Perpustakaan Universitas Gunadarma BARCODE
BUKTI UNGGAH DOKUMEN PENELITIAN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS GUNADARMA
Nomor Pengunggahan
SURAT KETERANGAN
Nomor: 241/PERPUS/UG/2020
Surat ini menerangkan bahwa:
Nama Penulis : HANNA JULIANA SETIAWAN
Nomor Penulis : 23216202
Email Penulis : [email protected]
Alamat Penulis : JALAN ALUMUNIUM RAYA PERUMNAS 2. CIBODAS
dengan penulis lainnya sebagai berikut:
Penulis ke-2/Nomor/Email : Susanti Usman / 990717 / [email protected]
Telah menyerahkan hasil penelitian/ penulisan untuk disimpan dan dimanfaatkan di Perpustakaan Universitas Gunadarma, dengan rincian sebagai berikut :
Nomor Induk : FEUG/EB/PENELITIAN/241/2020
Judul Penelitian : PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE, STRUKTUR KEPEMILIKAN, DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN MANUFAKTUR PADA INDEKS LQ45 YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2015-2019
Tanggal Penyerahan : 15 / 07 / 2020
Demikian surat ini dibuat untuk dipergunakan seperlunya dilingkungan Universitas Gunadarma dan Kopertis Wilayah III.
PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE, STRUKTUR
KEPEMILIKAN, DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN MANUFAKTUR PADA INDEKS LQ45 YANG
TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2015-2019
1Hanna Juliana Setiawan 2Susanti Usman
1,2Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Gunadarma
Jl. Margonda Raya No. 100 Depok16424, Jawa Barat Indonesia
1[email protected],2[email protected].ac.id
ABSTRAK
Persaingan semakin ketat pada era globalisasi ini, setiap perusahaan selalu ingin memberikan yang terbaik untuk menarik minat investor untuk berinvestasi. Penilaian kinerja perusahaan perlu dilakukan untuk evaluasi perusahaan dan perencanaan di masa yang akan datang. Kinerja sebuah perusahaan bisa dilihat dari seberapa besar laba yang diperoleh perusahaan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Dewan Direksi, Dewan Komisaris, Komite Audit, Kepemilikan Institusional, dan Ukuran perusahaan secara parsial dan simultan terhadap Kinerja Keuangan pada perusahaan manufaktur pada indeks LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2015-2019. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan kriteria tertentu sehingga diperoleh sampel 10 perusahaan. Pengolahan serta pengujian data menggunakan Software Statistical Package for the Social Science (SPSS) version 26. Data diuji menggunakan analisis regresi linier berganda yang terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa secara parsial Dewan Direksi, Dewan komisaris dan Kepemilikan Institusional berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Keuangan. Sedangkan variabel komite audit dan ukuran perusahaan secara parsial tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan. Secara simultan Dewan Direksi, Dewan Komisaris, Komite Audit, Kepemilikan Institusional dan Ukuran Perusahaan terhadap Kinerja Keuangan yang di proksikan dengan ROA. Berpengaruhnya variabel dapat mengurangi perilaku kecurangan (oportunistik) manajemen sehingga meningkatkan kualitas dan keandalan pelaporan keuangan serta kinerja perusahaan.
Kata Kunci: Good Corporate Governance, Struktur Kepemilikan, Ukuran Perusahaan, Kinerja Keuangan (ROA), Investasi
PENDAHULUAN
Persaingan semakin ketat pada era globalisasi ini, setiap perusahaan selalu ingin memberikan yang terbaik untuk menarik minat investor untuk berinvestasi. Good Corporate governance merupakan salah satu topik pembahasan sehubungan dengan semakin gencarnya publikasi tentang kecurangan (fraud) maupun keterpurukan bisnis yang terjadi sebagai akibat kesalahan yang dilakukan oleh para eksekutif manajemen(Sari, 2017).
