Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang 28

419  28 

Teks penuh

(1)

Apa yang Perlu Anda Ketahui

Tentang . . .

K o t a k P o s 1 1 8 8 B a n d u n g 4 0 0 1 1

Telepon (022) 6030392, Fax (022) 6027784, Email: iph@bdg.centrin.net.id INDONESIA PUBLISHING HOUSE

K o t a k P o s 1 1 8 8 B a n d u n g 4 0 0 1 1

Telepon (022) 6030392, Fax (022) 6027784, Email: iph@bdg.centrin.net.id INDONESIA PUBLISHING HOUSE

Telepon (022) 6030392; Fax: (022) 6027784; Email: iphbdg@gmail.com

(2)

© Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dicetak dan diterbitkan oleh Indonesia Publishing House

Bandung 2006

1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuat-an sebagaimperbuat-ana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling se-dikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun denda/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, meng-edarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana di-maksudkan pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500. 000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(3)

6

Apa yang Perlu Anda Ketahui

Tentang . . .

28 Uraian Doktrin Dasar

Alkitabiah

Departemen Kependetaan

Masehi Advent Hari Ketujuh Se-Dunia

6840 Eastern Avenue NW

(4)

A Biblical Exposition of 28 Fundamental Doctrines

Ministerial Association, General Conference of S.D.A. Copyright © 2005, Second Edition by Ministerial Association, General Conference of Seventh-day Adventists. This edition of SEVENTH-DAY ADVENTIST BELIEVE... A BIBLICAL EXPOSITION OF

28 FUNDAMENTAL DOCTRINES first published by Pacific Press Publishing Association, Boise, ID 83653, 2005

Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang...

28 Uraian Doktrin Dasar Alkitabiah

Pengalih bahasa: Drs. Wilson Nadeak, M.A., Donny Sinaga, M.B.A. Revisi: Elisha Gultom, M. A.

Desain sampul: Jayson Pardede Setting: Anna N. Siahaan, F. Soedarmo

Hak cipta terjemahan Bahasa Indonesia: Indonesia Publishing House Kotak Pos 1188, Bandung 40011

Email: iphbdg@gmail.com

Copyright © 1992, Edisi Revisi 2006 ini diterbitkan oleh: Indonesia Publishing House

No. Anggota IKAPI: 031/JBA/94

Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Sedunia, Departemen Kependetaan

Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang ... 28 Uraian Doktrin Dasar Alkitabiah/Departemen Kependetaan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Sedunia; pengalih bahasa, Wilson Nadeak, Donny Sinaga; Bandung: Indonesia Publishing House, 2006.

428 hlm.; 23 cm.; Times New Roman 11/12

Judul asli: Seventh-day Adventist Believe.... A Biblical Exposition of 28 Fundamental Doctrines

ISBN: 979-504-171-1

(5)

SEPATAH KATA

B

ertahun-tahun lamanya gereja Masehi Advent Hari Ketujuh agak enggan

meru-muskan dasar-dasar kepercayaannya. Namun demikian disadari pula, untuk kepen-tingan yang praktis kita harus mengikhtisarkan kepercayaan kita.

Pada tahun 1872 rumah percetakan Advent di Battle Creek, Michigan, menerbitkan sebuah ”sinopsis kepercayaan kita” dalam 25 dalil. Dokumen ini, setelah mendapat sedikit perbaikan dan perluasan menjadi 28 bagian, dimuat dalam buku Yearbook gereja tahun 1889. Untuk tahun-tahun berikutnya memang tidak dicantumkan, sampai pada Yearbook 1905 muncul kembali dan diteruskan setiap tahun sampai tahun 1914. Untuk menjawab permohonan yang datangnya dari para pemimpin yang bertugas di Afrika, dengan alasan yang masuk akal, bahwa “sebuah pernyataan yang akan membantu para pejabat pemerin-tah dan pemimpin lainnya, untuk memahami lebih sempurna mengenai pekerjaan kita, “maka dibentuklah komite yang terdiri dari empat orang, di dalamnya termasuk ketua General Conference, untuk menyiapkan sebuah pernyataan yang berhubungan dengan “dasar-dasar asas kepercayaan” yang diringkaskan. Pernyataan ini terdiri dari 22 kepercayaan dasar yang pertama kalinya diterbitkan dalam Yearbook 1931, yang tetap bertahan hingga tahun 1980 saat General Conference diadakan untuk membahasnya kembali dan memperluasnya walaupun masih tetap pada asas yang serupa, dengan ikhtisar dalam 27 paragraf dan kemu-dian diterbitkan dengan judul “Kepercayaan Dasar Masehi Advent Hari Ketujuh.”

Bahkan saat pencetakan ringkasan tahun 1980, gereja mengambil langkah bahwa hal itu bukanlah merupakan satu hal kepercayaan yang tidak bisa diubah. Pada kata pendahu-luan dari Kepercayaan Dasar Masehi Advent Hari Ketujuh itu dijelaskan bahwa:

“Masehi Advent Hari Ketujuh menerima Alkitab sebagai satu-satunya kepercayaan dan memegang dasar kepercayaan yang pasti sebagai ajaran langsung dari Kitab Suci. Keper-cayaan itulah yang disediakan di sini, terdiri dari pengertian gereja dan pernyataan dari Kitab Suci. Perbaikan dari pernyataan-pernyataan itu dapat dibuat pada satu rapat General Conference bilamana gereja dituntun oleh Roh Kudus kepada pengertian yang lebih sem-purna akan kebenaran Alkitab atau memperoleh bahasa yang lebih baik dalam menyatakan ajaran dari Firman Allah.”

Perluasan dan perbaikan seperti itu telah terjadi tahun 2005 pada rapat General Confe-rence Masehi Advent Hari Ketujuh di St. Louis, Missouri, USA, dimana ditambahkan pada dasar kepercayaan itu, melalui pemungutan suara, dan tambahan itu bukanlah hal yang ba-ru atau hal yang belum diketahui sebelumnya, tetapi pernyataan yang lebih baik dari pe-ngertian gereja akan kuasa Allah yang memberikan kemenangan dalam kehidupan ini mela-wan kuasa kejahatan bagi orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus. (lihat Bab XI).

Penambahan yang baru ini, berdasarkan pernyataan ringkasan pendek yang telah mun-cul pada bagian permulaan setiap bab. Tujuan kita dalam buku ini adalah menyediakan bagi anggota, sahabat, dan individu yang tertarik, akan perluasan yang mudah dibaca dan

(6)

kat Kristen Advent saat sekarang ini. Walaupun penambahan ini, tidak secara resmi dipu-ngut suara, (hanya ringkasan pernyataan itu secara resmi dipudipu-ngut suara di rapat General Conference), itu dapatlah dianggap merupakan bagian dari “kebenaran yang nyata dalam Yesus” (Epesus 4:21) yang Masehi Advent Hari Ketujuh sedunia miliki dan kabarkan.

Berkat kepercayaan dan dorongan yang diberikan mantan Ketua Neal Wilson bersama pemimpin lain dalam staf Masehi Advent Hari Ketujuh sedunia, maka departemen Kepen-detaan telah menyiapkan naskah ini, yang dilengkapi dengan bahan informasi yang dapat dipercayai tentang kepercayaan gereja kita sehingga terbit edisi pertama pada tahun 1988 untuk melengkapi informasi tentang kepercayaan gereja kita. Kita juga menyebut bebera-pa sarjana dan teknisi yang menyediakan bahan untuk mencetak edisi yang pertama seper-ti: P.G. Damsteegt, Norman Gulley, Laurel Damsteegt, Mary Louise, McDowell, David Jarnes, Kenneth Wade, dan Sekretaris Asosiasi Kependetaan yang sudah pensiun sebelum saya, W. Floyd Bresse. Juga 194 anggota komite yang berasal dari seluruh Divisi ditambah dengan komite kecil dari pemimpin editorial, ahli teologi, dan pendeta telah terlibat dalam supervisi penyediaan bahan tambahan edisi 1988. Kita juga berterima kasih atas tulisan dan hasil edisi yang dibuat oleh John M. Fowler dalam persiapan edisi kedua, edisi yang lebih luas, istimewa tambahan bab XI yang berjudul: “Bertumbuh Dalam Kristus.”

Akhirnya, penghargaan istimewa diberikan kepada saudara J. Robert Spangler, yang tadinya Sekretaris Asosiasi Kependetaan dan lama menjadi editor majalah Ministry, yang memulai konsep ini dan mempersiapkan dana untuk proyek ini. Mimpi juga kadang-ka-dang sukar menjadi kenyataan. Akan tetapi beliau sudah mewujudkannya. Anda sudah pegang itu ditanganmu sekarang. Tanpa visinya maka buku ini tidak ada seperti yang ada sekarang. Tanpa ketabahannya, itu tidak akan berlanjut untuk dicetak.

Kita berdoa sebagaimana Anda memperhatikan setiap dasar kepercayaan ini agar dapat melihat lebih jelas lagi Yesus dan rencana-Nya yang berlimpah untuk hidup pribadimu.

James A. Cress

Sekretaris Asosiasi Kependetaan

(7)

Kepada Para Pembaca Buku Ini...

A

pa yang Anda percayai mengenai Tuhan? Siapakah Dia? Apakah yang

diharapkan-Nya dari kita? Bagaimanakah Ia sesungguhnya?

Allah mengatakan kepada Musa bahwa tidak ada orang yang dapat memandang-Nya dan tetap tinggal hidup. Akan tetapi Yesus mengatakan kepada Filipus bahwa barangsiapa telah melihat Dia berarti telah melihat Bapa (Yoh. 14:9). Sejak Ia berjalan di antara kita— dan sesungguhnya menjadi salah seorang dari antara kita—kita dapat mengamati siapakah Allah itu dan bagaimanakah Ia sesungguhnya.

Dengan menuliskan 28 kepercayaan pokok ini kita mencoba memperlihatkan bagaima-na orang-orang Advent memandang Allah. Inilah kepercayaan kita mengebagaima-nai kasih-Nya, kelemahlembutan, kemurahan, anugerah, keadilan, belaskasihan, kesejatian, kebenaran dan damai-Nya. Melalui Yesus Kristus, kita dapat melihat Allah memangku anak-anak-Nya dengan penuh kasih sayang. Kita melihat Ia berduka ketika menyaksikan orang-orang yang meratap di kubur Lazarus. Kita melihat kasih-Nya ketika Ia berseru, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34).

Buku ini dituliskan untuk menunjukkan pandangan kita mengenai Kristus—sebuah pan-dangan yang berfokus pada bukit Golgota, tempat “kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadi-lan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman” (Mzm. 85:12). Di dalam Dia kita dibenar-kan oleh Allah” (2 Kor. 5:21).

Buku ini ditulis karena kita percaya bahwa setiap doktrin, setiap keyakinan, haruslah menunjukkan kasih sayang Tuhan kita. Menunjukkan satu pribadi yang memiliki cinta kasih yang tidak mengenal syarat, yang sama sekali tidak ada taranya dalam sejarah umat manusia. Mengakui bahwa Ia yang menjadi penjelmaan kebenaran yang tidak terbatas, yang dengan rendah hati, kita masih mengaku bahwa masih banyak kebenaran yang harus diungkapkan.

