PENINGKATAN HASIL BELAJAR PUASA RAMADHAN DENGAN MENERAPKAN MODEL PROBLEM BASED
LEARNING KELAS V SDN MURUNG SARI 2
Fahriady
Pendidikan Profesi Guru, IAIN Palangka Raya Email : [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning terjadi peningkatan hasil belajar puasa Ramadhan di kelas V SDN Murung Sari 2. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) dan yang menjadi subjek penelitian adalah peserta didik kelas V SDN Murung Sari 2 yang berjumlah 12 orang, terdiri dari 8 orang peserta didik laki-laki dan 4 orang peserta didik perempuan. Adapun teknik pengumpulan data dengan observasi, tes, dan dokumentasi. Dalam menganalisis data digunakan rumus rata-rata nilai, prosentase ketuntasan belajar dan data hasil observasi. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa hasil belajar puasa Ramadhan mengalami peningkatan setelah menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning di kelas V SDN Murung Sari 2. Hal tersebut dapat dilihat pada nilai peserta didik sebelum menerapkan model Problem Based Learning adalah rerata 55 dengan prosentase ketuntasan klasikal 33,33%.
Kemudian pada siklus I didapat rerata nilai 67,50 dengan prosentase ketuntasan klasikal 66,67%. Dan pada siklus II di dapat rerata nilai 80 dengan prosentase ketuntasan klasikal 83,33%. Hasil belajar dari pra siklus sampai siklus II mengalami peningkatan signifikan dengan menerapkan model Problem Based Learning.
Kata Kunci : Peningkatan, Hasil belajar, Problem Based Learning
PENDAHULUAN
Anak-anak generasi sekarang dikenal dengan anak-anak generasi Z dan alpha yang sangat familiar dengan teknologi informasi dan komunikasi seperti gadget dengan beragam variasinya. Hal ini membuat mereka sangat mudah untuk mengakses informasi dari berbagai sumber hanya dalam hitungan detik.
Yang menjadi masalah adalah tidak semua informasi yang mereka akses tersebut
baik bagi mereka. Bahkan bisa membuat pengaruh buruk bagi akhlak dan kepribadian mereka. Untuk memfilter dampak negatif tersebut maka diperlukan pondasi agama yang kuat. Salah satu cara yang dilakukan untuk memberikan pondasi agama yang kuat kepada peserta didik adalah melalui Pendidikan Agama Islam (PAI). Pendikan Agama Islam (PAI) terdiri dari dua makna esensial yakni “Pendidikan” dan “Agama Islam”. Menurut Al Ghazali dalam Firmansyah (2019) “Pendidikan adalah usaha pendidik untuk menghilangkan akhlak buruk dan menanamkan akhlak yang baik kepada siswa sehingga dekat kepada Allah dan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Sedangkan Agama Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam.
Menurut Chabib Thoha dan Abdul Mu’thi dalam Samrin (2015), menyatakan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama Islam melalui kegiatan bimbingan dan pengajaran atau latihan dengan memperhatikan tuntunan untuk menghormati agama lain. Ilmu yang utama dalam agama Islam adalah ilmu agama yang mampu menghantarkan keselamatan di dunia dan akhirat bagi orang-orang beiman yang mengamalkannya. Di dalam ajaran agama Islam menuntut ilmu agama hukumnya wajib bagi setiap muslim baik laki-laki atau perempuan. Hal ini berdasar pada hadits Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah (Hakim, 2013) yang artinya “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224).
Dalam proses pembelajaran di kelas sering timbul masalah yang pada umumnya dialami oleh siswa. Masalah yang dihadapi oleh peserta didik bersifat unik berbeda antara peserta didik yang satu dengan peserta didik yang lain.
