dr. Agustina Tri P. Sp.KK
Daftar Pustaka
• Fitzpatrick's Dermatology, Ninth Edition
• Panduan Praktik Klinik PERDOSKI thn 2017
• Holmes’s Sexually Transmitted Disease, Fourth
Edition
1. Seorang wanita 65 tahun mengeluh lepuh dan ruam kemerahan terasa gatal sejak 6 bulan yang lalu. Pada pemeriksaan dijumpai lesi urtika dan bula multipel berdinding tegang dengan dasar eritematosa
didaerah perut dan punggung. Endapan apa yang akan dijumpai pada pemeriksaan imunofluoresen lamgsung?
A. IgG pada epidermis
B. IgG dan C3 pada epidermis
C. IgA pada taut dermal-epidermal
D. IgA granular pada papilla dermis
E. IgG dan C3 pada membrane basalis
Pemfigoid Bulosa
2. Gambaran histopatologi dermatitis herpetiformis yaitu:
A. Celah subepidermal dengan kumpulan netrofil di papillaris dermis
B. Celah subpepidermal dengan kumpulan limfosit di papilaris dermis
C. Celah subepidermal dengan kumpulan limfohistiosit
D. Celah suprabasal berisi eosinofil
E. Celah suprabasal berisi netrofi
Dermatitis Herpetiformis Duhring
• Penyakit bulosa autoimun yang bersifat kronik berulang, dengan kelainan kulit berupa ruam polimorfik papulovesikular yang tersusun
berkelompok dan simetris serta terasa sangat gatal
• Kelainan kulit berkaitan dengan deposit IgA pada tautan dermoepidermal kulit dan
penyakit enteropati sensitif gluten
Anamnesis
• Penyakit ini banyak terjadi pada rentang usia 30-40 tahun, meskipun dapat
terjadi pada usia anak-anak
• Perbandingan kejadian antara laki-laki dan
perempuan adalah 2:1
• Riwayat perjalanan
penyakit: kronik, hilang timbul
• Keluhan utamanya berupa rasa gatal, tetapi dapat
bervariasi berupa rasa
panas hingga tanpa gejala
• Dicetuskan oleh gluten
Pemeriksaan fisik
• Predileksi pada ekstensor ekstremitas dan badan,
terdistribusi secara simetris, dapat juga timbul pada kulit kepala
berambut dan tengkuk
• Lesi dapat diawali dengan suatu papula eritema dan plak
menyerupai urtika yang
selanjutnya akan menjadi vesikel dan bula tegang yang tersusun berkelompok pada dasar eritema
• Lesi yang digaruk akan
menyebabkan erosi, ekskoriasi, dan krusta
• Kelainan kulit yang telah sembuh dapat meninggalkan lesi
dispigmentasi pascainflamasi
• Dianggap sebagai manifestasi kulit pada penyakit seliak (enteropati gluten, celiac sprue).
Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan histopatologi: mikroabses neutrofil pada papila dermis dan celah subepidermal
2. Direct immunofluorescence (DIF): deposit IgA granular pada papila dermis atau tautan
dermoepidermal
3. Terapi berikut ini dapat digunakan sebagai
modulator kadar antibodi pada
penatalaksanaan
pemfigoid bulosa, yaitu:
A. Dapson B. Azatioprin
C. Siklofosfamid D. Plasmaferesis
E. Takrolimus topikal
4. Erupsi obat manakah yang gambaran histopatologisnya ditemukan apoptosis keratinosit?
A. Vaskulitis
B. Eritroderma C. Angioedema
D. Nekrolisis epidermal toksik
E. Pustulosa generalisata eksantema akut
Sindrom Stevens-Johnson/SSJ dan Nekrolisis Epidermal Toksik /NET
• Nekrolisis epidermal, mencakup Sindrom Stevens- Johnson (SSJ) dan Nekrolisis Epidermal Toksik (NET), adalah reaksi mukokutaneus yang mengancam jiwa, ditandai dengan nekrosis dan pelepasan epidermis yang ekstensif
• Kedua kondisi ini digolongkan sebagai varian keparahan dari proses yang serupa, karena adanya kesamaan
temuan klinis dan histopatologis
• Perbedaan terdapat pada keparahan yang ditentukan
berdasarkan luas area permukaan kulit yang terkena
Klinis
1. Anamnesis
• Penyebab terpenting adalah penggunaan obat
• Riwayat penggunaan obat sistemik (jumlah dan jenis obat, dosis, cara pemberian, lama pemberian, urutan pemberian obat), serta kontak obat pada kulit yang terbuka (erosi,
eskoriasi, ulkus) atau mukosa
• Jangka waktu dari pemberian obat sampai timbul kelainan kulit (segera, beberapa saat atau jam atau hari atau hingga 8 minggu)
• Identifikasi faktor pencetus lain: infeksi (Mycoplasma
pneumoniae, virus), imunisasi, dan transplantasi sumsum tulang belakang.
Pemeriksaan fisik
• SSJ dan NET ditandai dengan keterlibatan kulit dan membran mukosa
• Kelainan kulit yaitu: eritema, vesikel, papul, erosi, eskoriasi, krusta
kehitaman, kadang purpura, dan epidermolisis. Tanda Nikolsky positif
• Kelainan mukosa (setidaknya pada dua tempat): biasanya dimulai dengan eritema, erosi dan nyeri pada mukosa oral, mata dan genital
• Kelainan mata berupa konjungtivitis kataralis, purulenta, atau ulkus
• Kelainan mukosa oral berupa erosi hemoragik, nyeri yang tertutup
pseudomembran putih keabuan dan krusta.
• Kelainan genital berupa erosi yang dapat menyebabkan sinekia
(perlekatan)
• Gejala ekstrakutaneus: demam, nyeri dan lemah badan,
keterlibatan organ dalam seperti paru-paru yang bermanifestasi sebagai peningkatan kecepatan pernapasan dan batuk, serta komplikasi organ digestif seperti diare masif, malabsorbsi, melena, atau perforasi kolon.
5. Yang merupakan faktor prognostik pada
penilaian SCORTEN pada nekrolisis epidermal:
A. Usia <40 tahun
B. Kadar glukosa >14 mM
C. Kadar serum urea <10 mM
D. Detak jantung <120 kali/menit
E. Kadar serum bikarbonat <20 Mm
6. Komplikasi tersering pada lentigo solaris adalah:
A. Melanoma
B. Keratosis Aktinik C. KSB
D. KSS
E. Xeroderma Pigmentosum
7. Terapi topikal yang dapat digunakan untuk KSB adalah:
A. Alefacept
B. 3-fluorouracil C. Imiquimod 5%
D. Asam trikloroasetat
E. Asam L-aminolevulinik
Karsinoma Sel Basal
• Tumor ganas yang berasal dari lapisan
epidermis, tumbuh secara lambat, dan lokal invasif
• Merupakan kanker kulit tipe non-melanoma yang paling sering terjadi
• Penyakit ini berhubungan dengan pajanan
sinar matahari dan jarang terjadi metastasis
Penatalaksanaan
Medikamentosa 1. Imiquimod**
• Dihubungkan dengan perbaikan pada gambaran
histopatologi. Namun, pada penelitian yang lain disebutkan penggunaan krim imiquimod memiliki tingkat keberhasilan yang lebih rendah dibandingkan dengan operasi
2. Sonidegib 3. Vismodegib
4. 5-fluorouracil (5-FU)
5. Topical tazarotene 0.1%
6. Zycure** (0.005% mixture of solasodine glycosides)
8. Seorang supir bus antar kota berusia 30 tahun
mengeluh muncul bercak merah hampir di seluruh tubuh sejak 6 minggu yang lalu. Awalnya pasien demam dan nyeri kepala. Pernah mengalami luka pada kelamin. Pemeriksaan fisik ditemukan
pembesaran limpa. Pemeriksaan penunjang apa yang diperlukan untuk kasus tersebut?
