• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. Universitas Kristen Petra"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2.1 Intensi perilaku

Intensi perilaku merupakan konsep yang mendasari perilaku konsumen.

Menurut Schiffman dan Kanuk (2008), “Studi perilaku konsumen terpusat pada cara individu mengambil keputusan untuk memanfaatkan sumber daya mereka yang tersedia (waktu, uang, usaha) guna membeli barang-barang yang berhubungan dengan konsumsi” (p. 6). Perilaku konsumen merupakan cara atau kecenderungan yang dilakukan oleh konsumen dalam rangka mendapatkan barang untuk memenuhi kebutuhan dengan mengalokasikan sumberdaya yang dimiliki.

Perilaku konsumen juga dijelaskan oleh Kotler dan Keller (2012),

“Consumer behavior is the study of how individuals, groups, and organizations select, buy, use, and dispose of goods, services, ideas, or experiences to satisfy their needs and wants” (p. 151). Perilaku konsumen pada dasarnya dilihat sebagai cara bagaimana individu, kelompok, maupun organisasi memilih, membeli, menggunakan, menempatkan produk, jasa, ide, atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan. Cakupan dari perilaku konsumen begitu luas, yaitu perilaku konsumen menyangkut perilaku perorangan, kelompok, maupun korporat dalam mempertimbangkan, membeli, dan memposisikan paska pembelian atas produk, jasa, ide, pengalaman dan dirasakan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan yang diinginkan oleh konsumen.

Menurut Ajzen dan Fishbein (1980) dalam Bidin dan Shamsudin (2013) bahwa perilaku (action) didasarkan oleh intensi untuk berperilaku. Perilaku nyata yang ditunjukkan oleh seseorang merupakan realisasi dari intensi atau hasrat dalam diri seseorang. Intensi berperilaku yang kuat menentukan terhadap realisasi dari perilaku. Secara konseptual, dijelaskan bahwa intensi berberperilaku yang ditunjukkan oleh konsumen dipengaruhi oleh sikap pada perilaku dan normal subyektif, artinya sikap yang positif atau negatif terhadap sebuah perilaku mempengaruhi intensi dari perilaku. Intensi perilaku juga dipengaruhi oleh norma subyektif seseorang. Norma subyektif menggambarkan nilai-nilai yang dianut dan diyakini oleh seseorang dalam berperilaku sehingga mendorong terealisasi perilaku tertentu.

(2)

Berdasarkan pada berbagai kajian teori mengenai intensi perilaku di atas bisa dijelaskan bahwa realisasi dari perilaku tertentu dari konsumen didasarkan pada dorongan tertentu atau kondisi psikologis tertentu dari dalam diri konsumen.

Perasaan terhadap produk tertentu juga mendorong terealisasi sebuah perilaku tertentu. Salah satu bentuk dari kondisi psikologis yang mendoroing terhadap perilaku tersebut adalah rasa cinta pada sebuah merek (brand love).

2.2 Brand love

2.2.1 Pengertian Brand love

Pengertian brand love didasarkan pada pengertian tentang love, menurut Sandra, Langeslag, dan Strien (2016), “The word ‘love’ has many different meanings and may have different meanings to different people” (p. 2). Istilah

“love” memiliki banyak arti yang berbeda-beda untuk setiap orang. Tiap orang bisa mengartikan love dengan arti yang berbeda berdasarkan pada perspektif pandangnya masing-masing. Definisi love, menurut Kochar dan Sharma (2015),

“Love is a combination of emotions, cognitions, and behaviors that often plays a crucial role in intimate romantic relationships” (p. 81). Love dipahami sebagai kombinasi antara emosi, kognisi, dan perilaku yang memiliki peran dalam menciptakan hubungan dekat yang bersifat romantis. Emosi menggambarkan rasa suka, kognisi yang menggambarkan tingkat pengenalan yang mendalam, dan perilaku menunjukkan respon dalam bentuk tindakan, di mana ketiganya membentuk hubungan rekat yang bersifat romantis.

