• Tidak ada hasil yang ditemukan

DJM 14(1) 1-88 February 2015 DAMIANUS VOLUME 14, NOMOR 1, PUBLISHED SINCE 2002 February 2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DJM 14(1) 1-88 February 2015 DAMIANUS VOLUME 14, NOMOR 1, PUBLISHED SINCE 2002 February 2015"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

ARTIKEL PENELITIAN

1 - 18 ELDER CARE FACILITY MENURUT MAHASISWA DAN DOSEN FAKULTAS KEDOKTERAN Shannia Tritama, Elisabeth Rukmini

19 - 27 UJI BAKTERIOLOGIK AIR OLAHAN RAIN WATER HARVESTING SYSTEM DI SDN PEJAGALAN 01 DAN 02, JAKARTA UTARA

Intan Permata Sari, Sandy Vitria Kurniawan, Liling Pudjilestari, Enty

28 - 36 HUBUNGAN ANTARA STRES KERJA DAN PSIKOPATOLOGI PADA PERAWAT RUMAH SAKIT ATMA JAYA

Surilena, Stella Levina Kurniawan, R Irawati Ismail

37 - 47 PROPORSI PASIEN TUBERKULOSIS PARU DENGAN PENGOBATAN LEBIH DARI ENAM BULAN BERDASARKAN RADIOGRAFI TORAKS

Yurika Elizabeth Susanti, Yopi Simargi, Rensa

48 - 56 PROPORSI DEFISIT WORKING MEMORY MURID SEKOLAH DASAR DI SDN PEGANGSAAN II/07, JAKARTA UTARA

Felicia Nike, Surilena, Tjhin Wiguna, Herlina Uinarni

57 - 66 PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU TENTANG AKUPUNKTUR PADA PASIEN RAWAT JALAN RUMAH SAKIT ATMA JAYA, JAKARTA

Linawati Hananta, Christian Syukur, Nelly Tina Widjaja, Fitria Halim

TINJAUAN PUSTAKA

67 - 79 MELATONIN SEBAGAI ANTIPENUAAN KULIT AKIBAT SINAR ULTRAVIOLET Marcelina Grace Tjondro Putri, Lorettha Wijaya, Poppy K Sasmita

LAPORAN KASUS

80 - 88 NUTRISI PADA TUBERKULOSIS PARU DENGAN MALNUTRISI Florentina M Rahardja

ISSN 2086-4256

PUBLISHED SINCE 2002 February 2015

DJM 14(1) 1-88 F

ebruary 2015

DAMIANUS

Journal of Medicine

VOLUME 14, NOMOR 1, 2015

(2)

UJI BAKTERIOLOGIK AIR OLAHAN

RAIN WATER HARVESTING SYSTEM

DI

SDN PEJAGALAN 01 DAN 02, JAKARTA UTARA

BACTERIOLOGICAL EXAMINATION OF WATER PROCESSED BY RAIN WATER

HARVESTING SYSTEM METHOD AT PEJAGALAN 01 AND 02 ELEMENTARY

SCHOOL, NORTH JAKARTA

Intan Permata Sari1, Sandy Vitria Kurniawan2, Liling Pudjilestari3, Enty4

ARTIKEL PENELITIAN

1 Fakultas Kedokteran Unika Atma

Jaya, Jalan Pluit Raya No. 2 Jakarta Utara 14440

2 Departemen Farmakologi, Fakultas

Kedokteran Unika Atma Jaya, Jalan Pluit Raya No. 2 Jakarta Utara 14440

3 Departemen Kesehatan

Masyara-kat, Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya, Jalan Pluit Raya No. 2 Jakarta Utara 14440

4 Departemen Mikrobiologi, Fakultas

Kedokteran Unika Atma Jaya, Jalan Pluit Raya No. 2 Jakarta Utara 14440

Korespondensi:

Intan Permata Sari, Fakultas Kedok-teran Unika Atma Jaya. E-mail:

[email protected]

ABSTRACT

Introduction: Availability of clean water is a global need for every people

worldwide. Clean water deficit made humans find the solutions to overcome this problem. A solution to overcome that problem is to use Rain Water Harvesting System (RWHS) method which uses and processes rain water so it can be reused. Jakarta as one city of Indonesia where experience problem of clean water deficit, overcome the problem with the application of RWHS at some schools in Kecamatan Penjaringan, North Jakarta.

