman terhadap kebijakan, intensitas disposisi implementor, yaitu preferensi nilai yang dimiliki oleh implementor.

Suatu kebijakan publik akan menjadi efektif apabila dilaksanakan dan mempunyai manfaat positif bagi anggota-anggota masyarakat. Dengan kata lain, tindakan atau perbuatan manusia sebagai anggota masyarakat harus sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Pemerintah atau Negara, sehingga apabila prilaku atau perbuatan mereka tidak sesuai dengan keinginan pemerintah atau Negara, maka suatu kebijakan publik tidaklah efektif.

Faktor-faktor yang menyebabkan anggota masyarakat tidak mematuhi dan melaksanakan suatu kebijakan publik, yaitu (Nugroho 2008):

a. Adanya konsep ketidak patuhan selektif terhadap hokum, dimana terdapat beberapa peraturan perundang-undangan atau kebijakan publik yang bersifat kurang mengikat individu-individu.

b. Karena anggota masyarakat dalam suatu kelompok atau perkumpulan dimana mereka mempunyai gagasan atau pemikiran yang tidak sesuai atau bertentangan dengan peraturan hokum dan keinginan pemerintah. c. Adanya keinginan untuk mencari keuntungan dengan cepat diantara anggota masyarakat yang mencendrungkan orang bertidak dengan menipu atau dengan jalan melawan hukum.

(21)

d. Adanya ketidakpastian hukum atau ketidakjelasan ukuran kebijakan yang mungkin saling bertentangan satu sama lain, yang dapat menjadi sumber ketidakpatuhan orang pada hukum atau kebijakan publik. e. Apabila suatu kebijakan ditentang secara tajam (bertentangan) dengan

system nilai yang dimuat masyarakat secara luas atau kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat.

Kualitas dari suatu kebijakan dipengaruhi oleh kualitas atau ciri-ciri dari para aktor, kualitas tersebut adalah tingkat pendidikan, kompetensi dalam bidangnya, pengalaman kerja, dan integritas moralnya Komponen dari model ini terdiri dari stuktur-struktur formal dari organisasi-organisasi dan atribut-atribut yang tidak formal dari personil mereka, disamping itu perhatian juga perlu ditujukan kepada ikatan-ikatan badan pelaksana dengan pameran-pameran serta dalam penyampaian kebijakan(Suharto 2005).

Dari definisi diatas dapat diketahui bahwa implementasi kebijakan terdiri dari tujuan atau sasaran kebijakan, aktivitas, atau kegiatan pencapaian tujuan, dari hasil kegiatan.Implementasi itu merupakan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk mencapai tujuan yang telah di tetapkan dalam suatu keputusan kebijakan.Sehingga dapat disimpulkan bahwa implementasi merupakan suatu proses yang dinamis, dimana pelaksana kebijakan melakukan suatu aktivitas atau kegiatan, sehingga pada akhirnya akan mendapatkan suatu hasil yang sesuai dengan tujuan atau sasaran kebijakan itu sendiri.

(22)

B. Konsep Masyarakat Adat

Masyarakat dalam istilah bahasa Inggris adalah society yang berasal dari kata Latin socius yang berarti (kawan).Istilah masyarakat berasal dari kata bahasa Arab syaraka yang berarti (ikut serta dan berpartisipasi).Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul, dalam istilah ilmiah adalah saling berinteraksi.Suatu kesatuan manusia dapat mempunyai prasarana melalui wargawarganya dapat saling berinteraksi (Suharto 2009).

Masyarakat merupakan suatu kenyataan yang obyektif secara mandiri, bebas dari individu-individu yang merupakan anggota-anggotanya.Masyarakat sebagai sekumpulan manusia didalamnya ada beberapa unsur yang mencakup. Adapun unsur-unsur tersebut adalah (Nurma 2007):

a. Masyarakat merupakan manusia yang hidup bersama b. Bercampur untuk waktu yang cukup lama

c. Mereka sadar bahwa mereka merupakan suatu kesatuan d. Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama.

Hukum adat memandang masyarakat sebagai suatu jenis hidup bersama dimana manusia memandang sesamanya manusia sebagai tujuan bersama.Sistem kehidupan bersama menimbulkan kebudayaan karena setiap anggota kelompok merasa dirinya terikat satu dengan yang lainnya (Lukito 2008).

Adat artinya kebiasaan yaitu perilaku masyarakat yang selalu senantiasa terjadi di dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.Dengan begitu yang dimaksud hukum adat adalah hukum kebiasaan.Beberapa ciri pokok masyarakat hukum adat adalah mereka merupakan suatu kelompok manusia, mempunyai kekayaan

(23)

tersendiri terlepas dari kekayaan perorangan, mempunyai batas wilayah tertentu dan mempunyai kewenangan tertentu (Sumardjono dalam Bourchier 2010).

Masyarakat hukum adat sebagai masyarakat yang timbul secara spontan diwilayah tertentu, berdirinya tidak ditetapkan atau diperintahkan oleh penguasa yang lebih tinggi atau penguasa lainnya, dengan rasa solidaritas sangat besar di antara anggota, memandang anggota masyarakat sebagai orang luar dan menggunakan wilayahnya sebagai sumber kekayaan yang hanya dapat dimanfaatkan sebagai sumber kekayaan yang hanya dapat dimanfaatkan sepenuhnya oleh anggotanya (Abdurrahim 2007).

Pengertian masyarakat adat berdasarkan hasil Kongres Masyarakat Adat Nasional I yang dikemukakan oleh Moniaga (2010), yaitu kelompok masyarakat yang memiliki asal usul leluhur (secara turun temurun) di wilayah geografis tertentu serta memiliki sistem nilai, ideologi, ekonomi, politik, budaya, sosial dan wilayah sendiri. Berdasarkan pengertian di atas masyarakat adat di Indonesia dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:

a. Kelompok Masyarakat Kanekes di Banten dan Masyarakat Kajang di Sulawesi Selatan yang menempatkan diri sebagai pertapa bumi yang percaya bahwa mereka adalah kelompok masyarakat terpilih yang bertugas memelihara kelestarian bumi dengan berdoa dan hidup prihatin. Pilihan hidup prihatin dapat dilihat dari adat tentang bertani, berpakaian, pola makan dan sebagainya.

b. Kelompok Masyarakat Kasepuhan dan Suku Naga yang juga cukup ketat dalam menjalankan dan memelihara adat tetapi masih membuka

(24)

ruang cukup luas bagi adanya hubungan-hubungan komersil dengan dunia luar.

c. Kelompok Masyarakat Adat Dayak dan Penan di Kalimantan, Masyarakat Pakava dan Lindu di Sulawesi, Masyarakat Dani dan Deponsoro di Papua Barat, Masyarakat Krui di Lampung dan Masyarakat Kei dan Haruku di Maluku. Kelompok masyarakat ini adalah masyarakat adat yang hidup bergantung dari alam (hutan, sungai, laut, dll) dan mengembangkan sistem pengelolaan yang unik tetapi tidak mengembangkan adat yang ketat.

