• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN HASIL BELAJAR PPKn MELALUI METODE LEARNING START WITH QUESTION (LSQ) PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 BOLO KECAMATAN BOLO KABUPATEN BIMA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENINGKATAN HASIL BELAJAR PPKn MELALUI METODE LEARNING START WITH QUESTION (LSQ) PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 BOLO KECAMATAN BOLO KABUPATEN BIMA"

Copied!
137
0
0

Teks penuh

(1)

i SKRIPSI

Diajukan untuk MemenuhI Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pada Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Oleh: KURNIAWATI

105430015815

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2021

(2)
(3)
(4)

iv

SURAT PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Kurniawati Nim : 105430015815

Jurusan : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Judul Skripsi : Peningkatan Hasil Belajar PPKn Melalui Metode Learning Start With Quesstion (LSQ) Pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo Kec. Bolo Kab. Bima

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji adalah hasil karya saya sendiri dan bukan hasil ciptaan orang lain atau dibuatkan oleh siapapun.

Demikian pernyataan ini saya buat dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.

Makassar, Juli 2021

Yang Membuat Pernyataan

(5)

v

SURAT PERJANJIAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Kurniawati Nim : 105430015815

Jurusan : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut :

1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesai penyusunan skripsi ini, saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).

2. Dalam menyusun skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pemimpin fakultas.

3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (Plagiat) dalam penyusunan skripsi. 4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1, 2, dan 3, saya

bersedia menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku. Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.

Makassar, Juli 2021 Yang Membuat Perjanjian

Kurniawati

Mengetahui, Ketua Program Studi

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Dr. Muhajir, M. Pd. NBM. 988 461

(6)

vi DIMANA ADA USAHA DISITU ADA JALAN

DIMANA ADA RINDU DISITU ADA CINTA

Karya ini kupersembahkan untuk:

Orang tua tercinta (Ayah, Ibu, Mama, Papa),

Saudaraku, Keluargaku dan Kekasihku yang senantiasa

memberi dukungan dan semangat serta do’anya untuk ku dalam

(7)

vii

Kurniawati. 2021. Peningkatan Hasil Belajar PPKn Melalui Metode Learning Start With Quesstion (LSQ) Pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo Kecamatan Bolo Kabupaten Bima. Skripsi. Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Rismawati dan Pembimbing II Musdalifah Syahrir.

Adapun masalah utama dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui “Bagaimana Peningkatan Hasil Belajar PPKn Melalui Metode Learning Start With Question (LSQ) Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo Kecamatan Bolo Kabupaten Bima”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Peningkatan Hasil Belajar PPKn Melalui Metode Learning Start With Question (LSQ) Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo Kecamatan Bolo Kabupaten Bima.

Jenis penelitian ini adalan penelitian Tindakan kelas (Class Action Reaserch) yang terdiri dari dua siklus dimana setiap siklus nya dilaksanakan sebanyak 3 kali pertemuan. Setiap siklus akan dibagi menjadi 4 tahap kegiatan yaitu: tahap perencanaan, tahap Tindakan, tahap observasi atau evaluasi, dan tahap refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah SMP Negeri 1 Bolo Kecamatan Bolo Kabupaten Bima, penelitian ini berfokus pada siswa kelas VIII sebanyak 28 orang.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari perbandingan deskripsi siklus I dan siklus II menunjukkan bahwa rata-rata skor hasil tes belajar siswa menunjukkan peningkatan yaitu 79,69 pada siklus I meningkat menjadi 89,15 pada siklus II. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan hasil tes siswa pada kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo dalam mengikuti proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan learning start with question.

(8)

viii

Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, demikian kata yang patut kita ucapkan atas segala karunia dan nikmat yang telah diberikan. Jiwa yang tak henti bersyukur atas anugrah sampai pada detik ini, gerak Langkah, denyut jantung serta rasa dan pikiran semua tertuju pada-Mu, sang Khaliq. Skripsi ini adalah satu dari sekian banyaknya berkah-Mu. Setiap orang dalam berkarya selalu ingin kesempurnaan, tetapi terkadang kesempurnaan itu terasa jauh dari kehidupan seseorang. Demikian juga tulisan ini, kehendak hati ingin mencapai kesepurnaan, tetapi tidak dipungkiri kapasitas penulis masih dalam keterbatasa. Segala usaha telah penulis kerahkan untuk membuat tulisan ini selesai dengan baik dan bermanfaat dalam dunia Pendidikan, khususnya dalam ruang lingkup Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar.

Motivasi dari berbagai pihak sangat membantu dalam perampungan penulisan ini. Segala rasa hormat, penulis mengucapkan terima kasih kepada orang tua kandung Bpk. Muhdar H. Abakar dan Ibu Jubaydah serta kedua orang tua angkat Bpk. Drs. M. Saleh H. Yusuf dan Ibu Halimah yang telah berjuang, berdo’a, mengasuh, membesarkan, mendidik, dan membiayai penulis sampai pada proses pencarian ilmu. Demikian pula, penulis mengucapkan terimakasih kepada keluarga dan kerabat terdekat serta kepada orang terkasih Abdurrahman, S.E yang sejak awal telah memberikan semangat dan dukungan yang sangat membangun. Terima kasih juga kepada Ibu Rismawati, S.Pd., M.Pd. dan Ibu Musdalifah Syahrir, S.Pd., M.Pd.

(9)

ix skripsi ini.

Tak lupa juga penulis mengucapkan terima kasih kepada: Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag. selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr. Irwan Akib, M.Pd., P.hd. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, dan Dr. Muhajir, M.Pd. selaku ketua Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, serta seluruh dosen dalam lingkungan Fakultas Kaguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah membekali penulis dengan serangkain ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat.

Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada Kepala Sekolah, Guru, dan Staf SMP Negeri 1 Bolo, serta Bpk. Muhammad Nur, S.Pd. selaku guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan disekola tersebut yang telah memberikan izin dan bantuan untuk melakukan penelitian.

Akhirnya, dengan segala kerendahan hati dan ucapan syukur, penulis senantiasa mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak selama saran yang bersifat membangun karena penulis yakin bahwa suatu persoalan tidak akan berarti sama sekali tanpa adanya kritikan. Mudah-mudahan dapat memberi manfaat bagi para pembaca terkhusus bagi pribadi penulis. Aamiin Yaa Rabbal Alaamiin.

Makassar , Juli 2021

(10)

x

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

SURAT PERNYATAAN ... iv

SURAT PERJANJIAN ... v

MOTO DAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... ... ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Masalah Penelitian ... ... ... 3

1. Identifikasi Masalah ... ... ... 3

2. Alternatif Pemecahan Masalah ... ... 4

3. Rumusan Masalah ... ... ... 4

C. Tujuan Penelitian ... ... ... 5

D. Manfaat Penelitian ... ... ... 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... ... ... 7

A. Kajian Teoritis ... ... ... 7

1. Pengertian Belajar ... ... ... 7

2. Pembelajaran PPKn .... ... ... 7

3. Metode Pembelajaran . ... ... 10

4. Metode Learning Start With Question (LSQ) ... ... 11

5. Pengertian Hasil Belajar ... ... 14

6. Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar ... ... 15

7. Indikator Hasil Belajar ... ... 17

8. Penelitian Yang Relevan ... ... 22

B. Kerangka Pikir ... ... ... 23

C. Hipotesis Tindakan ... ... ... 25

BAB III METODE PENELITIAN ... ... 26

(11)

xi

F. Teknik Pengumpulan Data ... ... 32

G. Teknik Analisis Data ... ... ... 34

H. Indikator Keberhasilan ... ... ... 34

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... ... 36

A. Deskripsi Kondisi Awal .... ... ... 36

B. Deskripsi Siklus I ... ... ... 37

C. Deskripsi Siklus II ... ... ... 42

D. Hasil Penelitian ... ... ... 45

E. Pembahasan ... ... ... 75

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... ... 78

A. Simpulan ... ... ... 78

B. Saran ... ... ... 78

DAFTAR PUSTAKA ... ... ... 80 LAMPIRAN-LAMPIRAN

(12)

xii

Tabel Halaman

2.1 Kriterian Nilai Wujud Hasil Belajar ... 18 4.1 Hasil Pengamatan Keterlaksanaan Penerapan Pendekatan Learning

Start With Question Siklus I Di Kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo ... 46 4.2 Lembar Observasi Aktivitas Siswa Siklus I Berdasarkan Indikator

Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PPKn Kelas VIII SMP

Negeri 1 Bolo ... 46 4.3 Hasil Tes Siswa Secara Kelompok Siklus I kelas VII SMP

Negeri 1 Bolo ... 48 4.4 Deskripsi Skor Hasil Tes Kelompok Siklus I Pada Pembelajaran