Prinisp-prinisp dalam GCG keterbukaan (transparency), akuntabilias (accountability), pertanggungjawaban (responsibility), independensi (independency), dan kewajaran (fairness). Prinsip GCG berkaitan dengan bagaimana usaha dikelola. Adanya Pokok-pokok pelaksanaan GCG juga diwujudkan dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawab. Tujuan utama diterapkannya GCG adalah untuk melindungi stakeholder dari perilaku manajemen yang tidak bersih dan tidak transparan. Dengan diterapkannya GCG yang baik akan menciptakan iklim usaha yang sehat dan mendorong peningkatan kinerja perusahaan (Wibowo, 2010). Bursa Efek Indonesia memiliki beberapa indeks dalam melakukan penilaian terhadap saham suatu perusahaan, salah satunya indeks LQ 45. Perusahaan yang terdaftar pada indeks LQ 45 merupakan 45 perusahaan dari peringkat tertinggi memiliki saham yang paling aktif diperdagangkan dan memiliki likuiditas yang tinggi sehingga perusahaan-perusahaan dipercaya memiliki nilai saham yang tinggi.
Good Corporate Governance berhubungan dengan masalah ekonomi yang timbul akibat pelaksanaan tata kelola dalam perusahaan yang tidak sesuai, kemudian adanya struktur kepemilikan yang beraneka ragam dan ukuran perusahaan yang harus dikelola oleh perusahaan untuk memperoleh laba yang maksimal. Berdasarkan uraian di atas, maka urgensi untuk dilakukan penelitian mengenai “PENGARUH GOOD
CORPORATE GOVERNANCE, STRUKTUR KEPEMILIKAN, DAN UKURAN
PERUSAHAAN TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN
MANUFAKTUR PADA INDEKS LQ45 YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2015-2019”
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana dampak Dewan Direksi terhadap Kinerja Keuangan pada perusahaan manufaktur dalam indeks LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)? 2. Bagaimana dampak Dewan Komisaris terhadap Kinerja Keuangan pada perusahaan
manufaktur dalam indeks LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)? 3. Bagaimana dampak Komite Audit terhadap Kinerja Keuangan pada perusahaan
manufaktur dalam indeks LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)? 4. Bagaimana dampak Kepemilikan Institusional terhadap Kinerja Keuangan pada
perusahaan manufaktur dalam indeks LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)?
5. Bagaimana dampak Ukuran Perusahaan terhadap Kinerja Keuangan pada perusahaan manufaktur dalam indeks LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)? 6. Bagaimana Dewan Direksi, Dewan Komisaris, Komite Audit, Kepemilikan
Institusional, dan Ukuran Perusahaan secara simultan (bersama-sama) berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan pada perusahaan manufaktur dalam indeks LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
Batasan Masalah
Penelitian ini membatasi permasalahan pada Good Corporate Governance (Dewan Direksi, Dewan Komisaris, dan Komite Audit), Struktur Kepemilikan (Kepemilikan Insitusional), dan Ukuran Perusahaan terhadap Kinerja Keuangan (diproksikan dengan Returm On Assets (ROA) perusahaan manufaktur yang terdaftar dalam Indeks LQ45 di Bursa Efek Indonesia Tahun 2015-2019. Data diolah menggunakan SPSS 26.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah sebelumnya, penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut:
1. Untuk menguji dan menganalisa Dewan Direksi berpengaruh positif terhadap Kinerja Keuangan pada perusahaan manufaktur dalam indeks LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
2. Untuk menguji dan menganalisa Dewan Komisaris berpengaruh positif terhadap Kinerja Keuangan pada perusahaan manufaktur dalam indeks LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
3. Untuk menguji dan menganalisa Komite Audit berpengaruh positif terhadap Kinerja Keuangan pada perusahaan manufaktur dalam indeks LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
4. Untuk menguji dan menganalisa Kepemilikan Institusional berpengaruh positif terhadap Kinerja Keuangan pada perusahaan manufaktur dalam indeks LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
5. Untuk menguji dan menganalisa Ukuran Perusahaan berpengaruh positif terhadap Kinerja Keuangan pada perusahaan manufaktur dalam indeks LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
6. Untuk menguji dan menganalisa Dewan Direksi, Dewan Komisaris, Komite Audit, Kepemilikan Institusional, dan Ukuran Perusahaan secara simultan (bersama-sama) berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan pada perusahaan manufaktur dalam indeks LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
KAJIAN PUSTAKA
Teori Keagenan (Theory Agency)
Teori keagenan (Agency theory) merupakan suatu kontak principal dan agent. Principal menggunakan agent untuk bekerja dalam melakukan tugas dalam urusan, termasuk di dalamnya pelimpahan kekuasaan dari principal kepada agent. Konflik keagenan timbul antara pihak yang memiliki kepentingan dan tujuan yang berbeda-beda dapat menyulitkan dan menghambat perusahaan dalam mencapai kinerja yang positif
guna menghasilkan nilai untuk perusahaan itu sendiri dan juga bagi shareholders (Kirana dan Wahyudi, 2016).