A. Tes serologi sifilis B. Tes asam asetat
C. Pemeriksaan lapangan gelap
D. Tes antibodi fluoresensi langsung
E. Pemeriksaan kultur organisme penyebab
Sifilis
• Penyakit infeksi menular seksual yang disebabkan oleh Treponema pallidum, bersifat kronis, sejak awal merupakan infeksi sistemik, dalam
perjalanan penyakitnya dapat mengenai hampir seluruh struktur tubuh, dengan manifestasi klinis yang jelas namun terdapat masa laten yang
sepenuhnya asimtomatik, mampu menyerupai berbagai macam penyakit, dapat ditularkan
kepada janin dalam kandungan, dan dapat
disembuhkan
Stadium Klinis
Stadium I (Sifilis primer)
• Ulkus tunggal, tepi teratur, dasar bersih, terdapat indurasi, tidak nyeri; terdapat pembesaran kelenjar getah bening regional.
• Lokasi: di tempat kontak dengan lesi infeksius pasangan seksual.
Pada laki-laki sering didapatkan di penis (terutama di glans penis atau sekitar sulkus koronarius) dan skrotum; pada perempuan didapatkan di vulva, serviks, fourchette, atau perineum. Namun dapat pula ulkus tidak tampak dan tidak disadari oleh pasien.
Stadium II (Sifilis sekunder)
• Terdapat lesi kulit yang
polimorfik, tidak gatal dan lesi di mukosa, sering
disertai pembesaran kelenjar getah bening generalisata yang tidak nyeri (limfadenopati)
Stadium Laten
• Tidak ditemukan gejala klinis pada pasien, namun tes serologi sifilis (TSS)
reaktif, baik serologi
treponema maupun
nontreponema
Stadium III (Sifilis tersier)
• Didapatkan gumma, yaitu infiltrat
sirkumskrip kronis yang cenderung mengalami perlunakan dan bersifat destruktif. Dapat
mengenai kulit, mukosa
dan tulang
Obat pilihan:
• Benzil benzatin penisilin G (BBPG), dengan dosis:
1. Stadium primer dan sekunder: 2,4 juta Unit, injeksi intramuskular, dosis tunggal
• Cara: satu injeksi 2,4 juta Unit IM pada 1 bokong, atau 1,2 juta Unit pada setiap bokong
2. Stadium laten: 2,4 juta Unit injeksi intramuskular, setiap minggu, pada hari ke- 1, 8 dan 15
• Sesudah diinjeksi, pasien diminta menunggu
selama 30 menit
• Obat alternatif: bila alergi terhadap penisilin atau pasien menolak injeksi atau tidak tersedia BBPG:
1. Doksisiklin 2x100 mg oral selama 14 hari untuk stadium primer dan sekunder atau selama 28 hari untuk sifilis laten.2,3
• Doksisiklin 2x100 mg oral selama 30 hari untuk stadium
primer dan sekunder atau lebih dari 30 hari untuk sifilis laten 2. Eritromisin 4x500 mg oral selama 14 hari untuk ibu hamil
dengan sifilis stadium primer dan sekunder, atau 30 hari untuk sifilis laten (very low quality evidence, conditional
recommendation)
• Eritromisin 4x500 mg oral selama 30 hari untuk ibu hamil
dengan sifilis stadium primer dan sekunder, atau lebih dari 30 hari untuk sifilis laten
• Evaluasi terapi: evaluasi secara klinis dan serologi dilakukan pada bulan ke-1, 3, 6, dan 12.