Kedudukan hak ulayat sudah terkandung dalam Pasal 18.B ayat (2) UUD 1945, yang menyatakan bahwa, Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang.Secara konstitusional, jaminan UUD 1945 itu diharapkan semakin memperkuat eksistensi hukum adat bagi keberlangsungan kehidupan mayarakat adat.

Balam buku De Commune Trek in bet Indonesische, F.D. Hollenmann mengkontruksikan 4 (empat) sifat umum dari masyarakat adat, yaitu magis religius, komunal, konkrit dan kontan. Hal ini terungkap dalam uraian singkat sebagi berikut (Alting,2010:46):

a. Sifat magis religius diartikan sebagai suatu pola pikir yang didasarkan pada keyakinan masyarakat tentang adanya sesuatu yang bersiafat sakral. Sebelum masyarakat bersentuhan dengan sistem hukum agama

(25)

religiusitas ini diwujudkan dalam cara berfikir yang frologka, animism, dan kepercayaan pada alam gahib. Masyarakat harus menjaga kehamonisan antara alam nyata dan alam batin (dunia gaib). Setelah masyarakat mengenal sistem hukum agama perasaan religius diwujudkan dalam bentuk kepercayaan kepada Tuhan (Allah). Masyarakat percaya bahwa setiap perbuatan apapun bentuknya akan selalu mendapat imbalan dan hukuman tuhan sesuai dengan derajat perubahannya.

b. Sifat komunal (Commun), masyarakat memiliki asumsi bahwa setiap setiap individu, anggota masyarakat merupakan bagian integral dari masyarakat secara keseluruhan. Diyakini bahwa kepentingan individu harus sewajarnya disesuaikan dengan kepentingan-kepentingan masyarakat karena tidak ada individu yang terlepas dari masyarakat. c. Sifat kongkrit diartikan sebagai corak yang seba jelas atau nyata

menunjukkan bahwa setiap hubungan hukum yang terjadi dalam masyarakat tidak dilakukan secara diam-diam atau samar.

d. Sifat kontan (kontane handeling) mengandung arti sebagai kesertamertaan terutama dalam pemenuhan prestasi yang diberikan secara sertamerta/seketika.

Pengertian masyarakat hukum adat diatur dalam Pasal 1 ayat 15 Peraturan Menteri Agraria dab Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penetapan Hak Komunal Atas Tanah Masyarakat Hukum Adat dan Masyarakat yang Berada dalam Kawasan Tertentu,

(26)

menyebutkan bahwa pengakuan hak masyarakat hukum adat adalah pengakuan pemerintah terhadap keberadaan hak-hak masyarakat hukum adat sepanjang kenyataannya masih ada.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa masyarakat hukum adat adalah sekelompok orang yang mempunyai ketentuan sendiri, batas wilayah sendiri, serta norma-norma yang berlaku dimasyarakat itu dan dipatuhi oleh kelompok masyarakat yang ada di kelompok tersebut.

C. Konsep Pemerintah Daerah

Pemerintah Daerah merupakan salah satu alat dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan.Pemerintah daerah ini merujuk pada otoritas administratif di suatu daerah yang lebih kecil dari sebuah negara dimana negara Indonesia merupakan sebuah negara yang wilayahnya terbagi atas daerah-daerah Provinsi. Daerah provinsi itu dibagi lagi atas daerah Kabupaten dan daerah Kota. Setiap daerah provinsi, daerah kabupaten, dan daerah kota mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan undang-undang.

Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, Pemerintah daerah merupakan kepala daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom. Sedangkan Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan

(27)

prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pemerintah daerah adalah salah satu alat dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan, pemerintah daerah ini merujuk pada otoritas yang administratif suatu daerah yang lebih kecil dari sebuah negara yang dimana negara Indonesia tersebut adalah sebuah negara yang wilayahnya terbagi atas daerah-daerah provinsi. Daerah provinsi itu dibagi lagi atas daerah kabupaten serta daerah kota. Setiap daerah provinsi, daerah kabupaten, serta daerah kota mempunyai daerah yang diatur dengan undang-undang (Thoha, 2012).

Pembentukan pemerintahan daerah sesuai dengan amanat Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 menjadi dasar dari berbagai produk undang-undang dan peraturan perundang-undangan lainnya yang mengatur mengenai pemerintah daerah, Sunarno (2009:54). Tujuan pembentukan daerah pada dasarnya dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan publik guna mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat disamping sebagai sarana pendidikan politik di tingkat lokal.

Tjandra (2009) Pemberian otonomi seluas-luasnya kepada daerah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat.Di samping itu melalui otonomi seluas-luasnya daerah diharapkan mampu meningkatkan daya saing dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan serta potensi dan keanekaragaman daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.Pemerintahan daerah dalam rangka meningkatkan

(28)

efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan otonomi daerah, perlu memperhatikan hubungan antar susunan pemerintah dan antarpemerintah daerah, potensi dan keanekaragaman daerah.

Pemerintahan apabila dibagi atau dipisahkan, maka terdapat perbedaan antara pemerintahan dalam arti luas dan pemerintahan dalam arti sempit.Pemerintahan dalam arti sempit hanya meliputi lembaga yang mengurusi pelaksanaan roda pemerintahan (disebut eksekutif), sedangkan pemerintahan dalam arti yang luas selain eksekutif, termasuk lembaga yang membuat peraturan perundangundangan (disebut legislatif), dan yang melaksanakan peradilan (disebut yudikatif), Syafie (2005:21-22).

