• Tidak ada hasil yang ditemukan

42 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "42 Universitas Kristen Petra"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

42 Universitas Kristen Petra 4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

4.1.1 Sejarah Umum Perusahaan

Starbucks Coffee pertama kali dibuka di Seattle’s Pike Place Market, yang terletak di Washington State USA pada tahun 1971. Pada tahun 1982 Howart Schultz bergabung dengan Starbucks Coffee menjadi Director of Retail Operationsand Marketing. Dari sinilah Starbucks Coffee mulai mengembangkan kopi menjadi restoran yang terbaik dan espresso bar. Howart Schultz memulai perjalanannya ke Itali, di mana negara tersebut terkenal dengan espresso bar-nya di Milan. Beliau melihat betapa Seattle, Washingthon memiliki potensi untuk mengembangkan coffee bar. Dari sinilah pada tahun 1987, Starbucks Coffee mulai dibuka di Chicago, Illions, USA and Vancouver, BC, Canada. Gerai-gerai inilah yang menjadi gerai pertama yang dibuka di luar Seattle, WA. Sampai tahun 1991, Starbucks Coffee sudah memiliki 116 gerai di seluruh dunia. Pada tahun ini, Starbucks Coffee juga membangun sebuah hubungan dengan CARE yaitu sebuah organisasi internasional yang mengembangkan “The CARE Coffee Sampler. Pada tahun 1995, total 676 lokasi yang dimiliki Starbucks Coffee dan pada tahun inilah Starbucks Coffee bekerjasama dengan SAZABY Inc. untuk mengembangkan Starbucks Coffee di Jepang. Pada tahun 1996, Starbucks Coffee membuka gerainya di Jepang, Hawaii dan Singapore. Tahun 1997 berlokasi di Filipina dan tahun 1998 berlokasi di Taiwan, Thailand, New Zealand dan Malaysia. Pada tahun 1999-2000, Starbucks Coffee berlokasi di China, Kuwait, Korea, Lebanon, Dubai, Hongkong, Shanghai, Qatar, Bahrain, Saudi Arabia, dan Australia.

Pada tahun 2002, Starbucks Coffee hadir di Indonesia. Hingga tahun 2005, Starbucks Coffee Indonesia sudah ada di Jakarta, Surabaya, Bali, Medan, dan Bandung. Sampai saat ini Starbucks Coffee telah mempunyai 7500 gerai di seluruh dunia.

(2)

Universitas Kristen Petra Starbucks Coffee memiliki misi (mission statement) yaitu menegakkan

Starbucks Coffee sebagai penyedia utama sajian kopi terhalus di dunia,

mempertahankan prinsip-prinsip yang tidak berkompromi seraya bertumbuh.

Starbucks Coffee juga memiliki tujuan yaitu untuk memberikan suatu

pengalaman membangkitkan semangat yang memperkaya kehidupan sehari-hari setiap orang.

Adapun enam pedoman prinsip-prinsip yang akan membantu mengukur ketepatan dari keputusan-keputusan dalam Starbucks Coffee yaitu: 1. Menyediakan lingkungan kerja yang baik dan memperlakukan satu sama lain

dengan kehormatan dan martabat

2. Memperlakukan perbedaan (keragaman) sebagai sebuah komponen yang penting saat melakukan bisnis

3. Menggunakan standar-standar keunggulan yang tertinggi untuk pembelian, penyangraian, dan pengiriman kopi segar

4. Selalu mengembangkan kepuasan pelanggan secara antusias 5. Berkontribusi secara positif untuk masyarakat dan lingkungan

6. Menyadari bahwa profitabilitas adalah penting bagi keberhasilan masa depan

“Starbucks Mission Statement is our goal. Guiding Principles are action statements we refer to

and follow that lead us to our goal"

Starbucks Coffee memiliki nilai-nilai yaitu:

1. Menghormati partner kerja dan bersemangat tinggi untuk segala yang dilakukan

2. Integritas

3. Mengembangkan semangat dan gerakan kewiraswastaan serta memacunya 4. Semangat untuk setiap kegiatan yang dilakukan untuk mencapai kebanggaan

dan keberhasilan

5. Harga diri dalam setiap kemenangan dan kesuksesan serta hormat pada para partner

Starbucks Coffee menerapkan self service dalam pelayanan kepada konsumennya. Self service sendiri merupakan sistem pelayanan di mana

(3)

Universitas Kristen Petra konsumen melayani dirinya sendiri, mulai dari pemesanan minuman dan makanan, pengambilan minuman dan makanan yang dipesan, pengambilan

condiment bar, membuang gelas minuman dan piring makanan setelah selesai

menggunakan dan juga pembayaran. Pelayanan menurut Starbucks Coffee memiliki arti yaitu:

1. Sikap melayani yang positif, merupakan kesan terakhir bagi konsumen 2. Membuat pengalaman yang berarti bagi konsumen

3. Mengundang konsumen untuk berpartisipasi

4. Memberikan pengalaman positif yang akan disampaikan dengan kata-kata dari konsumen ke konsumen yang lain

5. Memberikan sikap personal dalam setiap transaksi bisnis 6. Membangun hubungan dengan konsumen

7. Membuat perasaan atas pengalaman pelayanan yang nyaman dan mengundang

Adapun cara-cara Starbucks Coffee dalam menyediakan service (pelayanan), yaitu:

1. Mempelajari nama konsumen dan minuman yang biasa diminum konsumen tersebut

2. Mengenal konsumen dengan baik

3. Ketika sedang memelihara atau membersihkan area store, dilakukan juga interaksi kepada konsumen secara personal

4. Membuat konsumen berpartisipasi dalam coffee tasting 5. Membantu dan memperhatikan apa yang konsumen butuhkan

6. Mendemonstrasikan pengaturan produk yang dimiliki Starbucks Coffee 7. Memenuhi pesanan konsumen secara akurat

Starbucks Coffee memiliki SMART goals, yang berarti:

Specific = khusus

Meansurable = mengukur

Achievable = penghargaan

Realistic = nyata

(4)

Universitas Kristen Petra Setiap staf yang bekerja di Starbucks Coffee memiliki panduan-panduan dalam menghadapi konsumen untuk memberikan suatu pengalaman yang berbeda dan semangat yang memperkaya kehidupan sehari-hari dalam mencari teman atau bersahabat, membuat suatu perbedaan dengan membuat seseorang bahagia hari ini, yaitu:

a. Be Welcoming

Selalu bersikap menyambut dan memberikan kepada setiap orang rasa saling memiliki. Starbucks merupakan suatu tempat di mana orang-orang dapat merasa nyaman, bersantai dan menikmati atmosfer yang ditawarkan. Suatu tempat antara lingkungan kerja dan rumah, yang menjadi tempat ketiga bagi setiap orang untuk bersenang-senang.

b. Be Genuine

Jadilah sejati atau bersungguh-sungguh dari lubuk hati dalam membangun suatu hubungan, menemukannya dan menanggapinya. Menjaga agar tidak kehilangan pelanggan dan selalu berkata “ya” dengan konsumen

c. Be Knowledgeable

Perkaya pengetahuan dengan mencintai apa yang dilakukan dan berbagilah dengan yang lain.

d. Be Considerate

Pertimbangkan perasaan dengan menjaga diri sendiri, sesama, dan lingkungan e. Be Involved

Berpartisipasilah dalam gerai, perusahaan dan dalam masyarakat

4.1.2 Profil Perusahaan

Starbucks Coffee Tunjungan Plaza IV terletak di Plaza Tunjungan tahap IV lantai UG. Plaza Tunjungan sendiri merupakan pusat perbelanjaan yang terletak di tengah kota Surabaya yaitu jalan Basuki Rahmat. Starbucks Coffee Tunjungan Plaza IV ini letaknya sangat strategis yaitu dekat dengan pintu masuk Sogo yang membuat konsumen mudah menemukannya dan lokasi ini juga sangat strategis karena Starbucks Coffee Tunjungan Plaza IV memiliki akses pintu sendiri yang memudahkan konsumen untuk datang tanpa harus parkir di dalam

(5)

Universitas Kristen Petra gedung. Starbucks Coffee Tunjungan Plaza IV dibuka pada bulan November 2002 dan beroperasi setiap hari mulai pukul 09.00 sampai pukul 23.00. Starbucks

Coffee Tunjungan Plaza IV merupakan gerai pertama Starbucks Coffee

International yang dibuka di Surabaya.