Good Corporate Governance
Menurut Effendi (2016) Good Corporate Governance adalah suatu sistem pengendalian internal perusahaan yang memiliki tujuan utama dalam mengelola risiko yang signifikan guna memenuhi tujuan bisnisnya melalui pengamanan asset perusahaan dan meningkatkan nilai investasi pemegang saham dalam jangka panjang. Menurut Sutedi (2012), yang menyatakan secara teoritis yang dapat diakui dengan melaksanakannya prinsip Good Corporate Governance yang mempunyai arti dan beberapa manfaat yang bisa diambil antara lain sebagai berikut: 1) Memperluas kinerja perusahaan melalui terbentuknya proses pengambilan keputusan yang efektif, 2) Memudahkan diperolehnya dana pembiayaan yang lebih ekonomis sehingga pada akhirnya akan meningkatkan corporate value, 3) Mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di perusahaan, 4) Pemegang saham akan merasa lebih puas dengan kinerja di suatu perusahaan karena sekaligus akan meningkatkan shareholders.
Dewan Direksi
Dewan direksi merupakan pihak dalam suatu entitas perusahaan yang bertugas melakukan melaksanakan operasi dan kepengurusan perusahaan. Direksi bertanggung jawab penuh atas segala bentuk operasional dan kepengurusan perusahaan dalam rangka melaksanakan kepentingan- kepentingan dalam pencapaian tujuan perusahaan. Fungsi, wewenang, dan tanggung jawab direksi secara tersurat diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas. Dalam undang-undang ini, dewan direksi memiliki tugas antara lain: a) Memimpin perusahaan dengan menerbitkan kebijakan-kebijakan perusahaan, b) Memilih, menetapkan, mengawasi tugas dari karyawan dan kepala bagian (manajer), c) Menyetujui anggaran tahunan perusahaan, d) Menyampaikan laporan kepada pemegang saham atas kinerja perusahaan.
Dewan Komisaris
Menurut Effendi (2016) Dewan komisaris yang ditugaskan dalam suatu perusahaan melakukan pengawasan dan memberikan nasihat kepada dewan direksi perusahaan. Dewan komisaris dipilih oleh pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang mewakili para kepentingan pemegang saham. Peran dewan komisaris sangat penting dan cukup menentukan bagi keberhasilan implementasi GCG. Diperlukan komitmen penuh dari dewan komisaris agar implementasi GCG berjalan dengan lancer sesuai dengan harapan. Pada penelitian kali ini dewan komisaris dihitung dengan menjumlah keseluruhan dewan komisaris di dalam perusahaan (Atmaja, Riswan, dan Tohir, 2015).
Komite Audit
Menurut Ikatan Komite Audit Indonesia (IKAI) dalam Effendi (2016), mendefenisikan bahwa komite audit sebagai suatu komite yang bekerja secara profesional dan mandiri yang didirikan oleh dewan komisaris dan direksi, dengan demikian tugas komite audit adalah membantu dan memperkuat fungsi dewan komisaris (atau dewan pengawas) dalam menjalankan fungsi pengawasan (oversight) atas proses pelaporan keuangan, manajemen risiko, pelaksanaan audit, dan implementasi dari Corporate Governance di perusahaan-perusahaan.
Kepemilikan Institusional
Kepemilikan Institusional adalah besarnya jumlah kepemilikan saham oleh institusi (pemerintah, perusahaan asing, lembaga keuangan seperti asuransi, bank, dan dana pensiun) yang terdapat pada perusahaan (Suta dan Ayu, 2016). Kepemilikan institusional memiliki arti penting dalam memonitor manajemen karena dengan adanya kepemilikan oleh institusional akan mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal. Pengawasan yang dilakukan oleh investor institusional akan menjamin kemakmuran pemegang saham. Pasaribu, Topowijaya dan Sri (2016) kepemilikan institusional merupakan persentase saham yang dimiliki oleh institusi.
