• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 4 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 4 Universitas Kristen Petra"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2.1. Studi Kelayakan Proyek

Studi kelayakan proyek adalah penelitian tentang dapat tidaknya suatu proyek (biasanya merupakan proyek investasi) dilaksanakan dengan berhasil.

Pengertian keberhasilan ini mungkin bisa ditafsirkan agak berbeda-beda. Ada yang menafsirkan dalam artian yang lebih terbatas, ada juga yang mengartikan dalam artian yang lebih luas. Artian yang lebih terbatas terutama dipergunakan oleh pihak swasta yang terutama lebih berminat tentang manfaat ekonomis suatu investasi. Sedangkan dari pihak pemerintah, atau lembaga non profit, pengertian menguntungkan bisa dalam arti yang lebih relatif. Mungkin dipertimbangkan berbagai faktor seperti manfaat bagi masyarakat luas, yang bisa berwujud penyerapan tenaga kerja, pemanfaatan sumber daya yang melimpah di tempat tersebut dan sebagainya. Bisa juga dikaitkan dengan misalnya, penghematan devisa ataupun penambahan devisa yang diperlukan oleh pemerintah (Husnan dan Suwarsono, 1984).

Studi kelayakan memiliki aspek-aspek yang sangat berpengaruh, antara lain:

a. Aspek pasar

Aspek pasar merupakan aspek yang pertama kali dilakukan dalam melakukan studi kelayakan. Data yang diperlukan dalam analisa aspek pasar dari usulan proyek adalah kecenderungan konsumsi/permintaan masa lalu dan sekarang, dan variabel-variabel yang berpengaruh yang dapat dijadikan dasar perumusan model peramalan pasar potensial di masa yang akan datang.

b. Aspek teknis

Aspek teknis merupakan suatu aspek yang berkenaan dengan proses pembangunan proyek secara teknik dan pengoperasiannya setelah proyek tersebut selesai dibangun. Berdasarkan pada analisa ini pula dapat diketahui rancangan awal penaksiran biaya investasi termasuk biaya eksploitasinya.

Yang termasuk dalam aspek teknis ini antara lain bahan baku, tenaga kerja, mesin, dan lokasi.

(2)

c. Aspek finansial

Aspek finansial merupakan aspek yang berkaitan dengan penghitungan dana yang dibutuhkan untuk pengadaan proyek, dan penghitungan berapa lama modal akan kembali (Husnan dan Suwarsono, 1984).

2.2. Peramalan Permintaan

Peramalan atau forecasting dapat diartikan sebagai penggunaan teknik- teknik statistik dalam membentuk gambaran masa depan berdasarkan pengolahan angka-angka historis. Peramalan tergantung kepada adanya data historis yang cukup agar dapat diuraikan secara statistik dan juga tergantung kepada faktor- faktor pembentuk pasar yang relatif stabil (Buffa, 1991).

Umumnya untuk menentukan atau merencanakan jumlah hasil yang akan diproduksi sangat ditentukan oleh jumlah atau besarnya permintaan akan produk tersebut. Oleh karena itu setiap perusahaan selalu memperkirakan atau meramalkan jumlah permintaan dari produknya. Berdasarkan jumlah permintaan yang diramalkan untuk operasi, maka subsistem produksi operasi merencanakan dan merancang sistem, menjadwalkan sistem, dan mengendalikan sistem tersebut.

Dalam merencanakan atau merancang sistem tercakup perancangan produk, perancangan proses, investasi dan penggantian peralatan, serta perencanaan kapasitas (Assauri, 1993).

Secara umum metode peramalan dapat dibagi dalam dua kategori utama, yaitu:

a. Metode Kualitatif

Metode kualitatif biasanya digunakan apabila data masa lalu tidak ada atau jarang. Metode ini dapat juga digunakan apabila pola data masa lalu tidak mencerminkan kondisi untuk masa yang akan datang.

b. Metode Kuantitatif

Metode kuantitatif digunakan apabila terdapat data masa lalu dan pola datanya mencerminkan kondisi untuk masa yang akan datang. Asumsi yang digunakan adalah adanya hubungan sebab akibat, yaitu bahwa yang telah terjadi di masa lalu akan terulang pada saat ini. Berdasarkan asumsi tersebut maka pola penjualan di masa lalu dapat digunakan untuk meramalkan penjualan untuk

(3)

masa mendatang, dengan catatan bahwa hubungan sebab akibat masa lalu tersebut belum berubah (Gaspersz, 2001).

Data masa lalu dipengaruhi oleh lima komponen utama, yaitu:

1. Kecenderungan (trend)

Data masa lalu mengandung trend apabila data tersebut cenderung naik, turun, ataupun konstan.

