• Tidak ada hasil yang ditemukan

E-PAPER PERPUSTAKAAN DPR RI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "E-PAPER PERPUSTAKAAN DPR RI"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

E-PAPER

PERPUSTAKAAN

DPR RI

Telepon : (021) 5715876, 5715817, 5715887 Fax : (021) 5715846 e-mail: [email protected]

Become a Fan Perpustakaan DPR RI http://perpustakaan.dpr.go.id

http://epaper.dpr.go.id

Selasa 03 Agustus 2021

No. Judul Surat Kabar Hal.

1. KRISIS MYANMAR .Sejumlah Pihak Tolak Rencana Pemilu Junta Militer Myanmar

Kompas 0

2. OTSUS PAPUA . Amendemen UU Otsus dan Depolitisasi Papua Kompas 0

3. KPK Tunggu Putusan MK dan MA Kompas 3

(2)

Pemerintah junta militer akan menggelar pemilihan umum per Agustus 2023. Sejumlah pihak menilai, ini sebagai akal-akalan untuk mengulur waktu dan menyiapkan pemerintahan baru yang terlegitimasi. Oleh LARASWATI ARIADNE ANWAR WASHINGTON, SELASA — Pemerintah junta militer di Myanmar akan menggelar pemilihan umum per Agustus 2023. Kebijakan politik ini menuai kecaman dan penolakan dari sejumlah pihak karena dianggap modus untuk mengulur-ulur waktu guna menyiapkan legitimasi terhadap pemerintahan baru hasil kudeta. Jenderal Senior Junta Militer Myanmar Min Aung Hlaing, Minggu (1/8/2021), mengumumkan rencana penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu) multipartai di Myanmar pada Agustus 2023. Status darurat nasional yang diberlakukan junta pascakudeta terhadap pemerintahan hasil pemilihan umum 2020 per Februari 2021 akan berakhir pada saat pemilu selesai. Pernyataan Min mendapat tanggapan keras dari oposisi junta, yaitu Pemerintah Persatuan Nasional (NUG) yang saat ini berfungsi sebagai pemerintahan bayangan Myanmar. NUG terdiri atas orang-orang prodemokrasi, termasuk dari partai politik pendukung Aung San Suu Kyi yang sejatinya memenangi pemilu pada November 2020. ”Ini trik junta untuk mendapat pengakuan internasional atas tindakan mereka melakukan kudeta dan menyengsarakan rakyat,” kata Menteri untuk Hak Asasi Manusia NUG Aung Myo Min. Kecaman juga datang dari komunitas internasional. Ini, misalkan, datang dari Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Menurut mereka, kebijakan itu adalah strategi politik junta untuk mengulur waktu dan mengambil alih pemerintahan Myanmar secara total. Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab mengatakan, sudah saatnya pemerintahan Myanmar dikembalikan kepada rakyat. Biar rakyat yang memutuskan siapa pemimpin mereka. Sementara dalam pernyataan per Senin (2/8/2021), Kementerian Luar Negeri AS menyatakan, perbuatan junta mengulur waktu guna semakin memperkuat kekuasaannya. Ini tidak bisa diterima. Selama junta berkuasa, rakyat Myanmar tidak akan aman. Tercatat hingga kini 939 korban tewas akibat melawan junta. Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, dalam pekan ini, menggelar serangkaian pertemuan virtual dengan para menteri luar negeri negara-negara ASEAN. Dalam setiap pertemuan, tema mengenai lima konsensus ASEAN yang dicapai pada Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN pada April lalu di Jakarta terus didorong. Substansi konsensus adalah penyelesaian krisis di Myanmar secara damai. Salah satu poin pentingnya adalah penunjukan utusan khusus ASEAN untuk Myanmar. Utusan khusus ini harus bisa bergerak bebas dan bertemu semua pihak di Myanmar, baik junta, pemerintah bayangan, maupun perwakilan rakyat. Hingga kini junta belum menyatakan persetujuan terhadap penunjukan utusan khusus ASEAN. Kandidatnya ialah mantan Menteri Luar Negeri Indonesia Hassan Wirajudha, Wakil Menlu Thailand Weerasak Footrakul, Menteri Kedua untuk Urusan Luar Negeri Brunei Darussalam Erywan Yusof, dan diplomat senior Malaysia Razali Ismail. Pendapat kritis juga dikemukakan juru bicara PBB, Stephane Dujarric. ”Situasi di Myanmar bergerak ke arah yang salah dan tidak sesuai dengan kesepakatan KTT ASEAN. Restorasi demokrasi harus segera diwujudkan di Myanmar,” ujarnya. Lambatnya penunjukan utusan khusus ini akan berdampak pada reputasi ASEAN di kancah politik internasional. Peneliti mengenai isu ASEAN di lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Khanisa Krisman, mengatakan, utusan khusus harus bisa menjembatani dialog antartokoh di Myanmar. Semestinya, tidak ada kewajiban hanya satu orang yang bisa menjabat sebagai utusan khusus. ”Tugas ini bisa diemban oleh beberapa orang sekaligus selama semua utusan khusus itu memiliki pandangan yang sama mengenai capaian dalam kunjungan ke Myanmar,” ujar Khanisa. Ia menjelaskan, pendekatan yang dipakai ASEAN mengedepankan prinsip saling menghormati. Dalam hal ini, Myanmar berhak tidak menyetujui utusan khusus yang dipilih oleh ASEAN. Oleh sebab itu, jalan keluarnya bukan dengan mengucilkan Myanmar, melainkan melakukan negosiasi berkelanjutan agar junta mau membuka diri. Menurut Khanisa, sikap Indonesia, seperti yang disampaikan Menlu Retno Marsudi, untuk terus mendorong komitmen pelaksanaan hasil konsensus sudah baik. Tinggal cara mengomunikasikan kepada Myanmar bahwa konsensus dan utusan khusus bukan untuk menghakimi mereka, melainkan mencari jalan tengah guna mencegah eskalasi konflik. ”ASEAN bisa menekankan pada bantuan kemanusiaan kepada Myanmar sambil menagih janji junta untuk taat pada konsensus yang langsung dihadiri oleh panglima tertingginya padabulan April," ujarnya. (AP/AFP/Reuters)