Objective: The aim of this research is to know the bacteriological quality of water

processed by Rain Water Harvesting System.

Methods: This research has been conducted on eight parts of RWHS at Pejagalan

01 Pagi Elementary School and Pejagalan 02 Petang Elementary School. Samples were taken on the rainy day in December 2013. Samples directly tested by Total Plate Count (TPC) and Most Probable Number (MPN) methods.

Results: There was decreasing coliform total count on temporary storage tank,

filtration tank, and storage tank part. On reservoir tank there was increasing coliform total count.

Conclusion: Each part of RWHS has different probable contamination factors

which influence total coliform count. The result of bacterial examination shows decreased total coliform count on part after filtration if compared with part before filtration, which means there was quality improvement of water processed by Rain Water Harvesting System. However, the result also showed that microbiological quality of water processed by rain water harvesting still not meet the Health Minister of Indonesian Republic standard no: 416/MENKES/PER/IX/1990.

Key Words: bacteriological, clean water, rain water, rain water harvesting system

ABSTRAK

Latar Belakang: Tersedianya air bersih merupakan kebutuhan global bagi setiap

manusia di dunia. Kekurangan air bersih membuat manusia terus mencari berbagai solusi untuk mengatasinya. Salah satu solusinya adalah dengan menggunakan metode Rain Water Harvesting System (RWHS) yang memanfaatkan dan mengolah air hujan untuk dapat dipakai kembali. Jakarta sebagai salah satu kota

(3)

DAMIANUS Journal of Medicine di Indonesia yang juga mengalami masalah air bersih mengaplikasikan RWHS di beberapa sekolah di wilayah Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas bakteriologik air hujan

hasil olahan RWHS.

Metode: Penelitian ini dilakukan pada delapan titik bangunan RWHS di Sekolah

Dasar Negeri (SDN) Pejagalan 01 Pagi dan SDN Pejagalan 02 Petang. Pengambilan sampel dilakukan pada saat hari hujan di bulan Desember 2013. Sampel kemudian langsung diuji dengan menggunakan metode Angka Lempeng Total (ALT) dan Angka Paling Mungkin (APM).

Hasil: Pengurangan total koliform terjadi pada titik bak penampung sementara,

bak filtrasi, dan bak penampung. Pada tangki reservoir terjadi peningkatan total koliform.

Kesimpulan: Masing-masing titik RWHS dapat terkontaminasi oleh faktor-faktor

yang berbeda yang memengaruhi nilai total koliform. Hasil pengujian bakteri menunjukkan pengurangan jumlah total koliform pada titik setelah mengalami filtrasi dibandingkan dengan titik sebelum mengalami filtrasi yang menunjukkan peningkatan kualitas air hasil olahan RWHS. Meskipun demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas olahan air hujan ini belum memenuhi standar kualitas air bersih menurut Peraturan Menteri Kesehatan nomor: 416/MENKES/ PER/IX/1990.

Kata Kunci: Air bersih, air hujan, bakteriologik, rain water harvesting system

PENDAHULUAN

Air merupakan sumber kehidupan makhluk hidup, baik bagi sel maupun organisme, untuk menunjang aktivitasnya.1-4 Air dapat

memberi-kan dampak baik karena fungsi dan kegunaan-nya, namun dapat juga memberikan dampak buruk bila terkontaminasi vektor-vektor penye-bab penyakit dan kemudian menjadi media pe-nyebaran penyakit bagi organisme lain.5,6

Meli-hat fakta ini, manusia yang juga membutuhkan air untuk menunjang kehidupannya terus men-cari solusi untuk dapat menggunakan air dan mencegah penyebaran penyakit.1,7

Penyebaran penyakit melalui air dapat dice-gah dengan menggunakan air bersih. Air bersih menurut Peraturan Menteri Kesehatan nomor 416/MenKes/Per/IX/1990 didefinisikan sebagai

air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Kualitas ini perlu memenuhi kriteria mikrobiolo-gi, kimia, fisika, dan radioaktif.8

