• Tidak ada hasil yang ditemukan

Praktikum kimia organik aldehida dan keton

N/A
N/A
Yulia Rahmadina

Academic year: 2023

Membagikan "Praktikum kimia organik aldehida dan keton"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

ALDEHIDA DAN KETON ( Laporan Praktikum Kimia Organik)

Oleh

Yulia Rahmadina 2117021049

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG

2021

(2)

Judul Percobaan : Aldehida dan Keton

Tanggal Percobann : 21 Oktober 2021

Tempat Percobaan : -

Nama : Yulia Rahmadina

NPM : 2117021049

Jurusan : Biologi

Fakultas : Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Kelompok : IV (empat)

Bandar Lampung, 21 Oktober 2021 Mengetahui

Asisten

Ofriani Fatrika NPM. 1857011003

(3)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari banyak senyawa turunan aldehid dan keton yang sering kita jumpai, seperti permbersih kuku dan formalin. Aldehid sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. diantaranya dalam bidang industry, senyawa aldehid banyak dipakai sebagai pelarut, bahan baku, dan pereaksi untuk membuat produk lain. Misalnya senyawa formaldehida yang lebih dikenal dengan larutan formalin banyak digunakan sebagai bahan specimen biologi. Dan aseton digunakan sebagai pelarut organic, menghilangkan cat kuku, keton siklik yang digunakan untuk bahan dalam pembuatan parfum, selain itu isobutyl metil keton atau hekson digunakan sebagai pelarut nitroselulosa dan getah.

Senyawa pembersih kuku dan formalin memiliki sifat yang mirip dikarenakan gugus fungsi yang sama. Aldehid dan keton keduanya mempunyai gugus karbonil yang sama C = O, sehingga sifat reaksi umumnya sama terhadap sifat karbonil. Biasanya aldehid bereaksi lebih cepat dibandingkan dengan keton terhadap suatu pereaksi yang sama. Hal ini disebabkan oleh atom karbon karbonil dari aldehid kurang terlindung dibandingkan dengan keton. Aldehid lebih mudah teroksidasi dari keton. Aldehid mudah mengalami oksidasi menjadi asam karboksilat yang mengandung jumlah atom karbon yang sama banyaknya.

Sedangkan keton tidak menjalankan reaksi yang serupa, karena dalam reaksi oksidasi terjadi pemutusan ikatan karbon-karbon yang menghasilkan 2 asam karboksilat dengan jumlah karbon yang masing-masing lebih sedikit daripada keton semula dan keton siklik akan menghasilkan suatu asam karboksilat.

Aldehid memiliki kandungan gugus karbonil yang bisa terikat pada satu atau dua

(4)

atom hydrogen, sedangkan keton mengandung gugus karbonil yang terikat dengan dua gugus alkil/aril.

Aldehida dan keton dapat dibedakan dengan mereaksikannya dengan larutan natrium bisulfit. Hampir semua aldehida, keton-keton siklis yang tak terhalang dan kebanyakan metal keton memberikan senyawa adisi yang padat yang terlarut dalam air. Pada aldehida dan keton dapat dilakukan beberapa uji misalnya tes fenilhidrazin yang ketika reagen fenilhidrazin direaksikan dengan sampel hanya sampel asetaldehid yang menunjukkan reaksi positif, yang ditandai dengan berubahnya warna larutan menjadi bewarna kuning.yang digunakan untuk membedakan metal keton dari semua aldehida, kecuali asetaldehida. Dan juga tes iodoform yang digunakan untuk membedakan metal keton dari semua aldehida, kecuali asetaldehida. Keton metin aril tidak memberikan senyawa adisi dengan natrium bisulfit, tetapi memberikan hasil positif dengan tes iodoform.

Karena aldehida dan keton memiliki banyak persamaan maka dilakukan percobaan ini supaya dapat membedakan aldehid dan keton berdasarkan percobaan serta mengetahui reaksi-reaksi karbonilnya.

B. Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari dilakukannya percobaan ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui reaksi-reaksi karbonil.

