PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2020

78  Download (0)

Full text

(1)

SKRIPSI

ANALISIS PENGELOLAAN DANA DESA DALAM UPAYA PEMBANGUNAN DESA UNTUK MENINGKATKAN

KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DESA DI KECAMATAN SIDAMANIK KABUPATEN

SIMALUNGUN

OLEH

INDRA SEPTIADY MANURUNG 120501174

PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2020

(2)
(3)
(4)

Pembangunan Desa Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Desa di Kecamatan Sidamanik Kabupaten Simalungun” adalah benar hasil karya saya sendiri dan judul yang dimaksud belum pernah dimuat, dipublikasikan atau diteliti oleh mahasiswa lain dalam konteks penulisan Skripsi Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Semua Sumber data dan informasi yang diperoleh telah dinyatakan jelas dan benar apa adanya. Apabila dikemudian hari pernyataan ini tidak benar, saya bersedia menerima sanksi yang ditetapkan oleh pihak Universitas Sumatera Utara.

Medan, _______________

Penulis,

Indra Septiady Manurung 120501174

(5)

ABSTRAK

ANALISIS PENGELOLAAN DANA DESA DALAM UPAYA

PEMBANGUNAN DESA UNTUK MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DESA DI KECAMATAN SIDAMANIK KABUPATEN SIMALUNGUN

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengelolaan dana desa dalam upaya pembangunan desa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Sidamanik Kabupaten Simalungun. Metode analisis yang digunakan adalah deskriptif kualitatif.Penelitian ini menggunakan jenis data primer dan data sekunder dengan metode pengumpulan data melalui wawancara, kuesioner dan studi kepustakaan yang ditujukan kepada 100 responden yang bertempat tinggal di Kecamatan Sidamanik. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan dana desa di Kecamatan Sidamanik Kabupaten Simalungun sudah berjalan dengan baik dan proses pengelolaan dana desanya sudah sesuai dengan tahapan yang ditetapkan yaitu perencanaan,pelaksanaan dan pertanggung jawaban. Pembangunan desa yang dilakukan berasal dari dana desa lebih difokuskan kepada pembangunan infrastruktur seperti perbaikan jalan, pembuatan parit dan irigasi.

Persepsi masyarakat terhadap manfaat dana desa dalam pembangunan desa adalah bahwa dana desa sangat penting dalam membantu pembangunan desa mereka, dan dengan adanya dana desa sendiri sangat bermanfaat dalam proses pembangunan desa sehingga dapat menjadi desa yang lebih baik dan masyarakat dapat merasakan dampak pembangunan desa terhadap kesejahteraan masyarakat desa.

Kata Kunci : Dana Desa, Pembangunan Desa.

(6)

COMMUNITIES IN SIDAMANIK SUB-DISTRICT, SIMALUNGUN DISTRICT

This study aims to analyze the management of village funds in village development efforts to improve the welfare of the community in Sidamanik District, Simalungun Regency. The analytical method used is descriptive qualitative. This study uses primary and secondary data types with data collection methods through interviews, questionnaires and literature studies aimed at 100 respondents who live in Sidamanik District. The analysis technique used in this research is descriptive qualitative analysis.

The results of this study indicate that the management of village funds in Sidamanik Subdistrict, Simalungun Regency has been going well and the process of managing the village funds is in accordance with the established stages, namely planning, implementation and accountability. The village development carried out from village funds is more focused on infrastructure development such as road improvement, making trenches and irrigation.

The community's perception of the benefits of village funds in village development is that village funds are very important in assisting their village development, and that the village funds themselves are very useful in the process of village development so that they can become better villages and the community can feel the impact of village development on community welfare village.

Keywords: Village Funds, Village Development.

(7)

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap rasa syukur yang tak terhingga atas nikmat,karunia dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Pengelolaan Dana Desa Dalam Upaya Pembangunan Desa Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Desa di Kecamatan Sidamanik Kabupaten Simalungun”. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini dapat diselesaikan atas bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, teristimewa kepada kedua orangtua Ayahanda Tasman Manurung, SE dan ibunda Selli Sitorus, Bsc serta saudara penulis Ryan Sandy Manurung, SE yang senantiasa memberikan semangat dan dukungan selama proses perkuliahan dan pengerjaan skripsi ini.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada:

1. Bapak Prof Dr. Ramli, SE, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Coki Ahmad Syahwier, SE, MP selaku Ketua Program Studi S-1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Inggrita Gusti Sari Nasution, SE, MSi selaku Sekretaris Program Studi S-1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Wahyu Ario Pratomo, SE, M.Ec selaku Dosen Pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan fikiran untuk mengarahkan saya dalam penyusunan skripsi ini dari awal penulisan hingga selesainya skripsi ini.

5. Bapak Walad Altsani HR, SE, M.Ec dan Bapak Wahyu Sugeng Imam S, SE, M.Si., selaku dosen Dosen Penguji I dan Dosen Penguji II yang telah membantu penulis melalui saran dan kritik yang diberikan demi kesempurnaan skripsi ini.

(8)

Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara yang telah membantu saya dalam penyelesaian kelengkapan administrasi.

8. Seluruh masyarakat dan Kepala Desa serta Camat Sidamanik yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan dan pemberian data skripsi ini.

Saya menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh Karena itu, sangat baik jika ada kritik dan saran demi kesempurnaan penulisan skripsi ini. Akhir kata, saya berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas kebaikan semua pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian skripsi saya.

Semoga skripsi ini memberi manfaat bagi pengembangan ilmu.

Medan,________________

Penulis

Indra Septiady Manurung 120501174

(9)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 7

1.3 Tujuan Penelitian ... 7

1.4 Manfaat Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9

2.1 Desa ... 9

2.1.1 Sejarah Desa ... 9

2.1.2 Pengertian Desa ... 11

2.1.3 Karakteristik Desa ... 12

2.1.4Dasar Hukum Berdirinya Desa ... 16

2.1.5Pembentukan dan Perubahan Status Desa... 17

2.1.6 Ruang Lingkup Desa ... 18

2.2 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) ... 20

2.3 Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa) ... 22

2.3.1 Pendapatan Desa ... 23

2.3.2 Belanja Desa... 23

2.3.3 Pembiayaan Desa ... 24

2.4 Dana Desa ... 24

2.4.1 Pengertian Dana Desa ... 24

2.4.2 Keuangan Desa... 26

2.4.3 Tujuan Dana Desa ... 27

2.4.4 Prioritas Penggunaan Dana Desa ... 28

2.4.5 Mekanisme Penyaluran Dana Desa ... 30

2.4.6 Pelaporan Alokasi Dana Desa ... 31

2.5 Penelitian Terdahulu ... 32

2.6 Kerangka Konsep ... 33

BAB III METODE PENELITIAN ... 34

3.1 Jenis Penelitian ... 34

3.2 Lokasi Penelitian ... 34

3.3 Populasi dan Sampel ... 34

3.3.1 Populasi ... 34

3.3.2 Sampel ... 35

(10)

3.6 Operasional Variabel ... 37

3.7 Definisi Operasional... 38

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 39

4.1 Deskripsi Daerah Penelitian ... 39

4.2 Karakteristik Responden ... 40

4.2.1 Umur Responden ... 41

4.2.2 Jenis Kelamin ... 41

4.2.3 Pekerjaan Responden ... 42

4.2.4 Nama Desa Responden ... 42

4.3 Hasil Analisis ... 43

4.3.1Analisis Deskriptif ... 43

4.3.1.1 Pengelolaan Dana Desa ... 43

4.3.1.2 Persepsi Masyarakat Terhadap Manfaat Dana Desa ... 51

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 53

5.2 Saran ... 54

DAFTAR PUSTAKA ... 55 LAMPIRAN

(11)