Ukuran Perusahaan
Menurut Riyanto (2013), ukuran perusahaan adalah besar kecilnya perusahaan dilihat dari besarnya nilai ekuitas, nilai penjualan atau nilai aktiva. Ukuran perusahaan (firm size) cenderung mencerminkan penilaian pemegang saham atas keseluruhan aspek dari financial performance di masa lampau dan prakiraan di masa yang akan datang. Pada dasarnya ukuran perusahaan hanya terbagi dalam tiga kategori yaitu perusahaan besar (large firm), perusahaan menengah (medium-size) dan perusahaan kecil (small firm). Salah satu tolak ukur yang menunjukkan besar kecilnya perusahaan adalah total aset atau aktiva dari perusahaan tersebut.
Kinerja Keuangan
Menurut Rudianto (2013) Kinerja keuangan adalah hasil atau prestasi yang telah dicapai oleh manajemen perusahaan dalam mengelola aset perusahaan secara efektif selama periode tertentu. Kinerja keuangan sangat dibutuhkan oleh perusahaan untuk mengetahui dan mengevaluasi, tingkat keberhasilan perusahaan berdasarkan aktivitas keuangan yang telah dilaksanakan. Kinerja keuangan dapat diukur dari laba yang diperoleh, tetapi laba yang besar belum tentu merupakan ukuran bahwa perusahaan telah bekerja secara efisien (Indah dan Saparila, 2018).
Hipotesis
H1 : Dewan Direksi berpengaruh positif terhadap Kinerja Keuangan (ROA) pada perusahaan manufaktur dalam indeks LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. H2 : Dewan Komisaris berpengaruh negatif terhadap Kinerja Keuangan (ROA) pada perusahaan manufaktur dalam indeks LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. H3 : Komite Audit tidak berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan (ROA) pada perusahaan manufaktur dalam indeks LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. H4:: Kepemilikan Institusional berpengaruh positif terhadap Kinerja Keuangan (ROA) pada perusahaan manufaktur dalam indeks LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. H5 : Ukuran Perusahaan tidak berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan (ROA) pada perusahaan manufaktur dalam indeks LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
H6 : Dewan Komisaris, Dewan Direksi, Komite Audit, Kepemilikan Institusional dan Ukuran Perusahaan terhadap Kinerja Keuangan (ROA) pada perusahaan manufaktur dalam indeks LQ45 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesi
METODOLOGI PENELITIAN Objek Penelitian
Objek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur dalam LQ-45 yang terdaftar di BEI periode 2015-2019. Dipilihnya perusahaan manufaktur karena sektor manufaktur dapat menjanjikan perekonomian dan diperkuat dengan indeks LQ-45 yang menyajikan 45 perusahaan yang memiliki nilai transaksi dan kapitalisasi pasar tertinggi serta telah tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama minimal 3 bulan.
Populasi dan Sampel
Populasi penelitian ini adalah perusahaan sub sektor manufaktur di LQ-45 yang terdaftar di BEI periode 2015-2019. Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling yaitu pemilihan sampel atas dasar kesesuaian antara karakteristik sampel dengan kriteria sampel yang telah yang telah dilakukan. Berikut adalah kriteria-kriteria dalam pemilihan sampel:
1. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2015-2019.
2. Perusahaan manufaktur yang secara konsisten berada di index LQ-45 selama 5 tahun 3. Perusahaan manufaktur yang tidak terdaftar pada Index LQ-45 di Bursa Efek
Indonesia periode tahun 2015-2019.
Prosedur Pengumpulan Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Studi Kepustakaan, yaitu dengan mencari, membaca dan mempelajari literatur pustaka seperti buku dan jurnal ilmiah yang berkaitan dengan penelitian ini.
2. Dokumentasi, yaitu pengambilan data melalui dokumen tertulis maupun elektronik berupa catatan perusahaan dan informasi lain yang digunakan sebagai pelengkap data. Data diperoleh melalui situs www.idx.co.id yakni berupa laporan keuangan selama periode 2015-2019. Identifikasi Variabel Variabel Independen 1. Sumber: Rahmawati (2016) 2. Sumber: Rahmawati (2016) 3. Sumber: Rahmawati (2016) 4. Sumber : Sugiarto (2009) 5. Sumber : Hartono (2015) Variabel Dependen Sumber: Kasmir (2015)
DD = ∑ Jumlah anggota dewan direksi
DK = ∑ Jumlah anggota dewan komisaris
KA = ∑ Jumlah anggota komite audit
INSTITUSIONAL = Jumlah saham yang dimiliki institusi/Jumlah saham beredar
SIZE = Ln Total Asset
Return On Asset= Laba Bersih
Total Asset
HASIL DAN PEMBAHASAN
Uji Normalitas Uji Multikolineritas
Sumber: Output SPSS Ver. 26.
