Deskripsi tingkat pacaran yang sehat pada siswa-siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 dan implikasinya terhadap usulan topik-topik bimbingan klasikal
Teks penuh
(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. DESKRIPSI TINGKAT PACARAN YANG SEHAT PADA SISWA-SISWI KELAS XII SMA SANG TIMUR YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2013/2014 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN KLASIKAL SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling. Oleh: Breni Yuniarta NIM: 081114042. PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2015 i.
(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. ii.
(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. iii.
(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. HALAMAN PERSEMBAHAN Dengan penuh kasih skripsi ini saya persembahkan kepada: Almamaterku: Universitas Sanata Dharma Tuhan Yesus Kristus yang selalu menyertai dan memberkatiku pada saat saya berkarya di dalam penelitian skripsi. Ayahku “Sanusi Ginting” dan Ibuku “Ngatini” yang tercinta. Kakak Deka Santi, Kakak Oksiti Mariana, Kakak Jadiati Natalia, dan Kakak Rehulina yang ku sayang. Gerald Nylatius Ketaren dan Jovanka Kabrina Br.Torong yang ku cinta. Keluarga besar Sagan ( Bibi Seti, Lek entis, Ibu Tuti, pak’ de, bu’de, Om besar) yang selalu mendampingi, memberikan motivasi, dan mendukung dalam doa. Muhammad Muslih yang selalu memberikan semangat dan doa.. iv.
(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. MOTTO. “Pendidikan merupakan perlengkapan paling baik untuk hari tua.” ( Aristoteles ) Keluargamu adalah alasan bagi kerja kerasmu, maka janganlah sampai engkau menelantarkan mereka karena kerja kerasmu. (Breni Yuniarta) Jika kita sedang berada di dalam kegagalan, jangan ratapi kegagalan itu, percaya bahwa Tuhan telah memberikan cara lain untuk kita. (Breni Yuniarta). v.
(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian dari orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.. Yogyakarta, 26 Januari 2015 Penulis. Breni Yuniarta. vi.
(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS. Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama. : Breni Yuniarta. NIM. : 081114042. Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, karya ilmiah saya yang berjudul: “DESKRIPSI TINGKAT PACARAN YANG SEHAT PADA SISWA-SISWI KELAS XII SMA SANG TIMUR YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2013/2014 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIKTOPIK BIMBINGAN KLASIKAL.” Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan hak kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.. Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal 26 Januari 2015 Yang menyatakan,. Breni Yuniarta. vii.
(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. ABSTRAK DESKRIPSI TINGKAT PACARAN YANG SEHAT PADA SISWA-SISWI KELAS XII SMA SANG TIMUR YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2013/2014 DAN IMPLIKASINYA TERHADAP USULAN TOPIK-TOPIK BIMBINGAN KLASIKAL Breni Yuniarta Universitas Sanata Dharma 2015 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pacaran yang sehat pada siswa-siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 dan mengidentifikasi item-item perilaku pacaran yang kurang sehat untuk diusulkan sebagai topik-topik bimbingan yang relevan untuk meningkatkan pemahaman mengenai pacaran yang sehat pada siswa-siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 yang sedang berpacaran berjumlah 57 siswa. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala tingkat pacaran yang sehat. Teknik analisis data yang digunakan adalah perhitungan persentase dan tingkat dengan pendistribusiannya berdasarkan rumus Penilaian Acuan Patokan Tipe I. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pacaran yang sehat siswa-siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 memiliki tingkat pacaran yang sehat dengan kualifikasi sehat sebanyak 11 siswa-siswi (19,30%), sebanyak 45 siswa-siswi (78,95%) memiliki tingkat pacaran yang sehat dengan kualifikasi cukup sehat dan sebanyak 1 siswa (1,75%) yang memiliki tingkat pacaran yang sehat dengan kualifikasi kurang sehat. Jadi, dari keseluruhan data penelitian yang diperoleh, maka siswa-siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 pada umumnya memiliki tingkat pacaran yang sehat yang termasuk dalam kualifikasi cukup sehat yaitu sebanyak 45 siswasiswi (78,95%). Berdasarkan hasil uji butir item ditemukan bahwa terdapat 2 butir item yang masuk dalam kategori kurang sehat. Item tersebut yaitu “saya dan pacar saya sering sms-an disaat jam pelajaran” serta “saya berani mengakui bahwa dukungan dari pacar dapat mempengaruhi hasil ujian menjadi lebih baik”. Usulan topik-topik bimbingan klasikal untuk siswa-siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 disajikan penyusunan urutan topik bimbingan didasarkan pada aspek meningkatkan komitmen (increase commitment) dan komunikasi (communication self) serta urutan yang ada yaitu pada topik aku yakin bisa bersikap dan berpikir positif dan aku yakin bisa berpikir positif.. viii.
(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. ABSTRACT DESCRIPTION OF THE LEVEL OF HEALTHY DATING RELATIONSHIPS AMONG THE TWELFTH GRADE STUDENTS OF SANG TIMUR SENIOR HIGH SCHOOL YOGYAKARTA ACADEMIC YEAR 2013/2014 AND ITS IMPLICATION ON TOPICS PROPOSED FOR GROUP GUIDANCE Breni Yuniarta Sanata Dharma University 2015 This research aims at finding out the level of healthy dating relationships among the twelfth grade students of Sang Timur Senior High School Academic Year 2013/2014 and identifying the items of unhealthy dating behaviors to be the topics proposed for relevant group guidance to increase understanding of healthy dating relationships among the twelfth grade students of Sang Timur Senior High School Yogyakarta, academic year 2013/2014. This is a quantitative research. The subjects of the research were 57 twelfth grade students of Sang Timur Senior High School Yogyakarta academic year 2013/2014 who were currently in dating relationships. The research instrument employed for this research was a scale of healthy dating relationships level. The data analysis technique was the percentage calculation and the level of distribution based on the criterion-referenced evaluation Type I. The research results showed that 11 students (19.30%) were qualified for having a healthy level of dating, 45 students (78.95%) were qualified for quite healthy level of dating, and 1 student (1.75%) was categorized as having an unhealthy level of dating relationships. Therefore, from the overall data, in average the twelfth grade students of Sang Timur Senior High School Yogyakarta, academic year 2013/2014 were qualified for having quite healthy level of datingrelationships, represented by 45 students (78.95%). Based on the item testing, two items were categorized as unhealthy. The items were “my boy/girlfriend and I text each other during classes” and “I admit that my girl/boyfriend supports can influence my grades to be better.” The topics to be proposed for class guidance to the twelfth grade students of Sang Timur Senior High School Yogyakarta academic year 2013/2014 were presented based on the aspects of increase commitment and communication self and based on the existing order such as on topics “I am sure I can think and behave positively” and “I am sure I can think positively.”. ix.
(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. KATA PENGANTAR. Puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas segala rahmat dan berkat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Penulis menyadari bahwa seluruh pengalaman yang dialami saat mengerjakan skripsi ini merupakan penyertaan dan pertolongan yang terindah dari Tuhan. Skripsi ini disusun sebagai tugas akhir memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan. Penulisan skripsi ini juga tidak lepas dari proses perkuliahan selama 13 semester, dimana penulis merasakan banyak kegembiraan dan kebahagian bersama teman-teman, para dosen dan orang-orang yang dijumpai dan berproses bersama. Untuk itu penulis mengucapkan limpah terima kasih kepada: 1. Dr. Gendon Barus, M.Si. sebagai Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2. Ag. Krisna Indah Marheni, S.Pd., M.A. sebagai Dosen pembimbing skripsi yang selalu sabar membimbing penulis dalam mengerjakan skripsi, dan memberi motivasi kepada penulis untuk segera menyelesaikan skripsi ini. 3. Seluruh dosen Program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma yang telah membekali peneliti dengan berbagai ilmu pengetahuan selama ini sehingga berguna bagi peneliti. 4. St. Priyatmoko, yang selalu setia dan sabar membantu peneliti dalam hal surat-menyurat dan administrasi lainnya.. x.
(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 5. Sr. Natalia PIJ M.Pd., sebagai Kepala Sekolah dan Maulita Eka Santi, S.Pd., M.A., sebagai guru BK SMA Sang Timur Yogyakarta yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengadakan penelitian di sekolah tersebut. 6. Siwa-siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta yang telah memberikan waktu dan pikirannya dalam pengisian angket. 7. Ayahku “Sanusi Ginting” dan Ibuku “Ngatini” yang tercinta yang selalu memberikan dukungan, cinta kasihnya, dan doa. 8. Kakak-kakak ku yang tercinta ( Deka Santi, Oksiti Mariana, Jadiati Natalia, dan Rehulina) yang selalu memberikan motivasi, doa, dan saling berbagi cerita yang telah mewarnai hidupku. 9. Semua teman-teman angkatan 2008, Ida Nurul, Wilhelmina Maran, Laurentius Bagus Tri Hananto, Teofilus Tri Yanuar sahabat-sahabat saya yang selalu mendukung, dan membantu saya dalam penelitian skripsi. 10. Muhammad Muslih yang selalu memberikan bantuan, semangat, dukungan, doa dan mendengarkan curahan hati ku. Penulis menyadari akan kekurangan dan kelemahan penulis dalam mengerjakan skripsi ini. Penulis mohon maaf apabila dalam skripsi ini terdapat banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan skripsi ini. Terima kasih. Yogyakarta, 26 Januari 2015 Penulis. Breni Yuniarta xi.