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman

1.1 Daftar Provinsi Penerima Dana Anggaran Daerah

Terbesar Tahun 2015... 3

1.2 Rincian Dana Desa Provinsi Sumatera Utara Tahun 2015 ... 4

1.3 Rincian Anggaran Dana Desa Kecamatan Sidamanik Kabupaten Simalungun Tahun 2015 ... 5

2.1 Penelitian Terdahulu ... 31

3.1 Operasionalisasi variable ... 37

4.1 Komposisi Penduduk Kecamatan Sidamanik di Setiap Desa dan Luas Wilayah ... 40

4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Umur ... 41

4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 41

4.4 Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan.... ... 42

4.5 Distribusi Responden Berdasarkan Nama Desa ... 42

4.6 Tahapan Perencanaan Pengelolaan Dana Desa di Kecamatan Sidamanik Dalam Kegiatan Musrebang ... 44

4.7 Tahapan Pelaksanaan Pengelolaan Dana Desa di Kecamatan Sidamanik ... 46

4.8 Tahapan Pertanggungjawaban Pengelolaan Dana Desa ... 49

4.9 Persepsi Masyarakat Terhadap Manfaat Dana Desa ... 51

(12)

2.1 Kerangka Konseptual……… 33 4.1 Peta Letak Kecamatan Sidamanik………. 39

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul

1 Kuesioner Analisis Pengelolaan Dana Desa Dalam Upaya Pembangunan Desa Untuk MeningkatkanKesejahteraan Masyarakat di Kecamatan Sidamanik

2. Hasil Gambar

(14)

Pada perjalanan ketatanegaraan Republik Indonesia, desa telah berkembangdalam berbagai bentuk, sehingga perlu dilindungi dan diberdayakan agar menjadi kuat, maju, mandiri, dan demokratis sehingga dapat menciptakan landasan yang kuat dalam melaksanakan pemerintahan dan membangun masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera. Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dijelaskan bahwa pemberian kewenangan otonomi daerah kepada Kabupaten/Kota didasarkan atas desentralisasi dalam wujud otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab. Otonomi daerah merupakan hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Dalam operasionalisasi desa untuk mewujudkan otonomi yang diberikan kepada desa terdapat pembiayaan-pembiayaan, dimana pembiayaan tersebut memiliki hubungan dengan Dana Desa. Hal ini tercantum pada Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa yang menyebutkan bahwa keuangan desa adalah semua hak dan kewajiban Desa yang dapat dinilai dengan uang serta segala sesuatu berupa uang dan barang yang berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban desa yang menimbulkan pendapatan, belanja, pembiayaan dan pengelolaan keuangan desa. Dana Desa diberikan oleh pemerintah Pusat

(15)

2

Pendapatan dan Belanja Daerah kabupaten/kota. Dana tersebut kemudian dapat digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat.

Berkaitan dengan belanja desa diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan yang disepakati dalam musyawarah desa dan sesuai dengan prioritas pemerintah daerah, pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.

Kebutuhan pembangunan tersebut tidak terbatas pada kebutuhan primer, pelayanan dasar, lingkungan dan kegiatan pemberdayaan masyarakat desa.

Dengan demikian belanja desa juga dapat membiayai kegiatan lain sepanjang untuk meningkatkan pendapatan masyarakat desa dan kesejahteraan masyarakat desa serta tidak bertentangan dengan pemerintah pusat dan daerah. Agar dana desa dapat dimanfaatkan secara tepat maka Menteri desa dan pembangunan daerah tertinggal dan transmigrasi mengeluarkan Permendes No.21 Tahun 2016 tentang penempatan prioritas pembangunan dana desa tahun 2016. Dalam peraturan menteri tersebut diatur bahwa dana desa diprioritaskan untuk membiayai pelaksanaan program dan kegiatan berskala lokal pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa.

Secara umum prioritas penggunaan dana desa tahun 2016 tetap ditujukan untuk dua bidang yakni pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa.

Prioritas pembangunan dana desa didasarkan pada prinsip-prinsip keadilan dengan mengutamakan hak atau kepentingan seluruh warga desa tanpa membedakan kebutuhan prioritas dengan mendahulukan kepentingan desa yang lebih mendesak, lebih dibutuhkan untuk berhubungan langsung dengan

(16)

kepentingan sebagian besar masyarakat desa. Jumlah nominal yang akandiberikan kepada masing-masing desa akan berbeda tergantung dari georafis desa, jumlah penduduk, serta jumlah angka kematian. Alokasi dana sebesar 10%

yang diterima oleh desa akan menyebabkan peningkatan terhadap pendapatan desa.

Tabel 1.1

Daftar Provinsi Penerima Dana Anggaran Daerah Terbesar Tahun 2015

No Nama Provinsi Dana Anggaran Provinsisi/Triliun (Rp)

1 Jawa Tengah 2,23

2 Jawa Timur 2,21

3 Aceh 1,71

4 Jawa Barat 1,59

5 Sumatera Utara 1,46

Sumber: Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan 2015

Menurut Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan tahun 2015, Provinsi Sumatera Utara sebesar 1,46 Triliun Rupiah. Dari 33 provinsi yang menerima dana desa, Sumatera Utara merupakan provinsi yang menerima dana desa terbesar kelima setelah provinsi Jawa Tengah sebesar 2,23 Triliun Rupiah, Provinsi Jawa Timur 2,21 Triliun Rupiah, Provinsi Aceh sebesar 1,71 Triliun Rupiah, dan Provinsi Jawa Barat sebesar 1,59 Triliun Rupiah.

Sementara untuk dana desa secara keseluruhan, pemerintah dalam hal ini menteri keuangan telah menyiapkan anggaran sebesar 20,77 Triliun Rupiah untuk dibagikan kepada 74093 desa atau rata-rata setiap desa menerima 280,3 Juta Rupiah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2015, Provinsi Sumatera Utara sebagai suatu wilayah dengan luas 72.981,23 Km2 dan jumlah penduduk

(17)

4

6.983.245 jiwa perempuan. Adapun jumlah dari rincian alokasi Dana Desa untuk 25 kabupaten dan 2 kota atau 27 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara menurut Lampiran XXII Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2015 tentang Rincian APBN TA 2015 adalah sebesar Rp. 1.461.156.834.000 (satu triliun empat ratus enam puluh satu miliar seratus lima puluh enam juta delapan ratus tiga puluh empat ribu rupiah).

Tabel 1.2

Rincian Dana Desa Provinsi Sumatera Utara Tahun 2015

No Nama Kabupaten/Kota Alokasi (Dalam Rupiah)

1 Kab. Asahan 49.651.593.000

2 Kab. Batu Bara 39.707.460.000

3 Kab. Dairi 36.494.629.000

4 Kab. Deli Serdang 105.940.761.000

5 Kab. Humbang Hasundutan 41.284.514.000

6 Kab. Karo 67.583.746.000

7 Kab. Labuhanbatu 21.663.628.000

8 Kab. Labuhanbatu Selatan 16.387.486.000

9 Kab. Labuhanbatu Utara 23.982.021.000

10 Kab. Langkat 67.300.828.000

11 Kab. Mandailing Natal 99.394.520.000

12 Kab. Nias 46.241.140.000

13 Kab. Nias Barat 29.154.095.000

14 Kab. Nias Selatan 121.416.580.000

15 Kab. Nias Utara 32.208.325.000

16 Kab. Padang Lawas 79.483.465.000

17 Kab. Padang Lawas Utara 100.361.763.000

18 Kab. Pakpak Bharat 15.040.704.000

19 Kab. Samosir 35.153.931.000

20 Kab. Serdang Bedagai 64.319.789.000

21 Kab. Simalungun 102.699.807.000

22 Kab. Tapanuli Selatan 57.679.485.000

23 Kab. Tapanuli Tengah 43.043.384.000

24 Kab. Tapanuli Utara 64.235.734.000

25 Kab. Toba Samosir 60.617.160.000

26 Kota Gunungsitoli 27.854.226.000

27 Kota Padang Sidempuan 12.256.060.000

Jumlah 1.461.156.834.000

Sumber: Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2015 tentang Rincian APBN TA 2015

Menurut UU No. 3 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2014 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2015, pada Pasal 9 ayat (3) disebutkan bahwa jumlah Dana Desa

(18)

diperkirakan sebesar Rp. 20.766.200.000.000,00 (dua puluh triliun tujuh ratus enam puluh enam miliar dua ratus juta rupiah).