2. Dapat membedakan aldehid dan keton dengan percobaan.

(5)

II. TINJAUAN PUSTAKA

Aldehid dan keton merupakan senyawa organic yang mengandung gugus karbonil (C=C). Keton mempunyai sekurangnya satu atom hydrogen yang terikat pada karbon karbonilnya. Gugus lain dalam suatu aldehid dapat berupa alkil, aril atau H. Aldehid dan keton dapat membentuk ikatan hydrogen dengan molekul air yang polar. Anggota deret yang rendah, yaitu formaldehid, asetaldehid dan aseton kurang larut dalam air dalam segala perbandingan. Semakin banyak rantai karbon, maka kelarutan dalam air akan semakin menurun. Bila rantai karbon melebihi lima atau enam karbon, aldehid dan keton larut dalam pelarut non polar (Hadanu, 2019).

Senyawa aldehid mempunyai rantai utama mengandung gugus -CHO dan karbon pada CHO diberi prioritas utama dengan terendah. Aldehid merupakan senyawa yang mampu berikatan kovalen sehingga dapat terjadi modifikasi protein dan aldehid merupkana senyawa non polar dengan berat molekul yang sama. Aldehid mempunyai sekurangnya satu atom karbon yang terikat pada karbon-karbonnya. Aldehid diturunkan dari nama alkana dengan menggannti -a menjadi -al, oleh karena itu aldehd disebut juga alkanal. Nama aldehid diturunkan dari nama asam karboksilat dengan menggantikan akhiran -at menjadi aldehid dan membuang kata asam (Riswiyanto, 2009).

Keton memiliki struktur dan tata nama yang mengandung gugus karbonil (C=O), tata nama keton adalah alkil keton atau propanon. Keton larut dalam air dan titik didihnya sebanding dengan didih didihnya sebanding dengan kenaikan berat molekul. Keton adalah senyawa yang jika R adalah alkil atau aromatic keton paling penting dalam aseton dengan system penamaan IUPAC menggunakan akhiran -on. Pembuatan keton yang paling umum adalah oksidasi dari alkohol sekunder. Hampir semua oksidator dapat dipakai. Pereaksi yang khas antara lain chromium oksisa (CrO3), phiridinium

(6)

khlor kromat, natrium bikhromat (Na2Cr2O7) dan kalium permanganat (KMnO4) ( Antonius, dkk. 2015).

Aldehida dan keton mempunyai titik didih lebih tinggi dibandingkan hidrokarbon dengan massa molekul yang sebanding. Hal ini disebabkan karena aldehida dan keton memiliki gugus karbonil polar sehingga mempunyai interaksi dipol-dipol intermolekul yang lebih kuat. Titik diidh keton lebih tinggi daripada aldehida isomeric karena keton bersifat lebih polar disebabkan oleh efek induksi yang lebih besar akibat adanya dua gugus alkil. Reaksi-reaksi pada aldehida dan keton adalah reaksi oksidasi dan reaksi reduksi. Reaksi oksidasi untuk membedakan aldehida dan keton. Aldehida lebih mudah dioksidasi dari pada keton (Wardiyah, 2016).

Perbedaan kereaktifan antara aldehid dan keton melalui oksidator dapat digunakan untuk membedakan kedua senyawa tersebut. Uji Tollens merupakan salah satu uji yang digunakan untuk membedakan mana yang termasuk senyawa aldehid dan mana yang termasuk senyawa keton. Selain dengan menggunakan uji tollen untuk membedakan senyawa senyawa aldehid dan keton dapat juga menggunakan uji fehling. Aldehid lebih mudah dioksidasi disbanding keton. Oksidasi aldehid menghasilkan asam dengan jumlah atom karbon yang sama (Achmad, 1986).

(7)

III. METODE PENELITIAN

A. Alat dan Bahan

Adapun alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah, tabung reaksi, rak tabung reaksi, pipet tetes, erlenmeyar, kertas saring, corong buchner, pemanas air.

Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah, Larutan uji (benzaldehid dan sikloheksanon), fenilhidrazin, 2,4-dinitrofenilhidrazin, semikarbarida, iodium, na-bisulfit, kalium iodida.