Buku itu ditulis dengan pengakuan bahwa kita sesungguhnya sangat berutang budi atas kebenaran Alkitabiah yang begitu melimpah yang kita terima dari kurun zaman gereja Kris-ten. Kita patut berterima kasih kepada saksi-saksi yang mulia seperti: Huss, Wycliffe, Luther, Tyndale, Calvin, Knox dan Wesley—yang maju menerebos ke dalam terang baru yang menerangi gereja menuju pemahanan akan sifat-sifat Allah sepenuhnya. Pemahaman itu terus mengalami perkembangan. “Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari” (Ams. 4:18). Jika kita menemukan segi-segi baru mengenai wahyu Allah, penemuan itu haruslah selaras betul dengan kesak-sian Kitab Suci.

Ketika menulis buku ini kami senantiasa dibimbing oleh sebuah petunjuk yang jelas dan senantiasa mengingatkan kami akan pernyataan bahwa “jika engkau menyelidiki Kitab Suci hanya untuk mengukuhkan pendapatmu sendiri, engkau tidak akan pernah mempero-leh kebenaran. Selidikilah Kitab Suci itu untuk mengetahui apa yang dikatakan Tuhan. Jika keyakinan timbul saat engkau menyelidiki, jika engkau melihat bahwa pendapat-pendapat yang kau anut tidak selaras dengan kebenaran, janganlah salah tafsirkan kebenaran hanya untuk menyesuaikannya dengan keyakinanmu sendiri, melainkan terimalah terang yang diberikan dengan hati terbuka. Bukalah hati dan pikiranmu agar engkau melihat hal-hal

(8)

(Mountain View, CA: Pacific Press Pub. Assn., 1900), hlm. 112).

Buku ini ditulis bukanlah untuk digunakan sebagai pernyataan keyakinan dalam per-angkat kepercayaan konkret secara teologis. Pengajaran satu-satunya yang dianut orang Advent ialah: “Alkitab, dan hanya Alkitab saja.”

Buku ini bukan dimaksudkan untuk merangsang imajinasi. Ini bukanlah sebuah karya spekulatif. Buku ini merupakan uraian kepercayaan kita yang dialaskan pada Alkitab de-ngan berpusatkan pada Kristus. Dan pokok-pokok kepercayaan yang dinyatakan di sini bukanlah hasil belajar yang rajin pada petang hari; kepercayaan yang disampaikannya meru-pakan hasil doa selama lebih seratus tahun, belajar, berdoa, refleksi, doa.... Dengan kata lain, rumusan yang disajikan merupakan hasil pertumbuhan gereja Advent “dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” (2 Ptr. 3:18).

Buku ini ditulis dengan kesadaran bahwa mungkin masih ada orang mempertanyakan apakah doktrin memang masih penting pada abad manusia bergumul untuk mempertahan-kan hidup di tengah-tengah ancaman nuklir yang memusnahmempertahan-kan, dalam abad yang sarat dengan perkembangan eksplosif teknologi, dalam abad mana orang Kristen berusaha de-ngan sia-sia menekankan kembali sejumlah hal yang menakutkan, tentang kemiskinan, ke-laparan, ketidakadilan dan sikap masa bodoh. Namun....

Kami telah menulis buku ini dengan suatu keyakinan yang mendalam bahwa semua doktrin, apabila dipahami secara memadai, yang berpusat pada Dia, yang adalah Jalan Kebenaran dan Hidup,” sesungguhnya sangatlah penting. Doktrin mendefinisikan sifat Tuhan yang kita sembah. Doktrin memberikan tafsiran mengenai peristiwa, peristiwa masa lalu dan sekarang, mengungkapkan suatu perasaan memiliki tempat dan tujuan di dalam kos-mos. Diuraikannya tujuan Allah ketika Ia melakukan sesuatu. Doktrin merupakan sebuah penuntun bagi orang Kristen, memberikan keteguhan dalam pengalaman hidup yang tidak berimbang, memasukkan kepastian ke tengah-tengah masyarakat yang mengingkari hal yang mutlak. Doktrin memberi makanan pada pikiran manusia serta menegakkan tujuan yang memberi ilham bagi orang-orang Kristen serta memotivasi mereka untuk merasakan keprihatinan orang lain.

Buku ini telah ditulis untuk menuntun orang-orang Advent yang beriman ke dalam sua-tu hubungan yang lebih dalam dengan Krissua-tus melalui belajar Alkitab. Mengenal Dia dan kehendak-Nya sangatlah penting di tengah-tengah abad yang penuh dengan tipu muslihat ini, di tengah-tengah berkecamuknya kemajemukan doktrin serta apatisme. Hanya dengan adanya pengetahuan yang demikian orang Kristen dapat aman terhadap orang-orang yang bagaikan “serigala-serigala yang ganas” yang datang dan berbicara untuk mengacaukan kebenaran serta membinasakan iman umat Allah (baca Kis. 20:29, 30). Terutama pada zaman akhir ini, agar terpelihara dari “rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan” (Ef. 4:14), maka semua anggota je-maat haruslah memiliki konsep yang benar mengenai sifat Allah, pemerintahan dan segala maksud tujuan-Nya. Hanyalah orang yang telah membentengi pikiran mereka dengan ke-benaran Kitab Suci yang dapat bertahan pada pergolakan terakhir itu.

(9)

penulis-tian yang saksama, menggambarkan sebuah uraian yang otentik dari keyakinan orang Ad-vent.

Akhirnya, buku ini ditulis dengan pengakuan bahwa doktrin yang berpusat pada Kris-tus mengemukakan tiga fungsi yang jelas: pertama, memajukan jemaat; kedua, memeliha-ra kebenamemeliha-ran; dan ketiga, mengkomunikasikan Injil dengan segala kekayaannya. Doktrin yang sejati bukanlah hanya sekadar kepercayaan saja, melebihi hal itu. Doktrin itu me-nyangkut tindakan. Melalui Roh Kudus, kepercayaan Kristen menjadi perbuatan yang di-penuhi dengan kasih sayang. Pengetahuan yang sejati mengenai Allah, Anak-Nya dan Roh Kudus adalah “pengetahuan yang menyelamatkan.” Itulah yang menjadi tema buku ini.—

(10)

Sepatah Kata ... viii

Kepada Para Pembaca Buku Ini ... x

DOKTRIN MENGENAI ALLAH Bab 1 Tuhan Allah ... 17

Bab 2 Keallahan ... 29

Bab 3 Allah Bapa ... 41

Bab 4 Allah Anak ... 49

Bab 5 Allah Roh Kudus ... 73

DOKTRIN TENTANG MANUSIA Bab 6 Penciptaan ... 83

Bab 7 Sifat dan Keadaan Manusia ... 95

DOKTRIN KESELAMATAN Bab 8 Pertikaian Besar ... 117

Bab 9 Hidup, Mati dan Kebangkitan Kristus ... 125

Bab 10 Pengalaman Keselamatan ... 137

DOKTRIN GEREJA Bab 11 Bertumbuh dalam Kristus ... 153

Bab 12 Gereja atau Jemaat ... 169

Bab 13 Umat yang Sisa dan Tugasnya ... 187

Bab 14 Kesatuan dalam Tubuh Kristus ... 205

Bab 15 Baptisan... 219

Bab 16 Perjamuan Tuhan ... 233

Bab 17 Karunia Rohani dan Tugas Pelayanan ... 245

Bab 18 Karunia Nubuat ... 255

DOKTRIN KEHIDUPAN KRISTEN Bab 19 Hukum Tuhan Allah ... 273

Bab 20 Hari Sabat ... 291

Bab 21 Penatalayanan ... 313

Bab 22 Tingkah Laku Orang Kristen ... 317

Bab 23 Pernikahan dan Keluarga ... 335

DOKTRIN MENGENAI AKHIR ZAMAN Bab 24 Pelayanan Kristus di Dalam Bait Suci di Surga ... 350

Bab 25 Kedatangan Kristus yang Keduakali ... 375

Bab 26 Kematian dan Kebangkitan ... 391

Bab 27 Milenium dan Akhir Dosa ... 419

(11)
(12)

Apa yang Perlu Anda Ketahui

Tentang . . . .

Kitab Suci, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, adalah Sabda Allah yang tersurat, oleh ilham Ilahi diberikan melalui orang-orang kudus yang berbicara dan menulis sementara mereka digerakkan oleh Roh Kudus.

(13)

17

T

idak ada buku seperti Alkitab yang amat

disukai, namun sangat dibenci dan seka-ligus dikecam. Banyak juga orang yang te-lah mati karena mencari Alkitab. Sebagian lagi dibunuh karena Alkitab. Buku itu telah mengilhami orang yang paling terkemuka dengan tindakan-tindakan yang paling luhur, tetapi juga dikecam karena kemerosotan. Pe-rang berkecamuk karena Alkitab, revolusi terdapat di dalam halaman-halamannya, dan kerajaan-kerajaan runtuh karena gagasan-gagasan yang terdapat di dalamnya. Manu-sia dari segala sudut pandang—mulai dari teolog pembebasan sampai kepada para ka-pitalis, dari fasis kepada Marxis, dari dikta-tor kepada para pembebas, dari fasisme hing-ga militeris—menyelidiki halaman-halaman-nya untuk mencari kata yang dapat membe-narkan perbuatan mereka.

Keunikan Alkitab bukanlah karena ketia-daan bandingannya secara politis, kultural, maupun pengaruh sosial, melainkan dari sumber dan masalah pokok yang dikan-dungnya. Dengan penyataan Allah tentang Allah-manusia yang unik:

Anak Allah, Yesus Kristus—Juruselamat dunia.

WAHYU ILAHI

Berabad lamanya banyak orang memper-tanyakan keberadaan Tuhan, sementara itu dalam babakan sejarah manusia banyak pula yang dengan meyakinkan menyaksikan bah-wa Ia ada dan Ia menyatakan diri-Nya. Ba-gaimana caranya Tuhan menyatakan diri-Nya, dan bagaimana fungsi Alkitab dalam wahyu-Nya.

Wahyu Secara Umum. Pandangan yang mendalam mengenai tabiat Allah bahwa se-jarah, tingkah laku manusia, hati nurani, dan yang dinyatakan secara alamiah, sering dise-but “wahyu secara umum” karena wahyu itu nyata bagi semua dan menarik pikiran.

Bagi berjuta manusia “Langit menceri-takan kemuliaan Allah, dan cakrawala mem-beritakan pekerjaan tangan-Nya” (Mzm. 19: 2). Sinar matahari, hujan, bukit-bukit, alir-an sungai, semualir-anya menjadi saksi

Pencip-BAB 1

(14)

ta yang penuh dengan kasih sayang. “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka ti-dak dapat berdalih” (Rm. 1:20).

Yang lain dapat melihat bukti pemeliha-raan Allah dalam hubungan yang penuh ba-hagia serta curahan kasih sayang di antara sahabat yang erat, kalangan anggota keluar-ga, suami dan istri, orangtua dan anak. “Se-perti seseorang yang dihibur ibunya, demi-kianlah Aku ini akan menghibur kamu” (Yes. 66:13). “Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia” (Mzm. 103:13).