Sumber: Output SPSS Ver. 26, 2020.
Uji Autokorelasi Uji Heteroskedastisitas
Sumber: Output SPSS Ver. 26, 2020.
Sumber: Output SPSS Ver. 26
Analisis Regresi Linear Berganda
ROA = 5.978 + 1.164 DD - 1.457 DK - 0.286 KA + 18.856 KI+ 0.262UP +ε
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual N 50 Normal Parametersa, b Mean .0000000 Std. Deviation 4.93703457 Most Extreme Differences Absolute .070 Positive .070 Negative -.048 Test Statistic .070
Asymp. Sig. (2-tailed) .200c,d
Model Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 (Constant) DD .579 1.726 DK .492 2.031 KA .660 1.516 KI .551 1.814 UP .511 1.957 Model Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 5.21000 1.069
Uji T (Parsial) Uji F (Simultan)
Sumber: Output SPSS Ver. 26, 2020 Sumber: Output SPSS Ver. 26, 2020
Koefisien Determinasi Model Summaryb Mdl R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .702a .493 .435 5.21000
a. Predictors: (Constant), UP, DK, KA, DD, KI b. Dependent Variable: ROA
Sumber: Output SPSS Ver. 26, 2020
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Pengaruh Dewan Direksi Terhadap Kinerja Keuangan (ROA)
Pada penelitian ini jumlah Dewan Direksi sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan memenuhi kriteria dari Good Coporate Governance yang akan membuat kinerja manajemen menjadi efektif dan efisien. Perusahaan juga mampu dalam meningkatkan laba dan membantu untuk menambah hubungan dengan pihak luar, sehingga meningkatkan peluang untuk menarik dan menyalurkan dana perusahaan karena banyak relasi di luar perusahaan. Dengan demikian, diharapkan semakin banyaknya Dewan Direksi akan mampu meningkatkan kinerja perusahaan karena semakin banyak pula yang akan berusaha mengoptimalkan kinerja perusahaan. Oleh sebab itu, Dewan Direksi memiliki pengaruh signifikan untuk meningkatkan Kinerja Keuangan Perusahaan. Model T Sig. B 1 (cslt) 5.978 .680 .500 DD 1.164 2.331 .024 DK -1.457 -2.535 .015 KA -.286 -.170 .866 KI 18.856 3.294 .002 UP .262 1.175 .246 ANOVAa Mdl Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Reg 1159.654 5 231.931 8.54 4 .000b Res 1194.341 44 27.144 Total 2353.995 49
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sindu, et al. (2014); Hidayat, et al. (2015); Sukandar dan Rahardja (2014); menyatakan Dewan Direksi berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan. Berbeda halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Bukhori (2012); Rimardhani, et al. (2016); Eksantia (2018) menyatakan Dewan Direksi tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan.
2. Pengaruh Dewan Komisaris Terhadap Kinerja Keuangan (ROA)
Fungsi pengawasan Dewan Komisaris adalah dengan mengawasi dewan direksi dalam menjalankan perusahaan serta memberikan nasihat, Karena itu posisi Dewan Komisaris sangat penting dalam menjembatani kepentingan principal. Dalam teori keagenan mekanisme pengawasan dapat mengurangi konflik kepentingan dan asimetri informasi. Dewan Komisaris sebagai salah satu 81 mekanisme GCG bertanggung jawab mengawasi proses pelaporan keuangan dan penilaian kualitas tata kelola perusahaan.
Semakin tinggi jumlah dewan komisaris maka dapat meningkatkan fungsi pengelolaan perusahaan dan mengurangi terjadinya konflik keagenan. Nilai koefisien Dewan Komisaris menunjukkan hasil negatif yang dapat diartikan bahwa, semakin besar kendali dari pihak perusahaan dan kepemilikan saham akan menjadikan peran dewan komisaris tidak independen dan tanggung jawab terhadap pengawasan menjadi tidak efektif. Sebab peran dari Dewan Komisaris seharusnya bersikap independen, dengan mengesampingkan kepentingan pribadi atau manajemen bertindak hanya untuk kepentingan perusahaan. Penerapan akan hal ini belum terlaksana dengan baik, perusahaan hanya sekedar memenuhi kepatuhan jumlah dewan komisaris dalam mekanisme GCG tanpa mengoptimalkan peran dewan komisaris sebagai pengawas kinerja manajemen dalam mengelola perusahaan.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rimardhani, et al. (2016); Sarafina, et al. (2017) menyatakan Dewan Komisaris berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Keuangan. Berbeda hal nya dengan penelitian yang di lakukan oleh Bukhori (2012); Sindu, et al. (2014); Hidayat, et al. (2015) menyatakan Dewan Komisaris tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan.
