Juta UKM di Bukalapak” di Youtube)
SKRIPSI
Reza Andika Putra 130904134
Program Studi Periklanan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI
MEDAN
2017
Juta UKM di Bukalapak” di Youtube)
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Program Strata 1 (S-1) pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
Reza Andika Putra 130904134
Program Studi Periklanan
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2017
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI
LEMBAR PERSETUJUAN Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh:
Nama : Reza Andika Putra NIM : 130904134
Departemen : Ilmu Komunikasi
Judul :TINJAUAN MAKNA DAN BAHASA VISUAL IKLAN
(Analisis Semiotika Iklan Bukalapak “Jadilah Pahlawan Untuk Satu Juta UKM di Bukalapak” di Youtube)
Dosen Pembimbing Ketua Departemen
Haris Wijaya, S.Sos, M.Comm Dra, Dewi Kurniawati, M.Si., Ph.D NIP. 197711062005011001 NIP. 196505241989032001
Dekan FISIP USU
Dr. Muryanto Amin, M.Si NIP. 197409302005011002
Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Ilahi Rabbi Allah Jalla Wa „Azza atas segala berkah dan rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan tugas akhir ini.
Penulisan skripsi ini dilakukan guna memenuhi salah satu syarat untuk menggapai gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU). Saya menyadari sebagai manusia yang tidak sempurna bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak semenjak masa perkuliah sampai dengan penyusunan skirpsi ini, tentu sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikannya. Oleh karena itu, saya menghaturkan ribuan rasa terima kasih terutama kedua orang tua saya, Ir. Sukrianto dan Sayani Yusuf yang telah membanting tulang demi pendidikan tinggi yang ditempuh anaknya dan senantiasa mendukung mendoakan hingga saya mampu menjadi sarjana di Universitas Sumatera Utara. Tak luput juga saya haturkan rasa terima kasih saya kepada :
1. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos, M.Si., selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Sumatera Utara
2. Ibu Dra. Dewi Kurniawati, M.Si, Ph.D., selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU, yang telah mengayomi kami para mahasiswa.
3. Ibu Emilia Ramadhani, S.Sos, S.Psi, M.A., selaku Sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU.
4. Abangda Haris Wijaya, S.Sos.,MComm.,selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu di sela-sela kesibukan untuk memeriksa skripsi saya serta membimbing dan menasehati saya.
Terima kasih banyak bang atas bimbingan dan bantuan dalam pengerjaan skripsi saya.
5. Bapak Drs. Syafruddin Pohan, M.Si, Ph.D selaku dosen pembimbing yang telah menuntun saya sepanjang semester di masa perkuliahan yang saya lalui.
segala macam administrasi.
7. Sahabat-sahabat saya yang tergabung dalam grup Wadimor Kembang yaitu Khairullah, Danang Bimantara, Willy Tan, Hendro Joko Pryono dan Muhammad Kurniawan. Saya ucapkan terima kasih kepada kalian karena sudah membuat perkuliahan ku lebih hidup dan berwarna terutama kepada abangda Khairullah yang membantu segala macam persoalan baik kuliah maupun pribadi.
8. Teman-teman yang tergabung di dalam Pers Mahasiswa PIJAR FISIP USU. Berkat Pijar, kehidupan kampusku menjadi lebih berwarna tidak monoton dan ada naik dan turunnya. Berkat PIJAR aku mempelajari bagaimana rasanya bertanggung jawab dan memimpin suatu acara. Terutama kepada senior-senior PIJAR yaitu Nur Fitriyani Saputri dan Bagus Prakasa yang juga membantu saya dalam berbagai masalah kuliah dan pribadi.
9. IMAJINASI FISIP USU terutama pengurus periode 2014-2015 yang telah memberikan wadah bagi saya dan teman-teman yang lainnya untuk mengembangkan kreatifitas dan belajar untuk berorganisasi.
10. Terima kasih kepada teman-teman Komunikasi stambuk 2013 yang ikut memeriahkan kehidupan kampus saya.
Saya berharap Allah Subhanallahu Wa Ta‟ala berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah berjasa membantu saya. Semoga skripsi ini dapat membawa manfaat bagi pengembangan ilmu komunikasi khususnya di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU.
Medan, 29 Maret 2017
Reza Andika Putra
Sebagai civitas akademik Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Reza Andika Putra
NIM : 130904134
Departemen : Ilmu Komuikasi
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas : Sumatera Utara
Jenis Karya : Skripsi
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non Eksklusif (Non-exclusive Royalti-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
TINJAUAN MAKNA DAN BAHASA VISUALIKLAN (Analisis Semiotika Iklan Bukalapak “Jadilah Pahlawan Untuk Satu Juta UKM di Bukalapak” di Youtube).
Dengan Hak Bebas Royalti Non kkslusif ini Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalih media/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama mencantumkan nama saya sebagai peneliti/pencipta dan sebagai pemilik hak cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Medan
Pada Tanggal : April 2017 Yang menyatakan,
(Reza Andika Putra)
Semiotika Iklan Bukalapak Versi „Jadilah Pahlawan Untuk Satu Juta UKM di Bukalapak‟ di Youtube)”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem tanda yang terdiri atas makna dan bahasa visual serta makna dentoasi, konotasi dan mitos yang terkandung dalam objek yang diteliti. Penelitian ini memfokuskan pada analisis semiotika iklan. Penelitian ini memakai paradigma kritis sebagai pendekatan. Sedangkan pisau analisis atau instrumen analisis data, peneliti menggunakan teknik analisis semiotika signifikasi dua tahap yang dibuat oleh Roland Barthes. Dalam penelitian ini, peneliti berusaha meneliti makna konotatif, denotatif dan mitos dibalik pesan yang disampaikan iklan “Jadilah Pahlawan untuk Satu Juta UKM di Bukalapak”. Dalam penelitian ini, peneliti meneliti subjek yang diambil dari Youtube, yang merupakan situs berbagi video terbesar di dunia. Adapun Youtube, yang diteliti adalah Iklan Bukalapak versi Jadilah Pahlawan Untuk Satu Juta UKM di Bukalapak yang di unggah di bulan Agustus tahun 2016. Sesuai dengan fokus masalah yang diteliti yaitu Bagaimana pemaknaan isi pesan dan bahasa visual yang terdapat dalam iklan Bukalapak versi
„Jadilah Pahlawan untuk Satu Juta UKM di Bukalapak‟?. Dimana dalam penelitian ini peneliti mendapatkan hasil tentang pemaknaan isi pesan Iklan Bukalapak secara denotatif, konotatif dan mitos. Secara denotatif, iklan ini menampilkan sosok kepahlawanan seorang pembeli yang membantu UKM di seluruh Indonesia melalui aplikasi Bukalapak. Dari segi konotatif, Bukalapak ingin merangkul seluruh UKM di Indonesia melalui program “Pahlawan Pelapak”
dengan memberitahukan keuntungan bila membuka usaha di Bukalapak. Mitos yang terkandung dalam objek penelitian adalah bagaimana Bukalapak menumbuhkan minat masyarakat untuk menggunakan situs jual beli online untuk berjualan dan membeli sesuatu.
Kata Kunci:
Bukalapak, Analisis Semiotika, Signifikasi Dua Tahap, Roland Barthes, Iklan, online, e-commerce
Analysis of Bukalapak commercial „Jadilah Pahlawan untuk Satu Juta UKM di Bukalapak‟ version on Youtube)”. This research intend to find mark system which consist meaning and visual language along with denotation, connotation and myth meaning that contained in research object. This study focused at commercial semiotic analysis. This research make use of critical paradigm as the approach.