PPKn Kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo ... 49 4.5 Distribusi Frekuensi Dan Persentase Skor Hasil Tes Kelompok

Siklus I Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo ... 50 4.6 Deskripsi Ketuntasan Hasil Tes Kelompok Siklus I Siswa Kelas

VIII SMP Negeri 1 Bolo ... 50 4.7 Hasil Tes Siswa Secara Individu Siklus I Kelas VIII SMP Negeri

1 Bolo ... 51 4.8 Deskripsi Skor Hasil Tes Individu Siklus I Pada Mata Pelajaran

PPKn Kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo ... 52 4.9 Distribusi Frekuensi Dan Persentase Skor Hasil Tes Individu

Siklus I Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo ... 53 4.10 Deskripsi Ketuntasan Hasil Tes Individu Siklus I Siswa

Kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo ... 53 4.11 Penafsiran Nilai Angket Siklus I ... 54 4.12 Hasil Pengamatan Keterlaksanaan Penerapan Pendekatan Learning

(13)

xiii

Negeri 1 Bolo ... 61 4.14 Hasil Tes Siswa Secara Kelompok Siklus II kelas VIII SMP

Negeri 1 Bolo ... 62 4.15 Deskripsi Skor Hasil Tes Kelompok Siklus II Pada Mata Pelajaran

PPKn Kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo ... 63 4.16 Distribusi Frekuensi Dan Persentase Skor Hasil Tes Kelompok

Siklus II Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo ... 64 4.17 Deskripsi Ketuntasan Hasil Tes Individu Siklus II Siswa

Kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo ... 65 4.18 Hasil Tes Siswa Individu Siklus II Kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo ... 65 4.19 Deskripsi Skor Hasil Tes Individu Siklus II Pada Mata Pelajaran

PPKn Kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo ... 66 4.20 Distribusi Frekuensi Dan Persentase Skor Hasil Tes Individu

Siklus II Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo ... 67 4.21 Deskripsi Ketuntasan Hasil Tes Individu Siklus II Siswa Kelas

VIII SMP Negeri 1 Bolo ... 68 4.22 Penafsiran Nilai Angket Siklus II ... 69 4.23 Distribusi Frekuensi Dan Persentase Hasil Tes Belajar

(14)

xiv

Gambar Halaman

4.1 Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I Pada Mata Pelajaran PPKn Siswa

Kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo ... 54 4.2 Ketuntasan Hasil Belajar Siklus II Pada Mata Pelajaran PPKn Siswa

(15)

1 A. Latar Belakang

Pendidikan sekolah merupakan proses pengembangan membimbing, mengajar dan melatih peserta didik untuk memberikan bakat kemampuan sesuai dengan ciri-ciri perkembangannya dalam dimensi intelektual, sosial, dan pribadi sehingga akibatnya akan dapat melanjutkan studi selanjutnya.

UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (SIKDISNAS) “Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat”.

Penetapan kurikulum sebagai acuan persyaratan kompetensi dan kompetensi dasar yang ingin dicapai merupakan salah satu inisiatif pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Diasumsikan bahwa informasi yang dipelajari di sekolah akan memungkinkan dia untuk memenuhi kriteria kompetensi yang ditetapkan, dan bahwa tujuan pendidikan yaitu perubahan perilaku yang diinginkan pada siswa akan tercapai setelah dia belajar.

Namun usaha pemerintah dalam mengembangkan mutu pendidikan memiliki titik kelemahan yang diperoleh dalam pengembangan mutu pendidikan tersebut. Hal ini dibuktikan dari persiapan siswa dalam hal menerima dan mendengarkan pembelajaran masih kurang dimana dalam menerima materi siswa akan lupa pada keesokan harinya. Sehingga daya tangkap yang di terima oleh siswa kurang dapat di pahami.

(16)

Pendidikan Kewarganegaraan (PPKn) adalah mata pelajaran yang bertujuan membantu pelajar agar menjadi masyarakat dengan pengetahuan, pemahaman atau pengertian, dan kecerdasan menganalisis keadaan sosial agar dapat berpartisipasi dalam kemasyarakatan sosial yang dinamis dan menghayati nilai falsafah bangsa. Mereka juga diharuskan mempunyai mentalitas dan karakter berwarga dan bernegara, serta kemampuan untuk terlibat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Penggunaan pendekatan pembelajaran yang tidak tepat dan kurangnya kreativitas guru telah diamati dalam kegiatan belajar mengajar baru-baru ini. Guru secara tradisional hanya mengandalkan pendekatan teoritis, dengan tugas utama siswa terdiri dari mendengarkan, mencatat, dan menyelesaikan tugas. Siswa merasa keadaan ini sangat tidak menarik, dan akibatnya mereka tidak mau menyerap materi pelajaran yang disampaikan oleh guru, terutama dalam disiplin ilmu seperti PPKn.

Kondisi pembelajaran yang optimal dapat tercapai apabila guru mampu Untuk memenuhi tujuan instruksional, siswa dan model pembelajaran harus berada dalam suasana yang menyenangkan, dan juga interaksi interpersonal yang efektif antara guru dan siswa, serta antara siswa dan siswa, diperlukan untuk pengelolaan kelas yang sukses.

Oleh karena itu, penguasaan kelas dan model pembelajaran oleh guru sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan efisien yang menghasilkan hasil yang optimal. Guru harus dapat menggunakan pengetahuannya tentang teori belajar mengajar serta teori perkembangan

(17)

sebagai pengelola lingkungan belajar untuk memunculkan kondisi belajar mengajar sehingga kegiatan belajar siswa lebih bagus dilaksanakan sekaligus memfasilitasi tujuan yang diinginkan.

Berdasarkan observasi yang penulis lakukan pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo Kecamatan Bolo Kabupaten Bima mereka mengatakan mata pelajaran PPKn sangat membosankan karena belajarnya monoton. Selain mata pelajaran PPKn yang membosankan, siswa juga kurang aktif dalam menerima mata pelajaran yang disampaikan oleh guru dalam kelas. Maka dari itu penulis melakukan wawancara kepada beberapa guru pengajar PPKn di sekolah tersebut mereka mengatakan mata pelajaran PPKn sangatlah kurang di minati oleh siswa di sekolah tersebut.

Sehingga sesuai dengan latar belakang di atas penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar PPKn Melalui Metode Learning Start With Quesstion (LSQ) Pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo Kecamatan Bolo Kabupaten Bima”

B. Masalah Penelitian 1. Identifikasi Masalah

Ada beberapa masalah yang akan dikaji pada penelitian ini yaitu:

a. Mengukur tingkat pencapaian siswa dalam mengetahui dan memahami suatu mata pelajaran.

b. Penerapan metode Learning Start With Question diharapkan sesuai dengan indikator keberhasilan yang diinginkan sehingga proses pembelajaran sesuai dengan yang diharapkan.

(18)

Bardasarkan pembahasan diatas dapat diuraikan masalah mendasar dalam kegiatan pembelajaran PPKn pada kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo Kecamatan Bolo Kabupaten Bima adalah kurangnya imajinasi guru dalam menerapkan metode pembelajaran, serta penggunaan pendekatan pembelajaran yang kurang tepat. Guru secara tradisional hanya mengandalkan pendekatan yang teoritis, dengan tugas utama siswa terdiri dari mendengarkan, mencatat, dan menyelesaikan tugas. Siswa merasa keadaan ini sangat tidak menarik dan akibatnya, mereka tidak mau menyerap materi pelajaran yang disampaikan oleh guru, terutama dalam disiplin ilmu seperti PPKn. Padahal pada dasarnya kita ketahui bahwa sebagai seorang guru profesional, seharusnya memikirkan untuk menggunakan berbagai model atau pendekatan pembelajaran yang dapat menekankan kepada keaktifan siswa dalam belajar sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran PPKn di SMP Negeri 1 Bolo Kec. Bolo Kab. Bima.

2. Alternatif Pemecahan Masalah

Untuk menyelesaikan masalah tentang rendah atau lemahnya hasil belajar siswa di SMP Negeri 1 Bolo Kecamatan Bolo Kabupate Bima, Penulis menerapkan penerapan pendekatan Learning Start With Question (LSQ) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PPKn.

3. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas penulis mengambil titik permasalahan dalam penelitian ini yaitu “Bagaimana Peningkatan Hasil

(19)

Belajar PPKn Melalui Metode Learning Start With Question (LSQ) Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo Kecamatan Bolo Kabupaten Bima?” C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Peningkatan Hasil Belajar PPKn Melalui Metode Learning Start With Question (LSQ) Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo Kecamatan Bolo Kabupaten Bima.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat. Adapun manfaat penelitian ini adalah:

1. Manfaat teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada penerapan metode pembelajaran Learning Start With Question pada pembelajaran PPKn di SMP Negeri 1 Bolo Kecamatan Bolo Kabupaten Bima.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Siswa

Penelitian ini dapat menjadikan siswa mampu memperbaiki pengetahuan siswa sehingga siswa dapat meningkatkan hasil belajar yang ada pada dirinya b. Bagi Guru

Guru mampu memahami keadaan jiwa peserta didiknya dan dapat membantunya dalam mengatasi berbagai kesulitan yang dialami sehingga kualitas dan hasil belajar siswa dapat meningkat

(20)

Diharapakan penelitian ini dapat memberikan masukan dalam rangka perbaikan dan peningkatan mutu pembelajaran PPKn di sekolah

d. Bagi peneliti

Penelitian ini dapat melatih diri agar mampu menerapkan ilmu yang diperoleh dalam perkuliahan sehingga dapat menambah wawasan, pengetahuan dan pengalaman bagi peneliti.

(21)

7 A. Kajian Teoritis

1. Pengertian Belajar

Belajar merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenaan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi, baik yang bersifat eksplisit maupun implisit (tersembunyi). Salah satu definisi belajar adalah proses memperoleh berbagai kemampuan, keterampilan, dan sikap. Belajar merupakan tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.

Belajar berarti perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya membaca, mengamati, mendengarkan, dan meniru. Belajar akan lebih efektif apabila si pembelajar melakukannya dalam suasana yang menyenangkan dan dapat menghayati objek pembelajaran secara langsung. Belajar sebagai suatu proses perubahan kelakuan berkat pengalaman dan latihan. Belajar itu merupakan suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan demi menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan nilai sikap.

2. Pembelajaran PPKn

Sesuai uraian Depdiknas (2007) PPKn merupakan mata pelajaran dengan visi utama sebagai pendidikan demokrasi yang bersifat multidimensional. Ia merupakan pendidikan nilai demokrasi, pendidikan

(22)

moral, pendidikan sosial, dan masalah pendidikan politik. Namun yang paling menonjol adalah sebagai pendidikan nilai dan pendidikan moral. Oleh karena itu secara singkat PPKn dinilai sebagai mata pelajaran yang mengusung misi pendidikan nilai dan moral. Alasannya antara lain sebagai berikut.

a. Konsep nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945, serta dinamika perwujudannya dalam kehidupan bangsa Indonesia menjadi landasan PPKn.

b. Perwujudan nilai-nilai tersebut dalam perilaku kehidupan nyata merupakan tujuan akhir pembelajaran PPKn.

c. Siswa dan guru harus terlibat secara emosional, intelektual, dan sosial dalam proses pembelajaran agar prinsip-prinsip tersebut tidak hanya dipahami (kognitif), tetapi juga diserap (afektif) dan dipraktikkan (psikomotorik).

Menurut Hanafy, M. S. (2014:67). Pembelajaran merupakan aktivitas utama dalam proses pendidikan. Pendidikan secara nasional didefinisikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan baik untuk peserta didik itu sendiri maupun untuk masyarakat, bangsa dan Negara.

Menurut Aryani dan Susantim (2010:18) Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang menitikberatkan pada pengembangan diri yang beraneka ragam, baik dari segi agama, sosial budaya, bahasa, usia, dan suku bangsa, agar menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter.

Pendidikan Kewarganegaraan, berdasarkan pandangan di atas adalah pendidikan yang menitik beratkan pada pendidikan nilai dan moral,

(23)

serta pembangunan jati diri dan cinta tanah air, untuk menghasilkan warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter.

Tema Pendidikan Kewarganegaraan mencakup berbagai topik. Aspek-aspek tersebut menurut Depdiknas (2007) antara lain sebagai berikut:

a. Hidup rukun dalam perbedaan, cinta lingkungan, kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, Sumpah Pemuda, keutuhan NKRI, partisipasi bela negara, sikap positif terhadap NKRI, keterbukaan, dan jaminan keadilan adalah semua aspek persatuan dan kesatuan bangsa.

b. Tatanan dalam kehidupan keluarga, tata tertib sekolah, norma kemasyarakatan, peraturan daerah, norma tingkat nasional dan negara bagian, sistem hukum dan peradilan nasional, serta hukum dan keadilan internasional merupakan contoh norma, undang-undang, dan peraturan.

c. Hak dan kewajiban anak, hak dan kewajiban anggota masyarakat, instrumen hak asasi manusia nasional dan internasional, serta pemajuan, penghormatan, dan perlindungan hak asasi manusia merupakan contoh hak asasi manusia.

d. Persyaratan warga negara termasuk hidup bersama, harga diri warga negara, kebebasan berorganisasi, kebebasan berekspresi, menghormati keputusan bersama, pencapaian diri, dan kesetaraan warga negara.

(24)

e. Konstitusi Negara meliputi: Proklamasi kemerdekaan dan konstitusi pertama, konstitusi yang telah digunakan di Indonesia, hubungan dasar negara dengan konstitusi.

f. Pemerintah desa dan kecamatan, pemerintahan daerah dan otonomi, pemerintah pusat, demokrasi dan sistem politik, budaya politik, budaya demokrasi menuju masyarakat madani, sistem pemerintahan, dan pers dalam masyarakat demokratis semuanya tercakup.

g. Kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara, proses penetapan Pancasila sebagai dasar negara, penerapan cita-cita Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, dan Pancasila sebagai ideologi terbuka semuanya tercakup dalam Pancasila.

h. Globalisasi dalam konteksnya, politik luar negeri Indonesia di era globalisasi, pengaruh globalisasi, hubungan internasional dan organisasi internasional, dan evaluasi globalisasi adalah semua topik yang dibahas dalam kursus ini.

3. Metode Pembelajaran

Metode pembebelajaran ini sangat penting untuk memastikan bahwa proses belajar mengajar menyenangkan bagi siswa dan mereka dapat dengan mudah menyerap informasi dari para pendidik.

Menurut Nana Sudjana (2015:67) Metode Dalam pendidikan, hal ini menunjukkan bahwa semua metode pengajaran yang merupakan komponen dan proses pendidikan, serta alat untuk mencapai tujuan dan konsensus sistem pendidikan. Pendekatan pengajaran ditentukan oleh tujuan dan materi yang telah ditetapkan sebelumnya.

Menurut Abuddin Nata (2019:213) Selain tujuan yang ingin dicapai, penerapan metode harus memperhatikan materi pelajaran yang akan

(25)

diajarkan, kondisi siswa, setting, dan kemampuan pendidik tersebut. Satu teknik mungkin tepat untuk mencapai beberapa tujuan tetapi tidak untuk yang lain. Satu teknik mungkin tepat untuk mencapai beberapa tujuan tetapi tidak untuk yang lain. Strategi tertentu mungkin sesuai untuk siswa dan lingkungan target tertentu, tetapi tidak cocok untuk semua siswa dan lingkungan.

Oleh karena itu, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu cara atau strategi penyampaian materi pebelajaran tertentu kepada siswa agar mereka mampu mempelajari, mengerti, menerapkan, dan menguasai materi pembelajaran yang diajarkan oleh guru, serta kelangsungan belajar mengajar pada siswa dilakukan sesuai dengan tujuan.

Selanjutnya teknik pembelajaran menurut Hanifah, nanang dan cucu suhana (2019:67) dapat dilihat sebagai bagaimana seseorang menerapkan metode ke dalam tindakan. Misalnya, penggunaan metode ceramah di kelas dengan jumlah siswa yang banyak memerlukan strategi tersendiri, yang secara teknis berbeda dengan metode ceramah di kelas dengan jumlah siswa sedikit.

Sedangkan menurut Rustiah (2012:67) Strategi pembelajaran adalah kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan oleh guru dan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa metode merupakan taktik penyajian bahan ajar, teknik bagaimana guru menjalankan metode, dan strategi bagaimana tujuan harus dicapai.

4. Metode Learning Start With Question (LSQ)

Metode Learning Start With Question (LSQ) yaitu metode pembelajaran aktif di mana siswa mengajukan pertanyaan dan guru menjawab dengan menjelaskan apa yang mereka tanyakan. Bertanya dapat dilihat sebagai bentuk umpan balik dan cara untuk menarik minat siswa. Bertanya dan menjawab pertanyaan adalah inti dari belajar.

(26)

Menjawab pertanyaan menunjukkan kemampuan berpikir seseorang, sedangkan bertanya mencerminkan rasa ingin tahu seseorang.

Menurut Suryo Budi Susanto (2013:432) Metode learning starts with a question adalah metode dimana siswa diarahkan untuk belajar mandiri dengan membuat pertanyaan berdasarkan bacaan yang diberikan oleh guru.