Dalam penelitian ini peneliti mengambil sampel penelitian dana desa yang berada di Kecamatan Sidamanik Kabupaten Simalungun. Berdasarkan Perbup No.4 Tentang Dana Desa di Kabupaten Simalungun Tahun Anggaran 2015, dana atau alokasi anggaran desa di Kecamatan Sidamanik Kabupaten Simalungun Tahun 2015 sebesar Rp. 679.445.344.

Tabel 1.3

Rincian Anggaran Dana Desa Kecamatan Sidamanik Kabupaten Simalungun 2015

No Nama Desa Anggaran Dana Desa

1 Bah Butong I Rp. 39.967.373

2 Sidamanik Rp. 39.967.373

3 Ambarisan Rp. 79.934.747

4 Tiga Bolon Rp. 39.967.373

5 Bah Butong II Rp. 39.967.373

6 Bahal Gajah Rp. 39.967.373

7 Manik Hataran Rp. 39.967.373

8 Mekar Sidamanik Rp. 39.967.373

9 Manik Maraja Rp. 39.967.373

10 Bah Biak Rp. 39.967.373

11 Birong Ulu Manriah Rp. 39.967.373

12 Kebun Sayur Bah Butong Rp. 39.967.373

13 Manik Rambung Rp. 79.934.747

14 Bukit Rejo Rp. 79.934.747

JUMLAH Rp. 679.445.344

Sumber: Perbup No.4 Tentang Dana Desa di Kabupaten Simalungun Tahun 2015

Secara umum prioritas penggunaan dana desa tahun 2016 tetap ditujukan untuk dua bidang yakni pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa.

Penggunaan dana desa untuk pembangunan desa bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, peningkatan kualitas hidup serta penanggulangan kemiskinan. Dalam hal program ekonomi saat ini dana desa diprioritaskan untuk penyediaan infrastruktur pedesaan sebagai salah satu solusi untuk memperkuat

(19)

6

bertujuan untuk memberi peluang bagi kemampuan daerah dan pedesaan sebagai tulang punggung ekonomi regional dan nasional. Sistem distribusi harus menjamin keamanan barang dan pelayanan antara produsen dan pelanggan untuk menjamin keuntungan, hubungan antara perekonomian pedesaan dan perkotaan harus didukung oleh sistem distribusi yang baik untuk menjamin keberhasilan ekonomi.

Selain dalam hal program ekonomi, prioritas lainnya pemanfaatan dana desa dalam upaya pembangunan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat adalah kesehatan. Dalam upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat telah banyak dilakukan oleh pemerintah, melalui penyediaan tenaga medis dan fasilitas kesehatan. Dalam hal ini kondisi kesehatan penduduk merupakan ssalah satu modal bagi keberhasilan pembangunan. Dengan penduduk yang sehat, diharapkan pembangunan dapat berjalan lebih lancar.

Begitu pula dalam hal pemberdayaan masyarakat, dimana pemberdayaan masyarakat sangat penting dan merupakan hal yang wajib untuk dilakukan mengingat pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang demikian pesatnya belakangan ini akan sangat mempengaruhi kemampuan tiap individu dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Melihat keadaan tersebut maka penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian terhadap pengelolaandana desa. Dan berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka skripsi ini ditulis dengan judul: “Analisis Pengelolaan Dana Desa Dalam Upaya Pembangunan Desa Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Desa di Kecamatan Sidamanik Kabupaten Simalungun”.

(20)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan yang timbul akan dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana pengelolaan dana desa dalam upaya pembangunan desa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa di Kecamatan Sidamanik Kabupaten Simalungun?

2. Bagaimana persepsi masyarakat terhadap manfaat dana desa dalam upaya pembangunan desa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa di Kecamatan Sidamanik Kabupaten Simalungun ?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk menganalisis pengelolaan dana desa dalam upaya pembangunan desa di Kecamatan Sidamanik Kabupaten Simalungun.

2. Untuk mengetahui manfaat dana desa dalam upaya pembangunan desa di Kecamatan Sidamanik Kabupaten Simalungun.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Mendapatkan informasi tentang bagaimana pengelolaandana desa dan memberikan informasi tentang bagaimana manfaat dana desa dalam

(21)

8

upaya pembangunan desa di Kecamatan Sidamanik Kabupaten Simalungun.

2. Dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada Pemerintah Kecamatan Sidamanik serta Pemerintah Kabupaten Simalungun dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sebagai pemegang kebijaksanaan yang berkaitan terhadap pembinaan dan pengelolaan alokasi dana desa untuk guna sebagai upaya pembangunan desa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

(22)
(23)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Desa

2.1.1 Sejarah Desa

Desa di Indonesia pertama kali ditemukan oleh Mr. Herman Warner Muntinghe, seorang Belanda anggota Raad van Indie pada masa penjajahan colonial Inggris, yang merupakan pembantu Gubernur Jenderal Inggris yang berkuasa pada tahun 1811 di Indonesia. Dalam sebuah laporannya tertanggal 14 Juli 1817 kepada pemerintahnya disebutkan tentang adanya desa-desa di daerah- daerah pesisir utara Pulau Jawa. Dan dikemudian hari ditemukan juga desa-desa di kepulauan luar Jawa yang kurang lebih sama dengan desa yang ada di Jawa (Soetardjo, 1984:36).

Terbentuknya suatu desa tidak terlepas dari insting manusia, yang secara naluriah ingin hidup bersama keluarga suami/ istri dan anak, serta sanak familinya, yang kemudian lazimnya memilih suatu tempat kediaman bersama.

Tempat kediaman tersebut dapat berupa suatu wilayah dengan berpindah-pindah terutama terjadi pada kawasan tertentu hutan atau areal lahan yang masih memungkinkan keluarga tersebut berpindah-pindah. Hal ini masih dapat ditemukan pada beberapa suku asli di Sumatera seperti kubu, suku anak dalam, beberapa warga melayu asli, juga di pulau-pulau lainnya di Nusa Tenggara, Kalimantan dan Papua. (sumardjo, 2010).

Desa pertanian merupakan gejala desa pertama-tama dibentuk, setelah membuka hutan dan mengolah lahan untuk ditanami tumbuhan yang menghasilkan makanan dan kebutuhan lainnya. Di tepi laut dan sungai-sungai

(24)

besar terbentuk desa-desa perikanan dan pelayanan (masyarakat pesisir) yang mendapatkan pencaharian dari menangkap ikan,tambak dan jasa pelayaran.

Desa pasar (jasa) tumbuh di sekitar tempat orang-orang bertemu satu sama lain untuk bertransaksi (di era modern disebut jual beli), sehingga terjadilah sebuah pasar yang terbentuk oleh masyarakat sekelilingnya. Di sekitar pasar tersebut kemudian berkembang menjadi desa perdagangan (jasa). Desa-desa tradisional juga sering terbentuk terkait dengan keberadaan sumber air atau sumber-sember pencaharian lainnya, seperti pertambangan, pertambakan, dan sebagainya. Kadang-kadang alasan terbentuknya desa tercantum dalam nama desa, dari nama desa dapat diketahui alasan terbentuknya suatu masyarakat desa tertentu (Kartohadikoesoemo, 1965).