• Kriteria sembuh: titer VDRL atau RPR menurun 4 kali lipat dalam 6 bulan setelah pengobatan
9. Stigmata dari lesi dini prenatal sifilis adalah:
A. Periostitis
B. Cluton’s joint
C. Gigi Hutchinston
D. Keratitis interstisial
E. Gumma pada hidung
SIFILIS KONGENITAL
10.Artritis akut dapat terjadi pada infeksi menular seksual di bawah ini:
A. Gonore
B. Hepatitis B C. Ulkus mole
D. Kandidiasis vaginal
E. Limfogranuloma venereum
Infeksi Gonore
• Gonore adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh Neisseria
gonorrhoeae (N. gonorrhoeae), suatu kuman Gram negatif, berbentuk biji kopi, terletak intrasel
• Anamnesis Laki-laki:
- Gatal pada ujung kemaluan - Nyeri saat kencing
- Keluar duh tubuh berwarna putih atau kuning kehijauan kental dari uretra Perempuan:
- Keputihan
- Atau asimtomatik
• Pada keduanya didapatkan adanya riwayat kontak seksual sebelumnya (coitus suspectus).
• Pemeriksaan klinis Laki-laki:
- Orifisium uretra hiperemis, edema, dan ektropion disertai disuria
- Duh tubuh uretra mukopurulen
- nfeksi rektum pada pria homoseksual dapat menimbulkan duh tubuh anal atau nyeri/rasa tidak enak di
anus/perianal
- Infeksi pada faring biasanya asimtomatik
Perempuan:
- Seringkali asimtomatik
- Serviks hiperemis, edema, kadang ektropion
- Duh tubuh endoserviks mukopurulen - Dapat disertai nyeri pelvis/perut bagian
bawah
- Infeksi pada uretra dapat menyebabkan disuria
11.Apabila tes nontreponemal pada ibu dan bayi memberikan hasil positif , sedangkan hasil tes treponemalnya negatif, maka interpretasi
terhadap hasil tes serologis tersebut adalah A. Ibu dan bayi tidak terinfeksi sifilis
B. Ibu dengan sifilis laten dan bayi terinfeksi
C. Ibu dengan sifilis sekunder dan bayi terinfeksi D. Ibu dengan sifilis laten dan bayi tidak terinfeksi E. Ibu dengan sifilis sekunder dan bayi tidak
terinfeksi
12. Pesan yang SALAH dalam memberi informasi kepada pasien mengenai patogenesis infeksi human papilloma virus (HPV) genital adalah
A. Kutil kelamin sering mengalami rekurensi sesudah pengobatan
B. HPV tipe high-risk dihubungkan dengan kutil kelamin eksternal
C. HPV genital adalah infeksi virus yang merupakan salah satu infeksi menular seksual
D. Sebagian kecil laki-laki dengan infeksi HPV genital dapat berkembang menjadi keganasan penis
E. Sebagian besar perempuan dengan infeksi HPV tipe high- risk tidak berkembang menjadi kanker
KUTIL ANOGENITAL
• Infeksi menular seksual yang disebabkan oleh virus papilloma humanus (VPH) tipe tertentu dengan kelainan pada kulit dan mukosa
anogenital
• Sebanyak 90% disebabkan HPV tipe 6 dan tipe
11, masa inkubasi 3 minggu sampai dengan 8
bulan, bahkan sampai dengan 18 bulan
1. Anamnesis
• Benjolan di daerah genital yang tidak nyeri
• Adanya riwayat kontak seksual sebelumnya
2. Pemeriksaan klinis
• Vegetasi atau papul soliter dapat juga multipel
• Terdapat empat morfologi o Akuminata
o Papul dengan permukaan menyerupai kubah
o Papul keratotik dengan permukaan kasar
o Papul datar
Bentuk lain:
o Bowenoid papullosis yang
merupakan varian lesi papula berbentuk kubah atau datar, berwarna hitam, dan ditemukan tipe HPV risiko tinggi yaitu tipe 16.
o Giant condyloma atau Buscke-
Lowenstein tumor yaitu lesi yang berukuran lebih besar, bersifat invasif dan destruktif secara lokal, namun tidak bermetastasis, serta ditemukan HPV tipe 6 dan tipe 11.