Pemerintah provinsi DKI Jakarta mendukung upaya Atma Jaya dan Corporate Social

Respon-sibility (CSR) untuk mengatasi kebutuhan air

bersih dengan menggunakan metode Rain

Wa-ter Harvesting System (RWHS). RWHS

meru-pakan sistem yang memanfaatkan bagian dari bangunan, seperti atap bangunan, taman, ko- lam, dan lain-lain, untuk menampung air hujan dan kemudian mengolahnya, sehingga dapat digunakan untuk kehidupan sehari-hari.1,9,10

Air hujan sebagai salah satu sumber air dari alam yang jatuh langsung tanpa mengenai

(4)

kontaminan dipercaya aman digunakan untuk berbagai tujuan.1,7 Hal ini hanya berlaku bagi

daerah yang belum terkena polusi. Fakta yang disayangkan adalah bahwa setiap air hujan yang jatuh ke permukaan bumi akan terkena kontaminan.

Kontaminasi air hujan terdiri dari kontaminan fisik, kimia, dan mikrobiologi. Kontaminan fisik air hujan dapat berupa bahan permukaan tem-pat air hujan jatuh.9,11 Contoh dari kontaminan

fisik adalah atap berbahan dasar tembaga yang akan menyebabkan air hujan yang melewati atap tersebut mengandung konsentrasi tem-baga yang lebih tinggi.11 Kontaminan kimia air

hujan dapat berasal dari aktivitas perindustrian yang menghasilkan sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Bahan-bahan ini sering dikaitkan de-ngan penurunan pH air hujan.1,11

Kontaminasi mikrobiologi pada air hujan ter-dapat pada kotoran hewan maupun air yang tidak mengalir.9,11 Air hujan yang mengandung

kontaminan mikroba dapat menyebabkan pe-nyakit pada manusia bila dikonsumsi secara langsung.5 Organisme yang diakui sebagai

bakteri indikator untuk menggambarkan air ter-kontaminasi atau tidak adalah koliform, karena koliform merupakan bakteri yang hidup di usus manusia dan hewan.7,12 Bakteri-bakteri ini dapat

bertahan hidup di air tawar lebih lama diban- dingkan dengan bakteri patogen usus lainnya.

Rain Water Harvesting System diharapkan

dapat mengeliminasi kontaminasi air hujan, se-hingga didapatkan hasil olahan yang dapat di-gunakan untuk kehidupan sehari-hari. Konsep RWHS secara umum terdiri dari lima bagian bangunan, yakni area penangkapan air,

peng-angkutan air, penyaringan, penyimpanan, dan pendistribusian yang tersusun menjadi sebuah rangkaian.11,13

Air olahan RWHS yang dibangun di beberapa sekolah di Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara hingga kini belum diuji kualitas bakteri-ologiknya, sehingga penggunaan hasilnya ha-nya untuk keperluan sanitasi dasar, seperti mencuci tangan, mandi, menyiram tanaman, namun bukan untuk minum. Penelitian ini di-harapkan dapat memberikan gambaran kuali-tas air olahan RWHS secara bakteriologik yang merupakan salah satu indikator air bersih. Studi pendahuluan ini juga diharapkan dapat menjadi landasan untuk penelitian selanjutnya menge-nai RWHS dan kualitas air bersih.

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif untuk menggambarkan kualitas bakteriologik air hasil olahan RWHS di Sekolah Dasar Neg-eri (SDN) Pejagalan 01 Pagi dan SDN Pe-jagalan 02 Petang. Kedua sekolah tersebut menggunakan gedung sekolah dan bangunan RWHS yang sama. Sampel berupa air diam-bil dari delapan titik pada satu rangkaian ban-gunan RWHS, seperti pada gambar 1, yakni: atap, bak penampung sementara, tangki bilas, hasil filtrasi, bak penampung air, tangki reser-voir, keran toilet, dan wastafel. Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah titik pada bangunan RWHS yang mengalami kerusakan, sehingga pengambilan sampel tidak mungkin dilakukan. Prosedur penelitian yang dilakukan diawali dengan pengambilan sampel secara steril pada

(5)

DAMIANUS Journal of Medicine

saat hari hujan. Sampel setiap titik b angun RWHS ditampung secara duplo (setiap titik bangun RWHS diambil dua sampel) ke dalam botol-botol penampung yang sesuai dengan persyaratan pada SNI 6989.58:2008.14

Botol-botol tersebut kemudian dimasukkan ke dalam kontainer yang berisi ice gel.