Konsep teori mengenai love juga dinyatakan oleh Sternberg (1986),

“introduced a triangular theory of love; in which intimacy, passion and commitment is considered as an essential component of romantic love” (dalam Anjum dan Batool, 2017, p. 197). Konsep teori yang mampu menjelaskan love meliputi: intimacy, passion, dan komitmen. Intimacy menggambarkan kerekatan hubungan yang sifatnya eksklusif, passion menggambarkan kegairahan, dan komitmen menunjukkan perilaku yang konsisten.

Pengertian brand love dinyatakan oleh Vernuccio, Pagani, Barbarossa, dan Pastore (2015), “Brand love is greatly encouraged as a fundamental manifestation of positive emotional consumer-brand relationships” (p. 707).

(3)

Brand love dijelaskan sebagai konsep hubungan antara konsumen dan merek, dan hubungan tersebut didasari oleh emosi yang positif. Emosi positif menunjukkan kondisi psikilogis yang dirasakan konsumen ketika berhadapan dengan sebuah merek.

Menurut Carroll and Ahuvia (2006), “Brand love is defined as the “degree of passionate emotional attachment a satisfied customer has for a particular trade name” (dalam Wallace, Buil, dan Chernatony, 2014, p. 34). Brand love didefinisikan sebagai ikatan mendalam yang dirasakan oleh konsumen terhadap sebuah merek. Ikatan mendalam ini menggambarkan rasa kegairahan terhadap sebuah merek. Rasa kegairahan terhadap sebuah merek juga didasari oleh perasaan puas terhadap sebuah merek.

Pendapat yang relatif sama untuk menjelaskan brand love juga dinyatakan oleh Robert (2005), “Brand love expresses the strongest emotional bond between the brand and the customer” (dalam Unal dan Aydin, 2013, p. 77). Brand love ditunjukkan sebagai ikatan emosi paling kuat antara pelanggan dan merek. Ikatan paling kuat diartikan sebagai tingkatan tertinggi dari hubungan antara pelanggan dan merek. Ikatan antara pelanggan dan merek ditunjukkan dari rasa positif yang mengikat konsumen terhadap sebuah merek sehingga pelanggan merasa lebih daris ekedar suka terhadap sebuah merek.

Anggraeni dan Rachmanita (2015) menyatakan, “When a consumer loves a brand, the brand will shape a consumer’s identity to be similar to what the brand is perceived as” (p. 443). Pendapat ini mengungkapkan bahwa ketika konsumen mencintai sebuah merek menyebabkan sebuah merek menjadi identas diri bagi konsumen yang menggambarkan penerimaan konsumen terhadap merek.

Kecintaan pada sebuah merek menyebabkan konsumen mengidetikkan diri dengan sebuah merek dan konsumen merasa merek tersebut digunakan sebagai salah satu identitas konsumen.

Berdasarkan penjelasan Anggraeni dan Rachmanita (2015, p. 443) bahwa brand love menunjukkan adanya sebuah hubungan antara pelanggan dan merek.

Hubungan antara pelanggan dan merek masuk dalam kategor brand love jika:

terdapat hubungan yang positif antara pelanggan dan merek, terdapat integrasi

(4)

(penyatuan) antara pelanggan dan merek, dan terdapat hasrat yang kuat (kegairahan) ketika konsumen dihadapkan pada sebuah merek.

Brand love pada dasarnya adalah ikatan yang kuat dan mendalam antara konsumen dan merek produk yang disertai dengan kegairahan untuk membeli maupun menggunakan sebuah merek. Kecintaan pelanggan terhadap sebuah merek mendorong pelanggan untuk ikut peduli terhadap sebuah merek dan memiliki kesediaan untuk membantu pemasaran sebuah merek meskipun tanpa mendapatkan imbalan.