2. Siklus (cycle)

Siklus berkaitan dengan pola data masa lalu yang konsisten dan berulang selama periode tertentu. Pola sikus ini berguna untuk meramalkan penjualan jangka pendek.

3. Musiman (seasonal)

Komponen musim ini dipakai untuk peramalan jangka menengah. Pola data musiman (seasonal) ini berulang selama periode tertentu, akan tetapi tidak konsisten. Contoh data yang mengandung komponen musiman ini seperti penjualan pakaian jadi pada saat lebaran meningkat atau kenaikan arus penumpang pada saat masuk sekolah.

4. Acak

Data masa lalu mengandung komponen acak apabila plot data yang ada tidak menggambarkan trend, siklus, dan musiman secara jelas.

5. Kejadian Luar Biasa (erratic events)

Kejadian luar biasa ini mencakup kebakaran, perang, bencana alam, dan gangguan-gangguan lainnya. Komponen ini tidak dapat diramalkan dan harus disingkirkan dari data masa lalu (Buffa, 1991).

Peramalan yang digunakan untuk meramalkan permintaan adalah metode kuantitatif. Metode kuantitatif ada beberapa macam, yaitu:

1. Metode Rata-rata Bergerak (Moving Average)

Model rata-rata bergerak menggunakan sejumlah data aktual permintaan yang baru untuk membangkitkan nilai ramalan untuk permintaan di masa yang akan datang. Metode rata-rata bergerak akan efektif diterapkan apabila kita dapat mengasumsikan bahwa permintaan pasar terhadap produk akan tetap stabil sepanjang waktu. Formula untuk metode Moving Average adalah:

(4)

MA n-periode =

n

) terdahulu periode

- n dalam permintaan

(

(2.1) n = banyaknya periode dalam rata-rata bergerak

2. Metode Single Exponential Smoothing

Metode ini lebih menekankan dan memperhatikan data terbaru dan bukan pada data permintaan periode-periode sebelumnya karena data terbaru dapat mempengaruhi data berikutnya. Metode ini merupakan modifikasi rata-rata aritmetik dan metode Moving Average. Metode peramalan ini memberikan bobot lebih besar pada data masa lalu yang lebih akhir terjadi daripada data masa lalu yang Jebih awal terjadi. Besarnya bobot yang diberikan berkisar antara 0 dan 1. Metode ini cocok untuk data yang mempunyai time series acak dan linier.

3. Metode Double Exponential Smoothing

Metode ini dipakai jika data tidak mengandung seasonal, tetapi pada data yang mengandung trend (Gaspersz, 2001).

4. Metode Multiplicative Winter (Meeker, 2005)

Metode ini digunakan untuk data yang mempunyai komponen time series trend, seasonal, dan acak. Metode ini merupakan pendekatan eksponensial dari data seasonal. Formula untuk metode Multiplicative Winter adalah:

Lt = α (yt / St−p) + (1−α) [Lt−1 + Tt−1] (2.2) Tt = γ [Lt − Lt−1] + (1 − γ) Tt−1 (2.3)

St = δ (yt / Lt) + (1 − δ) St−p (2.4)

Yt = (Lt−1 + Tt−1) St−p (2.5)

Dimana:

• Lt is the level at time t

α is the weight for the level

• Tt is the trend at time t

γ is the weight for the trend

• St is the seasonal component at time t

δ is the weight for the seasonal component

p is the seasonal period

• yt is the data value at time t

(5)

• Yt is the fitted value, or one-period-ahead forecast, at time t

Bagaimanapun juga terdapat sejumlah indikator dalam pengukuran akurasi peramalan. Salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur akurasi peramalan adalah MAD (Mean Absolute Deviation). Akurasi peramalan akan semakin tinggi apabila nilai MAD semakin kecil. MAD dapat diukur dengan rumus:

MAD =

n

errors) forecast dari

absolut

(

(2.6) Dimana:

forecast errors = selisih data aktual dengan data peramalan

n = banyaknya periode data

2.3. Make or Buy Analysis

Analisis membuat atau membeli (make vs buy) ini melibatkan empat langkah dasar:

• Langkah 1: Menentukan layanan / jasa apa yang akan dianalisis

Langkah 2: Menghitung biaya in-house yang dapat dihindari dengan melakukan pemakaian jasa pada pihak ketiga (outsourcing)

Langkah 3: Menghitung total biaya outsourcing

Langkah 4: Membandingkan penghematan biaya dari outsourcing dengan biaya yang dikeluarkan untuk melakukan outsourcing tersebut