(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ............................................................................ i. HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING..................................... ii. HALAMAN PENGESAHAN ............................................................... iii. HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN .................................... iv. HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................ v. HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI .............. vi. ABSTRAK ........................................................................................... vii. ABSTRACT ........................................................................................... viii. KATA PENGANTAR .......................................................................... ix. DAFTAR ISI ........................................................................................ xi. DAFTAR TABEL ................................................................................ xiv. DAFTAR GAMBAR ............................................................................ xv. DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................... xvi. BAB I PENDAHULUAN A. B. C. D. E.. Latar Belakang Masalah ........................................................... Perumusan Masalah.................................................................. Tujuan Penelitian ..................................................................... Manfaat Penelitian ................................................................... Definisi Operasional Variabel Penelitian ................................... 1 5 5 6 7. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pacaran yang Sehat................................................................... 1. Pengertian Pacaran yang Sehat...................................... 2. Tujuan Pacaran yang Sehat ........................................... 3. Ciri-Ciri Pacaran yang Sehat ......................................... 4. Aspek-Aspek Pacaran yang Sehat ................................. 5. Faktor-Faktor Pacaran yang Sehat .................................. xii. 8 8 10 15 17 19.
(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. B. Remaja ..................................................................................... 1. Pengertian Remaja ........................................................ 2. Tugas-Tugas Perkembangan Remaja ............................ 3. Pentingnya Pacaran yang Sehat pada Usia Remaja ......... 21 21 22 27. BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian......................................................................... B. Subjek Penelitian...................................................................... C. Alat Pengumpulan Data ............................................................ 1. Kuesioner ..................................................................... 2. Validitas ....................................................................... 3. Reliabilitas.................................................................... D. Uji Coba Instrumen Penelitian .................................................. E. Pengumpulan Data Penelitian ................................................... F. Teknik Analisis Data ................................................................ G. Perhitungan Penilaian Acuan Patokan ....................................... 30 31 32 32 35 36 37 40 40 42. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Responden........................................................... B. Hasil Penelitian ........................................................................ C. Pembahasan .............................................................................. 44 45 50. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan .............................................................................. B. Saran ........................................................................................ C. Keterbatasan Penelitian ............................................................. 59 60 61. DAFTAR PUSTAKA .......................................................................... 62. LAMPIRAN ........................................................................................ 64. xiii.
(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. DAFTAR TABEL. Halaman. Tabel. 1. Rincian Jumlah Siswa-Siswi Kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 ............................... Tabel. 2. 31. Rincian Kisi-Kisi Tingkat Pacaran yang Sehat Siswa-Siswi Kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 ............................... Tabel. 3. 34. Konstruk Instrumen Tingkat Pacaran yang Sehat Siswa-Siswi Kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 ............................... 38. Tabel. 4. Kualifikasi Reliabilitas ..................................................... 39. Tabel. 5. Penilaian Acuan Patokan (PAP) Tipe I ............................. 42. Tabel. 6. Penghitungan Acuan Patokan (PAP) Tipe I....................... 43. Tabel. 7. Karakteristik Responden Menurut Jenis Kelamin .............. 44. Tabel. 8. Karakteristik Responden Menurut Status Berpacaran ........ 45. Tabel. 9. Penghitungan Acuan Patokan (PAP) Tipe I....................... 46. Tabel 10. Penggolongan Tingkat Pacaran yang Sehat Siswa-Siswi Kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014......................................................................... Tabel 11. 46. Kategorisasi Skor Item Tingkat Pacaran yang Sehat Siswa-Siswi Kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 .................................................. Tabel 12. Item-Item Tingkat Pacaran yang Sehat Siswa-Siswi Kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta xiv. 48.
(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. Tahun Ajaran 2013/2014 yang Tergolong Rendah ........... Tabel 13. 50. Usulan Topik-Topik Bimbingan Tingkat Pacaran Yang Sehat Pada Siswa-Siswi Kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 ............................... xv. 58.
(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. DAFTAR GAMBAR. Halaman Gambar. 1.. Kategorisasi Tingkat Pacaran yang Sehat ...................... 47. Gambar. 2.. Norma Kategorisasi Item Tingkat Pacaran yang Sehat .. 49. xvi.
(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. BAB I PENDAHULUAN. Bab pendahuluan ini berisi uraian latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan definisi operasional variabel penelitian.. A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan masa transisi dari masa anak menuju dewasa, yang ditandai adanya proses perubahan pada fisik maupun psikologisnya. Pada masa ini organ-organ seksual sudah mulai matang, yang ditandai dengan munculnya dorongan seks yang kuat, keberanian untuk menunjukkan seks appeal, serta keinginan untuk mendekati lawan jenis (Haditomo,2002). Hal ini ditandai dengan sikap-sikap bijak remaja dalam pacaran yang sehat, meliputi saling percaya, saling menghargai dan saling menghormati. Pada masa ini juga, remaja mengalami proses peralihan yang terjadi pada fisiknya maupun emosinya, dari masa anak-anak ke arah kedewasaan. Perubahan secara fisik maupun psikologis yang terjadi selama masa remaja mempengaruhi tingkat perilaku individunya sehingga masa remaja merupakan masa yang penting dalam rentang kehidupan manusia, terutama dalam pembentukan kepribadiannya, sebab pada masa-masa tersebut terjadi perubahan-perubahan yang mempengaruhi tahap kehidupan selanjutnya (Hurlock, 2007). Seiring bertambah dewasanya seorang remaja, hendaknya mampu menghadapi dan menyelesaikan tugas-tugas perkembangan remaja dengan. 1.
(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 2. baik, khususnya dalam hal bersosialisasi, pergaulannya dengan lawan jenis serta pacaran yang sehat. Pacaran yang sehat adalah serangkaian aktivitas bersama yang diwarnai adanya rasa kepemilikan dan keterbukaan diri serta adanya ketertarikan emosi antara pria dan wanita yang belum menikah dengan tujuan saling mengenal dan melihat kesesuaian antara satu sama lain sebagai pertimbangan sebelum menikah, meliputi pacaran sehat yang memenuhi kriteria sehat, baik sehat secara fisik, sehat psikis maupun sehat sosial (PKBI,2007). Menurut Steinberg (2002), beberapa aspek-aspek penting dalam pacaran yang sehat, antara lain adanya saling percaya, adanya komunikasi, keintiman dan komitmen, sehingga dengan adanya aspek-aspek ini akan mempengaruhi kualitas dan kelanggengan hubungan pacaran yang dijalani. Namun, tidak sedikit remaja yang telah melakukan tindakan pacaran yang tidak sehat sebelum pernikahan. Selain itu, minimnya informasi yang diperoleh para remaja tentang pacaran yang sehat, dapat menjadikan remaja mencari pengetahuan tentang pacaran secara terbuka, seperti pacaran yang tidak sehat (Syamsulhuda dan Winarti,2010). Menurut Devito (2011), salah satu ciri pacaran yang sehat adalah komunikasi yang efektif salah satunya ditandai dengan adanya keterbukaan (openness). permasalahan. Keterbukaan hendaknya. merupakan. segala. diungkapkan. ide,. secara. gagasan. bebas. dan. di. mana. terbuka.. Keterbukaan dalam hubungan meliputi kemauan menanggapi dengan senang hati informasi yang diterima. Kualitas keterbukaan mengacu pada kesediaan.
(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 3. untuk membuka diri dan mengungkapkan informasi yang biasanya disembunyikan. Kesediaan membuka diri atau yang sering disebut pengungkapan diri, merupakan aspek yang penting dalam menjalin komunikasi dalam pacaran sehat yang efektif dan memuaskan (Devito,2011). Evi dkk (2013) mengemukakan bahwa pendekatan antar pasangan dengan melakukan aktivitas yaitu berkomunikasi dengan pasangan melalui telepon seluler atau alat komunikasi lain seperti e-mail dan lain-lain tanpa ada yang mengarah hubungan yang tidak sehat. Menurut Iwan (2010), pacaran merupakan masa pendekatan antar individu dari kedua lawan jenis, yang ditandai dengan saling pengenalan pribadi baik kekurangan dan kelebihan dari masing-masing individu. Lies (2004) menjelaskan bahwa pacaran mempunyai dua jenis yaitu pacaran sehat dan pacaran tidak sehat. Pacaran sehat yaitu yang memenuhi kriteria sehat, baik sehat secara fisik, sehat psikis maupun sehat sosial. Pacaran yang tidak sehat adalah pacaran yang tidak bertanggungjawab, tujuannya tidak jelas dan merugikan orang lain. Pacaran yang tidak sehat antara lain meliputi cemburu yang berlebihan, terlalu posesif, bertengkar terus menerus, ada paksaan, bukan untuk kesenangan melainkan menimbulkan stress dan tertekan. Tidak sedikit remaja yang tidak tahu bagaimana mencari informasi yang memadai tentang pacaran yang sehat, baik di rumah maupun di sekolah. Apabila remaja tidak tahu bagaimana memperoleh informasi mengenai pacaran yang sehat maka remaja tersebut dapat terjerumus ke dalam penyalahgunaan pacaran yang tidak sehat sehingga informasi tersebut.