2.2.2 Dimensi Brand love

Menurut Albert, Merunka, dan Florence (2008), “Love is a three- dimensional construct composed of affiliation and need for dependence, predisposition to help, and exclusivity and absorption (inclusion of the other)” (p.

1063). Rasa cinta pada sebuah merek melibatkan tiga dimensi, yaitu:

ketergantungan kebutuhan pada sebuah merek, kecenderungan untuk membantu merek, dan eksklusivitas serta keasyikan hubungan. Penjelasan dari ketiga dimensi ini adalah sebagai berikut:

a. Affiliation and need for dependence

Kecintaan pada sebuah merek menjadi pelanggan merasa selalu membutuhkan sebuah merek dan tidak bisa beralih ke merek lainnya. Kecintaan pada sebuah merek menjadikan adanya perasaan ketergantungan terhadap sebuah merek.

b. Predisposition to help

Kecintan sebuah merek pada diri pelanggan juga melahirkan respon positif terhadap sebuah merk. Ketika konsumen mencintai sebuah merek, terdapat kecenderungan untuk ikut membantu merek, misalnya dengan memberikan umpan balik mengenai pengalaman-pengalaman penggunaan merek ke perusahaan atau kepada konsumen lainnya.

c. Exclusivity and absorption

Dimensi ini menjelaskan bahwa kecintaan pada sebuah merek menyebabkan adanya perasaan hubungan khusus pada sebuah merek, dan hubungan tersebut berbeda dengan hubungan antara konsumen dengan merek lain. Kekhususan hubungan ini menunjukkan xxclusivity and absorption.

(5)

Dimensi sebuah merek juga dinyatakan oleh Sternberg (1986)., “a triangular theory of love with three components: intimacy, passion, and decision/commitment” (dalam Albert, et al. 2008, p. 1063). Penjelasan dari ketiga dimensi kecintana pada sebuah merek ini adalah sebagai berikut:

a. Intimacy

Kecintaan pada sebuah merek ditunjukkan pada hubungan yang mendalam antara pelanggan dan merek. Hubungan ini dalam bentuk ikatan perasaan pelanggan dan merek yang bersifat positif.

b. Passion

Passion menunjukkan perasaan kegairahan ketika berhadapan dengan sebuah merek. Passion ini ditunjukkan dari perasaan untuk selalu menggunakan sebuah merek dibandingkan merek lainnya.

c. Decision/commitment

Kecintaan pada sebuah merek juga didasarkan pada keputusan dan komitmen.

Komitmen untuk terus membeli dan menggunakan sebuah merek.

Rodrigues, Reis, dan Cantista (2015) menyatakan, “The brand love includes the following aspects: passion about the brand, the connection with the brand, the positive evaluation of the brand, positive emotion in response to the brand and the declaration of love for the brand” (p. 2). Dimensi brand love dalam pendapat ini lebih terinci dnegan membagi dimensi merek menjadi lma dimensi, dan dijelaskan sebagai berikut:

a. Passion about the brand

Kecintaan pada sebuah merek ditunjukkan dari rasa kegairahan terhadap sebuah merek.

b. The connection with the brand

Kecintaan pada sebuah merek didasarkan pada adanya hubungan dengan sebuah merek. Hubungan ini adalah hubungan dengan intesitas tinggi artinya terdapat hubungan yang intensif dilihat dari penggunaan sebuah merek.

c. The positive evaluation of the brand

Kecintaan pada sebuah merek juga ditunjukkan dari evaluasi terhadap sebuah merek, dan hasil evaluasi tersebut menunjukkan adanya persepsi yang positif terhadap sebuah merek.

(6)

d. Positive emotion in response to the brand

Kecintaan pada sebuah merek juga ditunjukkan dari respon emosi yang positif terhadap sebuah merek.

e. The declaration of love for the brand

Kecintaan pada sebuah merek ditunjukkan dari adanya deklarasi kecintaan pada sebuah merek. Deklarasi ini merujuk ada berbagai perilaku konsumen yang mengungkapkan diri kepada konsumen lainnya bahwa konsumen mencintai sebuah merek. Pada berbagai kesempatan konsumen juga cenderung mengungkapkan diri mencintai merek tersebut, misalnya melalui media sosial.