Seluruh sampel kemudian segera dibawa ke laboratorium untuk diuji secara bakteriologik menggunakan metode angka lempeng total dan angka paling mungkin berdasarkan metode SNI 01-2897-1992.15 Metode angka lempeng

total mengunakan prinsip dilusi dan merupakan metode untuk menumbuhkan bakteri sampel di medium platelet count agar. Metode angka pa- ling mungkin merupakan metode uji bertahap untuk menghitung jumlah total koliform pada medium double-strength lactose broth, single-strength lactose broth, brilliant green lactose broth, dan endo-methylene blue. Metode ang- ka paling mungkin menggunakan karakteristik koliform yang memfermentasikan laktosa dan memproduksi gas yang dapat terlihat pada tabung durham. Semua hasil pengujian kemu-dian kemu-dianalisis secara manual dan kemukemu-dian

disajikan dalam bentuk grafik-grafik dengan bantuan komputer.15

HASIL

Pada penelitian ini, delapan titik bangun RWHS berada pada kondisi yang baik, sehingga me-mungkinkan untuk dilakukan pengambilan sampel. Sampel yang diambil bukan merupa- kan hujan pertama pada musim hujan yang ter-jadi di DKI Jakarta pada tahun 2013. Pengam-bilan seluruh sampel dilakukan pada tanggal 17 Desember 2013 pada pukul 06.30 WIB. Hujan mulai turun pada tanggal 16 Desember 2013 sejak pukul 22.30 dan berhenti pada tanggal 17 Desember 2013 pada pukul 07.30.

Hasil pengujian angka lempeng total yang menunjukkan total bakteri pada seluruh sam-pel terlampir pada grafik 1. Hasil pengujian ALT pada masing-masing titik sampel menunjukkan adanya perbedaan, baik adanya peningkatan maupun penurunan total bakteri pada masing-masing titik RWHS.

Hasil pengujian angka paling mungkin yang Gambar 1. Bangunan RWHS dan Titik-Titik Pengambilan Sampel

(6)

menunjukkan total koliform pada seluruh sam-pel terlampir pada grafik 2. Hasil pengujian total koliform pada bak penampung sementara, bak filtrasi, dan bak penampung menunjukkan ter -dapat perbedaan air hujan yang belum difiltrasi dengan air hujan yang telah melewati proses filtrasi.

PEMBAHASAN

Hasil pengujian total bakteri pada bak penam-pung sementara, tangki bilas, bak filtrasi, dan tangki reservoir menunjukkan adanya faktor-faktor kontaminan lain yang terletak pada masing-masing titik tersebut yang berperan

Grafik 1. Hasil Pengujian Angka Lempeng Total

(7)

DAMIANUS Journal of Medicine pada peningkatan total bakteri. Penurunan

to-tal bakteri pada titik bak filtrasi ke bak penam -pung menunjukkan adanya peran sistem filtrasi dalam menurunkan total bakteri.

Parameter air bersih PERMENKES Nomor 416/MENKES/PER/IX/1990 menyatakan bah-wa ka dar total koliform maksimum yang diper-bolehkan adalah 50 per 100 ml. Hasil pengujian total koliform masing-masing sampel menun-jukkan bahwa titik yang memenuhi standar air bersih secara mikrobiologik adalah air hujan cucuran atap, sedangkan titik lainnya masih belum memenuhi parameter air bersih secara mikrobiologik. Hasil pengujian menunjukkan to-tal koliform setelah melalui proses filtrasi ber -jumlah lebih sedikit bila dibandingkan dengan total koliform sebelum melalui proses filtrasi. Perubahan ini menunjukkan hasil yang positif walaupun terjadi peningkatan tajam total koli-form pada tangki reservoir, yang disebabkan karena adanya faktor-faktor kontaminan pada tangki reservoir.

Setiap titik sampel yang diambil pada penelitian ini memiliki sumber kontaminasi masing-ma- sing yang memungkinkan terjadinya kontami-nasi atau menyebabkan pertumbuhan bakteri yang kemudian dapat memengaruhi kualitas air.