Salah satu masalah peserta didik adalah kesulitan ataupun rendahnya hasil belajar yang dialami peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Melihat kenyataan di Murung Sari 2 yang hasil pembelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas V pada sekolah tersebut masih belum terlihat baik, dalam arti masih banyak peserta didik hasil belajarnya dibawah KKM yakni hanya 33,33 % yang tuntas berdasarkan kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan oleh guru. Hal tersebut disebabkan karena cara mengajar guru masih menggunakan metode ceramah sehingga anak menjadi tidak fokus dan merasa jenuh dalam pembelajaran. Kondisi pembelajaran yang seperti itu yang menyebabkan hasil belajar peserta didik masih banyak di bawah KKM.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut guru perlu melakukan perubahan cara mengajar dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning). Menurut Herawati (2018), belajar pemecahan
masalah, adalah belajar menggunakan metode-metode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur, dan teliti, yang bertujuan untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas, dan tuntas. Satu di antara kelebihan model Problem Based Learning adalah proses pembelajaran yang berbasis masalah kontekstual sehingga memudahkan peserta didik dalam memahami isi pelajaran karena permasalahan tersebut nyata dan dekat dengan keseharian mereka. Sanjaya dalam Tyas (2017) mengemukakan beberapa kelebihan yang ada pada model pembelajaran Problem Based Learning sebagai berikut; 1) Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif siswa dalam bekerja, memotivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok; 2) Dengan Problem Based Learning (PBL) akan terjadi pembelajaran bermakna. Siswa belajar memecahkan suatu masalah maka siswa akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan; 3). Membuat siswa menjadi pebelajar yang mandiri dan bebas; 4) Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang meraka lakukan, juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil belajar maupun proses belajar.
Dengan berbagai kelebihan yang telah disebutkan di atas diharapkan dapat membuat anak menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran. Selain itu peserta didik berpikir kritis dan pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi peserta didik. Sehingga hasil belajar yang diperoleh peserta didik pun menjadi maksimal. Hal tersebut bersesuaian dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Elena Sastri (2022) dalam Jurnal Pendidikan Profesi Guru Agama Islam dengan judul “Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Menggunakan Pendekatan Problem Based Learning Pada Materi Puasa Ramadhan Kelas 5 Di SDN 86 Bengkulu Tengah” bahwa dengan menggunakan pendekatan Problem Based Learning terjadi peningkatan aktifitas guru maupun peserta didik dalam proses pembelajaran pada siklus I sampai siklus II secara signifikan.
Adapun yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah hasil belajar peserta didik Kelas V SDN Murung Sari 2 yang masih banyak tidak mencapai KKM. Sedangkan yang menjadi rumusan masalah pada penelitian ini yakni: 1).
Apakah hasil belajar PAI pada materi puasa Ramadhan di Kelas V SDN Murung Sari 2 mengalami peningkatan dengan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning? 2). Apakah aktifitas belajar PAI pada materi puasa Ramadhan di Kelas V SDN Murung Sari 2 mengalami peningkatan dengan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning?
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1). Pengaruh penerapan model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) terhadap peningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran PAI materi puasa Ramadhan kelas V di SDN Murung Sari 2 Tahun Pelajaran 2022/2023. 2). Pengaruh penerapan model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) terhadap peningkatan aktifitas belajar peserta didik dan guru pada mata pelajaran PAI kelas V di SDN Murung Sari 2 Tahun Pelajaran 2022/2023. Sehingga penulis ingin mengkaji kembali penerapan model problem based learning pada mata pelajaran PAI dengan mengangkat judul penelitian “Peningkatan Hasil Belajar Puasa Ramadhan Dengan Menerapkan Model Problem Based Learning Di Kelas V SDN Murung Sari 2”.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk menambah wawasan dan pengetahuan, keterampilan mengenai penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam peningkatan hasil belajar dan aktifitas belajar peserta didik dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Bagi peserta didik, diharapkan dapat menciptakan kondisi belajar-mengajar yang menyenangkan, serta peserta didik dapat memiliki kemampuan 4C (Critical thinking, Creativity, Communication dan Collaboration). Kemudian bagi guru, diharapkan dapat dijadikan alternatif Model Pembelajaran yang dapat diterapkan pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang dapat mempengaruhi peningkatan hasil belajar dan aktifitas belajar peserta didik.