2.2.3 Faktor Yang Mempengaruhi Brand love

Kecintaan pada sebuah merek tidak bisa dipisahkan oleh berbagai faktor yang mempengaruhinya. Menurut Unal dan Aydin (2013, p. 84), faktor yang mempengaruhi brand love adalah brand image dan social self. Kedua faktor ini ikut menentukan seberapa kuat kecintaan konsumen terhadap sebuah merek. Citra merek menunjukkan reputasi merek, dan merek yang mampu menunjukkan reputasi sebagai merek yang berkualitas mendortong konsumen untuk mencintai sebuah merek. Social self menjelaskan dukungan sebuah merek terhadap citra diri yang diinginkan oleh konsumen. Ketika sebuah merek mendukung citra diri yang diinginkan oleh konsumen menyebabkan konsumen mencintai sebuah merek.

Penelitian Sallam (2015, p. 51) juga mendapatkan temuan faktor yang mempengaruhi kecintaan pada sebuah merek, faktor tersebut adalah brand identification dan kepuasan. Brand identification menunjukkan kemampuan sebuah merek untuk membantu konsumen dalam membangun citra diri, sedangkan kepuasan berhubungan dengan evaluasi antara harapan dan realisasi dari kinerja merek yang dirasakan oleh konsumen. Semakin kuat brand identification dan semakin tinggi kepuasan konsumen menyebabkan kecintaan pada sebuah merek semakin kuat.

Menurut Rodrigues, Ferreira, dan Pedro Rodrigues (2016, p. 1), kecintaan pada sebuah merek didasarkan pada pengalaman konsumen ketika menggunakan sebuah merek. Pengalaman konsumen mengarah pada hasil evaluasi konsumen

(7)

ketika menggunakan sebuah merek. Pengalaman yang positif atas penggunaan sebuah merek mendorong konsumen semakin mencintai sebuah merek.

2.3 Brand Loyalty

2.3.1 Pengertian Brand Loyalty

Pengertian brand loyalty dinyatakan oleh Mabkhot, Salleh, dan Shaari (2016), “Brand loyalty is a conventional marketing idea that focuses on developing a long-term consumer brand relationship” (p. 597). Kesetiaan terhadap merek dinilai sebagai ide pemasaran konvensional yang difokuskan pada upaya membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen. Kesetiaan menunjukkan sebuah ikatan dari sebuah interaksi antara konsumen dan merek.

Konsumen yang menjalin hubungan kuat dan dalam jangka panjang menunjukkan bahwa kesetiaan konsumen terhadap merek adalah tinggi.

Menurut Tuominen (1999), “Brand loyalty as a positive attitude to a brand which leads to consistent buying of this brand over time”. (dalam Vebrova, Venclova, dan Rojik, 2016, p. 1797). Kesetiaan pada sebuah merek adalah sikap positif konsumen terhadap merek berdasarkan konsistensi pembelian yang dilakukan konsumen pada merek untuk jangka waktu yang panjang. Penekanan dari pendapat ini dari kesetiaan merek adalah dilihat dari sikap konsumen yang positif. Sikap positif merupakan sikap yang responsif terhadap merek, dan menilai merek adalah sesuatu yang positif untuk konsumen sehingga mendorong konsumen untuk secara berkelanjutan melakukan pembelian dan terus menggunakan merek tertentu.

Pengertian brand loyalty juga dinyatakan oleh Jacoby dan Kyner (1973),

“It describes preferential behavior towards one or more brands out of a wider field of competing alternatives” (dalam Ehsan, Warraich, dan Sehribanoglu, 2012, p. 154). Pendapat ini menjelaskan bahwa kesetiaan pada sebuah merek menunjukkan perilaku yang cenderung lebih menyukai satu merek atau lebih di antara merek-merek lainnya yang tersedia dan bisa dibeli oleh konsumen.