2.3.1. Menentukan Layanan / Jasa Apa yang Akan Dianalisis

Langkah pertama dalam analisis biaya untuk make vs buy adalah dengan jelas menetapkan layanan apa yang sedang dipertimbangkan untuk pembelian di pihak ketiga atau outsourcing seperti menentukan kualitas dan kuantitas layanan, serta input dan output yang diharapkan. Hal ini diperlukan agar ada perbandingan yang setara antara layanan yang sudah ada (in house) dan layanan yang diusulkan oleh kontraktor luar (outsourcing). Jika penentuan kualitas dan kuantitas pelayanan tidak benar atau tidak akurat, biaya in-house mungkin lebih tinggi (atau lebih rendah) dari biaya outsourcing karena perusahaan menyediakan lebih

(6)

banyak (atau kurang) pelayanan dari apa yang didokumentasikan dalam permintaan proposal.

Ketika menentukan kualitas dan kuantitas layanan, penting adanya untuk menyelidiki apakah pegawai pemerintah telah memberikan layanan tambahan kepada penduduk. Hal ini juga penting untuk menguji apakah sumber daya (tenaga kerja, fasilitas, peralatan, dan material) yang digunakan untuk layanan ini dibagi sama rata secara formal atau informal bersama dengan jasa pemerintahan lainnya.

2.3.2. Menghitung biaya in-house yang akan dihindari

Langkah kedua adalah menghitung biaya total yang akan dihindari atau disimpan oleh outsourcing layanan. Untuk menentukan biaya yang akan disimpan, pertama kita perlu merinci biaya layanan secara total dan akurat, termasuk semua biaya langsung dan tidak langsung. Kemudian, gunakan daftar biaya sebagai dasar dari mana untuk menentukan biaya-biaya tertentu yang akan disimpan seandainya pembelian pada pihak ketiga (outsourcing) dilakukan.

Perkiraan biaya harus dibuat atas dasar beberapa tahun ke depan dan penyesuaian dengan biaya yang berlaku sekarang untuk memastikan bahwa inflasi diperlakukan secara konsisten. biaya nominal harus digunakan jika tingkat diskon nominal digunakan, dan biaya riil harus digunakan jika tingkat diskon riil juga digunakan.

2.3.3. Menghitung total biaya outsourcing

Langkah ini untuk menghitung biaya total layanan outsourcing. Biaya- biaya outsourcing termasuk harga tawaran kontraktor, biaya administrasi kontrak, dan biaya transisi dari pemerintah ke pihak ketiga, dikurangi pendapatan baru yang dihasilkan dari outsourcing. Perkiraan biaya tersebut harus disesuaikan nilainya ke biaya yang berlaku sekarang dan mencakup periode yang sama dengan penghematan biaya pada langkah sebelumnya.

Agar konsisten di seluruh analisis, hanya biaya baru harus dihitung, bukan biaya yang akan timbul tanpa yang menyediakan layanan ini. Misalnya, jika pemerintah sudah mempekerjakan pekerja untuk melakukan administrasi kontrak,

(7)

biaya tersebut tidak harus dimasukkan dalam analisis selama mereka adalah karyawan yang ada.

Biaya administrasi kontrak. Biaya administrasi ini mencakup semua tugas yang diperlukan untuk memilih dan mengelola vendor selama masa kontrak. Tugas ini mungkin termasuk meninjau dan mengevaluasi RFP, menulis, dan negosiasi kontrak, perintah perubahan pengolahan dan amandemen kontrak, monitoring dan evaluasi kinerja vendor, pengurusan jika ada perselisihan dengan vendor, dan memproses pembayaran untuk vendor.

Biaya transisi. Biaya transisi ini mencakup semua biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah karena berpindah layanan ke kontraktor luar. Biaya-biaya transisi mungkin termasuk berbagai biaya yang berhubungan dengan personalia seperti memecat karyawan, termasuk kompensasi yang harus diberikan kepada karyawan- karyawan tersebut, tunjangan liburan, dan pesangon mereka. Biaya ini juga dapat mencakup persiapan fasilitas dan peralatan untuk digunakan oleh kontraktor luar.

Aset tersebut dapat dijual atau dibuang, dan menghasilkan pendapatan ekstra atau pengeluaran ekstra. Jika aset tersebut disewakan, pemutusan sewa lebih awal dapat menimbulkan tambahan biaya.