Fakta sejarah menunjukan bahwa dari abad ke abad desa telah berkembang menjadi kesatuan hukum yang melindungi kepentingan bersama atas penduduknya dilindungi dan dikembangkan menurut ketentuan hukum adat setempat. Hukum itu memuat dua hal, yaitu: (1) hak untuk mengurus daerahnya sendiri, yang kemudian dikenal istilah “hak otonomi”, dan (2) hak memilih kepala desanya sendiri. Di masa lalu hak otonomi itu mencakup banyak aspek, seperti hukum kekerabatan, hukum waris, hukum tanah, hukum perdata, dan hukum pidana pun termasuk di dalamnya. Antara otonomi desa di Jawa, Madura, dan Bali dengan desa lain bias saja berbeda, misalnya di Sumatera Barat dikenal istilah desa ini dengan wilayah “nagari” yang mempunyai hukum adat yang berbeda dalam hal hak otonomi tersebut. (Sumardjo, 2010).

(25)

11

Sejak diberlakukannya otonomi daerah istilah desa dapat disebut dengan nama lain, misalnya di Sumatera Barat disebut dengan istilah nagari, di Aceh dengan istilah gampong, di Papua dan Kutai Barat, Kalimantan Timur disebut dengan istilah kampung, di Yogyakarta dosebut dusun dan di Bali disebut banjar. Begitu pula segala istilah dan institusi di desa dapat disebut dengan nama lain sesuai dengan karakteristik adat istiadat desa tersebut. Hal ini merupakan salah satu pengakuan dan penghormatan Pemerintah terhadap asal usul dan adat istiadat setempat.

2.1.2 Pengertian Desa

Kata “desa” sendiri berasal dari bahasa India yakni “swadesi” yang berarti tempat asal, tempat tinggal, negeri asal, atau tanah leluhur yang merujuk pada satu kesatuan hidup, dengan satu kesatuan norma, serta memiliki batas yang jelas (Soetardjo, 1984:15, Yuliati, 2003:24). Menurut Poerwadarminta (1976) Desa adalah sekelompok rumah di luar kota yang merupakan kesatuan, kampong (di luar kota) dusun atau udik (dalam arti daerah pedalaman sebagai lawan dari kota).

Pengertian desa lainnya disampaikan oleh Bintarto (1983) yang menyebutkan bahwa desa adalah suatu hasil perpaduan antara kegiatan sekelompok manusia dengan lingkungannya. Hasil dari perpaduan itu adalah suatu wujud atau kenampakan di muka bumi yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografi, sosial, ekonomi, politik dan kultural yang saling berinteraksi antara unsur tersebut dan juga dalam hubungannya dengan daerah-daerah lain.

Menurut defenisi umum, desa adalah sebuah aglomerasi permukiman di wilayah perdesaan (Hardjatno, 2007). Berdasarkan Undang-Undang nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, di mana desa atau yang disebut dengan

(26)

istilah lain adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemerintah Desa atau yang disebut dengan nama lain adalah Kepala Desa dan Perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa.

Pengakuan Desa dalam Undang-Undang Dasar tahun 1945 pasal 18B ayat 1 dan 2, serta dalam Undang-Undang Pemerintahan Daerah nomor 32 tahun 2004, di mana Desa atau yang disebut dengan nama lain (selanjutnya disebut desa), adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini kemudian ditegaskan lagi dalam Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2005 tentang Desa dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

2.1.3 Karakteristik Desa

Di Indonesia, wilayah yang disebut desa seharusnya dilihat dalam tahapan

(27)

13

karakteristik yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain, antara Jawa dengan luar Jawa, antara desa dekat kota dengan desa yang jauh dari kota, antara wilayah dataran tinggi dengan dataran rendah, demikian pula antara pantai dan pedalaman.

Secara umum masyarakat yang telah mulai menetap yang disebut dengan desa, istilah sebutannya sangat beragam di berbagai suku bangsa. Di Jawa disebut desa, di Aceh disebut Gapong, di Papua disebut kampong dan masih banyak berbagai istilah tentangnya. Oleh karena itu sangatlah penting mengklasifikasikan penduduk yang telah mulai menetap.

Kalau digolongkan menurut sistem produksinya, sistem produksi yang dikembangkan adalah berproduksi untuk kepentingan hidup diri mereka sendiri dan pemenuhan penduduk desa itu sendiri. Kebudayaan produksi bukan mengubah alam akan tetapi mengadaptasi alam, artinya apa yang di dalam alam sekitarnya itulah sumber kehidupan mereka.Kehidupan masyarakat desa terikat pada nilai-nilai budaya asli yang sudah diwariskan secara turun menurun dan melalui proses adaptasi yang sangat panjang dari interaksi intensif dengan perubahan lingkungan biofisik masyarakat. Kearifan lokal merupakan salah satu aspek karakteristik masyarakat, yang terbentuk melalui proses adaptasi yang kondusif bagi kehidupan masyarakat, sehingga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya seyogianya dipahami sebagai dasar dalam pembangunan pertanian dan pedesaan (sumardjo,2010).

Kondisi masyarakat perdesaan di Indonesia pada saat ini sangat beragam, mulai dari perilaku berladang berpindah, bertani menetap, desa industri, desa dengan mata pencaharian dominan sektor jasa sampai desa yang dengan fasilitas

(28)

modern (semi urban dan urban) dapat ditemukan di wilayah Indonesia di era milenium ini.

Pada tahun 1952 (Hadikoesoemo, 1965) terkait dengan desa terungkap bahwa norma-norma daerah hukum masyarakat itu menurut hukum adat: (1) berhak mempunyai wilayah sendiri yang ditentukan oleh batas-batas yang sah, (2) berhak mengurus dan mengatur pemerintahan dan rumah tangganya sendiri, (3) berhak mengangkat pimpinan atau majelis pemerintahannya sendiri, (4) berhak memiliki harta benda dan sumber keuangannya sendiri, (5) berhak atas tanahnya sendiri, (6) berhak memungut pajak sendiri. Atas dasar prinsip-prinsip tersebut terdapat keberagaman hukum asli di masing-masing desa yang tersebar di seluruh nusantara ini. Di Sumatera Barat misalnya, ada nagari yang mempunyai tata aturan adat yang khas, demikian juga di tempat lain.

Desa mengandung sejumlah kearifan-kearifan lokal (local wisdom) yang apabila dicermati nilai yang terkandung dalam kearifan tersebut maka dapat menjadi suatu kekuatan untuk beradaptasi dengan lingkungan dimana suatu masyarakat berdomisili di suatu wilayah desa. Kearifan tersebut dapat dicermati dari aturan-aturan, norma, tata krama/ tata susila, bahasa, kelembagaan, nama dan gelaran, teknologi yang digunakan (konstruksi rumah, tata letak rumah, teknik irigasi, teknik pengolahan tanah dan peralatannya, teknik membuat jalan/

jembatan, teknik perahu dan sebagainya).

Infrastruktur itu alat penting bagi kemajuan perkembangan masyarakat desa, namun masyarakat paham arti pentingnya infrastruktur itu jauh lebih penting

(29)

15

mengetahui arti pentingnya alat yang dipunyai. Meskipun infrastuktur perdesaan banyak ditemui di desa, pertanyaannya apakah infrastuktur yang ada telah dipahami arti pentingnya bagi kehidupan masyarakat perdesaan. Data statistik tentangnya seperti jalan desa, gedung SD, Polindes (Poliklinik Desa), kantor pemerintah desa, kendaraan umum dan infrastuktur lainnya, bila dilihat dapat ditemukan dengan mudah. dari jumlah yang ada maka penyebaran infrastuktur tidak merata baik itu antar desa di Jawa, begitu juga bila dibandingkan dengan desa diluar Jawa.