Namun demikian, sinar matahari yang ma, yang telah menjadi saksi atas kasih sa-yang Allah Pencipta itu, dapat pula mem-balikkan bumi menjadi padang gurun yang gersang, mendatangkan bala kelaparan. Hu-jan yang sama juga dapat menjadi air yang menghanyutkan kaum keluarga; bukit-bukit yang sama, yang tinggi, dapat runtuh, rubuh dan hancur. Hubungan antara manusia se-ring diwarnai rasa cemburu, dengki, ama-rah, bahkan juga kebencian yang menimbul-kan pembunuhan.

Dunia sekitar kita memberi isyarat yang berbaur, sejumlah pertanyaan dan sejumlah jawabnya. Hal itu menampakkan konflik antara yang baik dan yang jahat, namun ti-dak menjelaskan bagaimana terjadinya kon-flik itu, siapa yang berseteru, mengapa, atau siapa yang pada akhirnya menang.

Penyataan Istimewa. Dosa membatasi penyataan diri Allah melalui ciptaan karena tersamarnya kemampuan kita menafsirkan kesaksian Allah. Dengan kasih, Allah mem-berikan penyataan istimewa tentang diri-Nya untuk membantu kita memperoleh jawaban

atas pertanyaan-pertanyaan ini. Melalui Per-janjian Lama dan PerPer-janjian Baru, Ia meng-ungkapkan diri-Nya kepada kita dengan cara yang istimewa, sehingga tidak ada lagi per-tanyaan mengenai sifat kasih sayang-Nya. Pada mula pertama penyataan-Nya melalui para nabi; kemudian puncak pernyataan-Nya tampak melalui Yesus Kristus (Ibr 1:1, 2).

Alkitab berisi dalil-dalil yang menyata-kan kebenaran mengenai Allah, dan menya-takan Dia sebagai satu pribadi. Kedua bi-dang penyataan itu perlu: Kita perlu menge-nal Tuhan Allah melalui Yesus Kristus (Yoh. 17:3), seperti halnya juga “menerima penga-jaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus” (Ef. 4:21). Melalui sa-rana Kitab Suci, Allah menerobos mental, moral dan keterbatasan rohani kita, meng-komunikasikan keinginan-Nya untuk me-nyelamatkan kita.

FOKUS KITAB SUCI

Alkitab menyatakan Allah dan membe-berkan umat manusia. Diungkapkan-Nya ke-sulitan yang kita hadapi dan jalan keluar di-nyatakan-Nya. Buku itu menyampaikan bah-wa kita sudah hilang, jauh dari Allah, serta menyatakan Yesus satu-satunya yang mencari dan membawa kita kembali kepada Allah.

Yesus Kristus adalah fokus Kitab Suci. Perjanjian Lama menyatakan Anak Allah se-bagai Mesias, Penebus dunia: Perjanjian Ba-ru menyatakan Dia sebagai Yesus Kristus, Juruselamat. Setiap halaman, apakah itu de-ngan lambang maupun kenyataan, menun-jukkan beberapa tahap pekerjaan dan tabi-at-Nya. Kematian Yesus di kayu salib meru-pakan puncak penyataan tabiat Allah.

(15)

ti-19

dak habis-habisnya. Apakah yang dapat memberikan gagasan yang mendalam kepa-da kita mengenai betapa mukepa-dahnya manu-sia itu berbuat kesalahan? Apakah cara pa-ling tepat untuk menyatakan dosa? Salib me-nyatakan Allah yang mengizinkan Anak Tunggal-Nya dibunuh. Sebuah pengorban-an ypengorban-ang luar biasa! Betapa Ia melakukpengorban-an se-buah pernyataan yang tiada taranya. Sesung-guhnya, fokus Alkitab ialah Yesus Kristus. Ia berada pada pusat panggung peristiwa se-mesta. Tidak lama lagi kemenangan-Nya di Golgota akan mencapai puncaknya pada pembinasaan orang jahat. Manusia dan Al-lah akan dipersatukan kembali.

Tema kasih Allah, khususnya seperti yang tampak dalam kematian Kristus seba-gai kor-ban di Golgota—adalah kebenaran yang pa-ling mulia dari alam semesta—ada-lah fokus Alkitab. Semua kebenaran pokok Alkitab ha-ruslah dipelajari dari sudut ini.

OTORITAS KITAB SUCI

Otoritas Alkitab atas iman dan praktik muncul dari sumbernya. Para penulisnya me-nganggap Alkitab sangat berbeda dari lite-ratur lainnya. Mereka menganggapnya seba-gai “kitab-kitab suci” (Rm. 1:2), “Kitab Su-ci” (2 Tim. 3:15), dan “firman Allah” (Rm. 3:2; Ibr. 5:12).

Keunikan Kitab Suci berdasarkan sum-ber dan keasliannya. Para penulis Alkitab ti-dak menyatakan bahwa merekalah yang membuat pesan yang disampaikan mereka melainkan pesan itu diterima mereka dari sumber Ilahi. Hanyalah dengan penyataan Ilahi mereka dapat “melihat” kebenaran yang telah disampaikan mereka (baca Yes. 1:1; Am. 1:1; Hab. 1:1; Yer. 38:21).

Para penulis ini menunjuk bahwa Roh Kudus inilah yang berhubungan dengan na-bi-nabi, yang kemudian meneruskannya

ke-pada umat (Neh. 9:30; bandingkan dengan Za. 7:12). Raja Daud berkata, “Roh Tuhan berbicara dengan perantaraanku, firman-Nya ada di lidahku” (2 Sam. 23:2). Yehezkiel me-nulis, “kembalilah rohku ke dalam aku,” “Roh Tuhan meliputi aku,” “maka aku di-angkat oleh Roh” (Yeh. 2:2; 11:5, 24, Terje-mahan Lama). Lalu Mikha memberi kesak-sian, “Tetapi aku ini penuh dengan kekua-tan, dengan Roh Tuhan” (Mi. 3:8).

Perjanjian Baru mengakui peranan Roh Kudus dalam penulisan Perjanjian Lama. Ye-sus mengatakan bahwa Daud diilhami Roh Kudus (Mrk. 12:36). Paulus percaya bahwa Roh Kudus berbicara “dengan perantaraan nabi Yesaya” (Kis. 28:25). Petrus mengung-kapkan bahwa Roh Kudus memimpin semua nabi, bukan hanya beberapa dari antara me-reka (1 Ptr. 1:10, 11; 2 Ptr. 1:21). Penulis sa-ma sekali hanya menjadi latar belakang saja, dan pengarang yang sesungguhnya—Roh Kudus—yang diakui: “Seperti yang dikata-kan Roh Kudus....” Dengan ini Roh Kudus menyatakan....” (Ibr. 3:7; 9:8).

Para penulis Perjanjian Baru mengaku bahwa Roh Kudus merupakan sumber peka-baran mereka. Rasul Paulus menjelaskan, “Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bah-wa di bah-waktu-bah-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh pe-nyesat” (1 Tim. 4:1). Yohanes berbicara “pa-da hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh” (Why. 1:10). Yesus memberikan perintah-Nya ke-pada murid-murid-Nya melalui Roh Kudus (Kis. 1:2; bandingkan dengan Ef. 3:3-5).

(16)

tentu Allah sendirilah yang menjadi penga-rangnya.

PENGILHAMAN KITAB SUCI

Rasul Paulus menyatakan bahwa “sega-la tulisan yang diilhamkan Al“sega-lah” (2 Tim. 3: 16). Kata Yunani Theopneustos, diterjemah-kan dengan kata “diilhamditerjemah-kan”sebenarnya secara harfiah berarti “dihembuskan Allah.” Allah “menghembuskan” kebenaran ke da-lam pikiran manusia. Kemudian giliran ma-nusia itulah untuk mengekspresikannya da-lam kata yang kemudian menjadi Kitab Suci. Oleh karena itu, ilham atau inspirasi adalah sebuah proses yang digunakan Allah untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran-Nya yang abadi.

Proses Inspirasi. Wahyu atau pernyata-an Ilahi diberikpernyata-an melalui inspirasi ypernyata-ang di-berikan Allah kepada “orang-orang berbicara atas nama Allah” yang digerakkan oleh “do-rongan Roh Kudus” (2 Ptr. 1:21). Pernyata-an-pernyataan ini diwujudkan dalam bahasa manusia dengan segala keterbatasan dan kurangannya, namun tetap merupakan ke-saksian Allah. Allah memberi ilham kepada manusia—bukan kata demi kata.

Apakah para nabi itu pasif saja seperti tape recorder yang merekam dan memantul-kan kembali apa yang direkamnya? Dalam beberapa hal tertentu para penulis disuruh menuliskan perkataan Tuhan sebagaimana yang dikatakan-Nya secara kata demi kata, akan tetapi pada umumnya Tuhan Allah me-nyuruh para penulis itu melukiskan perka-taan dan petunjuk-Nya menurut kemampuan yang terbaik yang dapat mereka berikan, ten-tang apa yang dilihat dan didengar mereka. Pada butir yang disebutkan belakangan, para penulis menggunakan gaya dan pola kalimat-nya sendiri.

Pengamatan Paulus mengatakan bahwa “karunia nabi takluk kepada nabi-nabi” (1 Kor. 14:32). Inspirasi yang sejati tidak mele-nyapkan individualitas nabi, akal, integritas ataupun kepribadiannya.

(17)

21

Dalam salah satu contoh kita dapati Tu-han berbicara dan menulis kata demi kata dalam Sepuluh Hukum. Tuhan yang menyu-sunnya, bukan manusia (Kel. 20:1-17;31:18; Ul. 10:4, 5), namun demikian, hal ini harus diungkapkan dalam batas-batas bahasa ma-nusia.

Oleh karena itu, Alkitab adalah pernya-taan kebenaran Ilahi di dalam bahasa manu-sia. Cobalah bayangkan upaya mengajarkan fisika quantum kepada seorang anak kecil. Kira-kira beginilah bentuk masalah, yang di-hadapi Allah untuk menyampaikan kebenar-an-kebenaran Ilahi kepada manusia, yang pe-nuh dengan dosa, yang sangat terbatas. Kare-na keterbatasan kita sebagai manusialah yang merintangi apa yang dapat dikomu-nikasikan-Nya kepada kita.

Persamaan seperti itulah yang terdapat antara Yesus, yang menjelma menjadi manu-sia, dengan Alkitab:’ Yesus adalah Allah yang juga manusia, yang Ilahi dan manusia disatukan. Oleh karena itu, Alkitab adalah paduan yang Ilahi dan manusiawi. Sebagai-mana yang telah dikatakan mengenai Kris-tus, demikian pula dikukuhkan mengenai Al-kitab bahwa “Firman itu telah menjadi ma-nusia, dan diam di antara kita” (Yoh. 1:14). Gabungan manusia Ilahi ini telah membuat Alkitab menjadi unik di antara literatur yang ada.

