Daftar Pustaka
• Fitzpatrick's Dermatology, Ninth Edition
• Panduan Praktik Klinik PERDOSKI thn
1. Golongan imidazole topikal yang paling aman untuk ibu
hamil adalah
a.
Ekonazol
b.
Oksinazol
c.
Mikonazol
d.
Sulkonazol
e.
Ketokonazol
2. Seorang perempuan, berusia 65 tahun, pengidap diabetes melitus, mengeluh timbul bercak merah dan gatal di kedua lipat paha. Pemeriksaan fisik tampak plak eritematosa, maserasi, dan lesi satelit. Pemeriksaan langsung dari kerokan kulit ditemukan blastospora dan pada biakan tumbuh kandida. Spesies penyebab yang paling mungkin pada kasus ini adalah:
a. Candida krusei b. Candida albicans c. Candida glabrata d. Candida tropicalis e. Candida prapsilosis
Kandidiasis Kutis
• Dapat ditemukan pada semua
usia, mengenai daerah
intertriginosa yang lembab dan
mudah mengalami maserasi,
misalnya sela paha, ketiak, sela
jari, infra mamae, atau sekitar
kuku, dan juga dapat meluas ke
bagian tubuh lainnya
• Kulit tampak bercak
eritematosa berbatas tegas,
bersisik, basah, dikelilingi oleh
lesi satelit berupa papul, vesikel
dan pustul kecil di sekitarnya
3. Seorang perempuan, 30 tahun, mengeluh bintil merah dan lenting di telapak tangan dan kaki yang gatal sejak 1 minggu lalu. Ditemukan papul dan vesikel di telapak tangan dan kaki, serta urtikaria di
lengan bawah. Pada sela paha dan bokong ditemukan plak
eritematosa dengan tepi lebih aktif. Pasien pernah mengkonsumsi griseofulvin dari Puskesmas dan lesi di telapak tangan serta kaki membaik jika mengkonsumsi obat tersebut. Hasil pemeriksaan laboratorium ditemukan hifa panjang bersepta pada sela paha dan bokong, namun pada lesi di telapak tangan tidak ditemukan. Lesi pada telapak tangan tersebut merupakan:
a. Tinea manus
b. Reaksi dermatofitid c. Dermatitis dishidrotik
d. Erupsi obat alergi tipe urtikaria
4. Seorang laki-laki, berusia 16 tahun, atlet, datang dengan keluhan bercak putih pada dada dan punggung tanpa keluhan subjektif. Terdapat riwayat berobat di Puskesmas sebelumnya untuk
penyakit panu. Pada pemeriksaan fisis, ditemukan makula
hipopigmentasi, multipel dengan bentuk tidak teratur dan ukuran bervariasi. Pemeriksaan dengan lampu Wood memberikan hasil negatif. Salah satu penyebab terjadinya bercak hipopigmentasi tersebut adalah:
a. Malassezin mengabsorbsi ultraviolet b. Asam azaleat mengabsorbsi ultraviolet c. Pteridin menginduksi apoptosis melanosit d. Pitiriasitrin dari jamur menghambat tirosinase
Pitiriasis Versikolor
• Penyakit infeksi oportunistik kulit
epidermomikosis, disebabkan oleh jamur
Malassezia sp. (Pitryrosporum
orbiculare/P.ovale) yang ditandai dengan
makula hipopigmentasi atau hiperpigmentasi
dan kadang eritematosa
• Penyakit ini dapat ditemukan pada semua
usia, terutama pada usia 20-40 tahun, lesi
terutama pada daerah seboroik; tidak
• Anamnesis: bercak di kulit,
yang kadang menimbulkan
rasa gatal terutama bila
berkeringat. Rasa gatal
umumnya ringan atau tidak
ada sama sekali. Warna dari
bercak bervariasi dari putih,
merah muda hingga coklat
kemerahan
• Status dermatologikus:
Predileksi lesi terutama di
daerah seboroik, yaitu tubuh
bagian atas, leher, wajah dan
lengan atas; berupa bercak
hipopigmentasi, eritema
hingga kecoklatan, konfluen
dengan skuama halus
Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan dengan lampu Wood: terlihat fluoresensi berwana kuning keemasan
2. Pemeriksaan langsung dari bahan kerokan kulit dengan mikroskop dan larutan KOH 20%: tampak spora berkelompok dan hifa pendek. Spora
berkelompok merupakan tanda kolonisasi,
sedangkan hifa
menunjukkan adanya infeksi
5. Berapa lama jeda waktu yang disarankan bagi seorang
laki-laki yang telah menyelesaikan terapi griseofulvin
untuk merencanakan memiliki anak?