(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 4. diperlukan oleh remaja agar tidak menimbulkan persepsi yang salah mengenai pacaran yang sehat. Sebaliknya, remaja yang tahu informasi tentang pacaran yang sehat secara benar maka dapat terhindar dari penyimpangan dan penyalahgunaan pacaran yang tidak sehat (PKBI, 2007). Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) dan BAPPENAS (2010), sekitar 18% dari 63 juta jiwa remaja di Indonesia berperilaku pacaran tidak sehat yaitu hamil diluar nikah, sedangkan 12,6% berperilaku pacaran yang sehat yang ditunjukkan tidak adanya kekerasan di dalam berpacaran. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa remaja dalam hal ini adalah siswa-siswi Sekolah Menengah Atas sangat rentan terhadap penyalahgunaan mengenai pacaran yang tidak sehat. Berdasarkan survey pendahuluan yang dilakukan peneliti terhadap siswa-siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta, bentuk-bentuk perilaku pacaran tidak sehat juga pernah terjadi di SMA Sang Timur Yogyakarta, di mana siswa yang berpacaran ada yang terlibat sampai melakukan pertengkaran terhadap pasangan yang disebabkan cemburu yang berlebihan di dalam kelas saat jam istirahat dan pada saat selesai pembelajaran. Pihak sekolah jelas memiliki tugas pengawasan di lingkungan sekolah, misalnya dengan penegakan peraturan sekolah secara lebih tegas. Guru bimbingan dan konseling dalam hal ini di sekolah perlu bersikap lebih terbuka, dengan demikian siswa-siswi merasa akrab untuk berdiskusi tentang masalahmasalah yang mereka alami mengenai pacaran yang sehat..
(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 5. Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan mengambil judul “Deskripsi Tingkat Pacaran Yang Sehat Pada Siswa-Siswi Kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 dan Implikasinya Terhadap Usulan TopikTopik Bimbingan Klasikal”, dengan tujuan untuk mendeskripsikan seberapa sehat tingkat pacaran yang sehat pada siswa-siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014.. B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian-uraian pada latar belakang masalah tersebut di atas, maka rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah: 1.. Seberapa sehat perilaku berpacaran pada siswa-siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014?. 2.. Berdasarkan hasil analisis capaian skor butir-butir instrumen pacaran yang sehat pada siswa-siswi kelas XII yang terindikasi pada kategori kurang sehat, topik-topik bimbingan apa saja yang relevan untuk meningkatkan pemahaman mengenai pacaran yang sehat?. C. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah : 1.. Mengetahui tingkat pacaran yang sehat pada siswa-siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014..
(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 2.. 6. Mengidentifikasi item-item perilaku pacaran yang kurang sehat untuk diusulkan. sebagai. topik-topik. bimbingan. yang. relevan. untuk. meningkatkan pemahaman mengenai pacaran yang sehat pada siswasiswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014.. D. Manfaat Penelitian 1.. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini sebagai bahan masukan untuk menambah wawasan dan kajian keilmuan dalam bidang ilmu Bimbingan dan Konseling tentang tingkat pacaran yang sehat.. 2.. Manfaat Praktis a.. Bagi Guru Bimbingan dan Konseling SMA Sang Timur Yogyakarta Dengan mengetahui seberapa sehat tingkat pacaran yang sehat pada siswa SMA, maka Guru Bimbingan dan Konseling diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pacaran yang sehat melalui bimbingan klasikal maupun diskusi dengan topik pacaran yang sehat.. b.. Bagi Peneliti Dengan mengetahui seberapa sehat tingkat pacaran yang sehat pada siswa SMA, peneliti mendapat pengetahuan mengenai pacaran yang sehat untuk dijadikan bekal sebagai salah satu topik bimbingan apabila menjadi guru Bimbingan dan Konseling di dunia kerja kelak..
(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. c.. 7. Bagi Siswa SMA Sang Timur Yogyakarta Bagi subjek penelitian diharapkan hasil penelitian ini dapat membantu untuk lebih memahami mengenai pacaran yang sehat dan tentang pentingnya pacaran yang sehat.. E. Definisi Operasional Variabel Penelitian 1.. Pacaran yang Sehat Pacaran yang sehat adalah suatu proses penjajakan antara dua individu yang belum menikah dengan tujuan saling mengenal dan melihat kesesuaian antara satu sama lain yang dalam prosesnya meliputi pacaran sehat yang memenuhi kriteria sehat, baik sehat secara fisik, sehat psikis maupun sehat sosial.. 2.. Siswa dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 yang berpacaran dan pernah berpacaran..
(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pada bab ini dipaparkan kajian tentang pacaran yang sehat (pengertian pacaran yang sehat, tujuan pacaran yang sehat, aspek-aspek pacaran yang sehat, faktor-faktor pacaran yang sehat, ciri-ciri pacaran yang sehat, remaja (pengertian remaja, tugas-tugas perkembangan remaja dan pentingnya pacaran yang sehat pada usia remaja).. A. Pacaran yang Sehat 1. Pengertian Pacaran yang Sehat Pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai. hubungan. berdasarkan. cinta-kasih.. Memacari. adalah. menjadikan dia sebagai pacar untuk saling bertemu di suatu tempat dengan waktu yang telah ditetapkan bersama. Pacaran merupakan proses perkenalan antara dua insan manusia yang biasanya berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan berkeluarga yang dikenal dengan pernikahan. Pacaran bagi kalangan remaja sudah bukan hal yang asing lagi. Bahkan banyak remaja memiliki anggapan bahwa masa remaja adalah masa berpacaran (Novita, 2008). Pacaran yang sehat adalah serangkaian aktivitas bersama yang diwarnai keintiman (seperti adanya rasa kepemilikan dan keterbukaan diri) serta adanya ketertarikan emosi antara pria dan wanita yang belum 8.
(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 9. menikah. Dalam hal ini aktivitas bersama tersebut mempunyai tujuan saling mengenal dan melihat kesesuaian antara satu sama lain sebagai pertimbangan sebelum menikah, meliputi pacaran sehat yang memenuhi kriteria sehat baik sehat secara fisik, sehat psikis maupun sehat sosial (PKBI, 2007). Pacaran sehat yang dimaksud adalah perilaku pacaran sehat yang memenuhi kriteria sehat, baik sehat secara fisik, sehat psikis, maupun sehat sosial (Iwan, 2010). Pacaran yang sehat secara fisik ditunjukkan dengan tidak ditemuinya bentuk kekerasan fisik yang dilakukan terhadap pacar. Pacaran yang sehat secara psikis ditunjukkan dengan sikap-sikap yang bijak sepasang individu yang terlibat dalam hubungan pacaran yang sehat, dalam arti mampu mengendalikan emosi serta berempati terhadap pasangan. Pacaran yang sehat secara sosial bahwa manusia merupakan mahkluk sosial yang perlu berinteraksi dengan sesama, meskipun sudah terikat komitmen pacaran, sebaiknya pasangan tidak berlaku saling mengikat dalam ranah sosial. Dimulai dari pendekatan, pengenalan pribadi, hingga akhirnya menjalani hubungan yang lebih serius untuk meningkatkan komitmen menuju pernikahan. Aktivitas pacaran yang sehat mempunyai tradisi pacaran yang memiliki variasi dalam pelaksanaannya dan sangat dipengaruhi oleh tradisi individu-individu dalam masyarakat yang terlibat. Pacaran yang sehat sendiri sering dimaknai sebagai suatu proses pacaran dimana keadaan fisik, pada intinya dilarang kontak dalam tindakan fisik yaitu tidak.
(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 10. melakukan perbuatan yang berisiko terhadap pasangan (Evi dkk, 2013). Definisi lain menyebutkan pacaran yang sehat secara umum, mengacu pada perasaan, pikiran atau perilaku dalam pacaran yang sehat terkait dengan sikap, perasaan cinta, membuka diri dan komitmen (Hendrick, 1998). Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas dapat disimpulkan pacaran yang sehat diartikan sebagai perilaku pacaran sehat yang memenuhi kriteria sehat, baik sehat secara fisik, sehat psikis maupun sehat sosial.. 2. Tujuan Pacaran yang Sehat Pada perkembangannya pacaran pada zaman sekarang sudah merupakan suatu model, apabila seseorang belum pernah pacaran bisa dikatakan ketinggalan zaman. Hal itulah yang membuat remaja membangun persepsi bagi remaja untuk berpacaran. Tujuan utama pacaran yang sehat adalah saling mengenal satu sama lain dan mempunyai tujuan sehat secara fisik yang berarti dalam berpacaran tidak membahayakan secara fisik, secara psikis berarti dalam berpacaran tidak menghambat perkembangan pribadi masing-masing pasangan serta saling menghormati dan saling berbagi tanggungjawab dan sehat secara sosial yang berarti dalam berpacaran mampu mempertimbangkan nilai-nilai atau normanorma yang berlaku dalam masyarakat..