For the analysis instrument, this research use semiotic analysis two way signification from Roland Barthes. In this study, researcher try to reseach connotative, dennotative and myth meaning behind the message that submitted in
“Jadilah Pahlawan Untuk Satu Juta UKM di Bukalapak” commercial.In this study, researcher research subject from Youtube, the biggest video sharing site on the world. Researcher research Bukalapak commercial that uploaded on August 2016. In accordance with the focus of the problem is how the meaning and visual languange of Bukalapak commercial “jadilah Pahlawan Untuk Satu Juta UKM di Bukalapak” version?. Which in this study researcher got the result that contain connotative, dennotative and myth meaning from study object. Denotative side, Bukalapak display heroic figure of a buyer who helps UKMthroughout Indonesia with Bukalapak application. Connotative terms, bukalapak wanted to embrace the whole of UKM in Indonesia through the program "Pahlawan Pelapak" by telling the advantage when opening a business in Bukalapak. Myth that contained in the study object is how Bukalapak grow community interest in using an online trading site to sell and buy something
Keywords:
Bukalapak, Semiotic Analysis, Two Ways Signification, Roland Barthes, commercial, online, e-commerce
DAFTAR ISI
Halaman Judul ... i
Lembar Persetujuan ... ii
Lembar Pengesahan ... iii
Kata Pengantar... iv
Lembar Persetujuan Publikasi Karya Ilmiah ... vi
Abstrak ... vii
Daftar Isi ... ix
Daftar Tabel ... xii
Daftar Gambar ... xiii
Daftar Lampiran ... xiv
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Masalah ... 1
1.2 Fokus Masalah ... 6
1.3 Tujuan Penelitian ... 6
1.4 Manfaat Penelitian ... 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Paradigma Penelitian ... 7
2.2 Kajian Pustaka ... 8
2.2.1 Kerangka Teori... 9
2.2.2 Komunikasi Massa ... 9
2.2.3 Iklan... 11
2.2.4 Tanda ... 16
2.2.5 Semiotika... 18
2.2.5.1 Makna ... 21
2.2.5.2 Semiotika Komunikasi Visual... 24
2.2.5.3 Semiotika Roland Barthes ... 25
2.2.6 Video ... 32
2.2.6.1 Teknik Pengambilan Gambar ... 33
2.2.7 Media Baru (Internet) ... 35
2.3 Model Teoritis ... 37
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian... 38
3.1.1 Tipe Penelitian ... 38
3.1.2 Operasionalisasi Konsep ... 38
3.2 Objek Penelitian ... 39
3.3 Subjek Penelitian ... 40
3.4 Unit Analisis... 41
3.5 Kerangka Analisis ... 42
3.6 Teknik Pengumpulan Data ... 42
3.7 Teknik Analisis Data ... 43
3.8 Kelemahan Penelitian... 46
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 47
4.2 Analisis Data ... 49
4.2.1 Analisis Scene Pertama Iklan Bukalapak ... 49
4.2.2 Analisis Scene Kedua Iklan Bukalapak... 55
4.2.3 Analisis Scene Ketiga Iklan Bukalapak ... 62
4.2.4 Analisis Scene Keempat Iklan Bukalapak... 67
4.2.5 Analisis Scene Kelima Iklan Bukalapak ... 72
4.2.6 Analisis Scene Keenam Iklan Bukalapak ... 78
4.2.7 Analisis Scene Ketujuh Iklan Bukalapak ... 82
4.2.8 Analisis Scene Kedelapan Iklan Bukalapak ... 87
4.2.9 Analisis Scene Kesembilan Iklan Bukalapak ... 91
4.2.10 Analisis Scene Kesepuluh Iklan Bukalapak ... 96
4.2.11 Analisis Scene Penutup Iklan Bukalapak ... 104
4.3 Pembahasan ... 105
4.3.1 Analisis Denotatif Iklan Bukalapak ... 106
4.3.2 Analisis Konotatif Iklan Bukalapak ... 109
4.3.3 Analisis Mitos Iklan Bukalapak ... 120
4.3.4 Uraian Analisis ... 120
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ... 122
5.2 Saran ... 123
DAFTAR REFERENSI ... 124
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
2.1 Teknik Dalam Pengambilan dan Penyutingan Gambar 34 2.2 Kerja Kamera dan Teknik Penyuntingan 35
4.1 Identifikasi Iklan Bukalapak 47 4.2 Teknik-Teknik Dalam Menyunting Gambar Iklan Bukalapak 48
4.3 Ikon Scene Pertama 50
4.4 Ikon Scene Kedua 56
4.5 Ikon Scene Ketiga 63
4.6 Ikon Scene Keempat 67
4.7 Ikon Scene Kelima 72
4.8 Ikon Scene Keenam 78
4.9 Ikon Scene Ketujuh 82
4.10 Ikon Scene Kedelapan 88
4.11 Ikon Scene Kesembilan 92
4.12 Ikon Scene Kesepuluh 98
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
2.1 Peta Tanda Roland Barthes 26
2.2 Elemen-Elemen Makna Saussure 28
4.1 Gambar Scene Pertama 49
4.2 Gambar Scene Kedua 55
4.3 Gambar Scene Ketiga 62
4.4 Gambar Scene Keempat 67
4.5 Gambar Scene Kelima 72
4.6 Gambar Scene Keenam 78
4.7 Gambar Scene Ketujuh 82
4.8 Gambar Scene Kedelapan 87
4.9 Gambar Scene Kesembilan 91
4.10 Gambar Scene Kesepuluh 96
4.11 Gambar Scene Penutup 104
DAFTAR LAMPIRAN
1. Biodata Peneliti
2. Daftar Absensi Seminar Proposal 3. Lembar Nilai Seminar Proposal 4. Daftar Bimbingan Skripsi 5. Screenshot scene yang diteliti.
1.1 Konteks Masalah
Pertumbuhan pasar e-commerce di Indonesia memang begitu pesat.
Menurut idEA (Asosiasi E-commerce Indonesia), pada tahun 2015 Indonesia adalah pasar ecommerce terbesar di Asia Tenggara, tidak hanya itu di tahun yang sama Indonesia juga merupakan pasar yang sangat potensial di Asia Tenggara (“Unleashing”, 2015). E-commerce adalah “kegiatan melakukan transaksi bisnis dengan menggunakan media internet sebagai media paling utama” (Arviana, 2015).
Berkembangnya tren belanja online di Indonesia tidak lepas dari penetrasi internet yang terus naik sejak tahun 2010 hingga sekarang. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) mengungkap bahwa lebih dari setengah penduduk Indonesia kini telah terhubung ke internet.Survei yang dilakukan sepanjang 2016 itu menemukan bahwa 132,7 juta orang Indonesia telah terhubung ke internet. Adapun total penduduk Indonesia sendiri sebanyak 256,2 juta orang (techno.kompas.com). Hal ini mengindikasikan kenaikan 51,8 persen dibandingkan jumlah pengguna internet pada 2014 lalu.
Survei yang dilakukan APJII pada 2014 hanya ada 88 juta pengguna internet.
Banyaknya penipuan yang dilakukan oleh penjual ketika belanja di situs belanja online membuat konsumen menjadi ragu untuk menggunakan situs belanja online untuk mencari kebutuhannya. Pembeli dan penjual tidak bertemu secara tatap muka, membuat resiko penipuan menjadi tinggi. Jaminan yang diinginkan oleh semua pihak baik dari pembeli maupun penjual menjadi peluang bagi perusahaan e-commerce untuk menciptakan situs belanja online yang aman dan mudah digunakan. Konsumen tidak hanya menginginkan transaksi yang aman, namun juga mengharapkan kemudahan dalam menggunakan situs belanja online.
Persaingan di dunia belanja online semakin terbuka untuk mendapatkan perhatian produsen dan konsumen dunia maya. Masyarakat mulai menginginkan hal praktis sehingga situs belanja online mulai digunakan. Dengan adaanya situs belanja online, konsumen bisa mendapatkan barang yang tidak ada di daerahnya dan produsen mampu meluaskan penjualannya.
Menurut data Alexa Research situs peringkat website pada tahun 2017, 5 situs e-commerce terbaik di Indonesia adalah: Tokopedia, Bukalapak, Lazada, Elevenia, dan OLX Indonesia (alexa.com). Banyaknya pesaing yang bermunculan tentu saja membuat masing-masing perusahaan e-commerce merencanakan komunikasi pemasaran yang efektif bagi calon konsumennya yaitu dengan membuat iklan yang efektif
Bukalapak merupakan salah satu perusahaan situs belanja online besar yang terkenal di Indonesia. PT. Bukalapak didirikan oleh Achmad Zaky pada tahun 2010. Bukalapak dianggap pesaing kuat oleh para kompetitornya di dunia belanja online, seperti Tokopedia, OLX, blanja.com dan lain-lain. Sebagai salah satu situs belanja online terkemuka di Indonesia, Bukalapak memanfaatkan kondisi ini dengan beriklan di situs unggahan video terbesar yaitu Youtube dan juga televisi. Dikarenakan konsumen adalah para pengguna internet maka Youtube dibanding televisi dianggap sebagai media yang efektif untuk menarik konsumen.
Bukalapak dulunya hanya terkenal di kalangan para pengguna sepeda.
Bersamaan dengan trend sepeda lipat dan fixed gear yang berlangsung di kota besar seperti Jakarta, Bogor, Bandung yang kemudian menyebar ke berbagai kota lain di Indonesia.
Di tahun 2014, Bukalapak menambahkan fitur baru yaitu Quick Buy, dimana pembeli tidak perlu melakukan registrasi akun terlebih dahulu ketika hendak membeli barang. Cukup mengisi data pembelian dan pembeli memilih tab Beli Tanpa Akun. Pada tahapan ini, pembeli cukup memasukan e-mail yang selalu aktif dan detail alamat pengiriman barang. E-mail tersebut nantinya digunakan untuk mengirim tagihan pembayaran sebagai kontak untuk menghubungi pembeli
jika terjadi kesalahan pada saat transaksi. Oleh karena itu, email diharapkan tidak salah dalam penulisannya, karena nantinya berpengaruh kepada verifikasi transaksi pengguna. Fitur ini memudahkan pengguna ketika berbelanja di situs Bukalapak.