Infrastuktur pendidikan perdesaan seperti gedung SD harus menjadi perhatian utama. Kurang nya gedung SD dan dengan kualitas bangunan yang ada sangat buruk mudah rusak bahkan ambruk. Luar Jawa keadaanya tidak hanya pada pengadaan infrastuktur bangunan gedung sekolah akan tetapi tenaga pengajar akan siap melayani pendidikan di pelosok desa pedalaman jauh lebih penting untuk diperhatikan.

Kesehatan dan Gizi masyarakat harus dilihat pada tipologi desa macam apa. Desa menetap dan berbudidaya di mana penduduk nya kreatif, ada pertanian yang maju dan ada industri perdesaan yang berkembang, mereka tidak kesulitan untuk memenuhi gizi. Bagi masyarakat yang telah memiliki pengetahuan pemenuhan gizi tidak menjadi problematik. Ini terutama dapat dilihat di desa di Jawa. Desa lain yang berada di luar Jawa juga tidak bisa dilihat secara kuantitatif semata akan tetapi juga harus dilihat dari sifat kualitatif penyelenggaraan kesehatan dan gizi. Keadaan seperti itu perlu dilihat lebih teliti desa mana yang mengalami tingkat kesehatan rendah dan kekurangan gizi.

(30)

Karakteristik wilayah perdesaan sangat berbeda tipologinya baik karakteristik sosial budaya, keadaan infrasturkur yang ada, keadaan di wilayah perdesaan, tingkat kesehatan dan gizi sampai dengan karakteristik kondisi kemiskinannya. Tipologi desa seharusnya mempertimbangkan keadaan yang berbeda antar masyarakat di Jawa antara Jawa dan luar Jawa. Kerumitan tipologi dan karakteristik ini tidak mungkin digeneralisasikan dalam proses pembangunan. Oleh sebab itu, desentralisasi menjadi prinsip utama dalam proses pembangunan agar pembangunan lebih cepat untuk menjawab kebutuhan masyarakat perdesaan (susetiawan, 2010).

2.1.4 Dasar Hukum Berdirinya Desa

Berikut merupakan dasar hukum berdirinya desa :

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1979

Desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung dibawah Camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah.

Desa atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati

(31)

17

3. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa

Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2.1.5 Pembentukan dan Perubahan Status Desa

Desa dibentuk atas prakarsa masyarakat dengan memperhatikan asal-usul desa dan kondisi sosial budaya masyarakat setempat. Pembentukan desa sebagaimana harus memenuhi syarat:

a. Jumlah penduduk;

b. Luas wilayah;

c. Bagian wilayah kerja;

d. Perangkat desa; dan sarana dan prasarana pemerintahan.

(32)

Pembentukan desa dapat berupa penggabungan beberapa desa, atau bagian desa yang bersandingan, atau pemekaran dari satu desa menjadi dua desa atau lebih, atau pembentukan desa di luar desa yang telah ada. Pemekaran dari satu desa menjadi dua desa atau lebih dapat dilakukan setelah mencapai paling sedikit 5 (lima) tahun penyelenggaraan pemerintahan desa.

Desa yang kondisi masyarakat dan wilayahnya tidak lagi memenuhi persyaratan dapat dihapus atau digabung. Perubahan status desa menjadi kelurahan memperhatikan persyaratan:

a. Luas wilayah;

b. Jumlah penduduk;

c. Prasarana dan sarana pemerintahan;

d. Potensi ekonomi; dan kondisi sosial budaya masyarakat.

Desa yang berubah menjadi Kelurahan, Lurah dan Perangkatnya diisi dari pegawai negeri sipil.

2.1.6 Ruang Lingkup Desa

Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan desa mencakup:

a. Urusan pemerintahan yang sudah ada berdasarkan hak asal usul desa;

b. Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan kabupaten/kota yang diserahkanpengaturannya kepada desa;

c. Tugas pembantuan dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota;

d. Urusan pemerintahan lainnya yang oleh peraturan perundang

(33)

19

Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Kabupaten/Kota yang diserahkan pengaturannya kepada Desa adalah urusan pemerintahan yang secara langsung dapat meningkatkan pelayanan dan pemberdayaan masyarakat.

Penyelengaraan Pemerintahan Desa terdiri dari Pemerintah Desa dan BPD.

Pemerintah Desa terdiri dari Kepala Desa dan Perangkat Desa. Perangkat Desa terdiri dari Sekretaris Desa dan Perangkat Desa lainnya. Perangkat Desa lainnya terdiri atas:

a. Sekretariat desa;

b. Pelaksana teknis lapangan;

c. Unsur kewilayahan.

Badan Permusyawaratan Desa (BPD) berkedudukan sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa. Anggota BPD terdiri dari Ketua Rukun Warga, pemangku adat, golongan profesi, pemuka agama dan tokoh atau pemuka masyarakat lainnya. BPD berfungsi menetapkan peraturan desa bersama kepala desa, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. Badan Permusyawaratan Desa (BPD) mempunyai wewenang:

a. Membahas rancangan peraturan desa bersama kepala desa;

b. Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan desa dan peraturan kepala desa;

c. Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala desa;

d. Membentuk panitia pemilihan kepala desa;

e. Menggali, menampung, menghimpun, merumuskan danmenyalurkan aspirasi masyarakat; dan

(34)

f. Menyusun tata tertib BPD.

Badan Permusyawaratan Desa (BPD) mempunyai hak : a. Meminta keterangan kepada Pemerintah Desa;

b. Menyatakan pendapat.

2.2 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)

Anggaran merupakan variabel penting dalam mendukung kualitas kinerja pemerintah, mencerminkan kemampuan keuangan yang dimiliki daerah. Karena itu anggaran sebagai satu di antara indikator penting untuk mengukur tingkat pertumbuhan ekonomi secara makro di daerah, maka format anggaran mesti disusun berdasarkan kemampuan dan kebutuhan obyektif (Pheni chalid, 2005).

Anggaran merupakan rencana kerja pemerintah dalam bentuk uang dalam periode tertentu. Dengan demikian, anggaran daerah merupakan rencana kerja pemerintah daerah dalam satu tahun. Anggaran daerah tersebut disusun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan menjadi istrumen utama kebijakan pemerintah daerah, terutama dalam mengembangkan kapabilitas dan efektivitas pemerintah daerah. Sebagai alat ukur bagi pendapatan dan pengeluaran keuangan daerah, APBD sangat membantu pemerintah daerah dalam mengambil keputusan dan perencanaan pembangunan, otorisasi pengeluaran, pengembangan ukuran-ukuran untuk evaluasi kinerja pemerintah. Selain itu, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan instrumen yang dapat dipakai untuk memotivasi para pegawai dan alat bagi semua unit kerja dalam mengkoordinasikan semua aktivitas (Mardiasmo, 2002).