(3)

Alih-alih menciptakan ketergantungan dan memperkuat pengendalian, tulisan ini mengusulkan agar pemerintah mulai menyentuh aspek politik dan hak asasi manusia seraya memperkuat pemberdayaan birokrasi dan masyarakat Papua. Oleh ARIE RUHYANTO Dewan Perwakilan Rakyat pada Kamis, 15 Juli 2021, mengesahkan RUU tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua (Otsus Papua). Sebelumnya, pembahasan RUU revisi Otsus Papua yang berlangsung sejak pertengahan Februari lalu melewati dinamika proses yang cukup tajam. Pemerintah pada awalnya hanya mengusulkan perubahan pada tiga pasal, yakni terkait nama provinsi, dana otsus, dan pemekaran provinsi. Dalam perkembangannya, revisi meluas menjadi 20 pasal, mencakup 15 pasal usulan DPR, 3 pasal usulan pemerintah, dan 2 pasal tambahan baru. Pertanyaan mendasarnya kemudian adalah, apakah perubahan-perubahan tersebut dapat memberikan peluang lebih besar bagi upaya menghadirkan kesejahteraan dan perdamaian di Papua? Keuangan dan kelembagaan Jika kita telisik lebih jauh, revisi UU Otsus Papua yang sepintas tampak komprehensif tersebut ternyata secara garis besar hanya berfokus pada sebagian kecil aspek yang diatur dalam UU Otsus Papua tahun 2001, yaitu terkait aspek kelembagaan dan keuangan. Aspek-aspek yang lebih mendasar yang selama ini menjadi latar belakang berbagai konflik dan ketegangan sosial di Papua, seperti aspek politik, sejarah, hak asasi manusia (HAM), serta relasi sosial antarkelompok masyarakat tidak menjadi perhatian dalam revisi kali ini. Dari 20 pasal perubahan dan tambahan yang disepakati oleh pemerintah dan DPR tampak jelas bahwa yang lebih dikedepankan adalah persoalan keuangan dan penataan kelembagaan. Pada aspek keuangan terdapat penambahan dana otsus dari 2 persen menjadi 2,25 persen. Selebihnya, revisi undang-undang berkonsentrasi pada penataan kelembagaan, seperti kewenangan provinsi dan kabupaten/kota, susunan kedudukan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) di tingkat provinsi dan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten/Kota (DPRK) di tingkat kabupaten/kota, pengisian gubernur dan wakil gubernur, serta kewenangan Majelis Rakyat Papua (MRP). Revisi penataan kelembagaan juga dilakukan dengan memberikan keleluasaan bagi pemerintah pusat untuk membentuk provinsi-provinsi baru di Papua, di samping mekanisme bottom up yang ada selama ini. Revisi UU Otsus juga mengamanatkan dibentuknya badan khusus yang bertugas mengoordinasikan dan mengawasi implementasi otonomi khusus. Lembaga ini nantinya bertanggung jawab secara langsung kepada presiden melalui wakil presiden. Institusi serupa pernah dibentuk pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yakni Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) yang mandatnya tidak diperpanjang setelah habis masa berlakunya pada 2014. Depolitisasi dan dominasi? Sejak awal pembahasan revisi UU Otsus, secara eksplisit Menteri Dalam Negeri menyatakan menghindari pembahasan pasal-pasal yang bersifat politik sebagaimana diusulkan oleh beberapa fraksi di DPR. Menurut Mendagri, pembahasan topik-topik politis, seperti sejarah dan pelanggaran HAM, akan memakan waktu berlarut-larut. Sementara revisi UU harus segera ditetapkan untuk memberikan payung hukum, antara lain, bagi penetapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 dan pembentukan provinsi baru di Papua. Pemerintah bahkan dengan tegas menolak 34 dari 44 daftar inventarisasi masalah (DIM) usulan fraksi-fraksi yang dipandang tidak sejalan dengan usulan pemerintah. Di antara usulan yang ditolak oleh pemerintah, antara lain, menyangkut persyaratan calon bupati/wakil bupati dan calon wali kota/wakil wali kota harus orang asli Papua (OAP), partai politik di Papua, dan pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Bahkan, ketentuan tentang partai politik lokal yang tertuang di Pasal 28 dihapus dengan alasan ketentuan tersebut sudah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK). Penolakan terhadap usulan-usulan yang terkait dengan isu politik tersebut dapat dibaca sebagai upaya pemerintah untuk melakukan depolitisasi atas persoalan Papua. Dengan diabaikannya pembahasan terkait topik-topik mendasar terkait politik, keamanan, dan pelanggaran HAM, sudah dapat dipastikan revisi UU Otsus kali ini tetap tak akan mampu menjawab seluruh persoalan Papua. Di sisi lain, fokus pada aspek keuangan dan kelembagaan dapat dipandang sebagai upaya memperkuat dominasi pemerintah pusat di Papua. Dengan ketergantungan daerah yang semakin besar terhadap dana otsus, pemekaran yang dapat dilakukan secara top down, serta pembentukan lembaga di tingkat pusat yang khusus mengawasi implementasi otsus, maka kendali pusat terhadap Papua semakin kuat. Apakah hal ini akan lebih baik bagi upaya perdamaian di Papua, tentunya sangat dipertanyakan di tengah tingginya tingkat ketidakpercayaan masyarakat Papua secara umum terhadap pemerintah pusat. Alih-alih menciptakan ketergantungan dan memperkuat pengendalian, tulisan ini mengusulkan agar pemerintah mulai menyentuh aspek politik dan hak asasi manusia seraya memperkuat pemberdayaan birokrasi dan masyarakat Papua. Reorientasi ini penting agar 20 tahun ke depan kita tidak terus menghadapi persoalan yang sama di Papua. Arie Ruhyanto, Doctoral Researcher International Development Department University of Birmingham, Inggris

(4)