Untuk organization chart, Starbucks Coffee Tunjungan Plaza IV memiliki seorang store manager, lima supervisor, empat barista, lima part timer dan dua trainee. Barista dalam Starbucks Coffee memiliki arti yaitu sebuah jabatan untuk orang yang sangat mengerti cara pembuatan minuman kopi yang benar sesuai standar yang dimiliki Starbucks Coffee itu sendiri. Ada pun jabatan yang lain yaitu coffee master, yang merupakan jabatan untuk orang yang sangat mengerti whole bean (biji kopi) yang berasal dari seluruh negara yang dimiliki Starbucks Coffee. Bagan organisasi yang dimiliki Starbucks Coffee Tunjungan Plaza IV adalah sebagai berikut:

Bagan 4.1. Organization Chart Starbucks Coffee Tunjungan Plaza IV Store Manager

Supervisor Supervisor Supervisor

Barrista Barrista Part-timer Part-timer Part-timer Supervisor Barrista Barrista Trainee Trainee

(6)

Universitas Kristen Petra Starbucks Coffee Tunjungan Plaza IV memiliki event untuk membuat konsumennya berpartisipasi melalui coffee tasting yaitu acara yang dibuat dengan mengundang konsumen untuk memperkenalkan kopi yang dimiliki oleh Starbucks Coffee dengan memberikan pengetahuan tentang kopi dan bagaimana cara mengetahui kopi itu dari rasa, aroma, keasaman dan badan kopi yang diminum. Coffee tasting ini diadakan setiap hari Rabu dan yang dipresentasikan oleh barista secara bergantian. Coffee tasting ini diadakan agar konsumen lebih dekat dengan Starbucks Coffee dengan partner-partnernya (sebutan bagi staf di Starbucks Coffee) dan menambah pengetahuan mengenai kopi. Starbucks Coffee memiliki empat langkah dalam melakukan coffee tasting, yaitu:

1. Smell (membau), hal ini dilakukan untuk mengetahui aroma dari kopi tersebut seperti fruity, nutty, smoky, sweet dan earthy.

2. Slurp, hal ini untuk mengetahui apakah rasa dari kopi tersebut sesuai dengan aroma yang ada dan apa yang dirasakan di dalam lidah konsumen.

3. Locate the experience on your tongue, setelah mengetahui rasa kopi, juga harus mengetahui bagaimana kopi tersebut di lidah dan mulut. Apakah kopi tersebut terasa lama di lidah atau langsung hilang, atau terdapat rasa lain pada saat selesai diminum.

4. Write a description, hal ini dilakukan untuk mengekspresikan karakteristik yang dominan dari aroma dan rasa. Juga untuk mengetahui hal-hal lain seperti makanan atau cake yang bagaimana yang dapat dipasangkan atau cocok dengan kopi tersebut.

4.2 Deskripsi Hasil Penelitian

Deskripsi hasil penelitian dimulai dengan mengidentifikasikan karakteristik responden berdasarkan faktor-faktor demografi konsumen di

Starbucks Coffee Plaza Tunjungan IV Surabaya. Kemudian menganalisis

pengaruh persepsi individu yang mempengaruhi kepuasan konsumen terhadap penanganan komplain. Setelah data primer terkumpul, selanjutnya dinilai validitas dan reliabilitasnya dan dianalisis dengan menggunakan teknik analisa

(7)

Universitas Kristen Petra yang telah ditentukan, yaitu structural equation modelling (SEM) untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini.

4.2.1 Karakteristik Responden

Responden yang menjadi objek dalam penelitian ini telah memenuhi kriteria yang telah ditentukan yaitu para konsumen Starbucks Coffee di Plaza Tunjungan IV Surabaya yang pernah melakukan komplain. Karakteristik responden pada penelitian ini didasarkan atas faktor-faktor demografi yang meliputi: jenis kelamin, usia, pekerjaan, frekuensi kedatangan, tujuan kedatangan, intensitas melakukan komplain, dan masalah yang dikomplain.

4.2.2 Hasil Deskripsi Responden a. Klasifikasi Jenis Kelamin Responden

Pada bagian ini akan dijelaskan klasifikasi dari jenis kelamin responden. Berdasarkan hasil penyebaran diperoleh hasil bahwa 69 orang atau 49,3 % responden berjenis kelamin laki-laki dan sisanya sebanyak 71 orang atau 50,7 % berjenis kelamin perempuan. Adapun ringkasan yang disajikan dalam Tabel 4.1. dibawah ini:

Tabel 4.1.Klasifikasi Berdasarkan Jenis Kelamin Responden

Jenis kelamin Jumlah Prosentase

Laki-laki 69 49.3 %

Perempuan 71 50.7 %

Total 140 100 %

Sumber: Jawaban Responden diolah

Berdasarkan Tabel 4.1. diketahui bahwa karakteristik responden berdasarkan klasifikasi jenis kelamin adalah sebagai berikut : responden berjenis kelamin perempuan ada 71 orang (50,7 %) merupakan responden yang dominan dalam penelitian ini.

(8)

Universitas Kristen Petra b. Klasifikasi Usia Responden

Secara ringkas hasil distribusi penyebaran responden menurut usia ditunjukan pada Tabel 4.2. sebagai berikut:

Tabel 4.2. Klasifikasi Berdasarkan Usia Responden

Usia Jumlah Prosentase

≤ 20 thn 6 4.3 % 21-30 thn 69 49.3 % 31-40 thn 45 32.1 % 41-50 thn 12 8.6 % > 50 thn 8 5.7 % Total 140 100 %

Sumber: Jawaban Responden diolah

Hasil penyebaran kuisioner memperoleh informasi bahwa usia 21-30 tahun adalah usia yang paling dominan, sebanyak 69 orang atau 49,3 %. Klasifikasi usia responden yang paling sedikit adalah pada kategori ≤ 20 tahun yaitu sebanyak 6 orang responden atau 4,3 %.

c. Klasifikasi Pekerjaan Responden

Tabel 4.3. Klasifikasi Berdasarkan Pekerjaan Responden

Pekerjaan Jumlah Prosentase

Wiraswasta 26 18.6 %

Pegawai Swasta 41 29.3 %

Pegawai Negeri 10 7.1 %

Mahasiswa/ Pelajar 49 35 %

Ibu Rumah Tangga 14 10 %

Total 140 100 %

Sumber: Jawaban Responden diolah

Tabel 4.3 memperlihatkan jumlah dan prosentase jenis pekerjaan responden pada saat penelitian ini, yaitu 49 orang atau 35 % responden memiliki

(9)

Universitas Kristen Petra jenis pekerjaan mahasiswa / pelajar, 26 orang responden atau 18,6 % responden memiliki jenis pekerjaan wiraswasta, 41 orang responden atau 29,3 % responden memiliki jenis pekerjaan pegawai swasta, 10 orang responden atau 7,1 % responden memiliki jenis pekerjaan pegawai negeri dan 14 orang responden atau 10 % responden memiliki jenis pekerjaan ibu rumah tangga.

d. Klasifikasi Frekuensi Kedatangan Responden

Pada bagian ini akan dijelaskan klasifikasi berdasarkan frekuensi kedatangan responden di Starbucks Coffee Plaza Tunjungan IV Surabaya dalam jangka waktu satu bulan.