(35)

21

APBD memiliki posisi strategis bagi kemampuan keuangan pemerintah daerah, seperti halnya portofolio suatu perusahaan yang mencerminkan performance kinerja perusahaan. Oleh karena itu penyusunan arah dan kebijakan umum APBD merupakan bagian dari upaya pencapain visi, misi, tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam Renstrada, Rencana Strategis Daerah (Kuntandi, 2002). Tingkat pencapaian yang direncanakan dalam satu tahun anggaran menunjukkan tahapan dan perkembangan tingkat pencapaian yang diharapkan pada rencana jangka panjang dan jangka menengah.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) adalah rencana keuangan tahunan pemerintah daerah di Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. APBD ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Tahun anggaran APBD meliputi masa satu tahun, mulai dari tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) terdiri atas:

1. Anggaran pendapatan, terdiri atas :

a. Pendapatan Asli Daerah(PAD), yang meliputi pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah, dan penerimaan lain-lain b. Bagian dana perimbangan, yang meliputi Dana Bagi Hasil, Dana

Alokasi Umum(DAU) dan Dana Alokasi Khusus

c. Lain-lain pendapatan yang sah seperti dana hibah atau dana darurat.

2. Anggaran belanja, yang digunakan untuk keperluan penyelenggaraan tugas pemerintahandidaerah.

(36)

3. Pembiayaan, yaitu setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaranyangakan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun tahunanggaran berikutnya.

2.3 Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa)

Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa) terdiri atas bagian pendapatan Desa, belanja Desa dan pembiayaan. Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBDesa) dibahas dalam musyawarah perencanaan pembangunan desa. Kepala Desa bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) menetapkan APBDesa setiap tahun dengan Peraturan Desa. Pedoman penyusunan APBDesa, perubahan APBDesa, perhitungan APBDesa, dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBDesa ditetapkan dengan Peraturan Bupati/Walikota.

Penyelenggaraan pemerintah desa yang output nya berupa pelayanan publik, pembangunan, dan perlindungan masyarakat harus disusun perencanaannya setiap tahun dan dituangkan dalam APBDesa. Dalam APBDesa inilah terlihat apa yang akan dikerjakan pemerintah desa dalam tahun berjalan.

Pemerintah desa wajib membuat APBDesa. Melalui APBDesa kebijakan desa yang dijabarkan dalam berbagai program dan kegiatan sudah ditentukan anggarannya. Dengan demikian, kegiatan pemerintah desa berupa pemberian pelayanan, pembangunan, dan perlindungan kepada warga dalam tahun berjalan sudah dirancang anggarannya sehingga sudah dipastikan dapat dilaksanakan.

Tanpa APBDesa, pemerintah desa tidak dapat melaksanakan program dan

(37)

23

2.3.1 Pendapatan Desa

Pendapatan desa meliputi semua penerimaan uang melalui rekening desa yang merupakan hak desa dalam 1 tahun anggaran yang tidak perlu dibayar kembali oleh desa. Pendapatan desa terdiri atas:

1. Pendapatan asli desa (PADesa) 2. Bagi hasil pajak kabupaten/ kota 3. Bagian dari retribusi kabupaten/ kota 4. Alokasi dana desa (ADD)

5. Bantuan keuangan dari pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/ kota, dan desa lainnya

6. Hibah

7. Sumbangan pihak ketiga 2.3.2 Belanja Desa

Belanja desa meliputi semua pengeluaran dan rekening desa yang merupakan kewajiban desa dalam 1 tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh desa. Belanja desa terdiri atas:

1. Belanja langsung yang terdiri atas:

a. Belanja pegawai

b. Belanja barang dan jasa c. Belanja modal

2. Belanja tidak langsung yang terdiri atas:

a. Belanja pegawai/ penghasilan tetap b. Belanja subsidi

(38)

c. Belanja hibah (pembatasan hibah) d. Belanja bantuan social

e. Belanja bantuan keuangan f. Belanja tak terduga

2.3.3 Pembiayaan Desa

Pembiayaan desa meliputi semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. Pembiayaan desa terdiri dari:

1. Penerimaan pembiayaan, yang mencakup:

a. Sisa lebih perhitungan anggaran (SilPA) tahun sebelumnya b. Pencairan dana cadangan

c. Hasil penjualan kekayaan desa yang dipisahkan d. Penerimaan pinjaman

2. Pengeluaran pembiayaan yang mencakup:

a. Pembentukan dana cadangan b. Penyertaan modal desa c. Pembayaran utang

2.4 Dana Desa

2.4.1 Pengertian Dana Desa

Dana Desa adalah dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi Desa dan Desa Adat yang ditransfer melalui

(39)

25

membiayai penyelenggara pemerintahan, pembangunan, serta pemberdayaan masyarakat, dan kemasyarakatan. Fokus penting dari penyaluran dana inni lebih terkait pada implementasi pengalokasian Dana Desa agar bisa sesempurna gagasan para inisiatornya. Skenario awal Dana Desa ini diberikan dengan mengganti program pemerintah yang dulunya disebut PNPM, namun dengan berlakunya Dana Desa ini, dapat menutup kesempatan beberapa pihak asing untuk menyalurkan dana ke daerah di Indonesia dengan program-program yang sebenarnya juga dapat menjadi pemicu pembangunan daerah.

Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, Pemerintah mengalokasikan Dana Desa, melalui mekanisme transfer kepada Kabupaten/Kota. Berdasarkan alokasi Dana tersebut, maka tiap Kabupaten/Kota mengalokasikannya kepada setiap desa berdasarkan jumlah desa dengan memperhatikan jumlah penduduk (30%), luas wilayah (20%), dan angka kemiskinan (50%). Hasil perhitungan tersebut disesuaikan juga dengan tingkat kesulitan geografis masing-masing desa. Alokasi anggaran sebagaimana dimaksud di atas, bersumber dari Belanja Pusat dengan mengefektifkan program yang berbasis Desa secara merata dan berkeadilan. Besaran alokasi anggaran yang peruntukannya langsung ke Desa ditentukan 10% (sepuluh perseratus) dari dan di luar dana Transfer Daerah (on top) secara bertahap.Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa Yang Bersumber dari APBN, dengan luasnya lingkup kewenangan Desa dan dalam rangka mengoptimalkan penggunaan Dana Desa, maka penggunaan Dana Desa diprioritaskan untuk membiayai pembangunan dan pemberdayaan masyarakat Desa. Penetapan

(40)

prioritas penggunaan dana tersebut tetap sejalan dengan kewenangan yang menjadi tanggungjawab Desa. Dana Desa di dalam APBN 2015 dianggarkan sebesar Rp 9.066,2 miliar, namun sejalan dengan visi Pemerintah untuk membangun Indonesia dari pinggiran dalam kerangka NKRI maka anggaran ini ditambah alokasinya di dalam APBN-P 2015 menjadi Rp 20.766,2 miliar.

Sedangkan pada tahun anggaran 2016 Dana Desa dialokasikan sebesar Rp 46.982 miliar.

2.4.2 Keuangan Desa

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, Keuangan Desa adalah semua hak dan kewajiban Desa yang dapat dinilai dengan uang serta segala sesuatu berupa uang dan barang yang berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban Desa.

Penyelenggaraan urusan pemerintahan desa yang menjadi kewenangan desa didanai dari anggaran pendapatan dan belanja desa, bantuan pemerintah dan bantuan pemerintah daerah. Penyelenggaraan urusan pemerintah daerah yang diselenggarakan oleh pemerintah desa didanai dari anggaran pendapatan dan belanja daerah. Penyelenggaraan urusan pemerintah yang diselenggarakan oleh pemerintah desa didanai dari anggaran pendapatan dan belanja negara. Sumber pendapatan desa terdiri atas :

1. Pendapatan asli desa, terdiri dari hasil usaha desa, hasil kekayaan desa, hasil swadaya dan partisipasi, hasil gotong royong, dan lain-lain pendapatan asli desa yang sah;

(41)

27

2. Bagi hasil pajak daerah Kabupaten/Kota paling sedikit 10% (sepuluh per seratus) untuk desa dan dari retribusi Kabupaten/Kota sebagian diperuntukkan bagi desa;

3. Bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh Kabupaten/Kota untuk Desa paling sedikit 10% (sepuluh per seratus), yang pembagiannya untuk setiap Desa secara proporsional yang merupakan alokasi dana desa;

4. Bantuan keuangan dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan;

5. Hibah dan sumbangan dari pihak ketiga yang tidak mengikat 2.4.3 Tujuan Dana Desa

1. Meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan desa dalam melaksanakan pelayanan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan sesuai kewenangannya.