Kesetiaan pada merek lebih dilihat dari kecenderungan perilaku untuk tetap memilih dan menggunakan sebuah merek meskipun konsumen juga dihadapkan pada banyak merek yang lain.

(8)

Berdasarkan kajian teori mengenai brand loyalty di atas, maka kesimpulan dari berbagai teori tersebut brand loyalty menunjukkan tingkat kesetiaan pelanggan pada sebuah merek. Brand loyalty yang tinggi mampu menekan tingkat perpindahan konsumen pada merek yang lainnya.

2.3.2 Dimensi Brand Loyalty

Menurut Broyles (2009) dalam Ehsan, Warraich, dan Sehribanoglu (2012, p. 155), brand loyalty meliputi dua dimensi, yaitu: sikap dan perilaku. Dimensi sikap ditunjukkan dari respon konsumen untuk menerima dan bersikap positif terhadap sebuah merek. Sedangkan dimensi perilaku ditunjukkan dari frekuensi penilaian yang dilakukan oleh konsumen. Semakin positif sikap konsumen berarti brand loyalty dari perspektif sikap semakin tinggi, dan ketika konsumen memiliki konsiustesi untuk laki-laki pembelian terhadap merek tertentu dalam jangka waktu lama juga menunjukkan brand loyalty yang tinggi.

Dimensi brand loyalty juga dijelaskan oleh Latif, Islam, dan Noor (2014, p. 552), kesetiaan terhadap sebuah merek didasarkan pada dimensi yang disebut dengan bi-dimensional composite model. Bi-dimensional composite model meliputi: sikap dan perilaku. Sikap menggambarkan respon dan perilaku menggambarkan tindakan yang diambil konsumen terhadap sebuah merek. Kedua dimensi ini menentukan seberapa kuat brand loyalty.

2.3.3 Faktor Yang Mempengaruhi Brand Loyalty

Menurut Aydin dan Ozer (2005) dalam Nawaz dan usman (2014, p. 214) bahwa terdapat beberapa faktor yang menyebabkan konsumen loyal pada sebuah produk. Berbagai faktor tersebut antara lain: reputasi perusahaan yang memproduksi merek, kualitas layanan yang diberikan kepada pelanggan, kepercayaan pelanggan terhadap sebuah merek, dan biaya peralihan yang tinggi.

Biaya peralihan yang tinggi maksudnya adalah konsumen merasa sangat berisiko jika beralih ke produk yang lainnya sehingga konsumen memiliki kecenderngan untuk mempertahankan produk yang telah digunakan sebelumnya.

Menurut Khundyz (2018, p. 1625) bahwa sejumlah faktor yang mempengaruhi tingkat kesetiaan pada sebuah merek adalah: kepercayaan terhadap

(9)

beralih ke merek lainnya karena merek sebelumnya diyakini memiliki kinerja yang baik. Faktor kedua adalah reputasi merek yaitu citra positif dari sebuah merek. Faktor ketiga adalah kepuasan pelanggan karena pemilihn konsumen pada sebuah merek tertentu diarahkan untuk bisa memberikan kepuasan.

2.4 Willingness to Pay Price Premium

2.4.1 Pengertian Willingness to Pay Price Premium

Penjelasan mengenai willingness to pay price premium didasarkan dari pengertian awal mengenai price premium. Menurut Sethuraman (2003), “Price premium is defined as the consumer's desire to pay more for one branded product than for another” (dalam Gómez, Consuegra, Díaz, dan Molina (2017, p. 65).

Price premium didefinisikan sebagai keinginan konsumen untuk membayar lebih tinggi untuk sebuah merek tertentu dibandingkan dengan merek lainnya. Price premium diukur dari selisih harga yang lebih tinggi dari sebuah merek dibandingkan merek lain.