Sistem pemerintahan daerah ada beberapa teori yang mendasari tentang pembagian kekuasaan diantaranya teori pembagian kekuasaan secara horisontal dan teori pembagian kekuasaan secara vertikal.Pembagian kekuasaan yang bersifat vertikal dalam arti perwujudan kekuasaan itu dibagikan secara verikal ke bawah. Pembagian kekuasaan secara vertikal berarti adanya pembagian kekuasaan antara beberapa tingkatan pemerintahan (Juanda, 2008 : 37).

Penyelenggaraan otonomi daerah diperlukan otonomi yang luas, nyata, dan bertanggungjawab di daerah secara proporsional dan berkeadilan, jauh dari praktik-praktik korupsi, kolusi, nepotisme serta adanya perimbangan antara keuangan pemerintah pusat dan daerah. Prinsip otonomi daerah adalah sebagai berikut (Rozali Abdullah, 2007:5):

a. Prinsip otonomi luas, Otonomi luas adalah kepala daerah diberikan tugas, wewenang, hak, dan kewajiban untuk menangani urusan

(29)

pemerintahan yang tidak ditangani oleh pemerintah pusat sehingga isi otonomi yang dimiliki oleh suatu daerah memiliki banyak ragam dan jenisnya. Daerah diberikan keleluasaan untuk menangani urusan pemerintahan yang diserahkan itu, dalam rangka mewujudkan tujuan dibentuknya suatu daerah, dan tujuan pemberian otonomi daerah itu sendiri terutama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, sesuai dengan potensi dan karakteristik masing-masing daerah.

b. Prinsip otonomi nyata, Prinsip otonomi nyata adalah suatu tugas, wewenang dan kewajiban untuk menangani urusan pemerintahan yang senyatanya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi dan karakteristik daerah masing-masing. Potensipotensi yang dimiliki daerah dapat dikembangkan deaerah untuk kesejahteraan masyarakat daerah.

c. Prinsip otonomi yang bertanggungjawab, Prinsip otonomi yang bertanggungjawab adalah otonomi yang dalam penyelenggaraannya harus benar-benar sejalan dengan tujuan pemberian otonomi yang pada dasarnya memberdayakan daerah, termasuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Kehadiran pemerintahan dan keberadaan pemerintah adalah sesuatu yang menjadi keharusan bagi proses kewajiban dalam kehidupan masyarakat. Sejarah telah membuktikan bahwa masyarakat, sekecil apapun kelompoknya, bahkan sebagai individu sekalipun, membutuhkan pelayanan pemerintah.Oleh karena itu

(30)

kehidupan sehari-hari erat hubungannya dengan fungsi-fungsi pemerintah di dalamnya. (S.H. Sarundajang, 2002:5).

Urusan pemerintahan konkuren terdiri dari urusan pemerintahan wajib dan pilihan.Urusan pemerintahan wajib terbagi lagi menjadiUrusan Pemerintahan yang berkaitandengan Pelayanan Dasar dan Urusan Pemerintahan yang tidak berkaitan dengan Pelayanan Dasar.

Urusan pilihan adalah sebagai berikut: 1. Kelautan dan perikanan. 2. Pariwisata.

3. Pertanian. 4. Kehutanan.

5. Energi dan sumber daya mineral. 6. Perdagangan.

7. Perindustrian. 8. Transmigrasi.

Fadel (2009) Otonomi daearah adalah usaha memberikan kesempatan kepada daerah untuk memberdayakan potensi ekonomi, sosial, budaya, dan politik diwlayahnya.tujuannya adalah demi terwujudnya kehidupan masyarakat yang tertib, maju, dan sejahtera, damai nyaman, wajar karena memperoleh kemudahan dalam segala hal dibidang pelayanan masyarakat, yang hasil akhirnya dapat beguna untuk percepatan pembangunan yang ada didaerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

(31)

Seiring dengan pelaksanaan kebijakan otonomi daerah, maka peran aktif daerah menjadi strategis untuk melaksanakan upayaupaya pemajuan kesejahteraan masyarakat yang pada hakekatnya merupakan tujuan negara yang telah diamanatkan oleh konstitusi.Salah satunya dengan melakukan upaya perlindungan, penghormatan dan pemberdayaan terhadap masyarakat hukum adat dan kelembagaan adat yang ada di daerah.

Perlindungan dan penghormatan masyarakat hukum adat dan Lembaga adat hanya akan dapat dilaksanakan apabila ada peran pemerintah daerah yang mendorong suatu kebijakan melalui sebuah kebijakan yang selaras pada program dan kegiatan pembangunan daerah ditiap sektor organisasi perangkat daerah yang ada. Hal ini akan dimungkinkan apabila pemerintah daerah membuatnya dalam sebuah bentuk produk hukum daerah yakni peraturan daerah (Perda) yang di dalamnya terdapat pengakuan, perlindungan, penghormatan dan pemberdayaan masyarakat hukum adat itu sendiri.

Secara keseluruhan yang menjadi kesimpulan dari pemerintah daerah adalah pelaksanaan pemerintahan pada tingkat daerah dengan menyerahkan segala urusan sepenuhnya kepada daerah sesuai dengan amanat UUD 1945.

D. Kerangka Pikir

Berdasarkan pemaparan beberapa konsep terkait Pemberdayaan Masyarakat Adat Kajang Dalam Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) dengan menggunakan pendekatan teori (Wrihatnolo dan Dwidjowijoto 2007: 147-152) dalam mengukur pemberdayaan yang kemudian penulis bangun berdasarkan bagan kerangka pikir berikut ini:

(32)

Bagan Kerangka Pikir

Gambar. 1 Implementasi kebijakan

(Meter dan Horn dalam Suharsono : 2010)

Tercapainya perlindungan hak masyarakat Adat Kajang Indikator Implementasi Kebijakan 1. Standar dan sasaran kebijakan 2. Sumberdaya

3. Hubungan antar organisasi 4. Karakteristis pelaksana

5. Kondisi sosial, ekonomi dan politik 6. Disposisi implementor

(33)

E. Fokus Penelitian

Berdasarkan dari gambar 1 bagan kerangka pikir maka yang menjadi fokus penelitian yaitu : standar dan sasaran kebijakan, sumber daya, hubungan antar organisasi, karakteristik pelaksana, kondisi sosial politik dan ekonomi serta disposisi implementor dalam menjamin hak-hak masyarakat adat Kajang Kabupaten Bulukumba.