2. Meningkatkan kemampuan lembaga kemasyarakatan di desa dalam perencanaan, pelaksanaandan pengendalian pembangunan secara partisipatif sesuai dengan potensi desa.

3. Meningkatkan pemerataan pendapatan, kesempatan bekerja dan kesempatan berusaha bagi masyarakat desa.

4. Mendorong peningkatan swadaya gotong royong masyarakat.

(42)

2.4.4 Prioritas Penggunaan Dana Desa

Sesuai Permendes 21 tahun 2015, prioritas pertama penggunaan dana desa yaitu untuk membangun infrastuktur antara lain jalan, irigasi, jembatan sederhana, dan talud. Bidang kesehatan dan pendidikan juga perlu diprioritaskan, diantaranya Posyandu dan PAUD. Jika infrastruktur serta sarana dan prasarana desa sudah baik, maka dana desa dapat digunakan untukpemberdayaan masyarakat desa, seperti pengembangan Badan Usaha Miliki Desa (BUM Desa), pembentukan Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD), dan pengembangan kapasitas Ruang Belajar Masyarakat di Desa (community center). Dalam realisasinya, masyarakat berhak menentukan secara mandiri penggunaan dana desa sesuai dengan musyawarah desa (Musdes) sebagaimana yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Secara umum prioritas penggunaan dana desa tahun 2016 tetap ditujukan untuk dua bidang yakni pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa, peningkatan kualitas hidup serta penanggulangan kemiskinan. Untuk itu penggunaan dana desa untuk pembangunan desa diarahkan pada program- program seperti :

1. Pembangunan,pengembangan dan pemeliharaan infrastruktur atau sarana dan prasarana fisik untuk penghidupan, termasuk ketahanan pangan dan pemukiman.

2. Pembangunan, pengembangan dan pemeliharaan sarana dan prasarana kesehatan masyarakat.

(43)

29

3. Pembangunan, pengembangan dan pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan,sosial dan kebudayaan.

4. Pengembangan usaha ekonomi masyarakat meliputi pembangunan dan pemeliharaan sarana produksi dan distribusi.

5. Pembangunan dan pengembangan sarana dan prasarana energi terbarukan serta kegiatan pelestarian lingkungan hidup.

Prioritas penggunaan dana desa 2016 dibidang pemberdayaan masyarakat desa bertujuanuntuk meningkatkan kapasitas warga dalam pengembangan wirausaha, peningkatan pendapatan, serta perluasan wilayah ekonomi inividu warga kelompok masyarakat antara lain:

1. Peningkatan investasi ekonomi desa melalui pengadaan,pengembangan atau bantuan alat-alat produksi, permodalan dan peningkatan kapasitas melalui pelatihan dan pemagangan.

2. Dukungan kegiatan ekonomi baik yang dikembangkan oleh BUMDesa atau BUMDesa bersama maupun oleh kelompok atau lembaga masyarakat ekonomi lainnya.

3. Bantuan peningkatan kapasitas untuk program dan kegiatan ketahanan pangan desa.

4. Pengorganisasian masyarakat, fasilitas dan pelatihan para legal dan bantuan hukum masyarakat desa, termasuk pembentukan kader pemberdayaan masyarakat desa dan pengembangan kapasitas ruang belanja masyarakat desa.

(44)

5. Promosi dan edukasi kesehatan masyarakat serta gerakan hidup bersih dan sehat, termasuk peningkatan kapasitas posyandu,poskedes,poindes serta ketersediaan atau keberfungsian tenaga medis atau swamedikasi di desa.

6. Dukungan terhadap kegiatan pengelolaan hutan/pantai/desa dan hutan/pantai/kemasyarakatan.

7. Peningkatan kapasitas kelompok masyarakat untuk energi terbaru dan pelestarian lingkungan hidup.

Bidang kegiatan pemberdayaan ekonomi lainnya yang sesuai dengan analisa kebutuhan desa dan telah ditetapkan dalam musyawarah desa.

2.4.5 Mekanisme Penyaluran Dana Desa

Di dalam PP Nomor 8 Tahun 2016 pasal 16 disebutkan bahwa Dana Desa tahun 2016 akan disalurkan secara bertahap oleh pemerintah melalui Rekening Kas Umum Negara (RKUN) kepada pemerintah daerah kabupaten/ kota melalui Rekening Kas Umum Daerah (RKUD). Kemudian pemerintah daerah kabupaten/

kota juga melakukan penyaluran kepada Desa melalui Rekening Kas Desa (RKD).Penyaluran Dana Desa dari RKUN ke RKUD baru dapat dilaksanakan apabila pemerintah daerah kabupaten/ kota telah menyampaikan dokumen- dokumen sebagai berikut:

1. Perda tentang APBD tahun 2016;

2. Peraturan Bupati/ Walikota tentang tata cara pembagian dan penetapan rincian Dana Desa; dan

(45)

31

3. Laporan realisasi penyaluran dan konsolidasi penggunaan Dana Desa tahun 2015.

Sedangkan penyaluran Dana Desa dari RKUD ke RKD juga baru dilakukan apabila pemerintah Desa telah menyerahkan dokumen-dokumen sebagai berikut:

1. Peraturan Desa tentang APB Desa tahun 2016

2. Laporan realisasi penggunaan Dana Desa tahun 2015.

2.4.6 Pelaporan Alokasi Dana Desa

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaporan DD adalah sebagai berikut:

1. Pelaporan diperlukan dalam rangka pengendalian dan untuk mengetahui perkembangan proses pengelolaan dan penggunaan DD.

Adapun jenis pelaporan mencakup:

a. Perkembangan pelaksanaan dan penyerapan dana.

b. Masalah yang dihadapi.

c. Hasil akhir penggunaan DD.

2. Laporan ini dilaksanakan melakui jalur struktural yaitu dari tim pelaksana tingkat Desa diketahui oleh Kepala Desa ke tim pendamping tingkat Kecamatan secara bertahap. Selanjutnya tim pendamping tingkat Kecamatan membuat laporan/rekapan dari seluruh laporan tingkat desadi wilayahnya secara bertahap melaporkan kepada Bupati melalui tim fasilitasi tingkat Kabupaten.

(46)

3. Berbagai jenis laporan tersebut tersedia di kantor Kepala Desa untuk dapat diakses dengan mudah oleh mereka yang membutuhkannya.

2.5 Penelitian Terdahulu

Penelitian-penelitian terdahulu berfungsi sebagai pendukung untuk melakukan penelitian. Berikut merupakan penelitian terdahulu yang berfungsi sebagai pendukung untuk melakukan penelitian :

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No Nama

Peneliti Judul

Penelitian Metode

Analisis Hasil Penelitian 1 Dini

(2010) Universitas Sumatera Utara Medan

Hubungan Alokasi

Dana Desa

Dengan Pembangunan

Desa di

Kecamatan Stabat Kabupaten Langkat

Metode Penelitian Kuantitatif

Alokasi Dana Desa memiliki hubungan yang positif dengan pembangunan desa di Kecamatan Stabat dan persepsi masyarakat terhadap dana alokasi desa memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembangunan desa di Kecamatan Stabat.