Brugarolas, Carrasco, Martínez, dan Rico (2005) menyatakan, “This price premium could be justified by the higher utility that these products have for consumers who perceive them as having a higher quality, being healthier and environmentally friendly” (dalam Sellers, 2016, p. 11). Price premium ditentukan oleh nilai utilitas yang lebih tinggi dari sebuah produk, dengan kualitas yang lebih tinggi, produk yang lebih menyehatkan, dan produk yang dinilai ramah lingkungan.

Menurut Aaker (1996), “Brand obtains a price premium when the sum that customers are willing to pay for products from the brand is higher than the sum they are willing to pay for similar products from other relevant brands” (dalam Anselmsson, Bondesson, dan Johansson, 2014, p. 91). Pendapat ini mengungkapkan bahwa sebuah merek bisa mendapatkan price premium ketika pelanggan bersedia membeli sebuah produk dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan kesediaan untuk membeli produk yang sama dengan merek yang berbeda.

Definisi mengenai willingness to pay juga dinyatakan oleh Li dan Meshkova (2013), “Willingness to pay encompasses individuals’ maximum

(10)

particular product” (dalam Biswas, 2016, p. 211). Willingness to pay menjelaskan kesediaan seseorang untuk membeli dengan harga tertinggi (maximum) untuk sebuah produk atau jasa. Harga tertinggi yang bersedia dibayar oleh konsumen lebih tinggi dibandingkan harga tertinggi yang bersedia dibayar konsumen untuk produk sejenis yang lain.

2.4.2 Dimensi Willingness to Pay Price Premium

Anselmsson, Johansson, dan Persson (2007) menyatakan, “Willingness to pay price premium meliputi lima dimensi, yaitu: awareness, perceived quality, loyalty, uniqueness, dan non-product-related brand associations” (dalam Zia dan Sohail, 2017, p. 29). Lima dimensi tersebut dijelaskan sebagai berikut:

a. Awareness

Awareness menunjukkan tingkat kesadaran dan pengenalan konsumen terhadap sebuah produk. Konsumen bersedia mby dengan harga lebih tinggi ketika benar-benar mengenal sebuah produk.

b. Perceived quality

Perceived quality menjelaskan kualitas yang dipersepsikan oleh konsumen, dan konsumen cenderung bersedia membayar dengan harga yang lebih tinggi ketika konsumen menilai kualitas yang diterima dari produk tersebut adalah tinggi.

c. Loyalty

Loyalitas yang menentukan terhadap kesediaan membayar dengan harga lebih tinggi atas sebuah produk adalah adanya ikatan emosional yang ditunjukkan dari sikap konsumen (attitudinal loyalty). Ketika konsumen merasa suka terhadap sebuah produk mendorong konsumen bersedia untuk membayar dengan harga yang lebih tinggi.

d. Uniqueness

Keunikan dari sebuah produk menunjukkan diferensiasi yang positif dari sebuah produk dibandingkan dengan produk lainnya. Tingkat keunikan yang tinggi mendorong konsumen bersedia untuk membayar dengan harga yang lebih tinggi.

(11)

e. Non-product-related brand associations

Hal lain yang tidak berhubungan dengan produk tetapi mendorong konsumen bersedia membayar dengan harga lebih tinggi seperti program corporate socal responsibility yang dilakukan oleh perusahaan kepada lingkungan. Tanggung jawab dari perusahaan terhadap lingkungan mendorong konsumen bersedia membayar dengan harga lebih tinggi.

Berdasarkan kajian teori mengenai willingnesss to pay price premium di atas, maka kesimpulan dari berbagai teori tersebut bahwa willingnesss to pay price premium menggambarkan tanggapan dan kesediaan karyawan untuk membayar lebih tinggi dari sebuah merek dibandingkan dengan merek yang lain.