Tabel 4.4. Klasifikasi Berdasarkan Frekuensi Kedatangan Responden Frekuensi kedatangan

dalam satu bulan

Jumlah Prosentase

< 3 kali 70 50 %

3-5 kali 60 42.9 %

> 5 kali 10 7.1 %

Total 140 100 %

Sumber: Jawaban Responden diolah

Tabel 4.4 memperlihatkan bahwa frekuensi kedatangan responden dalam satu bulan yang paling dominan adalah < 3 kali yaitu 70 orang responden atau 50 % responden. Sedangkan sisanya responden dengan frekuensi kedatangan dalam waktu satu bulan yaitu 3- 5 kali sebanyak 60 orang rersponden atau 42,9 % responden dan sebanyak 10 orang responden atau 7,1 % responden yang memiliki frekuensi kedatangan sebanyak > 5 kali.

(10)

Universitas Kristen Petra e. Klasifikasi Tujuan Kedatangan Responden

Tabel 4.5. Klasifikasi Berdasarkan Tujuan Kedatangan Responden Tujuan kedatangan Jumlah Prosentase Menikmati makanan dan minuman 34 24.3 %

Meeting dengan rekan kerja 33 23.6 %

Berkumpul dengan teman-teman (hang-out) 49 35 % Menikmati fasilitas wi-fi yang tersedia 18 12.9 %

Lain-lain 6 4.3 %

Total 140 100 %

Sumber: Jawaban Responden diolah

Tabel 4.5. memperlihatkan bahwa tujuan kedatangan responden yang paling dominan adalah untuk berkumpul dengan teman-teman (hang-out) yaitu sebanyak 49 orang responden atau 35 %. Sedangkan sisanya 34 orang responden atau 24,3 % responden datang dengan tujuan menikmati makanan dan minuman, 33 orang responden atau 23,6 % responden datang dengan tujuan meeting dengan rekan kerja, 18 orang responden atau 12,9 % responden datang dengan tujuan menikmati fasilitas wi-fi yang tersedia dan yang datang dengan tujuan yang lain yaitu sebanyak 6 orang responden atau 4,3 % responden.

f. Klasifikasi Intensitas Melakukan Komplain Responden

Tabel 4.6. Klasifikasi Intensitas Melakukan Komplain Responden Intensitas melakukan komplain Jumlah Prosentase

1 kali 105 75 %

2-5 kali 33 23.6 %

> 5 kali 2 1.4 %

Total 140 100 %

Sumber: Jawaban Responden diolah

Tabel 4.6 memperlihatkan bahwa intensitas melakukan komplain yang paling dominan dalam jangka waktu tiga bulan terakhir adalah 1 kali yaitu

(11)

Universitas Kristen Petra sebanyak 105 orang responden atau 75 % responden, sedangkan sisanya sebanyak 33 orang responden atau 23,6 % responden yang melakukan komplain dengan intensitas sebanyak 2-5 kali dan responden yang melakukan komplain dengan intensitas > 5 kali sebanyak 2 orang responden atau 1,4 % responden.

g. Klasifikasi Masalah Komplain Responden

Berdasarkan hasil penyebaran responden menurut klasifikasi masalah yang menyebabkan komplain akan ditunjukan pada tabel 4.7 sebagai berikut:

Tabel 4.7. Klasifikasi Masalah Komplain Responden

Masalah komplain Jumlah Prosentase

Makanan dan minuman 77 55 %

Pelayanan 33 23.6 %

Sikap staf dan karyawan yang bekerja 6 4.3 %

Suasana / atmosfer 12 8.6 %

Perlengkapan yang ada 12 8.6 %

Total 140 100 %

Sumber: Jawaban Responden diolah

Berdasarkan Tabel 4.7 memperlihatkan bahwa masalah yang menyebabkan responden melakukan komplain yang paling dominan yaitu masalah yang berhubungan dengan makanan dan minuman, sebanyak 77 orang responden atau 55 % responden. Sedangkan sisanya sebanyak 33 orang responden atau 23,6 % responden melakukan komplain dengan masalah pelayanan, 6 orang responden atau 4,3 % responden melakukan komplian dengan masalah sikap staf dan karyawan yang bekerja, 12 orang responden atau 8,6 % responden melakukan komplain dengan masalah suasana/atmosfir, dan responden yang melakukan komplain dengan masalah perlengkapan yang ada sebanyak 12 orang responden atau 8,6 % responden

(12)

Universitas Kristen Petra 4.3 Validitas dan Reliabilitas Data

4.3.1 Validitas Alat Ukur

Penelitian ini menggunakan kuisioner untuk mengumpulkan data penelitian. Untuk mengetahui indeks validitas angket tersebut dilakukan konsultasi dengan para ahli serta mengacu pada landasan teori yang digunakan.

4.3.2 Relibilitas Alat Ukur

Koefisien alpha atau cronbach’s alpha digunakan dalam penelitian ini untuk mengukur tingkat reliabilitas atau konsistensi internal di antara butir-butir pertanyaan dalam suatu instrumen. Item pengukuran dikatakan reliabel jika memiliki nilai koefisien alpha lebih besar dari 0,6 (Malhotra, 1996:282).

Tabel 4.8 menunjukan nilai reliabilitas konsistensi internal, untuk koefisien alpha masing-masing variabel dalam setiap variabel dan dinyatakan reliabel karena lebih besar dari 0,6. dengan demikian item pengukuran pada masing-masing variabel dinyatakan reliabel dan selanjutnya dapat digunakan dalam penelitian.

Tabel 4.8. Reliabilitas

Variabel Alpha Keterangan

Kognitif 0.869 Reliabel Afektif 0.913 Reliabel Kepuasan terhadap

penanganan komplain

0.915 Reliabel

Sumber: Lampiran diolah

4.4Hasil Deskripsi Tentang Persepsi Individu Konsumen

Penilaian dari 140 orang responden dikelompokkan menjadi variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian, (1) kognisi, (2) afeksi, (3) kepuasan terhadap bentuk penanganan komplain di Starbucks Coffee Plaza Tunjungan IV Surabaya.

(13)

Universitas Kristen Petra Deskripsi jawaban responden merupakan hasil jawaban responden pada masing–masing variabel penelitian. Deskripsi jawaban akan dijelaskan berdasarkan distribusi frekuensi responden yang diolah dengan menggunakan descriptive statistic pada bagian frequencies dari SPSS versi 12. Statistik tersebut akan menampilkan nilai frekuensi dan prosentase. Frekuensi terbanyak menggambarkan nilai modus atau jawaban yang paling banyak dipilih oleh responden. Untuk menentukan nilai rata-rata responden termasuk dalam kategori tertentu maka berikut adalah aturan kategorisasinya (Djarwanto & Subagyo, 1994): kategori Banyaknya dah skor teren -nggi Skor terti = 55−1=0.8

0,8 merupakan jarak interval kelas pada masing–masing kategori. Sehingga berlaku ketentuan kategori dengan hasil sebagai berikut:

Tabel 4.9. Kategori Jawaban Responden

Interval Kategori 1,00 < X ≤ 1,80 Sangat tidak setuju

1,81 < X ≤ 2,60 Tidak setuju 2,61 < X ≤ 3,40 Netral 3,41 < X ≤ 4,20 Setuju 4,21 < X ≤ 5,00 Sangat setuju

(14)

Universitas Kristen Petra 4.4.1 Deskripsi jawaban responden pada variabel kognisi (X1):

Tabel 4.10. Deskripsi Variabel Kognisi

Skor jawaban No. Indikator

1 2 3 4 5 Total Mean Kategori

1. Komplain melalui guest

comment 0 1 18 89 32 140 4.90 Sangat setuju

2. Komplain melalui media

massa 0 8 15 86 31 140 4.00 Setuju

3. Komplain melalui website 0 6 40 73 21 140 3.78 Setuju

4. Penggantian produk

terhadap komplain

makanan dan minuman 0 2 23 96 19 140 3.94 Setuju

5. Komplain langsung pada

store manager 0 6 57 71 6 140 3.55 Setuju

6. Komplain karena

pelayanan 0 6 12 98 24 140 4.00 Setuju

7. Komplain karena sikap

staf 0 1 17 80 42 140 4.16 Setuju

8. Komplain karena

perlengkapan yang ada 0 3 23 74 40 140 4.08 Setuju

Sumber : Jawaban responden diolah

1. Komplain melalui guest comment

Konsumen melakukan komplain langsung melalui guest comment yang terletak di condiment bar. Pernyataan sangat tidak setuju diberi skor 1 dan sangat setuju diberi skor 5. Satu orang responden menilai dengan skor 2, delapan belas orang responden menilai dengan skor 3, delapan puluh sembilan orang responden menilai dengan skor 4, dan tiga puluh dua orang responden menilai dengan skor 5.