B. Diagram Alir

Adapun diagram alir dalam percobaan ini adalah sebagai berikut:

1. Pembuatan Larutan Fenildrazin

1 mmol larutan uji

- Masukkan ke dalam labu Erlenmeyer 25 ml

- Tambahkan 3 ml asam cuka, homogenkan

- Encerkan larutan dengan 4-5 ml air - Tuangkan ke dalam gelas ukur 10 ml dan

diencerkan hingga tanda batas, simpan - Keringkan dan tentukan titik lelehnya Hasil

(8)

2. Prosedur Uji

1 mmol zat uji

- Masukkan kedalam tabung reaksi - Larutkan dalam 1 ml air

- Tambahkan beberapa tetes methanol - Tambahkan 1 ml larutan fenilhidrasin - Gosoklah dengan batan pengaduk

Hasil

3. 2,4- dinitrofenilhidrazin

1 mmol larutan uji

- Masukkan ke tabung reaksi - Tambahkan 1 mmol 0,1 M 2,4-

dinitrofenilhidrazin

- Panaskan beberapa menit dan biarkan mengkristal

- Saring dengan corong Buchner yang dilengkapi dengan pengisap

- Keringkan dan tentukan titik lelehnya

Hasil

4. Semikarzabon

0,5 ml larutan semikabazida

- Masukkan ke tabung reaksi

(9)

- Tambahkan 1 mmol asetofenon dan 1 mmol methanol (sekupnya)

- Tambahkan 10 tetes larutan pridina (dua kali lebih banyak)

- Panaskan perlahan – lahan di atas penangas air

- Saring dengan dihisap dan dikeringkan dan tentukan titik lelehnya

Hasil

5. Tes Bisulfit

5 g natrium bisulfit

- Masukkan ke dalam tabung reaksi - Larutkan dalam 20 ml air

- Tambahkan 5 tetes larutan yang akan diuji

- Kocoklah masing-masing tabung reaksi berkali-kali

- Amati dan catat hasilnya

Hasil

6. Tes Iodoform

2 ml larutan uji

- Masukkan ke dalam tabugn reaksi - Tambahkan 2 ml larutan natrium

hidroksida 10%

(10)

- Tambahkan perlahan-lahan larutan iodium

- Amati dan catat hasilnya

Hasil

(11)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

Adapun data hasil pengamatan pada percobaan ini adalah sebagai berikut:

1. Hasil Pengamatan Uji 2,4-dinitrilfenilhidrazin

No Langkah Kerja Hasil

1 Masukkan 10 tetes sampel dalam tabung Larutan bewarna bening 2 Tambahkan 10 ml larutan 2,4-

dinitrilfenilhidrazin ke dalam setiap. Jika endapan tidak segera muncul, panaskan selama 5 menit di dalam penangas air.

- Siklohksanon

- Benzaldehid

Terbentuk kristal

Terbentuk endapan oranye

2. Hasil Pengamatan Uji Adisi Na-Bisulfit

No Langkah Kerja Hasil

1 Memasukkan 10 tetes sampel dalam tabung.

Larutan bewarna bening

2 Menambahkan 10 tetes Na-bisulfit, mengocok:

(12)

- Sikloheksanon

- Benzaldehit

Larutan bewarna bening

Terbentuk gumpalan bewarna putih susu

3. Hasil Pengamatan Uji Iodoform

No Langkah Kerja Hasil

1 Dicampurkan 2 ml sampel, 2 ml NaOh dan tetes demi tetes larutan Iodium ke dalam tabung reaksi.

Larutan bewarna kuning

2 Memanaskan selama 5 menit:

- Siklohksanon

- Benzaldehid

Terbentuk 2 lapisan bewarna kunig

Terbentuk 2 lapisan bewarna bening

B. Pembahasan

Aldehid adalah suatu senyawa yang mengandung sebuah gugus karbonil yang terikat pada sebuah atau dua buah atom karbon hydrogen. Senyawa aldehid mengandung 1 atom hydrogen dan 1 gugus alkil dan aril yang terikat pada gugus karbonil. Aldehid adalah senyawa yang mengandung salah satu dari gugus-gugus penting di dalam kimia organic yaitu gugus karbonil C=O. Gugus karbonil yaitu gugus yang paling menentukan sifat kimia aldehid dan keton. Gugus fungsi aldehid adalah R-CHO dengan rumum umumnya yaitu CnH2nO. Perbedaan

(13)

gugus R yang terikat pada gugus karbonil antara aldehid dapat menimbulkan adanya perbedaaan sifat kimia di antara senyawa aldehid. Sifat-sifat senyawa- senyawa aldehid diantaranya yaitu mudah teroksidasi dan lebih reaktif dari pada keton terhadap adisi nukleofilik yang mana reaksi ini karakteristik terhadap gugus karbonil. Gugus karbonil pada aldehid biasa juga disebut gugus formil.