(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 11. Pacaran yang sehat yang dilakukan remaja memiliki berbagai tujuan diantaranya adalah pacaran bisa meningkatkan semangat belajar, pacaran diakui mampu menghilangkan kejenuhan atau membuat hidup lebih hidup, pacaran memiliki tujuan untuk saling terbuka dalam berbagi pikiran dan perasaan untuk mengetahui pribadi pasangan dari yang dicintainya agar kalau menikah tidak perlu ragu-ragu lagi, pacaran juga diyakini bisa membawa rezeki. Berdasarkan hal tersebut pacaran yang sehat memiliki tujuan sehat baik sehat secara fisik, sehat secara psikis, sehat secara sosial maupun sehat seksual (Hirmaningsih dkk, 1997). Santrock (2003) mengemukakan ada beberapa alasan mengenai perilaku berpacaran pada remaja, diantaranya adalah : a. Suatu bentuk rekreasi Salah satu alasan bagi remaja berpacaran adalah untuk bersantai-santai, menikmati diri mereka sendiri dan memperoleh kesenangan. Hurlock (2007) juga mengemukakan dimana perilaku berpacaran adalah untuk hiburan semata. b. Proses sosialisasi Pacaran akan terjadi interaksi tolong menolong, sebagaimana berteman dengan orang lain. Sehingga dengan interaksi yang dibangun, baik dengan pasangan, maupun dengan teman lainnya akan meningkatkan seni dalam berbicara, bekerja sama, dan memperhatikan orang lain..
(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 12. c. Menjalin keakraban dengan lawan jenis Pacaran memberikan kesempatan untuk menciptakan hubungan yang unik dengan lawan jenis. Berpacaran juga dapat melatih ketrampilanketrampilan sosial, mengatur waktu, uang dan melatih kemandirian. d. Eksperimen dan penggalian hal-hal seksual Pacaran menjadi lebih berorientasi seksual dengan adanya peningkatan jumlah kaum muda yang semakin tertarik untuk melakukan hubungan intim. e. Pemilihan teman hidup Berpacaran adalah ajang penyeleksian pasangan. Remaja melalui berpacaran dapat menjajaki sifat-sifat pasangan sesuai yang diinginkan sebagai teman hidup. Berpacaran dapat menjadi alat untuk memilih dan menyeleksi pasangan dan tetap memainkan fungsi awalnya sebagai masa perkenalan untuk hubungan yang lebih jauh. f. Pacaran dapat memahami perkembangan pemahaman yang lebih baik tentang sikap dan prilaku pasangan satu sama lain, pasangan dapat belajar bagaimana cara mempertahankan hubungan dan bagaimana mendiskusikan dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang terjadi. Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku remaja berpacaran yaitu sebagai bentuk rekreasi, proses sosialisasi, menjalin keakraban dengan lawan jenis, eksperimen dan.
(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 13. penggalian hal-hal seksual, pemilihan teman hidup dan mengembangkan pemahaman sikap. Arifin (2002) mengatakan adanya dampak positif dari perilaku pacaran yang sehat bagi remaja antara lain adalah : a) Prestasi sekolah Seiring aktivitas berpacaran pasti terdapat suatu permasalahan yang dapat. membuat. pasangan. tersebut. bertengkar.. Dampak. dari. pertengkaran itu dapat mempengaruhi prestasi mereka di sekolah. Tetapi tidak menutup kemungkinan dapat mendorong remaja untuk lebih meningkatkan prestasi belajar. b) Pergaulan sosial Pergaulan sosial dikalangan remaja bisa tambah meluas atau menyempit. Pergaulan sosial dikalangan siswa-siswi bisa tambah menyempit, jika sang pacar membatasi pergaulan dengan yang lain (tidak boleh bergaul dengan yang lain selain dengan aku). Pergaulan tambah meluas, jika pola interaksi dalam peran hanya berkegiatan berdua, tetapi banyak terlibat interaksi dengan orang lainnya (saudara, teman, keluarga dan lain-lain). c) Mengisi waktu luang Aktivitas berpacaran yang dilakukan oleh remaja bisa bertambah bervariatif atau justru malah terbatas. Umumnya, aktivitas pacaran yang tidak produktif misalnya mengobrol, nonton, makan dan sebagainya dapat menjadi aktivitas berpacaran yang produktif jika.
(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 14. kegiatan pacaran diisi dengan hal-hal yang positif misalnya dengan olahraga bersama, berkebun, memelihara binatang dan sebagainya. d) Berkembang perilaku baru Pacaran dapat bermakna munculnya perilaku yang positif. Pacaran yang sehat bisa membantu seseorang mengembangkan perilaku yang positif dengan interaksi yang terbentuk bersifat positif. Misalnya pacaran dengan orang yang punya kebiasaan motret (jago motret), maka bukan tidak mungkin kita akan tertular barang sedikit tentang motret. e) Mempunyai sikap saling terbuka Sikap saling terbuka mau berbagi pikiran dan perasaan secara terbuka, jujur, mau berterus terang dengan perasaan kita terhadap tingkah laku pacar sehingga satu sama lain siap menerima kritik maupun kompromi. f). Perasaan aman, nyaman, tenang serta terlindungi. Masa berpacaran setiap pasangan dapat dilakukan untuk saling mengekspresikan perasaan maupun pemikiran serta pengalaman masing-masing. Masa berpacaran akan memberikan kesempatan bagi pasangan dapat berperan sebagai teman untuk berbagi suka dan duka serta saling memberi dan menerima dengan demikian akan menimbulkan perasaan aman nyaman, tenang bahkan merasa terlindungi diantara setiap pasangan..
(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 15. Berdasarkan uraian-uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa dampak positif dari perilaku pacaran yang sehat bagi remaja adalah sebagai sarana peningkatan prestasi belajar, mengembangkan perilaku baru, sosialisasi, mengisi waktu luang, mengembangkan sikap saling keterbukaan dan menimbulkan perasaan aman, nyaman, tenang serta terlindungi diantara pasangan.. 3. Ciri-Ciri Pacaran yang Sehat Ciri-ciri pacaran yang sehat menurut Hastyarsa (2011) sebagai berikut: a) Menjadikan pacar sebagai sahabat. Remaja yang melakukan aktivitas berpacaran mempunyai tujuan menjadikan pacar sebagai sahabat dan apabila hal ini terjadi di dalam pacaran yang sehat maka hubungan yang dijalin akan nyaman untuk dijalani. b) Tidak melakukan hubungan badan sebelum menikah. Pacaran sehat yang dilakukan para remaja untuk tidak melakukan hubungan badan sebelum menikah, maka hal ini mengajarkan remaja dalam pacaran yang sehat untuk tidak melakukan perbuatan yang menyimpang yaitu berbuat zina..
(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 16. c) Tidak melakukan kekerasan terhadap pasangan. Aktivitas pacaran yang dilakukan kepada pacar apabila satu sama lain saling menghargai dan tidak melakukan kegiatan yang merugikan yaitu tidak melakukan kegiatan yang berupa kekerasan terhadap pasangan, dengan demikian hal ini bisa mengajarkan kepada setiap masing-masing pasangan dalam pacaran yang sehat untuk tidak melukai sesama manusia. d) Adanya kesederajatan antara sepasang kekasih. Hal ini menunjukkan sikap keberadaban manusia yang sudah tidak menerapkan sistem yang membuat wanita diperlakukan sebagai budak. e) Adanya keharmonisan antara sepasang kekasih. Apabila diterapkan dalam pacaran yang sehat antara sepasang kekasih dapat terjadi karena sepasang kekasih tidak akan membeda-bedakan suku bangsa, kebudayaan maupun agamanya sehingga akan tercipta keharmonisan. f). Adanya musyawarah untuk mencapai mufakat. Apabila setiap menghadapi masalah sepasang kekasih mau melakukan musyawarah dan membicarakan masalahnya dengan tenang tanpa kekerasan maka hubungan pacaran yang sehat mereka dapat berkelanjutan hingga ke jenjang pernikahan..
(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 17. g) Adanya keadilan dalam pacaran yang sehat. Aktivitas berpacaran bagi remaja dapat mengajarkan masing-masing pasangan untuk memperlakukan satu sama lain secara adil, misalnya setiap pacar dapat membagi waktu yang baik antara kegiatan dengan teman serta aktivitas berpacaran pasangan tersebut.. 4. Aspek-Aspek Pacaran yang Sehat Ada beberapa aspek-aspek penting dalam menjalin hubungan pacaran yang sehat. Aspek-aspek tersebut dalam hubungan akan mempengaruhi kualitas dan kelanggengan hubungan pacaran yang dijalani. Adapun aspek-aspek pacaran yang sehat tersebut antara lain (Steinberg, 2002): 1. Saling percaya (Trust each other). Kepercayaan dalam suatu hubungan akan menentukan apakah suatu hubungan akan berlanjut atau akan berhenti. Kepercayaan ini meliputi pemikiran tentang apa yang sedang dilakukan oleh pasangannya. Apabila di dalam hubungan ada ketidakpercayaan, maka di dalam hubungan tersebut dapat dikatakan hanya ada cinta, tetapi tidak dapat memiliki keintiman di dalamnya. Contohnya yaitu membicarakan tentang keyakinan spiritual di antara pasangan, dalam hal ini setiap pasangan remaja terbuka untuk berbicara tentang persamaan dan perbedaan dalam keyakinan agama..