Bukalapakmemiliki sebuah program baru untuk memfasilitasi Usaha Kecil Menengah (UKM) di seluruh Indonesia untuk melakukan transaksi jual-beli online. “PahlawanPelapak” merupakan nama program yang dibuat oleh Bukalapak untuk membantu mensejahterakan seluruh UKM di Indonesia.
Program Pahlawan Pelapak mendorong para pelaku usaha mikro di bidang ekonomi kreatif untuk memperluas pasar kreasinya dengan signifikan melalui platform online Bukalapak (http://mysharing.co).
Bukalapak ingin mempermudah UKM menggunakan toko online dalam menjual produk-produk mereka tanpa harus memiliki toko offline. Untuk UKM yang telah memiliki toko offline, dapat membantu meningkatkan penjualan toko tersebut dengan menggunakan situs Bukalapak. Dengan program ini, Bukalapak berusaha memajukan UKM diseluruh Indonesia. Bukalapak juga memberikan pesan kepada konsumen untuk sama-sama membantu UKM. “Jadilah Pahlawan Untuk Satu Juta UKM di Bukalapak” menjadi judul sekaligus pesan Bukalapak untuk para konsumen. Untuk membuat pesan tersebut menjadi lebih menarik, maka objek itu dihadirkan dalam bentuk iklan.
Zaman modern seperti sekarang ini, iklan tidak hanya terfokus di media cetak dan media elektronik seperti televisi dan radio. Internet hadir sebagai pasar baru untuk iklan di tengah masyarakat. Seperti halnya televisi dan radio, pengguna internet terus bertambah. Selain itu, terkadang iklan televisi yang populer akan diunggah oleh penontonnya ke internet untuk dibagikan ke seluruh dunia. Iklan internet semakin populer karena memiliki kelebihan ketimbang media lain. Salah satu kelebihannya adalah biaya untuk memasang iklan yang relatif murah ketimbang media yang lain (Moriarty dkk, 2011: 368)
Perkembangan iklan dalam masyarakat juga memiliki berbagai persoalan sosial dan kultural mengenai iklan, khususnya tanda yang digunakan, pesan yang
disampaikan, makna yang diperoleh, serta bagaimana semuanya mempengaruhi pemahaman dan tingkah laku penonton. Iklan menyimpulkan berbagai aspek- aspek realitas sosial. Tetapi iklan tidak merepresentasikan aspek-aspek tersebut secara jujur.
Iklan diperlihatkan kepada penonton sebagai gambaran realitas yang sebenarnya namun para pembuat iklan terkadang menunjukan gambaran yang bertolak belakang dengan realita. Ketidaksesuaian tersebut yang sering menjadi pembicaraan di kalangan masyarakat yang telah melihat tayangan iklan tersebut.
Berbeda dari Tokopedia dan Elevenia yang memakai celebrity endorser dalam membuat iklan, salah satu market place yaitu Bukalapak justru beriklan dengan cara yang unik yaitu dengan menjadikan CEO Bukalapak sebagai bintang iklan yaitu Achmad Zaky. Meskipun ada beberapa iklan yang memakai CEO sebagai bintang iklan seperti Maspion dan juga Holycow, hanya Achmad Zaky yang benar-benar menonjolkan dukungannya terhadap pelaku UKM di Indonesia.
Pesan yang disampaikan oleh Achmad Zaky pada iklan Bukalapak edisi
“Gunakan Jarimu dan Jadilah Pahlawan di Bukalapak” adalah mengajak langsung masyarakat untuk menjadi pahlawan bagi UKM yang ada di Indonesia dengan berbelanja di Bukalapak.
Iklan Bukalapak “Jadilah Pahlawan Untuk Satu Juta UKM di Bukalapak”
disajikan dalam dua bentuk iklan, yang pertama untuk televisi dan kedua untuk Youtube. Untuk televisi, iklan berdurasi tiga puluh detik sedangkan untuk Youtube, iklan berdurasi satu menit tiga puluh detik. Peneliti tertarik untuk mengambil bentuk iklan Youtube karena isi dari iklan lebih lengkap dan padat daripada bentuk iklan televisi.
Iklan di internet memiliki kelebihan dibandingkan dengan iklan di televisi maupun media cetak. Jika dikaitkan dengan media cetak, iklan internet dan televisi sudah pasti memiliki kelebihan yang memungkinkan diterimanya tiga kekuatan generator makna sekaligus, yakni narasi, suara dan visual. Selain disajikan secara audiovisual, iklan tersebut tidak hanya menawarkan produk semata namun terdapat makna yang dibelakangnya. Iklan internet dapat menerima
feedback secara instan dari penonton, karena iklan ditayangkan di situs berbagi video seperti Youtube yang memungkinkan pengguna untuk mengomentari video yang ditampilkan.
Dalam konteks “pembacaan” iklan media internet, mengaitkan iklan dan semiotika dapat menjadi bahan penelitian yang menarik. Sebagian tayangan iklan seringkali bukan menawarkan produk semata, tetapi juga melekatkan sistem keyakinan dan nilai tertentu. Iklan internet telah menjadi satu bagian kebudayaan populer yang memproduksi dan merepresentasikan nilai, keyakinan dan ideologi.
Menariknya, iklan internet tidak luput dari perannya sebagai arena komodifikasi, dimana pesan iklan bukan lagi sekedar menawarkan barang dan jasa, melainkan juga menjadi semacam alat untuk menanamkan makna simbolik.
Dalam video yang akan diteliti terdapat beberapa gambar yang mempunyai makna yang hampir sama dan untuk membuat penelitian lebih maksimal dan efisien, peneliti menyeleksi gambar yang akan digunakan dalam penelitian.
Akhirnya hanya beberapa gambar yang berpotensi yang menjadi bahan untuk diteliti. Gambar-gambar yang terpilih itulah yang akan diteliti selain gambar terdapat jingle dan narasi dalam iklan tersebut. narasi yang diucapkan narator dan musik dalam penelitian tersebut juga akan peneliti bagi dengan gambar dan menjadi sebuah unsur berbeda untuk diteliti. Keseluruhan elemen yang ada akan diteliti menggunakan pendekatan Semiologi Barthes.
Dalam Iklan Bukalapak“Jadilah Pahlawan Untuk Satu Juta UKM di Bukalapak“, terdapat berbagai scene, narasi yang dapat dimaknai sebagai suatu pendekatan iklan yang baru. Iklan ini berdurasi satu menit tiga puluh detik yang dipilah menjadi 38 potongan gambar. Konsep yang dipakai adalah dengan menggunakan sosok konsumen untuk menarik konsumen. Bagi perusahaan e- commerce, penjual dan pembeli adalah konsumen. Bukalapak membuat pembeli menjadi sosok pahlawan yang menyelamatkan UKM dengan berbelanja di situs mereka. Sedangkan untuk UKM, mereka menjadi bagian dari perkembangan perekonomian di Indonesia dengan membuka lapak di Bukalapak dan bertransaksi secara online dengan pembeli.
Iklan ini menarik untuk diteliti guna memahami tatanan signifikasi dari pembuat iklan sehingga dimaknai oleh penonton untuk memahami makna yang diperoleh. Berdasarkan konteks masalah yang telah dipaparkan, maka peneliti tertarik untuk meneliti pemaknaan isi pesan dan bahasa visual dalam iklan Bukalapakversi “Jadilah Pahlawan Untuk Satu Juta UKM di Bukalapak”.
1.2 Fokus Masalah
Dari konteks masalah yang telah diuraikan, maka fokus masalah penelitian ini adalah sebagai berikut, “Bagaimana pemaknaan isi pesan dan bahasa visual yang terdapat dalam iklan Bukalapak versi „Jadilah Pahlawan untuk Satu Juta UKM di Bukalapak‟ ?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk:
1. Mengetahui makna denotasi dan konotasi yang terkandung dalam iklan Bukalapak versi “Jadilah Pahlawan untuk Satu Juta UKM di Bukalapak”.
2. Mengetahui sistem tanda yang terdiri atas makna dan bahasa visual yang terdapat dalam iklan Bukalapak versi “Jadilah Pahlawan untuk Satu Juta UKM di Bukalapak”.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1. Manfaat secara akademis, penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu komunikasi, serta sebagai tambahan referensi dan sumber bacaan mahasiswa FISIP USU, khususnya Departemen Ilmu Komunikasi.
2. Manfaat secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan memperluas wawasan bagi pengembangan Ilmu Komunikasi, Khususnya bagi mahasiswa atau masyarakat yang tertarik topik penelitian.
3. Manfaat secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi mahasiswa atau masyarakat yang ingin mempelejari lebih lanjut mengenai analisis semiotika pada iklan di Youtube.
2.1 Paradigma Penelitian
Paradigma didefinisikan Guba dan Lincoln sebagai serangkaian keyakinan-keyakinan dasar (basic beliefs) atau metafisika yang berhubungan dengan prinsip-prinsip pokok. Paradigma merupakan suatu kepercayaan atau prinsip dasar yang ada dalam diri seseorang tentang bagaimana memandang dunia (worldview) atau menggunakan sudut pandang tertentu dalam menyikapi dunia.