Menurut Hamruni (2019:276) Metode Learning Starts With A Question (LSQ) adalah suatu metode pembelajaran dimana proses belajar sesuatu yang baru akan lebih efektif jika siswa aktif dalam bertanya sebelum mereka mendapatkan penjelasan tentang materi yang akan dipelajari dari guru sebagai pengajar.

Adapun cara-cara dalam metode Learning Start With Question yakni: a. Pilihlah bahan bacaan yang relevan dan berikan kepada siswa.

Dengan memutuskan topik atau bab tertentu dari buku teks. Cobalah membaca apa pun yang menyertakan informasi umum atau yang memungkinkan multitafsir.

b. Siswa hendak mempelajari pelajaran itu secara individu atau dengan seorang rekan.

c. Minta siswa agar melingkari bagian-bagian teks yang tidak mereka pahami. Dorong mereka untuk membuat tanda sebanyak mungkin. Bergabunglah dengan pasangan studi dengan pasangan lain jika waktu memungkinkan, dan mintalah mereka memperdebatkan poin-poin yang tidak diketahui yang telah ditandai.

d. Minta siswa untuk membuat pertanyaan tentang materi yang telah mereka baca secara berpasangan atau kelompok kecil.

(27)

f. Jawablah pertanyaan-pertanyaan ini untuk menyampaikan materi pelajaran.

Strategi pembelajaran ini, mewajibkan siswa untuk membaca materi yang akan dipelajari sebelum guru memulai pelajaran, hal ini dilakukan agar memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan materi, akibatnya siswa akan secara aktif bertanya dan mengeluarkan pendapatnya.

Adapun kelebihan dan kekurangan dari metode Learning Start With Question adalah:

1) Kelebihan metode Leraning Start With Question yaitu: a. Peserta didik dituntut berani dan tidak malu. b. Peserta didik akan terpancing untuk berfikir.

c. Meningkatkan motivasi peserta didik dalam mempelajari sesuatu atau menimbulkan gairah belajar.

d. Pembelajaran lebih komunikatif dan produktif.

e. Metode ini dapat meningkatkan kepercayaan diri peserta didik serta dapat meningkatkan minat baca.

f. Pendidik dapat mengetahui taraf daya tangkap peserta didik sehingga pembelajaran dapat diselaraskan dengan kemampuan mereka.

2) Sedangkan kekurangan dari metode Learning Start With Question yaitu:

(28)

a. Peserta didik yang malas memperhatikan akan bosan jika bahasan dalam pembelajaran tersebut tidak disukai.

b. Tidak semua peserta didik berani mengajukan pertanyaan.

c. Peserta didik yang minat membacanya rendah akan sulit mengikuti pelajaran karena awal pelajaran dimulai dengan membaca.

5. Pengertian Hasil Belajar

Istilah hasil belajar berasal dari bahasa Belanda “prestatie” dalam bahasa Indonesia menjadi prestasi yang berarti hasil usaha. Dengan demikian prestasi belajar dan hasil belajar dapat dikatakan sama.

Menurut Nana Sudjana (2010:22) Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.

Menurut Kunandar (2012:62) Hasil belajar adalah kompetensi atau kemampuan tertentu baik kognitif, afektif, maupun psikomotor yang dicapai atau dikuasai peserta didik setelah mengikuti proses belajar mengajar.

Menurut Rosma Hartini Sams (2010:33) Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh seseorang setelah menyelesaikan proses belajar berupa keterampilan dan perilaku baru sebagai hasil latihan atau pengalaman yang diperoleh, maka hasil belajar dapat diartikan sebagai kemampuan yang diperoleh seseorang setelah menyelesaikan proses belajar.

Hasil belajar adalah standar yang digunakan untuk mengukur tingkat pencapaian siswa dalam mengetahui dan memahami suatu mata pelajaran, dan biasanya dinyatakan dalam huruf atau angka. Setelah siswa melalui proses pembelajaran, mereka dapat memperoleh hasil belajar melalui keterampilan, nilai, dan sikap.

Perubahan dapat diartikan sebagai perbaikan dan perkembangan dari sebelumnya, seperti dari tidak tahu menjadi tahu. Setelah dilakukan

(29)

evaluasi, diperoleh hasil belajar. Menurut Mulyasa, evaluasi hasil belajar pada hakikatnya merupakan pengukuran terhadap perubahan perilaku yang telah terjadi. Perubahan perilaku siswa dijadikan sebagai tolak ukur hasil belajar.

Siswa diharapkan dapat mencapai hasil belajar yang baik sebagai hasil dari proses pembelajaran yang tepat sesuai dengan tujuan instruksional yang telah ditentukan sebelum dimulainya kelangsungan pembelajaran. Penggunaan tes merupakan salah satu metode untuk menentukan tingkatan keberhasilan belajar. Tes ini dimaksudkan untuk mengevaluasi hasil belajar pada materi pelajaran yang diajarkan oleh guru sekolah. Hasil belajar merupakan tolak ukur atau tolak ukur yang menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam mengetahui dan memahami suatu materi pelajaran dari proses pengalaman belajarnya yang diukur dengan ujian, sesuai dengan penjelasan di atas.

6. Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Hasil belajar siswa adalah keterampilan yang diperolehnya sebagai hasil dari pengalaman belajarnya. Siswa mendapatkan berbagai pengalaman dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil belajar memegang peranan penting dalam proses pembelajaran karena menginformasikan kepada guru tentang kemajuan siswanya dalam mencapai tujuan belajarnya melalui proses kegiatan belajar mengajar. Dengan informasi ini, guru dapat merencanakan dan membina kegiatan siswa tambahan baik untuk individu maupun kelompok belajar.

(30)

Menurut Sumadi (2009:235) Unsur-unsur yang mempengaruhi proses dan hasil belajar dibagi menjadi dua kategori: faktor internal dan faktor eksternal yang mempengaruhi siswa. Keadaan fisik seperti kesehatan organ tubuh, kondisi psikologis seperti kapasitas intelektual dan emosional, dan kondisi sosial seperti kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan merupakan contoh kondisi internal.

Siswa yang merasakan ketegangan emosional, seperti ketakutan terhadap pendidik, mungkin merasa sulit untuk mempersiapkan pembelajaran baru karena mereka terus-menerus diingatkan akan perilaku pendidik yang ditakuti. Siswa yang memiliki masalah dalam bersosialisasi, misalnya, akan mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungannya, yang pada akhirnya akan menimbulkan kesulitan belajar. Faktor internal dapat berkembang sebagai akibat dari pengalaman dan perubahan belajar sebelumnya, seperti kompleksitas situasi internal, kondisi eksternal di lingkungan peserta didik akan mempengaruhi persiapan, proses, dan hasil belajar, seperti keragaman dan tingkat kesulitan bahan pembelajaran yang dipelajari, lokasi belajar, iklim, suasana lingkungan, dan budaya belajar masyarakat. Siswa yang mempelajari bahan ajar dengan tingkat kesulitan yang tinggi namun tidak memiliki bakat internal yang diperlukan untuk mempelajarinya, misalnya, akan mengalami tantangan belajar. Dengan demikian siswa harus memiliki kapasitas internal yang diperlukan agar berhasil dalam memperoleh materi pembelajaran baru. Perkalian, misalnya, mengharuskan anak memiliki kemampuan internal dalam penjumlahan dan pengurangan. Belajar di tempat yang tidak memenuhi syarat, yang iklim atau cuacanya panas dan menyengat, dan suasananya bising akan mengganggu konsentrasi belajar.

(31)

Pembelajaran yang berhasil memerlukan perhatian pendidik terhadap kapasitas internal siswa maupun kondisi stimulasi eksternal. Dengan kata lain, mempelajari jenis kemampuan baru membutuhkan landasan kemampuan yang diajarkan sebelumnya atau pembelajaran sebelumnya dan keragaman konteks eksternal. Akibatnya, pengaruh yang mempengaruhi belajar dapat datang baik dari dalam maupun dari luar seseorang. Pengaruh eksternal seperti lingkungan hidup seseorang, serta aspek internal seperti masalah fisik dan kesehatan. Lingkungan siswa, baik di dalam kelas, sekolah, maupun di luar sekolah harus dioptimalkan pengelolaannya agar interaksi belajar mengajar lebih berhasil dan efisien. Hal ini mengandung pengertian bahwa lingkungan fisik dapat digunakan sebagai sumber belajar yang direncanakan atau digunakan, sedangkan lingkungan non fisik digunakan untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan kondusif.

7. Indikator Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan perubahan perilaku siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Apa yang dipelajari siswa mempengaruhi kemampuan mereka untuk memperoleh aspek-aspek modifikasi perilaku ini. Dengan demikian jika siswa memperoleh pengetahuan tentang ide-ide, perubahan perilaku yang mereka alami berupa penguasaan konsep.