Sumber Kontaminasi di Atap

Kontaminasi di atap sangat mungkin terjadi karena atap merupakan area yang terbuka, sehingga memudahkan banyak kontaminan, seperti dedaunan, kotoran burung, debu, dan kontaminan lainnya menempel di permukaan atap.13 Pada penelitian ini, area atap yang

di-pilih merupakan area yang tidak terpasang ta-lang dan pipa, sehingga sampel yang diambil diharapkan dapat benar-benar menggambar-kan kondisi atap tanpa ada pengaruh dari ta-lang dan pipa.

Hasil yang didapatkan dari penelitian ini menun-jukkan bahwa kontaminasi yang terjadi di atap hanya sedikit. Hal ini disebabkan karena bebe-rapa faktor, yakni:

1. Faktor pertama adalah air hujan yang diam-bil pada penelitian ini bukan merupakan air hujan pertama pada musim penghujan di ta-hun 2013. Hal ini dapat menyebabkan kon-taminan yang mungkin terjadi selama musim kemarau sedikit banyak telah tersapu oleh aliran hujan sebelumnya.

2. Faktor kedua adalah air hujan yang diambil pada penelitian ini merupakan air dari hujan dengan durasi yang panjang (pukul 22.30-07.30), sehingga kontaminan yang berada di atap telah terbawa oleh aliran air hujan sebelumnya dan telah memasuki bagian lain dari RWHS.

Pembersihan atap secara berkala, terutama sebelum memasuki musim penghujan se-baik nya dilakukan untuk mengurangi kon-taminasi yang terjadi di atap.

Sumber Kontaminasi di Bak Penampung Sementara

Bak penampung sementara merupakan bak yang hanya tertutup oleh kawat saring, untuk itu bak penampung sementara dapat disebut sebagai bak terbuka. Kondisi bak yang terbuka lebih berpotensi memudahkan terjadinya

(8)

kon-taminasi dari bakteri-bakteri di sekitarnya dan masuknya binatang-binatang kecil. Lokasinya yang berada di bagian atas bak penampung juga lebih memudahkan terkena sinar matahari. Bak yang sering menampung air dan kemudian sering terkena sinar matahari merupakan habi-tat yang baik bagi pertumbuhan lumut.

Sumber Kontaminasi di Tangki Bilas

Tangki bilas merupakan tangki penampung un -tuk air hujan pertama dengan kontaminan ter-banyak yang memang seharusnya dibuang. Tangki bilas yang digunakan di lokasi penelitian memiliki penutup pada bagian atas dan keran yang terpasang di dasar tangki. Hasil penelitian pada sampel dari tangki bilas menunjukkan ha-sil yang sesuai dengan teori, bahwa air hujan pertama banyak mengandung kontaminan.9,13

Sumber kontaminan pada air di tangki bilas dapat berasal dari kontaminan-kontaminan di atap, talang, pipa, bak penampung sementa-ra yang terbawa masuk ke dalam tangki bilas maupun kontaminan yang berasal dari tangki bilas itu sendiri.9

Sumber Kontaminasi di Bak Filtrasi

Isi dari bak filtrasi pada bangunan RWHS SDN Pejagalan 01 Pagi dan SDN Pejagalan 02 Pe-tang adalah arang aktif dan zeolit. Komponen-komponen ini secara teori bukan merupakan penyaring untuk mikroba, melainkan untuk aspek kimiawi (untuk menghilangkan klorin).1

Metode penyaringan untuk menyaring mikroba perlu dipasang pada sistem RWHS, sehingga air olahan RWHS diharapkan dapat memenuhi syarat air bersih. Metode penyaringan ini dapat

berupa klorinasi. Metode lain yang dapat di-lakukan adalah dengan merebus air hasil olah-an RWHS sebelum menggunakolah-annya.