Inspirasi dan Para penulis. Roh Kudus menyiapkan beberapa orang tertentu untuk menyampaikan kebenaran Ilahi. Alkitab ti-dak menjelaskan secara rinci bagaimana Ia melayakkan orang-orang tersebut, tetapi da-lam beberapa cara Ia membentuk sebuah paduan antara perwakilan Ilahi dengan per-wakilan manusia.

Orang-orang yang turut ambil bagian da-lam penulisan Alkitab dipilih bukan karena bakat-bakat alamiah, juga bukan karena

per-nyataan wahyu perlu menobatkan orang ter-sebut atau meyakinkannya mengenai hidup kekal. Bileam mengumumkan pesan yang di-sampaikan Ilahi sementara ia melakukan per-buatan yang bertentangan dengan nasihat-nasihat yang diberikan Tuhan (Bil. 22: 24). Daud yang digunakan Tuhan melalui Roh Kudus, juga pernah melakukan kejahatan yang keji (bandingkan dengan Mzm. 51). Semua penulis Alkitab adalah orang-orang berdosa yang setiap hari memerlukan anuge-rah Tuhan (bandingkan dengan Rm. 3:12).

Pengalaman diilhaminya penulis-penulis Alkitab lebih dari sekadar penerangan atau tuntunan Ilahi, karena hal ini terjadi kepada semua orang yang mencari kebenaran. Alha-sil, kadang-kadang penulis Alkitab menulis pesan yang disampaikan kepada mereka tan-pa memahami sepenuhnya pekabaran Ilahi yang hendak dikomunikasikan oleh mereka itu (1 Ptr. 1:10-12).

Sambutan penulis-penulis Alkitab itu ter-hadap pekabaran yang disampaikan mereka tidaklah seragam. Dikatakan, bahwa Daniel dan Yohanes sangat tercengang dan tidak memahami tulisan yang disampaikan mela-lui mereka (Dan. 8:27; Why. 5:4), dan 1 Ptr. 1:10. menunjukkan bahwa para penulis lain mencari tahu makna pekabaran yang paikan mereka atau pekabaran yang disam-paikan orang-orang lain. Kadang-kadang orang-orang ini takut menyampaikan peka-baran yang diilhamkan melalui mereka, dan beberapa dari antara mereka malahan ber-debat dengan Allah (Hab. 1; Yun. 1:1-3; 4:1-11).

(18)

de-ngan “memberi tahu” (1 Sam. 9:15, Terje-mahan Lama). Zakharia menerima pengli-hatan dengan lambang disertai penjelasan-nya (Za. 4). Penglihatan atau khayal-khayal mengenai surga yang diterima Paulus dan Yohanes diiringi dengan petunjuk-petunjuk lisan (2 Kor. 12:1-4; Why. 4, 5). Yehezkiel mengamati peristiwa-peristiwa yang terjadi di tempat lain (Yeh. 8). Beberapa penulis turut serta dalam penglihatan-penglihatan mereka, menjalankan tugas-tugas tertentu se-bagai satu bagian dari penglihatan itu sen-diri (Why. 10).

Mengenai isinya, kepada beberapa orang, Roh memperlihatkan peristiwa yang akan terjadi (Dan. 2, 7, 8, 12). Sementara itu, be-berapa dari antaranya mencatat kejadian-ke-jadian yang penting, apakah berdasarkan pe-ngalaman pribadi maupun dengan memilih bahan-bahan dari catatan historis yang ada (Hakim-hakim, 1 Sam., 2 Taw., Injil dan Ki-sah Para Rasul).

Inspirasi dan Sejarah. Penegasan Alki-tabiah bahwa “segala tulisan yang diilham-kan Allah” bermanfaat serta berkuasa mem-beri petunjuk moral dan kehidupan rohani (2 Tim. 3:15, 16) tidak ada keragu-raguan mengenai bimbingan Ilahi dalam proses milihan. Entah informasi itu berasal dari pe-ngamatan pribadi, sumber lisan maupun tu-lisan, atau pernyataan langsung, semuanya itu sampai kepada penulis melalui bimbing-an Roh Kudus. Ini menjamin bahwa Alkitab layak dipercaya.

Alkitab menyatakan rencana Tuhan Al-lah di dalam interaksi dinamik-Nya dengan umat manusia, bukan dalam sebuah him-punan doktrin abstrak. Penyataan diri-Nya nyata dalam peristiwa-peristiwa yang benar yang terjadi pada waktu dan tempat yang pasti. Nilai-nilai historis yang dapat diper-caya sangatlah penting karena hal itulah yang

membentuk kerangka kerja pemahaman kita mengenai sifat Allah serta maksud tujuan-Nya bagi kita. Sebuah pemahaman yang te-pat akan membimbing kepada kehidupan ke-kal, sedangkan pandangan hidup yang keli-ru akan membawa kepada kekacauan dan ke-matian.

Allah menyuruh orang-orang tertentu un-tuk menulis sejarah hubungan-Nya dengan bangsa Israel. Pengisahan yang bersifat his-toris ini, ditulis dengan cara pandang yang sangat berlainan dari sejarah sekular, terdiri dari suatu bagian penting Alkitab (banding-kan Bil. 33:1, 2; Yoh. 24:25, 26; Yeh. 24:2). Kepada kita disajikan sejarah yang objektif dan tepat, tentu dari sudut pandang Ilahi. Roh Kudus memberikan kepada para penulis wa-wasan khusus agar mereka dapat mencatat peristiwa-peristiwa dalam pertentangan an-tara yang baik dan yang jahat yang menun-jukkan sifat Allah serta menuntun manusia dalam pencarian mereka atas keselamatan.

Insiden yang bersifat historis adalah “con-toh” dan “dituliskan untuk menjadi peringat-an bagi kita yperingat-ang hidup pada waktu di mperingat-ana zaman akhir telah tiba” (1 Kor. 10:11). Pau-lus berkata, “Sebab segala sesuatu yang di-tulis dahulu, telah didi-tulis untuk menjadi pe-lajaran bagi kita, supaya kita teguh berpe-gang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci” (Rm. 15:4). Kebinasaan Sodom dan Gomora merupakan “peringatan” atau amaran (2 Ptr. 2:6; Yud. 7). Pengalaman Ibrahim mengenai pembe-naran adalah merupakan sebuah contoh bagi setiap orang percaya (Rm. 4:1-25; Yak. 2:14-22). Bahkan hukum-hukum sipil Perjanjian Lama, yang sarat dengan makna rohani yang dalam, ditulis demi kepentingan kita seka-rang ini (1 Kor. 9:8,9).

(19)

bah-23

wa segala sesuatu yang diajarkan kepada-mu sungguh benar” (Luk. 1:4). Kriteria yang digunakan Yohanes untuk memilih peristi-wa kehidupan Yesus untuk dimasukkan ke dalam Injil yang ditulisnya ialah “supaya ka-mu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu mem-peroleh hidup dalam nama-Nya” (Yoh. 20: 31). Allah membimbing para penulis Alkitab untuk menyajikan sejarah dalam cara yang dapat menuntun kita kepada keselamatan.

Para penulis riwayat hidup tokoh-tokoh Alkitab menggunakan bukti lain dari inspi-rasi Ilahi. Digambarkannya dengan cermat kelemahan maupun kekuatan yang dimiliki tokoh-tokoh yang dikisahkannya. Mereka menuturkan dengan jujur dosa tokoh-tokoh itu, berikut keberhasilan yang telah diper-oleh mereka.

Nuh yang tidak dapat menguasai diri, di-kisahkan jelas tanpa ditutup-tutupi, begitu pula dengan akal bulus yang dilakukan Ibra-him. Dengan jelas tingkah laku Musa, Pau-lus, Yakobus dan Yohanes dicatat. Sejarah Alkitab mengungkapkan kegagalan raja bangsa Israel yang paling bijaksana sekali pun, dan kelemahan kedua belas bapa dan kedua belas rasul. Kitab Suci tidak membe-ri dalih mengenai mereka, tidak juga menge-cilkan kesalahan mereka. Dengan terus te-rang dituturkan apa adanya tentang mereka berikut kegagalan mereka, bagaimana me-reka seharusnya, melalui karunia Allah. Tan-pa inspirasi dari Tuhan tidak akan ada penu-lis riwayat hidup tokoh Alkitab dapat menu-lis uraian pengertian yang demikian.

Para penulis Alkitab menganggap kisah yang bersejarah, semuanya mengandung ca-tatan sejarah yang sejati, bukan sebagai do-ngeng maupun perlambang belaka. Banyak orang masa kini yang ragu-ragu dan meno-lak kisah mengenai Adam dan Hawa, menge-nai Yunus maupun kisah air bah. Padahal

Yesus menganggapnya sebagai sejarah yang benar dan secara rohaniah sangat relevan (Mat. 12:39-41; 19:4-6; 24:37-39).

Alkitab tidak mengajarkan pengilhaman sebagian atau tingkat inspirasi. Teori pengil-haman yang separuh-separuh itu bersifat spe-kulatif dan merampas Alkitab dari otoritas-nya.

Ketepatan Kitab Suci. Sebagaimana Ye-sus “telah menjadi manusia, dan diam di an-tara kita” (Yoh. 1:14), supaya dengan demi-kian kita dapat memahami kebenaran, Alki-tab telah diberikan dalam bahasa manusia. Pengilhaman Kitab Suci menjamin kelaya-kannya untuk dipercaya.

Seberapa jauhkah pimpinan Tuhan keti-ka mengirimketi-kan peketi-kabaran yang dijamin itu, bahwa pekabaran itu sendiri sahih dan sem-purna? Memang benar bahwa naskah kuno agak beragam namun kebenaran-kebenaran yang hakiki tetap terpelihara.3 Sementara pa-ra penyalin dan penerjemah Alkitab sangat mungkin mengadakan kesalahan-kesalahan kecil, bukti dari penyelidikan purbakala me-ngenai Alkitab menunjukkan bahwa kesalah-an-kesalahan itu sesungguhnya adalah ke-salahpahaman di pihak para sarjana. Seba-gian masalah itu timbul karena orang-orang yang membaca sejarah dan kebiasaan Al-kitab dipandang dari mata orang Barat. Kita harus mengakui bahwa pengetahuan manu-sia hanya sebagian saja—wawasan mereka terhadap pekerjaan Ilahi tetap tidak pernah lengkap.

(20)

dapat kita pahami betul? Boleh jadi kita ti-dak akan pernah dapat menerangkan setiap nas Alkitab, ya, memang tidak akan pernah dapat kita lakukan. Nubuatan-nubuatan yang digenapi membenarkan bahwa Alkitab da-pat dipercaya sepenuhnya.

Walaupun ada usaha-usaha untuk meng-hancurkannya, Alkitab tetap terpelihara de-ngan ajaib, bahkan dede-ngan ketepatan yang menakjubkan. Perbandingan penemuan gu-lungan Dead Sea Scrolls dengan naskah Per-janjian Lama menunjukkan kecermatan pe-nyampaiannya.4 Hal itu mengukuhkan kela-yakannya untuk dipercaya, keterpercayaan atas Kitab Suci sebagai pernyataan kehendak Allah yang tidak pernah salah.