Penelitian ini diharapkan juga dapat memberikan kontribusi dalam rangka peningkatan kualitas dan mutu pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian bertempat di kelas V SDN Murung Sari 2 Kecamatan Amuntai Tengah Kabupaten Hulu Sungai Utara dengan waktu penelitian pada semester ganjil tahun pelajaran 2022/2023, yakni pada tanggal 03 Oktober sampai dengan 19 Desember 2022.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas merupakan suatu bentuk kajian atau kegiatan ilmiah dan bermetode yang dilakukan oleh guru/peneliti didalam kelas dengan menggunakan tindakan-tindakan untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran (Azizah, 2021). Siklus dalam penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan memuat 4 tahapan kegiatan, meliputi: 1) Perencanaan (Planning), adalah persiapan yang dilakukan untuk pelaksanaan PTK; 2) Pelaksanaan
Tindakan (Acting), adalah gambaran tindakan yang dilakukan, skenario kerja tindakan yang akan dikerjakan serta prosedur tindakan yang diterapkan; 3) Observasi (Observe), dilakukan untuk melihat apakah semua sesuai rencana yang telah dibuat, tidak ada penyimpangan yang bisa mempengaruhi tidak masimalnya peningkatan hasil belajar siswa; 4) Refleksi (Reflecting), adalah evaluasi tentang perubahan yang terjadi atau hasil yang diperoleh sebagai dampak tindakan yang telah dirancang (Riadi, 2019)
Yang menjadi subjek pada penelitian ini yaitu peserta didik kelas V SDN Murung Sari 2 sejumlah 12 orang, terdiri dari 8 orang peserta didik laki-laki dan 4 orang peserta didik perempuan. Sedangkan yang menjadi objek pada penelitian ini adalah peningkatan hasil belajar peserta didik kelas V pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) materi puasa Ramadhan di SDN Murung Sari 2.
Dalam proses pengumpulan data penelitian menggunakan observasi, tes, dan dokumntasi. Hal yang diobservasi adalah hasil belajar Pendidikan Agama Islam. Adapun instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi dan lembar catatan lapangan. Tes adalah berbagai pertanyaan yang membutuhkan jawaban testi (peserta tes) sebagai alat untuk mengukur/mengevaluasi pengetahuan, keterampilan, kecerdasan bakat maupun kemampuan yang terdapat pada individu maupun kelompok. Dalam proses pembelajaran tes digunakan untuk mengukur tinkat keberhasilan siswa setelah melakukan kegiatan belajar (Sunariah, 2014). Dokumentasi bertujuan untuk memperoleh data penunjang dalam penelitian yang bersumber dari tempat dan waktu penelitian.
Dokumentasi meliputi foto, video, guru, peserta didik, benda atau alat serta data- data lain yang relevan dalam pelaksanaan penelitian.
Adapun Teknik analisis data yang dilakukan pada penelitian adalah mengacu pada Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas V SDN Murung Sari 2 adalah 70. Dalam rangka mengetahui data tentang peningkatan hasil belajar pada siklus I dan siklus II serta peningkatan prosentasi belajar pada penelitian tindakan kelas ini, maka digunakan rumus sebagai berikut:
a. Rata-rata Nilai Rata-rata (X) = ∑𝑥
𝑁 Keterangan :
∑x = Nilai siswa.
