KEDUDUKAN DAN PERAN ASN PADA
PUSAT PENELITIAN DAN PENGKAJIAN PERKARA, DAN PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN
KEPANITERAAN DAN SEKRETARIAT JENDERAL MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA
PELATIHAN DASAR CPNS GOL III
NamaPeserta : Zaka Firma Aditya, S.H.,M.H. Kelas/No. Presensi : Kelas A / 25
NIP : 19920529 201801 1 001
Jabatan : Peneliti Ahli Pertama
Unit Kerja : Pusat Penelitian dan Pengkajian
Perkara dan Pengelolaan Perpustakaan
Coach : Sobana, S.Sos.,M.M.
Arief Iswanto, S.A.P.
Mentor : Helmi Kasim, S.S.,S.H.,M.H.
PUSDIKLAT TEKFUNGHAN BADIKLAT KEMHAN BEKERJA SAMA DENGAN
MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN AKTUALISASI NILAI-NILAI DASAR PROFESI
ASN DAN
KEDUDUKAN DAN PERAN ASN
Disusun oleh:
Zaka Firma Aditya, S.H.,M.H. NIP. 19920529 201801 1 001
Telah disetujui oleh pembimbing pada 3 Juli 2018
Mentor,
Helmi Kasim, S.S.,S.H.,M.H., NIP. 19751231 200604 1 009
Coach I,
Sobana, S.Sos,M.M.
NIP. 19640615 199003 1 001
Mengetahui/menyetujui, a.n. Kepala
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tekfunghan Kabid Opsdiklat
LEMBAR PENGUJIAN
LAPORAN AKTUALISASI NILAI-NILAI DASAR PROFESI ASN DAN KEDUDUKAN DAN PERAN ASN
Telah diuji di depan penguji Pada 3 Juli 2018
Penguji,
DAFTAR ISI
Halaman Judul ... i
Lembar Pengesahan ... ii
Lembar Pengujian ... iii
Daftar Isi ... iv
Daftar Tabel ... vi
Daftar Gambar ... vii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Dasar Hukum ... 3
C.Tujuan ... 4
D. Manfaat ... 4
E. Ruang Lingkup Kegiatan ... 5
F. Sistematika Penulisan ... 5
BAB II GAMBARAN UMUM ORGANISASI A. GAMBARAN UMUM TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI. 6 I. Struktur Organisasi di Mahkamah Konstitusi ... 6
II. Tugas Pokok dan Fungsi Mahkamah Konstitusi... 11
III. Visi dan Misi Mahkamah Konstitusi ... 12
IV. Nilai-Nilai Dasar Mahkamah Konstitusi ... 13
B. GAMBARAN UMUM TENTANG PUSAT PENELITIAN DAN PENGKAJIAN PERKARA, DAN PENGELOLAAN PERSPUSTAKAAN (PUSLITKA) MAHKAMAH KONSTITUSI ... 13
I. Gambaran Umum Organisasi di Pusat Penelitian dan Pengkajian Perkara, dan Pengelolaan Perpustakaan ... 13
II. Visi dan Misi Pusat Penelitian dan Pengkajian Perkara, dan Pengelolaan Perpustakaan (Puslitka) MK RI ... 15
A. INDIKATOR NILAI DASAR AKTUALISASI ... 16
B. RANCANGAN KEGIATAN AKTUALISASI ... 22
BAB IV PELAKSANAAN AKTUALISASI ... 58
A. Capaian Aktualisasi ... 58
B. Masalah dan Cara Mengatasi ... 83
C. Kegiatan Yang Tidak Terlaksana ... 85
D. Kegiatan Tambahan ... 86
E. Analisis Dampak ... 90
F. Rencana Aksi ... 93
BAB V PENUTUP ... 95
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Capaian Kegiatan Aktualisasi ... 58
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Struktur Organisasi Kepaniteraan MK ... 8
Gambar 2.2. Struktur Organisasi Mahkamah Konstitusi ... 10
Gambar 2.3 Struktur Organisasi Puslitka MK RI ... 14
Gambar 4.1 kegiatan Morning Review ... 62
Gambar 4.2. kegiatan Sharing Session Penulisan Hukum ... 65
Gambar 4.3. Kegiatan Sharing Session Penelitian Hukum ... 67
Gambar 4.4. FGD Internal Kajian Pendahuluan ... 71
Gambar 4.5. FGD Internal Kajian Pendahuluan bersama Peneliti Senior Sekaligus Mentor Bapak Helmi Kasim ... 71
Gambar 4.6. FGD Internal Kajian Pendahuluan bersama Kepala Bidang Penelitian dan Pengkajian Perkara ... 72
Gambar 4.7. FGD Internal Kajian Pendalaman bersama Kepala Bidang Penelitian dan Pengkajian Perkara ... 72
Gambar 4.8. Pembagian Kelompok Tim Penulisan Jurnal ... 74