OTORITAS KITAB SUCI

Kitab Suci memperoleh otoritas Ilahi ka-rena di dalam kitab-kitab itulah Tuhan ber-bicara melalui Roh Kudus. Oleh karena itu, Alkitab adalah Firman Allah yang ditulis-kan. Di manakah terdapat bukti pernyataan ini dan apakah implikasinya untuk hidup kita dan pencarian kita akan pengetahuan?

Pernyataan-pernyataan Kitab Suci. Para penulis Alkitab memberikan kesaksian bahwa pekabaran mereka langsung datang dari Tuhan Allah. Itulah “firman Tuhan” yang datang kepada Yeremia, Yehezkiel, Ho-sea dan yang lain-lain (Yer. 1:1, 2, 9; Yeh. 1:3; Hos. 1:1; Yl. 1:1; Yun. 1:1). Sebagai juru kabar-juru kabar Tuhan (Hag. 1:13; 2 Taw. 36:15), para nabi Tuhan diutus untuk berbica-ra atas nama-Nya, mengatakan, “Beginilah fir-man Tuhan Allah” (Yeh. 2:4; bandingkan Yes. 7:7). Firman-Nya mengandung kepercayaan dan otoritas yang dilimpahkan Tuhan.

Seringkali manusia yang digunakan Tu-han sebagai alat-Nya ditempatkan sebagai latar belakang. Matius menyinggung

otori-tas di balik Perjanjian Lama, hal mana para nabi dikutipnya dengan berkata, “Hal itu ter-jadi supaya genaplah yang difirmankan han oleh nabi” (Mat. 1:22). Ia melihat Tu-han yang menyampaikan langsung, otoritas itu; nabi hanyalah sebagai utusan yang tidak langsung.

Petrus menggolongkan tulisan-tulisan ra-sul Paulus sebagai Kitab Suci (2 Ptr. 3:15, 16). Dan Paulus sendiri memberikan kesak-sian mengenai apa yang dituliskannya, “Ka-rena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh per-nyataan Yesus Kristus” (Gal. 1:12). Para pe-nulis Perjanjian Baru menerima firman Ye-sus Kristus sebagai Kitab Suci dan meng-anggapnya memiliki otoritas yang sama se-perti tulisan-tulisan Perjanjian Lama (1Tim. 5:18; Luk 10:7).

Yesus dan Otoritas Kitab Suci. Sela-ma Sela-masa pelayanan-Nya, Yesus menekankan otoritas Kitab Suci. Waktu dicobai Iblis atau melawan seteru-seteru-Nya, kata “Ada ter-tulis” merupakan pertahanan dan penyerang-an-Nya (Mat. 4:4, 7, 10; Luk. 20:17). “Manu-sia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari se-tiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Mat. 4:4).

Ketika ditanya bagaimana seseorang dapat memperoleh kehidupan kekal, Yesus menja-wab, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” (Luk. 10:26).

(21)

25

Dengan tandas Ia mengatakan dan per-caya atas otoritas nubuat serta menyatakan bahwa perkataan itu ditujukan kepada-Nya. Kitab Suci, kata-Nya, “memberi kesaksian tentang Aku.” “Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu kamu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku”(Yoh. 5:39, 46). Pengukuhan Yesus yang paling meyakinkan ialah bahwa Ia men-dapat tugas dari Tuhan Allah dengan meng-genapi apa yang telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama (Luk. 24:25-27).

Demikianlah, tanpa syarat Kristus mene-rima Kitab Suci sebagai pernyataan yang sah dari kehendak Tuhan bagi bangsa manusia. Ia memandang Kitab Suci sebagai batang tu-buh kebenaran, sebuah pernyataan objektif, yang diberikan untuk menuntun manusia ke-luar dari kegelapan, aneka ragam kesalahan, kebiasaan dan dongeng-dongeng untuk mem-bawa kepada terang kebenaran yakni penge-tahuan yang mendatangkan keselamatan.

Roh Kudus dan Otoritas Kitab Suci. Waktu Yesus hidup di dunia ini para pemim-pin agama dan masyarakat yang bersikap acuh tak acuh tidak memperhatikan identi-tas-Nya yang sejati. Sebagian dari antara me-reka merasa bahwa Ia hanyalah seorang nabi seperti Yohanes Pembaptis, Elia, atau’ Ye-remia—hanya seorang manusia biasa. Ke-tika Petrus mengakui bahwa Yesus adalah “Mesias, Anak Allah yang hidup,” Yesus me-nunjukkan bahwa penerangan Ilahi itulah yang memungkinkan pengakuannya (Mat. 16:13-17). Paulus menekankan kebenaran ini: “Tidak ada seorang pun, yang dapat mengaku”: ‘Yesus adalah Tuhan,’ selain oleh Roh Kudus” (1 Kor. 12:3). Demikian pula-lah dengan Firman Alpula-lah yang tertulis. Tan-pa penerangan Roh Kudus pikiran kita ti-dak akan dapat memahami dengan tepat Al-kitab itu, atau mengakuinya sebagai

kehen-dak otoritas Allah. Karena “tikehen-dak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah” (1 Kor. 2:11) ke-mudian bahwa “manusia duniawi tidak me-nerima apa yang berasal dari Roh Allah, ka-rena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani” (1 Kor. 2:14). Sebab pemberitaan tentang salib me-mang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa” (1 Kor. 1:18).

Hanya berkat bantuan Roh Kudus, ba-rangsiapa yang menyelidiki “segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah” (1 Kor. 2:10), seseorang menjadi ya-kin akan otoritas Alkitab sebagai suatu wah-yu Allah dan kehendak-Nya. Hanyalah de-ngan salib itu terdapat ”kekuatan Allah” (1 Kor. 1:18) yang akan menjadikan seseorang dapat bergabung bersama-sama Paulus da-lam kesaksiannya, “Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, su-paya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita” (1 Kor. 2:12).

Roh Kudus dengan Kitab Suci tidak akan pernah dapat dipisahkan. Roh Kudus penga-rang dan pewahyu kebenaran Alkitab.

(22)

Ruang Lingkup Otoritas Kitab Suci. Kontradiksi antara Kitab Suci dan ilmu pe-ngetahuan seringkali disebabkan spekulasi. Apabila kita tidak dapat menyelaraskan ilmu pengetahuan dengan Kitab Suci, penyebab-nya hapenyebab-nyalah karena kita “memiliki pema-haman yang tidak sempurna baik mengenai ilmu pengetahuan maupun wahyu... tetapi jika dapat dipahami dengan baik, pastilah ke-duanya dalam keselarasan yang sempurna.

Semua hikmat manusia harus tunduk ke-pada otoritas Kitab Suci. Kebenaran-kebe-naran Alkitab adalah norma yang menjadi patokan ujian segala gagasan. Mengukur fir-man Allah dengan ukuran-ukuran fir-manusia ‘yang serba terbatas itu sama saja dengan upaya mengukur bintang-bintang dengan meteran. Ukuran-ukuran Alkitab tidak bo-leh ditaklukkan ukuran-ukuran atau norma-norma manusia. Norma-norma-norma yang terda-pat di dalamnya jauh lebih tinggi daripada segala akal budi dan literatur manusia. Kita ditimbang dengan takaran Alkitab, bukan-nya kita yang menimbangbukan-nya, karena itulah ukuran tabiat dan segala pengalaman dan pikiran.

Akhirnya, Kitab Suci berkuasa atas sega-la karunia yang berasal dari Roh Kudus, ter-masuk bimbingan melalui karunia nubuat atau karunia lidah (1 Kor. 12; 14:1; Ef. 4:7-16). Karunia Roh tidak lebih tinggi daripa-da Alkitab; sesungguhnya, justru karunia-karunia itu haruslah diuji oleh Alkitab, ka-lau karunia itu tidak sesuai dengannya, maka haruslah disingkirkan karena karunia yang demikian adalah palsu. “Akan torat dan as-syahadat, barangsiapa yang berkata-kata tia-da setuju dengan perkataan itu, sekali-kali tiada akan terbit fajar baginya” (Yes. 8:20, Terjemahan lama). (Baca juga bab 17 dari buku ini).

KESATUAN KITAB SUCI

Pembacaan Kitab Suci secara dangkal akan membuahkan pemahaman yang dang-kal pula. Kalau dibaca dengan cara seperti itu, maka Alkitab akan tampak seperti him-punan cerita yang tidak beraturan, khotbah yang centang perenang, dan sejarah yang ti-dak karuan. Akan tetapi, barangsiapa yang membuka pikiran kepada penerangan Roh Allah, barang siapa yang mau menyelidik kebenaran-kebenaran yang terpendam de-ngan sabar dan dede-ngan doa, akan menemu-kan bukti-bukti dalam Alkitab yang meru-pakan satu kesatuan dalam pengajaran me-ngenai prinsip-prinsip keselamatan. Ternyata Alkitab bukanlah sesuatu yang membosan-kan. Sebaliknya, Alkitab sangat kaya dan beraneka ragam dalam kesaksian yang amat serasi dalam keindahannya yang ajaib dan unik. Karena keanekaragaman yang terkan-dung di dalamnya, ragam-ragam pandangan itu sungguh baik untuk memenuhi keperlu-an mkeperlu-anusia sepkeperlu-anjkeperlu-ang zamkeperlu-an.

Tuhan Allah tidak menampakkan diri-Nya kepada manusia dalam sebuah rangkai-an yrangkai-ang terus-menerus trangkai-anpa selingrangkai-an, me-lainkan menampakkan diri-Nya sedikit demi sedikit, dari generasi kepada generasi. Apa-kah itu dinyatakan melalui pena Musa di padang belantara Midian, atau melalui Ra-sul Paulus ketika dipenjarakan di Roma, bu-ku-buku itu menampakkan komunikasi yang diilhami oleh Roh yang serupa. Pemahaman atas “pernyataan yang progresif’ ini berpe-ran dalam menanamkan pemahaman atas Al-kitab dan kesatuannya.

(23)

kedua-27

nya saling tidak bertentangan. Kedua saksi itu satu sebagaimana Tuhan Allah esa ada-nya. Perjanjian Lama, melalui nubuatan-nubuatan dan perlambang, menyatakan In-jil Juruselamat yang akan datang; Perjanji-an Baru, melalui kehidupPerjanji-an Yesus, menya-takan Juruselamat yang telah datang—Injil dalam wujud yang nyata. Kedua-duanya menyatakan Allah yang sama. Perjanjian Lama bertindak sebagai fondasi bagi Perjan-jian Baru. Di dalamnya disediakan kunci

untuk membuka Perjanjian Baru sementara Perjanjian Baru menjelaskan misteri Per-janjian Lama.

Dengan penuh rahmat dan karunia Allah memanggil kita supaya berkenalan dengan Dia melalui penyelidikan atas Firman-Nya. Di dalamnya akan kita temukan kekayaan berkat yang pasti akan keselamatan kita. Kita dapat mengungkapkannya bagi diri sendiri, karena Kitab Suci “diilhamkan Allah mang bermanfaat untuk mengajar, untuk me-nyatakan kesalahan, untuk memperbaiki lakuan dan untuk mendidik orang dalam ke-benaran.” Melalui Kitab Suci itulah kita da-pat “diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2 Tim. 3:16, 17).