(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 18. 2. Komunikasi (communication self). Komunikasi merupakan dasar terbinanya suatu hubungan yang baik dimana terdapat situasi yang memungkinkan seseorang mendapat kesempatan untuk bertukar informasi tentang dirinya dan orang lain, contohnya siswa-siswi SMA cenderung lebih sering mengungkapkan curhat (curahan hati) kepada teman pasangannya dibandingkan dengan orang tua atau guru bimbingan konseling. 3. Keintiman (keep romance alive). Keintiman merupakan perasaan terhadap pasangannya. Keintiman dapat diwujudkan dengan kedekatan emosional melalui kata-kata mesra dan perhatian, cinta yang diberikan melalui sms, surat atau e-mail. Contohnya seorang wanita yang masih SMA berpacaran dengan seorang laki-laki yang kebetulan masih satu sekolah, mereka melakukan pacaran dengan bercakap-cakap sampai waktu yang lama, merasa rindu bila tidak bertemu dan ada keinginan di antara mereka untuk saling bergandengan tangan atau saling merangkul bahu. 4. Meningkatkan komitmen (increase commitment). Komitmen merupakan tahapan di mana seseorang menjadi terkait dengan sesuatu atau seseorang dan terus bersamanya hingga hubungannya berakhir. Individu yang sedang pacaran, tidak dapat melakukan hubungan spesial dengan pria atau perempuan lain selama ia masih terkait hubungan pacaran dengan seseorang. Jadi, pasangan tersebut sudah menyadari bahwa berpacaran adalah awal menjalin suatu.
(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 19. hubungan dimana diharapkan dapat berlanjut kejenjang selanjutnya. Contohnya yaitu pasangan memilih untuk putus ketika mendapatkan kekerasan dan perilaku pacaran yang kasar serta melecehkan. Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek pacaran yang sehat meliputi, antara lain adanya saling percaya, adanya komunikasi, keintiman dan meningkatkan komitmen.. 5. Faktor-Faktor Pacaran yang Sehat Menurut Degenova & Rice (2005) pacaran adalah menjalankan suatu hubungan dimana dua orang bertemu dan melakukan serangkaian aktivitas bersama agar dapat mengenal satu sama lain. Faktor-faktor pacaran yang sehat pada remaja meliputi (PKBI, 2007) : a) Sehat secara fisik Pacaran dikatakan sehat secara fisik jika dalam aktivitas pacaran tersebut tidak ditemui kekerasan secara fisik. Hal ini berarti bahwa walaupun remaja putra secara fisik memang lebih kuat dari remaja putri, bukan berarti remaja putra seenaknya menindas ataupun memanipulasi remaja putri secara fisik. b) Sehat secara psikis Pacaran dikatakan sehat secara psikis, jika sepasang individu yang menjalaninya. mampu. saling. berempati. serta. mengungkapkan. dan. mengendalikan emosinya dengan baik, saling percaya, saling menghargai, dan saling menghormati. Jadi, hubungan di antara keduanya menjadi lebih nyaman, saling pengertian, dan juga ada keterbukaan..
(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 20. c) Sehat secara sosial Pacaran dikatakan sehat secara sosial jika aktivitas berpacaran tersebut tidak bersifat saling mengikat atau mengisolasi pasangan. Artinya, walaupun remaja putra dan putri terikat dalam komitmen pacaran, namun hubungan sosial masing-masing mereka dengan individu lain tetap harus dijaga dan sebaiknya remaja putra atau putri tidak hanya terfokus pada pacar atau pasangannya saja. d). Sehat seksual. Kemudian, pacaran juga harus sehat secara seksual. Secara biologis, kaum remaja mengalami perkembangan dan kematangan seks. Tanpa disadari, pacaran juga mempengaruhi kehidupan seksual seseorang. Kedekatan secara fisik dapat mendorong keinginan untuk melakukan kontak fisik yang lebih jauh. Jika hal itu diteruskan dan tidak terkontrol, maka dapat menimbulkan hal-hal yang sangat berisiko. Karena adanya resiko yang harus ditanggung akibat tindak seksual yang mereka lakukan, maka aktivitas pacaran yang mereka lakukan tidak lagi disebut sebagai pacaran yang ”sehat”.. Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor pacaran yang sehat adalah pacaran yang memenuhi kriteria sehat baik sehat secara fisik, sehat psikis, sehat secara sosial maupun sehat seksual..
(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 21. B. Remaja 1. Pengertian Remaja Masa remaja adalah periode peralihan dari masa anak ke masa dewasa (Widyastuti dkk, 2009). Menurut Kusmiran (2011), definisi remaja dapat dilihat dari tiga sudut pandang, yaitu: 1) Secara kronologis, remaja adalah individu yang berusia antara 11-12 tahun sampai 20-21 tahun. Remaja mulai ada kecanggungan dan kekakuan akibat perkembangan fisik dalam hal ini ada perasaan kebutuhan untuk bergaul dengan teman lawan jenis. 2) Secara fisik, remaja ditandai dengan adanya perubahan pada penampilan fisik dan fungsi fisiologis, terutama yang terkait dengan kelenjar seksual. Remaja mengalami perubahan fisik yang cepat dan dibarengi dengan perkembangan sikap dan citra diri dalam hal ini perilaku remaja sering membandingkan dirinya dengan temantemannya. 3) Secara psikologis, remaja merupakan masa di mana individu mengalami perubahan-perubahan dalam aspek kognitif, emosi, sosial, dan moral di antara masa anak-anak menuju dewasa. Remaja dihadapkan pada perilaku hubungan sosial terutama dengan lawan jenis yaitu memperoleh teman-teman baru dan menjadi matang dalam berhubungan dengan teman lawan jenis. Menurut WHO (World Health Organization) (1995), remaja adalah suatu masa ketika individu berkembang dari saat pertama kali ia.
(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 22. menunjukkan tanda-tanda perkembangan sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual, suatu masa ketika individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa, suatu masa ketika terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri.. 2. Tugas-Tugas Perkembangan Remaja Tugas-tugas perkembangan remaja menurut Hurlock (2007), bahwa setiap individu mempunyai tugas-tugas yang harus dijalani dalam setiap perkembangannya. Berikut ini adalah tugas-tugas perkembangan remaja: 1) Mencapai hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita. Tugas perkembangan pada masa remaja menuntut perubahan besar dalam sikap dan perilaku anak. Akibatnya, hanya sedikit anak lakilaki dan anak perempuan yang dapat diharapkan untuk menguasai tugas-tugas tersebut selama awal masa remaja, apalagi mereka yang matangnya terlambat. Kebanyakan harapan ditumpahkan pada hal ini adalah bahwa remaja muda akan meletakkan dasar-dasar bagi pembentukan sikap dan pola perilaku. Perilaku remaja dalam berpacaran yaitu remaja mendapat mendapatkan penerimaan dari teman lawan jenis bahwa dirinya merasa berharga dan dibutuhkan..
(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 23. 2) Mencapai peran sosial pria dan wanita Perkembangan masa remaja yang penting akan menggambarkan seberapa jauh perubahan yang harus dilakukan dan masalah yang timbul dari perubahan itu sendiri. Pada dasarnya, pentingnya menguasai tugas-tugas perkembangan dalam waktu yang relatif singkat sebagai akibat perubahan usia kematangan yang menjadi delapan belas tahun, menyebabkan banyak tekanan yang menganggu pada remaja. Remaja diharapkan dapat menerima keadaan dirinya sebagai pria atau wanita dengan sifat dan tanggungjawabnya. Seringkali dalam perilaku berpacaran remaja kurang menerima apabila pacarnya mempunyai bentuk tubuh yang tidak memuaskan. 3) Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif. Remaja seringkali sulit menerima keadaan fisiknya bila sejak anakanak mereka telah menganggungkan konsep mereka tentang penampilan diri pada waktu dewasa nantinya. Diperlukan waktu untuk memperbaiki penampilan diri sehingga lebih sesuai dengan apa yang dicita-citakan. Remaja diharapkan dapat menerima dirinya apa adanya karena dalam perilaku berpacaran, pacar tidak sama dengan artis atau model yang diidolakannya. 4) Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab. Menerima pesan seks dewasa yang diakui masyarakat tidaklah mempunyai banyak kesulitan bagi laki-laki, mereka telah didorong.
(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 24. dan diarahkan sejak awal masa anak-anak. Tetapi hal ini berbeda bagi anak perempuan. Anak perempuan, diperbolehkan bahkan di dorong untuk memainkan peran sederajat, sehingga usaha untuk mempelajari peran feminisme dewasa yang diakui masyarakat dan menerima peran tersebut. Jadi, hal ini merupakan tugas pokok yang memerlukan penyesuaian. diri. selama. bertahun-tahun,. dikarenakan. adanya. pertentangan dengan lawan jenis yang sering berkembang selama akhir masa anak-anak dan masa puber, maka dalam perilaku berpacaran hubungan baru dengan lawan jenis berarti harus mulai dari nol dengan tujuan untuk mengetahui lawan jenis dan bagaimana harus bergaul dengan mereka. Tetapi pengembangan hubungan baru dapat lebih matang dengan teman sebaya sesama jenis juga tidak mudah. 5) Mencapai ukuran kebebasan atau kemandirian dari orang tua. Pada remaja sering terjadi adanya kesenjangan dan konflik antar remaja dengan orang tuanya. Pada saat ini ikatan emosional menjadi berkurang dan remaja sangat membutuhkan kebebasan emosional dari orang tuanya, misalnya dalam hal memilih teman ataupun melakukan aktifitas. Sifat remaja yang ingin memperoleh kebebasan emosional sementara orang tua yang masih ingin mengawasi dan melindungi anaknya dapat menimbulkan konflik diantara mereka. Pada usia pertengahan, ikatan dengan orang tua semakin longgar dan mereka lebih banyak menghabiskan waktunya dengan teman sebayanya. Pada akhir masa remaja, mereka akan berusaha mengurangi kegelisahannya.