a. 2 bulan
b. 4 bulan
c. 6 bulan
d. 8 bulan
e. 10 bulan
6. Mikosis subkutan yang dapat disebabkan oleh salah
satu spesies jamur dan bakteri aerob Actinomycetes,
adalah :
a. Sporotrikosis
b. Misetoma
c. Kromomikosis
d. Zigomikosissubkutan
e. Lobomikosis
Misetoma
• Pada lokasi inokulasi
(umumnya ekstremitas)
terbentuk papul dan nodus
yang tidak nyeri
• Selanjutnya terjadi
pembengkakan, abses,
sinus, dan fistel multipel,
serta keluar granul
• Warna granul membantu
dugaan penyebab yakni
granul hitam pada
eumisetoma, granul merah
dan kuning pada
aktinomisetoma, serta
warna lain dapat oleh
keduanya
• Lesi lanjut terdapat
gambaran parut
• Dapat mengenai tulang
• Predileksi di kaki, tungkai
dan tangan
• Pada sediaan KOH granul
berwarna, tampak filamen
halus (aktinomisetoma) atau
lebar (eumisetoma)
• Umumnya memberikan
respon dengan pengobatan.
Namun apabila telah masuk
pada fase lanjut maka dapat
terjadi infeksi bakteri
sekunder hingga terjadi
sepsis yang dapat
membahayakan nyawa
• Misetoma yang tidak
diobati dapat menyebabkan
destruksi tungkai hingga
amputasi
• Pengobatan dini dan durasi
pengobatan merupakan
faktor prognostik yang
penting
7. Fungistatik lipofilik yang bekerja menginhibisi 14-α –
demethylase adalah :
a. Imidazol
b. Flukonazol
c. Terbinafin
d. Itrakonazole
e. Griseofulvin
8. Dermatitis atopik dihubungkan dengan gangguan sawar kulit yang disebabkan oleh :
a. Upregulation filaggrin b. Downregulation loricrin
c. Peningkatan kadar seramid
d. Penurunan transepidermal water loss
DERMATITIS ATOPI
• Peradangan kulit yang bersifat kronis berulang,
disertai rasa gatal, timbul pada tempat predileksi
tertentu dan berhubungan dengan penyakit atopi
lainnya, misalnya rinitis alergi dan asma bronkial
• Terdapat 2 bentuk DA, yaitu ekstrinsik dan
intrinsik. Bentuk ekstrinsik didapatkan pada
70-80% pasien DA. Pada bentuk ini terjadi sensitisasi
terhadap alergen lingkungan disertai serum IgE
yang meningkat
9. Pernyataan benar yang merupakan kriteria mayor diagnosis dermatitis kontak iritan adalah:
a. Hasil tes tempel bervariasi
b. Awitan dermatitis segera setelah pajanan c. Awitan dermatitis 2 minggu setelah pajanan
d. Banyak orang yang terkena dalam satu Iingkungan
Dermatitis Kontak Iritan
• Dermatitis kontak iritan (DKI) adalah
inflamasi pada kulit, akibat respons
terhadap pajanan bahan iritan, fisik, atau
biologis yang kontak pada kulit, tanpa
Klasifikasi
1. Subjective irritancy
2. Irritant reaction
3. Suberythematous irritation
4. DKI akut
5. Delayed acute irritancy
6. DKI kronik (kumulatif)
7. Frictional dermatitis
8. Traumatic reactions
9. Pustular/acneiform
reactions
10. Asteatotic irritant eczema
Klinis
• Terdapat riwayat pajanan
dan hubungan temporal
dengan bahan iritan
• Tangan adalah lokasi
tersering, diikuti wajah, dan
kaki
• Gejala subyektif berupa rasa
gatal, terbakar/nyeri
• Sajian klinis bergantung pada
jenis iritan dan pola pajanan