Menurut Bloom (dalam Rifa’i dan Anni 2009:86) Dalam konteks pembelajaran, hasil belajar dicapai melalui tiga ranah yakni kognitif, emosional, dan psikomotorik.

(32)

a. Ranah Kognitif

Berkaitan dengan hasil belajar. Ranah kognitif mencakup enam kategori yaitu:

1) Mengingat (remembering), didefinisikan sebagai perilaku mengingat atau mengetahui informasi yang telah dipelajari sebelumnya.

2) Memahami (understanding), didefinisikan sebagai kemampuaan memperoleh makna dari materi peserta didikan

3) Menerapkan (applying), mengacu pada kemampuan menggunakan materi peserta didikan yang telah dipelajari di dalam situasi baru dan kongkrit.

4) Menganalisis (analyzing), mengacu pada kemampuan memecahkan material ke dalam bagian-bagian sehingga dapat dipahami struktur organisasinya

5) Mengevaluasi (evaluating), mengacu pada kemampuan membuat keputusan tentang nilai materi peserta didikan untuk tujuan tertentu 6) Mengkreasi (creating), merupakan kemampuan siswa dalam

mengaplikasikan konsep mata pelajaran menjadi suatu produk. Tabel 2.1 Kriterian Nilai Wujud Hasil Belajar Rentang KKM Kualifikasi Nilai

>85 80 Sangat berahasil A

74-85 80 Berhasil B

62-73 80 Cukup C

50-61 80 Kurang D

(33)

Berdasarkan tabel 2.1, peserta didik dengan skor lebih dari 85 memiliki kredensial 'sangat baik' (A), sedangkan peserta didik dengan skor 74 hingga 85 memiliki kualifikasi 'berhasil' (B), Antara 62 hingga 73 memiliki kualifikasi 'cukup' (C), 50 hingga 61 memiliki kualifikasi 'kurang' (D), dan memiliki kualifikasi 'gagal' jika skor kurang dari 50 (E). Dalam penelitian ini, penanda yang digunakan untuk menilai hasil belajar kognitif mata pelajaran PPKn sebagai berikut: (1) mengidentifikasi keanekaragaman budaya bangsa Indonesia; (2) memperhatikan keragaman budaya bangsa Indonesia; (3) mengakui kekayaan alam rakyat Indonesia; (4) mengutamakan kekayaan alam rakyat Indonesia; (5) mengakui keramahan masyarakat Indonesia; (6) memberikan contoh keramahan dalam kehidupan sehari-hari.

b. Ranah efektif

Perasaan, sikap, minat, dan nilai adalah semua faktor kategori dalam ranah afektif yakni:

1) Keinginan siswa untuk menunjukkan rangsangan atau kejadian tertentu disebut sebagai penerimaan.

2) Yang dimaksud dengan “reaksi” adalah partisipasi aktif siswa. Siswa pada tingkat ini tidak hanya menyajikan kejadian, tetapi juga menanggapinya dengan berbagai cara.

3) penilaian harga atau nilai yang terkait dengan item tertentu, kejadian, atau tindakan pada siswa

(34)

4) Mengorganisir, menangani berbagai rangkaian nilai, menyelesaikan perselisihan nilai, dan memulai proses pengembangan sistem nilai yang konsisten secara internal

5) konstruksi pola hidup, mengacu pada siswa individu yang memiliki sistem nilai yang telah membentuk perilaku mereka melalui waktu, memungkinkan mereka untuk menciptakan ciri-ciri gaya hidup.

Unsur penilaian karakter yang terlihat dalam penelitian ini, berdasarkan uraian tersebut, terdiri dari empat karakter yaitu kerjasama, tanggung jawab, disiplin, dan percaya diri.

c. Ranah Psikomotorik

Ranah psikomotorik mencakup tujuh kategori kemampuan fisik: persepsi, kesiapan, gerakan terarah, gerakan kebiasaan, gerakan rumit, penyesuaian, dan organisasi.

1) Penggunaan organ sensorik untuk mendapatkan isyarat yang mengarahkan aktivitas motorik disebut sebagai persepsi.

2) Istilah "kesiapan" mengacu pada kemampuan untuk terlibat dalam kegiatan tertentu. Persepsi terhadap petunjuk menjadi syarat penting pada level ini.

3) Gerakan terarah, yang dikaitkan dengan tahap awal penguasaan keterampilan kompleksgerakan terbiasa, berkaitan dengan tindakan kinerja dimana gerakan yang telah dipelajari itu telah menjadi biasa dan gerakan dapat dilakukan dengan sangat meyakinkan dan mahir

(35)

4) Gerakan kompleks, berkaitan dengan kemahiran kinerja dari tindakan motorik yang mencakup pola-pola gerakan yang kompleks

5) Kemampuan beradaptasi, yang mengacu pada bakat yang sangat berkembang yang memungkinkan individu untuk memodifikasi pola gerakan dalam menanggapi persyaratan baru atau ketika dihadapkan dengan skenario kesulitan baru.

6) Ketika sampai pada penciptaan pola gerakan baru yang dapat disesuaikan dengan situasi atau masalah tertentu, sebagian besar waktu ini dapat dilakukan oleh orang-orang yang sudah memiliki banyak pengalaman.

Hasil belajar adalah perubahan perilaku yang dicapai setelah mengalami peristiwa belajar berupa penguasaan konsep yang ditentukan dalam tujuan pembelajaran, yang meliputi ranah kognitif, emosional, dan psikomotorik, menurut beberapa teori di atas. Menurut beberapa teori di atas, hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang terjadi setelah mengalami peristiwa belajar berupa penguasaan konsep-konsep yang ditunjukkan dalam tujuan pembelajaran yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Nilai tes merepresentasikan tingkat ketercapaian pembelajaran PPKn dan mengacu pada KKM sekolah yakni 80. Peneliti akan menggunakan instrumen evaluasi untuk mengamati sikap siswa selama proses pembelajaran pada ranah afektif.

(36)

8. Penelitian Yang Relevan

Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang telah dilakukan yang menjadi bagian rujukan penulis antara lain:

a. Rosita Beraliklin tahun 2014, dengan judulPenerapan Metode Learning Starts WithA Question Peningkatan Keterampilan Membaca Nyaring Siswa Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Di Kelas IV SDN Madyopuro 1 Kecamatan KedungKandang Kota Malang. Hasil penelitian diperoleh hasil sebagai berikut: hasil pra tindakan rata-rata hasil belajar siswa 64,33 persen, setelah pembelajaran diterapkan rata-rata hasil belajar siswa 64,33 persen metode Learning Starts With A Question pada siklus I dan siklus II maka, Berdasarkan hasil post-test siklus, hanya 10 siswa (45,45%) yang mampu memperoleh nilai lebih tinggi dari standar keberhasilan yang ditetapkan (70%) dan 25 siswa (55,55%) tidak memenuhi standar yang ditetapkan, dengan rata-rata kelas menjadi 75%. Pada siklus II rata-rata ukuran kelas naik menjadi 20 siswa (90 persen), namun tingkat keberhasilan siswa turun menjadi 2 (9,91 persen). Akibatnya, nilai rata-rata tradisional siswa secara kelompok dan siswa secara individu gagal, karena masih ada dua siswa yang belum menyelesaikan proses pembelajaran, sedangkan yang sudah tuntas hanya 22 siswa.

b. Asmaun dengan judul Penerapan Metode LSQ (learning start with a question) dalam Meningkatkan Hasil Belajar PAI pada siswa kelas V SD Negeri 14 Abeli Kota Kendari. Selanjutnya dibandingkan dengan

(37)

nilai rata-rata siswa pada siklus I yaitu 73,8, nilai rata-rata siswa pada siklus II meningkat menjadi 80,1, dan memenuhi indikator kinerja yang direncanakan, dengan nilai 93,7 persen siswa > 70,00. Oleh karena itu, teknik LSQ (Learning Start With a Question) harus digunakan dalam proses pembelajaran, khususnya dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam, sehingga siswa dapat lebih memahami dan menerapkan mata pelajaran yang diajarkan.

c. Skripsi Muhammad Eksanto berjudul “Implementasi Strategi Pembelajaran Lsq (Learning Starts With A Question) Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Kelas IV Pada Mata Pelajaran IPA SD N Giriroto 1 Tahun Pelajaran 2013/2014”.Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan teknik pembelajaran LSQ (Learning Start With A Question) pada siswa kelas IV SD Negeri Giri Roto 1 dapat meningkatkan keaktifan belajar IPA.