F. Deskripsi Fokus Penelitian

Berdasarkan fokus penelitian maka yang menjadi gambaran dari fokus penelitian yaitu:

a. Standar dan sasaran kebijakan adalah sebuah kebijakan harus jelas dan terukur serta mengarah kepada perlindungan hak masyarakat adat Kajang.

b. Sumber daya adalah ketersediaan modal dalam melaksanakan sebuah kebijakan, selain itu harus didukung dengan keberadaan pelakasana yang benar-benar memahami pelaksanaan kebijakan.

c. Hubungan antar organisasi adalah melihat bentuk kerjasama antar instansi dalam mendukung kebijakan perlindungan hak masyarakat Adat Kajang.

d. Karakteristik pelaksana adalah pola-pola pelaksanaan kebijakan yang di laksanakan oleh para pelaksana harus terpolarisasi dengan baik e. Kondisi sosial, politik dan ekonomi adalah melihat bentuk penerimaan

masyarakat dalam sebuah kebijakan serta bagaimana dukungan dari elit-elit politik serta ketersediaan modal.

f. Disposisi implementor adalah melihat sejauh mana kemauan para implementor dalam melaksanakan kebijakan.

(34)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Adapun waktu dalam penelitian ini selama dua (2) bulan dan dilakukan setelah seminar proposal dimana lokasi penelitian bertempat di Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba tentang Implementasi Kebijakan Perlindungan Hak Masyarakat Adat Kajang di Kabupaten Bulukumba. Adapun alas an memilih obyek lokasi penelitian tersebut adalah menjadi tempat yang menjadi tujuan perlindungan hak masyarakat adat Kajang di Kabupaten Bulukumba.

B. Jenis dan Tipe Penelitian

Jenis dan tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian tentang Implementasi Kebijakan Perlindungan Hak Masyarakat Adat Kajang di Kabupaten Bulukumba adalah :

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, adalah penelitian untuk menjawab sebuah permasalahan secara mendalam dalam konteks waktu dan situasi yang bersangkutan dilakukan secara wajar dan alami sesuai dengan kondisi objektif dilapangan. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta dilapangan Sugiono (2012 : 9). Proses penelitian yang dimaksud antara lain melakukan pengamatan terhadap narasumber, berinteraksi dengan mereka dan berupaya dalam memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang Implementasi Kebijakan Perlindungan Hak Masyarakat Adat Kajang di Kabupaten Bulukumba.

(35)

Untuk itu peneliti harus terjun dalam lapangan dalam waktu yang cukup lama.

2. Tipe Penelitian

Penelitian ini menggunakan tipe pendekatan fenomenologi karena terkait langsung dengan gejala-gejala yang muncul disekitar penelitian yang menggunakan pendekatan fenomenologis berusaha untuk memahami makna dalam situasi tertentu, pendekatan ini menghendaki perilaku orang dengan maksud menemukan “fakta” atau “penyebab”.

C. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini di jarring dari sumber data primer dan sekunder sesuai dengan tujuan penelitian ini.

1. Data Primer

Data primer adalah data yang di peroleh langsung dari lapangan berupa hasil wawancara dengan beberapa pihak atau informan yang benar-benar berkompeten dan bersedia memberikan data dan informasi yang dibutuhkan dengan kebutuhan penelitian. Salah satunya kepala bagian atauinstansi yang terkait dalam penelitian.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari bacaan ataupun kajian pustaka, buku-buku atau literatur yang terkait dengan permasalahan yang sedang diteliti, internet, dokumen dan laporan yang bersumber dari lembaga terkait dengan kebutuhan data dalam penelitian.

(36)

D. Informan Penelitian

Informan penelitian adalah narasumbe ratau orang yang dimintai keterangan berkaitan dengan penelitian yang dilaksanakan. Adapun informan dari penelitian ini berdasarkan Implementasi Kebijakan Perlindungan Hak Masyarakat Adat Kajang di Kabupaten Bulukumba adalah sebagai berikut:

No. Nama Inisial Jabatan

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Nirmawati S.Sos, MM

A. Alif Amri Rauf, S.STP

Abd. Salam Syamsul Jamal Syahrir Karim Galla Puto Palasa Appe NM AR AS SJ SK GP PL AP

Kasubag Pendataan,Pelaporan dan Evaluasi

Kasubag penanganan masalah sosial

KepalaDesaTana Toa AliansiMasyarakatAdat Nusantara AliansiMasyarakatAdat Nusantara JuruBicaraAmmatoa MasyarakatAdat MasyarakatAdat

(Sumber : Diolah Penulis) E. TeknikPengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah teknik atau cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data, serta instrument pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatanya mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan lebih mudah.

(37)

Teknik pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Observasi

Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui pengamatan, dengan disertai pencatatan-pencatatan terhadap keadaan atau perilaku obyek sasaran. Dalam hal ini peneliti melakukan pengamatan langsung yang berkaitan dengan Implementasi Kebijakan Perlindungan Hak Masyarakat Adat Kajang di Kabupaten Bulukumba.

2. Wawancara

Wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan cara bertanya langsung (berkomunikasi langsung) dengan responden sesuai dengan jenis data dan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Dalam berwawancara terdapat proses interaksi antara pewawancara dengan responden.

3. Dokumentasi

Teknik dokumentasi ini dipergunakan untuk melengkapi teknik observasi dan wawancara sekaligus menambah keakuratan, kebenaran data atau informasi yang dikumpulkan dari bahan-bahan dokumentasi yang ada dilapangan serta dapat dijadikan bahan dalam pengecekan keabsahan data. F. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi. Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data

(38)

kedalampola, kategori, dan satu araian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data (Lexy :103). Teknik analisis ini pada dasarnya terdiri dari tiga komponen : 1). Reduksi data (data reduction), 2). Penyajian data (data display), 3). Penarikan serta pengujian kesimpulan (drawing and verifying conclusions) (Pawito, 2007).

1. Reduksi Data (Data Reduction)

Langkah reduksi data melibatkan beberapa tahap. Tahap pertama, melibatkan langkah-langkah editing, pengelompokan, dan meringkas data. Pada tahap kedua, peneliti menyususn kode-kode dan catatan-catatan mengenai berbagai hal, termasuk yang berkenaan dengan aktifitas serta proses-proses sehingga peneliti dapat menemukan tema-tema, kelompok-kelompok, dan pola-pola data.