Referensi :

1. Ellen G. White, Selected Message; (Washington, D.C.: Review and Herald, 1958), buku 1, hlm. 21. 2. Ibid.

3. Untuk bacaan tambahan, lihat White, Early Writings (Washington, D.C.: Review and Herald, 1945), hlm. 220, 221. 4. Lihat Siegfried H. Horn, The Spade Confirms the Boob rev. ed., (Washington, D.C.: Review and Herald, 1980). 5. Untuk mengetahui pandangan umum Masehi Advent Hari Ketujuh perihal penafsiran Alkitab, baca Laporan Tahunan

Komite GC, 12 Oktober 1986, “Methods of Bible Study,’ Disebarkan oleh Lembaga Penelitian Alkitab, GC, 6840 Eastern Avenue, N.W., Washington, D.C. 20012. Baca juga A Symposium on Biblical Hermeneutic, ed. G.M. Hyde (Washington, D.C.: Review and Herald, 1974); Gerhard F. Hanel, Understanding the Living Word of God (Mountain View, CA: Pacific Press, 1980). Bandingkan P. Gerard Damsteegt, “Interpreting the Bible” (Makalah disediakan untuk rapat di FED Biblical Research, Mei 1986).

(24)

28

(25)

29

D

i Golgota hampir semua orang menolak

Yesus. Hanya beberapa orang saja yang mengetahui siapa Dia sebenarnya—terma-suk di antara mereka yang mengenal-Nya ialah pencuri yang hampir mati yang menye-but Dia Tuhan (Luk. 23:42), dan serdadu Ro-ma yang berkata, “Sungguh, orang ini ada-lah Anak Alada-lah!” (Mrk. 15:39).

Tatkala Yohanes menulis, “Ia datang kepa-da milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yoh. 1:11), yang dipikirkan Yohanes bukan-lah hanya orang banyak yang ada di sekeli-ling salib itu, bahkan bukan hanya orang Is-rael, melainkan setiap generasi yang pernah hidup. Kecuali beberapa gelintir saja, semua manusia, seperti orang-orang yang berteriak hingga parau di bukit Golgota, telah gagal mengenal Yesus Tuhan dan Juruselamat me-reka. Kegagalan ini menunjukkan bahwa pe-ngetahuan manusia mengenai Allah sangat kurang dan terbatas sekali.

PENGETAHUAN MENGENAI ALLAH

Telah banyak teori yang dilontarkan ‘un-tuk menjelaskan ihwal Allah, banyak pula sanggahan untuk Dia dan menentang ada-nya Dia, hal ini menunjukkan bahwa akal budi manusia tidak mampu menembus yang Ilahi. Kalau bergantung kepada akal budi manusia saja untuk menyelidiki mengenai Tuhan sama saja dengan menggunakan sebu-ah kaca pembesar untuk mempelajari ilmu perbintangan. Karena itu, bagi banyak orang hikmat Tuhan adalah “hikmat yang tersem-bunyi” (1 Kor. 2:7). Bagi mereka Tuhan ada-lah misteri. Rasul Paulus menulis,’ Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenal-Nya, sebab kalau sekiranya mereka mengenal-Nya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia” (1 Kor. 2:8).

Salah satu perintah Tuhan yang sangat mendasar dari Kitab Suci ialah supaya me-ngasihi “Tuhan, Allahmu, dengan segenap

BAB 2

(26)

hatimu dan dengan segenap jiwamu dan de-ngan segenap akal budimu” (Mat. 22:37; bandingkan dengan Ul. 6:5). Kita tidak da-pat mengasihi seseorang yang sama sekali tidak kita kenal, bahkan kita tidak dapat me-nyelidiki perkara-perkara Allah yang sangat mendalam (Ayb. 11:7). Kalau begitu, bagai-manakah kita dapat mengenal serta menga-sihi Pencipta kita?

Allah Dapat Diketahui atau Dikenal. Mengingat manusia yang berada dalam kea-daan serba berbahaya itu, Allah di dalam ka-sih-Nya dan panjang sabar-Nya, menjangkau kita melalui Alkitab. Ditunjukkannya bah-wa ‘Kekristenan bukanlah sebuah catatan dari hal pertanyaan manusia mengenai Al-lah; melainkan hasil pernyataan Allah dari hal diri-Nya dan maksud-tujuan-Nya kepa-da manusia.”1 Pernyataan diri ini direncana-kan untuk menjembatani jurang antara du-nia yang memberontak dengan Tuhan yang pemurah.

Pernyataan kasih Allah yang terbesar me-lalui pernyataan-Nya yang paling agung, yak-ni dengan kehadiran Yesus Kristus, Anak-Nya itu. Melalui Yesus kita dapat mengenal Dia, sang Bapa. Sebagaimana Yohanes me-ngatakan, “Anak Allah telah datang dan te-lah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar” (1 Yoh. 5:20).

Yesus berkata, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan menge-nal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh. 17:3).

Inilah kabar baik. Walaupun mustahil me-ngetahui Tuhan sepenuhnya, namun Kitab Suci memberikan Pengetahuan praktis ten-tang Dia yang cukup memadai untuk kita masuki suatu hubungan yang menyelamat-kan dengan Dia.

Memperoleh Pengetahuan Mengenai

Allah. Tidak seperti pengetahuan lainnya,

pengetahuan mengenai Allah sama kadarnya antara hati dengan pikiran. Pengetahuan yang demikian mencakup keseluruhannya, tidak hanya intelek saja. Harus ada keterbukaan terhadap Roh Kudus dan kemauan untuk me-lakukan kehendak Allah (Yoh. 7:17; banding-kan Mat. 11:27). Yesus berkata, “Berbaha-gialah orang yang suci hatinya, karena mere-ka amere-kan melihat Allah” (Mat 5: 8).

Oleh karena itu, orang-orang yang tidak beriman, tidak dapat memahami Tuhan. Ra-sul Paulus berseru, “Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di ma-nakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini men-jadi kebodohan? Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hik-matnya, maka Allah berkenan menyelamat-kan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil” (1 Kor. 1:20, 21).

Cara untuk mempelajari pengetahuan mengenai Allah dari Alkitab berbeda dengan segala macam metode pengetahuan. Kita ti-dak boleh menempatkan diri kita sendiri di atas Allah dan memperlakukan-Nya sebagai objek analisis dan objek ukuran. Kalau kita meneliti Allah untuk memperoleh pengeta-huan mengenai Dia, kita harus tunduk ke-pada otoritas penyataan diri-Nya, Alkitab. Karena .Alkitab sendirilah yang menjadi penafsirnya maka kita harus taat kepada prinsip-prinsip dan metode yang terkandung di dalamnya. Tanpa bimbingan yang Alkita-biah kita tidak akan dapat mengenal Allah.

(27)

Ju-31

ruselamat mereka. Masalah mereka bukan-lah masabukan-lah intelek. Karena mereka menu-tup pintu hati mereka, maka pikiran mereka pun digelapkan, akibatnya ialah kematian yang kekal.

EKSISTENSI ALLAH

Ada dua sumber utama bukti adanya Tu-han, yakni: buku alam dan Kitab Suci.

Bukti dari Penciptaan. Setiap orang da-pat belajar mengenai adanya Allah melalui alam dan pengalaman manusia. Daud menu-lis, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan ta-ngan-Nya” (Mzm. 19:2). Yohanes berpenda-pat bahwa pernyataan Allah, termasuk alam, menerangi setiap orang (Yoh. 16). Paulus pun menyatakan, “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya; yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nam-pak kepada pikiran dari karya-Nya sejak du-nia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih” (Rm. 1:20).

Perilaku manusia juga menunjukkan buk-ti adanya Allah. Di dalam perbakbuk-tian orang Athena ada yang disembah yang disebut “Al-lah yang tidak dikenal,” dan disini“Al-lah Pau-lus melihat bukti adanya Tuhan Allah. Kata Paulus, “Apa yang kamu sembah tanpa me-ngenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu” (Kis. 17:23). Paulus juga mengata-kan perilaku orang-orang yang bumengata-kan Kris-ten memberikan kesaksian mengenai “do-rongan diri sendiri” serta menunjukkan bah-wa Taurat Allah tertulis “di dalam hati mere-ka” (Rm. 2:14, 15). Intuisi seperti ini pun, mengenai adanya Allah, terdapat pada orang yang mengetahui Alkitab. Pernyataan yang umum mengenai Allah ini membawa kepa-da sejumlah argumen rasional yang klasik tentang adanya Allah?

Bukti dari Kitab Suci. Alkitab tidak membuktikan adanya Allah. Melainkan me-nganggapnya ada. Pada pembukaan Alkitab itu menyatakan, “Pada mulanya Allah men-ciptakan langit dan bumi” (Kej.1:1): Alkitab menggambarkan Allah sebagai Pencipta, Pe-nyokong dan Pemerintah semua makhluk ciptaan. Pernyataan Allah melalui pencip-taan amat tangguh sehingga tiada dalih bagi penganut ateisme, yang justru timbul dari penindasan kebenaran Ilahi atau dari buah pikiran orang yang menolak mengakui buk-ti bahwa Allah itu ada (Mzm. 14:1; Rm. 1;18-22, 28).

Cukup banyak bukti tentang adanya Al-lah yang meyakinkan siapa pun yang dengan sungguh-sungguh berusaha mencari kebe-naran mengenai Dia. Namun demikian, iman adalah prasyarat karena”tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Se-bab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia” (Ibr. 11:6).

Beriman kepada Allah tidak berarti buta. Iman kepada Allah itu didasarkan pada buk-ti yang cukup memadai yang terkandung da-lam perwujudan Allah melalui Kitab Suci dan alam.

ALLAH BERDASARKAN KITAB SUCI

Alkitab menyatakan ciri-ciri hakiki Al-lah melalui nama-Nya, kegiatan-kegiatan dan sifat-sifat-Nya.

(28)

sebenar-nya dan berikut identitassebenar-nya. Pentingsebenar-nya nama-nama Allah, mengungkapkan sifat-Nya, tabi-at-Nya, kadar-Nya, dinyatakan dalam hukum-Nya “Jangan menyebut nama Tuhan, Allah-mu, dengan sembarangan” (Kel. 20:7). Daud menyanyi: “Aku hendak bersyukur kepada Tu-han karena keadilan-Nya” (Mzm. 7:18). “Na-ma-Nya kudus dan dahsyat” (Mzm. 111:9). “Biarlah semuanya memuji-muji Tuhan, sebab hanya nama-Nya saja yang tinggi luhur”(Mzm. 148:13).

Nama-nama Ibrani El dan Elohim (“God”)

menunjukkan kuasa Tuhan Allah. Digambar-kannya Tuhan sebagai Oknum yang kokoh dan perkasa, Tuhan pencipta semesta (Kej. 1:1; Kel. 20:2; Dan. 9:4). Elyon (“Yang Mahating-gi”) dan El Elyon (“Allah Yang Mahatinggi”) berfokus pada peninggian kedudukan-Nya

(Kej. 14:18-20; Yes. 14:14). Adonai (Tuhan) menggambarkan Allah sebagai Penjaga dan Pembela (Yes. 6:1; Mzm. 35:23). Nama-nama ini menekankan sifat Allah yang agung dan amat mulia.