B. Kerangka Pikir

Belajar pada dasarnya adalah interaksi antara siswa dengan lingkungannya yang mengarah pada perubahan perilaku yang positif. Banyak elemen yang mempengaruhi hubungan ini, baik kekuatan internal maupun lingkungan. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar selama proses pembelajaran, salah satunya adalah unsur strategi pembelajaran atau pendekatan pembelajaran. Ini mengacu pada upaya belajar siswa, yang termasuk menggunakan strategi mulai dengan pertanyaan.

(38)

Untuk meningkatkan hasil belajar PPKn, siswa harus termotivasi untuk belajar dengan melakukan kegiatan yang menarik. Diperlukan paradigma pembelajaran interaktif, di mana guru lebih banyak memberikan peran kepada siswa sebagai subjek pembelajaran dan lebih menekankan pada proses daripada hasil. Untuk mencapai hasil belajar, guru mengkonstruksi proses belajar mengajar yang memadukan peserta didik secara terpadu dan utuh pada komponen kognitif, afektif, dan psikomotorik. Untuk melibatkan siswa secara aktif dalam berpikir, mendengar, melihat, dan psikomotorik dalam pembelajaran PPKn diperlukan lingkungan, metodologi, dan model pembelajaran yang sesuai. Salah satu tanggung jawab guru adalah mengembangkan teknik pembelajaran dan memanfaatkan media pembelajaran agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar. Salah satunya adalah cara belajar yang diawali dengan pertanyaan.

Kerangka Pikir

Pembelajaran PPKn

Siklus I Metode Learning Start

With Question (LSQ)

Siklus II Peningkatan Hasil

Belajar GURU

(39)

C. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kerangka pikir di atas, maka diajukan hipotesis tindakan sebagai berikut: “Dengan Penerapan Pendekatan Learning Start With Questio(LSQ) dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran PPKndi kelas IX SMP Negeri 1 Bolo Kec. Bolo Kab. Bimadapat meningkat”.

(40)

26 A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu Guru didorong untuk mengembangkan teori personalnya tentang pendidikan berdasarkan praktek dikelas sehingga antara teori dan praktek kependidikan dapat terhubung. Digunakan penelitian tindakan kelas dalam penelitian ini karena adanya permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan proses pembelajaran di kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo Kecamatan Bolo Kabupaten Bima. Penelitian tindakan ini dilakukan dalam beberapa siklus tindakan hingga menunjukkan peningkatan terhadap hasil belajar siswa. Siklus akan dibagi menjadi empat tahap kegiatan yaitu: Tahap perencanaan, Tahap tindakan, Tahap observasi atau evaluasi, Tahap refleksi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Penelitian campuran ini merupakan suatu prosedur untuk mengumpulkan, menganalisis, dan mencampur metode kuantitatif dan kualitatif dalam suatu penelitian atau serangkaian penelitian untuk memahami permasalahan penelitian, (Creswell, 2015: 1088). Penelitian ini berguna untuk menggambarkan fenomena yang kompleks, dapat melihat perbandingan antar kasus, dan penelitian ini mampu menganalisis hasil gabungan dari penelitian kuantitatif dan kualitatif sehingga data akan semakin jelas dan saling melengkapi.

(41)

B. Lokasi dan Subjek Penelitian

Penelitian ini berlokasi di kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo Kecamatan Bolo Kabupaten Bima dan akan berlangsung selama waktu yang ditentukan. Penulis memilih lokasi ini karena melihat di Sekolah tersebut masih rendahnya keterampilan dalam hal belajar mengajar hal ini sesuai dengan permasalahan yang akan dikaji. Subjek penelitian ini adalah SMP Negeri 1 Bolo Kecamatan Bolo Kabupaten Bima, Penelitian ini berfokus pada siswa kelas VIII.

C. Faktor yang diselidiki

1. Pengertian Learning Start With Question (LSQ)

Learning Start With Question adalah metode pembelajaran aktif di mana siswa mengajukan pertanyaan dan guru menjawab dengan menjelaskan apa yang mereka tanyakan. Bertanya dapat dilihat sebagai bentuk umpan balik dan cara untuk menarik minat siswa. Bertanya dan menjawab pertanyaan adalah inti dari belajar. Menjawab pertanyaan menunjukkan kemampuan berpikir seseorang, sedangkan bertanya mencerminkan rasa ingin tahu seseorang.

2. Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar adalah standar yang digunakan untuk mengukur tingkat pencapaian siswa dalam mengetahui dan memahami suatu mata pelajaran, dan biasanya dinyatakan dalam huruf atau angka. Setelah siswa melalui proses pembelajaran, mereka mendapatkan hasil belajar dari segi keterampilan, nilai, dan sikap. Perubahan dapat diartikan sebagai

(42)

perbaikan dan perkembangan dari sebelumnya, seperti dari tidak tahu menjadi tahu. Setelah dilakukan evaluasi, diperoleh hasil belajar.

D. Prosedur Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Dalam pelaksanaannya, penelitian ini bekerja sama dengan guru mata pelajaran dan dilaksanakan dua siklus. Tiap siklus terdiri dari empat tahap kegiatan, yaitu: perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflection). Dapat dlihat pada bagan dibawah ini.

Sumber: Arikunto Suharsimi (2010:17) Pelaksanakan

Perencanaan Siklus 1 Pengamatan

Refleksi

Pelaksanaan

Perencanaan Siklus 2 Pengamatan

(43)

Tahapan pada setiap siklusnya diterapkan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Siklus I

a. Perencanaan (planning)

1) peneliti dan pendidik merencanakan penerapan pendekatan Learning Start With Question terhadap pelajaran yang kemudiandikembangkan

2) Dalam strategi Learning Start With Question diperlukan penyusunan skenario pembelajaran serta penyiapan materi dan media dan mempersiapkan soal evaluasi dan jawabannya pada siklus I

3) Selama fase studi, buat format observasi. b. Tindakan (action)

Pendidik misalnya melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan rencana-rencana yang telah dihasilkan peneliti.

pendekatan Learning Start With Question dengan langkah-langkah antara lain:

1) Pendidik menunjukkan rasa terima kasih dan inspirasi kepada siswa untuk topik yang mereka pelajari.

2) Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang harus dicapai.

3) Pendidik menginformasikan kepada siswa bahwa kegiatan yang mereka ikuti adalah kegiatan kelompok atau tim.

4) Pendidik membagi siswa menjadi lima kelompok yang terdiri dari lima orang.

(44)

6) Setiap kelompok diberi tugas membaca, memahami, dan mendiskusikan berbagai materi pembelajaran, serta menyusun rangkuman.

7) Setiap kelompok mengirimkan anggota ke kelompok lain untuk berbagi apa yang telah mereka pelajari.

8) Ketika semua tim telah menyelesaikan pekerjaan mereka, pendidik berkeliling kelas, mengunjungi setiap kelompok. Pendidik dapat membantu jika ada kesalahpahaman, tetapi mereka tidak boleh mencoba mengambil alih kepemimpinan kelompok.

9) Pendidik memberi anak-anak kesempatan untuk menyuarakan pikiran mereka.

c. Pengamatan (observasi)

1) Peneliti melaksanakan proses pengamatan kepada penerapan pendekatan Learning Start With Question

2) Selama penerapan teknik Learning Start With Question pada materi utama yang akan dibahas, pantau terus semua yang terjadi.

d. Refleksi (reflection)

Refleksi adalah kegiatan yang berorientasi pada proses yang mempertimbangkan dampak dari tindakan perbaikan yang dilakukan. Peneliti mempertimbangkan apakah pembelajaran melalui penggunaan Learning Start With Questions dapat meningkatkan hasil belajar siswa berdasarkan hasil observasi atau observasi dan kemampuan berpikir siswa, serta melakukan percakapan kolaboratif. Jika pelaksanaan siklus I tidak tuntas berdasarkan

(45)

indikator keberhasilan, maka dilaksanakan siklus berikutnya sampai indiaktor berhasil tercapai.

2. Siklus II

Pada prinsipnya semua kegaiatan siklus II sama dengan kegiatan pada siklus I, siklus II merupakan perbaikan dari siklus I.

Dalam siklus II langkah-langkah sama pada siklus I, seharusnya meninjau kembali rencana pembelajaran dengan melakukan revisi sesuai hasil evaluasi siklus I, serta mencari alternatif pemecahan masalah yang dihadapi pada siklus I, apabila siklus II ini pelaksanaan pembelajaran PPKn dengan menggunakan penerapan Learning Start With Question yang diharapkan belum meningkatkan hasil belajar siswa maka dapat ditindak lanjuti pada siklus berikutnya jika masih dibutuhkan.

E. Instrumen Penelitian

Instrument penelitian adalah alat-alat yang diperlukan atau dipergunakan untuk mengumpulkan data. Ini berarti dengan menggunakan alat-alat tersebut data dikumpulkan melalui instrument tes, angket dan observasi.