• Biasanya disertai kulit kering
atau gangguan sawar kulit
• Bila pajanan dihentikan maka
lesi membaik
• Seringkali berhubungan
dengan pekerjaan/lingkungan
pekerjaan
10. Selain berfungsi sebagai
proteksi pada penyakit
infeksi, Th-17 juga
berperan pada :
a. Psoriasis
b. Liken planus
c. Pitiriasis rosea
d. Dermatitis atopik
e. Dermatitis numularis
11. Fenomena di bawah ini yang termasuk dalam fase
sensitisasi dari patofisiologi DKA adalah:
a. Pelepasan sitokin
b. Aktivasi sel T CD8+
c. Apoptosis keratinosit
d. Ekstravasasi pada dermis
Dermatitis Kontak Alergi
• Dermatitis kontak alergi (DKA) ialah
dermatitis yang terjadi akibat pajanan
dengan bahan alergen di luar tubuh,
diperantai reaksi hipersensitivitas tipe 4
(Coombs dan Gel)
• Klasifikasi:
1. DKA lokalisata
2. DKA sistemik
Klinis
• Riwayat terpajan dengan bahan alergen
• Terjadi reaksi berupa dermatitis, setelah pajanan ulang dengan
alergen tersangka yang sama
• Bila pajanan dihentikan maka lesi akan membaik
• Gambaran klinisnya polimorfik, sangat bervariasi bergantung
stadiumnya:
1. Akut: eritema, edema, dan vesikel
2. Subakut: eritema, eksudatif (madidans), krusta
3. Kronik: likenifikasi, fisura, skuama
• Lesi dapat juga non-eksematosa, misalnya: purpurik, likenoid,
pigmented, dan limfomatoid
• Gejala subyektif berupa rasa gatal
• Pada DKA lokalisata, lesi berbatas tegas dan berbentuk sesuai
dengan bahan penyebab
• Pada DKA sistemik, lesi dapat tersebar luas/generalisata
12. Diseminasi regional secara limfatik dengan perluasan
lesi di luar area aplikasi alergen merupakan sindroma
dermatitis kontak alergi stadium:
a. 1
b. 2
c. 3a
d. 3b
e. 4
13. Sitokin Th2 yang berperan
dalam menginduksi rasa
gatal hebat pada dermatitis
atopik adalah:
a. IL-4
b. IL-5
c. IL-13
d. IL-17
e. IL-31
14. Seorang perempuan usia 28 tahun datang dengan
keluhan gatal di kulit kepala setelah mengeriting rambut
3 hari lalu. Gatal disertai sisik halus dan bengkak pada
kulit kepala. Pemeriksaan fisik menunjukkan makula
eritematus berbatas tidak tegas disertai skuama,
edema, dan krusta. Bahan alergen yang dicurigai pada
kasus tersebut adalah:
a. MP (miroxylonpereirae)
b. GMT (glycerilthioglycolate)
c. PPD (paraphenylenediamine)
d. TSFR (tosylamide formaldehyde resin)
15. Dermatitis kontak iritan akibat kerja mempunyai bentuk
manifestasi klinis yang bervariasi. Bahan penyebab
dermatitis kontak iritan dengan bentuk klinis folikulitis
dan erupsi akneiformis adalah:
a. Borax
b. Mercury
c. Glass fiber
d. Adhesive tape
16. Yang berperan utama dalam proses angioedema
adalah :
a. lgE
b. Basofil
c. Sel mast
d. Histamin
e. Bradikinin
Angioedema
• Edema mendadak pada dermis bagian bawah dan
subkutis dengan manifestasi edema sewarna kulit atau
eritema pada area predileksi, yang sering disertai
keterlibatan lapisan submukosa
• Kadang-kadang disertai gejala subyektif nyeri atau
panas, rasa gatal jarang ada