2. Penyajian Data (Data Display)

Komponen kedua yakni penyajian data (data display) melibatkan langkah-langkah mengorganisasikan data, yakni menjalin (kelompok) data yang satu dengan (kelompok) data yang lain sehingga seluruh data yang dianalisis benar-benar dilibatkan dalam satu kesatuan, karena dalam penelitian kualitatif data biasanya beranekaragam perspektif dan terasa bertumpuk, maka penyajian data (data display) pada umumnya sangat diyakini sangat membantu proses analisis.

3. Penarikan serta Pengujian Kesimpulan (Drawing and Verifying Conclusions)

(39)

Pada komponen terakhir, yakni penarikan dan pengujian kesimpulan (drawing dan verifying conclusions), peneliti pada dasarnya mengimplementasikan prinsip induktif dengan mempertimbangkan pola-pola data yang ada atau kecenderungan dari penyajian data yang telah dibuat.

G. Keabsahan Data

Menurut Sugiyono (2014: 39), Triangulansi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dansumber data yang telah ada. Dengan demikian triangulansi sumber, triangulansi teknik pengumpulan data dan triangulansi waktu yakni sebagai berikut:

1. Triangulasi sumber

Triangulansi sumber dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Dalam hal ini penelitian melakukan pengumpulan dan pengujian data yang telah diperoleh melalui hasil pengamatan, wawancara dan dokumen-dokumen yang ada, kemudian peneliti membandingkan hasil pengamatan dengan wawancar dan membandingkan hasil wawancara dengan dokumen yang ada.

2. Triangulasi teknik

Triangulansi teknik dilakukan dengan cara menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Dalam hal yang diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi dan dokumen. Apabila dengan tiga teknik pengujian kredibilitas

(40)

data tersebut menghasilkan data yang berbeda-beda maka penelitian melakukan diskusi lebih lanjut kepada informan yang bersangkutan atau yang lain untuk memastikan data mana yang dianggap benar atau mungkin semuanya benar karena sudut pandangnya berbeda-beda.

3. Triangulansi waktu

Waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat narasumbermasih segar, belum banyak masalah akan memberikan data yang lebih valid sehingga lebih kredibel. Untuk itu dalam rangka pengujian kerdibilitas data dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda. Bilahasil uji menghasilkan data yang berbeda maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kepastian datanya. Triangulansi dapat juga dilakukan dengan cara mengecek hasil penelitian dari tim peneliti lain diberi tugas melakukan pengumpulan data.

(41)

BAB IV PEMBAHASAN A. Deskripsi Objek Penelitian

1. Kabupaten Bulukumba

Kabupaten Bulukumba adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Bulukumba. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.154,67 km² dan berpenduduk sebanyak 394.757 jiwa (berdasarkan sensus penduduk 2010).Kabupaten Bulukumba mempunyai 10 kecamatan, 24 kelurahan, serta 123 desa.Secara kewilayahan, Kabupaten Bulukumba berada pada kondisi empatdimensi, yakni dataran tinggi pada kaki Gunung Bawakaraeng-Lompobattang, dataran rendah, pantai dan laut lepas.

Kabupaten Bulukumba terletak di ujung bagian selatan ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, terkenal dengan industri perahu phinisi yang banyak memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat dan Pemerintah Daerah. Luas wilayah Kabupaten Bulukumba 1.154,67 Km2 dengan jarak tempuh dari Kota Makassar sekitar 153 Km.

Secara geografis Kabupaten Bulukumba terletak pada koordinat antara 5°20” sampai 5°40” Lintang Selatan dan 119°50” sampai 120°28” Bujur Timur. Batas-batas wilayahnya adalah:

 Sebelah Utara: Kabupaten Sinjai  Sebelah Selatan: Laut Flores  Sebelah Timur: Teluk Bone

(42)

 Sebelah Barat: Kabupaten Bantaeng.

Wilayah Kabupaten Bulukumba lebih didominasi dengan keadaan topografi dataran rendah sampai bergelombang. Luas dataran rendah sampai bergelombang dan dataran tinggi hampir berimbang, yaitu jika dataran rendah sampai bergelombang mencapai sekitar 50,28% maka dataran tinggi mencapai 49,72%.

Kabupaten Bulukumba mempunyai suhu rata-rata berkisar antara 23,82 °C – 27,68 °C. Suhu pada kisaran ini sangat cocok untuk pertanian tanaman pangan dan tanaman perkebunan.Berdasarkan analisis Smith-Ferguson (tipe iklim diukur menurut bulan basah dan bulan kering) maka klasifikasi iklim di Kabupaten Bulukumba termasuk iklim lembap atau agak basah.

Kabupaten Bulukumba berada di sektor timur, musim gadu antara Oktober – Maret dan musim rendengan antara April-September. Terdapat 8 buah stasiun penakar hujan yang tersebar di beberapa kecamatan, yakni: stasiun Bettu, stasiun Bontonyeleng, stasiun Kajang, stasiun Batukaropa, stasiun Tanah Kongkong, stasiun Bontobahari, stasiun Bulo– bulo dan stasiun Herlang. Daerah dengan curah hujan tertinggi terdapat pada wilayah barat laut dan timur sedangkan pada daerah tengah memiliki curah hujan sedang sedangkan pada bagian selatan curah hujannya rendah.

Awal terbentuknya, Kabupaten Bulukumba hanya terdiri atas tujuh kecamatan (Ujungbulu, Gangking, Bulukumpa, Bontobahari, Bontotiro, Kajang, Herlang), tetapi beberapa kecamatan kemudian dimekarkan dan kini

(43)

butta panrita lopi sudah terdiri atas 10 kecamatan. Ke-10 kecamatan tersebut adalah:

1. Kecamatan Ujungbulu (Ibukota Kabupaten) 2. Kecamatan Gantarang

3. Kecamatan Kindang 4. Kecamatan Rilau Ale 5. Kecamatan Bulukumpa 6. Kecamatan Ujungloe 7. Kecamatan Bontobahari 8. Kecamatan Bontotiro 9. Kecamatan Kajang 10. Kecamatan Herlang

Dari 10 kecamatan tersebut, tujuh di antaranya merupakan daerah pesisir sebagai sentra pengembangan pariwisata dan perikanan yaitu Kecamatan Gantarang, Kecamatan Ujungbulu, Kecamatan Ujung Loe, Kecamatan Bontobahari, Kecamatan Bontotiro, Kecamatan Kajang dan Kecamatan Herlang. Tiga kecamatan lainnya tergolong sentra pengembangan pertanian dan perkebunan, yaitu Kecamatan Kindang, Kecamatan Rilau Ale dan Kecamatan Bulukumpa.