1. Tes

Tes adalah alat ukur yang diberikan kepada individu untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang diharapkan, baik secara tertulis, lisan atau perbuatan. Tes ini dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang tingkat pemahaman siswa terhadap pelajaran PPKn setelah diberikan pembelajaran dengan penerapan pendekatan Learning Start With Question. Peneliti akan dapat

(46)

mengetahui apakah hasil belajar siswa pada mata pelajaran PKn telah berkembang sesuai dengan yang diharapkan setiap siklusnya dengan menggunakan instrumen tes ini.

2. Angket

Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Angket merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden. Adapun prinsip penulisan angket yaitu isi dan tujuan pertanyaan , bahasa yang digunakan mudah, pertanyaan tertutup-terbuka, negatif-positif, pertanyaan tidak mendua, tidak menanyakan hal-hal yang sudah lupa, pertanyaan tidak mengarahkan, panjang pertanyaan, dan urutan pertanyaan.

3. Observasi

Observasi sebagai teknik pengumpulan data yang mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara dan kuesioner. Wawancara dan kuesioner selalu berkomunikasi dengan orang, maka observasi tidak terbatas pada orang, tetapi juga objek-objek alam yang lain. F. Teknik Pengumpulan Data

1. Observasi Pengamatan atau observasi

Observasi adalah proses pengumpulan data yang melibatkan mengamati perilaku, kegiatan, dan proses untuk mengumpulkan data dalam bentuk data kualitatifmemotret seberapa jauh efek tindakan telah mencapai sasaran.

(47)

Pengamatan lainnya. Lembar observasi aktivitas siswa dan guru digunakan untuk melakukan observasi. Tujuan dari studi observasi adalah untuk mempelajari bagaimana reaksi siswa akan pelaksanaan proses belajar mengajar.

2. Tes

Tes adalah serangkaian pertanyaan yang diberikan kepada individu atau sekelompok orang untuk menentukan keadaan atau tahap perkembangan seseorang atau lebih komponen psikologi pada orang tersebut. Kualitas psikologis mencakup hal-hal seperti prestasi atau hasil belajar, minat, kemampuan, sikap, IQ, reaksi motorik, dan berbagai fitur kepribadian lainnya. Di akhir kursus, tes untuk menilai hasil belajar PPKn diberikan pada kelas VIII.

3. Angket

Angket adalah sebuah cara atau teknik yang digunakan seorang peneliti untuk mengumpulkan data dengan menyebarkan sejumlah lembar kertas yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh para responden. Pada metode ini, pertanyaan-pertanyaan masalah ditulis dalam format kuesioner, lalu disebarkan kepada responden untuk dijawab, kemudian dikembalikan kepada peneliti. Dari jawaban responden tersebut,peneliti dapan memperoleh data seperti pendapat dan sikap responden terhadap masalah yang sedang diteliti.

G. Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan syarat merepresentasikan hasil observasi terhadap proses pembelajaran yang

(48)

dilakukan oleh guru dan seluruh kelas. Berikut adalah temuan dari analisis data penelitian ini:

1. Analisis data hasil observasi. Jenis Analisis data yang dipergunakan oleh peneliti dalam melaksanakan penelitian ini adalah kuantitatif, langkah-langkah sebagai berikut.

a. Dari Nilai keseluruhan masing-masing indikasi dan keaktifan siswa dihitung dengan menjumlahkan skor yang diperoleh dari pengamatan nilai aktivitas siswa pada masing-masing indikator.

b. Setelah penentuan nilai tetap untuk setiap indikator dan aktivitas siswa, langkah selanjutnya adalah membandingkannya dengan proyeksi skor maksimum.

c. Menghitung dengan rumus dari hasil prestasi keaktifan siswa

2. Hasil tes dianalisis menggunakan data. Rata-rata skor tes digunakan untuk menghitung analisis kuantitatif tes hasil belajar siswa. Nilai rata-rata tes dihitung dengan menjumlahkan semua hasil siswa.

H. Indikator Keberhasilan

Keberhasilan yang diperoleh dari hasil belajar siswa melalui tes, dapat diperoleh apabila:

a. rata-rata kelas sekurang-kurangnya tuntas KKM, yaitu 80

b. Ketuntasan belajar siswa sekurang-kurangnya 80% atau minimal 80% siswa memperoleh nilai >80

c. Terjadi peningkatan pada hasil belajar siswa pada siklus II jika dibandingkan dengan hasil belajar pada siklus I.

(49)

A. Deskripsi Kondisi Awal

Sebelum melakukan tindakan penelitian, terlebih dahulu peneliti melakukan tahap pra tindakan berupa observasi mengenai kegiatan pembelajaran PPKn di Kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengetahui gambaran awal mengenai kegiatan siswa saat proses pembelajaran PPKn disampaikan. Dari hasil observasi tersebut, diketahui bahwa kegiatan pembelajaran masih berpusat pada guru. Hal tersebut dibuktikan dengan kegiatan guru yang lebih dominan pada saat pembelajaran PPKn. Dalam menyampaikan materi PPKn, guru cenderung membelajarkan peserta didik hanya dengan mencatat atau menyalin dari awal hingga akhir pembelajaran, kegiatan tersebut menyebabkan siswa cenderung bosan atau jenuh dalam mengikuti pelajaran. Semestinya, dalam pembelajaran seharusnya siswa tidak hanya mencatat atau menyalin, akan tetapi siswa juga dituntut aktif dalam kegiatan pembelajaran.

Motivasi belajar siswa pada kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo dalam mengikuti pelajaran PPKn dinilai rendah. Hal ini terlihat ketika proses pembelajaran berlangsung, ada beberapa dari siswa yang membuat keributan di dalam kelas. Guru berulang kali mengkondisikan siswa yang membuat keributan di kelas untuk diam dan memperhatikan pembelajaran, namun hal tersebut tidak dihiraukan. Selain siswa yang membuat keributan, terdapat

(50)

siswa yang tidak mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh. Setelah siswa mencatat atau menyalin guru memberikan tugas kepada siswa untuk mengerjakan soal, namun banyak siswa yang mengerjakan soal dengan asal-asalan karna tidak mau membaca buku untuk mengerjakan soal.

Dari kegiatan pembelajaran PPKn di kelas VIII menimbulkan dampak yang kurang baik. Gambaran kondisi awal didukung oleh pemberian tindakan berupa soal (pre-test) PPKn yang diberikan kepada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo sebanyak 28 Siswa.

Berdasarkan hasil pra tindakan yang telah dilakukan terhadap proses pembelajaran PPKn, maka disusunlah rencana perbaikan terhadap proses pembelajaran PPKn dengan menggunakan penerapan metode Learning Start With Question (LSQ) yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo.

B. Deskripsi Siklus I 1. Pelaksanaan Siklus I

a. Tahap Perencanaan Siklus I

Kegiatan tahap perencanaan siklus I dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 19 Mei 2021 di kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo. Dari hasil observasi awal aktivitas siswa dilihat dari komponen siswa, masih ada sebagian siswa yang kurang menyukai dan merespon mata pelajaran PPKn, hal ini terlihat ketika siswa mengikuti proses pembelajaran PPKn. Sebagian siswa ada juga yang bersikap pasif dalam mengikuti diskusi,

(51)

dan sebagian siswa terkesan acuh serta kurang berpartisispasi aktif. Hal ini menunjukan bahwa hanya beberapa siswa saja yang aktif dalam bertanya, menjawab, menanggapi, dan mengemukakan ide maupun gagasannya. Hal ini menyebabkan rendahnya nilai pelajaran PPKn dantidak tercapainya nilai KKM yakni 80 setara dengan yang telah disepakati oleh sekolah. Untuk menyelesaikan problem demikian peneliti meggunakan penerapan pendekatan Learning start With Question untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelaran PPKn di kelas VIII SMP Negeri 1 Bolo.

Secara khusus, membuat rencana pelajaran. Peneliti membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang memuat materi pembelajaran yang akan digunakan sepanjang siklus I. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) juga mencakup kemampuan untuk merancang penilaian atau pertanyaan evaluasi agar menentukan apakah hasil belajar siswa telah meningkat atau tidak.

Peneliti juga membuat instrumen lembar observasi untuk mengukur seberapa besar keterlibatan siswa dalam mengikuti pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan menerapkan teknik Learning Start With Question. Sebelum perencanaan dilakukan, peneliti terlebih dahulu melakukan konsultasi pada guru mata pelajaran PPKn SMP Negeri 1 Bolo yaitu Bapak Muhammad Nur, S.Pd untuk Mengkaji kepraktisan RPP serta soal tes hasil belajar.

