4
Universitas Kristen Petra
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Biaya Transportasi
Menurut Fidel Miro (2002) perencanaan transportasi merupakan proses dalam memilih dan menentukan alat transportasi yang baik dengan menggunakan sumber daya yang efisien sehingga mendapatkan hasil yang optimal. Dalam hal perencanaan transportasi agar memperoleh hasil yang optimal, perlu diperhatikan beberapa hal yang harus berjalan secara berkesinambungan yaitu environment, economic, dan social ( The Center for sustainable transportation, 2005).
Sepeda motor merupakan salah satu dari alat transportasi kendaraan bermotor roda dua yang sangat populer di Indonesia dengan jumlah yang cukup banyak khususnya di kota-kota besar seperti di Jakarta dan Surabaya. Sepeda motor dimanfaatkan sebagai alat transportasi untuk memindahkan orang dan barang dari satu tempat ke tempat lain (wikipedia).
Dalam prosesnya sebagai moda transportasi, sepeda motor memerlukan biaya yang dinyatakan dalam bentuk uang menurut harga pasar yang telah ditentukan. Biaya yang terkait dalam proses transportasi meliputi biaya kepemilikan dan biaya terkait operasional.
2.2 Biaya Kepemilikan
Biaya kepemilikan adalah biaya yang berkenaan untuk investasi awal atau biaya yang dikeluarkan untuk membeli sepeda motor. Biaya kepemilikan juga mencakup biaya-biaya yang dikeluarkan untuk Surat Ijin Mengemudi (SIM), Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), Asuransi kendaraan, kesehatan, dan keselamatan. Namun dalam penelitian ini yang lebih difokuskan adalah biaya-biaya yang dikeluarkan untuk membeli sepeda motor.
5
Universitas Kristen Petra 2.2.1 Hubungan Antara Pendapatan dan Biaya Kepemilikan
Beberapa faktor yang mempengaruhi kepemilikan kendaraan bermotor roda dua adalah keadaan sosial dan ekonomi, ditinjau dari segi kegunaannya, situasi dan kondisi lingkungan (Rahmani dan Mu’min, 2005).
Menurut Risma Atika (2013) sepeda motor sangat popular untuk masyarakat dengan pendapatan menengah, Persentase pendapatan terhadap jumlah kepemilikan sepeda motor adalah yang memiliki pendapatan rata-rata antara Rp 2.000.000,- sampai dengan Rp 2.500.000,-. Sebesar 24,54% sedangkan yang memiliki penghasilan tertinggi antara Rp 2.500.000,- sampai dengan Rp 3.000.000,- dengan Persentase yaitu 2.23%.
2.3 Biaya Operasional
Biaya operasi kendaraan di definisikan sebagai biaya dari semua faktor-faktor yang terkait dengan pengoperasian satu kendaraan pada kondisi normal untuk suatu tujuan tertentu. Berdasarkan pertimbangan ekonomi, diperlukan kesesuaian antara besarnya tarif. Komponen biaya operasi kendaraan dibagi dalam 2 kelompok, yaitu biaya tetap (Standing Cost) dan biaya tidak tetap (Running Cost).
2.3.1 Biaya Tetap (Standing Cost)
Biaya tetap adalah biaya yang dalam pengeluarannya tetap tanpa tergantung pada pengoperasian kendaraan. Biaya tetap ini dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a) Biaya modal kendaraan (BM): Biaya yang dikeluarkan sebagai modal awal untuk membeli kendaraan. Biaya ini terbagi menjadi dua sistem yaitu sistem kredit dan sistem tunai. Sebagian besar masyarakat lebih memilih menggunakan sistem kredit. Pembayaran kredit ini dilakukan dengan cara membayar dengan jumlah tertentu dan tetap setiap tahun dalam jangka waktu tertentu, yang terdiri dari pembayaran kembali baik bunga maupun pinjaman pokok sekaligus (Rahman, 2012).
6
Universitas Kristen Petra b) Biaya penyusutan (BP): Biaya penyusutan yaitu biaya yang dikeluarkan
untuk penyusutan nilai kendaraan karena berkurangnya umur ekonomis. Biaya depresiasi dapat diperlakukan sebagi komponen dari biaya tetap, jika masa pakai kendaraan dihitung berdasarkan waktu (Rahman 2012). Biaya Penyusutan bergantung dari berbagaim macam faktor, salah satunya bergantung dari servis berkala yang dilakukan.
c) Biaya perijinan dan administrasi (BPA) : Ijin kendaraan tahunan dikenakan pada masing-masing kendaraan, dimana besarnya ijin telah ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan jenis dan tahun pembuatan, biaya ini terdiri dari biaya STNK, dan biaya pajak kendaraan bermotor (PKB) (Rahman,2012). Biaya perijinan dan administrasi yang ditinjau dalam penelitian ini berdasarkan jenis dan tahun pembuatan.
2.3.2 Biaya Tidak Tetap (Running Cost)
Biaya tidak tetap merupakan biaya yang dikeluarkan pada saat kendaraan beroperasi. Komponen biaya yang termasuk ke dalam biaya tidak tetap ini adalah:(a) Biaya Bahan Bakar (BBM), (b) Biaya Pemakaian Ban (PB), (c) Biaya Perawatan dan Perbaikan Kendaraan (PP).
2.3.3 Hubungan Antara Frekuensi Perjalanan dan Biaya Operasional
Pola hubungan antara biaya perjalanan dengan jarak perjalanan diperoleh hubungan antara biaya perjalanan dengan jarak perjalanan untuk moda mobil, motor, bentor yang berarti semakin jauh jarak tempuh perjalanan maka semakin mahal biaya perjalanan (Ramli, 2009).