3. Pengaruh Komite Audit Terhadap Kinerja Keuangan (ROA)
Komite Audit memiliki fungsi yang efektif yaitu fungsi pengawasan dan dapat mencegah konflik keagenan, juga dapat meningkatkan kinerja keuangan. Surat Edaran Bapepam No. SE-03/PM/2000 menyatakan bahwa komite audit pada perusahaan publik Indonesia terdiri dari sedikitnya tiga orang anggota. Hal tersebut menggambarkan bahwa semakin banyak jumlah anggota komite audit dalam suatu 82 perusahaan diharapkan akan meningkatkan pengawasan yang dilakukan, sehingga kinerja perusahaan dan integritas laporan keuangan dapat menjadi lebih baik.
Pada penelitian ini jumlah komite audit terlalu sedikit dari masing-masing perusahaan. Jumlah Komite Audit yang banyak dapat menguntungkan perusahaan untuk memonitor proses pelaporan keuangan oleh manajemen, karena Komite Audit mempunyai tugas untuk memeriksa kebijakan akuntansi yang diterapkan oleh perusahaan dalam meningkatkan kredibilitas laporan keuangan. Banyaknya jumlah Komite Audit juga harus diperhatikan dalam keefektifan kinerja komite audit. Pengawasan dan pengendalian dalam manajemen perusahaan juga diperlukan, walaupun sektor dalam penelitian ini sama-sama manufaktur tetapi barang yang dihasilkan berbeda sehingga pengawasan dari komite audit tiap perusahaan berbeda-beda. Maka jumlah Komite Audit yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan akan dapat membantu peningkatan fungsi pengawasan.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sindu, et al. (2014); Rimardhani, et al. (2016); Simatupang (2018) menyatakan komite audit tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan. Berbeda hal nya dengan penelitian yang di lakukan oleh Aprianingsih, et al. (2016); Atmaja, et al. (2015); Eksantia (2018) menyatakan komite audit berpengaruh terhadap kinerja keuangan.
4. Pengaruh Kepemilikan Institusional Terhadap Kinerja Keuangan (ROA)
Kepemilikan Institusional bertindak sebagai pihak yang memonitor perusahaan secara professional yang terkonsentrasi oleh institusi. Mekanisme monitoring tersebut dapat menjamin peningkatan kemakmuran pemegang saham. Kepemilikan institusional memiliki peranan yang penting dalam meminimalisir konflik keagenan yang terjadi
diantara pemegang saham dengan manajer. 83 Pengawasan yang tinggi akan bertindak sebagai pencegahan terhadap pemborosan, meminimalisir tingkat penyelewengan yang dilakukan oleh pihak manajemen.
Kepemilikan saham yang tinggi oleh pihak institusi akan meningkatkan pengawasan terhadap perusahaan. Semakin besar presentasi kepemilikan institusional maka semakin efisien pemanfaatan aktiva perusahaan, pemilik saham institusional akan berusaha melakukan usaha positif guna meningkatkan kinerja perusahaaan. Maka kepemilikan institusional akan mendorong manajer untuk menunjukkan kinerja yang baik kepada para pemegang saham.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hidayat, et al. (2015); Aprianingsih, et al. (2016); Rimardhani, et al. (2016) menyatakan kepemilikan institusional berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan. Berbeda hal nya dengan penelitian yang di lakukan oleh Kurnia (2017) dan Sari (2017) menyatakan kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan.
5. Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Kinerja Keuangan (ROA)
Ukuran Perusahaan bertindak sebagai pihak yang memonitor perusahaan secara professional yang terkonsentrasi oleh institusi. Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa peningkatan ukuran perusahaan sebenarnya akan menurunkan profitabilitas perusahaan. Hal ini mungkin disebabkan karena jumlah peningkatan aset tidak diimbangi dengan jumlah laba yang diperoleh perusahaan. Semakin besarnya aset perusahaan akan membuat perusahaan memiliki kestabilan dalam kondisi keuangannya, sehingga 84 akan lebih mudah dalam memperoleh modal dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki aset yang lebih rendah.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Bukhori (2012) dan Hidayat (2015) menyatakan Ukuran Perusahaan tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan. Berbeda hal nya dengan penelitian yang dilakukan oleh Atmaja, et al. (2015) dan Aprianingsih (2016) menyatakan ukuran perusahaan berpengaruh dan signifikan terhadap kinerja keuangan.