Meski ranah hukum dan administrasi berbeda, KPK tunggu putusan MK dan MA untuk menjalankan rekomendasi Ombudsman RI terkait tes wawasan kebangsaan. JAKARTA, KOMPAS — Komisi Pemberantasan Korupsi masih menunggu hasil dari sejumlah gugatan terkait peralihan pegawai KPK menjadi aparatur sipil negara, di Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung. Karena itu,KPK masih belum menjalankan tindakan korektif yang diminta Ombudsman Republik Indonesia terkait tes wawasan kebangsaan. Ketua KPK Firli Bahuri di Gedung KPK, Jakarta, Senin (2/8/2021), mengatakan, pihaknya sudah mempelajari laporan hasil pemeriksaan Ombudsman Republik Indonesia (ORI). KPK akan mengambil sikap yang akan disampaikan kepada publik. Saat ini, KPK masih menunggu proses hukum di MK dan MA. Jika suatu persoalan sudah masuk ranah hukum, ada independensi hukum. ”Jadi, kewenangan lain harus tunduk pada hukum. Karena itu, KPK pun mengambil sikap menghormati hukum,” ucap Firli, dalam jumpa pers. MK kemarin mulai menyidangkan perkara uji materi Pasal 69B Ayat (1) dan Pasal 69C Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang KPK, yang mengatur pegawai KPK harus menjadi aparatur sipil negara (ASN). Gugatan diajukan KPK Watch Indonesia. Direktur Eksekutif KPK Watch Indonesia M Yusuf Sahide menyatakan, hasil TWK yang dijadikan dasar menentukan pegawai KPK diangkat jadi ASN merupakan tindakan yang menyebabkan tidak terpenuhinya jaminan konstitusi. Pegawai tak diperlakukan adil dan layak.Menurut dia, proses alih status pegawai KPK seharusnya tak disamakan dengan seleksi ASN baru, maupun promosi jabatan ASN. MA saat ini juga tengah menguji Peraturan KPK No 1/2021 tentang Pengalihan Pegawai KPK menjadi ASN. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BKN Bima Haria Wibisana menyampaikan, pemerintah akan menjawab bersama-sama laporan ORI. Namun, ia tak merinci kapan jawaban itu disampaikan. Tidak patuh hukum Pengajar Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera Bivitri Susanti berpandangan, tak ada hubungan rekomendasi ORI dengan putusan MA maupun MK. ORI berkaitan malaadministrasi dalam pelayanan publik, sedangkan MK dan MA terkait norma perundang-undangan. Jika MA menyatakan Peraturan KPK No 1/2021 itu sah, temuan ORI tak lantas batal. Sebab, temuan ORI bukan tindakan berdasarkan peraturan KPK, tetapi penyalahgunaan wewenang dengan pemecatan berdasar berita acara 25 Mei dan Surat Keputusan No 652/2021 tentang Tindak Lanjut Hasil TWK dan BKN. ”Temuan itu semua tak berhubungan dengan sah atau tidak sahnya Peraturan KPK,” kata Bivitri.Begitu pun pasal yang diuji di MK, perkara tersebut soal norma ”alih status” sehingga tak ada hubungannya dengan proses di ORI. Pimpinan KPK, tak bisa berlindung pada putusan MA dan MK karena antara ORI, MA, dan MK punya dimensi pengujian berbeda. Peneliti Pusat Antikorupsi Universitas Gadjah Mada (Pukat UGM), Zaenur Rohman, sependapat dengan Bivitri. Putusan MA dan MK berbeda dengan putusan ORI. Putusan MA dan MK di badan yudisial, sedangkan fokus ORI malaadministrasi. ”Kalau di situ sudah ada malaadministrasinya, dibuktikan Ombudsman, dan sudah diputuskan Ombudsman, tanpa menunggu putusan-putusan badan peradilan pun, itu sudah menjadi kewajiban lembaga yang direkomendasikan Ombudsman,” ujar Zaenur. Apalagi, menurut Zaenur, berdasarkan UU No 37/2008 tentang ORI, putusan ORI bersifat final dan mengikat. Dengan begitu, tak ada celah melaksanakan putusan ORI. Fakta baru Sementara itu, Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Choirul Anam mengatakan, pihaknya menemukan fakta baru terkait TWK. Fakta baru itu dianggap memengaruhi konstruksi peristiwa. ”Fakta baru ini penting dan jadi salah satu basis menentukan bentuk pelanggaran HAM,” kata Choirul. Ia berharap, laporan Komnas HAM minggu ini, bisa diselesaikan. (BOW/DEA

(5)