2. Komplain melalui media massa

Konsumen melakukan komplain dapat dilakukan dengan menyampaikan pada media massa yang dapat dilakukan melalui majalah, surat kabar dan tabloid. Pernyataan sangat tidak setuju diberi skor 1 dan sangat setuju diberi skor 5. Delapan orang responden menilai dengan skor 2, lima belas orang responden menilai dengan skor 3, delapan puluh enam orang responden menilai dengan skor 4, dan tiga puluh satu orang responden menilai dengan skor 5.

3. Komplain melalui website

Konsumen dapat melakukan komplain melalui website yang dimiliki Starbucks Coffee yaitu www.starbuckscoffee.com. Pernyataan sangat tidak setuju diberi skor 1 dan sangat setuju diberi skor 5. Enam orang responden

(15)

Universitas Kristen Petra menilai dengan skor 2, empat puluh orang responden menilai dengan skor 3, tujuh pilih tiga orang responden menilai dengan skor 4, dan dua puluh satu orang responden menilai dengan skor 5.

4. Penggantian produk terhadap komplain makanan dan minuman

Salah satu cara pihak Starbucks Coffee melakukan penanganan komplain yang berkaitan dengan makanan dan minuman adalah dengan mengganti produk minuman yang dibeli oleh konsumen. Pernyataan sangat tidak setuju diberi skor 1 dan sangat setuju diberi skor 5. Dua orang responden menilai dengan skor 2, dua puluh tiga orang responden menilai dengan skor 3, sembilan puluh enam orang responden menilai dengan skor 4, dan sembilan belas orang responden menilai dengan skor 5.

5. Komplain langsung kepada store manager

Konsumen dapat melakukan komplain secara langsung terhadap store

manager setelah mendapat permasalahan. Pernyataan sangat tidak setuju

diberi skor 1 dan sangat setuju diberi skor 5. Enam orang responden menilai dengan skor 2, lima puluh tujuh orang responden menilai dengan skor 3, tujuh puluh satu orang responden menilai dengan skor 4, dan enam orang responden menilai dengan skor 5.

6. Komplain karena pelayanan

Komplain konsumen tidak hanya disebabkan karena produk yang disajikan tidak sesuai dengan pesanan tetapi juga karena pelayanan dari staf yang tidak menyenangkan. Pernyataan sangat tidak setuju diberi skor 1 dan sangat setuju diberi skor 5. Enam orang responden menilai dengan skor 2, dua belas orang responden menilai dengan skor 3, sembilan puluh delapan orang responden menilai dengan skor 4, dan dua puluh empat orang responden menilai dengan skor 5.

7. Komplain karena sikap staf

Sikap staf dari Starbucks Coffee yang kurang menyenangkan pada pelanggan merupakan salah satu faktor yang dapat membuat pelanggan komplain. Pernyataan sangat tidak setuju diberi skor 1 dan sangat setuju diberi skor 5. Satu orang responden menilai dengan skor 2, tujuh belas orang responden

(16)

Universitas Kristen Petra menilai dengan skor 3, delapan puluh orang responden menilai dengan skor 4, dan empat puluh dua orang responden menilai dengan skor 5.

8. Komplain karena perlengkapan yang ada

Komplain pelanggan juga dapat disebabkan karena pelengkapan (meja, kursi, condiment bar, air conditioner, dan lain-lain) yang tidak ada atau tidak sesuai dengan keinginan konsumen. Pernyataan sangat tidak setuju diberi skor 1 dan sangat setuju diberi skor 5. Tiga orang responden menilai dengan skor 2, dua puluh tiga orang responden menilai dengan skor 3, tujuh puluh empat orang responden menilai dengan skor 4, dan empat puluh orang responden menilai dengan skor 5.

Dari Tabel 4.10 dapat disimpulkan bahwa delapan puluh sembilan orang responden melakukan komplain melalui guest comment, hal ini diperlihatkan melalui hasil pengolahan data dengan mean 4,90.

(17)

Universitas Kristen Petra 4.4.2 Deskripsi jawaban responden pada variabel afeksi (X2):

Tabel 4.11. Deskripsi Variabel Afeksi

Skor jawaban No. Indikator

1 2 3 4 5 Total Mean Kategori

9. Kepercayaan responden

terhadap penanganan

komplain 0 11 30 90 9 140 3.69 Setuju

10. Sikap senang responden karena komplain langsung diselesaikan oleh staf yang bersangkutan

0 15 35 84 6 140 3.58 Setuju 11. Sikap senang responden

terhadap masalah yang tidak terselesaikan diinformasikan kepada store manager atau supervisor

0 10 53 75 20 140 3.49 Setuju 12. Sikap menghargai responden

karena masalah dijelaskan dengan menggunakan standard yang dimiliki

1 11 28 80 20 140 3.76 Setuju

13. Sikap senang konsumen terhadap bentuk penanganan komplain dengan penggantian produk

0 14 20 86 20 140 3.80 Setuju

14. Sikap senang responden karena komplain ditanggapi

dengan cepat 1 14 47 75 3 140 3.46 Setuju

15. Permintaan maaf sebagai bentuk pertama dari penanganan komplain

0 10 35 87 8 140 3.66 Setuju

16. Persediaan perlengkapan yang tidak ada atau kurang

nyaman untuk konsumen 0 15 43 76 6 140 3.52 Setuju

Sumber: Jawaban responden diolah

1. Kepercayaan responden terhadap penanganan komplain

Konsumen percaya jika pihak Starbucks Coffee dapat menyelesaikan masalah komplain dengan baik. Pernyataan sangat tidak setuju diberi skor 1 dan sangat setuju diberi skor 5. Sebelas orang responden menilai dengan skor 2, tiga puluh orang responden menilai dengan skor 3, sembilan puluh orang responden menilai dengan skor 4, dan sembilan orang responden menilai dengan skor 5.

2. Sikap senang responden karena komplain langsung diselesaikan oleh staf yang bersangkutan

Konsumen senang karena komplain yang disampaikan langsung ditanggapi dengan cepat oleh staf yang bersangkutan. Pernyataan sangat tidak setuju

(18)

Universitas Kristen Petra diberi skor 1 dan sangat setuju diberi skor 5. Lima belas orang responden menilai dengan skor 2, tiga puluh lima orang responden menilai dengan skor 3, delapan puluh empat orang responden menilai dengan skor 4, dan enam orang responden menilai dengan skor 5.

3. Sikap senang responden terhadap masalah yang tidak terselesaikan diinformasikan pada store manager atau supervisor

Konsumen senang pada penanganan komplain pihak Starbucks Coffee karena masalah yang tidak dapat diselesaikan secara langsung maka akan diinformasikan langsung kepada store manager atau supervisor. Pernyataan sangat tidak setuju diberi skor 1 dan sangat setuju diberi skor 5. Sepuluh orang responden menilai dengan skor 2, lima puluh tiga orang responden menilai dengan skor 3, tujuh puluh lima orang responden menilai dengan skor 4, dan dua puluh orang responden menilai dengan skor 5.