Nama-nama lain yang dimiliki Allah me-nunjukkan kesediaan-Nya menjalin hubung-an denghubung-an umat mhubung-anusia. Shaddai (“Yang Mahatinggi”) dan El Shaddai (“Allah Yang Mahatinggi”) menggambarkan Allah Yang Mahatinggi yang menjadi sumber berkat dan penghiburan (Kel. 6:3; Mzm. 91:1). Nama

Yahweh diterjemahkan Jehovah atau Tuhan, menekankan janji setia Allah dan kemurah-an-Nya (Kel. 15:2, 3; Hos. 12:5, 6) Di da-lam Kel. 3:14, Yahweh menggambarkan diri-Nya sebagai “AKU ADALAH AKU,” atau “AKULAH AKU telah mengutus aku kepa-damu,” menunjukkan hubungan-Nya yang tidak dapat diubah terhadap umat-Nya. Da-lam beberapa peristiwa malahan Tuhan Al-lah menyatakan diri-Nya dengan cara yang sangat akrab dengan sebutan “Bapa” (Ul. 32: 6; Yes. 63:16; Yer. 31:9; Mal. 2:10), menye-but orang Israel dengan “Israel ialah anak

Ku yang sulung” (Kel. 4:22; bandingkan Ul. 32:19).

Kecuali untuk Bapa, nama-nama yang

terdapat dalam Perjanjian Baru, yang ditu-jukan kepada Allah mengandung kadar mak-na yang setara dengan yang terdapat di da-lam Perjanjian Lama. Di dada-lam Perjanjian Baru Yesus menggunakan kata Bapa untuk meng-akrabkan kita secara pribadi dengan Allah (Mat. .6:9; Mrk. 14:36; bandingkan Rm. 8: 15; Gal. 4:6).

Kegiatan-kegiatan Allah. Para penulis Alkitab menggunakan lebih banyak waktu untuk melukiskan kegiatan-kegiatan Allah daripada ciptaan-Nya. Ia diperkenalkan se-bagai Pencipta (Kej. .1:1; Mzm. 24:1, 2), Pe-nopang dunia (Ibr. 1:3), dan Penebus serta Juruselamat.(UI. 5:6; 2 Kor. 5:19), mengang-kat beban demikepentingan nasib manusia. Ia mengadakan rencana-rencana (Yes. 46: 11), ramalan (Yes. 46:10), dan janji-janji (Ul. 15:6; 2 Ptr. 3:9). Ia mengampuni dosa-dosa (Kel. 34:7), dan secara konsekwen meneri-ma ibadah, kita (Why. 14:6,7).

Akhirnya Kitab Suci menyatakan Allah sebagai Pemerintah “Raja segala zaman, Al-lah yang kekal, yang tak nampak, yang Esa” (1 Tim. 1:17). Tindakan-tindakan yang dila-kukan-Nya menegaskan bahwa Ia Allah yang berpribadi.

Ciri-ciri Allah. Para penulis Alkitab memberikan informasi tambahan mengenai hakikat Allah melalui kesaksian-kesaksian tentang ciri-ciri Keilahian-Nya.

(29)

33

115:3). Ia Mahatahu, mengetahui segala se-suatu (Ayb. 37:16; Mzm. 139:1-18; 147:5; 1 Yoh. 3:20), karena sebagai Alfa dan Ome-ga (Why. 1:8), Ia mengetahui akhir dari per-mulaan. (Yes. 46:9-11).

Allah Mahahadir (Mzm. 139:7-12; Ibr. 4: 13), melebihi semua ruang. Bahkan Ia hadir dalam setiap bagian ruang, Ia abadi (Mzm. 90:2; Why. 1:8), melebihi batas waktu, na-mun demikian hadir sepenuhnya dalam seti-ap saat.

Allah penuh kuasa, Mahakuasa. Oleh ka-rena itu, tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya untuk menjamin bahwa Ia memenuhi apa saja yang dimaksudkan-Nya. (Dan. 4:17, 25, 35; Mat. 19:26; Why. 19:6). Ia kekal— atau tidak dapat diubah—karena sesungguh-nya Ia sempurna. Ia berkata, “Bahwasasesungguh-nya Aku, Tuhan, tidak berubah” (Mal. 3:6; baca Mzm. 33:11; Yak. 1:17). Oleh karena itu, ci-ri-ciri ini menyatakan bahwa Allah itu ke-kal selama-lamanya.

Sifat-sifat Allah yang dapat disalurkan mengalir dari cinta kasih-Nya terhadap ma-nusia. Dicakupnya kasih (Rm. 5:8), kasih ka-runia (Rm. 3:24), kemurahan (Mzm. 145:9), sabar (2 Ptr 3:15), suci (Mzm. 99:9), kebe-naran (Ezr. 9:15; Yoh. 17:25), keadilan (Why. 22:12), dan hal yang benar (1 Yoh. 5:20). Karunia-karunia ini datang hanya ber-sama dengan Pemberi itu sendiri.

KEDAULATAN ALLAH

Jelas sekali Kitab Suci mengajarkan ke-daulatan Allah. “Ia berbuat menurut kehen-dak-Nya.... Dan tidak ada seorang pun yang dapat menolak tangan-Nya” (Dan. 4:35). “Sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu se-muanya itu ada dan diciptakan” (Why. 4:11). “Tuhan melakukan apa yang dikehendaki-Nya, di langit dan di bumi” (Mzm. 135: 6).

Dengan demikianlah Salomo berkata, “Hati raja seperti batang air di dalam tangan Tu-han, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini” (Ams. 21:1). Paulus yang waspada atas kedaulatan Allah, menulis sebagai berikut, “Aku akan kembali kepada kamu, jika Allah menghen-dakinya.” (Kis. 18:21; baca Rm. 15:32). Se-mentara Yakobus memohon, “Sebenarnya kamu harus berkata ‘Jika Tuhan menghen-dakinya” (Yak. 4:15).

Penentuan nasib lebih dahulu dan Ke-bebasan Manusia. Alkitab juga menyata-kan pengendalian yang dilakumenyata-kan Allah se-penuh-nya atas dunia ini. “Mereka juga di-tentukan-Nya dari semula untuk menjadi se-rupa dengan gambaran Anak-Nya itu (Rm. 8: 29, 30), ditentukan-Nya menjadi anak-anak-Nya, dan menjadi ahli waris (Ef. 1:4, 5, 11). Betapa suatu pernyataan yang tidak langsung mengenai kebebasan manusia itu. Kata kerja menentukan dari sejak semu-la berarti “menetapkan sebelumnya.” Banyak orang beranggapan ayat-ayat ini mengajar-kan bahwa Allah secara acak memilih orang untuk selamat sedangkan yang lain membiar-kannya binasa, tanpa menghargai pilihan me-reka sendiri. Akan tetapi apabila konteks ini dipelajari dengan saksama ternyata Paulus tidaklah membicarakan mengenai Allah yang secara sewenang-wenang berubah dan me-nyingkirkan seseorang.

(30)

Ye-sus mati di sana bagi semua orang. Kata se-tiap orang dalam nas, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga la telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, su-paya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16), mengartikan bahwa sia-pa pun dasia-pat diselamatkan.

“Bahwa manusia, yang mempunyai ke-bebasan memilih adalah faktor yang menen-tukan nasibnya sendiri, merupakan bukti nya-ta bahwa Allah senantiasa menghadirkan ha-sil-hasil penurutan dan haha-sil-hasil pendurha-kaan, serta mendorong orang berdosa supa-ya memilih penurutan dan kehidupan (Ul. 30: 19; Yos. 24:15; Yes. 1:16, 20; Why. 22: 17); dan dari kenyataan bahwa bagi orang beri-man sangat mungkin, yang pernah menjadi penerima kasih karunia, jatuh dan binasa (1 Kor. 9:27; Gal. 5:4; Ibr. 6:4-6; 10:29). “Al-lah mungkin saja mengetahui lebih dahulu setiap pilihan yang akan dibuat seseorang, akan tetapi pengetahuan-Nya yang lebih da-hulu ini bukanlah menentukan pilihan yang akan diambilnya.... Penentuan lebih dahulu yang terdapat dalam Alkitab tercapai dalam tujuan efektif yang dirancang Allah yakni, bahwa semua orang yang memilih percaya kepada Kristus akan diselamatkan (Yoh. 1:12; Ef. 1:4-10).

Lalu apakah yang dimaksud Kitab Suci tatkala mengatakan bahwa Allah mengasihi Yakub dan membenci Esau (Rm. 9:13) yang juga mengatakan bahwa Tuhan Allah menge-raskan hati Firaun (ayat 17, 18, bandingkan dengan ayat 15, 16; Kel. 9:16; 4:21)? Kon-teks ayat-ayat ini menunjukkan bahwa ke-prihatinan Paulus adalah misi, bukan kese-lamatan. Penebusan tersedia bagi siapa pun —namun demikian Tuhan memilih orang-orang tertentu untuk melaksanakan tugas khusus. Keselamatan yang sama diberikan juga kepada Yakub dan Esau, akan tetapi

Tuhan memilih Yakub, bukan Esau, menjadi jalur yang digunakan Allah untuk menyam-paikan pekabaran keselamatan kepada du-nia. Allah menunjukkan kedaulatan dalam strategi misi-Nya.

Apabila Kitab Suci menyebutkan bahwa Allah mengeraskan hati Firaun itu hanyalah sekadar pengakuan pada-Nya dalam melaku-kan apa yang diperkenanmelaku-kan-Nya, bumelaku-kanlah berarti Ia menakdirkannya begitu. Sambut-an Firaun ySambut-ang negatif terhadap pSambut-anggilSambut-an Allah yang sebenarnya menggambarkan bah-wa Tuhan menghormati kebebasan Firaun dalam menentukan pilihannya.

Mengetahui lebih dahulu dan Kebe-basan Manusia. Ada orang yang percaya bahwa Tuhan Allah berhubungan dengan pri-badi-pribadi tanpa mengetahui pilihan mere-ka sampai meremere-ka mengadamere-kannya sendiri; bahwa Tuhan mengetahui beberapa peristi-wa mendatang yang tertentu, misalnya me-ngenai Kedatangan Kristus kedua kali, mille-nium, dan pemulihan kembali bumi ini, na-mun tidak tahu sama sekali siapa yang akan diselamatkan. Mereka merasa bahwa hu-bungan dinamis Allah dengan umat manu-sia ada dalam bahaya jika Ia mengetahui se-gala sesuatu yang akan terjadi dari masa ke-kekalan kepada keke-kekalan. Ada pula seba-gian yang mengatakan bahwa Ia akan bosan bila Ia mengetahui akhir dari permulaan.

(31)

me-35

natap ke depan tanpa mengubahnya. Menge-tahui lebih dahulu, sifat yang dimiliki Ke-allahan itu tidak pernah melanggar kebe-basan manusia.

DINAMIKA DALAM KEALLAHAN

Apakah hanya satu Allah saja? Bagaima-na dengan Kristus dan Roh Kudus?