• Lesi di perianal dapat ditemukan pada laki-laki dan perempuan tetapi lebih umum ditemukan pada laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL)
• Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan histopatologi
Pemeriksaan ini hanya dilakukan bila lesi meragukan, atau tidak berespons dengan pengobatan
2. Pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR)
• Pemeriksaan ini untuk mengetahui tipe HPV, namun bukan untuk menegakkan diagnosis
3. Tes asam asetat 5%
• Tes ini dipakai untuk mendeteksi lesi yang
meragukan/subklinis, tipe papul datar. Asam asetat 5%
dibubuhkan pada lesi yang dicurigai selama 5 menit.
• Hasil: lesi akan berubah warna menjadi putih (tes
acetowhite positif).
13. Remaja yang mengalami kekerasan seksual
memerlukan pemeriksaan penunjang awal dan tindak lanjut untuk mencari kemungkinan adanya infeksi
menular seksual. Berapa lama waktu yang paling tepat untuk pemeriksaan lanjutan setelah terjadi tindak kekerasan seksual?
A. 4 minggu
B. 6 minggu
C. 8 minggu
D. 10 minggu
E. 12 minggu
14.Infertilitas pada laki-laki akibat trikominiasis terjadi karena
A. penurunan partikel debris B. penurunan motilitas sperma
C. penurunan viskositas cairan uretra D. penurunan viskositas cairan semen
E. tingginya konsentrasi zinc dalam cairan prostat
Trikomoniasis
:Penyakit infeksi menular seksual yang disebabkan oleh parasit berflagel Trichomonas vaginalis
• Perempuan:
- 10-50% asimtomatik
- Keputihan berbau busuk, warna kuning kehijauan, kadang-kadang berbusa.
- Jumlah keputihan yang banyak mengiritasi kulit sekitar vulva menimbulkan keluhan gatal dan perih pada vulva dan kulit sekitarnya
• Laki-laki:
- 15–50% asimtomatik, biasanya sebagai pasangan seksual
perempuan yang terinfeksi - Duh tubuh uretra sedikit atau
sedang, dan atau nyeri saat
kencing, dapat juga iritasi uretra dan sering miksi
- Pada keduanya didapatkan adanya riwayat kontak seksual sebelumnya (coitus suspectus)
Pemeriksaan Klinis
• Perempuan:
- Pada daerah forniks posterior, tampak duh tubuh vagina
seropurulen, berbau busuk, jumlahnya sedikit sampai banyak, berwarna kuning kehijauan, berbusa, dapat terjadi pada 10-30% wanita, dapat disertai gatal pada vulva - Kadang terdapat rasa tidak
enak di perut bagian bawah - Vulvitis dan vaginitis
- Gambaran strawberry cervix dapat ditemukan pada 2%
pasien
• Laki-laki:
- Duh tubuh uretra sedikit atau sedang, dan/atau disuria,
dapat juga iritasi uretra dan sering miksi
- Jarang: duh tubuh uretra purulen
15.Faktor di bawah ini yang dapat menimbulkan kegagalan terapi trikomoniasis adalah
A. Infeksi berlangsung lama
B. Aktivasi metronidazol oleh bakteri (inaktivasi oleh bakteri)
C. Konsentrasi seng dalam serum yang rendah D. Konsentrasi metronidazol dalam serum yang
tinggi
E. Konsentrasi metronidazol dipengaruhi absorbsi
• Infeksi persisten dan rekuren
– Kejadian infeksi rekuren berkisar antara 5-31%,
adapun penyebabnya adalah reinfeksi dari pasangan seksual yang belum diterapi, terinfeksi dari pasangan seksual yang baru, treatment failure, kepatuhan
minum obat yang buruk dan resistensi