Keyakinan-keyakinan ini bersifat dasar dalam pengertian harus diterima secara sederhana semata-mata berdasarkan kepercayaan saja disebabkan tidak ada suatu cara untuk menentukan suatu kebenaran akhir. Sedangkan, penelitian sejatinya merupakan suatu upaya untuk menemukan suatu kebenaran atau untuk lebih membenarkan suatu hal yang telah benar.
Adapun paradigma komunikasi adalah sudut pandang dalam melihat objek yang diamati. Thomas Kuhn menyatakan, paradigma adalah kerangka yang menjadi dasar kebijakan akan kebenaran. Paradigma juga merupakan kelanjutan cara berpikir perspektif (sudut pandang atau cara pandang terhadap fakta realitas).
Dalam filsafat komunikasi ada sejumlah paradigma:
1. Paradigma klasik/positivistik: yang menempatkan ilmu sosial sebagai gejala alam atau fisik. Paradigma ini bertujuan untuk mencari kausalitas guna memprediksi gejala-gejala umum dari bentukan negara sosial
2. Paradigma konstruktivisme: yang memandang ilmu komunikasi sebagai analisis sistematis terhadap tindakan yang penuh kebermaknaan.
3. Paradigma kritis: yang mendefinisikan ilmu sebagai suatu proses yang secara kritis berusaha mengungkapkan fenomena nyata, di balik sebuah ilusi ataupun kesadaran palsu yang mencuat di permukaan. Tujuannya ialah untuk membentuk kesadaran sosial agar di kemudian hari dapat diperbaiki.
Penelitian ini menggunakan paradigma kritis. Paradigma kritis yang sering menjadi landasan berpikir dalam analisis semiotika berupaya mempertautkan hubungan antara media massa dan keberadaan struktur sosial. Tidak tertutup untuk media baru seperti internet yang sekarang sudah memiliki pesannya tersendiri untuk di teliti. Ragam analisis kritis umumnya menguji kandungan- kandungan makna ideologis media melalui pembongkaran terhadap isi media atau teks. Peneliti menyelami teks dan menyingkap makna yang ada dibaliknya. Ketika menafsirkan teks, pengalaman, latar belakang, keberpihakan bahkan perasaan peneliti dapat mempengaruhi hasil penelitian.
Secara metodologis paham ini mengajukan metode untuk menemukan kebenaran realitas yang hakiki. Hubungan antara pengamat dengan realitas yang menjadi objek merupakan suatu hal yang tidak bisa dipisahkan. Karena itu, aliran ini lebih menekankan pada konsep subjektivitas dalam menemukan suatu ilmu pengetahuan, karena nilai-nilai yang dianut oleh pengamat ikut campur dalam menentukan kebenaran tentang suatu hal (Eriyanto, 2001: 24).Dikategorikan ke dalam penelitian kualitatif kritis karena sangat mengandalkan kemampuan peneliti dalam menafsirkan teks ataupun tanda yang dikaitkan dengan konteks sosial, budaya, ekonomi dan historis.
2.2 Kajian Pustaka
Penelitian yang seirama dengan peninjauan makna dan bahasa visual terhadap iklan sudah pernah dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya, namun penelitian dengan fokus Tinjauan Makna dan Bahasa Visual Iklan di Youtube masih belum dilakukan oleh peneliti lain. Adapun beberapa literatur yang bisa dijadikan sebagai acuan antara lain:
1. ―TINJAUAN MAKNA DAN BAHASA VISUAL IKLAN AXIS (Analisis Semiotika Iklan GSM Axis Versi Senyum Kiara di Televisi Swasta)‖, milik Rachma Senja Melani, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, Medan 2009.
2. ―TINJAUAN MAKNA DAN BAHASA VISUAL IKLAN (Analisis Semiotika Iklan Axis ―Internet Untuk Rakyat‖ di Televisi Swasta)‖, milik Muhammad Novri, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara Medan 2013.
3. ―ANALISIS SEMIOTIK TERHADAP IKLAN SUSU BENDERA EDISI RAMADHAN 1430 H DI TELEVISI‖, milik Siti Sopianah, Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Jakarta 2010.
2.2.1 Kerangka Teori
Setiap penelitian memerlukan landasan berfikir untuk memecahkan suatu masalah. Untuk itu, perlu disusun kerangka teori yang memuat pokok-pokok pikiran yang menggambarkan dari sudut mana masalah penelitian akan disorot (Nawawi, 2011: 39). Adapun kerangka teori yang relevan dengan penelitian ini adalah:
2.2.2 Komunikasi Massa
Komunikasi massa didefinisikan sebagai proses penggunaan sebuah media massa untuk mengirimkan pesan kepada audiens yang luas untuk tujuan memberi informasi menghibur atau membujuk. Menurut Tan dan Wright, komunikasi massa merupakan komunikasi yang menggunakan saluran (media) dalam menghubungkan komunikator dan komunikan secara massal, berjumlah banyak, bertempat tinggal yang jauh (terpencar), sangat heterogen dan menimbulkan efek tertentu (Ardianto, 2004: 3).
Gebner mengemukakan bahwa komunikasi massa itu menghasilkan suatu produk berupa pesan-pesan komunikasi. Produk tersebut disebarkan, didistribusikan kepada khalayak luas secara terus menerus dalam jarak waktu yang tetap, misalnya harian, mingguan atau bulanan (Ardianto, 2004: 4).
Selain itu, Rakhmat juga merangkum definisi komunikasi massa sebagai komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalyak yang tersebar, heterogen dan anonim melalui media cetak atau elektronik. Komunikasi tersebut ditujukan supaya pesan dapat diterima secara serentak dan sesaat (Ardianto, 2004: 7).
Proses komunikasi massa dan jenis komunikasi lain bentuknya sama yaitu seseorang menyusun sebuah pesan, pada dasarnya itu merupakan tindakan interpersonal. Pesan tersebut kemudian disandikan (encoding) ke dalam kode umum misalnya bahasa. Bahasa tersebut ditransmisikan dan orang lain akan menerima pesan tersebut, menguraikan sandinya (decoding) lalu mendalaminya.
Proses pendalaman pesan tersebut juga merupakan tindakan intrapersonal.
Namun sifat komunikasi massa lebih khusus. Untuk dapat menyampaikan pesan dengan efektif kepada ribuan orang dengan latar belakang dan ketertarikan yang berbeda membutuhkan keahlian yang tersendiri dibandingkan hanya bicara dengan teman di seberang meja. Menyandi pesan jauh lebih kompleks karena selalu menggunakan alat, contohnya kamera, alat perekam atau media cetak (Vivian, 2008: 368)
Definisi-definisi komunikasi massa secara prinsip mengandung suatu makna yang sama, bahkan antara satu definisi dengan defenisi lainnya dapat saling melengkapi. Melalui definisi-definisi tersebut, dapat diketahui karakteristik komunikasi massa sebagai berikut (Ardianto, 2004: 7):
1. Komunikasi Terlembagakan
Komunikatornya adalah ciri komunikasi massa yang pertama. Kita sudah memahami bahwa komunikasi massa itu menggunakan media massa, baik media cetak maupun elektronik.
2. Pesan Bersifat Umum
Komunikasi massa itu bersifat terbuka, artinya komunikasi massa itu ditujukan untuk semua orang dan tidak ditujukan untuk sekelompok orang tertentu. Oleh karenanya pesan komunikasi massa bersifat umum.
3. Komunikan Anonim dan Heterogen
Dalam komunikasi massa, komunikator tidak mengenal komunikan (anonim), karena komunikasinnya menggunakan media dan tidak berlangsung tatap muka. Di samping anonim komunikan komunikasi massa adalah heterogen, karena terdiri dari berbagai lapisan masyarakat yang berbeda.
4. Media Massa menimbulkan Keserempakan
Kelebihan komunikasi massa dibandingkan dengan komunikasi lainnya, adalah jumlah sasaran khalayak atau komunikan yang dicapainya relatif banyak dan tidak terbatas. Komunikan yang banyak tersebut secara serempak pada waktu yang bersamaan memperoleh pesan yang sama pula.
5. Komunikasi mengutamakan Isi Ketimbang Hubungan
Pesan harus disusun sedemikian rupa berdasarkan sistem tertentu dan disesuaikan dengan karateristik mediayang akan digunakan.
6. Komunikasi Massa bersifat Satu Arah
Komunikator aktif menyampaikan pesan, dan komunikan aktif menerima pesan, namun di antara keduanya tidak dapat melakukan dialog. Dengan demikian, komunikasi itu bersifat satu arah.
7. Stimulasi Alat Indra Terbatas
Pada komunikasi massa, stimulasi alat indra bergantung pada jenis media massa yang digunakan. Pada surat kabar dan majalah, pembaca hanya melihat. Pada radio siaran dan rekaman auditif, khalayak hanya mendengar, sedangkan pada media televisi dan film, menggunakan indra penglihatan dan pendengaran.