• Angioedema disebut akut jika berlangsung kurang dari 6
minggu
17.Seorang perempuan, 30 tahun, mengeluh bercak merah dan bintil merah pada hampir seluruh tubuh sejak 3 hari lalu. Mulanya bercak merah timbul di wajah kemudian meluas kehampir seluruh tubuh disertai demam. Satu minggu yang lalu pasien mengeluh batuk dan pilek disertai demam dan diobati dengan sefadroksil, parasetamol, dan obat batuk hitam. Tanda vital pasien dalam batas normal,
namun terdapat pembesaran kelenjar getah bening aksila dan
inguinal. Pada hampir 70% dari luas tubuh didapatkan makula dan papule eritematosa, multipel, diskret. Hasil pemeriksaan
laboratorium terdapat eosinofilia, SGOT 542, SGPT 752. Diagnosis yang paling tepat untuk kasus ini adalah:
a. Erupsi obat
b. Sindrom DRESS
c. Nekrolisis epidermal toksik
d. Pustulosis eksantematosa generalisata akut
Klasifikasi
1. EOA ringan
• Urtikaria dengan atau tanpa
angioedema
• Erupsi eksantematosa
• Dermatitis medikamentosa
• Erupsi purpurik
• Eksantema fikstum (fixed
drug eruption/FDE)
• Eritema nodosum
• Eritema multiforme
• Lupus eritematosus
• Erupsi likenoid
2. EOA berat
• Pustular eksantema
generalisata akut (PEGA)
• Eritroderma
• Sindrom Stevens-Johnson
(SSJ)
• Nekrolisis epidermal toksik
(NET) atau sindrom Lyell
• Drug Reaction with
Eosinophilia and Systemic
Symptoms (DRESS)
• Anamnesis
1. Riwayat menggunakan obat secara sistemik (jumlah dan jenis obat, dosis, cara pemberian, lama pemberian, runtutan pemberian
pengaruh paparan matahari) atau kontak obat pada kulit yang terbuka (erosi, ekskoriasi, ulkus)
2. Riwayat timbulnya kelainan kulit dengan jarak waktu pemberian obat, apakah timbul segera, beberapa saat atau jam atau hari. Jenis
kelainan kulit yang terjadi antara lain pruritus, eritema, skuama, urtikaria, lepuh, erosi, ekskoriasi ulkus maupun nodus
3. Keluhan sistemik
4. Riwayat atopi diri dan keluarga, alergi terhadap alergen lain, serta alergi obat sebelumnya
• Pemeriksaan Fisik
Kelainan kulit umumnya generalisata atau universal, dapat setempat misalnya eksantema fikstum
18. Seorang laki-laki 60 tahun, datang ke Instalasi Rawat Darurat
Rumah Sakit dengan keluhan gatal seluruh tubuh disertai demam sejak 5 hari yang lalu. Penderita mempunyai riwayat nyeri sendi dan 1 bulan terakhir rutin mengkonsumsi Allopurinol dari dokter. Tiga hari terakhir disertai keluhan mual dan kulit sedikit menguning. Pemeriksaan klinis ditemukan patch eritematosa generalisata
dengan pustula mutipel tersebar diatasnya. Keadaan umum lemah, suhu 39 derajat celcius, didapatkan sklera ikterik. Ditemukan
limfadenopati inguinal dekstra dan sinistra. Diagnosis yang tepat untuk kasus tersebut adalah:
a. Serum Sickness b. Drug-induced lupus
c. Sneddon-Wilkinson disease
d. Hypersensitivity syndrome reaction
19. Peranan komplemen C5a dalam patogenesis urtikaria
saat infiltrasi seluler yaitu:
a. Aktivasi sel endothelial
b. Adhesi intersel molekul 1 dan selektin-E