Gambar 4.9. Penulisan Jurnal Bersama Tim ... 75
Gambar 4.10. Revisi Pertama Jurnal yang telah di submit ... 75
Gambar 4.11. Revisi Akhir Jurnal yang telah di submit ... 76
Gambar 4.12. Penyusunan Pacta Integritas dan Jargon Peneliti ... 77
Gambar 4.13. Penyusunan Pacta Integritas dan Jargon Peneliti ... 78
Gambar 4.14. Bedah buku “Kontroversi Undang-Undang Tanpa Pengesahan Presiden” oleh Dr. Fajar Laksono ... 80
Gambar 4.15. Notifikasi penerimaan abstrak dari International Conference on Comparative Law ASIAN-COL 2018 UMY Yogjakarta dan International Law of Asean Conference 2018, UITM Malaysia ... 83
Gambar 4.16. Pemaparan dan diskusi english day ... 88
Gambar 4.17. Lest Toefl LIA kelas A intermediate 4 ... 89
A. LATAR BELAKANG
Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah profesi bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang bekerja pada instansi pemerintah. Pasal 10 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, menyebutkan bahwa ASN mengemban 3 (tiga) fungsi atributif berupa melaksanakan kebijakan publik yang dibuat oleh pejabat pembina kepegawaian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (fungsi pelaksana kebijakan publik), memberikan pelayanan publik yang profesional dan berkualitas (fungsi pelayanan publik) dan mempererat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (fungsi perekat dan pemersatu bangsa).
ASN memiliki peran yang teramat penting dalam rangka menciptakan masyarakat madani yang taat hukum, berperadaban modern, demokratis, makmur, adil dan bermoral tinggi dalam penyelenggaraan pelayanan kepada masyarakat secara adil dan merata. Tujuan akhirnya adalah dalam rangka mencapai tujuan negara sebagaimana tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu melindungi segenap bangsa indonesia dan seluruh tumpah darah indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
profesionalisme dalam menjalankan tugas dan fungsinya serta dituntut harus bersih dan bebas dari praktek-praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).
Pada prakteknya, implementasi dari fungsi, tugas serta peran ASN sebagaimana diamanatkan dalam UU No. 5 Tahun 2014 tidaklah mudah. Dalam hal ini, seorang ASN dituntut kesungguhan, kedisiplinan, motivasi, inovasi dan komitemen serta menjalankan tugasnya dengan penuh tanggungjawab. Keberhasilan pegawai ASN dalam melakukan pelayanan publik akan meningkatkan kredibilitas unit kerja dan mendorong keberhasilan institusinya. Selain itu, dalam menjalankan tugas dan fungsinya, ASN juga wajib menjunjung tinggi rasa persatuan dan kesatuan bangsa dimana kepentingan kelompok, individu dan golongan harus dikesampingkan demi kepentingan negara dan masyarakat luas.
Dalam rangka membentuk birokrasi yang profesional, diperlukan adanya pembinaan melalui pendidikan dan pelatihan. Pendidikan dan Pelatihan dasar CPNS (Latsar CPNS) adalah salah satu syarat bagi calon PNS untuk diangkat menjadi PNS. Pendidikan dan pelatihan dasar CPNS dilaksanakan untuk memberikan pengetahuan dan pembentukan wawasan kebangsaan, kepribadian dan etika PNS, pengetahuan dasar tentang sistem penyelenggaraan pemerintahan negara, bidang tugas dan budaya organisasinya agar nantinya mampu melaksanakan tugas dan perannya sebagai pelayanan masyarakat.
campus adalah pendidikan dimana peserta harus melakukan aktualisasi nilai-nilai ANEKA yang telah dipelajari pada saat on campus dalam lingkungan kerjanya masing-masing.