Sumber Kontaminasi di Bak Penampung Bak penampung yang ada di lokasi penelitian merupakan bak penampung yang terbuat dari bahan beton bertulang yang bagian dalamnya dilapisi oleh bahan waterproof untuk mencegah kebocoran pada bak. Bak penampung berben-tuk persegi panjang dan berukuran 11,83 m x 1,73 m x 2 m. Bak penampung ini memiliki satu pintu di bagian atas, sehingga penjaga RWH dapat melihat kondisi air, mengukur kedalam-an air, atau bahkkedalam-an masuk dkedalam-an mencuci bak penampung. Bak penampung yang tidak dicuci secara berkala dapat menjadi sumber kontami-nasi, sehingga penjadwalan pembersihan bak penampung perlu dilakukan.

Pada penelitian ini, sampel yang diambil meru-pakan sampel yang berasal dari dasar bak penampung yang dialirkan lewat pipa pem-buangan untuk menguras bak penampung. Air yang berada di dasar bak merupakan air de-ngan endapan bakteri yang lebih banyak dari-pada di permukaan. Kontaminasi juga dapat terjadi di pipa pembuangannya.

Sumber Kontaminasi di Tangki Reservoir Air dari bak penampung akan dipompa untuk dapat masuk dan memenuhi tangki reservoir

yang lokasinya berada di atas ketinggian em-pat meter. Lokasi tangki reservoir yang tinggi merupakan faktor penyulit bagi penjaga RWHS untuk membersihkan tangki secara berkala.

(9)

DAMIANUS Journal of Medicine SDN Pejagalan 01 Pagi dan SDN Pejagalan 02

Petang juga menggunakan sumber lain selain RWHS, yakni sumur. Sumur digunakan sebagai sumber air bila tidak turun hujan, tidak ada air di bak penampung, atau pada saat musim kema-rau. Pada saat banjir, air kotor akan masuk dan mengontaminasi air sumur. Air sumur ini akan dipompa masuk ke tangki reservoir yang sama dengan tangki reservoir di bangunan RWHS, sehingga sumber kontaminasi tangki reservoir

juga berasal dari air sumur ini.

Pada penelitian ini, sampel air diambil melalui pipa berkeran di bawah tangki yang dipasang untuk mengalirkan air dari dasar tangki. Sum-ber kontaminan juga dapat Sum-berada di pipa dan keran ini.

Hal yang dapat dilakukan untuk meminimal-isasi kontaminan adalah dengan membangun tangki di tempat yang mudah dipijak atau dapat pula ditambahkan tangga dengan pegangan, sehingga pembersihan tangki dapat dilakukan dengan mudah.

Sumber Kontaminasi di Toilet dan Wastafel Air dari tangki reservoir akan dialirkan melalui pipa-pipa ke seluruh toilet dan wastafel yang berada di lokasi penelitian. Pada penelitian ini, sampel yang diambil melalui keran yang berada di salah satu bilik toilet dan salah satu wastafel. Sumber kontaminasi dapat berasal dari pipa dan keran.

KESIMPULAN

Setiap titik dari RWHS dapat dipengaruhi oleh

berbagai faktor-faktor kontaminan yang berbe-da-beda. Pengaruh dari faktor-faktor ini yang dapat menyebabkan perbedaan nilai total ko-liform pada masing-masing titik RWHS. Penu-runan nilai total koliform yang terjadi pada titik bak penampung sementara, bak filtrasi, dan bak penampung menunjukkan adanya pening-katan kualitas air hasil olahan RWHS.

Pengujian angka paling mungkin pada sampel dari tangki reservoir menunjukkan kontaminasi sumber air lain yang dalam kasus ini adalah air tanah dari sumur memberikan pengaruh be-sar pada peningkatan nilai total koliform. Hasil dari pengujian ini menunjukkan bahwa air hasil akhir dari olahan RWHS di SDN Pejagalan 01 dan 02, Jakarta Utara belum memenuhi standar kualitas air bersih menurut Peraturan Menteri Kesehatan nomor: 416/MENKES/PER/IX/1990.

DAFTAR PUSTAKA

1. UN Habitat. Rainwater Harvesting and Utilisation [e-book]. UN Habitat; 2005 [cited 2013 Apr 18]. Available from: unhabitat.org. np/?post_type=publications&p=1485. 2. Manzoor K. The global water crisis: Issues

and solutions. IUP J Infrastruct [serial on-line]. 2011 [cited 2013 May 01]; 9(2):34-43. Available from: ProQuest. http://search.pro-quest.com.