4. Sikap menghargai responden karena masalah dijelaskan dengan menggunakan standar yang dimiliki

Konsumen merasa dihargai karena pihak Starbucks Coffee menanggapi masalah dengan menjelaskan standar yang dimiliki. Pernyataan sangat tidak setuju diberi skor 1 dan sangat setuju diberi skor 5. Satu orang responden menilai dengan skor 1, sebelas orang responden menilai dengan skor 2, dua puluh delapan orang responden menilai dengan skor 3, delapan puluh orang responden menilai dengan skor 4, dan dua puluh orang responden menilai dengan skor 5.

5. Sikap senang konsumen terhadap bentuk penanganan komplain dengan melakukan penggantian produk

Konsumen merasa senang karena pihak Starbucks Coffee melakukan penggantian produk apabila ada komplain dari konsumen yang tidak sesuai dengan pesanan. Pernyataan sangat tidak setuju diberi skor 1 dan sangat setuju diberi skor 5. Empat belas orang responden menilai dengan skor 2, dua puluh orang responden menilai dengan skor 3, delapan puluh enam orang responden menilai dengan skor 4, dan dua puluh orang responden menilai dengan skor 5.

(19)

Universitas Kristen Petra 6. Sikap senang responden karena komplain ditanggapi dengan cepat

Konsumen merasa senang karena pihak Starbucks Coffee langsung menanggapi komplain dengan cepat. Pernyataan sangat tidak setuju diberi skor 1 dan sangat setuju diberi skor 5. Satu orang responden menilai dengan skor 1, empat belas orang responden menilai dengan skor 2, empat puluh tujuh orang responden menilai dengan skor 3, tujuh puluh lima orang responden menilai dengan skor 4, dan tiga orang responden menilai dengan skor 5.

7. Permintaan maaf sebagai bentuk pertama dari penanganan komplain

Konsumen dapat menerima apabila pihak Starbucks Coffee langsung menyampaikan prmintaan maaf sebagai bentuk penanganan pertama terhadap komplain dari konsumen. Pernyataan sangat tidak setuju diberi skor 1 dan sangat setuju diberi skor 5. Sepuluh orang responden menilai dengan skor 2, tiga puluh lima responden menilai dengan skor 3, delapan puluh tujuh orang responden menilai dengan skor 4, dan delapan orang responden menilai dengan skor 5.

8. Persediaan perlengkapan yang tidak ada atau kurang nyaman untuk konsumen Pihak Starbucks Coffee akan langsung memberikan tanggapan dengan cara

menyediakan perlengkapan yang dirasa tidak ada atau kurang nyaman bagi konsumennya. Pernyataan sangat tidak setuju diberi skor 1 dan sangat setuju diberi skor 5. Lima belas orang responden menilai dengan skor 2, empat puluh tiga orang responden menilai dengan skor 3, tujuh puluh enam orang responden menilai dengan skor 4, dan enam orang responden menilai dengan skor 5.

Dari Tabel 4.11 dapat disimpulkan bahwa delapan puluh enam orang responden merasa senang saat pihak Starbucks Coffee melakukan pergantian produk karena adanya komplain yang berkaitan dengan produk pesanan. Hal tersebut ditunjukan dari hasil penelitian dengan mean 3,80.

(20)

Universitas Kristen Petra 4.5Hasil Deskripsi Faktor Kepuasan Konsumen

Berikut adalah deskripsi jawaban responden pada variabel kepuasan konsumen (Y):

Tabel 4.12. Deskripsi Variabel Kepuasan

Skor jawaban No. Indikator

1 2 3 4 5 Total Mean Kategori

17. Kepuasan responden terhadap penanganan komplain yang dilakukan Starbucks Coffee

0 2 19 14 45 140 4.16 Setuju 18. Kepuasan responden terhadap

penanganan komplain yang

dilakukan oleh staf 0 2 34 61 43 140 4.04 Setuju

19. Kepuasan responden terhadap penanganan komplain yang dilakukan oleh store manager

0 1 22 91 26 140 4.01 Setuju 20. Responden akan datang

kembali setelah mendapat masalah di Starbucks Coffee

0 1 21 76 42 140 4.14 Setuju

21. Kepuasan responden terhadap pencarian dan penyampaian solusi yang cepat dan tepat dari pihak Starbucks Coffee

0 2 22 72 44 140 4.13 Setuju

22. Kepuasan responden terhadap kecepatan pihak Starbucks

Coffee dalam menanggapi

komplain yang menyangkut masalah perlengkapan

0 2 27 77 34 18 4.02 Setuju

Sumber: Jawaban responden diolah

1. Kepuasaan responden terhadap penanganan komplain yang dilakukan Starbucks Coffee

Pernyataan sangat tidak setuju diberi skor 1 dan sangat setuju diberi skor 5. Dua orang responden menilai dengan skor 2, sembilan belas orang responden menilai dengan skor 3, empat belas orang responden menilai dengan skor 4, dan empat puluh lima orang responden menilai dengan skor 5.

2. Kepuasaan responden terhadap penanganan komplain yang dilakukan oleh staf

Pernyataan sangat tidak setuju diberi skor 1 dan sangat setuju diberi skor 5. Dua orang responden menilai dengan skor 2, tiga puluh empat orang responden menilai dengan skor 3, enam puluh satu orang responden menilai dengan skor 4, dan empat puluh tiga orang responden menilai dengan skor 5.

(21)

Universitas Kristen Petra 3. Kepuasan responden terhadap penanganan komplain yang dilakukan oleh

store manager

Pernyataan sangat tidak setuju diberi skor 1 dan sangat setuju diberi skor 5. Satu orang responden menilai dengan skor 2, dua puluh dua orang responden menilai dengan skor 3, sembilan puluh satu orang responden menilai dengan skor 4, dan dua puluh enam orang responden menilai dengan skor 5.

4. Responden akan datang kembali setelah mendapat masalah di Starbucks Coffee

Pernyataan sangat tidak setuju diberi skor 1 dan sangat setuju diberi skor 5. Satu orang responden menilai dengan skor 2, dua puluh satu orang responden menilai dengan skor 3, tujuh puluh enam orang responden menilai dengan skor 4, dan empat puluh dua orang responden menilai dengan skor 5.

5. Kepuasan responden terhadap pihak Starbucks Coffee karena dapat secara langsung mencari solusi yang tepat, tanpa menundanya dan langsung menyampaikan solusi tersebut pada konsumen

Pernyataan sangat tidak setuju diberi skor 1 dan sangat setuju diberi skor 5. Dua orang responden menilai dengan skor 2, dua puluh dua orang responden menilai dengan skor 3, tujuh puluh dua orang responden menilai dengan skor 4, dan empat puluh empat orang responden menilai dengan skor 5.

6. Kepuasan responden terhadap kecepatan pihak Starbucks Coffee dalam menanggapi komplain yang menyangkut masalah perlengkapan

Pernyataan sangat tidak setuju diberi skor 1 dan sangat setuju diberi skor 5. Dua orang responden menilai dengan skor 2, dua puluh tujuh orang responden menilai dengan skor 3, tujuh puluh tujuh orang responden menilai dengan skor 4, dan tiga puluh empat orang responden menilai dengan skor 5.

Dari Tabel 4.12 dapat disimpulkan bahwa empat puluh lima orang responden merasa puas terhadap penanganan komplain yang dilakukan pihak Starbucks Coffee Plaza Tunjungan IV secara keseluruhan. Hal ini ditunjukkan dari hasil pengolahan data dengan mean 4,16.

(22)

Universitas Kristen Petra 4.6 Analisis Structural Equation Modelling

4.6.1 Analisis CFA (Confirmatory factor analysis)

Tujuan dari uji CFA adalah untuk mengidentifikasi apakah indikator merupakan konstrak dari variabel penelitian yang ada atau dengan kata lain indikator–indikator tersebut merupakan satu kesatuan atau memiliki unidimensionalitas. Uji CFA dilakukan pada masing–masing variabel. Indikator dikatakan merupakan bagian dari variabel apabila mempunyai loading factor lebih dari 0,4.