2. Suku Ammatoa Kajang

Suku kajang adalah sebuah komunitas adat di Sulawesi Selatan yang di kenal dengan pakaian hitam.Komunitas adat ini bermukim di desa Tana Towa, Kec.Kajang. Kabupaten Bulukumba. Setiap hari mereka

(44)

menggunakan sarung hitam (tope leleng) yang mereka tenun sendiri dengan menggunakan pewarna alami.Tope le’leng atau sarung hitam adalah sarung khas kajang yang dibuat dengan proses alamiah dan ditenun dari tangan-tangan terampil perempuan kajang. Sarung ini adalah pakaian masayarakat kajang yang digunakan sehari-hari.Sarung ini juga menjadi syarat ketika ada upacara-upacara adat di kajang.

Masyarakat kajang menggunakan pakaian yang serba berwarna hitam.Warna hitam untuk pakaian baju dan sarungnya yaitu 3 wujud kesamaan dalam segala hal, termasuk kesamaan dalam kesederhanaan.Warna hitam merupakan warna terbaik dari kesekaian banyak warna.

Suku kajang merupakan salah satu suku tradisional,yang terletak di kabupaten bulukumba Sulawesi selatan, tepatnya sekitar 200 km arah timur kota Makassar. Daerah kajang terbagi dalam 8 desa, dan 6 dusun.Namun perlu diketahui, kajang di bagi dua secara geografis, yaitu kajang dalam (suku kajang, mereka disebut tau kajang) dan kajang luar (orang-orang yang berdiam di sekitar suku kajang yang relative modern, mereka di sebut tau lembang).

Gambaran kehidupan keseharian komunitas Kajang merupakan segala bentuk aktifitas atau kegiatan yang dilakukan oleh komunitas Kajang di Desa Tana Toa Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba.Setiap hari masyarakat adat kajang menggunakan bahasa konjo sebagai bahasa sehari-hari yang berkembang dalam suatu komunitas masyarakat.Menggunakan

(45)

bahasa konjo dalam berkomunikasi membuat mereka lebih nyaman saat berkomunikasi dan kecil kemungkinan tidak terjadi kesalahpahaman saat berkomunikasi. Sedangkan ketika masyarakat adat kajang menggunakan bahasa Indonesia mereka mengalami kesulitan memaknai kata dan merasa tidak nyaman. Gambaran kehidupan keseharian masyarakat adat kajang terbagi menjadi tiga kategori, yaitu segi pekerjaan, segi kekeluargaan dan segi adat istiadat.

Ammatoa adalah kepala adat di suku Kajang yang sangat memegang teguh kitab lontara. Pesan di Kajang (Pasang ri Kajang) menyimpan pesan-pesan luhur, yakni penduduk Tana Toa harus senantiasa ingat kepada Tuhan. Lalu, harus memupuk rasa kekeluargaan dan saling memuliakan.Orang Ammatoa juga diajarkan untuk bertindak tegas, sabar, dan tawakal.Pasang ri Kajang juga mengajak untuk taat pada aturan, dan melaksanakan semua aturan itu sebaik-baiknya.

Pada komunitas suku Kajang Dalam sejak berabad-abad yang lampau hingga saat ini, suku Kajang tetap hidup dan bertahan dengan cara yang tradisional dan bersahaja (Kajang: Kamase-masea) sebagaimana diyakini bahwa cara hidup semacam itulah yang pernah dilakukan dan dipesankan oleh leluhur mereka (Kajang: Boheta) untuk dilaksanakan generasi penerusnya, sehingga mentradisi secara turun temurun seperti apa yang dapat disaksikan di dalam Kawasan Adat Ammatoa saat ini. konsistensi terhadap nilai-nilai adat dan tradisi masih sangat terasa mempengaruhi permukimannya.

(46)

Komunitas Ammatoa mempraktekkan sebuah agama adat yang disebut dengan Patuntung. Istilah Patuntung berasal dari tuntungi, kata dalam bahasa Makassar yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti mencari sumber kebenaran (to inquiri into or to investigate the truth).

Masyarakat adat Ammatoa juga meyakini bahwa awal kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan berasal dari Tana Toa.Berdasarkan pembagian territorial, orang-orang kajang yang keluar dari kawasan adat dan memimpin suatu wilayah yang masing-masing. Teritorialisasi dan kepercayaan akan pengaruh Ammatoa terhadap eksistensi tersebut lantas dituangkan dalam suatu sebutan Ammatoa ri Kajang, Sombayya ri Gowa, Pajung ri Luwu, Mangkawu ri Bone. Ammatoa merupakan representasi pemimpin tertinggi dari segi spiritualitas dan pemerintahan dari kerajaankerajaan besar yang pernah ada tersebut.Pola perilaku masyarakat dalam kawasan adat Ammatoa tentunya bertentangan dengan pola hidup Kamase-mase yang dianut dan dijadikan rujukan dalam menentukan tindakan hidup masyarakat adat Kajang.Walaupun masih banyak masyarakat adat Kajang yang memegang teguh pendirian Kajang, namun pengaruh modernitas terlalu sulit untuk dikalahkan oleh spiritualitas lokal dalam kosmologi Kajang.Kamase-mase adalah representasi idielogis dari kesadaran masyarakat adat untuk senantiasa hidup bersahaja.