Bila gugus formil terikat pada rantai karbon alifatik, maka berdasarkan IUPAC, penamaan dilakukan dengan mengubah akhiran -ana menjadi -al. Sehingga aldehid disebut juga dengan alkanal. Posisi gugus fungsi selalu dilekatkan ujung rantai karbon, sehingga karbon nomor satu dari rantai induk. Bila terdapat gugus formil pada kedua ujung rantai karbon, maka sebelum akhiran -al disisipkan -di.

(14)

Keton adalah senyawa organic yang mempunyai gugus karbonil terikat pada dua gugus alkil atau dua gugus aril, atau sebuah gugus alkil dan sebuah gugus aril.

Keton tidak mengandung atom hydrogen yang terikat pada gugus karbonilnya.

Gugus karbonil keton yaitu C=O. Senyawa keton disebut juga dengan alkanon.

Rumus umum keton sama dengan aldehida yaitu CnH2nO. Perbedaan keton dengan aldehida terletak pada gugus fungsinya. Gugus fungdi keton yaitu R-CO- R’, dengan R merupakan alkil atau aril. Karena perbedaan gugus gugus karbonil antara aldehid dan keton, sehingga menimbulkan adanya dua sifat kimia yaitu:

a. Senyawa keton lebih sulit teroksidasi, jika dibandingkan dengan senyawa aldehid.

b. Senyawa keton kurang reaktif, jika dibandingkan dengan aldehid, diantaranya sifat terhadap adisi nukleofilik, yang merupakan reaksi karakteristik terhadap gugus karbonil.

Aseton merupakan senyawa keton yang paling sederhana. Keton memiliki struktur dan tata nama yang mengandung gugus karbonil C=O, Secara umum, keton dinamakan dengan tata nama IUPAC dengan menggantikan sufiks -a pada alkana induk dengan -on. Keton larut dalam air dan titik didihnya sebanding dengan kenaikan berat molekul. Pembuatan keton yang paling umum adalah oksidasi dari alcohol sekunder,

(15)

Macam-macam uji yang dapat dilakukan pada aldehid dan keton yaitu:

1. Uji Fehling

Pereaksi fehling merupakan campuran dari larutan fehling A dan Fehling B dengan jumlah yang sama. Larutan fehling A terdiri atas larutan CuSO4, sedangkan fehling B terdiri atas larutan NaOH dan kalium-natrium tartrat.

Reagen fehling dibuat dengan mencampurkan kedua larutan tersebut hingga diperoleh suatu larutan bewarna biru tua. Pereaksi fehling merupakan ion kompleks Cu2+ dalam suasana basa, dan dalam persamaan reaksi ditulis CuO. Aldehid dapat bereaksi dengan pereaksi fehling menghasilkan endapan Cu2O yang bewarna merah bata dari tembaga (I) oksida, sedangkan keton tidak mengalami oksidasi oleh pereaksi fehling

2. Uji Tollen’s

Uji tollen merupakan sakah satu uji yang digunakan untuk membedakan senyawa aldehid dan keton berdasarkan sifat kemudahan oksidasi. Pereaksi Tollen’s terdiri atas campuran larutan AgNO3 dan larutan NH3. Pereaksi tollen.s merupakan ion Ag+ dan ammonia sehingga dalam persamaan reaksinya ditulis Ag2O. Pereaksi tollens sering disebut sebagai perak amoniakal, merupakan campuran dari AgNO3 dan ammonia berlebihan.