8. Umpan Balik Tertunda
Komponen umpan balik atau feedback merupakan faktor penting dalam bentuk komunikasi apa pun. Efektivitas komunikasi seringkali dapat dilihat dari feedback yang disampaikan oleh komunikan. Umpan balik dalam komunikasi massa tidak terjadi secara langsung karena komunikator tidak dapat melihat reaksi atau tanggapan dari komunikan secara langsung.
2.2.3 Iklan
Iklan adalah sebentuk komunikasi. Dalam satu pengertian, iklan merupakan pesan tentang suatu produk yang disampaikan kepada konsumen.
Iklan akan menarik perhatian, memberi informasi, dan terkadang sedikit
menghibur, dan dimaksudkan untuk menimbulkan respons, seperti penjualan (Moriarty, dkk, 2011: 12).
Secara garis besar, iklan adalah bentuk komunikasi berbayar yang menggunakan media massa dan media interaktif untuk menjangkau audiensi yang luas dalam rangka menghubungkan sponsor yang jelas dengan pembeli (audiensi sasaran) dan memberikan informasi tentang produk (barang, jasa dan gagasan) (Moriarty, dkk, 2011: 9).
Definisi iklan mengandung lima faktor (Moriarty, dkk, 2011: 9):
1. Iklan biasanya dibayaroleh pengiklan, meski beberapa bentuk iklan, seperti pengumuman layanan publik dibayar melalui sumbangan atau bahkan gratis
2. Pesannya dibayar, dan sponsornyadiidentifikasi.
3. Iklan umumnya menjangkau audiensi yang luas, yakni konsumen potensial, entah itu dari kalangan umum atau kelompok sasaran tertentu.
4. Kebanyakan iklan memberi informasi kepada konsumen dan memberitahu mereka tentang produk atau perusahaan. Dalam banyak kasus, iklan juga dimaksudkan untuk membujukatau memengaruhi konsumen agar melakukan sesuatu. Persuasi mungkin menggunakan pesan emosional dan informasi.
5. Pesannya disampaikan melalui berbagai maca media massa, yang biasanya bersifat nonpersonal. Dengan kata lain, iklan tidak ditujukan kepada orang spesifik, meskipun karakteristik ini berubah setelah munculnya internet dan tipe media yang lebih interaktif.
Berbagai tipe iklan yang berbeda memiliki peran yang berbeda pula.
Dengan melihat pada situasi iklan, kita bisa mengidentifikasi tujuh tipe iklan (Moriarty, dkk 2011:15):
1. Brand, iklan yang berfokus pada pengembangan identitas dan citra merek jangka panjang.
2. Retail atau iklan lokal, ditujukan untuk retailer, pabrikan atau distributor yang menawarkan produk di area terbatas. Fokus tujuannya adalah memicu pembelian di toko dan menciptakan citra retailer yang khas.
3. Direct-response advertising, iklan ini berusaha memicu penjualan langsung. Konsumen dapat merespons melalui telepon, surat, internet, dan produknya akan dikirimkan dengan jasa pengiriman.
Evolusi internet sebagai medium iklan terutama penting bagi iklan respon langsung ini.
4. Business-to Business advertising, komunikasi pemasaran yang dikirim dari satu usaha (bisnis) ke usaha lain. Pengiklan menempatkan iklan bisnis ini dipublikasi profesional atau jurnal profesional.
5. Advertising Institusional, pesannya fokus untuk membangun identitas korporat atau menarik perhatian publik pada pendapat organisasi.
6. Advertising Nirlaba, iklan yang digunakan organisasi nirlaba seperti institusi religius, asosiasi, rumah sakit untuk menarik partisipan dan donatur.
7. Iklan Layanan Publik, iklan ini mengomunikasikan pesan untuk kebaikan bersama, seperti iklan larangan menyetir dalam kondisi mabuk. Profesional advertising yang membuat iklan sejenis ini, yang juga disebut public service announcements (PSAs), membuatnya secara cuma-cuma dan media biasanya menyumbang waktu dan ruang untuk iklan ini.
Definisi dan klasifikasi hanya memberikan sebuah bahasa umum untuk mengembangkan pemahaman tentang periklanan. Berdasarkan fungsinya, iklan dibagi menjadi dua yaitu fungsi informasi dan fungsi persuasif. Fungsi informasi ketika iklan mengomunikasikan informasi produk, ciri-ciri dan lokasi penjualannya. Sedangkan fungsi persuasif merupakan iklan yang membujuk konsumen untuk membeli atau mengubah sikap mereka terhadap produk atau perusahaan tertentu (Lee, Johnson 2007: 10).
Membedah iklan sebagai objek semiotika mengedepankan perlakuan terhadap keseluruhan tanda-tanda di dalamnya seperti layaknya teks tertulis. John Fiske (1991) mengajukan tiga level kode yang dapat dimaknai dalam menggali makna-makna tersembunyi dalam iklan. Level pertama adalah ―realitas‖, meliputi tampilan visual semacam penampilan, pakaian, make up, perilaku, pembicaraan, gesture, ekspresi, suara dan lain-lain. Level yang bersifat permukaan ini merupakan level kode yang bersifat teknis. Level kedua adalah ―representasi‖
dimana penggunaan kamera, pencahayaan, editing, musik dan suara. Hal tesebut dapat merepresentasikan makna tentang situasi yang dibangun seperti konflik, karakter, setting dan sebagainya. Level ketiga adalah ―ideologi‖. Sebagai level terdalam, level ini merepresentasikan sejauh mana ideologi yang dibangun dalam sebuah tayangan iklan (Hermawan, 2011: 248).
Iklan di internet mampu menciptakan lahan kreativitas untuk para pembuat iklan dalam menyampaikan pesan mereka kepada audiens. Dikarenakan harganya murah daripada media lain dan tidak terikat durasi yang dibatasi, membuat pengiklan mampu memaksimalkan idenya dalam mempromosikan produknya sendiri. Selain itu, internet juga mampu menjangkau orang-orang yang tidak menonton televisi atau membaca koran. Manfaat utama advertising internet yaitu mudah dilacak dan efektif untuk menjangkau audiensi tertentu. Tentunya juga dapat melihat audiens yang melihat iklan, jadi langsung mengetahui apakah efektif atau tidak.
Internet menjadi saran utama untuk mencari informasi. Internet telah berkembang menjadi perpustakaan online bagi konsumen. Selain mencari situs belanja, orang dari segala usia mencari informasi produk, berita dan referensi.
Banyak pengguna mencari hiburan di web, seperti fashion, musik dan video.
Sebagian bersifat ringan menyenangkan, sebagian menantang secara personal, tetapi semuanya membawa hiburan kepada pengguna.
Raksasa entertaiment di web saat ini adalah Youtube. Terkadang iklan televisi yang populer diunggah oleh pemirsanya ke Youtube untuk dibagikan ke seluruh dunia (Moriarty dkk, 2009: 358). Youtube merupakan situs berbagi video yang lahir pada tahun 2005, didirikan oleh tiga mantan karyawan Paypal bernama
Chad Hurley, Steve Chen dan Jawed Karim. Situs ini memungkinkan pengguna untuk menonton, mengakses dan mengunggah video. Perusahaan Youtube berkantor pusat di San Bruno, California, dan memakai teknologi Adobe Flash Video dan HTML5 untuk menampilkan berbagai jenis konten video buatan pengguna (id.wikipedia.com).
Youtube menyajikan konten yang beragam, bergantung pada masing- masing pengunggah. Sebagian besar konten di Youtube diunggah oleh pengguna, meskipun perusahaan-perusahaan media seperti CBS, BBC, Vevo, Hulu, dan organisasi lain sudah mengunggah konten mereka ke situs ini sebagai bagian dari program kemitraan.
Youtube dapat digunakan sebagai media promosi perusahaan. Terdapat enam format iklan yang dapat digunakan pengiklan, yaitu (support.google.com):
1. Iklan Bergambar
Muncul di sebelah kanan video unggulan dan diatas daftar saran video.
2. Iklan Terawang
Iklan hamparan semi transparan yang muncul di 20% bagian bawah video.
3. Iklan Video yang dapat diabaikan.
Iklan yang dapat diabaikan pemirsa setelah 5 detik.
4. Iklan Video yang tidak dapat diabaikan
Iklan video yang tidak dapat diabaikan dan harus ditonton.
5. Iklan Bumper
Iklan video yang tidak dapat dilewati berdurasi hingga 6 detik yang harus di tonton.
6. Kartu Bersponsor
Kartu bersponsor menampilkan konten yang mungkin relevan dengan video pemirsa, seperti produk yang ditampilkan di video.
Pengguna tak terdaftar dapat menonton video, sementara pengguna terdaftar dapat mengunggah video dalam jumlah yang tak terbatas. Pada
November 2006, Youtube, LLC dibeli oleh Google dengan nilai US $1,65 miliar dan resmi beroperasi sebagai anak perusahaan google.