N = Jumlah siswa.
b. Persentase Ketuntasan Belajar Ketuntasan Belajar (KB) = 𝐹
𝑁 x 100 Keterangan :
F = Jumlah Siswa yang mendapat nilai diatas 70 N = Jumlah Seluruh Siswa.
c. Data Observasi
Dari data observasi yang diperoleh dilapangan, kemudian diolah agar diketahui refleksi tindakan yang telah dilakukan. Data tersebut diolah secara deskriftif dengan rumus perhitungan :
Rata-rata skor = (𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑃𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎𝑛)
(𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑀𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙)) x 100
HASIL PENELITIAN
Pada siklus I setelah dilaksanakan pembelajaran dengan menerapkan model Problem Based Learning diperoleh hasil post test peserta didik dengan nilai terendah 40 didapat 2 orang peserta didik dan nilai tertinggi 90 didapat 2 orang peserta didik. Nilai 50 didapat 1 orang peserta didik, nilai 60 didapat 1 orang peserta didik, nilai 70 didapat 3 orang peserta didik, dan nilai 80 sebanyak 3 orang peserta didik. Terdapat 4 orang peserta didik yang belum tuntas, sehingga hanya 8 orang peserta didik yang tuntas KKM. Ketuntasan Klasikal yang diperoleh hanya 68,33% belum memenuhi KKM minimal sebesar 70%.
Adapun hasil observasi aktifitas peserta didik terjadi peningkatan aktifitas peserta didik pada penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), namun belum mencapai hasil yang maksimal. Hal ini dikarenakan belum terbiasanya peserta didik dengan model pembelajaran Problem Based Learning.
Sedangkan pada hasil observasi aktifitas guru menunjukkan bahwa guru belum sepenuhnya menjalankan aktifitas kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan baik, sehingga diperoleh hasil dengan kriteria cukup dan perlu dilakukan perbaikan agar aktifitas guru pada siklus II lebih meningkat.
Pada siklus II hasil post test peserta didik dengan nilai terendah 60 didapat 2 orang peserta didik dan nilai tertinggi 100 didapat 1 orang peserta didik. Nilai
70 didapat 2 orang peserta didik, nilai 80 didapat 3 orang peserta didik, nilai 90 didapat 4 orang peserta didik. Terdapat 2 orang peserta didik yang belum tuntas, sehingga ada 10 orang peserta didik yang tuntas KKM. Ketuntasan Klasikal yang diperoleh 83,33% dan melampaui target yang hendak dicapai KKM minimal sebesar 70%. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran PAI pada materi puasa Ramadhan dengan menggunakan model Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Pada siklus II, pelaksanaan proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning sudah baik. Hal ini bisa dilihat peserta didik fokus dan bersemangat dalam mengikuti pembelajaran PAI di kelas V SDN Murung Sari 2. Peserta didik pun telah mulai bisa mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya dan mulai bisa menanggapi pendapat atau pertanyaan dari kelompok lain. Dapat diketahui bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar materi puasa Ramadhan peserta didik, karena nilai indikator yang di alami peserta didik mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan observasi awal sebelum digunakan model pembelajaran Problem Based Learning dan hasil pada siklus I. Hal ini berbanding lurus dengan nilai indikator aktifitas guru dalam penerapan pembelajaran juga meningkat dan mencapai nilai 87,50% dengan kriteria baik.
Model pembelajaran Problem Based Learning menekankan keaktifan peserta didik. Peserta didik dituntut aktif dalam memecahkan suatu masalah (problem), model tersebut bercirikan penggunaan masalah kehidupan nyata sebagai sesuatu yang harus dipelajari oleh siswa untuk melatih dan meningkatkan keterampilan berfikir kritis sekaligus memecahan masalah, serta mendapatkan pengetahuan konsep-konsep penting. Guru harus memfokuskan diri untuk membantu siswa mencapai keterampilan mengarahkan diri, dengan model pembelajaran Problem Based Learning, akan lebih mudah menangkap materi pembelajaran yang disampaikan guru, dan pada akhirnya penguasaan materi belajar akan menjadi lebih baik. Sebab masih terdapat beberapa kekurangan dalam proses pembelajaran pada siklus I, sehingga berdampak kurangnya tingkat pemahaman peserta didik atas materi yang dipelajari. Hal ini bisa dilihat dari ketuntasan klasikal hasil belajar peserta didik pada siklus I yang baru mencapai 66,67% yang artinya baru 8 orang yang mendapatkan nilai tuntas dari 12 orang peserta didik yang ada. Namun dari data tersebut sudah ada peningkatan hasil belajar peserta didik pada siklus I dibandingkan sebelum data sebelumnya/pra siklus.