Suku Kajang yang termasuk dalam masyarakat Kajang adat Ammatoa adalah mereka yang tinggal di dalam kawasan adat Ammatoa yang berada di

(47)

Desa Tana Toa Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan.Desa Tana Toa terdiri dari sembilan dusun, tersisa tujuh dusun yang masih terikat aturan adat seperti larangan menggunakan listrik, dan lain-lain. Diantaranya yaitu dusun Sobbu, Benteng, Pangi, Bongkina, Tombolo, Luraya, dan Balangbina, sedangkan dua dusun lainnya yaitu dusun Balagana dan Jannayya telah mendapat izin dari Ammatoa untuk menggunakan listrik, membangun rumah batu, menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat, dan alat-alat modern lainnya, dengan alasan kedua dusun tersebut digunakan sebagai pusat aktifitas desa seperti pembangunan kantor desa, puskesmas, pasar, sekolah, mesjid, dan lain sebagainya yang membutuhkan alat-alat modern. Desa Tana Toa terbagi dalam dua kawasan yaitu Kawasan luar (dusun Balagana dan dusun Jannayya) dan Kawasan dalam (dusun Sobbu, Pangi, Bongkina, Tombolo, Luraya, Balangbina) Berikut nama-nama dusun serta nama kepala dusun sebagai berikut:

a. Dusun Balagana : Buttu S. b. Dusun Jannayya : Bontong c. Dusun Sobbu : Sannungi d. Dusun Benteng : Hading e. Dusun Pangi : Upah

f. Dusun Bongkina : Muhammad Sabir g. Dusun Tombolo : Tambara

h. Dusun Lurayya : Sampe. S i. Dusun Balangbina : Laling

(48)

Desa Tana Toa merupakan salah satu desa yang terletak di sebelah wilayah Kecamatan Kajang dengan luas wilayah 729 km2 . Desa Tana Tona salah satu desa di Kabupaten Bulukumba Kecamatan Kajang yang memiliki hutan lindung dengan luas hutan (borong) 331 km2 .

a. Borong Karrasa (hutan keramat) hutan ini tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun juga.

b. Borong Barrasa (hutan penyangga) hutan ini dapat digunakan oleh masyarakat atas izin Ammatoa bagi masyarakat yang terkena musibah seperti rumahnya terbakar, masyarakat adat yang tidak mampu dan kebutuhan fasilitas umum.

c. Borong Rajja (hutan masyarakat) hutan ini dibangun dan dipelihara oleh masyarakat sendiri dan akan dipergunakan sendiri oleh masyarakat.

Tabel 4.1 Luas Daerah Tana Toa berdasarkan penggunaannya

Wilayah Luas Pemukiman 169 Ha/m2 Persawahan 30 Ha/m2 Perkebunan 93 Ha/m2 Kuburan 5 Ha/m2 Pekarangan 95 Ha/m2

(49)

Taman 0

Perkantoran 1 Ha/m2

Prasarana umum lainnya 5 Ha/m2

Hutan 331 Ha/m2

Total 729 Ha/m2

(Sumber: Profil Desa Tana Toa Tahun 2017)

Jumlah kepala keluarga dan penduduk desa Tana Toa dapat dilihat pada perincian sebagai berikut:

a. Jumlah kepala keluarga (KK) sebanyak 959 KK b. Jumlah penduduk sebanyak 5.176 orang

c. Jumlah laki-laki sebanyak 2.325 orang d. Jumlah perempuan sebanyak 2.851 orang

e. Jumlah anak-anak/dibawah usia 17 tahun sebanyak 1.904 orang f. Jumlah dewasa/diatas usia 17 tahun sebanyak 3.272 orang.

Desa Tana Toa terbagi dalam dua kawasan dengan jumlah penduduk yang berbeda yaitu sebagai berikut:

a. Kawasan luar/Kajang luar (dusun Balagana dan dusun Jannayya) dengan jumlah penduduk 1.425 orang dari 235 KK.

b. Kawasan dalam/Kajang dalam (dusun Sobbu, Pangi, Bongkina, Tombolo, Benteng, Lurayya, dan Balangdina) jumlah pendudukan 3.751 orang dari 524 KK. Sumber mata pencaharian masyarakat

(50)

Kajang Dalam di desa Tana Toa umumnya berprofesi sebagai petani dan peternak.

Gambaran kehidupan keseharian komunitas Kajang merupakan segala bentuk aktifitas atau kegiatan yang dilakukan oleh komunitas Kajang di Desa Tana Toa Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba.Sebagian besar masyarakat adat kajang Amma Toa mempunyai beragam pekerjaan.Berikut persentase penduduk desa Tana Toa menurut mata pencaharian:

Tabel 4.2 Persentase Profesi Penduduk Desa Tana Toa

No. Jenis Pekerjaan Persentase (%)

1. Petani 90 2. Pedagang Kecil 5 3. Sopir 0,5 4. Pegawai 1 5. Perantau/Pekerja musiman 3,5 Jumlah 100

(Sumber: Profil Desa Tana Toa Tahun 2017)

Sumber mata pencaharian masyarakat Kajang Dalam yaitu bertani seperti menanam padi (pare) dan jagung (ba’do) dan masa panen sebanyak dua kali dalam satu tahun.Musim tanam pertama padi pada bulan Desember dan masa panen bulan April, tanam kedua bulan Mei dan panen pada bulan September.

(51)

Untuk jagung, masa tanam pertama pada bulan November dan panen pada bulan Januari dan tanam kedua pada bulan Februari kemudian masa panen pada bulan Mei, musim tanam dan panen di Kajang dalam sudah menjadi jadwal tetap dalam kehidupan mereka, saat musim tanam atau panen maka masyarakat yang sedang bekerja di luar kota akan kembali ke kampung mereka untuk membajak sawah. Selain itu membuat sarung tenun khas Kajang Dalam kemudian dijual di pasar, bekerja sebagai kuli bangunan, dan bekerja pekerjaan musiman di daerah lainnya yang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat Kajang Dalam.

B. Implementasi Kebijakan Perlindungan Hak Masyarakat Adat Kajang di Kabupaten Bulukumba.

Perlindungan hak masyarakat adat merupakan salah satu kewajiban dari pemerintah dalam rangka mempertahankan aspek kebudayaan sejak dahulu.Perlindungan bukan hanya sebatas mengakui keberadaannya tetapi juga memenuhi segala hak-hak bermasyarakat sesuai dengan peraturan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pola perilaku masyarakat dalam kawasanadat Ammatoa tentunya bertentangan dengan pola hidup Kamase-mase yang dianut dan dijadikan rujukan dalam menentukan tindakan hidup masyarakat adat Kajang.Walaupun masih banyak masyarakat adat Kajang yang memegang teguh pendirian Kajang, namun pengaruh modernitas terlalu sulit untuk dikalahkan oleh spiritualitaslokal dalam kosmologi Kajang.