Frekuensi perjalanan yang tinggi menyebabkan jarak perjalanan yang tinggi pula. Jarak adalah faktor terbesar yang mempengaruhi biaya transportasi karena berpengaruh secara langsung pada biaya variabel, seperti tenaga kerja, bahan bakar, dan perawatan. Dari hal ini menunjukkan bahwa frekuensi perjalanan mempengaruhi biaya operasional karena frekuensi perjalanan berbanding lurus dengan jarak perjalanan.
7
Universitas Kristen Petra 2.4 Distances-based Tax ( Time, Distance, and Price (TDP) Road Pricing)
Distance-based Tax merupakan istilah yang akan digunakan dalam penelitian ini, karena yang dijadikan patokan adalah pajak kendaraan bermotor. Distance-based Tax adalah pajak kendaraan bermotor yang dikenakan berdasarkan jarak tempuh kendaraan per tahun. Sehingga, semakin sering seseorang berkendara dan melakukan perjalanan, maka pajak kendaraan yang dibayarkan lebih besar daripada orang yang jarang menggunakan kendaraannya. Selama ini, pajak kendaraan bermotor ditentukan bedarsarkan tahun kendaraan tersebut, selain faktor lainnya.
Namun dalam konsep Distance-based Tax ini, pajak kendaraan tidak hanya dihitung berdasarkan faktor-faktor yang telah ada, tetapi juga diperhitungkan terhadap faktor tambahan yaitu jarak tempuh kendaraan per tahun, dimana kendaraan yang memiliki jarak tempuh kendaraan per tahun di atas jarak tempuh rata-rata memiliki kewajiban untuk membayar pajak lebih dibandingkan kendaraan dengan jarak tempuh lebih rendah (Apricia, 2009).
Namun untuk mengetahui seberapa besar peluangnya diterapkan di Surabaya konsep Distance-based Tax nantinya masih perlu diteliti lebih lanjut karena, di negara-negara Eropa dan Amerika sejauh yang diketahui dan pencarian melalui internet, belum ada yang memberlakukan Distance-based Tax dalam hal pembayarannya. Ada satu yang memiliki konsep pembayaran mirip dengan konsep Distance-based Tax ini, yakni Swedia (www.arena-ruc.com), Arena-Swedia. Tapi yang dikenakan pajak disini adalah kendaraan-kendaraan yang bermuatan berat. Sedangkan dalam penelitian ini yang diteliti adalah untuk kendaraan pribadi (sepeda motor).
2.4.1 Hubungan Antara Frekuensi Perjalanan dan Distances-based Tax
Distance-based Tax merupakan konsep yang menghitung pajak kendaraan berdasarkan jarak tempuh per tahun. Dalam hal ini frekuensi memiliki hubungan langsung dengan Distance-based Tax karena semakin tinggi frekuensi perjalanan maka jarak tempuh kendaraan semakin tinggi, begitu pula sebaliknya dan jarak
8
Universitas Kristen Petra tempuh merupakan salah satu faktor utama dalam Distance-based Tax karena
penentuan pajak berdasarkan jarak tempuh kendaraan (Apricia, 2009).
2.4.2 Hubungan Antara Pendapatan dan Distances-based Tax
Masyarakat tidak akan menemui kesulitan dalam memenuhi kewajiban membayar pajaknya kalau nilai yang harus dibayar itu masih di bawah penghasilan yang sebenarnya mereka peroleh secara rutin. Faktor ekonomi merupakan hal yang sangat fundamental dalam hal melaksanakan kewajiban. Masyarakat yang miskin akan menemukan kesulitan untuk membayar pajak. Kebanyakan mereka akan memenuhi kebutuhan hidup terlebih dahulu sebelum membayar pajak. Karenanya tingkat pendapatan seseorang dapat mempengaruhi bagaimana seseorang tersebut memiliki kesadaran dan kepatuhan akan ketentuan hukum dan kewajibannya (Shahab, 2013). Sehingga dalam Distance-based Tax, pendapatan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesediaan membayar pajak berdasarkan jarak tempuh kendaraan.
2.4.3 Hubungan Antara Pengeluaran dan Distances-based Tax
Pengeluaran dalam hal ini adalah biaya perjalanan. Kondisi keuangan seseorang mungkin secara positif atau negatif mempengaruhi kemauannya untuk memenuhi ketentuan pajaknya terlepas dari hubungan antara persepsi wajib pajak tentang kualitas pelayanan pajak dan perilaku kepatuhan. Torgler (2003) mengungkapkan bahwa seseorang yang mengalami kesulitan keuangan akan merasa tertekan ketika mereka diharuskan membayar kewajibannya termasuk pajak.
Bloomquist (2003) mengidentifikasi bahwa tekanan keuangan sebagai salah satu sumber tekanan bagi wajib pajak dan Bloomquist juga berpendapat bahwa wajib pajak orang pribadi yang mempunyai pendapatan yang terbatas mungkin akan menghindari pembayaran pajak jika kondisi keuangan wajib pajak tersebut buruk karena pengeluaran keluarganya lebih besar dari pendapatannya.
9
Universitas Kristen Petra 2.5 Hubungan Antara Jarak Tempuh dan Pengeluaran
Pengeluaran yang dimaksud dalam hal ini adalah biaya perjalanan. Pola hubungan antara biaya perjalanan dengan jarak perjalanan diperoleh nilai R mendekati satu dengan model linear yang berarti bahwa semakin jauh jarak tempuh perjalanan maka semakin mahal biaya perjalanan.Perbandingan pola hubungan antara biaya perjalanan dengan jarak perjalanan diperoleh hubungan antara biaya perjalanan dengan jarak perjalanan untuk moda mobil dan Sepeda motor berarti semakin jauh jarak tempuh perjalanan maka semakin mahal biaya perjalanan (Patanduk, 2016).