6. Pengaruh Dewan Direksi, Dewan Komisaris, Komite Audit, Kepemilikan Institusional dan Ukuran Perusahaan terhadap Kinerja Keuangan (ROA) Berpengaruhnya variabel dapat mengurangi perilaku kecurangan (oportunistik) manajemen, sehingga meningkatkan kualitas dan keandalan pelaporan keuangan serta kinerja perusahaan. Mekanisme Good Corporate Governance yang tertata akan mengarahkan dan mengendalikan perusahaan dengan tujuan yang diinginkan, agar mencapai keseimbangan antara kekuatan kewenangan yang diperlukan oleh perusahaan untuk menjamin kelangsungan eksistensinya dan pertanggungjawaban kepada stakeholder.
Sehingga dengan mekanisme Good Corporate Governance diperlukan untuk orang-orang yang berkepentingan dalam perusahaan tersebut agar tercapai tujuan dan peningkatan kinerja perusahaan. Penerapan struktur kepemilikan yang baik, diperhitungkan dengan kepemilikan institusional dalam perusahaan akan meningkatkan kinerja perusahaan. Ukuran perusahaan yang diproksikan dengan Ln Total Aset, yang menunjukkan akan kemampuan perusahaan dalam mengelola asset menjadi profit untuk perusahaan sehingga mampu meningkat kinerja keuangan perusahaan.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
1. Variabel Dewan Direksi berpengaruh positif terhadap Kinerja Keuangan pada perusahaan manufaktur dalam indeks LQ-45 yang terdaftar di BEI periode 2015-2019.
2. Variabel Dewan Komisaris berpengaruh Negatif terhadap Kinerja Keuangan pada perusahaan manufaktur dalam indeks LQ-45 yang terdaftar di BEI periode 2015-2019.
3. Variabel Komite Audit tidak berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan pada perusahaan manufaktur dalam indeks LQ-45 yang terdaftar di BEI periode 2015-2019.
4. Variabel Kepemilikan Institusional berpengaruh positif terhadap Kinerja Keuangan pada perusahaan manufaktur dalam indeks LQ-45 yang terdaftar di BEI periode 2015-2019.
5. Variabel Ukuran Perusahaan tidak berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan pada perusahaan manufaktur dalam indeks LQ-45 yang terdaftar di BEI periode 2015-2019.
6. Variabel Dewan Direksi, Dewan Komisaris, Komite Audit, Kepemilikan Institusional dan Ukuran Perusahaan secara simultan (bersama-sama) berpengaruh terhadap Kinerja Keuangan pada perusahaan manufaktur dalam indeks LQ-45 yang terdaftar di BEI periode 2015-2019.
Saran
1. Bagi Perusahaan
Perusahaan harus memperhatikan pengaturan manajemen yang jauh lebih baik seperti Komite Audit yang sesuai kebutuhan perusahaan untuk menghasilkan tata kelola perusahaan yang baik.
2. Bagi Investor
Investor harus bijak dalam memutuskan investasi di suatu perusahaan. Investor sebaiknya mempertimbangkan berbagai aspek
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menggunakan variabel independen lain seperti harga saham, struktur modal, dan leverage serta dapat menggunakan rentang waktu yang lebih lama untuk periode penelitian sehingga diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Aprianingsih, Astri. (2016). Pengaruh Penerapan Good Corporate Governance, Struktur Kepemilikan, dan Ukuran Perusahaan Terhadap Kinerja Keuangan Perbankan Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2014. FE Universitas Negeri Yogyakarta.
Atmaja, Yoga; Riswan dan Tohir. (2015). Analisis Pengaruh Good Corporate Governance, Ukuran Perusahaan, dan Leverage Perusahaan Terhadap Kinerja Keuangan Sektor Perbankan. Performance, vol. 21 No. 1.
Bukhori, Iqbal dan Raharja. (2012). Pengaruh Good Corporate Governance Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan. Diponegoro Journal of Accounting . pp. 1-12.
Effendi, Muh. Arief. (2016). The Power of Good Corporate Governance. Ed 2. Salemba Empat: Jakarta.