– Beberapa penyebab dari treatment failure adalah kadar seng yang rendah, kadar obat di vagina yang rendah, inaktivasi metronidazole oleh bakteri
FKUI: Infeksi Menular Seksual, 2017
16.Faktor yang mempengaruhi risiko transmisi HIV pada ulkus sifilis adalah:
A. Jumlah CD4 yang rendah
B. Invasi Treponema ke susunan saraf pusat
C. Tingginya frekuensi sifilis sekunder dengan ulkus D. Sitokin yang diproduksi makrofag meningkatkan
replikasi virus HIV
E. Penurunan jumlah makrofag dan sel T yang
memiliki reseptor terhadap HIV
• Berbagai aspek mengenai interaksi antara sifilis dan infeksi HIV telah banyak dilaporkan sejak mulainya pandemi HIV
• Sifilis akan meningkatkan risiko tertular dan menularkan infeksi HIV
• Ulkus sifilis akan merusak epitel dan mukosa menjadi tempat masuk HIV
• Lesi sifilis mengandung banyak makrofag dan limfosit T- CD4+, yang merupakan sel target HIV
• Pada pasien HIV, sifilis menurunkan jumlah sel CD4 dan meningkatkan viral load HIV
• FKUI: Infeksi Menular Seksual, 2017
17. Seorang perempuan, usia 29 tahun, hamil 20 minggu, datang dengan keluhan keputihan sejak 3 minggu
yang lalu. Pada pemeriksaan fisis ditemukan duh tubuh putih abu-abu, homogen, encer, berbau, dan pH vagina 5,5. Pemeriksaan apusan duh tubuh dengan pewarnaan Gram ditemukan clue cell. Tes whiff
positif. Apakah pengobatan untuk kasus ini?
A. Doksisiklin 2x100 mg/hari, per oral selama 7 hari
B. Flukonazol 2x150 mg/hari, per oral selama 7 hari
C. Eritromisin 4x500 mg/hari, per oral selama 7 hari
D. Klindamisin 2x150 mg/hari, per oral selama 7 hari
E. Metronidazol 2x500 mg/hari, per oral selama 7 hari
Vaginosis Bakterial
• Sindrom klinis yang disebabkan oleh pergantian Lactobaccillus sp penghasil H2O2 yang normal di dalam vagina dengan sekelompok bakteri anaerob batang gram
negatif (Prevotella sp, Mobiluncus sp), Gardnerella vaginalis dan Mycoplasma horminis
• Anamnesis:
- 50% perempuan asimtomatik
- Keputihan berbau amis, terutama setelah selesai senggama
Pemeriksaan klinis:
• Duh tubuh vagina warna putih
homogen, melekat, berbau amis pada dinding vagina dan vestibulum,
kadang-kadang disertai rasa gatal
• Vagina dan serviks tidak ada kelainan
Memenuhi kriteria Amsel yaitu (3 dari 4 gejala):
1. Duh vagina sesuai klinis
2. Tes amin/Whiff test, hasil positif (tercium bau amis seperti ikan pada duh tubuh vagina yang ditetesi
dengan larutan KOH 10%) 3. pH cairan vagina >4,5
4. Sediaan basah dengan larutan NaCI fisiologis atau sediaan apus dengan pewarnaan Gram ditemukan clue cells
Penatalaksanaan
• Obat pilihan:
1. Metronidazol 2x500 mg/hari selama 7 hari atau
2. Metronidazol 2 gram per oral dosis tunggal atau
• Obat alternatif:
1. Klindamisin 2x300 mg/hari per oral selama 7
hari
18. Seorang laki-laki berusia 25 tahun, belum menikah, datang ke poliklinik IMS dengan keluhan luka di
kemaluan dengan rasa nyeri. Terdapat riwayat
hubungan seksual dengan WPS 7 hari sebelum timbul luka. Pada pemeriksaan ditemukan 2 buah ulkus
berdiameter 1 cm berdampingan di sulkus koronarius, dasar ulkus rapuh, kotor, mudah berdarah, nekrotik.
Tidak ditemukan indurasi pada dasar dan tidak nyeri.