2.4.3 Faktor Yang Mempengaruhi Brand Loyalty

Penelitian Vecchio, Lombardi, Cembalo, Caracciolo, Cicia, et al. (2016) menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi kesediaan konsumen untuk membayar price premium adalah prevention outcome expectations, yaitu harapan konsumen akan hasil dari pembelian yang mampu mencegah berbagai bentuk kecemasan atas kondisi tertentu. Ketika sebuah merek memiliki kemampuan memberikan jaminan untuk menghindari berbagai kondisi yang tidak diinginkan oleh konsumen mendorong konsumen untuk bersedia membayar lebih atas sebuah produk.

Anselmsson, Bondesson, dan Johansson (2014, p. 90) mengidentifikasikan faktor yang mempengaruhi konsumen bersedia membayar lebih tinggi, antara lain

: social image, uniqueness, home country origin, corporate social responsibility (CSR), dan awareness. Penjelasan dari setiap dimensi ini adalah sebagai berikut:

a. Social image

Sosial image menjelaskan reputasi di lingkungan sosial yang didapatkan konsumen ketika konsumen membeli atau menggunakan sebuah merek tertentu.

b. Uniqueness

Uniqueness menjelaskan tingkat keunikan dari produk atau merek yang tidak didapatkan pada produk atau merek lain.

(12)

c. Home country origin

Reputasi produk atau merek dari negara negara asal yang memproduksi produk atau merek tersebut.

d. Corporate social responsibility (CSR)

Berbagai program perusahaan produsen merek yang berhubungan dengan kepedulian sosial, artinya sebuah merek memiliki tanggung jawab sosial terhadap lingkungan atau masyarakat.

e. Awareness.

Menjelaskan tingkat kesadaran konsumen mengenai sebuah produk atau merek. Awareness yang tinggi ditunjukkan ingatan konsumen terhadap nama merek dan spesifikasi merek, serta keunggulan-keunggulan sebuah merek.

Penelitian Zia dan Sohail (2016) menunjukkan bahwa kesediaan konsumen untuk membayar lebih tinggi atas sebuah produk adalah originalitas.

Originalitas ini maksudnya adalah keyakinan atas keaslian dari sebuah produk dan dalam konteks penelitian ini diantara merek lainnya yang tidak asli, sehingga konsumen memiliki kesediaan untuk membayar lebih tinggi ketika produk yang dibelinya adalah produk asli bukan produk tiruan.

2.5 Hubungan Antar Variabel

2.5.1 Pengaruh Brand love Terhadap Brand Loyalty

Pengaruh brand love terhadap brand loyalty dinyatakan oleh Carroll dan Ahuvia (2006) dalam Bıcakcıoglu, İpek, dan Bayraktaroglub (2016, p. 2), kecintaan konsumen terhadap sebuah merek mendorong konsumen untuk melakukan pembelian ulang atas sebuah merek. Rodrigues, Reis, dan Cantista (2015, p. 6) juga menunjukkan pengaruh brand loyalty terhadap brand loyalty adalah positif dan signifikan. Perilaku pembelian ulang terhadap sebuah merek yang dilakukan konsumen menunjukkan tingkat loyalitas terhadap merek.

Tingkat kecintaan konsumen terhadap sebuah merek menunjukkan kuatnya ikatan emosi antara konsumen dan merek sehingga mendorong untuk terus mempertahankan pembelian terhadap sebuah merek tertentu. Penelitian empiris yang menunjukkan pengaruh brand love terhadap brand loyalty menjadi dasar

(13)

hipotesis penelitian, yaitu: H1: Brand love memiliki pengaruh positif terhadap brand loyalty.