Perlindungan hak masyarakat Adat Kajang di Kabupaten Bulukumba akan dibahas penulis melalui indikator standar dan sasaran kebijakan, sumber daya, hubungan antar organisasi, karakteristik pelaksana, kondisi

(52)

sosial ekonomi dan politik serta disposisi implementor di paparkan penulis sebagai berikut :

a. Standar dan sasaran Kebijakan

Implementasi program atau kebijakan merupakan salah satu tahap yang penting dalam proses kebijakan publik. Suatu program kebijakan harus diimplementasikan agar mempunyai dampak dan tujuan yang diinginkan. Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah atau lembaga untuk mencapai sasaran dan tujuan.

Perlindungan hak masyarakat adat Kajang di Kabupaten Bulukumba merupakan sebuah program prioritas pemerintah daerah, sehingga dengan demikian di bentuklah sebuah peraturan daerah yang mengatur tentang perlindungan hak masyarakat adat, dimana di dalam peraturan daerah tersebut berisi tentang acuan perlindungan hak masyarakat adat.

“Perlindungan hak masyarakat adat Kajang tentu memiliki standar dan sasaran maka dari itu dibentuklah perda tentang perlindungan hak masyarakat adat kajang. Dimana didalamnya pemerintah daerah mengakui keberadaan masyarakat adat Kajang sehingga masyarakat adat Kajang juga mendapat perlindungan dari pemerintah baik dalam menjalankan kehidupan sosial sampai kepada perlindungan ha-hak dalam kawasan adat tersebut.” (Hasil wawancara dengan informan NM tanggal 21/01/2020)

(53)

Hasil wawancara dengan informan dapat dilihat bahwa perlindungan hak masyarakat adat kajang merupakan salah satu prioritas pemerintah kabupaten Bulukumba, sehingga dalam penanganannya di bentuklah sebuah peraturan daerah yang mengatur tentang hak-hak masyarakat adat Kajang termasuk pengakuan dari pemerintah daerah.

Standar sebuah kebijakan akan membuat implementor atau pelaksana kebijakan lebih mudah dalam merealisasikan sebuah kebijakan dengan sasaran yang jelas. Sebuah kebijakan harus memiliki standar yang jelas agar maksud dan tujuan dari adanya kebijakan tersebut dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Perlindungan hak masyarakat adat Kajang telah tertuang dalam peraturan daerah kabupaten Bulukumba nomor 9 Tahun 2015, dimana peraturan tersebut menjadi acuan bagi semua aparatur birokrasi dalam mewujudkan tatanan kehidupan sosial bagi masyarakat adat Kajang.

“Sebuah kebijakan yang baik menurut saya harus ada pedoman yang menjadi acuan bagi para aparatur dalam pelaksanaannya.Termasuk perlindungan hak masyarakat adat Ammatoa, mereka merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Bulukumba sehingga mendapat perhatian khusus dari pemerintah daerah. Segala bentuk pengakuan, perlindungan sampai kepada pemberian hak-hak terhadap masyarakat adat Kajang itu sudah tertuang dalam perda nomor 9 tahun 2015, itu saya fikir sudah menjadi patokan bagi para pelaksana dalam rangka

(54)

memberikan perlindungan hak bagi masyarakat adat Kajang.” (Hasil wawancara dengan Informan AR tanggal 21/01/2020).

Hasil wawancara dengan informan dapat disimpulkan bahwa standar kebijakan perlindungan hak masyarakat adat kajang telah tertuang dalam sebuah regulasi pemerintah yang berbentuk peraturan daerah dimana keseluruhan hak-hak masyarakat adat Kajang telah dijelaskan dalam peraturan tersebut.

Implementasi adalah membentuk suatu kaitan yang memudahkan tujuan-tujuan kebijakan, dapat direalisasikan sebagai dampak dari suatu kegiatan pemerintah. Oleh karena itu, tugas implementasi mencakup sarana-sarana tertentu dirancang dan dijalankan dengan harapan sampai pada tujuan yang diinginkan.

Perlindungan masyarakat adat secara optimal memang sudah menjadi tugas dari pemerintah, pengakuan terhadap masyarakat adat Kajang merupakan sebuah bentuk perlindungan terhadap hak-hak warga Negara. Dengan adanya kebijakan perlindungan hak masyarakat adat Kajang lebih mengantisipasi diskriminasi yang selama ini dialami oleh masyarakat adat.

“Sebuah kebijakan terkait perlindungan hak masyarakat adat itu sangat penting, selama ini banyak sekali kasus kurangnya perlindungan terhadap masyarakat adat sehingga seringkali kita menemukan adanya perampasan hak-hak, konflik masyarakat akibat tidak adanya perlindungan hak masyarakat adat.Di Kabupaten Bulukumba sendiri terkait perlindungan hak masyarakat adat Kajang

Gambar

Tabel 4.1 Luas Daerah Tana Toa berdasarkan penggunaannya
Tabel 4.2 Persentase Profesi Penduduk Desa Tana Toa

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Dari hasil wawancara tersebut dari beberapa informan di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa dinas kebersihan dan lingkungan hidup sejauh ini sangat berperan aktif

Berdasarkan hasil penelitian di atas penulis dapat menarik kesimpulan bahwa dalam implementasi Peraturan Daerah (PERDA) Sistem Kelas Tuntas Berkelanjutan (SKTB) di

Di dalam studi media pada pembelajaran tentang komunikasi massa, teori pada news media atau media baru menjadi suatu objek pada kajian mengenai media online,

Maksud dan tujuan dari tugas akhir atau skripsi ini yaitu untuk memperoleh gelar Strata Satu (S1) pada program studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan

Untuk melihat hasil pengaruh pengembangan destinasi pariwisata berbasis SDGS (Sustainable Development Goals) terhadap pengentasan kemiskinan di Kelurahan Malino, Kecamatan

Penyebab terjadinya unreperted fishing di perairan Indonesia pada umumnya dan di Kepulauan Selayar pada khususnya tidak terlepas dari lingkungan strategis global

Pemilihan informan dalam penelitian ini dilakukan secara proporsive sampling atau sengaja dipilih yang didasarkan pertimbangan bahwa untuk memperoleh data yang

Cepat atau lambatnya perubahan itu sama- mempunyai pengaruh, yakni kedua sifat perubahan tersebut akan mengubah intensitas faktor-faktor karna mata pencaharianya masyarakat