(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 25. dan meningkatkan integritas pribadinya, identitas diri lebih kuat, mampu menunda pemuasan, kemampuan untuk menyatakan pendapat menjadi lebih baik, minat jadi stabil dan mampu membuat keputusan dan mengadakan kompromi. Akhir masa remaja adalah tahab terakhir perjuangan remaja dalam mencapai identitas diri. Bila tahap awal dan pertengahan dapat dilalui dengan baik, yaitu adanya keluarga dan kelompok sebaya yang suportif maka remaja akan mempunyai kesiapan untuk mampu mengatasi tugas dan tanggung jawab sebagai orang dewasa. 6) Mempersiapkan perkawinan dan keluarga. Kecenderungan. perkawinan. muda. menyebabkan. persiapan. perkawinan merupakan tugas perkembangan yang paling penting dalam tahun-tahun remaja. Meskipun tabu mengenai perilaku seksual yang berangsur-angsur mengendur dapat mempermudah persiapan perkawinan dalam aspek seksual, tetapi aspek perkawinan yang lain hanya sedikit yang dipersiapkan. Perilaku berpacaran yang dilakukan dengan pacar sering menganggap tabu untuk membicarakan masalah perkawinan sehingga kurangnya komunikasi ini merupakan salah satu penyebab dari masalah yang tidak terselesaikan, yang menjadikan remaja terkadang sulit bisa menerima pilihannya sendiri. 7) Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku atau mengembangkan ideologi..
(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 26. Sekolah dan pendidikan tinggi mencoba membentuk nilai-nilai yang sesuai dengan nilai dewasa, orang tua berperan banyak dalam perkembangan ini. Tetapi, apabila nilai-nilai dewasa bertentangan dengan teman sebaya, masa remaja harus memilih yang terakhir bila mengharapkan dukungan teman-teman yang menentukan kehidupan sosial mereka. Di dalam perilaku berpacaran seorang remaja ingin diterima oleh teman-temannya, tetapi hal ini seringkali diperoleh dengan perilaku yang oleh orang dewasa dianggap tidak bertanggung jawab. Sehingga dlam perilaku berpacaran remaja membutuhkan nilainilai dalam hidupnya sehingga dapat terarah dan bahagia. Seorang remaja, siswa-siswi Sekolah Menengah Atas. pada. umumnya sudah memiliki kesadaran tentang pentingnya prestasi belajar di sekolah. Keadaan ini dapat menimbulkan kecemasan, kemarahan terhadap siswa. Kecemasan, kemarahan ini akan semakin bertambah dengan adanya tuntutan orang tua maupun pihak lain bahwa belum saatnya untuk berpacaran. Namun sering tuntutan ini tidak disertai dengan dukungan positif, terutama dari orang tua. Selain itu siswa belum mengetahui pacaran yang baik. Hal ini menyebabkan ketidaksiapan siswa siswa dalam berpacaran ataupun berteman dengan lawan jenis.. Keadaan ini. menimbulkan kecemasan pada siswa mengingat tuntutan orang tua dan pihak lain yang dipenuhi. Hal ini yang juga terlihat pada diri siswa Sekolah Menengah Atas sebagai seorang remaja yaitu kuatnya pengaruh teman sebaya. Salah satu.
(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 27. penyebabnya karena kebutuhan akan rasa aman dan rasa diterima oleh teman sebaya masih cukup tinggi (Gunarsa, 2000). Oleh karena itu perilaku teman sebaya dapat berpengaruh pada siswa, salah satunya adalah tentang pacaran yang sehat.. 3. Pentingnya Pacaran yang Sehat pada Usia Remaja Menurut Lies (2004), pentingnya pacaran yang sehat pada usia remaja yaitu masa berpacaran merupakan proses penjajakan dan perkenalan termasuk saling memahami, saling mengerti, saling mengisi kekurangan dan saling percaya serta memikirkan kemungkinan diantara pasangan untuk melestarikan hubungan sampai pada jenjang pernikahan. Pacaran yang sehat hendaknya saling menguntungkan bagi kedua pihak pasangan, tetapi bukan berarti mencari kesenangan saja. Arti pentingnya pacaran yang sehat adalah pasangan tersebut bisa saling memberikan semangat dan motivasi sehingga diantara pasangan mendapatkan manfaat dari pacaran yang sehat tersebut, dengan demikian jangan sampai pacaran yang sehat membuat hidup menjadi kacau dan prestasi menurun dalam hal ini siswa-siswi Sekolah Menengah Atas sebagai pelajar yang sedang berpacaran. Arti pentingnya pacaran yang sehat dengan lebih lengkap dapat dijabarkan antara lain (Lies, 2004):.
(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 28. 1) Memberikan pengertian yang memadai mengenai masalah pacaran yang sehat pada remaja supaya tidak keluar jalur dan melanggar etika yang berlaku. 2) Memberikan pengertian agar pacaran yang sehat tidak harus diisi dengan hal-hal yang merugikan diri sendiri maupun orang lain apalagi remaja mempunyai masa depan yang masih panjang. 3) Membentuk sikap dan memberikan pengertian terhadap pacaran yang sehat dan semua manifestasi yang bervariasi. 4) Memberikan pengertian bahwa hubungan antara manusia dapat membawa kepuasan pada kedua individu dan kehidupan keluarga. 5) Memberikan pengertian mengenai hal-hal yang harus diperhatikan dalam pacaran yang sehat yaitu adanya komitmen yang jelas dan pertimbangan-pertimbangan lain, seperti tidak mengganggu belajar atau aktifitas-aktifitas yang lain. 6) Memberikan pengetahuan tentang kesalahan dan penyimpangan tentang pacaran yang sehat agar individu dapat menjaga diri dan melawan eksploitasi yang dapat menganggu kesehatan fisik dan mental. 7) Memberikan pengertian mengenai pacaran yang sehat yang tidak rasional dan eksplorasi pacaran yang sehat secara berlebihan, tidak bertentangan dengan norma-norma masyarakat dan tidak menghambat perkembangan pribadi..
(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 29. 8) Memberikan pengertian dan kondisi yang dapat membuat individu melakukan aktivitas pacaran yang sehat secara efektif dan kreatif dalam berbagai peran, misalnya sebagai istri atau suami, orang tua, atau anggota masyarakat. Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan arti pentingnya pacaran yang sehat adalah untuk menghindari remaja dari tindakan-tindakan penyalahgunaan pacaran yang tidak sehat dengan memberikan pengertian terhadap pacaran yang sehat..
(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. BAB III METODE PENELITIAN. Dalam bab ini dibahas jenis penelitian, metode penelitian, responden penelitian, alat pengumpul data penelitian, pengumpulan data, teknik analisis data dan perhitungan penilaian acuan patokan. F. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah kuantitatif. Penelitian yang dilakukan tergolong penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian untuk memperoleh informasi tentang status gejala pada saat penelitian dilakukan (Furchan, 2007). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey. Menurut Furchan (2007) metode survey dapat digunakan bukan hanya untuk melukiskan kondisi yang ada, melainkan juga untuk membandingkan kondisikondisi tersebut dengan menilai keefektifan suatu program. Tujuan survey adalah untuk mengumpulkan informasi tentang variabel. Variabel adalah atribut suatu obyek yang mempunyai variasi antara satu dengan yang lain (Sugiyono, 2010) Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengumpulkan data guna memperoleh deskripsi tentang tingkat pacaran yang sehat pada siswa-siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014.. . 30.
(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 31. G. Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 yang terdiri dari tiga (3) kelas yaitu : kelas XII IPA, kelas XII IPS dan kelas XII Bahasa dengan jumlah siswa 57 siswa. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan uji terpakai yaitu siswa-siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 yang berpacaran dan pernah berpacaran yang berjumlah 57 siswa. Penentuan besarnya sampel mengacu pada pendapat Arikunto (2010) yang menyatakan bahwa apabila subyek penelitian kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, tetapi jika jumlah subyeknya besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih. Berikut ini adalah data subyek penelitian untuk masing-masing kelas. Tabel. 1 Subjek Penelitian No 1. Kelas XII IPA. 2. XII IPS. 26. 3. XII Bahasa. 8. Jumlah. Jumlah Siswa 23. 57.