2.2.4 Tanda
Tanda-tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari jalan di dunia ini, di tengah-tengah manusia dan bersama-sama manusia (Sobur, 2004: 15). Tanda ini bisa tampil dalam bentuk sederhana seperti kata, atau dalam bentuk kompleks seperti novel atau acara siaran radio (Danesi, 2010:27).
Aristoteles (384-322 SM) meletakkan dasar-dasar teori penandaan yang sampai sekarang menjadi dasar. Tanda didefenisikan sebagai yang tersusun atas tiga dimensi: (1) bagian fisik dari tanda itu sendiri (suara yang membentuk kata seperti ―komputer‖); (2) referen yang dipakai untuk menarik perhatian (satu jenis alat tertentu); (3) pembangkitan makna (yang diisyarakatkan oleh referen baik secara psikologis maupun sosial). Sebagaimana dalam konteks semiotika, semua hal ini disebut sebagai (1) ‗penanda‘. (2) ‗petanda‘, dan (3) ‗signifikasi‘ (Danesi, 2010: 34).
Suatu tanda menandakan sesuatu selain dirinya sendiri, dan makna (meaning) ialah hubungan antara suatu objek atau idea dan suatu tanda (Littlejohn, 1996:64). Konsep dasar ini mengikat bersama seperangkat teori yang amat luas berurusan dengan simbol, bahasa, wacana, dan bentuk-bentuk nonverbal, teori-teori yang menjelaskan bagaimana tanda berhubungan dengan maknanya dan bagaimana tanda disusun (Sobur, 2004: 15-16).
Ada dua pendekatan penting yang tentang tanda, yakni pendekatan yang disampaikan Ferdinand de Saussure dan Charles Sanders Peirce. Menurut Saussure, tanda merupakan wujud konkret dari citra bunyi dan sering diidentifikasi sebagai penanda, sedangkan konsep-konsep dari bunyi-bunyian atau gambar, disebut sebagai petanda. Dapat dikatakan, di dalam tanda terungkap citra bunyi ataupun konsep sebagai dua komponen yang tak terpisahkan. Hubungan penanda dan petanda juga bersifat arbitrer (bebas), baik secara kebetulan maupun ditetapkan (Sobur, 2004: 32).
Saussure menyatakan bahwa telaah tanda dapat dibagi menjadi dua- sinkronik dan diakronik (Danesi 2010:36). Sinkornik terkait dengan tanda pada suatu waktu, dan diakronik merupakan telaah bagaimana perubahan makna dan bentuk tanda dalam waktu. Selain itu, Saussure melihat sebuah ‗gejala biner‘sebagai tanda, yaitu bentuk yang tersusun atas dua bagian yang saling terkait satu sama lain, yakni penanda (signifier) yang berguna untuk menjelaskan
‗bentuk‘ dan ‗ekspresi‘ dan petanda (signified) yang berguna untuk menjelaskan
‗konsep‘ atau ‗makna‘. Hubungan antara keberadaan fisik tanda dan konsep atau makna tersebut dinamakan dengan signification. Saussure menegaskan bahwa diperlukan semacam konvensi sosial untuk mengatur pengkombinasian tanda dan maknanya, dalam mencermati hubungan pertandaan tersebut.
Pendekatan kedua disampaikan Charles Sanders Peirce, bermakna kurang lebih sama dimana ia mengartikan tanda sebagai yang terdiri atas representamen (sesuatu yang melakukan representasi) yang merujuk ke objek (yang menjadi perhatian representamen), membangkitkan arti yang disebut sebagai interpretant (apapun artinya bagi seseorang dalam konteks tertentu) (Danesi, 2010: 36).
Hubungan diantara ketiganya bersifat dinamis, dengan yang satu menyarankan yang lain dalam pola siklis. Artinya, tanda-tanda berkaitan dengan objek-objek yang menyerupainya, keberadaannya memiliki hubungan sebab-akibat dengan tanda-tanda atau karena ikatan konvensional dengan tanda-tanda tersebut.
Menurut Peirce, sebuah analisis tentang esesnsi tanda mengarah pada pembuktian bahwa setiap tanda ditentukan oleh objeknya. Pertama, dengan mengikuti sifat objeknya, ketika kita menyebut tanda sebuah ikon. Kedua, menjadi kenyataan dan keberadaannya berkaitan dengan objek individual, ketika kita menyebut tanda sebuah indeks. Ketiga, kurang lebih, perkiraan yang pasti bahwa hal itu diinterpretasikan sebagai objek denotatif sebagai akibat dari suatu kebiasaan ketika kita menyebut tanda sebuah simbol (Sobur, 2004: 35).
Di mana-mana terdapat tanda, kata, demikian pula dengan gerak isyarat tubuh, lampu lalu lintas, bendera, warna dan sebagainya dapat pula menjadi tanda.
Semua hal dapat menjadi tanda, sejauh seseorang memaknainya sebagai sesuatu yang menandai suatu objek yang merujuk pada atau mewakili sesuatu yang lain
diluarnya. Kita menafsirkan sesuatu sebagai tanda umumnya seara tidak sadar dengan menghubungkannya dengan suatu sistem yang kita kenal hasil konvensi sosial di sekitar kita. Tidak semua suara, gerakan bisa menjadi tanda, namum hal tersebut bisa menjadi tanda ketika diberi makna tertentu.
2.2.5 Semiotika
Semiotika berasal dari bahasa Yunani, semeion yang berarti ―tanda‖ atau seme, yang berarti ―penafsiran tanda‖. Pada masa itu, ―tanda‖ masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain. Jika diterapkan pada tanda-tanda bahasa, maka huruf, kata, kalimat, tidak memiliki arti (significant) dalam kaitannya dengan pembacanya. Pembaca itulah yang menghubungkan tanda dengan apa yang ditandakan (signifie) sesuai dengan konvensi dalam sistem bahasa yang bersangkutan (Sobur, 2004: 17).
Semiotika adalah ilmu tentang tanda. Secara terminologis, semiotika dapat diidentifikasikan sebagai ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda (Wibowo, 2013: 7).
Tradisi semiotika mencakup teori utama mengenai bagaimana mewakili objek, ide, situasi, keadaan, perasaan dan sebagainya yang berada di luar diri.
Fiske mengatakan, bahwa semiotika mempunyai tiga bidang studi utama yaitu:
1. Tanda itu sendiri. Hal ini terdiri atas studi tentang berbagai tanda yang berbeda, cara tanda-tanda yang berbeda itu dalam menyampaikan makna, dan cara-cara tanda itu terkait dengan manusia yang menggunakannya. Tanda adalah konstruksi manusia dan hanya bisa dipahami dalam artian manusia yang menggunakannya.
2. Kode atau sistem yang mengorganisasikan tanda. Studi ini mencakup cara berbagai kode dikembangkan guna memenuhi kebutuhan suatu masyarakat atau budaya atau untuk mengeksploitasi saluran komunikasi yang tersedia untuk mentransmisikannya.
3. Kebudayaan tempat kode dan tanda bekerja. Ini pada gilirannya bergantung pada penggunaan kode-kode dan tanda-tanda itu untuk keberadaan dan bentuknya sendiri.
Di lain pihak, menurut Littlejohn (2009: 55-56) semiotika dapat dibagi ke dalam tiga dimensi kajian, yaitu semantik, sintaktik, dan pragmatik. Adapun penjabarannya adalah sebagai berikut:
1. Semantik, berkenaan dengan makna dan konsep. Dalam hal ini membahas bagaimana tanda memiliki hubungan dengan referennya, atau apa yang diwakili suatu tanda. Prinsip dasar dalam semiotika adalah bahwa representasi selalu diperantara atau dimediasi oleh kesadaran interpretasi seorang individu dan setiap interpretasi ataumakna dari suatu tanda akan berubah dari suatu situasi ke situasi lainnya (Morrisan, 2009: 29).
2. Sintaktik, berkenaan dengan keterpaduan dan keseragaman, studi ini mempelajari mengenai hubungan antara tanda. Tanda di lihat sebagai bagian dari sistem tanda yang lebih besar atau kelompok yang diorganisir melalui cara tertentu. Sistem tanda seperti ini biasa disebut dengan kode. Menurut pandangan semiotika, tanda selalu dipahami dalam hubungan dengan tanda lainnya (Morrisan, 2009:30).
3. Pragmatik, berkenaan dengan teknis dan praktis. Aspek ini mempelajari bagaimana tanda menghasilkan perbedaan dalam kehidupan manusia dengan kata lain adalah studi yang mempelajari penggunaan tanda serta efek yang dihasilkan tanda. Berkaitan pula dengan mempelajari bagaimana pemahaman atau kesalahpahaman terjadi dalam berkomunikasi (Morrisan, 2009: 30).
Ada dua pendekatan penting tentang tanda-tanda yang biasa menjadi rujukan para ahli. Pendekatan pertama adalah pendekatan tanda yang didasarkan pada pandangan seorang filsuf dan pemikir Amerika yang cerdas,Charles Sanders Pierce (1839-1914). Pierce (dalam Berger, 2000:14) menandaskan bahwa tanda- tanda berkaitan dengan objek-objek yang menyerupainya, keberadaannya memiliki hubungan sebab-akibat dengan tanda-tanda ataukarena ikatan
konvensional dengan tanda-tanda tersebut. Ia menggunakan istilah ikon untuk kesamaannya, indek untuk hubungan sebab-akibat, dan simbol untuk asosiasi konvensional.