Eksantia, Zana. (2018). Pengaruh Good Corporate Governance dan Ukuran Perusahaan Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Property dan Real Estate yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2015-2017.
Ghozali, Imam. (2013). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 21. Universitas Diponegoro: Semarang.
Ghozali, Imam. (2016). Aplikasi Analisis Multivariete Dengan Program IBM SPSS 23. Ed 8. Cetakan ke VIII. Badan Penerbit Universitas Diponegoro: Semarang.
Hartono, Jogiyanto. (2015). Teori Portofolio dan Analisis Investasi Edisi Kesepuluh. BPFE: Yogyakarta.
Hartono, Jogiyanto. (2015). Teori Portofolio dan Analisis Investasi Edisi Kesepuluh. BPFE: Yogyakarta.
Hidayat, Rahmad., M. Rasuli M., Azlina, Nur. (2015). Pengaruh Good Corporate Governance dan Ukuran Perusahaan Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan (Studi Empiris pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di BEI 2010-2013). Jom FEKON Vol. 2 No. 1 Februari 2015.
Kasmir. (2015). Analisis Laporan Keuangan. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta.
Kirana, Maria Nindya., Wahyudi, Sugeng. (2016). Analisis Pengaruh Corporate Governance dan Leverage Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Dengan Ukuran Perusahaan Sebagai Variabel Kontrol. (Studi Kasus pada Perusahan Wholesale dan Retail Trade yang Terdaftar di BEI Tahun 2010-2014). Volume 5, Nomor 4, Tahun 2016, Halaman 1-12 ISSN.
Rahmawati, Syarifah. (2016). Konflik Keagenan dan Tata Kelola Perusahaan di Indonesia Cetakan kesatu. Syiah Kuala University Press: Banda Aceh.
Rimardhani, et al. (2016). Pengaruh Mekanisme Good Corporate Governance terhadap Profitabilitas Perusahaan (Studi pada Perusahaan BUMN yang Terdaftar di BEI Tahun 2012-2014). Jurnal Administrasi Bisnis (JAB), Vol. 31 No. 1.
Riyanto, Bambang. (2013). Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Edisi Keempat. BPFE-Yogyakarta. Yogyakarta.
Rudianto. (2013). Akuntansi Manajemen Informasi untuk Pengambilan Keputusan Strategis. Erlangga: Jakarta.
Sarafina, S & Saifi, M. (2017). Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Dan Nilai Perusahaan (Studi Pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2012- 2015). Jurnal Administrasi Bisnis (JAB) 50(3), 108-117.
Sari. (2017). Pengaruh Penerapan Mekanisme Good Corporate Governance Terhadap Nilai Perusahaan dengan Kinerja Keuangan sebagai Variabel Intervening (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia). Universitas Riau.
Simatupang, Joel. (2018). Pengaruh Good Corporate Governance, Ukuran Perusahaan, Struktur Kepemilikan terhadap Kinerja Keuangan. Medan: Fakultas Ekonomi Dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara.
Sindu., et al. (2014). Pengaruh Good Corporate Governance, Ukuran Perusahaan dan Leverage terhadap kinerja Keuangan Perusahaan. Jurnal Review Akuntansi dan Keuangan. Vol. 4. No. 1. Hal 579-588. ISSN: 2088-0685.
Sugiarto. (2009). Struktur Modal, Struktur Kepemilikan Perusahaan, Permasalahan Keagenan & Informasi Asimetri. Graha Ilmu: Yogyakarta.
Sukandar., Pangky., Rahardja. (2014). Pengaruh Ukuran Dewan Direksi dan Dewan Komisaris serta Ukuran Perusahaan terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan. Diponegoro Journal of Accounting. 2014. Vol. 3 No. 1. Hal. 1-7.
Suta, I Wayan Purwanta., Ayu, Putu., Sugiarta, I Nyoman. (2016). Pengaruh kebijakan utang pada nilai perusahaan dengan kepemilikan institusional sebagai variabel moderasi (studi pada perusahaan manufaktur di BEI). Jurnal Akuntansi. Vol.12, No. 3. Politeknik Negeri Bali.
Wibowo. (2010). Implementasi Good Corporate Governance di Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Kewirausahaan Vol. 10, No. 2, Oktober 2010 : 129-138.
UU No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.
https://www.idx.co.id/perusahaan-tercatat/laporan-keuangan-dan-tahunan/