UU No. 5 Tahun 2014 bertekad mengelola ASN agar menjadi semakin profesional dengan tujuan utama membangun aparat sipil negara yang memiliki integritas, profesional dan netral serta bebas dari intervensi politik, bebas dari KKN, serta mampu menyelenggarakan pelayanan publik yang berkualitas bagi masyarakat. Pola baru ini diterapkan karena adanya perubahan pola pikir ASN dari yang semula cenderung ingin dilayani publik menjadi pola melayani publik. Proses pembelajaran dan pendidikan ini juga bertujuan untuk mendapatkan mutu sumber daya manusia sesuai dengan tuntutan kebutuhan pembangunan. Tujuan akhirnya adalah terbentuknya ASN profesional yang produktif, efektif dan efisien dalam bekerja serta memiliki jiwa nasionalisme, etika publik, berkomitmen untuk menjunjung mutu, berkomitmen untuk bekerja secara akuntabel dan berkomitmen untuk anti korupsi.
B. DASAR HUKUM
I. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 Tentang Pertahanan Negara;
II. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara;
III. Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2015 Tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara Tahun 2015-2019; IV. Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 Tentang
Manajemen Pegawai Negeri Sipil;
C. TUJUAN
Tujuan yang hendak dicapai dari pendidikan dan pelatihan dasar CPNS ini adalah mampu mengaktualisasikan nilai-nilai dasar profesi ASN dalam kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan di Pusat Penelitian dan Pengkajian Perkara, dan Pengelolaan Perpustakaan (Puslitka) Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, meliputi:
I. Mengaktualisasikan nilai-nilai Akuntabilitas sehingga memiliki tanggungjawab dan integritas tinggi terhadap apa yang akan dan sudah dikerjakan;
II. Mengaktualisasikan nilai-nilai Nasionalisme sehingga dalam bekerja dilandasi atas semangat dan nilai-nilai pancasila; III. Mengaktualisasikan nilai-nilai Etika Publik sehingga dapat
menciptakan lingkungan pelayanan yang baik;
IV. Mengaktualisasikan nilai-nilai Komitmen Mutu sehingga dapat mewujudkan pelayanan prima yang mengedepankan inovasi, kreatifitas dan efisiensi;
V. Mengaktualisasikan nilai-nilai Anti Korupsi sehingga dapat mewujudkan disiplin dan budaya positif yang anti korupsi di lingkungan kerja.
D. MANFAAT
I. Mampu mewujudkan Akuntabilitas dalam menjalankan tugas di Pusat Penelitian dan Pengkajian Perkara, dan Pengelolaan Perpustakaan (Puslitka) Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia;
II. Mampu mengamalkan nilai-nilai Pancasila dan Bela Negara dalam menjalankan tugas di Pusat Penelitian dan Pengkajian Perkara, dan Pengelolaan Perpustakaan (Puslitka) Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia;
Perkara, dan Pengelolaan Perpustakaan (Puslitka) Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia;
IV. Mampu mengedepankan kinerja untuk peningkatan mutu pelayanan di Pusat Penelitian dan Pengkajian Perkara, dan Pengelolaan Perpustakaan (Puslitka) Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia;
V. Mampu mewujudkan sikap dan perilaku Anti Korupsi dalam menjalankan tugas di Pusat Penelitian dan Pengkajian Perkara, dan Pengelolaan Perpustakaan (Puslitka) Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.
E. RUANG LINGKUP KEGIATAN
Aktualisasi kegiatan nilai-nilai dasar ASN akan dilaksanakan selama 80 (delapan puluh hari) mulai tanggal 26 Februari 2018 sampai tanggal 2 Juli 2018 bertempat di Pusat Penelitian dan Pengkajian Perkara, dan Pengelolaan Perpustakaan (Puslitka) Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Untuk daftar lengkap dan jadwal kegiatan selama aktualisasi dapat dilihat dalam lampiran.