2 Nurliana (2013) Universitas Mulawarman

Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) Dalam

Pembangunan Fisik di Desa Sukomulyo Kecamatan Sepaku Kabupaten Penajam Pasar Utara

Metode Deskriptif Kualitatif

Menunjukkan bahwa pada proses perencanaan pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) dalam pembangunan fisik di desa Sukomulyo, pemerintah desa telah melibatkan masyarakat desa dalam penyusunan rencana kegiatan dari penentuan kebijakan penggunaan Alokasi Dana Desa.

3 Nova Sulastri (2016)

Universitas Halu Oleo Kendari

Efektivitas Pengelolaan Alokasi Dana Desa Dalam Meningkatkan Pembangunan Fisik di Desa Lakapodo Kecamatan Watopute Kabupaten Muna

Metode Analisis Deskriptif

Efektivitas Pengelolaan Alokasi Dana Desa Dalam Meningkatkan Pembangunan Fisik di Desa Lakapodo Kecamatan Watopute Kabupaten Muna,dimana ada tiga tahap yakni perencanaan,pelaksanaan,dan pertanggung jawaban.

(47)

33

Perbedaannya dengan penelitian yang diteliti ialah, peneliti mencoba untuk meneliti pengelolaan dana desa dalam upaya pembangunan desa di Kecamatan Sidamanik dengan judul penelitian ialah, Analisis Pengelolaan Dana Desa Dalam Upaya Pembangunan Desa Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Desa di Kecamatan Sidamanik Kabupaten Simalungun. Peneliti mencoba untuk meneliti dengan menggunakan model analisis kualitatif sebagai tujuan untuk mengetahui “Analisis Pengelolaan Dana Desa Dalam Upaya Pembangunan Desa di Kecamatan Sidamanik Kabupaten Simalungun’.

2.6 Kerangka Konseptual

Objek dari penelitian ini adalah dana desa di kecamatan Sidamanik.Spesifikasi dalampenelitian ini adalah menganalisis pengelolaan dana desa dalam upaya pembangunan desa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa di Kecamatan Sidamanik Kabupaten Simalungun.

Berdasarkan pemikiran tersebut perlu diteliti pengelolaan dana desa yang diberikan kepada Kecamatan Sidamanik dengan menganalisa secara deskripsi pengelolaan dana desa dalam bidang pembangunan desa atau program-program pembangunan desa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini dapat dilihat pada gambar 2.1.

(48)

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

DANA DESA

PENGELOLAAN DANA DESA

PERSEPSI MASYARAKAT

PEMBANGUNAN DESA

KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

(49)

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah langkah dan prosedur yang akan dilakukan dalam mengumpulkan dua atau informasi empiris guna memecahkan permasalahan dan menguji hipotesis pada penelitian. Adapun metode penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Metode deskriptif suatu metode penelitian yang disusun dalam rangka memberikan gambaran secara sistematis tentang informasi ilmiah yang berasal dari subjek atau objek penelitian (Sanusi, 2011). Data yang diperoleh adalah data primer berupa kuisioner yang telah diisi oleh sejumlah responden penelitian.

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian pengelolaan dana desa yang menjadi topik utama pada penelitian ini akan dilakukan pada daerah atau desa yang berada di Kecamatan Sidamanik Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara.

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi adalah seluruh kumpulan elemen yang menunjukkan ciri-ciri tertentu yang dapat digunakan untuk membuat kesimpulan. Jadi, kumpulan elemen itu menunjukkan jumlah, sedangkan ciri-ciri tertentu menujukkan karateristik dari kumpulan itu (Sanusi, 2011). Pengambilan populasi dalam

(50)

penelitian ini yaitu sampel random sederhana (Simple Random Sampling), merupakan teknik pengambilan sampel yang memberikan kesempatan yang sama kepada setiap anggota yang ada dalam suatu populasi untuk dijadikan sampel (syofian siregar,2014).

3.3.2 Sampel

Sampel adalah bagian elemen-elemen dari populasi yang terpilih (Sanusi,2011), atau merupakan bagian dari populasi yang diteliti secara rinci.

Dalam penelitian yang dilakukan, peneliti mengambil sampel dengan menentukan ukuran sampel menurut ketentuan Slovin. Ukuran sampel slovin memasukkan unsur kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditoleransi. Nilai toleransi ini dinyatakan dalam persentase, rumus yang digunakan adalah :

= 99,99

n = 100 Dimana ; n = ukuran sampel.

N = ukuran populasi.

e 2= toleransi ketidaktelitian (%)

Dalam penelitian ini jumlah populasi penduduk dengan batas kesalahan atau informasi ketidaktelitian yang dinginkan adalah 10%. Dengan ukuran populasi berdasarkan keterangan dari Badan Pusat Statistik (BPS) , berjumlah 27.307 jiwa. Dengan mengikuti perhitungan diatas hasilnya adalah sebanyak 100 sampel, maka jumlah responden yang akan diambil adalah 100 orang responden dari 14 Desa.Dengan kriteria responden adalah masyarakat berusia produktif yaitu

(51)

36

3.4 Jenis dan Metode Pengumpulan Data 3.4.1 Jenis Data

Data yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah :

1.Data primer adalah data yang diperoleh dengan survey lapangan atau yang diperoleh secara langsung dari masyarakat desa dengan menggunakan daftar pertanyaan atau kuisioner yang sudah disiapkan sebelumnya.

2. Data sekunder merupakan data yang sudah tersedia akan dikumpulkan oleh pihak lain. Terkait dengan data sekunder, peneliti tinggal memanfaatkan data tersebut menurut kebutuhannya (Sanusi,2011). Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), instansi terkait lainnya, berbagai media cetak dan media online (internet) beserta dari berbagai jurnal, literatur, dan buku yang berkaitan dengan penelitian ini.

3.4.2 Metode Pengumpulan Data

Agar diperoleh data yang objektif, maka metode yang digunakan oleh penulis adalah :

1. Wawancara

Yaitu merupakan teknik pengumpulan data yang menggunakan pertanyaan secara lisan kepada subjek penelitian untuk tujuan memperoleh informasi yang relevan (Sanusi,2011).

(52)

2. Kuisioner

Data primer yang diperoleh dengan cara terjun langsung ke lapangan terhadap objek yang telah dipilih, yaitu dengan mengedarkan kuisioner.

Kuisioner yaitu suatu rangkaian pertanyaan yang dibuat secara relevan untuk memperoleh jawaban dari responden (Sanusi,2011).

3. Studi kepustakaan

Yaitu dengan data yang didapat melalui kepustakaan dengan mempelajari buku-buku, jurnal literatur dan bahan perkuliahan yang kiranya punya relevansi langsung dengan masalah skripsi penulis.

3.5 Teknik Analisis Data 3.5.1 Analisis Deskriptif

Untuk menjawab permasalahan pertama dan kedua digunakan analasis deskriptif. Dimana untuk permasalahan pertama yaitu menganalisis pengelolaan dana desa dalam tiga tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan pertanggung jawaban.

Sedangkan permasalahan kedua yaitu persepsi masyarakat terhadap manfaat dana desa pada pembangunan desa di Kecamatan Sidamanik Kabupaten Simalungun.

3.6 Operasional Variabel

Untuk lebih jelas mengukur konsep penelitian menjadi lebih operasional, maka di bawah ini dirumuskan operasionalisasi dari masing-masing variabel menjadi operasionalisasi variabel.

Figure

Tabel 2.1  Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1

Penelitian Terdahulu p.46
Gambar 2.1  Kerangka Konseptual DANA DESA PENGELOLAAN DANA DESA  PERSEPSI  MASYARAKAT PEMBANGUNAN DESA KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

Gambar 2.1

Kerangka Konseptual DANA DESA PENGELOLAAN DANA DESA PERSEPSI MASYARAKAT PEMBANGUNAN DESA KESEJAHTERAAN MASYARAKAT p.48

References

Outline : Dana Desa

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in