Gugua aktif pada pereaksi tollens adalah Ag2O yang bila tereduksi akan menghasilkan endapan perak. Endapan perak akan menempel pada tabung reaksi yang akan menjadi cermin perak. Uji positif ditandai dengan terbentuknya cermin perak. Reaksi dengan pereaksi tollens mampu mengubah ikatan C-H pada aldehid menjadi ikatan C-O. Senyawa aldehid

(16)

dengan pereaksi Tollen’s dapat membentuk cermin perak yang merupakan endapan Ag, sedangkan pada keton tidak ada perubahan warna pada larutan yang tidak bewarna.

Persamaan reaksinya yaitu:

3. Uji Benedict

Uji benedict dapat dilakukan untuk menentukan aldehid karena pereaksi benedict merupakan oksidator lemah dan aldehid adalah oksidator kuat.

Aldehid alifatik dioksidasi menjadi asam karboksilat dengan pereaksi benedict (Kompleks Ion Cu (II) sitrat dalam larutan basa). Ion Cu (II) direduksi menjadi Cu2O yang merupakan endapan bewarna merah bata.

Sedangkan keton tidak bereaksi dengan pereaksi benedict.

Persamaan reaksinya yaitu:

4. Uji Fenilhidrazin

Reaksi fenilhidrazin dikenal sebagai reaksi kondensasi yang merupakan reaksi dimana dua molekul bergabung Bersama disertai dengan hilangnya seuah molekul kecil (air). Fenilhidrazin merupakan senyawa nitrogen yang mengandung amina. Reaksi fenilhidrazin merupakan mekanisme reaksi adisi dan eliminasi. Ketika reagen fenilhidrazin direaksikan dengan sampel, maka hanya sampel asetaldehid yang yang menunjukkan reaksi positif, yang ditandai dengan berubahnya warna larutan menjadi kuning.

(17)

5. Uji 2,4-dinitrilfenilhidrazin (2,2-DNPH)

Semua senyawa aldehid dan keton menghasilkan endapan jika dilakukan uji menggunakan pereaksi 2,4-dinitrilfenilhidrazin. Reaksi ini umum digunakan untuk mengetehui adanya gugus aldehid dan keton. Warna endapan yang terbentuk bervariasi mulai dari kuning hingga merah.

6. Uji Iodoform

Reaksi iodoform digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan sebuah gugus metil keton (CH3CO) dalam aldehid dan keton, yang diandai dengan terebntuknya endapan bewarna kuning. Metil keton akan teroksidasi oleh iodide dalam larutan larutan hidroksita. Metil keton akan teroksidasi menjadi asam karboksilat dan juga akan terbentuk endapan bewarna kuning yang menjadi indikasi uji yang positif.

(18)

7. Uji Na-Bisulfit

Reagen natrium bisulfit berlangsung baik untul senyawa aldehida.

Sementara untuk keton salah satu gugus hidrokarbon yang terikat pada gugus karbonil harus berupa gugus metil. Uji positif jika terbentuk endapan putih atau kristal putih. Aldehid dan beberapa keton yang tidak mengandung gugus gugus yang besar dikelilingi atom karbon karbonil bereaksi dengan larutan pekat natrium bisulfit menghasilkan adisi yang berwujud hablur bewarna puti. Hasil adisi tersebut bila bereaksi dengan asam akan membebasakan Kembali senyawa karbonil dari campurannya dengan senyawa-senyawa lain. Senyawa yang dihasilkan ini dikenal sebagai senyawa adisi bisulfit.

8. Uji Shiff

Uji Shiff merupakan uji yang sangat sensitive untuk aldehida. Aldehida bereaksi dengan Fuschi-aldehida menghasilkan warna magenta (ungu kemerahan) yang spesifik. Hasil yang diperoleh menunjukkan reaksi positif apabila terebentuk terbentuk 2 fasa warna ungu pada aldehida dan danbening pada pereaksi shiff serta terbentuk gel, hal ini terjadi karena pereaksi shiff jika direaksikan dengan senyawa gugus aldehid akan menghasilkan larutan yang bewarna ungu. Pereaksi shiff harus digunakan dalam keadaan digin karena keton akan bereaksi dengan pereaksi shiff sangat lambat, jika dipanaskan larutan akan memberikan warna yang berbeda

(19)

9. Uji Oksidator dengan KMnO4

Kalium permangat merupakan oksidator kuat. Aldehid dapat dioksidasi menjadi asam karboksilat dengan oksidator kuat seperti KMnO4. Tes positif jika ion MnO4- (warna ungu) berubah menjadi endapat MnO2 (coklat).