F. SISTEMATIKA PENULISAN
A. GAMBARAN UMUM TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI I. Struktur Organisasi di Mahkamah Konstitusi
Mahkamah Konstitusi (MK) merupakan salah satu lembaga yang memegang kekuasaan kehakiman yang dibentuk setelah amandemen Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI Tahun 1945). Di dalam amandemen ketiga UUD 1945, dilakukan perubahan cukup signifikan pada Bab IX tentang Kekuasaan Kehakiman dengan mengubah Pasal 24 dan menambahkan tiga Pasal baru dalam ketentuan Pasal 24 UUD 1945. Ketentuan mengenai MK pertama kali disebutkan dalam Pasal 24 ayat (2) yang berbunyi “kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah mahkamah konstitusi.” Sedangkan ketentuan khusus mengenai MK diatur didalam Pasal 24C UUD 1945.
sebagai pengawal konstitusi yang berfungsi menegakkan keadilan konstitusional ditengah kehidupan masyarakat, Mahkamah Konstitusi bertugas mendorong dan menjamin agar konstitusi dihormati dan dilaksanakan oleh semua komponen negara secara konsisten dan bertanggung jawab.
Mahkamah Konstitusi diketuai oleh seorang Ketua Mahkamah Konstitusi dan seorang wakil ketua Mahkamah Konstitusi. Sedangkan Hakim Konstitusi berjumlah 9 (sembilan) orang yang dipilih dan diusulkan oleh Presiden, Dewan perwakilam rakyat (DPR) dan Mahkamah Agung (MA) masing-masing 3 (tiga) orang. Dalam menjalankan tugasnya mengawal tegaknya konstitusi, hakim konstitusi dibantu secara teknis administratif oleh Kepaniteraan dan Kesekretariatan Jenderal.
Berdasarkan Peraturan Sekretaris Jenderal Mahkamah Konstitusi Nomor 13 Tahun 2017 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kepaniteraan dan Sekretaris Jenderal Mahkamah Konstitusi, MK mendapatkan dukungan layanan teknis administratif dan administrasi umum dari Kepaniteraan dan Sekretariat Jenderal selaku birokrasi MK. Kepaniteraan merupakan jabatan fungsional yang menjalankan tugas teknis administratif peradilan mahkamah konstitusi. Tugas teknis administratif kepaniteraan sebagaimana dalam Pasal 2 ayat (2) Persekjen 13/2017 antara lain:
1. Koordinasi pelaksanaan teknis peradilan di Mahkamah Konstitusi; 2. Pembinaan dan pelaksanaan administrasi perkara;
3. Pembinaan pelayanan teknis kegiatan peradilan di Mahkamah Konstitusi; dan
4. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh ketua Mahkamah Konstitusi sesuai dengan bidang tugasnya.
Sementera itu di dalam menjalankan tugas dan fungsinya, kepaniteraan juga memiliki kewenangan sebagai berikut:
2. Menerbitkan akta yang menyatakan bahwa permohonan telah dicatat dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi terhadap permohonan yang lengkap;
3. Menerbitkan Akta yang menyatakan bahwa Permohonan telah dicatat dalam Buku Permohonan Tidak Diregistrasi terhadap permohonan yang tidak lengkap;
4. Menerbitkan Akta Pembatalan Registrasi Permohonan dan memberitahukan kepada pemohon disertai dengan pengembalian berkas permohonan;
5. Menetapkan hari sidang pertama dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak permohonan dicatat dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi dan jadwal sidang;
6. Menetapkan penugasan panitera pengganti dalam pelayanan perkara dan menetapkan petugas persidangan dalam pelayanan persidangan; dan
7. memberikan pertimbangan pengangkatan, pemindahan, penilaian dan pemberhentian panitera muda dan panitera pengganti.