Menyikapi lambannya respons Myanmar, Indonesia mendorong kembali ASEAN untuk segera melangkah maju. Rakyat Myanmar sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan. Oleh KRIS MADA JAKARTA, KOMPAS — Setelah 100 hari, belum ada tanda konsensus ASEAN akan segera terwujud. Sementara penderitaan warga Myanmar terus berlanjut di tengah pandemi Covid-19 dan keterbatasan pasokan aneka kebutuhan pokok. Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengatakan, tidak ada perkembangan serius dalam penerapan konsensus ASEAN soal Myanmar. ”Indonesia berharap agar Myanmar segera menyetujui usulan ASEAN mengenai penunjukan utusan khusus,” ujarnya dalam telekonferensi dari Washington DC, Amerika Serikat, Senin (2/8/2021). Retno merujuk pada pertemuan kepala pemerintahan atau kepala negara ASEAN (ASEAN Leaders’ Meeting/ALM) pada 24 April 2021 di Sekretariat ASEAN, Jakarta. Saat itu ASEAN menyepakati konsensus ASEAN berisi lima poin, yakni penghentian kekerasan dan sikap menahan diri oleh semua pihak, dialog konstruktif melibatkan semua pihak, pengiriman bantuan kemanusiaan yang dikoordinasi oleh ASEAN, penunjukan utusan khusus ASEAN, dan kunjungan utusan khusus ASEAN ke Myanmar. Retno mengatakan, kelambanan penerapan konsensus berdampak buruk bagi ASEAN. ”Sudah waktunya ASEAN membuat keputusan,” katanya. Retno menyatakan hal itu di sela-sela rangkaian ASEAN Ministerial Meeting (AMM) pada 2-6 Agustus 2021. AMM 2021 diharapkan bisa membuat keputusan konkret. Jika gagal, Indonesia akan meminta mandat soal konsensus dikembalikan kepada para pemimpin ASEAN. Sebab, konsensus itu disepakati para pemimpin ASEAN yang menugaskan para menteri untuk mewujudkannya. Pemimpin militer Myanmar Min Aung Hlaing menyatakan setuju mantan Wakil Menlu Thailand Virasakdi Futrakul sebagai calon utusan khusus ASEAN. Akan tetapi, menurut dia, ada usulan baru. Ia tidak menjelaskan apa usulan itu dan siapa pengusulnya. Yang jelas, usulan baru itu membuat penunjukan utusan khusus kembali terhenti. Ia juga berjanji akan bekerja sama dengan utusan khusus ASEAN. Namun, tidak disebutkan bagaimanan implementasi janji itu. ASEAN meminta utusan khusus bisa bebas menemui semua pihak yang bertikai di Myanmar. Tanpa itu, utusan khusus tidak bisa menjalankan tugasnya untuk memediasi dialog. Sementara ini, sejumlah nama mengemuka menjadi bakal calon utusan khusus ASEAN untuk Myanmar. Menlu Kedua Brunei Darussalam Erywan Yusof mengaku dirinya salah satu bakal calon utusan khusus ASEAN untuk Myanmar. Selain Erywan dan Virasakdi, ada pula mantan Menlu RI Hassan Wirajuda dan diplomat senior Malaysia, Razali Ismail, dalam daftar bakal calon utusan khusus ASEAN untuk Myanmar. Sejumlah diplomat menyebut, pencalonan Erywan tidak didukung beberapa negara ASEAN. Erywan tercatat pernah melawat ke Naypyidaw. Lawatan itu dinilai tidak membawa hasil karena konsensus tidak kunjung terlaksana. Sementara pencalonan Razali tidak diterima Myanmar. Sebab, selama ini Malaysia