(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 32. H. Alat Pengumpulan Data 1. Kuesioner Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah kuesioner yang berupa sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadi atau hal-hal yang diketahui (Arikunto, 2010). Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini bersifat tertutup (yang sudah disediakan jawaban sehingga responden tinggal memilih). Instrumen dalam penelitian ini meliputi pacaran yang sehat dan disusun sendiri oleh peneliti berdasarkan aspek-aspek pacaran yang sehat dari Steinberg (2002). Pengukuran variabel penelitian menggunakan skala Likert. Skala ini terdiri dari empat alternatif jawaban, yaitu: Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), Sangat Tidak Sesuai (STS). Item-item yang terdapat pada skala ini terdiri dari item favourable dan unfavourable terhadap atribut yang akan diukur. Sifat dari item tersebut menentukan skor yang akan diberikan. Pemberian skor pada item favourable, yaitu untuk jawaban Sangat Sesuai (SS) diberi skor 4, Sesuai (S) diberi skor 3, Tidak Sesuai (TS) diberi skor 2, Sangat Tidak Sesuai (STS) diberi skor 1. Untuk item unfavourable, pemberian skornya untuk Sangat Sesuai (SS) diberi skor 1, Sesuai (S) diberi skor 2, Tidak Sesuai (TS) diberi skor 3, Sangat Tidak Sesuai (STS) diberi skor 4. Semakin tinggi skor subjek, maka semakin.
(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 33. tinggi tingkat pacaran yang sehat siswa-siswi tersebut, sebaliknya semakin rendah skor subjek maka semakin rendah pula tingkat pacaran yang sehat siswa-siswi tersebut. Berikut ini kisi-kisi dari instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini..
(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 34. Tabel. 2 Rincian Kisi-Kisi Tingkat Pacaran yang Sehat Siswa-Siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 No. 1.. 2.. 3.. 4.. Aspek Tingkat Pacaran Yang Sehat Saling Percaya (Trust Each Other). Komunikasi (Communication Self). Keintiman (Keep Romance Alive). Meningkatkan Komitmen (Increase Commitment). Indikator 1. Memiliki pemikiran positif tentang apa yang sedang dilakukan oleh pacarnya. 2. Mengembangkan kata hati dan nilainilai sebagai pedoman perilaku. 1. Bertukar informasi tentang dirinya serta pacarnya. 2. Mensharingkan tentang dirinya terhadap pacarnya. 3. Keterbukaan diantara pacar 1. Kedekatan emosional melalui kata-kata mesra. 2. Kedekatan emosional melalui perhatian. 3. Kedekatan emosional melalui sentuhan fisik. 1. Saling menjaga komitmen kepada pacarnya. 2. Saling mengungkapkan hal-hal pribadi. 3. Saling menghormati kepada pacarnya 4. Saling setia dengan pacarnya.. Total Item. Favourable. Unfavourable. 37,40,42. 38,43. 39,41. 44. 34,36. 35,46. 45. 26,50. 28,52,53. 33,27, 48. 23,24 9,10,11. 22,51 47,29,31,32. 12,16. 49,17. 3,6. 1,2. 8,15. 4,5,7. 18,20. 13,14. 30,21. 19,25 53 Item.
(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 35. 2. Validitas Masidjo (1995) menjelaskan, validitas adalah taraf sampai di mana suatu alat ukur mampu mengukur apa yang seharusnya diukur. Penelitian ini menggunakan validitas isi, karena penyusunan instrumen dibantu dengan menggunakan kisi-kisi instrumen, indikator sebagai tolak ukur dan nomor butir (item) pernyataan yang telah dijabarkan dari indikator. Validitas isi yaitu suatu validitas yang menunjukkan sampai di mana isi suatu tes atau alat pengukur mencerminkan hal-hal yang mau diukur atau diteskan (Masidjo,1995). Sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan (Arikunto,2010). Teknik uji yang digunakan adalah dengan cara mengkorelasikan skor item terhadap skor totalnya melalui pendekatan analisis korelasi Product Moment. Adapun rumusnya dapat dilihat sebagai berikut:. rXY =. N ¦ XY . ^N ¦ X. 2. . ¦X. ¦ X ¦Y `^N ¦ Y ¦ Y. 2. 2. 2. `. Keterangan : rXY = indeks korelasi validitas item. N = jumlah responden X = skor item yang akan diuji validitasnya Y = skor total yang memuat item yang diuji validitasnya.
(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 36. Proses penghitungan indeks validitas item pada alat ukur penelitian ini dilakukan dengan cara memberi skor terlebih dahulu setiap item dan mentabulasi ke dalam tabulasi data uji coba instrumen penelitian. Perhitungan indeks validitas intrumen dilakukan dengan menggunakan bantuan program komputer Statistic Program for Social Science (SPSS) versi 16. Menurut Azwar (2013), item yang mencapai koefisien korelasi minimal 0,30 dianggap memuaskan. Berdasarkan ketentuan tersebut dapat dikatakan bahwa item yang valid adalah item yang memiliki nilai korelasi ≥ 0,30. Sementara itu, suatu item dikatakan tidak valid jika memiliki nilai korelasi < 0,30.. 3. Reliabilitas Realibilitas suatu alat ukur adalah taraf sampai di mana suatu alat ukur. itu. m a m pu. menunjukkan. konsistensi. hasil. ukurnya. yang. diperlihatkan dalam taraf ketepatan dan ketelitian hasil (Masidjo,1995). Perhitungan indeks reliabilitas kuesioner seberapa sehat tingkat pacaran yang sehat menggunakan program komputer SPSS, dilakukan dengan menghitung korelasi skor item ganjil dan item genap dengan menggunakan teknik product moment dari pearson. Hasil perhitungan skor itu kemudian dikoreksi dengan formula Spearman-Brown sebagai berikut (Masidjo, 1995)..
(54) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. α = 2[1-. Sx 2 + Si 2 Sx 2. 37. ]. Keterangan rumus :. I.. S12 dan S22. : varians skor belahan 1 dan varians skor belahan 2. Sx2. : varians skor skala. Uji Coba Instrumen Penelitian 1. Uji Validitas Kuesioner ini menggunakan ujicoba terpakai kepada siswa-siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 yang sedang berpacaran yang berjumlah 57 siswa pada tanggal 8 Agustus 2014 diperoleh hasil perhitungan konsistensi internal butir item menggunakan rumus Product Moment dari Pearson dengan jumlah subjek 57 siswa..
(55) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 38. Tabel. 3 Konstruk Instrumen Tingkat Pacaran yang Sehat Siswa-Siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014 No. 1.. 2.. 3.. 4.. Aspek Tingkat Pacaran Yang Sehat Saling Percaya (Trust Each Other). Komunikasi (Communication Self). Keintiman (Keep Romance Alive). Meningkatkan Komitmen (Increase Commitment). Indikator 3. Memiliki pemikiran positif tentang apa yang sedang dilakukan oleh pacarnya. 4. Mengembangkan kata hati dan nilainilai sebagai pedoman perilaku. 4. Bertukar informasi tentang dirinya serta pacarnya. 5. Mensharingkan tentang dirinya terhadap pacarnya. 6. Keterbukaan diantara pacar 4. Kedekatan emosional melalui kata-kata mesra. 5. Kedekatan emosional melalui perhatian. 6. Kedekatan emosional melalui sentuhan fisik. 5. Saling menjaga komitmen kepada pacarnya. 6. Saling mengungkapkan hal-hal pribadi. 7. Saling menghormati kepada pacarnya 8. Saling setia dengan pacarnya.. Favourable 37,40,42. 39,41. Unfavourable 38,43. 44. 34,36,57*. 35,46,59*. 45. 26,50,58*. 28,52,53,60*. 33,27,48. 23,24,54*. 22,51,56*. 9,10,11 12,16. 47,29,31,32 49,17. 3,6. 1,2. 8,15. 4,5,7. 18,20,55*. 13,14. 30,21. 19,25. Contoh: kode *) adalah item yang tidak valid atau gugur..
(56) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 39. Hasil perhitungan tersebut diperiksa dengan menggunakan program SPSS 15.0, bahwa dari 60 item yang dikembangkan terdapat 7 item yang koefisien validitasnya < 0,30. Ke 7 item tersebut dieliminasi atau tidak disertakan dalam pengambilan data penelitian selanjutnya. Jadi, tersisa 53 item yang memiliki koefisien validitas ≥ 0,30, sehingga dinyatakan valid dan digunakan untuk pengambilan data penelitian sesungguhnya.. 2. Uji Reliabilitas Dari hasil uji coba kuisioner yang sudah dikerjakan siswa-siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 pada tanggal 8 Agustus 2014, diperoleh perhitungan reliabilitas dengan menggunakan rumus Spearman Brown, untuk menentukan tinggi atau rendahnya koefisien reliabilitas digunakan patokan pada tabel kriteria Guilford dalam (Masidjo,1995) dibawah ini. Tabel. 4 Kualifikasi Reliabilitas Koefisien Korelasi 0,91 – 1,00 0,71 – 0,90 0,41 – 0,70 0,21 – 0,40 Negatif – 0,20. Kualifikasi Sangat Tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat Rendah.