Kepaniteraan dipegang oleh seorang panitera selaku pejabat eselon 1 dan dibantu oleh 3 (tiga) panitera muda yaitu panitera muda 1, panitera muda II dan panitera muda III selaku pejabat eselon 2. Sedangkan panitera muda dibantu oleh 9 (sembilan) orang panitera pengganti tingkat I dan 27 (dua Puluh tujuh) Panitera Pengganti tingkat I dan II. Secara lengkapnya, struktur organisasi kepaniteraan di Mahkamah Konstitusi dapat digambarkan sebagai berikut:
Sedangkan Sekterariat Jenderal dikepalai oleh seorang Sekretaris Jenderal selaku Pejabat Eselon 1 dan membawahi biro-biro dan pusat-pusat yang kedudukannya setara eselon 2. Di dalam Pasal 14 ayat (2) Persekjen 13/2017, Sekretariat Jenderal menjalankan tugas teknis administrasi di Mahkamah Konstitusi, meliputi:
1. Koordinasi pelaksanaan administratif di lingkungan Kepaniteraan dan Sekretariat Jenderal;
2. Penyusunan rencana dan program dukungan teknis administratif; 3. Pelaksanaan kerja sama dengan masyarakat dan hubungan antar
lembaga;
4. Pelaksanaan dukungan fasilitas kegiatan persidangan; dan
5. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Ketua Mahkamah Konstitusi sesuai dengan bidang tugasnya.
Sekretariat Jenderal dalam melaksanakan tugasnya, juga menyelenggarakan fungsi:
1. Koordinasi dan penyusunan rencana, program, dan anggaran; 2. Pembinaan dan pemberian dukungan administrasi yang meliputi
ketatausahaan, administrasi hakim, administrasi kepaniteraan dan risalah, kepegawaian, keuangan, kerumahtanggaan, kerja sama, hubungan masyarakat dan hubungan antarlembaga, tata usaha pimpinan dan protokol, arsip dan dokumentasi, pembinaan dan penataan organisasi dan tata laksana;
3. Pelaksanaan dukungan fasilitas kegiatan persidangan;
4. Penyelenggaraan pengelolaan barang milik/kekayaan negara dan pelayanan pengadaan barang/jasa;
5. Fasilitasi kesekretariatan tetap asosiasi Mahkamah Konstitusi se-Asia dan/atau institusi sejenis;
6. Penelitian dan pengkajian perkara, pengelolaan perpustakaan dan sejarah konstitusi;
10. Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Ketua Mahkamah Konstitusi.
Sementara itu, kewenangan yang dimiliki oleh Sekretariat Jenderal antara lain:
1. Menetapkan rencana strategis, program kerja dan anggaran Mahkamah Konstitusi;
2. Menetapkan tata cara pengelolaan organisasi dan tata kerja, sumber daya manusia, keuangan, serta barang milik negara;
3. Menandatangani perjanjian kerja sama; dan
4. Menetapkan peraturan, keputusan dan aturan kebijakan.
Di dalam struktur organisasi Kesekretariatan Jenderal terdapat 5 (lima) biro dan 3 (tiga) Pusat, yaitu biro Perencanaan dan Keuangan, Biro Sumber Daya Manusia dan Organisasi, Biro Hukum dan Administrasi Kepaniteraan, Biro Hubungan masyarakat dan Protokol dan Biro Umum, serta Pusat Penelitian, pengkajian perkara dan pengelolaan perpustakaan, Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi serta Pusat pendidikan Pancasila dan konstitusi dan sebuah inspektorat. Secara lengkap susunan organisasi Sekretariat Jenderal Mahkamah Konstitusi dapat digambarkan sebagai berikut:
I. Tugas Pokok dan Fungsi Mahkamah Konstitusi
MK mendapatkan kewenangan konstitusional sebagaimana dinyatakan di dalam Pasal 24C ayat (1) dan (2) UUD 1945. Pasal tersebut menetapkan secara limitatif kewenangan Mahkamah Konstitusi yang meliputi 4 (empat) kewenangan dan 1 (satu) kewajiban, yaitu:
1. Menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar;
2. Memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar;
3. Memutus pembubaran partai politik;
4. Memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.
MK juga memiliki satu kewajiban konstitusional berupa memberikan putusan atas pendapat dewan perwakilan rakyat (DPR) mengenai dugaan pelanggaran oleh presiden dan/atau presiden menurut undang-undang dasar. Kewajiban konstitusional MK ini kemudian dijabarkan secara terprinci dalam Pasal 10 UU MK yang berbunyi MK wajib memberikan putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden diduga telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela, dan tidak lagi memenuhi syarat sebagai presiden dan/atau wakil presiden sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Disamping 4 (empat) kewenangan Konstitusional dan 1 (satu) kewajiban konstitusional, MK juga memiliki kewenangan tambahan berupa
memutus perselisihan penetapan perolehan suara tahap akhir hasil pemilihan gubernur, bupati dan walikota. Terkait dengan kewenangan tambahan tersebut, MK memiliki dasar kewenangan berupa:
2. Pasal 157 ayat (3) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016, dimana MK berwenang mengadili perkara perselisihan penetapan perolehan suara tahap akhir hasil pemilihan gubernur, bupati dan walikota sampai dibentuknya badan peradilan khusus.