Hasil Praktikum

Praktikum kali ini menggunakan larutan uji sikloheksanon dan benzaldehid. Dan dilakukan tiga uji, Uji yang pertama yaitu Uji 2,4-dinitrilfenilhidrazin dengan langkah kerja, masukkan 10 tetes sampel dalam tabung lalu tambahkan 10 ml larutan 2,4-dinitrifenilhidrazin ke dalam setiap tabung, jika endapan tidak segera muncul maka panaskan selama 5 menit di dalam penangas air. Dan didapatkan hasil pada larutan sikloheksanon terbentuknya kristal (hasil negative) dan pada larutan benzaldehid terbentuk endapan oranye (hasil positif). Uji 2,4- dinitrilfenilhidrazin ini umum digunakan untuk mengetahui adanya gugus aldehid dan keton.

Uji yang kedua yaitu uji adisi Na-Bisulfit dengan Langkah kerja, masukkan 10 tetes sampel ke dalam tabung reaksi, lalu tambahkan 10 tetes larutan Na-Bisulfit ke dalam setiap tabung, selanjutnya kocok masing-masing tabung reaksi secara berulamg. Dan didapatkan hasil pada sikloheksanon terbentuknya larutan bewarna bening (hasil negative) , dan pada benzaldehid didapatkan hasil

(20)

terbentuk gumpalan bewarna putih susu, dengan terbentuknya gumpalan bewarna putih susu menandakan bahwa pada benzaldehid terjadi reaksi positif.

Uji ketiga adalah uji Iodoform, pada uji iodoform langkah kerja yang pertama yaitu campurkan 2 ml sampel, 2 ml NaOH dan tambahkan larutan iodoform ke dalam tabung reaksi secara perlahan-lahan. Selanjutnya panaskan tabung yang telah diisi larutan selama 5 menit. Dan didapatkan hasil pada larutan sikloheksanon terbentuk 2 lapisan bewarna kuning yang menandakan terjadi reaksi positif atau terdapat sebuah gugus metil keton dan pada larutan benzaldehid didapatkan hasil terbentuknya 2 lapisan bewarna bening

Sifat fisik dan kimia dari benzaldehid dan sikloheksanon yaitu:

a. Benzaldehid

Adapun sifat fisik dari benzaldehid adalah sebagai berikut:

Benzaldehid merupakan aldehida aromatic paling sederhana dan berbentuk cairan tidak bewarna dengan aroma seperti badam (almond)

- Benzaldehid memiliki berat molekul 106,2 (g/mol).

- Titik didih benzaldehid pada 1atm yaitu 178,7 ℃ dengan Titik beku -55,6℃.

- Kelarutan benzaldehid dalam 100g yaitu 0,3%.

- Densitas pada 20℃ yaitu 1.046 g/cm3.

- Temperatus kritis benzaldehid pada 1 arm adalah 695℃.

- Tekanan kritis 45,89 atm dan volume kritis 0,322 (1/mol.

- Panas laten penguapan yaitu 362 (J/g) dan panas laten pembakaran -31,9.

Adapun sifat kimia dari benzaldehid yatu:

- Terkondensasi dalam senyawa-senyawa nitrogen - Membentuk benzoin dengan katalis KCN

- Klorin akan menggantikan hydrogen pada benzaldehyde

- Pada reaksi dengan gugus karbonil, dengan menambahkan hydrogen sianida akan membentuk mendelonitril.

(21)

- Larut denga alcohol, eter, minyak teteap dan volatile.

- Larut dalam ammonia cair, pelarut apolar - Mudah Menguap

- Stabilitas: Stabil pada suhu kamar, namun dioksidasi di udara menjadi asam benzoat.

b. Sikloheksanon

Adapun sifat fisik dari sikloheksanon yaitu:

Sikloheksanon merupakan cairan bening tidak bewarna.