Keesaan Tuhan. Bertentangan dengan keyakinan bangsa-bangsa yang hidup di se-keliling bangsa Israel, bangsa-bangsa lain itu, bangsa Israel percaya bahwa Tuhan itu Esa (Ul. 14:35; 6:4; Yes. 45:5; Za. 14:9). Per-jan-jian Baru menekankan yang serupa juga mengenai keesaan Allah (Mrk. 12:29-32; Yoh. 17:3; 1 Kor. 8:4-6; Ef. 4:4-6; 1 Tim. 2:5). Pandangan yang monoteistik ini tidak bertentangan dengan konsep Kristen me-ngenai Trinitas—Bapa, Anak dan Roh Ku-dus; malahan mengukuhkan bahwa tidak ada kuil pelbagai dewa.

Kemajemukan dalam Keallahan. Wa-laupun Perjanjian Lama tidak mengajarkan secara tegas bahwa Allah tritunggal, dising-gungnya juga mengenai kemajemukan da-lam Keallahan. Berulang-ulang Allah meng-gunakan kata ganti jamak, misalnya: “Baik-lah Kita menjadikan manusia menurut. gam-bar dan rupa Kita” (Kej. 1:26); “Sesungguh-nya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita”(Kej. .3:22); “Baiklah Kita turun” (Kej. 11:7). Berulang-ulang malaikat Tuhan diidentifikasi sebagai Allah. Ketika menampakkan diri kepada Musa, Malaikat Tuhan berkata, “Akulah Allah ayahmu, Al-lah Abraham, AlAl-lah Ishak dan AlAl-lah Yakub” (Kel. 3:6).

Pelbagai petunjuk yang jelas membeda-kan Roh Allah dari Allah. Di dalam kisah Penciptaan “Roh Allah melayang-layang di

atas permukaan air” (Kej. 1:2). Sebagian nas menunjuk bukan saja kepada Roh tetapi juga kepada pribadi ketiga dalam karya penyela-matan yang berasal dari Allah: "Dan seka-rang, Tuhan Allah (Allah Bapa) mengutus Aku (Anak Allah) dengan Roh-Nya (Roh Kudus)" (Yes. 48:16); "Aku (Bapa) telah me-naruh Roh-Ku ke atasnya (Mesias), supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bang-sa" (Yes. 42:1).

Hubungan dalam Keallahan. Kedatangan Kristus pertama ke dunia ini memberikan be-gitu banyak pandangan jelas tentang ketri-tunggalan Allah. Injil Yohanes menyatakan bahwa Keallahan terdiri dari Allah Bapa (ba-ca bab 3 buku ini), Allah Anak (ba(ba-ca bab 4), dan Allah Roh Kudus (bab 5), sebuah kesa-tuan dari ketiga oknum yang abadi yang me-miliki hubungan unik dan misterius.

1. Sebuah Hubungan Penuh Kasih. Ke-tika Kristus berseru, “Allahku, Allahku, me-ngapa Engkau meninggalkan. Aku?” (Mrk. 15:34) Ia merasakan betapa derita ketera-singan dari Allah Bapa akibat dosa manusia, sangat menekan perasaan-Nya. Dosa telah memutuskan hubungan manusia dengan Al-lah (Kej.3:6-10; Yes. 59:2). Pada detik-de-tik terakhir, Yesus, yang tidak mengenal dosa itu, dijadikan dosa bagi kita. Dalam memi-kul dosa kita, mengambil tempat kita, Ia merasakan perpisahan dari Allah yang se-sungguhnya menjadi bagian kita—dan ke-matianlah akibatnya.

(32)

adalah kasih” (1 Yoh. 4:8) berarti bahwa ma-sing-masing hidup bagi orang lain sehingga mereka mengalami kesempurnaan kebaha-giaan yang lengkap.

Mengenai kasih ini diterangkan panjang lebar dalam 1 Korintus 13. Sebagian orang mungkin ingin mengetahui kadar panjang sa-bar dan penderitaan yang terdapat dalam Ke-allahan, yang memiliki hubungan kasih yang sempurna. Yang pertama-tama diperlukan ialah kesabaran pada waktu menghadapi ma-laikat pemberontak itu, dan kemudian manu-sia yang mendurhaka.

Tidak ada jarak antara pribadi-pribadi Al-lah tritunggal itu. Tritunggal itu IAl-lahi, na-mun kuasa Ilahi dan kadarnya saling berba-gi. Kalau dalam organisasi manusia otoritas terakhir terdapat pada satu orang—misalnya pada presiden, raja, atau perdana menteri. Di dalam Keallahan, otoritas terakhir terda-pat pada ketiganya.

Keallahan itu dalam wujud pribadi bu-kan satu, sedangbu-kan dalam tujuan, pikiran dan tabiat Allah tetap satu. Keesaan ini ti-dak melenyapkan ciri-ciri khas Bapa, Anak dan Roh Kudus. Adanya pribadi-pribadi yang ter-pisah ini dalam Keilahian tidak menghancurkan pengharapan yang monote-istik yang terdapat dalam Kitab Suci, bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus satu adanya, Allah yang Esa.

2. Hubungan pekerjaan. Di dalam Ke-allahan terdapat fungsi penghematan. Allah tidak perlu mengulangi pekerjaan yang ti-dak perlu. Tata tertib adalah hukum perta-ma sur-ga, dan Tuhan Allah bekerja dalam cara-cara yang tertib. Keteraturan ini dike-luarkan dan memelihara persatuan yang ter-dapat dalam Keallahan. Bapa bertindak se-bagai sumber,

Anak sebagai Mediator (pengantara), dan Roh sebagai pewujud atau pelaksana.

Indahnya penjelmaan menunjukkan hu-bungan kerja ketiga oknum Keallahan itu. Allah Bapa memberikan Anak-Nya, Kristus menyerahkan Diri-Nya sendiri, dan Roh me-ngaruniakan kelahiran Yesus (Yoh. 3:16; Mat. 1:18, 20). Kesaksian malaikat kepada Maria jelas menunjukkan kegiatan ketiga-nya dalam rahasia Allah yang menjadi manu-sia itu. “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan mena-ungi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Al-lah” (Luk. 1:35).

Setiap anggota Keallahan itu, hadir pada saat Kristus dibaptiskan: Bapa memberikan dorongan yang menguatkan (Mat. 3:17), Kristus menyerahkan diri-Nya dalam bap-tisan untuk menjadi teladan bagi kita (Mat. 3:13-15), dan Roh memberikan diri-Nya Sendiri kepada Yesus untuk memberi kuasa kepada-Nya(Luk. 3:21, 22).

Menjelang akhir tugas-Nya di atas dunia ini, Yesus berjanji akan mengirim Roh Ku-dus sebagai penasihat atau penolong (Yoh. 14:16). Beberapa jam kemudian, ketika ma-sih tergantung di kayu salib, Yesus berseru kepada Bapa-Nya, “Allah-Ku, Allah-Ku, me-ngapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat. 27:46). Pada saat-saat puncak sejarah kese-lamatan itu, Bapa, Anak dan Roh Kudus menjadi bagian dalam seluruh keadaan itu.

(33)

37

dipilih untuk selamat, tentang ini Petrus ber-kata, “sesuai dengan rencana Allah, Bapa ki-ta, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima per-cikan darah-Nya” (1 Ptr. 1:2).

Puji syukur, rasul memasukkan ketiga pri-badi Keallahan. “Kasih karunia Tuhan Ye-sus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutu-an Roh Kudus menyertai kamu sekalipersekutu-an” (2 Kor. 13:13). Kristus dalam urutan pertama. Allah berhubungan dengan manusia mela-lui Yesus Kristus—Allah yang menjelma menjadi manusia. Walaupun ketiga anggota Tritunggal itu bekerja sama untuk menga-dakan karya keselamatan, hanya Kristuslah yang hidup sebagai manusia, mati sebagai manusia dan kemudian menjadi Juruselamat kita (Yoh. 6:47; Mat. 1:21; Kis. 4:12). Akan tetapi “Sebab Allah mendamaikan dunia de-ngan diri-Nya oleh Kristus dede-ngan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka” (2 Kor. 5: 19), maka Allah dapat juga dinyata-kan sebagai Juruselamat kita (bandingdinyata-kan Tit. 3:4), karena Ia menyelamatkan kita mela-lui Kristus Juruselamat (Ef. 5:23; Flp. 3:20; bandingkan Tit. 3:6).

Dalam penghematan fungsi, anggota Ke-allahan dengan pribadi yang berbeda melak-sanakan tugas-tugas yang jelas dalam upaya menyelamatkan manusia. Pekerjaan Roh Ku-dus tidak menambahkan sesuatu apa pun un-tuk melayakkan pengorbanan yang diadakan Yesus Kristus di kayu salib. Melalui Roh Ku-dus tujuan pendamaian di kayu salib pada pokoknya menyatakan Kristus sendirilah pendamaian itu. Oleh karena itulah Paulus mengatakan “Kristus yang adalah pengha-rapan akan kemuliaan” (Kol. 1:27).

FOKUS KESELAMATAN

Jemaat yang mula-mula membaptiskan orang di dalam nama Bapa, Anak dan Roh

Kudus (Mat. 28:19). Sejak itulah melalui Yesus, kasih Allah dan maksud-Nya dinya-takan, Alkitab berpusat kepada Kristus. Dia-lah bayang-bayang pengharapan yang di-nyatakan dalam korban-korban serta peraya-an-perayaan dalam Perjanjian Lama. Dialah yang menjadi titik pusat dalam Injil. Dialah Kabar Baik yang diberitakan oleh murid-mu-rid melalui khotbah-khotbah dan tulisan-tu-lisan—Pengharapan yang kudus. Perjanjian Lama menatap dan menantikan kedatangan-Nya: Perjanjian Baru melaporkan kedatang-an-Nya yang pertama dan berharap akan ke-datangan-Nya kembali.

Kristus, pengantara di antara Allah dan kita, dengan demikian menyatukan kita pada Keallahan. Yesus adalah “jalan dan ke-benaran dan hidup” (Yoh. 14:6). Kabar baik itu berpusat kepada Seorang Pribadi, bukan hanya sekadar kebiasaan. Ada peran dalam hubungan, bukan hanya peraturan-peraturan saja—karena Kekristenan itu sendiri adalah Kristus. Kita menemukan di dalam-Nya inti, isi dan konteks seluruh kebenaran dan hi-dup.

Dengan memandang kepada salib, kita memandang ke dalam hati Allah. Di dalam alat penyiksaan itu Ia mencurahkan kasih-Nya kepada kita. Melalui Kristus cinta ka-sih Keallahan memenuhi hati kita yang ham-pa dan menderita. Yesus tergantung di kayu salib sebagai karunia Allah dan pengganti bagi kita. Di bukit Golgota Allah turun ke bumi yang paling bawah untuk menemui ki-ta; akan tetapi itulah tempat yang paling ting-gi yang dapat kita tuju. Apabila kita perting-gi ke bukit Golgota kita naik setinggi apa yang dapat kita lakukan untuk menuju Allah.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...