Sebuah tanda atau repesentamen menurut Charles S Peirce adalah sesuatu yang bagi seseorang mewakili sesuatu yang lain dalam beberapa hal atau kapasitas. Interpretant dinamakan Peirce sebaai interpretan dari tanda yang pertama, pada gilirannya akan mengacu pada objek tertentu. Dengan demikian menurut Peirce, sebuah tanda atau representamen memiliki relasi ‗triadik’
langsung dengan interpretan dan objeknya. Apa yang dimaksud dengan proses
‘semiosis’ merupakan suatu proses yang memadukan entitas (berupa representamen) dengan entitas lain yang disebut sebagai objek. Proses ini disebut sebagai signifikasi oleh Peirce (Wibowo, 2013: 18).
Pendekatan kedua adalah pendekatan yang didasarkan pada pandangan Ferdinand de Sausurre (1857-1913) yang mengatakan bahwa tanda-tanda disusun dari dua elemen, yaitu aspek citra tentang bunyi (semacam kata atau representasi visual) dan sebuah konsep di mana citra bunyi disandarkan (Sobur, 2004: 31).
Menurut pandangan Saussure, tanda tersebut merupakan manifestasi konkret dari citra bunyi dan sering diidentifikasi dengan citra bunyi itu sebagai penanda. Jadi, penanda dan petanda merupakan unsur-unsur mentalistik. Bagi Saussure, hubungan antara penanda dan petanda bersifat bebas, baik secara kebetulan maupun ditetapkan. Ini tidak berarti ―bahwa pemilihan penanda sama sekali meninggalkan pembicara‖ namun lebih dari itu adalah ―tak bermotif yakni arbitrer dalam pengertian penanda tidak mempunyai hubungan alamiah dengan petanda (Sobur, 2004: 31-32).
Semiotika memisahkan kandungan teks menjadi bagian-bagian, lalu menghubungkan mereka dengan wacana-wacana yang lebih luas. Sebuah analisis semiotik menyediakan cara menghubungkan teks tertentu dengan sistem pesan dimana ia beroperasi. Hal ini memberikan konteks intelektual pada isi: ia mengulas cara-cara beragam unsur bekerja sama dan berinteraksi dengan
pengetahuan kultural kita untuk menghasilkan makna. Semiotika memiliki keuntungan dalam menghasilkan apa yang disebut Clifford Geertz (1973) sebagai
―deskripsi tebal‖ (thick descriptions) yang berstruktur serta analisis-analisis yang kompleks. Karena sangat subjektif, semiotika tidak reliable dalam konteks pemahaman ilmu pengetahuan sosial tradisional—peneliti lain yang mempelajari teks yang sama dapat saja mengeluarkan sebuah makna yang berbeda (Stokes, 2006: 78).
Analisis semiotik biasanya diterapkan pada citra atau teks visual.
Metode ini melibatkan pernyataan dalam kata-kata tentang bagaimana citra bekerja, dengan mengaitkan mereka pada struktur ideologis yang mengorganisasi makna (Stokes, 2006: 78).
2.2.5.1 Makna
Para ahli mengakui, istilah makna (meaning) memang merupakan kata dan istilah yang membingungkan (Sobur, 2004: 255). Istilah pesan dan makna sering digunakan secara bergantian. Akan tetapi, dari sudut semantik hal tersebut tidaklah benar. Dapat dikatakan, ‗pesan‘ itu tidak sama dengan ‗makna‘, pesan bisa memiliki lebih dari satu makna dan beberapa pesan bisa memiliki satu makna.
Berdasarkan ilmu semiotika, pesan adalah penanda; dan maknanya adalah petanda. Pesan adalah sesuatu yang dikirimkan secara fisik dari satu sumber ke penerimanya. Sedangkan makna dari pesan yang dikirimkan hanya bisa ditentukan dalam kerangka-kerangka makna lainnya. Tak perlu lagi dijelaskan bahwa hal ini juga akan menghasilkan berbagai masalah interpretasi dan pemahaman (Danesi, 2010: 22).
Ada beberapa pandangan yang menjelaskan teori atau konsep dari makna.
Model proses makna Wendell Johnsosn (dalam Sobur, 2004: 258) menawarkan sejumlah implikasi bagi komunikasi antar manusia:
1. Makna ada dalam diri manusia. Makna tidak terletak pada kata-kata. Kita menggunakan kata-kata untuk mendekati makna yang ingin kita
komunikasikan. Komunikasi adalah proses yang kita gunakan untuk mereproduksi, di benak pendengar, apa yang ada di benak kita. Reproduksi ini hanyalah sebuah proses parsial dan selalu bisa salah.
2. Makna berubah. Kata-kata relatif statis. Banyak dari kata-kata yang kita gunakan berumur 200 atau 300 tahun. Tapi makna dari kata-kta tersebut mengalami perubahan yang dinamis, teruatama pada dimensi emosional dari makna. Seperti kata-kata hubungan di luar nikah, obat, agama, hiburan, dan perkawinan (di Amerika Serikat, kata-kata ini diterima secara berbeda pada saat ini dan di masa-masa yang lalu).
3. Makna membutuhkan acuan. komunikasi hanya masuk akal bilamana ia mempunyai kaitan dengan dunia atau lingkungan eksternal. Obsesi seorang paranoid yang selalu merasa diawasi dan teraniaya merupakan contoh makna yang tidak mempunyai acuan yang memadai.
4. Penyingkatan yang berlebihan akan mengubah makna. Berkaitan erat dengan gagasan bahwa makna membutuhkan acuan adalah masalah komunikasi yang timbul akibat penyingkatan berlebihan tanpa mengaitkannya dengan acuan yang konkret dan dapat diamati. Bila kita berbicara tentang cinta, persahabatan, kebahagiaan, kebaikan, kejahatan, dan konsep-konsep lain yang serupa tanpa mengaitkannya dengan sesuatu yang spesifik, kita tidak akan bisa berbagi makna dengan lawan bicara.
Mengatakan kepada seorang anak untuk ―manis‖ dapat mempunyai banyak makna. Penyingkatan perlu dikaitkan dengan objek, kejadian, dan perilaku dalam dunia nyata: ―Berlaku manislah dan bermain sendirilah sementara ayah memasak.‖ Bila Anda telah membuat hubungan seperti ini, Anda akan bisa membagi apa yang Anda maksudkan dan tidak.
5. Makna tidak terbatas jumlahnya. Pada suatu saat tertentu, jumlah kata dalam suatu bahasa terbatas, tetapi maknanya tidak terbatas. Karena itu, kebanyakan kata mempunyai banyak makna. Ini bisa menimbulkan masalah bila sebuah kata diartikan secara berbeda oleh dua orang yang sedang berkomunikasi. Bila ada keraguan, sebaiknya Anda bertanya dan bukan membuat asumsi; ketidaksepakatan akan hilang bila makna yang diberikan masing-masing pihak diketahui.
6. Makna dikomunikasikan hanya sebagian. Makna yang kita peroleh dari suatu kejadian (event) bersifat multiaspek dan sangat kompleks, tetapi hanya sebagian saja dari makna-makna ini yang benar-benar dapat dijelaskan. Banyak dari makna tersebut tetap tinggal dalam benak kita.
Karenanya, pemahaman yang sebenarnya–pertukaran makna secara sempurna–barangkali merupakan tujuan ideal yang ingin kita capai tetapi tidak pernah tercapai
Selain model makna di atas, terdapat juga teori makna yang dikemukakan oleh Alston, mencakup teori acuan (referential theory), teori ideasi (ideasional theory), dan teori tingkah laku (behavioral theory) (Sobur, 2004: 259).
1. Teori Acuan (Referential Theory), salah satu jenis teori makna yang mengenali atau mengidentifikasikan makna suatu ungkapan dengan apa yang diacunya atau dengan hubungan acuan itu. Referen atau acuan boleh saja benda, peristiwa, proses, atau kenyataan. Referen adalah sesuatu yang ditunjuk oleh lambang.
2. Teori Ideasional (The Ideational Theory), salah satu jenis teori makna yang menawarkan alternatif lain untuk memecahkan masalah makna ungkapan ini. Menurut Alston, teori ideasional ini adalah suatu jenis teori makna yang mengenali atau mengidentifikasi makna ungkapan dengan gagasan-gagasan yang berhubungan dengan ungkapan tersebut.
3. Teori Tingkah Laku (Behavioral Theory), salah satu jenis teori makna mengenai makna suatu kata atau ungkapan bahasa dengan rangsangan (stimuli) yang menimbulkan ucapan tersebut, dan atau tanggapan- tanggapan yang ditimbulkan oleh ucapan tersebut. teori ini menanggapi bahasa sebagai semacam kelakuan yang, mengembalikannya kepada teori stimulus dan respons. Makna menurut teori ini, merupakan rangsangan untuk menimbulkan perilaku tertentu sebagai respons kepada rangsangan itu tadi.