(57) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. J.. 40. Pengumpulan Data Penelitian 1.. Tahap Persiapan Tahap persiapan ini, peneliti menghubungi pihak sekolah meminta izin dan menyerahkan surat izin penelitian kepada kepala sekolah.. 2.. Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan penelitian dilaksanakan pada hari kamis tanggal 9 Agustus 2014 di kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta dan dilakukan di ruang kelas XII IPA, ruang kelas XII IPS dan ruang kelas XII Bahasa disesuaikan dengan jadwal pelajaran Bimbingan dan Konseling sehingga tidak mengganggu mata pelajaran sekolah. Untuk mengisi kuesioner, masing-masing kelas membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit.. K. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah skoring jawaban subyek, membuat tabulasi dan menghitung total jawaban, menghitung. presentase,. mengelompokkan. data,. menyusun. peringkat. presentase aspek tingkat pacaran yang sehat siswa-siswi dan menampilkan hasil penelitian. Penilaian tinggi rendahnya tingkat pacaran yang sehat siswasiswi dalam penelitian menggunakan PAP tipe 1 (Masidjo, 1995: 153). PAP adalah suatu penilaian yang membandingkan perolehan skor individu yang seharusnya atau ideal dengan perolehan skor yang dicapai oleh setiap individu. PAP juga digunakan untuk menganalisis item..
(58) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 41. Di bawah ini peneliti menjelaskan langkah yang ditempuh dalam mengolah dan menganalisis data, yaitu : a.. Peneliti memberi skor jawaban subyek sesuai sifat item.. b.. Peneliti menggunakan analisis deskriptif untuk membahas item penelitian dalam kaitannya dengan identitas responden. Statistik deskriptif dimaksudkan untuk melakukan analisis data yang sesuai dengan klasifikasi responden ke dalam prosentase yaitu dengan membandingkan jumlah responden yang memilih dari masing-masing pilihan dengan jumlah responden secara keseluruhan dikalikan 100%.. c.. Peneliti memasukkan skor jawaban subyek ke dalam tabulasi data dengan bantuan Microsoft Excel Versi X.P 2007 for Windows.. d.. Peneliti menghitung besarnya persentase pada setiap skor subjek pada setiap aspek dengan cara skor total dibagi dengan skor maksimal, dikalikan 100%. Skor maksimal didapat dengan cara mengalikan jumlah item dikalikan dengan alternatif jawaban.. e.. Peneliti menentukan peringkat berdasarkan besarnya persentase pada subjek, dan mengurutkan persentase perolehan dari setiap subjek yang tertinggi sampai yang terendah.. f.. Peneliti membuat skor-skor perolehan siswa untuk menjawab tentang tingkat pacaran yang sehat pada siswa-siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014, yang diolah dengan menggunakan Penelitian Acuan Patokan (PAP) tipe I..
(59) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 42. Tabel. 5 Penilaian Acuan Patokan (PAP) Tipe I Patokan. Kategori. 90% - 100%. Sangat Tinggi. 80% - 89%. Tinggi. 65% - 79%. Cukup. 55% - 64%. Rendah. Kurang 55%. Sangat rendah. L. Perhitungan Penilaian Acuan Patokan 1.. Skor maksimal per item. = 4. 2.. Jumlah item. = 53. 3.. Jumlah skor maksimal yang diperoleh setiap responden 4 x 53 = 212 maka deskripsi tingkat pacaran yang sehat pada siswa-siswi adalah sebagai berikut:. 4.. 90% x 212. = 191. 80% x 212. = 170. 65% x 212. = 138. 55% x 212. = 117. Di bawah 55%. = di bawah 116. Penentuan. kategorisasi setelah dilakukan penghitungan dapat dilihat. pada tabel sebagai berikut..
(60) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 43. Tabel. 6 Penghitungan Acuan Patokan (PAP) Tipe I Rentang Skor. Kualifikasi. 191 – 212. Sangat Sehat. 170 – 190. Sehat. 138 – 169. Cukup Sehat. 117 – 137. Kurang Sehat. Kurang 116. Tidak Sehat. Kategorisasi. i ni. digunakan. sebagai. acuan. atau. norma. dalam. mengelompokan skor item dalam kategorisasi atau penggolongan skala tingkat pacaran yang sehat pada siswa-siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014..
(61) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Bab ini memuat jawaban atas masalah penelitian yaitu bagaimana tingkat pacaran yang sehat pada siswa-siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014. Penyajian hasil penelitian dilanjutkan dengan pembahasan tentang hasil penelitian tersebut.. A. Karakteristik Responden Responden dalam penelitian ini berjumlah 57 orang siswa-siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014. Karakteristik responden dalam penelitian ini terbagi menjadi 2, yaitu jenis kelamin dan status berpacaran. Karakteristik responden menurut jenis kelamin responden adalah sebagai berikut: Tabel. 7 Karakteristik Responden Menurut Jenis Kelamin Jenis Kelamin. Frekuensi. Persentase (%). Laki-laki. 37. 64,9. Perempuan. 20. 35,1. Jumlah. 57. 100. Sumber: data primer diolah. 44.
(62) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 45. Berdasarkan tabel 5 tersebut di atas data menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 37 orang (64,9%) dan yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 20 orang (35,1%). Karakteristik responden menurut status berpacaran dapat di lihat pada tabel di bawah ini. Tabel. 8 Karakteristik Responden Menurut Status Berpacaran Status. Frekuensi. Persentase (%). Pernah Berpacaran. 26. 45,6. Berpacaran. 31. 54,4. Jumlah. 57. 100. Sumber: data primer diolah. Berdasarkan tabel 7 tersebut di atas data menunjukkan bahwa siswasiswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 sebagian besar pernah berpacaran yaitu sebanyak 26 orang atau sebesar 45,6% dan yang berpacaran sebanyak 31 orang (54,4%).. B. Hasil Penelitian Tingkat pacaran yang sehat pada siswa-siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 ditentukan dengan menggunakan.
(63) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 46. Perhitungan Acuan Patokan (PAP) tipe I, yaitu kategorisasi digunakan sebagai acuan atau norma dalam mengelompokkan skor item dalam kategorisasi atau penggolongan skala tingkat pacaran yang sehat pada siswasiswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014. Peneliti menggunakan PAP tipe I karena penilaian dilakukan dengan menggunakan perbandingan skor siswa dengan suatu patokan yang telah ditetapkan dari total skor. Penentuan. kategorisasi setelah dilakukan. penghitungan adalah sebagai berikut. Tabel. 9 Penghitungan Acuan Patokan (PAP) Tipe I. Rentang Skor. Kualifikasi. Makna Kategori. 191 - 212. Sangat Tinggi. Perilaku Pacaran Sangat Sehat. 170 - 190. Tinggi. Perilaku Pacaran Sehat. 138 - 169. Cukup. Perilaku Pacaran Cukup Sehat. 117 - 137. Rendah. Perilaku Pacaran Kurang Sehat. Kurang 116. Sangat rendah. Perilaku Pacaran Tidak Sehat.
(64) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 47. Berdasarkan hasil penelitian penggolongan tingkat pacaran yang sehat pada siswa-siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel. 10 Penggolongan Tingkat Pacaran yang Sehat Siswa-Siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta Tahun Ajaran 2013/2014. Rumus. Rentang. Frekuensi Persentase. Kualifikasi. PAP. Skor. 90% - 100%. 191 - 212. 0. 0. 80% - 89%. 170 - 190. 11. 19.30%. Sehat. 65% - 79%. 138 - 169. 45. 78.95%. Cukup Sehat. 55% - 64%. 117 - 137. 1. 1.75%. Kurang Sehat. Di Bawah 54%. < 116. 0. 0. Sangat Sehat. Tidak Sehat. Berdasarkan tabel 8 tersebut di atas, menunjukkan bahwa di antara siswa-siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 tidak ada yang memiliki tingkat pacaran yang tidak sehat dan sangat sehat. Siswa-siswi kelas XII SMA Sang Timur Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014 yang memiliki tingkat pacaran yang sehat dengan kualifikasi “Sehat” sebanyak 11 siswa-siswi (19,30%). Siswa-siswi kelas XII SMA Sang Timur.
Dokumen terkait
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat konformitas siswa kelas XII SMA Stella Duce 2 Yogyakarta dan mengidentifikasi butir-butir item konformitas
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang tingginya kecerdasan emosional siswi SMA penghuni asrama putri Santa Maria Malang tahun ajaran 2003/2004 dan
Hasil penelitian antara lain: (1) Masalah yang banyak dialami oleh siswa- siswi kelas V Intrapersonal adalah siswa merasa kurang PD (percaya diri) jika diminta untuk berbicara di
Masalah pertama yang diteliti adalah “Bagaimana tingkat motivasi belajar siswi - siswi kelas X SMA Santa Maria Yogyakarta, tahu n pelajaran 2009/2010?” masalah
Saya mematuhi norma-norma yang ada di lingkungan dimana saya tinggal, terutama dalam hal berhubungan dengan lawan jenis (pacaran). Remaja zaman sekarang mengabaikan norma-norma
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesulitan belajar yang banyak dialami para siswi kelas XI SMA Stella Duce 2 Yogyakarta tahun ajaran 2010/2011 adalah sebagai berikut: (1)
Fransiskus Xaverius, Kambaniru, Paroki Sang Penebus, Waingapu, Sumba Timur, ingin memberi wacana dan informasi tentang pacaran yang sehat dan bertanggung jawab sehingga
“adakah pengaruh penggunaan media audio visual dalam layanan bimbingan klasikal terhadap pema- haman siswa mengenai pacaran yang sehat.” Tu- juan penelitian ini adalah