Dalam penelitian ini, CFA akan dilakukan terhadap 22 item pertanyaan yang digunakan untuk mengukur 3 konstruk penelitian. Input matriks yang digunakan adalah matriks kovarian antar indikator. Hair et.al. (1995) dan Kelloway (1998) merekomendasikan penggunaan matriks kovarian dalam estimasi model karena input matriks korelasi cenderung menyederhanakan interpretasi. Ketiga konstruk dibebaskan berkorelasi satu sama lain, dan hasil korelasi antar konstruk akan digunakan sebagai dasar untuk menganalisis validitas.

Berikut adalah hasil uji CFA pada masing-masing variabel tersebut: 1. Kognisi

Tabel 4.13. Confirmatory Factor Analysis Variable Cognitive Standardized Regression Weights Estimate

Kognisi1 <-- Kognisi 0.733 Kognisi2 <-- Kognisi 0.764 Kognisi3 <-- Kognisi 0.574 Kognisi4 <-- Kognisi 0.711 Kognisi5 <-- Kognisi 0.529 Kognisi6 <-- Kognisi 0.778 Kognisi7 <-- Kognisi 0.689 Kognisi8 <-- Kognisi 0.652

Sumber: Pengolahan data penelitian

Pada Tabel 4.13 memperlihatkan bahwa setiap indikator yang terdapat di dalam variabel kognisi besarnya lebih dari 0,4 sehingga semua indikator merupakan bagian dari variabel kognisi.

(23)

Universitas Kristen Petra 1. Afeksi

Tabel 4.14. Confirmatory Factor Analysis Variable Affective Standardized Regression Weights Estimate

Afeksi1 <-- Afeksi 0.972 Afeksi2 <-- Afeksi 0.701 Afeksi3 <-- Afeksi 0.435 Afeksi4 <-- Afeksi 0.563 Afeksi5 <-- Afeksi 0.713 Afeksi6 <-- Afeksi 0.622 Afeksi7 <-- Afeksi 0.954 Afeksi8 <-- Afeksi 0.670

Sumber: Pengolahan data penelitian

Pada tabel 4.14 memperlihatkan bahwa setiap indikator yang terdapat di dalam variabel afeksi besarnya lebih dari 0,4 sehingga semua indikator merupakan bagian dari variabel afeksi.

2. Kepuasan terhadap penanganan komplain

Tabel 4.15. Confirmatory Factor Analysis Consumer Satisfaction Standardized Regression Weights Estimate

Puas1 <-- Puas 0.982 Puas2 <-- Puas 0.520 Puas3 <-- Puas 0.692 Puas4 <-- Puas 0.773 Puas5 <-- Puas 0.946 Puas6 <-- Puas 0.884

Sumber: Pengolahan data penelitian

Pada tabel 4.15 memperlihatkan bahwa setiap indikator yang terdapat di dalam variabel kepuasan besarnya lebih dari 0,4 sehingga semua indikator merupakan bagian dari variabel kepuasan konsumen.

(24)

Universitas Kristen Petra 4.6.2 Reliabilitas Konstrak dan Varian Ekstrak

Pengukuran reliabilitas dengan menggunakan koefisien Cronbach

Alpha didasarkan pada asumsi bahwa item pengukur konstrak bersifat

unidimensional, tetapi tidak menjamin bahwa unidimensional itu ada (Hair et al,1995: 641). Reliabilitas konstrak merupakan ukuran apakah indikator yang digunakan dapat mengukur konstrak dengan baik dan tidak dipengaruhi oleh kesalahan yang bersifat acak. Menurut Kline (1998:194), koefisien reliabilitas sekitar 0,90 dikatakan sempurna, 0,80 tergolong sangat baik, 0,70 tergolong cukup. Reliabilitas konstrak dibawah 0,50 mengindikasikan bahwa 50 % dari varian pengukuran disebabkan oleh kesalahan pengukuran yang bersifat acak. Dalam penelitian ini perhitungan setiap konstrak dilakukan secara manual dengan persamaan sebagai berikut (Hair et al, 1995: 665):

Construct reliability = (Σ of Stdz.Loading)2 (4.1)

(Σ of Stdz.Loading) 2 + Σ of Indicator Measurement Error

Variance Extract = Σ Std Loading2 (4.2)

Σ Std Loading2 + Σε j a. Kognisi

Tabel 4.16. Reliabilitas Konstrak danVarian Ekstrak Variabel Kognisi Standardized Regression Weights Standard

loading Error (1 - λ2) kognisi8 <-- Kognisi 0.652 0.575 kognisi7 <-- Kognisi 0.689 0.525 kognisi6 <-- Kognisi 0.778 0.395 kognisi5 <-- Kognisi 0.529 0.720 kognisi4 <-- Kognisi 0.711 0.494 kognisi3 <-- Kognisi 0.574 0.671 kognisi2 <-- Kognisi 0.764 0.416 kognisi1 <-- Kognisi 0.733 0.463 Total 5.43 4.259

(25)

Universitas Kristen Petra Hasil perhitungan menunjukkan Tabel 4.16 memiliki:

Construct reliability = (5,43)2 (5,43)2 + 4,259 = 0,874 Variance Extract = 3,7412 3,7412 + 4,259 = 0,767 b. Afeksi

Tabel 4.17. Reliabilitas Konstrak danVarian Ekstrak Variabel Afeksi Standardized Regression Weights Standard

loading (1 - Error λ2) Afeksi1 <-- Afeksi 0.972 0.056 Afeksi2 <-- Afeksi 0.701 0.509 Afeksi3 <-- Afeksi 0.435 0.811 Afeksi4 <-- Afeksi 0.563 0.683 Afeksi5 <-- Afeksi 0.713 0.492 Afeksi6 <-- Afeksi 0.622 0.613 Afeksi7 <-- Afeksi 0.954 0.09 Afeksi8 <-- afeksi 0.670 0.55 Total 5.63 3.804

Sumber: Pengolahan data penelitian

Hasil perhitungan menunjukkan Tabel 4.17 memiliki: Construct reliability = (5,63)2 (5,63)2 + 3,804 = 0,893 Variance Extract = 4,1962 4,1962 + 3,804 = 0,822

(26)

Universitas Kristen Petra c. Kepuasan konsumen

Tabel 4.18. Reliabilitas Konstrak danVarian Ekstrak Variabel Kepuasan Konsumen

Standardized Regression Weights Standar loading Error (1 - λ2) Puas1 <-- Puas 0.982 0.036 Puas2 <-- Puas 0.520 0.730 Puas3 <-- Puas 0.692 0.520 Puas4 <-- Puas 0.773 0.402 Puas5 <-- Puas 0.946 0.105 Puas6 <-- Puas 0.884 0.219 Total 4.797 2.012

Sumber: Pengolahan data penelitian

Hasil perhitungan menunjukkan Tabel 4.18 memiliki: Construct reliability = (4,797)2 (4,797)2 + 2,012 = 0,92 Variance Extract = 3,9882 3,9882 + 2,012 = 0,89

Dari hasil perhitungan di atas memperlihatkan reliabilitas konstrak dan varian ekstrak yang dirangkum dalam Tabel 4.19 berikut ini:

Tabel 4.19. Reliabilitas Konstrak dan Varian Ekstrak

Konstrak Reliabilitas Varian Ekstrak

Kognisi 0.874 0.767 Afeksi 0.853 0.822 Kepuasan 0.92 0.89

Sumber: Pengolahan data penelitian

Dari perhitungan yang dilakukan atas konstrak-konstrak yang digunakan terlihat bahwa koefisien reliabilitas konstrak melampaui batas minimal

(27)

Universitas Kristen Petra untuk dapat dikatakan bahwa skala yang digunakan reliabel yaitu 0,70. Reliabilitas kedua indikator (afeksi dan kognisi) dapat dikatakan sangat baik karena > 0,80 sedangkan untuk indikator kepuasan dapat dikatakan sempurna karena memiliki reliabilitas > 0,90. Hal ini berarti bahwa indikator yang digunakan untuk mengukur konstrak dapat diandalkan dan dapat memberikan hasil pengukuran dengan tingkat kesalahan minimal.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh variabel mempunyai varian ekstrak yang termasuk kategori baik. Ini berarti bahwa masing–masing indikator membentuk satu konstrak yang unidimensi.

4.6.3 Struktural Model

Setelah estimasi yang diperoleh dari model pengukuran mengarah pada kesimpulan bahwa model pengukuran memiliki kesesuaian model, serta konstrak yang digunakan memiliki reliabilitas dan validitas yang baik maka selanjutnya dilakukan analisis atas model struktural yang diajukan.

4.6.3.1 Hasil Estimasi

Hasil estimasi model struktural dengan menggunakan metode estimasi Maximum Likelihood memberikan indeks kesesuaian yang berada di bawah batas yang direkomendasikan. Nilai χ2 dan normed χ2 merupakan indeks kesesuaian yang dipengaruhi oleh besarnya sampel penelitian, oleh karena itu untuk mengetahui kesesuaian model dengan data digunakan GFI, CFI, TLI, NFI dan semua indeks tersebut berada di bawah 0,90 (Tabel 4.20). Sedangkan indeks kesesuaian atas dasar residual yaitu RMSEA melampaui batas yang direkomendasikan yaitu melewati 0,08 dan mendekati nilai maksimum 0,10 dan RMR masih melampaui 0,05. Dari berbagai indeks kesesuaian tersebut dapat disimpulkan bahwa model struktural yang diajukan belum dapat digunakan untuk menjelaskan data yang ada serta hubungan antar konstrak penelitian. Hal ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

(28)

Universitas Kristen Petra Tabel 4.20. Hasil Estimasi Model Struktural Awal

Korelasi Konstrak Standardized Critical Coefficient Ratio Kognisi Æ Kepuasan 0.134 2.615 Afeksi Æ Kepuasan 0.085 3.401 Goodness of Fit Chi-Square Db Probability Level C mindf GFI AGFI TLI CFI RMSEA RMR NFI PGFI 1017.041 207 0.000 4.913 0.639 0.559 0.657 0.692 0.168 0.052 0.645 0.523 Sumber: Pengolahan data penelitian

Oleh karena indeks kesesuaian model masih belum menunjukkan derajat kesesuaian yang baik (GFI, AGFI, TLI, CFI, NFI > 0,90, sedangkan RMSEA < 0,08 dan RMR < 0,05 ), maka perlu dilakukan modifikasi atau spesifikasi ulang terhadap model struktural agar model yang diajukan dapat mencapai indeks kesesuaian yang memadai. Adapun hasil pengujian hipotesis awal yang ditunjukkan oleh Tabel 4.21 yaitu:

Tabel 4.21. Hasil Pengujian Hipotesis Awal Hubungan Antar variabel Estimate S.E. C.R. P kepuasan <-- kognisi 0.350 0.134 2.615 0.009 kepuasan <-- afeksi 0.291 0.085 3.401 0.001 Sumber: Pengolahan data penelitian

4.6.3.2 Spesifikasi Ulang Model

Modifikasi atas model dilakukan terhadap model yang belum memberikan indeks kesesuaian yang baik (Hair et. Al, 1995; Kelloway, 1998; Kline, 1998 ). Apabila indeks kesesuaian belum tercapai maka koefisien jalur

(path coefficient) antar konstrak juga belum dapat dianalisis. Modifikasi

(29)

Universitas Kristen Petra Estimasi dilakukan secara bertahap, dengan menambahkan satu jalur baru pada setiap modifikasi, sampai akhirnya tercapai kesesuaian model yang diharapkan.

Namun demikian perlu diingat bahwa modifikasi ini dilakukan tidak hanya berdasarkan pertimbangan statistik saja tetapi juga didasarkan teori yang dapat menunjang (Solimun, 2005). Apabila model memiliki konstrak yang konvergen dan memberikan hasil yang memadai, tetapi tidak menunjukan indeks kesesuaian yang baik maka ada sejumlah modifikasi yang dapat dilakukan. Kemungkinan modifikasi tersebut dapat berupa penambahan path, penambahan kovarian antar konstrak, atau menghubungkan kesalahan pengukuran dua indikator konstrak yang sama.

Dari hasil modifikasi model struktural dengan menambahkan path atau jalur antara kognisi, afeksi dan kepuasan, diperoleh indeks kesesuaian model yang belum memenuhi kesesuaian model yang baik dengan nilai GFI dan NFI < 0,90 tetapi indeks kesesuaian lainnya yaitu TLI dan CFI sudah berada di atas 0,90. kemudian RMR sudah berada di bawah 0,05 namun RMSEA berada di atas 0,08. Hasil ini mengindikasikan bahwa model sesuai dengan data, sehingga dapat disimpulkan ada tiga parameter yang menunjukkan bahwa model sesuai dengan data yaitu TLI, CFI dan RMR. Menurut Solimun (2005) jika ada satu atau lebih parameter yang telah fit model maka model dinyatakan sesuai dengan data (fit). Hasil modifikasi ulang ini dapat ditunjukkan oleh Tabel 4.22 yaitu:

Tabel 4.22. Hasil Estimasi Model Struktural Akhir

Korelasi Konstrak Standardized Critical Coefficient Ratio Kognisi Æ Kepuasan 0.175 2.315 Afeksi Æ Kepuasan 0.084 3.181 Goodness of Fit Chi-Square Db Probability Level C mindf GFI AGFI TLI CFI RMSEA RMR NFI PGFI 419.615 200 0.000 2.098 0.788 0.732 0.904 0.917 0.089 0.047 0.854 0.623 Sumber: Pengolahan data penelitian

(30)

Universitas Kristen Petra Goodness of fit Chi square=419.615 db=200 p=.000 cmindf=2.098 GFI=.788 AGFI=.732 TLI=.904 CFI=.917 RMSEA=.089 RMR=.047 NFI=.854 PGFI=.623 Kognisi .30 kognisi7 e7 .55 .50 kognisi6 e6 .70 .30 kognisi5 e5 .55 .56 kognisi4 e4 .75 .39 kognisi3 e3 .62 .70 kognisi2 e2 .84 .59 kognisi1 e1 .77 .25 kognisi8 e8 .50 Afeksi .94 afeksi7 e15 .36 afeksi6 e14 .46 afeksi5 e13 .29 afeksi4 e12 .17 afeksi3 e11 .37 afeksi2 e10 .95 afeksi1 e9 .41 afeksi8 e16 .97 .60 .68 .54 .41 .61 .97 .64 .11 kepuasan .97 puas1 e17 .98 .26 puas2 e18 .51 .45 puas3 e19 .67 .59 puas4 e20 .77 .89 puas5 e21 .95 .78 puas6 e22 .88 .21 .26 d1 .88 .90 .47 .42 .51 .40 .34

Gambar 4.1. Model Pengukuran Akhir

Tabel 4.23. Hasil Pengujian Hipotesis Akhir

Hubungan Antar variabel Estimate S.E. C.R. P kepuasan <-- kognisi 0.405 0.175 2.315 0.021 kepuasan <-- afeksi 0.267 0.084 3.181 0.001 Sumber: Pengolahan data penelitian

(31)

Universitas Kristen Petra 4.7 Pengujian Hipotesis

Berdasarkan hasil dalam Amos 4.0 terhadap model jalur yang dikemukakan pada Gambar 2.4 sebagai kerangka hipotesis, diperoleh hasil sebagai berikut:

Hipotesa 1: Ada pengaruh positif kognisi terhadap kepuasan konsumen atas penangnan komplain yang diberikan oleh pihak Starbucks Coffee. Koefisien kognisi terhadap kepuasan menunjukan hasil 0,405 (standardized coefficient = 0.405, CR = 2.315, p = 0.021). Artinya adalah kognisi mempengaruhi kepuasan konsumen dalam hal menangani komplain serta memiliki hubungan yang positif. Dengan demikian hipotesa pertama dalam penelitian ini dapat diterima dan didukung oleh data yang diperoleh dari penelitian. Keadaan ini menunjukan bahwa semakin tinggi koefisien kognisi terhadap penanganan komplain maka semakin tinggi pula kepuasan konsumen terhadap penanganan komplain tersebut.