c. Stimulasi sitokin dan monokin
d. Pelepasan sitokin
Urtikaria
• Urtikaria adalah suatu penyakit kulit yang
ditandai dengan adanya urtika berbatas
tegas, dikelilingi oleh daerah berwarna
kemerahan, dan terasa gatal
• Urtikaria dapat terjadi dengan atau tanpa
angioedema
20. Terdapat dua mekanisme utama untuk menghambat
pigmentasi kulit, yaitu menghambat tirosinase dan
mencegah transfer melanosom ke keratinosit. Bahan
yang memiliki kemampuan mencegah transfer
melanosom ke keratinosit adalah :
a. Arbutin
b. Asam kojik
c. Niasinamid
d. Ekstrak licorice
e. Ekstrak Mulberry
21.Seorang perempuan usia 53 tahun berobat dengan keluhan bercak hitam di kedua pipi sejak 1 tahun yang lalu. Terdapat riwayat
penggunaan krim malam dan tabir surya selama 4 tahun, tetapi bercak hitam semakin bertambah banyak. pada pemeriksaan fisis didapatkan makula hiperpigmentasi berwarna hitam pada kedua pipi. Pemeriksaan histopatologis tampak yellow-brown globules di papila dermis. Diagnosis yang paling sesuai pada kasus diatas adalah : a. Melasma b. Nevus Hori c. Riehl melanosis d. Lentigo simpleks e. Okronosis eksogen
22. Keadaan yang dijumpai pada alopesia areata adalah :
a. Fase telogen lebih panjang
b. Rambut terbanyak dalam fase anagen
c. Jumlah rambut fase katagen menurun
d. Fase anagen terhenti secara premature
e. Perubahan ke fase telogen diperlambat
23.Seorang perempuan, 31 tahun, mengeluh timbul kebotakan di beberapa tempat di kulit kepala sejak 1 bulan lalu tanpa disertai gatal. Riwayat atopi disangkal. Pada daerah oksipital ditemukan alopesia berdiameter 4 cm dan ketika rambut dicabut dari akarnya terdapat tanda exclamation hair. Bagian kulit kepala yang lain
tampak normal. Pengobatan yang paling tepat pada pasien ini adalah :
a. Kortikosteroid sistemik
b. Solusio difenil siklopropenon c. Finasterid 1 mg/hari dan PUVA
d. Injeksi kortikosteroid intralesi 10mg/ml
24. Seorang anak wanita berusia 10 tahundatang dengan keluhan rambut
rontok sejak 10 hari yang lalu. Rambut rontok terutama saat tidur, menyisir, dan dipegang. Sebelumnya pasien tidak pernah mengalami sakit
berat/parah, makan biasa, dan tidak minum obat-obatan. Pada
pemeriksaan tidak didapatkan alopesia, kadar ferritin 90 ng/mc, hair pull test positif, tes trichogram rasio anagen dan telogen 70:10. Terapi yang dapat diberikan pada kasus di atas adalah:
a. Suplemen besi
b. Kortikosteroid topikal c. Solusio Minoksidil 2% d. Kortikosteroid intralesi e. Kortikosteroid sistemik
25.Seorang wanita, 60 tahun dengan keluhan rambut rontok paska laparatomi abdomen untuk diseksi kolon dengan diagnosis
karsinoma kolon. Menurut penderita rambut rontok lebih dari 100 helai per hari, sehingga rambut penderita tampak tipis dan jarang. Diagnosis yang mungkin pada pasien tersebut adalah:
a. Anagen effluvium b. Telogen effluvium c. Alopesia areata
d. Short anagen sindrome e. Loose anagen sindrome