(52)

Langkah terakhir dalam proses perencanaan adalah menentukankan persyaratan penyelesaian minimum. Siswa dianggap berhasil dalam mata pelajaran ini jika nilai mereka memenuhi kriteria ketuntasan minimal 80 poin.

b. Tahap Pelaksanaan Siklus I

Setelah rencana dibuat, peneliti siap untuk melakukan penelitian sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Penelitian siklus I dimulai pada hari Rabu tanggal 19 Mei 2021 dikelas VIII SMP Negeri 1 Bolo pada jam pelajaran keempat sampai jam kelima pada pukul 09.00 sampai 10.00 WITA dengan alokasi waktu 2 x 45 menit.

Kegiatan belajar peneliti meliputi penggunaan perangkat pembelajaran untuk melakukan pembelajaran. Peneliti memisahkan kegiatan belajarnya menjadi tiga tahap yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.

Berikut ini adalah langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang dilakukan peneliti pada tahap awal proses pembelajaran yakni guru memberikan salam, menanyakan kabar dan mengecek kehadiran siswa, selanjutnya guru menginformasikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, kemudian guru menjelaskan materi pembelajaran yang telah ditentukan sebelumnya. Setelah kegiatan awal dilaksanakan guru masuk pada kegiatan inti pembelajaran yaitu guru memberikan stimulasi dengan cara mengarahkan peserta didik untuk mengasumsikan materi yang diberikan baik secara individu maupun kelompok, selanjutnya guru

(53)

mengajukan beberapa pertanyaan yang berkenaan dengan materi pembelajaran kepada siswa, kemudian peserta didik mencari atau mendiskusikan jawaban dari pertanyaan yang diberikan oleh guru serta menyimpulkan hasil dari materi yang telah diberikan oleh guru, selanjutnya peserta didik memaparkan hasil jawaban dari pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Setelah kegiatan inti dilaksanakan, guru masuk pada kegiatan penutup pembelajaran yaitu guru melakukan refleksi dengan peserta didik atas manfaat proses pembelajaran dan guru memberikan umpan balik kepada peserta didik atas pembelajaran yang telah dilakukan, selanjutnya guru menjelaskan materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya.

c. Tahap Pengamatan Siklus I

Sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa melalui pendekatan Learning Start With Question pada pembelajaran PPKn SMP Negeri 1 Bolo, maka pengamatan tindakan dengan menggunakan instrument sebagai berikut: 1) Lembar Observasi

a) Observasi Guru

Pada penelitian tindakan kelas ini aktivitas guru yang akan diamati yaitu kegiatan pembelajaran mulai dari awal hingga akhir. Hasil pengamatan yang dilakukan secara keseluruhan yaitu kegiatan pembelajaran PPKn menggunakan pendekatan Learning Start With Question.

(54)

b) Observasi Aktivitas Siswa

Pada penelitian tindakan kelas ini, aktivitas siswa yang diamati terdiri dari lima aspek yaitu: peserta didik yang aktif dalam bertanya, peserta didik yang memberikan penjelasan sederhana, peserta didik yang membangun keterampilan dasar, peserta didik yang memberikan penjelasan lebih lanjut, dan peserta didik yang mengatur strategi atau taktik. Observasi yang dilakukan peneliti yaitu dengan menilai hasil tes siswa secara individu dan membagi siswa menjadi beberapa kelompok dengan materi pembelajaran “Sumpah Pemuda Dalam Bingkai Bhineka Tunggal Ika”.

2) Hasil Tes Belajar

Hasil tes diperoleh dari tes yang dilakukan pada setiap akhir siklus, data yang diperoleh berupa angka tentang nilai yang diperoleh setiap siswa terhadap tes yang dikerjakan setelah diterapkan pendekatan Leraning Start With Question dalam proses pembelajaran PPKn.

d. Tahap Refleksi Siklus I

Antusiasme dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran yang terjadi pada pertemuan pertama pelaksanaan siklus I hampir berubah cukup baik dibandingkan sebelum penerapan tindakan. Pada umumnya siswa hanya mendengarkan apa yang dikatakan peneliti tanpa memahami atau memberikan umpan balik. Hanya beberapa siswa yang tampak lebih aktif bertanya selama proses pembelajaran setelah peneliti memberikan penjelasan kepada siswa. Dari hasil pengamatan ini, diketahui bahwa

(55)

dalam proses pembelajaran menggunakan pendekatan Learning Start Wuth Question pada pertemuan awal siklus I masih banyak yang kurang aktif.

C. Deskripsi Siklus II 1. Pelaksanaan Siklus II

a. Tahap Perencanaan Siklus II

Setelah melakukan refleksi dan hasil analisis yang telah dilakukan pada siklus I, maka disusun siklus II dengan tahap perencanaan yaitu menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang akan dilakukan pada siklus II dengan memperhatikan kekurangan yang terjadi pada siklus I. Pada siklus II pembelajaran lebih efektif dengan menggunakan pendekatan Learning Start With Question.

Tahap terakhir dalam perencanaan ini yaitu menetapkan kriteria keberhasilan pembelajaran. Dalam penelitian ini siswa dikatakan berhasil apabila nilai siswa mencapai krieria ketuntasan minimal dengan nilai 80.

b. Tahap Pelaksanaan Siklus II

Setelah mengembangkan perencanaan maka peneliti siap melaksanakan penelitian sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun, penelitian pada siklus II dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 22 Mei 2021 dikelas VIII SMP Negeri 1 Bolo pada jam pelajaran ketiga sampai jam keempat dimulai pada pukul 09.00 sampai pukul 10.30 WITA dengan alokasi waktu 2 x 45 menit.

(56)

Kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti adalah melakukan pembelajaran sesuai dengan perangkat pembelajaran. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan peneliti dibagi menjadi 3 tahap kegiatan yaitu: kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.

Langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti dalam kegiatan awal pada proses pembelajaran yaitu guru memberikan salam, menanyakan kabar, dan mengecek kehadiran siswa. selanjutnya guru menginformasikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, kemudian guru menjelaskan materi pembelajaran yang telah ditentukan sebelumnya. Setelah kegiatan awal dilaksanakan guru masuk pada kegiatan inti pembelajaran yaitu guru memberikan stimulasi dengan cara mengarahkan peserta didik untuk mengasumsikan materi yang diberikan baik secara individu maupun kelompok, selanjutnya guru mengajukan beberapa pertanyaan yang berkenaan dengan materi pembelajaran kepada siswa, kemudian peserta didik mencari atau mendiskusikan jawaban dari pertanyaan yang diberikan oleh guru serta menyimpulkan hasil dari materi yang telah diberikan oleh guru, selanjutnya peserta didik memaparkan hasil jawaban dari pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Setelah kegiatan inti dilaksanakan, guru masuk pada kegiatan penutup pembelajaran yaitu guru melakukan refleksi dengan peserta didik atas manfaat proses pembelajaran dan guru memberikan umpan balik kepada peserta didik atas pembelajaran yang

Gambar

Tabel             Halaman
Gambar           Halaman
Tabel 2.1 Kriterian Nilai Wujud Hasil Belajar  Rentang  KKM  Kualifikasi  Nilai
Table 4.1 Hasil Pengamatan Keterlaksanaan Penerapan  Pendekatan Learning Start With Question Siklus I Di Kelas VIII SMP
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pendidikan luar sekoiah adalah setiap usaha pela yanan pendidikan yang dilakukan dengan -\ sengaja,.. teratur dan berencana di luar

Jika pengumuman dilakukan oleh user /pengguna untuk kepentingan usahanya, maka Pencipta atau Pemegang Hak Cipta berhak atas manfaat ekonomi dengan memperoleh royalti

Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa sesuai asas transitif didapat bahwa gambaran umum perilaku konsumen mahasiswa mencapai kepuasan terinterpretasi dari

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur kemampuan power endurance lengan pada cabang olahraga yang menuntut gerak yang explosive dengan kekuatan yang

Mardiana (2012) mengidentifikasi trend dan tingkat ketimpangan ekonomi antar kabupaten/kota yang terjadi di Provinsi Jawa Timur menggunakan Indeks Williamson,

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum CHP dan CHK memiliki perubahan dengan pola yang hampir sama, yaitu mengalami peningkatan sineresis, serat pangan, dan

Pertumbuhan yang luar biasa dari komunitas Napster Versi baru setiap file-pemeriksaan software termasuk sebuah tombol Beli yang mempunyai link ke CDNow Mungkin bermanfaat

Untuk pengembangan lebih lanjut maka penulis memberikan saran yang sangat bermafaat dan dapat membantu Komunitas Sepak Bola Sosial Uni Papua untuk masa yang akan datang,