Hipotesa 2: Ada pengaruh positif afeksi terhadap kepuasan konsumen atas penanganan komplain yang diberikan oleh pihak Starbucks Coffee. Koefisien afeksi terhadap kepuasan menunjukan hasil 0,267 (standardized coefficient = 0.267, CR = 3.181, p = 0,001). Artinya adalah afeksi mempengaruhi kepuasan konsumen dalam hal menangani komplain serta memiliki hubungan yang positif. Dengan demikian hipotesa kedua dalam penelitian ini dapat diterima dan didukung oleh data yang diperoleh dari penelitian. Keadaan ini menunjukan bahwa semakin tinggi koefisien afeksi terhadap penanganan komplain maka semakin tinggi pula kepuasan konsumen terhadap penanganan komplain tersebut.

4.8 Pembahasan

Dalam penelitian yang mengungkapkan pengaruh persepsi individu terhadap kepuasan penanganan komplain konsumen di Starbucks Coffee Plaza Tunjungan IV Surabaya, banyak hal-hal yang ingin diceritakan peneliti. Setelah peneliti mencari fenomena yang ada saat ini, mengaitkan masalah tersebut

(32)

Universitas Kristen Petra dengan teori dan konsep yang memiliki hubungan kemudian menentukkan metode penelitian. Setelah itu membuat kuesioner dan melakukan penyebaran kuesioner di Starbucks Coffee Plaza Tunjungan IV Surabaya. Penyebaran kuesioner ini dilakukan pada tanggal 20 April sampai 25 Juni setiap hari jumat, sabtu dan minggu pada pukul 16.00 sampai 20.00. Pengambilan waktu penyebaran kuesioner ini didasarkan pada informasi dari pihak Starbucks Coffee Plaza Tunjungan IV Surabaya yang menyatakan bahwa hari jumat, sabtu dan minggu (jam 16.00-20.00) merupakan hari yang paling banyak dikunjungi oleh konsumen, sehingga peneliti memutuskan untuk menyebarkan kuesioner pada hari dan jam tersebut. Kuesioner yang didapatkan sejumlah 140 kuesioner, adapun hambatan-hambatan yang dialami peneliti dalam menyebarkan kuesioner yaitu ada beberapa konsumen di Starbucks Coffee Plaza Tunjungan IV Surabaya yang telah melakukan komplain tetapi tidak ingin mengisi kuesioner yang diberikan dengan alasan malas atau sedang tidak ingin menulis sesuatu. Selanjutnya dilakukan pengolahan data yang diperoleh.

Hasil deskriptif dari penelitian ini memperlihatkan bahwa jumlah sebagian besar konsumen yang melakukan komplain adalah perempuan, responden berusia rata-rata antara 21-30 tahun, responden yang memiliki jenis pekerjaan mahasiswa atau pelajar, responden yang frekuensi kedatangannya kurang dari tiga kali dalam satu bulan. Sebagian besar responden datang dengan tujuan untuk berkumpul dengan teman-teman (hang–out). Dalam penelitian ini responden yang digunakan sebagai sampel adalah responden yang pernah melakukan komplain dan sebagian besar hanya melakukan sebanyak satu kali dan hal yang menyebabkan responden melakukan komplain adalah masalah yang berkaitan dengan makanan dan minuman.

Berdasarkan hasil analisa deskriptif dapat disimpulkan bahwa reponden paling banyak melakukan komplain melalui guest comment, reponden merasa senang pihak Starbucks Coffee Plaza Tunjungan IV Surabaya melakukan penggantian produk karena adanya komplain yang berkaitan dengan produk pesanan dan responden merasa puas terhadap penanganan komplain yang dilakukan pihak Starbucks Coffee Plaza Tunjungan IV secara keseluruhan.

(33)

Universitas Kristen Petra Dari hasil pengujian hipotesis maka tampak bahwa model penelitian mampu menjelaskan antara variabel kepuasan dengan variabel afeksi dan kognisi memiliki hubungan yang erat. Sehingga kepuasan konsumen terhadap penanganan komplain sangat dipengaruhi oleh sisi afeksi dan kognisi yang dimiliki konsumen.

Dari hasil estimasi pada pengujian awal maka diperoleh hasil yang menunjukkan GFI, CFI, TLI, dan NFI masih kurang dari 0,90. Sedangkan indeks kesesuaian atas dasar residual yaitu RMSEA masih berada di atas 0,08 dan RMR masih melampaui 0,05. Hasil awal ini tidak menunjukkan model fit sehingga diperlukan spesifikasi ulang sesuai dengan teori yang dipaparkan oleh Solimun (2005). Yang menyatakan bahwa GFI, AGFI, TLI, CFI, NFI lebih dari 0,90, sedangkan RMSEA kurang dari 0,08 dan RMR kurang dari 0,05 untuk dapat dikatakan bahwa model tersebut fit.

Setelah mengadakan modifikasi ulang maka didapatkan hasil akhir yaitu GFI dan NFI kurang dari 0,90, TLI dan CFI lebih dari 0,90 dan indeks kesesuaian atas dasar residual RMSEA berada diatas 0,08 dan RMR berada di bawah 0,05. Hasil ini mengindikasikan bahwa model sesuai dengan data, sehingga dapat disimpulkan ada tiga parameter yang menunjukkan bahwa model sesuai dengan data yaitu TLI, CFI dan RMR. Menurut Solimun (2005) jika ada satu atau lebih parameter yang telah fit model maka model dinyatakan sesuai dengan data (fit).

Gambar

Tabel 4.1.Klasifikasi Berdasarkan Jenis Kelamin Responden
Tabel  4.3. Klasifikasi Berdasarkan Pekerjaan Responden
Tabel 4.4. Klasifikasi Berdasarkan Frekuensi Kedatangan Responden  Frekuensi kedatangan
Tabel 4.5. Klasifikasi Berdasarkan Tujuan Kedatangan Responden  Tujuan kedatangan  Jumlah  Prosentase  Menikmati makanan dan minuman  34  24.3 %
+7

Referensi

Dokumen terkait

Produk shampo Produk bermafaat bagi kalangan remaja dan dewasa, karena selain untuk shampoo shampo pewarna rambut, produk ini juga dapat berfungsi sebagai shampo untuk

perusahaan maupun bagi pihak eksternal seperti nasabah, calon nasabah maupun investor, serta pihak-pihak lainnya. Bagi pemilik dan manajer perusahaan, analisa laporan keuangan

Sedangkan menurut Kotler dan Keller (2019), kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang timbul karena membandingkan kinerja yang dipersepsikan produk

Menurut Kotler (1997:36), kepuasan konsumen adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesannya terhadap kinerja (hasil) suatu produk

Labor Cost berfungsi untuk mengukur besarnya biaya upah terhadap total pendapatan sewa kamar, Coffee House dan Meeting Room.. Average Daily Rate = total pendapatan kamar / jumlah

Dengan adanya 3 pusat perbelanjaan di Samarinda maka terjadilah persaingan diantara pusat perbelanjaan ini untuk menarik para pengunjung sehingga Samarinda Central Plaza

Lokasi Sendi Plastis dan Besar Damage Index dari Analisa Time History untuk Bangunan 6 Lantai Portal Eksterior SNI 03-2847-2002 Periode Ulang Gempa 1000 tahun .... Lokasi

Definisi Operasional : Niat penggunaan kartu kredit dapat diartikan sebagai ketertarikan yang diikuti dengan perasaan senang atau puas disertai dengan berbagai faktor