selalu bersuara keras soal Myanmar. Selain itu, rekam jejak Razali sebagai mantan Ketua Komnas HAM disebut mengkhawatirkan junta. Jangan berlarut-larut Anggota Dewan Penasihat Khusus Myanmar, Marzuki Darusman, berharap ASEAN tidak lagi membuang waktu. Semakin lama membuat keputusan, ASEAN dapat disebut ikut bertanggung jawab pada kebrutalan junta terhadap warga Myanmar. Pemimpin dan Sekretariat ASEAN diharapkan segera membuat keputusan soal penunjukan utusan khusus. ASEAN harus bertindak sesuai dengan prinsip dalam Piagam ASEAN, yakni menghormati hak dasar, melindungi HAM, mendorong keadilan sosial, serta mendorong perdamaian dan keamanan di kawasan. Junta, menurut dia, terus mempermainkan ASEAN. Beberapa waktu lalu, junta meminta dana bantuan penanganan Covid-19 diserahkan kepada mereka. Padahal, berbagai bukti di lapangan menunjukkan, junta tidak mampu menangani pandemi dan ikut berkontribusi pada ketidakmampuan itu. Aparat pendukung junta menduduki sejumlah klinik dan rumah sakit. Tenaga kesehatan diburu karena menolak mendukung pemerintahan hasil kudeta, Dewan Pengelolaan Negara (SAC). Terbaru, junta mengingkari janjinya sendiri. Awalnya, Min berjanji pemilu akan digelar pada 2022. Lewat pengumuman pada Minggu siang, Min menetapkan dirinya sebagai perdana menteri dan pemilu akan diselenggarakan pada Agustus 2023. Penting pula memastikan ASEAN tahu langkah selanjutnya. Salah satu langkah mendesak saat ini adalah penyaluran bantuan kemanusiaan. Untuk keperluan itu, ASEAN perlu berhubungan dengan pemerintahan bentukan kelompok sipil, NUG. Sebab, jaringan NUG tersebar di berbagai penjuru Myanmar dan benar-benar melayani warga. ”Mereka tahu cara menyalurkan bantuan dan ASEAN harus mendukung mereka,” kata Marzuki. Sampai sekarang, ASEAN tidak kunjung berhubungan secara resmi dengan NUG. ASEAN tetap hanya berhubungan dengan junta meski tidak mengakui pemerintahan hasil kudeta 1 Februari 2021. ”Padahal, mereka (NUG) punya perwakilan lebih banyak dibandingkan SAC,” mantan Duta Besar Belanda untuk Myanmar dan ASEAN Laetitia van den Assum. Sejumlah duta besar Myanmar menolak mendukung SAC. Mereka berkeras tetap menjadi perwakilan pemerintahan sebelum kudeta. Menteri Kerja Sama Myanmar versi NUG Salai Maung Taing San alias Sasa menyebut sejumlah negara masih menyokong junta. Dukungan itu membuat junta masih terus mempertahankan kekuasaan dan menekan warga Myanmar. NUG dan SAC masih terus memperebutkan dukungan di kawasan dan internasional. Di kawasan, SAC terutama disokong Thailand dan Kamboja. Sementara di panggung internasional, Rusia dan China cenderung mendukung SAC. Adapun NUG sampai sekarang belum mendapat pengakuan resmi di kawasan. Di Eropa, perwakilan NUG beberapa kali berkesempatan berpidato di parlemen. Di AS, parlemen cenderung mendukung NUG setelah NUG berjanji merangkul orang Rohingya. Bagi sejumlah politisi AS, isu itu penting. Sebab, SAC menolak mengakui Rohingya sebagai warga Myanmar. (AFP/REUTERS)