3. Marcynuk P, Flint J, Sargeant J, Bitton A, Brito A, Luna C, et al. Comparison of the burden of diarrhoeal illness among indi-viduals with and without household cisterns in northeast Brazil. BMC Infect Dis [serial

(10)

online]. 2013 [cited 2013 Apr 26]; 13(65). Available from: SpringerLink. http://link. springer.com/.

4. Mandour R. Human health impacts of drink-ing water (surface and ground) pollution Dakahlyia Governorate, Egypt. Appl Water Sci [serial online]. 2012 [cited 2013 Apr 26]; 2(3): 157-63. Available from: SpringerLink. http://link.springer.com/.

5. Wenhold F, Faber M. Water in nutritional health of individuals and households: an overview. Water SA [serial online]. 2009 [cited 2013 May 21]; 25(1): 61-71. Available from: ProQuest. http://search.proquest. com.

6. United Nations Children’s Fund Indonesia. Ringkasan kajian: air bersih, sanitasi & ke-bersihan [document on the Internet]. UNI-CEF Indonesia; 2012 [cited 2013 Apr 26]. Available from: www.unicef.org/indonesia/ id/A8_-_B_Ringkasan_Kajian_Air_Bersih. pdf.

7. Ahmed W, Gardner T, Toze S. Microbiologi -cal quality of roof-harvested rainwater and health risks: a review. J Environ Qual [serial online]. 2011 [cited 2013 Jul 11]; 40(1):13-21. Available from: ProQuest. http://search. proquest.com.

8. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. PERATURAN MENTERI KESEHATAN No -mor: 416/Men.Kes/PER/IX/1990 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air

bersih. Jakarta: MenKes RI; 1990.

9. Amin MT, Alazba AA. Probable sources of rainwater contamination in a rainwater har-vesting system and remedial options. Aust J Basic &ApplSci [serial online]. 2011 [cited 2013 Sep 22]; 5(12): 1054-64. Available from: http://www.ajbasweb.com.

10. Zaghloul N, Al-Mutairi B. Water harvesting of urban runoff in Kuwait. Sci Iran [serial on-line]. 2010 [cited 2013 Apr 18]; 17(3):236-43. Available from: http://search.proquest. com.

11. Fewkes A. A review of rainwater harvesting in the UK. Struct Surv [serial online]. 2012 [cited 2013 Jul 11]; 30(2): 174-94. Available from: ProQuest. http://search.proquest. com.

12. Mandloi D, Khare D, Pareek T. Rain wa -ter harvesting in Indore City: a demanding need for sustainable development. J Chem Biol Phys Sci [serial online]. 2011 [cited 2013 May 25]; 1(1): 88-101. Available from: ProQuest. http://search.proquest.com. 13. Willey J, Sherwood L, Woolverton C.

Prescott, Harley, and Klein’s Microniology. 7th ed. New York: McGraw-Hill; 2008. 14. Badan Standarisasi Nasional. Air dan air

limbah – bagian 58: metoda pengambilan contoh air tanah. BSN; 2008.

15. Dewan Standarisasi Nasional. Cara uji ce-maran mikroba. BSN; 1992.

Gambar

Gambar 1. Bangunan RWHS dan Titik-Titik Pengambilan Sampel
Grafik 1. Hasil Pengujian Angka Lempeng Total

Referensi

Dokumen terkait

es, masalah utama masuknya cemaran adalah kebersihan dari alat yang digunakan membuat serta menampung es yang sudah jadi. Selain itu, pada pembuatan es secara tradisional

Rerata hasil Stroop Test dengan intervensi pemberian kafein 20 mg, 30 mg, 40 mg, dan kontrol positif meningkat pada hari ke-4 dan hari ke-7 setelah paparan dibandingkan dengan

Latar Belakang: Kondisi terburuk dari penyakit hepar kronik adalah sirosis hepatis, di mana hepar telah kehilangan fungsinya dan sifatnya irreversible. Transplantasi hepar

Adapun kriteria diagnostik insomnia menurut PPDGJ III atau ICD10, yaitu adanya keluhan sulit masuk tidur, mempertahankan tidur, atau kualitas tidur yang buruk; gangguan