2.5.2 Pengaruh Brand love Terhadap Willingness to Pay Price Premium Pengaruh brand love terhadap willingness to pay price premium ditunjukkan dari hasil penelitian Rodrigues, Reis, dan Cantista (2015, p. 6);

Loureiro (2014, p. 5) yang menunjukkan bahwa brand loyalty memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap willingness to pay price premium. Temuan kedua penelitian tersebut menjelaskan bahwa ketika konsumen memiliki kecintaan terhadap sebuah merek menyebabkan konsumen bersedia membayar lebih tinggi atas merek tersebut dibandingkan merek lain karena kecintaan pada sebuah merek menjadi motif psikologis bagi konsumen untuk terus mempertahankan penggunaan sebuah merek. Kecintaan pada sebuah merek menyebabkan konsumen merasa suka ketika membeli atau menggunakan sebuah merek dan kondisi ini yang mendorong konsumen untuk bersedia membeli sebuah merek meskipun dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan merek yang lain. . Penelitian empiris yang menunjukkan pengaruh brand love terhadap willingness to pay price premium menjadi dasar hipotesis penelitian, yaitu: H2: Brand love memiliki pengaruh positif terhadap willingness to pay price premium.

2.5.3 Pengaruh Brand Loyalty Terhadap Willingness to Pay Price Premium Pengaruh brand loyalty terhadap willingness to pay price premium ditunjukkan dari hasil penelitian Rodrigues, Reis, dan Cantista (2015, p. 6) yang menunjukkan bahwa brand loyalty memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap willingness to pay price premium. Semakin tinggi kesetiaan konsumen pada sebuah merek mendorong semakin kuatnya willingness to pay price premium. Konsumen yang setia pada sebuah merek menunjukkan bahwa terdapat ikatan emosional dan fisik (yang ditunjukkan dari pembelian ulang) terhadap sebuah merek dan hal ini menyebabkan konsumen memiliki kesediaan untuk membayar lebih tinggi guna membeli sebuah merek karena terdorong adanya ikatan emosi positif dari dalam diri konsumen terhadap sebuah merek. Penelitian empiris yang menunjukkan pengaruh brand loyalty terhadap willingness to pay

(14)

price premium menjadi dasar hipotesis penelitian, yaitu: H3: Brand loyalty memiliki pengaruh positif terhadap willingness to pay price premium.

2.6 Kerangka Berpikir Penelitian

Kerangka berpikir dalam penelitian ini sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 2.1.

Gambar 2.1. Kerangka Berpikir Penelitian

Sumber: Rodrigues, Reis, dan Cantista (2015, p. 6); Loureiro (2014, p. 5)

Gambar

Gambar 2.1. Kerangka Berpikir Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Loyalitas Pelanggan adalah kesetiaan konsumen yang dipresentasikan dalam pembelian yang konsisten terhadap produk atau jasa sepanjang waktu dan ada sikap yang baik

Wujud brand yang sebenarnya adalah apa yang terletak di benak konsumen, yang disebut dengan brand image. Brand image tercipta melalui brand associations, yaitu saat konsumen

Cristoper Lovelock (1991, p.136) dalam bukunya yang berjudul Service Marketing mengatakan bahwa “tingkat kesetiaan dari konsumen terhadap suatu barang atau jasa tertentu

Cristopher Lovelock (1991, p.136) dalam bukunya yang berjudul Servive Marketing mengatakan bahwa “tingkat kesetiaan dari konsumen terhadap suatu barang atau jasa tertentu

Ketentuan pidana pelanggarannya tertuang pada Bab V Pasal 12, yaitu setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan merek yang sama secara keseluruhan dengan

Dari kutipan dari majalah Mix diatas, dapat disimpulkan bahwa ide Brand Activation ini muncul karena saat ini konsumen menilai sebuah brand bukan saja melalui apa yang mereka

Dalam memberikan suatu experience pada konsumen dalam sebuah brand, ada tahapan yang ada yaitu pertama kali adalah brand essence dimana sebuah brand melakukan komunikasi

Dalam memberikan suatu experience pada konsumen dalam sebuah brand, ada tahapan yang ada yaitu pertama kali adalah brand essence dimana sebuah brand melakukan komunikasi kepada