Referensi

Dokumen terkait

Menariknya, upaya ”penyangkalan” tersebut tidak hanya dilakukan oleh lembaga pendidikan keagamaan yang bersangkutan atau instansi dari lingkungan yang terasosiasi dengan

Upaya penyediaan pembangkit listrik bersumber energi baru dan terbarukan jauh panggang dari api dengan masuknya gasifikasi batubara dalam RUU EBT.. Gasifikasi batubara bukanlah

Baca juga : Aneksasi Tepi Barat, Kesalahan Sejarah Akan tetapi, justru ketika semua mata dan hati masyarakat dunia mengarah pada bagaimana mengatasi pandemi Covid- 19, Netanyahu

Oleh DEONISIA ARLINTA JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah menetapkan batas tertinggi untuk tarif pemeriksaan tes usap berbasis polimerase rantai ganda

Peraturan OJK (POJK) Republik Indonesia Nomor 11/Pojk.03/2020 itu menyatakan bahwa bank akan menerapkan kebijakan yang mendukung stimulus pertumbuhan ekonomi untuk debitor yang

Oleh karena itu, presidensi G-20 Indonesia ta- hun 2022 sangat penting untuk menyampaikan beberapa tin- dakan kebijakan terkoordinasi yang konkret, tidak hanya un- tuk

Kajian tim peneliti dengan penulis pertama S Widiantoro dari Global Geophysics Rese- arch Group ITB di jurnal Na- ture pada 2019 menyebutkan, ketinggian tsunami yang dia- kibatkan

“Sehingga secara teknikal Indonesia masuk dalam fase resesi ekonomi.” Sementara itu, ekonom Bank Permata Josua Pardede memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2020 sekitar