Pada siklus II terjadi peningkatan hasil belajar, ketuntasan klasikal sekitar 83,33% peserta didik telah mencapai KKM dengan nilai rata-rata 80. Jadi pada siklus II ini telah mencapai atau melebihi kriteria ketuntasan klasikal 70%. Hal
ini menunjukkan keberhasilan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dalam pembelajaran PAI di kelas V SDN Murung Sari 2.
Melalui hasil pengamatan observer dalam proses pembelajaran aktifitas peserta didik selama mengikuti pembelajaran materi puasa Ramadhan dengan model Problem Based Learning menunjukkan kenaikan dari siklus I aktivitas siswa adalah 70 (Cukup) menjadi 85 (Baik) pada siklus II. Sedangkan hasil observasi aktifitas Guru 77,08 (Cukup) pada siklus I meningkat menjadi 87,5 (Baik) pada siklus II.
Dengan demikian, berdasarkan hasil belajar dan hasil analisis lembar observasi aktifitas peserta didik dan Guru meningkat ke arah yang lebih baik dengan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada materi puasa Ramadhan untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas V SDN Murung Sari 2.
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian tindakan kelas siklus I dan II, maka dapat bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Agama Islam pada materi puasa Ramadhan di kelas V SDN Murung Sari 2. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil belajar pada pra siklus (sebelum penerapan Problem Based Learning) dengan nilai rata-rata 55 dan persentasi ketuntasan hanya mencapai 33,33%. Kemudian setelah diterapkan PBL pada siklus I, nilai rata-rata menagalami peningkatan menjadi 67,5 dan presentase ketuntasan 66,67%. Pada siklus II, peserta didik memperoleh nilai ratarata 80 dengan presentasi ketuntasan 83,33%. 2. Selain itu, dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning terjadi peningkatan aktifitas peserta didik dan aktifitas Guru. Dari siklus I aktivitas peserta didik adalah 70 (Cukup) naik menjadi 85 (Baik) pada siklus II. Sedangkan hasil observasi aktifitas Guru 77,08 (Cukup) pada siklus I meningkat menjadi 87,5 (Baik) pada siklus II
DAFTAR PUSTAKA
Azizah, A. (2021). PENTINGNYA PENELITIAN TINDAKAN KELAS BAGI GURU DALAM PEMBELAJARAN. Auladuna, 15-22.
Firmansyah, M. I. (2019). PENDIDIKAN AGAMA ISLAM : PENGERTIAN,
TUJUAN, DASAR, DAN FUNGSI. Jurnal Pendidikan Agama Islam -Ta’lim, 79-90.
Hakim, M. S. (2013, November 8). Setiap Muslim Wajib Mempelajari Agama.
Retrieved from muslim.or.id: https://muslim.or.id/18810-setiap-muslim-wajib- mempelajari-agama.html
Herawati. (2018). MEMAHAMI PROSES BELAJAR ANAK. Volume IV. Nomor 1 Januari – Juni. Jurnal Pendidikan Anak Bunayya
Riadi, Muchlisin. (2019). Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Diakses pada 1/1/2023, dari https://www.kajianpustaka.com/2019/03/penelitian-tindakan-kelas-ptk.html Samrin. (2015). Pendidikan Agama Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional di
Indonesia. Jurnal Al-Ta'dib, Vol.8 No.1.
Sastri, E. (2022). Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Menggunakan Pendekatan Problem Based Learning Pada Materi Puasa Ramadhan Kelas 5 DI SDN 68 Bengkulu Tengah. GUAU, 355-364.
Sunariah dkk.,. (2014). Panduan Moder Penelitian Kualitastif. Bandung: Alfabeta Tyas, R. (2017, Oktober). KESULITAN PENERAPAN PROBLEM BASED
LEARNING DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA. Tecnoscienza, 2 No.1, 43-52.