Menurut Saussure, tanda terdiri dari bunyi-bunyian dan gambar, disebut signifier atau penanda dan konsep dari bunyi-bunyian atau gambar tersebut,
disebut sebagai signified atau petanda. Hubungan antara gambaran mental atau konsep tersebut dinamakan dengan signification atau pemaknaan.
2.2.5.2 Semiotika Komunikasi Visual
Semiotika sebagai sebuah cabang keilmuan memperilahkan pengaruh terhadap bidang-bidang seni rupa, seni tari, seni film, desain produk, arsitektur, termasuk desain komunikasi visual. Menurut Tinarbuko (dalam Piliang, 2012:
339-340) semiotika komunikasi visual yaitu semiotika sebagai metode pembacaan karya komunikasi visual.
Dilihat dari sudut pandang semiotika, desain komunikasi visual adalah sistem semiotika khusus, dengan pembendaharaan kata (vocabulary) dan sintaks (sintagm) yang khas, yang berbeda dengan sistem semiotika seni. Fungsi signifikasi adalah fungsi di mana penanda yang bersifat konkrit dimuati dengan konsep-konsep abstrak, atau makna, yang secara umu disebut petanda.
Objek utama dari komunikasi visual adalah elemen-elemen komunikasi yang bersifat visual, yaitu garis, bidang, ruang, warna, bentuk dan tekstur, akan tetapi perkembangannya, desain komunikasi visual juga melibatkan elemen- elemen non visual, seperti tulisan, bunyi atau bahasa verbal. Meskipun semua muatan komunikasi dari bentuk-bentuk komunikasi visual di tiadakan, ia sebenarnya masih mempunyai muatan signifikasi, yaitu muatan makna.
Efektivitas pesan sebagai tujuan utama dari desain komunikasi visual.
Berbagai bentuk desain komunikasi visual: iklan, fotografi jurnalistik, poster, kalender, brosur, film animasi, karikatur, acara televisi, video klip, web design, cd interaktif adalah diantara bentuk-bentuk komunikasi visual, yang melaluinya pesan-pesan tertentu disampaikan dari pihak pengirim (desainer, produser, copywritter) kepada penerima (pengamat, penonton, pemirsa).
Semiotika komunikasi mengkaji tanda konteks komunikasi yang lebih luas, yang melibatkan berbagai elemen komunikasi, seperti saluran, sinyal, media, pesan, kode. Semiotika komunikasi menekankan aspek produksi tnada di dalam berbagai rantai komunikasi, saluran dan media, ketimbang sistem tanda. Di dalam
semiotika komunikasi, tanda ditempatkan di dalam rantai komunikasi, sehingga mempunyai peran yang penting dalam penyampaian pesan.
Pesan yang dikemukakan dalam karya desain komunikasi, pesan disosialisasikan kepada khalayak sasaran melalui tanda. Secara garis besar, tanda dapat dilihat dari dua aspek, yaitu tanda verbal dan tanda visual. Tanda verbal akan didekati pada aspek ragam bahasa, tema dan pengertian yang didapatkan.
Sedangkan tanda visual akan dilihat dari cara menggambarkannya, apakah secara ikonis, indeksikal atau simbolis dan bagaimana cara mengungkapkan idiom estetiknya. Tanda-tanda yang telah dilihat dan dibaca dari dua aspek secara terpisah, kemudian diklasifikasikan dan dicari hubungan antara yang satu dengan yang lainnya.
2.2.5.3 Semiotika Roland Barthes
Roland Barthes dikenal sebagai seorang pemikir strukturalis yang getol mempraktikkan model linguistik dan semiologi Saussurean. Ia berpendapat bahwa bahasa adalah sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu (Sobur, 2004: 63).
Barthes melontarkan konsep tentang konotasi dan denotasi sebagai kunci dari analisisnya. Sebuah sistem tanda primer dapat menjadi sebuah elemen dari sebuah sistem tanda yang lebih lengkap dan memiliki makna yang berbeda ketimbang semula. Dengan begitu, primary sign adalah denotative sedangkan secondary sign adalah satu dari connotative semiotics (Wibowo, 2013: 21).
Salah satu bagian penting yang di bahas Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca. Konotasi walaupun merupakan sifat asli tanda, membutuhkan keaktifan pembaca agar dapat berfungsi. Barthes mengulas apa yang sering disebutnya sebagai sistem pemaknaan tataran kedua, yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada sebelumnya. Sistem kedua ini oleh Barthes disebut dengan konotatif, yang di dalam Mythologies-nya secara tegas ia bedakan dari denotatif atau sistem pemaknaan tataran pertama.
Gambar 2.1 Peta Tanda Roland Barthes.
(Sumber: Cobley dan Jansz dalam Sobur, 2004: 69)
` Dari peta Barthes di atas terlihat bahwa tanda denotatif terdiri atas penanda dan petanda. Akan tetapi, pada saat bersamaan, tanda denotatif adalah juga penanda konotatif. Dengan kata lain, hal tersebut merupakan unsur material:
hanya jika anda mengenal tanda ―Singa‖, barulah kontasi seperti harga diri, kegarangan, dan keberanian menjadi mungkin (Sobur, 2004: 69).
Pada dasarnya terdapat perbedaan diantara denotasi dan konotasi, denotasi sebagai makna harfiah, makna yang ―sesungguhnya,‖ bahkan kadang kala juga dirancukan dengan referensi. Sedangkan konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebut sebagai ‗mitos‘, dan berfungsi mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu (Sobur, 2004: 70-71).
Bagi Roland Barthes, didalam teks beroperasi lima kode pokok (five major code) yang di dalamnya terdapat penanda teks (leksia). Lima kode yang ditinjau Barthes yaitu (Sobur, 2004: 65-66):
1. Kode Hermeneutik atau kode teka-teki berkisar pada harapan pembaca untuk mendapatkan ―kebenaran‖ bagi pertanyaan yang muncul dalam teks.
Kode teka-teki merupakan unsur struktur yang utama dalam narasi tradisional. Didalam narasi ada suatu kesinambungan antara pemunculan suatu peristiwa teka-teki dan penyelesaiannya di dalam cerita.
2. Kode Semik atau kode konotatif banyak menawarkan banyak sisi. Dalam proses pembacaan, pembaca menyusun tema suatu teks. Ia melihat bahwa
1. Signifier (Penanda)
2. Signified (Petanda)
3. Denotative Sign (Tanda Denotatif) 4. Connotative Signifier
(Penanda Konotatif)
5. Connotative Signified (Penanda Konotatif)
6. Connotative Sign (Tanda Konotatif)
konotasi kata atau frase tertentu dalam teks dapat dikelompokkan dengan konotasi kata atau frase yang mirip. Jika kita melihat suatu kumpulan satuan konotasi, kita menemukan suatu tema di dalam cerita. Jika sejumlah konotasi melekat pada suatu nama tertentu, kita dapat mengenali suatu tokoh dengan atribut tertentu. Perlu dicatat bahwa Barthes menganggap denotasi sebagai konotasi yang paling kuat dan paling ―akhir‖.
3. Kode Simbolik, merupakan aspek pengkodean fiksi yang paling khas bersifat struktural, atau tepatnya menurut konsep Barthes pascastruktural.
Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa makna berasal dari beberapa oposisi biner atau pembedaan-baik dalam taraf bunyi menjadi fonem dalam proses produksi wicara, maupun pada taraf oposisi psikosesksual yang melalui proses. Dalam suatu teks verbal, perlawanan yang bersifat simbolik seperti ini dapat dikodekan melalui istilah-istilah retoris seperti antitesis, yang merupakan hal yang istimewa dalam sistem simbol Barthes.
4. Kode Proaretik atau kode tindakan/lakuan dianggapnya sebagai perlengkapan utama teks yang dibaca orang; artinya, antara lain, semua teks yang bersifat naratif. Pada praktiknya, ia menerapkan beberapa prinsip seleksi. Kita mengenai kode lakuan atau peristiwa karena kita dapat memahaminya. Pada kebanyakan fiksi, kita selalu mengharap lakuan di-―isi‖ sampai lakuan utama menjadi perlengkapan utama suatu teks (seperti pemilahan ala Todorov).
5. Kode Gnomik atau kode kultural yang merupakan acuan teks ke benda- benda yang sudah diketahui dan dikodifikasi oleh budaya. Menurut Barhtes, realisme tradisional didefinisi oleh acuan ke apa yang telah diketahui. Rumusan suatu budaya atau subbudaya adalah hal-hal kecil yang telah dikodifikasi yang diatasnya para penulis bertumpu.
Di samping penanda teks (leksia) dan lima kode pembacaan yang telah dijabarkan di atas, beberapa konsep penting dalam analisis semiotika Roland Barthes adalah: