BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Uraian Tumbuhan Buni 2.1.1 Habitat
Buni tumbuh secara liar di daerah-daerah basah dan dapat ditemukan dari dataran rendah di India, Sri Lanka, Burma, Malaysia, Indonesia, New Guinea dan Australia. Di Indonesia terutama di pulau Jawa, buni dapat tumbuh di daerah kering di bagian timur pulau Jawa atau pun di bagian barat pulau Jawa yang beriklim lembab (BPTH, 2011; LIPI, 2009).
2.1.2 Nama umum
Di Indonesia, buni dikenal dengan nama barune, huni pada daerah Sunda, wuni di daerah Jawa, burneh di daerah Madura dan buni, katakuti, kutikata di daerah Maluku. Di Inggris, buni dikenal dengan nama bignay atau chinese laurel. Di Filipina, buni dikenal dengan nama bignay (LIPI, 2009; BPTH, 2011).
2.1.3 Sinonim
Buni memiliki beberapa sinonim, yaitu Antidesma crassifolium (E.) Merr., Antidesma dallachyanum Baillon., Antidesma rumphii Tulase (BPTH, 2011). 2.1.4 Klasifikasi tumbuhan
Klasifikasi tumbuhan buni adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae
Genus
Spesies : Antidesma bunius (L.) Spreng. 2.1.5 Morfologi
Pohon buah, tinggi 15-30 m. Batang pohon berukuran sedang. Daun tunggal, bertangkai pendek, bentuknya bulat telur sungsang sampai lanset, panjang 9-25 cm, tepi rata agak bergelombang, ujung meruncing, pangkal tumpul. Daun muda warnanya hijau muda, setelah tua menjadi hijau tua. Buni berumah dua, bunga dalam tandan, keluar dari ketiak daun atau di ujung percabangan. Buah buni berbentuk kecil panjang sekitar 1 cm, bulat berwarna hijau, bila telah masak menjadi ungu kehitaman dan rasanya manis sedikit asam. Biji pipih dengan rusuk berbentuk jala (LIPI, 2009).
2.1.6 Kegunaan
Buah buni yang matang dapat dimakan segar. Cairan buah dapat memberikan bekas warna di jari dan mulut. Buah ini juga berpotensi dijadikan minuman serta mengandung pigmen antosianin dan digunakan sebagai pewarna alami pada makanan. Daun muda rasanya sedikit asam, dapat disayur atau dimakan mentah. Buah dapat dimakan langsung, diekstrak menjadi brandy, dibuat selai atau sirop. Daun oleh pembuat jamu disebut mojar, biasa dipakai untuk campuran ramuan jamu kesehatan. Daun dan buah dapat digunakan sebagai obat kurang darah, darah kotor, raja singa dan kencing nanah (BPTH, 2011; LIPI, 2009).
2.1.7 Kandungan kimia
Kandungan kimia utama yang terkandung dalam buah buni antara lain flavonoid, tanin, fenolik, dan polifenol (Butkhup dan Samappito, 2008).
2.2 Uraian Kimia 2.2.1 Glikosida
Glikosida adalah suatu senyawa bila dihidrolisis akan terurai menjadi gula (glikon) dan senyawa lain (aglikon). Glikosida yang gulanya berupa glukosa disebut glukosida, yang pada umumnya berupa glukosa, fruktosa, laktosa, galaktosa, dan manosa, tetapi dapat juga berupa gula yang khusus seperti sarmentosa, oleanrosa, simarosa, dan rutinosa. Umumnya glikosida mudah terhidrolisis oleh asam mineral atau enzim (Harborne, 1987).
Berdasarkan ikatan glikon dan aglikon, glikosida dapat dibedakan menjadi: a. Tipe O-glikosida, ikatan antara bagian glikon dengan aglikon melalui jembatan
O. Mayoritas glikosida pada tumbuhan terdapat dalam kelompok ini.
b. Tipe C-glikosida, ikatan antara bagian glikon dengan aglikon melalui jembatan C, yakni gugus karbon gula melekat pada gugus karbon aglikon.
c. Tipe S-glikosida, ikatan antara bagian glikon dengan aglikon melalui jembatan S. Contoh: sinigrin yang termasuk ke dalam glikosida glukosinolat dari tumbuhan dari tumbuhan Brassicaceae.
d. Tipe N-glikosida, ikatan antara bagian dari glikon dengan aglikon melalui jembatan N. Contoh: nikleosidin, krotonosidin (Fansworth, 1966).
2.2.2 Saponin
berdarah dingin (Gunawan dan Mulyani, 2004).
Saponin bersifat seperti sabun, serta dapat diketahui berdasarkan kemampuan membentuk busa dan menghemolisis sel darah. Pencarian saponin dalam tumbuhan telah dirangsang oleh kebutuhan akan sumber sapogenin yang mudah diperoleh dan dapat diubah dilaboratorium menjadi sterol hewan yang berkhasiat penting (misalnya kortison, estrogen kontraseptif, dan lain-lain). Pola glikosida saponin kadang-kadang rumit, banyak saponin yang mempunyai satuan gula sampai lima dan komponen yang umum ialah asam glukoronat (Harborne, 1987). Senyawa saponin secara umum dapat diidentifikasi dari warna yang dihasilkannya dengan pereaksi Liebermann-Burchard. Warna biru-hijau menunjukkan adanya senyawa saponin steroida, dan warna merah, merah muda, atau ungu menunjukkan adanya senyawa saponin triterpenoida (Farnsworth, 1966). Saponin triterpenoida dan saponin steroida memiliki hubungan glikosidik pada atom C-3 dan memiliki asal usul biogenetika yang sama lewat asam mevalonat dan satuan-satuan isoprenoid. Kedua jenis saponin ini larut dalam air dan etanol tetapi tidak larut dalam eter. Aglikonnya diperoleh dengan hidrolisis dalam suasana asam atau enzim, dan tanpa gula ciri kelarutannya sama dengan ciri sterol lain (Gunawan dan Mulyani, 2004; Robinson 1995). Tipe aglikon senyawa saponin dapat dilihat pada gambar di bawah ini (Farnsworth, 1966):
Saponin triterpenoida secara umum banyak terdapat pada tumbuhan dikotil seperti: gipsogenin terdapat pada Gypsophylla sp., dan asam glisiretat terdapat pada Glycyrrhiza glabra (Gunawan dan Mulyani, 2004).
Gambar 2.3 Saponin Triterpenoida (Gunawan dan Mulyani, 2004).
Saponin steroida terdapat pada tumbuhan monokotil maupun dikotil, contohnya diosgenin yang terdapat pada Dioscorea hispida, dan hekogenin yang terdapat pada Agave americana (Gunawan dan Mulyani, 2004).
Gambar 2.4 Saponin Steroida (Gunawan dan Mulyani, 2004). 2.2.3 Flavonoida
menghasilkan warna merah ceri kuat. Cara ini dapat digunakan pada kromatografi kertas atau plat KLT dengan menyemprotnya pertama kali memakai larutan natrium borohidrida dalam alkohol kemudian disemprot lagi dengan larutan aluminium klorida dalam etanol (Harborne, 1987).
Senyawa flavonoid di alam merupakan zat warna merah, ungu, biru dan sebagian zat warna kuning yang terdapat dalam tanaman. Flavonoid mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri atas 15 atom karbon yang membentuk susunan C6 – C3 – C6 (Markham, 1988).
2.2.4 Triterpenoida/Steroida
Steroida adalah triterpena yang kerangka dasarnya sistem cincin siklopentana perhidropenantren. Triterpenoida adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan isoprena dan secara biosintesis masuk jalur asam mevalonat yang diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik, yaitu skualena.
Triterpenoida/Steroida merupakan senyawa tidak berwarna, berbentuk kristal, sering kali bertitik leleh tinggi. Uji yang banyak digunakan ialah reaksi Liebermann-Burchard yang dengan kebanyakan triterpen dan sterol memberikan warna hijau-biru atau merah-ungu (Harbone, 1987; Robinson, 1995).
2.3 Ekstraksi
Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan menggunakan pelarut tertentu (Depkes RI, 2000).
semua pelarut diuapkan (Depkes RI, 2000).
Beberapa metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut yaitu: A. Cara dingin
1. Maserasi
Maserasi adalah proses penyarian simplisia menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan dan didiamkan selama beberapa hari pada temperatur kamar. Maserasi yang dilakukan pengadukan secara terus-menerus disebut maserasi kinetik, sedangkan maserasi yang dilakukan dengan pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan terhadap maserat pertama dan seterusnya disebut remaserasi (Depkes RI, 2000).
Maserasi merupakan metode sederhana yang paling banyak digunakan. Cara ini sesuai, baik untuk skala kecil maupun skala industri. Metode ini dilakukan dengan memasukkan serbuk tanaman dan pelarut yang sesuai ke dalam wadah inert yang tertutup rapat pada suhu kamar. Proses ekstraksi dihentikan ketika tercapai kesetimbangan antara konsentrasi senyawa dalam pelarut dengan konsentrasi dalam sel tanaman. Pelarut dipisahkan dari sampel dengan penyaringan. Kerugian utama dari metode maserasi ini adalah memakan banyak waktu, pelarut yang digunakan cukup banyak, dan besar kemungkinan beberapa senyawa hilang. Beberapa senyawa ada yang sulit diekstraksi pada suhu kamar, tetapi metode maserasi dapat menghindari kerusakan senyawa yang bersifat termolabil (Mukhriani, 2014).
2. Perkolasi
perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan ekstrak) terus-menerus sampai diperoleh ekstrak (perkolat). Penghentian ekstraksi dilakukan dengan cara menguji tetesan terakhir dengan menggunakan pereaksi tertentu (Depkes RI, 2000).
Metode perkolasi menggunakan serbuk sampel yang dibasahi secara perlahan dalam sebuah perkolator (wadah silinder yang dilengkapi dengan kran pada bagian bawahnya). Pelarut ditambahkan pada bagian atas serbuk sampel dan dibiarkan menetes perlahan pada bagian bawah. Kelebihan dari metode ini adalah sampel senantiasa dialiri oleh pelarut baru, sedangkan kerugian adalah jika sampel dalam perkolator tidak homogen maka pelarut akan sulit menjangkau seluruh area. Metode ini juga membutuhkan banyak pelarut dan memakan waktu yang cukup lama (Mukhriani, 2014).
B. Cara panas 1. Refluks
Refluks adalah ektraksi pelarut pada temperatur titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut yang terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Depkes RI, 2000).
Metode refluk menggunakan sampel yang dimasukkan bersama pelarut ke dalam labu yang dihubungkan dengan kondensor. Pelarut dipanaskan hingga mencapai titik didih. Uap terkondensasi dan kembali ke dalam labu dan dilakukan secara kontinu (Mukhriani, 2014).
2. Digesti
3. Sokletasi
Sokletasi adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru, dilakukan menggunakan alat Soxhlet sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan jumlah pelarut yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Depkes RI, 2000).
Metode soklet dilakukan dengan menempatkan serbuk sampel dalam sarung selulosa (dapat digunakan kertas saring) dalam tempat sampel yang ditempatkan di atas labu dan di bawah kondensor. Pelarut yang sesuai dimasukkan ke dalam labu dan suhu penangas diatur di bawah suhu reflux. Keuntungan dari metode ini adalah proses ektraksi yang kontinu, sampel terekstraksi oleh pelarut murni hasil kondensasi sehingga tidak membutuhkan banyak pelarut dan tidak memakan banyak waktu. Kerugian adalah senyawa yang bersifat termolabil dapat terdegradasi karena ekstrak yang diperoleh terus-menerus berada pada titik didih (Mukhriani, 2014).
4. Infusa
Infusa adalah ekstraksi dengan pelarut air pada penangas air dengan temperatur 96-98˚C selama waktu 15-20 menit (Depkes RI, 2000).
5. Dekoktasi
Dekoktasi adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur sampai titik didih air selama 30 menit atau lebih (Depkes RI, 2000).
2.4 Kromatografi
zat cair). Kromatografi serapan dikenal jika fase diam berupa zat, jika zat cair dikenal sebagai kromatografi partisi (Sastrohamidjojo, 1985).
Pemisahan dan pemurnian kandungan tumbuhan dilakukan dengan menggunakan salah satu atau gabungan dari beberapa teknik tersebut dan dapat digunakan pada skala mikro maupun makro (Harborne, 1987).
2.4.1 Kromatografi lapis tipis
Kromatografi lapis tipis ialah metode pemisahan fisikokimia. Lapisan pemisah terdiri atas bahan berbutir-butir (fase diam), ditempatkan pada penyangga berupa plat kaca, logam atau lapisan yang cocok. Plat dimasukkan ke bejana tertutup rapat yang berisi larutan pengembang yang cocok (fase gerak) sehingga pemisahan terjadi dengan cara perambatan kapiler (pengembangan) (Stahl, 1985). Fase gerak akan bergerak sepanjang fase diam karena pengaruh kapiler pada pengembangan secara menaik (ascending) atau karena pengaruh gravitasi pada pengembangan secara menurun (descending) (Gandjar dan Rohman, 2007).
Fasa diam (penyerap) dapat dibagi dua, yaitu jenis polar dan non polar.
Penyerap polar meliputi berbagai oksida organik seperti silika, alumina, magnesium
dan lain sebagainya. Penyerap nonpolar yang biasa digunakan adalah arang. Fase
diam ditempatkan pada penyangga berupa plat gelas, logam, atau lapisan yang cocok
kemudian senyawa yang tidak berwarna harus ditampakkan/dideteksi dengan
penampang noda yang sesuai (Gritter, et al., 1991)
ultraviolet maka harus dicoba dengan penyemprotan pereaksi yang membuat bercak tersebut tampak tanpa pemanasan, kemudian bila perlu dilakukan pemanasan (Gandjar dan Rohman, 2007).
Mengidentifikasi noda-noda dalam kromatografi digunakan harga Rf yang didefinisikan sebagai berikut (Sastrohamidjojo,1990):
Rf = jarak yang ditempuh oleh senyawa dari titik penotolan jarak yang ditempuh oleh pelarut dari titik penotolan
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi harga Rf (Sastrohamidjojo, 1990): 1. Struktur kimia
2. Sifat dari penyerap
3. Tebal dan kerataan dari lapisan penyerap 4. Pelarut dan derajat kemurniannya
5. Derajat kejenuhan bejana pengembangan 6. Teknik percobaan
7. Jumlah cuplikan yang digunakan 8. Suhu
9. Kesetimbangan
2.4.2 Kromatografi lapis tipis preparatif
sesempit mungkin karena pemisahan tergantung pada lebar pita. Penotolan dapat dilakukan dengan pipet tetapi lebih baik dengan penotol otomatis. Pengembangan plat KLT preparatif dilakukan dalam bejana kaca yang dapat menampung beberapa plat. Bejana dijaga tetap jenuh dengan pelarut pengembang dengan bantuan kertas saring yang diletakkan berdiri di sekeliling permukaan bagian dalam bejana (Hostettmann, et al., 1995).
2.5 Spektrofotometri
2.5.1 Spektrofotometri sinar ultraviolet (UV)
Spektrum ultraviolet adalah suatu gambaran yang menyatakan hubungan antara panjang gelombang atau frekuensi sinar UV terhadap intensitas serapan (absorbansi). Sinar ultraviolet mempunyai panjang gelombang antara 200-400 nm. Serapan cahaya oleh molekul dalam daerah spektrum ultraviolet tergantung pada struktur elektronik dari molekul yang bersangkutan (Sastrohamidjojo, 1985).
Spektrofotometer UV-Vis pada umunya digunakan untuk:
1.Menentukan jenis kromofor, ikatan rangkap yang terkonyugasi dan auksokrom dari suatu senyawa organik.
2.Menjelaskan informasi dari struktur berdasarkan penjang gelombang maksimum suatu senyawa.
3.Mampu menganalisis senyawa organik secara kuantitatif dengan menggunakan hukum Lambert-Beer (Dachriyanus, 2004).
Sampel yang berupa larutan perlu diperhatikan beberapa persyaratan pelarut yang dipakai, antara lain:
a. Pelarut yang dipakai tidak mengandung sistem ikatan rangkap terkonjugasi pada struktur molekulnya dan tidak berwarna.
b.Tidak terjadi interaksi dengan molekul senyawa yang dianalisis. c. Kemurniannya harus tinggi (Muldja, 1995).
Analisis kualitatif dengan metode spektrofotometri UV-Vis hanya dipakai untuk data sekunder atau data pendukung. Analisis kualitatif dengan metode spektrofotometri UV-Vis yang dapat ditentukan ada dua yaitu:
a. Pemeriksaan kemurnian spektrum UV-Vis.
b. Penentuan panjang gelombang maksimum (λmaks) (Muldja, 1995).
Spektrum (serap) elektronik molekul dihasilkan akibat elektron molekul menyerap gelombang elektromagnetik untuk berpindah ke tingkat yang lebih tinggi. Elektron yang menyerap gelombang biasanya elektron di kulit terluar atau sekitarnya, misalnya dari HOMO (highest occupied molecular orbital ) ke LUMO (lowest unoccupied molecular orbital ) (McMurry, 2008).
1,3-butadiena terkonjugasi memilki 4 orbital molekul π dimana dia akan
menyerap energi dan 1 elektron π dikembangkan dari HOMO (Highest Occupied
Molecular Orbital) menuju ke LUMO (Lowest Unoccupied Molecular Orbital), dinamakan eksitasi π → π* . En ergi dari HOMO ke LUMO pada 1,3-butadiena menunjukkan panjang gelombang maksimum sinar UV pada 217 nm untuk
mengubah elektron π → π* (McMurry, 2008).
Panjang gelombang yang diperlukan untuk transisi elektron π → π* tergantung dengan energi pada jarak antara HOMO dan LUMO, dimana energi
satu faktor terpenting yang mempengaruhi absorpsi panjang gelombang UV pada molekul adalah tingkat konjugasi dari molekulnya. Perhitungan molekul orbital menunjukkan adanya perbedaan penurunan energi dari HOMO ke LUMO ketika tingkat terkonjugasi memakin banyak, seperti 1,3-butadiena mengabsorpsi pada
λmax = 217 nm, 1,3,5-heksatriena mengabsorpsi pada λmax = 258 nm dan
1,3,5,7-oktatetraena menyerap pada λmax = 290 nm (McMurry, 2008).
2.5.2 Spektrofotometri sinar inframerah(IR)
Spektrofotometri inframerah pada umumnya digunakan untuk: 1. Menentukan gugus fungsi suatu senyawa organik
2. Mengetahui informasi struktur suatu senyawa organik dengan membandingkan daerah sidik jarinya (Dachriyanus, 2004).
Pengukuran pada spektrum inframerah dilakukan pada daerah cahaya inframerah tengah (mid-infrared) yaitu pada panjang gelombang 2.5–50 �m atau bilangan gelombang 4000–200 cm-1. Energi yang dihasilkan oleh radiasi ini akan menyebabkan vibrasi atau getaran pada molekul. Pita absorpsi sinar inframerah sangat khas dan spesifik untuk setiap tipe ikatan kimia atau gugus fungsi. Metode
ini sangat berguna untuk mengidentifikasi senyawa organik (Dachriyanus, 2004). Jenis absorpsi energi yang lain, molekul-molekul dieksitasikan ketingkat
energi yang lebih tinggi ketika molekul-molekul ini menyerap radiasi inframerah. Frekuensi (energi) tertentu dari radiasi inframerah yang dapat diserap oleh suatu molekul, agar molekul dapat menyerap radiasi inframerah, maka molekul tersebut harus mempunyai gambaran spesifik, yakni momen dipol molekul harus berubah selama vibrasi (Gandjar dan Rohman., 2007).
jarak antar atom bertambah atau berkurang. Getaran tekuk dapat terjadi karena perubahan sudut-sudut ikatan antara pada sebuah atom, atau karena gerakan sebuah gugusan atom terhadap sisa molekul tanpa gerakan nisbi atom-atom di dalam gugusan (Silverstein, 1986).
Menafsirkan sebuah spektrum inframerah tidak terdapat aturan yang pasti., tetapi terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum mencoba menafsirkan sebuah spektrum, yaitu:
1. Spektrum harus cukup terpisah dan mempunyai kuat puncak yang memadai. 2. Spektrum harus dibuat dari senyawa yang cukup murni.
3. Spektrofotometer harus dikalibrasi sehingga pita akan teramati pada kerapatan atau panjang gelombang yang semestinya. Kalibrasi yang betul dapat dilakukan dengan baku-baku yang dapat dipercaya, misalnya polisterna.
4. Metode penanganan cuplikan harus ditentukan., seperti pada penggunaan pelarut, maka macam dan konsentrasi pelarut serta tebal sel harus disebutkan juga (Silverstein, 1986).