Ditemukan pembesaran kelenjar limfe dan nyeri pada perabaan di inguinal media. Media pertumbuhan
yang sesuai adalah:
A. Mc Coy
B. CTA modifikasi
C. Agar Mueler-Hilton
D. Agar Saboroud dekstrosa
E. Fibroblas diploid manusia, MRC-5
Ulkus Mole
• Penyakit ulkus genital yang disebabkan oleh Haemophyllus ducreyi
1. Anamnesis:
• Luka pada kelamin yang nyeri
• Terdapat riwayat kontak seksual sebelumnya 2. Pemeriksaan klinis:
• Ulkus multipel, perabaan lunak dan sangat nyeri, tepi tidak teratur, dinding bergaung, dasar kotor
• Lesi pada laki-laki biasanya terbatas pada frenulum, sulkus koronarius, preputium
• Sedangkan lesi pada perempuan sebagian besar pada vagina atau introitus vagina
19. Seorang laki-laki, usia 30 tahun, berobat karena keluhan luka yang sangat nyeri di kemaluan sejak 1 minggu lalu.
Pasien belum menikah tetapi sering berhubungan seksual dengan wanita penjaja seks tanpa menggunakan kondom.
Pada pemeriksaan fisis di batang penis ditemukan ulkus multipel, lunak, tepi tidak teratur, bergaung, dasar
ditutupi jaringan nekrotik. Apakah terapi yang paling sesuai untuk kasus ini?
A. Azitromisin 1 gram, per oral, dosis tunggal
B. Levofloksasin 500 gram, per oral, dosis tunggal C. Asiklovir 5x200 mg/hari, per oral selama 7 hari D. Doksisiklin 2x100 mg/hari, per oral selama 7 hari
E. Benzatin penisilin 2,4 juta IU, intramuskuler, dosis tunggal
20. Seorang perempuan usia 25 tahun, hamil 30 minggu,
mengeluh keputihan disertai rasa gatal. Pada pemeriksaan fisis dijumpai duh tubuh berwarna putih susu, bergumpal pada dinding vagina. Pemeriksaan apusan duh tubuh
vagina yang diwarnai dengan Gram ditemukan blastospora dan pseudohifa. Pengobatan yang tepat pada kasus di atas adalah:
A. Flukonazol 150 mg per oral dosis tunggal B. Itrakonazol 200 mg per oral dosis tunggal
C. Nistatin 100.000 IU intravagina selama 3 hari D. Ketokonazol 2x200 mg per oral selama 3 hari
E. Klotrimazol 200 mg intra vagina setiap hari selama 3 hari
KANDIDIASIS VULVOVAGINALIS
• Infeksi pada vulva dan vagina yang disebabkan oleh Candida albicans atau kadang oleh Candida sp, Torulopsis sp atau ragi lainnya
• Anamnesis
1. Gatal pada vulva
2. Vulva lecet, dapat timbul fisura
3. Dapat terjadi dispareunia
Pemeriksaan klinis
• Pada vulva dan vagina tampak:
1. Hiperemis
2. Dapat timbul fisura 3. Edema jika berat
4. Duh tubuh vagina, putih seperti susu, bergumpal, tidak berbau
5. Jika mengenai genitalia luar dapat dijumpai
bercak/plak eritema dengan lesi satelit
Pemeriksaan Penunjang
• Bahan dari duh tubuh vagina
yang berasal dari dinding lateral vagina, dilakukan pemeriksaan:
1. Sediaan apus dengan
pewarnaan Gram ditemukan blastospora dan atau
pseudohifa
2. Sediaan basah dengan larutan KOH 10% ditemukan
blastospora dan atau pseudohifa
3. Kultur jamur dengan media
Saboraud
Penatalaksanaan
• Obat pilihan :
1. Klotrimazol 500 mg, intravagina dosis tunggal atau 2. Klotrimazol 200 mg, intravagina selama 3 hari atau 3. Nistatin 100.000 IU intravagina selama 7 hari
4. Flukonazol*** 150 mg, per oral, dosis tunggal atau 5. Itrakonazol*** 2x200 mg per oral selama 1 hari atau 6. Itrakonazol*** 1x200 mg/hari per oral selama 3 hari
atau
7. Ketokonazol# kapsul 2x200 mg/hari per oral selama 5
hari
21. Seorang laki-laki, 27 tahun, belum menikah, promiskuitas tinggi, mengeluh luka di kemaluan. Hubungan seks
terakhir 14 hari sebelum timbul luka dengan wanita penjaja seks tanpa kondom.Pada pemeriksaan fisis di sulkus koronarius didapatkan satu buah ulkus dangkal, disertai indurasi dan nyeri. Terdapat limfadenopati
inguinal kiri berjumlah 3 buah, periadenitis, disertai nyeri dan fluktuasi. Diagnosis kasus ini adalah:
A. Sifilis
B. Chancroid
C. Herpes genital
D. Granuloma inguinale
E. Limfgranuloma venerum
LIMFOGRANULOMA VENERUM
22. Seorang perempuan, 28 tahun, hamil 36 minggu, terdapat paul eritematosa berskuama tersebar dikedua telapak
tangan dan kaki. Terdapat lesi yang sama di perianal dan pembesaran kelenjar getah bening generalisata yang tidak nyeri. Hasil pemeriksaan VDRL: 1/64 dan TPHA: 1/640.