Pendapatan dari outsourcing. Setiap tambahan pendapatan yang pemerintah dapatkan sebagai hasil dari outsourcing harus dikurangi dari biaya outsourcing tersebut. Dalam beberapa kasus, keputusan untuk melakukan outsourcing layanan dapat mengakibatkan pajak meningkat dan tambahan pengeluaran dari kontraktor. Misalnya, kontraktor dapat membayar pajak properti pada fasilitas baru dibangun dalam batas kota. Sumber lain pendapatan adalah penjualan aset pemerintah yang tidak lagi diperlukan karena vendor menggunakan aset sendiri untuk menyediakan layanan tersebut. Sebagai contoh, pemerintah mungkin menjual truk sampah jika vendor menggunakan kendaraan sendiri. Penambahan pendapatan ini harus diperhatikan untuk memasukkan hanya pendapatan tambahan yang dihasilkan dari outsourcing.

2.3.4. Membandingkan Penghematan Biaya

Langkah terakhir dalam analisis make vs buy ini adalah untuk menghitung selisih antara biaya yang disimpan oleh outsourcing layanan dan biaya yang

(8)

dikeluarkan. Jika biaya yang disimpan secara signifikan lebih besar dari biaya yang dikeluarkan, maka outsourcing sangat mungkin dan masuk akal untuk dilakukan. Hasil akhir dari analisis biaya sering didasarkan pada asumsi yang memiliki tingkat ketidakpastian yang sudah disesuaikan dengan keadaan sebenarnya. Sebagai pembanding, akan sangat bijaksana jika dilakukan analisis sensitivitas, yang menguji sensitivitas pada hasil akhir perubahan asumsi.

Ada tiga metode utama untuk melakukan analisis sensitivitas. Salah satu metode untuk menghitung ulang hasil di bawah harapan, diharapkan, dan skenario optimis. Metode kedua adalah untuk menghitung ulang Hasil pengujian beberapa kali oleh masing-masing asumsi atas dengan perubahan variable secara luas. Sedangkan metode ketiga adalah untuk menghitung distribusi probabilitas untuk hasil dari analysis. Untuk mengatasi ketidakpastian yang melekat dalam analisis biaya, pemerintah kadang-kadang mengharuskan penghematan biaya dari outsourcing melebihi biaya penyediaan layanan in-house dengan marjin tertentu.

Ada banyak biaya dan manfaat non finansial yang sulit dihitung dalam jenis analisis ini, tetapi harus tetap dipertimbangkan. Misalnya, mungkin ada perbedaan yang signifikan dalam kualitas layanan yang disediakan oleh pemerintah dan kualitas dari layanan yang disediakan oleh kontraktor swasta.

Fasilitas yang kurang dimanfaatkan, tenaga kerja, dan peralatan selama periode transisi mungkin juga bisa merupakan opportunity cost kepada pemerintah. Outsourcing mungkin juga dapat mengurangi kemampuan pemerintah untuk menggunakan layanan ini untuk melaksanakan kebijakan- kebijakan yang mereka buat. Pada sisi positif, pergeseran layanan untuk kontraktor juga merupakan transfer kewajiban dan risiko lainnya kepada kontraktor (walaupun risiko ini juga mungkin diikutkan dalam harga kontrak) (Michel, 2004).

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan pada ilustrasi gambar di atas, diketahui bahwa melalui physical Facilities, yaitu kondisi fisik, meliputi: store location, store layout, design dan melalui

Menurut Djojowirono (1984), rencana anggaran biaya merupakan perkiraan biaya yang diperlukan untuk setiap pekerjaan dalam suatu proyek konstruksi sehingga akan

Bagi pihak investor, pemecahan saham diyakini dapat memberikan abnormal return setelah pemecahan saham, karena para investor pada umumnya mengindikasikan bahwa perusahaan

Beban preloading diberikan sebesar beban rencana atau lebih besar yang akan diberikan diatas tanah lunak tersebut dengan tujuan untuk mempercepat terjadinya penurunan rencana..

Seluruh manufacturing cost adalah product cost (Shim & Siegel, 1992). Period cost adalah semua biaya yang tidak langsung penting atau berhubungan dengan produksi. Contohnya

Tujuan dari K3 adalah menciptakan suatu lingkungan kerja yang sehat, aman, teratur dan sejahtera, sehingga hal ini dapat membuat suasana lingkungan kerja menjadi

Perencanaan sebuah sistem serta metode kerja bekisting menjadi sesuatu yang sepenuhnya perlu dipertimbangkan baik - baik. Sehingga segala resiko dalam pekerjaan tersebut

Lalu definisi berikutnya yang dapat menyatukan pandangan yang paling luar sekalipun mengenai efektifitas yang juga dikemukakan oleh Steers, Ungson dan Mowday adalah