- Berat molekul : 84,17 g/mol - Tidik didih : 156,7 ℃ - Titik lebur : -31,15℃

- Densitas : 1, 05 g/ml - Kemurnian : 99, 9% berat

Adapun sifat kimia dari sikloheksanon yaitu:

- Terjadi reaksi oksidasi pada fase cair dengan udara menggunakan katalis kabolt atau asam borak menghasilkan sikloheksanol.

- Muadah bereaksi dengan asam organic membentuk halide-halida yang sesuai dengan dehydrating agent.

- Merupakan tipe reaksi dari alcohol sekunder - Sikloheksanon memiliki kepolaran yang rendah - Tidak larut dalam air.

- Larut dalam etanol dan eter

(22)

V. KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang diperoleh dari percobaan ini adalah sebagai berikut:

1. Pada uji 2,4-dinitrilfenildrazin didapatkan hasil pada larutan sikloheksanon yaitu terbentuknya kristal, yang menandakan reaksi negatif.

2. Pada larutan benzaldehid dengan uji 2,4-dinitrifenilhidrazin didapatkan hasil yaitu terbentuk endapan oranye, yang menandakan terjadinya reaksi positif.

3. Pada uji adisi Na-bisulfit pada sikloheksanon didapatkan hasil larutan bewarna bening, yang menandakan terjadinya reaksi negatif.

4. Uji adisi Na-bisulfit pada benzaldedehid didapatkan hasil terbentuknya gumpalan bewarna putih susu, yang berarti uji Na-bisulfit pada benzaldehid terjadi reaksi positif.

5. Pada uji iodoform didapatkan hasil pada sikloheksanon yaitu terbentuk 2 lapisan bewarna kuning yang menandakan pada sikloheksanon terjadi reaksi positif dan pada benzaldehid terbentuk 2 lapisan bewarna bening.

(23)

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, S. A. 1986. Buku Materi Pokok Kimia Organik Bahan Alam. Karunika Universitas Terbuka. Jakarta

Antonius, Dhifa, M., Ditya M., Leni J., Novi K., dan Siti H.,. Aldehid dan Keton. Unesa Journal of Chemical Education. No 2. Vol 4. Hal: 30-35.

Hadanu, R. 2019. Kimia Organik (Pengantar, sifat, struktur Molekul, Tata Nama, Reaksi, dan kegunaan) Jilid 1. Leisyah Kolaka. Makassar.

Riswiyanto. 2009. Kimia Organik. Jakarta. Erlangga.

Wardiyah. 2016. Bahan Ajar Cetak Farmasi Aldehida dan Keton. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta Selatan.

Referensi

Dokumen terkait

Pada sampel susu skim tidak menghasilkan warna ungu bening yang berarti hasil uji negatif (-), pada susu skim seharusnya mengandung ikatan peptida

Hasil positif dinyatakan dengan pembentukan kompleks ungu merah jambu, jika Cu 2+ dalam larutan basa ditambahkan pada polimer protein yang mengandung ikatan poliamida,

Isi sebuah tabung reaksi dengan 1 ml AgNO3 0,1 M, tambahkan (NH4OH) sampai endapan yang terbentuk tapat melarut lagi.Selanjutnya masukkan kedalam tabung reaksi 1

Konsentrasi memiliki peranan yang sangat penting dalam laju reaksi, sebab semakin besar konsentrasi pereaksi, maka tumbukan yang terjadi semakin

Tetapi aldehida dan keton tidak dapat membentuk ikatan hidrogen dengan sesamanya  titik didih lebih rendah dibanding alkohol yang setara..

Reaksi positif bila terbentuk warna kuning pada sampel.Pada keempat sapel, hasil uji Xantoprotein menunjukan terjadinya reaksi positif karena pada keempat

Reaksi pembuatan Asam Pikrat yang terjadi merupakan reaksi nitrasi yang menghasilkan asam pikrat sebagai turunan (derivative) dari fenol, dimana reaksi nitrasi ialah penggabungan

Untuk penetapan reaksi khusus golongan senyawa organik, didapatkan hasil positif pada pemeriksaan senyawa amin aromatis primer dengan terbentuknya warna merah jingga