Pasien mempunyai riwayat alergi penisilin.
Penatalaksanaan pasien ini adalah:
A. Desensitisasi penisilin
B. Azitromisin 1 gram dosis tunggal
C. Doksisiklin 2x100 mg/hari selama 30 hari D. Eritromisin 4x500 mg/hari selama 30 hari
E. Seftriakson 250 mg intramuskular dosis tunggal
23.Gambaran klinis infeksi N. gonnorhoe sangat bervariasi. Manifestasi klinis infeksi gonokokal pada laki-laki yang paling sering adalah:
A. Proktitis B. Prostatitis C. Epididimitis
D. Uretritis posterior
E. Uretritis anterior akuta
24. Seorang laki-laki usia 35 tahun datang dengan keluhan luka pada alat kelamin dan bengkak di selangkangan sejak 3 minggu yang lalu. Awalnya terdapat bintil kecil bernanah di penis kemudian pecah dan muncul luka di tempat tersebut. Luka semakin luas, disertai keluhan nyeri. Sudah berobat tapi tidak membaik. Pemeriksaan fisik pada sulkus koronarius didapatkan ulkus multipel
berdiameter 2-3 cm, tepi ulkus tidak rata, berbatas tegas, menggaung, dasar ulkus kotor, mudah berdarah, dan
nekrotik; disertai pembesaran kelenjar getah bening
inguinal kiri. Pemeriksaan kultur standar dapat dilakukan pada media:
A. Media Thayer Martin dan Sel McCoy
B. Media Sel McCoy dan media Mueller-Hilton
C. Media agar gonokokus dan media Mueller-Hilton D. Media Mueller-Hilton dan Saboroud Dextrose Agar E. Modified Thayer Martin dan media agar gonokokus
25. Seorang laki-laki usia 35 tahun datang dengan keluhan luka pada alat kelamin dan bengkak di selangkangan sejak 3 minggu yang lalu. Awalnya terdapat bintil kecil bernanah di penis kemudian pecah dan muncul luka di tempat tersebut. Luka semakin luas, disertai keluhan nyeri. Sudah berobat tapi tidak membaik. Pemeriksaan fisik pada sulkus koronarius didapatkan ulkus multipel
berdiameter 2-3 cm, tepi ulkus tidak rata, berbatas tegas, menggaung, dasar ulkus kotor, mudah berdarah, dan
nekrotik; disertai pembesaran kelenjar getah bening inguinal kiri. Pilihan terapi untuk kasus di atas adalah:
A. Azitromisin 1 gram per oral dosis tunggal dan insisi bubo B. Azitromisin 500 mg per oral dosis tunggal dan aspirasi bubo C. Benzatin penisilin G 2,4 juta unit injeksi intramuskular dosis
tunggal
D. Seftriakson 500 mg injeksi intramuskular dosis tunggal dan insisi bubo
E. Seftriakson 500 mg injeksi intramuskular dosis tunggal dan aspirasi bubo