II. Visi dan Misi Mahkamah Konstitusi
Di dalam rencana strategis Mahkamah konstitusi 2015-2019, menyebutkan bahwa seiring dengan filosofi kehadiran MK dalam peradilan konstitusi yang mengemban tugas dan fungsi mengawal tegaknya konstitusi demi terwujudnya indonesia menjadi negara hukum yang demokratis, maka MK menetapkan visi:
“MENGAWAL TEGAKNYA KONSTITUSI MELALUI PERADILAN KONSTITUSI MODERN DAN TERPERCAYA”
Sedangkan untuk merefleksikan visi tersebut, MK kemudian menetapkan 2 (dua) misi yaitu:
1. Membangun sistem peradilan konstitusi yang mampu mendukung penegakan konstitusi
2. Meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai hak konstitusional warga negara
III. Nilai-Nilai Dasar Mahkamah Konstitusi
B. GAMBARAN UMUM TENTANG PUSAT PENELITIAN DAN
PENGKAJIAN PERKARA, DAN PENGELOLAAN
PERSPUSTAKAAN (PUSLITKA) MAHKAMAH KONSTITUSI
I. Gambaran Umum Organisasi di Pusat Penelitian dan Pengkajian Perkara, dan Pengelolaan Perpustakaan
Pusat penelitian dan pengkajian perkaram, dan pengelolaan perpustakaan (Puslitka) merupakan salah satu struktur organisasi dari kesekretariatan jenderal Mahkamah konstitusi yang selevel dengan eselon II. Puslitka merupakan suporting unit yang keberadaannya diranah Sekretariat Jenderal yang memberikan dukungan kepada Mahkamah Konstitusi dan memiliki keterkaitan langsung dengan proses penyelesaian perkara-perkara yang ditangani MK. Berdasarkan Pasal 86 Persekjen 13/2017, Puslitka memiliki tugas melaksanakan penelitian dan pengkajian perkara, pengelolaan perpustakaan dan sejarah konstitusi. Sementara itu, dalam Pasal 87 Persekjen 13/2017, Puslitka mengemban 9 (sembilan) fungsi, yakni:
1. Pelaksanaan penelitian;
2. Pelaksanaan pengkajian perkara; 3. Pelaksanaan penelaahan perkara;
4. Pelaksanaan penyiapan konsep pendapat hukum;
5. Pelaksanaan penyusunan dan pengembangan karya tulis ilmiah; 6. Pengelolaan terbitan berkala ilmiah;
7. Penyusunan naskah akademis draft peraturan;
8. Pengelolaan perpustakaan dan sejarah konstitusi; dan 9. Pelaksanaan ketatausahaan Pusat.
Sedangkan struktur organisasi dari Puslitka berdasarkan pasal 88 Persekjen 13/2017, yaitu:
4. Kelompok jabatan fungsional.
Bidang Penelitian dan Pengkajian Perkara, dan Pengelolaan Perpustakaan mempunyai tugas mengoordinasikan pelaksanaan penelitian, pengkajian perkara, penyiapan konsep pendapat hukum, penyusunan dan pengembangan karya tulis ilmiah, pengelolaan terbitan berkala ilmiah, serta penyusunan naskah akademis (pasal 89). Bidang Perpustakaan dan Sejarah Konstitusi mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan, pengembangan, pelayanan perpustakaan dan pusat sejarah konstitusi (pasal 90). Sedangkan Subbagian Tata Usaha mempunyai tugas melakukan ketatausahaan Pusat (pasal 91). Secara lengkapnya, struktur organisasi dari pusat P4 dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 3. Struktur organisasi di lingkungan pusat P4 MK RI
II. Visi dan Misi Pusat Penelitian dan Pengkajian Perkara, dan Pengelolaan Perpustakaan (Puslitka) MK RI
Dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai suporting unit khususnya kepada hakim kosntitusi, puslitka memiliki visi sebagai berikut:
TERSEDIANYA BAHAN SUBSTANTIF DALAM RANGKA MENGAWAL TEGAKNYA KONSTITUSI MELALUI PERADILAN
Sedangkan misi yang hendak diemban oleh puslitka diantaranya:
1. Menyusun rencana dan program penelitian dan pengkajian perkara dan pengelolaan perpustakaan
2. Melaksanakan program penelitian dan pengkajian perkara dan pengelolaan perpustakaan
A. INDIKATOR NILAI DASAR AKTUALISASI
Aparatur Sipil Negara (ASN) memiliki 3 (tiga) fungsi strategis dalam kerangka kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu melaksanakan kebijakan publik yang dibuat oleh pejabat pembina kepegawaian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (fungsi pelaksana kebijakan publik), memberikan pelayanan publik yang profesonal dan berkualitas (fungsi pelayanan publik) dan mempererat persatuan dan kesatuan Negara Kesautuan Republik Indonesia (fungsi perekat dan pemersatu bangsa). Di dalam menjalankan fungsi strategisnya tersebut, ASN dituntut untuk mafhum dan mengaktualisasikan nilai dasar ASN berupa Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi atau biasa disingkat ANEKA. Nilai-nilai dasar ANEKA ini harus tergurat dalam hati dan pola pikiran setiap ASN dimanapun dan kapanpun dia berada.
1. Akuntabilitas
Akubtabilitas adalah prinsip dasar bagi organisasi yang berlaku pada setiap leve organisasi sebagai suatu kewajiban jabatan dalam memberikan pertanggungjawaban laporan kegiatan kepada atasannya. Menurut Bevaola Kusumasari, dkk (2015:7), akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap individu, kelompok atau institusi untuk memenuhi tanggungjawab yang menjadi amanahnya. Amanah seorang ASN adalah menjamin terwujudnya nilai publik. Nilai-nilai tersebut antara lain:
b. Memiliki pemahaman dan kesadaran untuk menghindari dan mencegah keterlibatan PNS dalam politik praktis
c. Memperlakukan warga negara secara sama dan adil dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik
d. Menunjukan sikap dan perilaku yang konsisten dan dapat diandalkan sebagai penyelenggara pemerintahan
Adapun nilai-nilai dasar akuntabilitas adalah kepemimpinan, transparansi, integritas, tanggungjawab, keadilan, kepercayaan, keseimbangan, kejelasan, konsistensi, partisipatif, netral dan mendahulukan kepentingan publik.
2. Nasionalisme
Secara politis, makna nasionalisme merupakan manifestasi kesadaran nasional yang mengandung cita-cita dan pendorong bagi suatu bangsa, baik untuk merebut kemerdekaan atau mengenyahkan penjajahan maupun sebagai pendorong untuk membangun dirinya maupun lingkungan masyarakat, bangsa dan negaranya. Menurut Yudi Latief, dkk (2015:1), nasionalisme dalam arti sempit adalah suatu sikap yang meninggikan bangsanya sendiri, sekaligus tidak menghargai bangsa lain sebagaimana mestinya. Sedangkan dalam arti luas, nasionalisme merupakan pandangan tentang rasa cinta yang wajar terhadap bangsa dan negara dan sekaligus menghormati bangsa lain.
persamaan hak dan kewajiban antara sesama manusia dan sesama bangsa serta mengembangkan sikap tenggang rasa sesama manusia.
Nasionalisme sangat penting dimiliki oleh setiap pegawai ASN, bahkan tidak sekedar wawasan saja tetapi juga kemampuan mengaktualisasikan nasionalisme dalam menjalankan fungsi dan tugasnya merupakan hal yang lebih penting. Diharapkan dengan nasionalisme yang kuat, maka setiap pegawai ASN memiliki orientasi berpikir mementingkan kepentingan publik, bangsa dan negara. Pegawai ASN akan berpikir tidak lagi sektoral dengan mental blocknya, tetapi senantiasa mementingkan kepentingan yang lebih besar yakni bangsa dan negara (Yudi Latief, dkk, 2015:5).
Beberapa nilai dasar dari nasionalisme diantaranya; cinta tanah air, memelihara ketertiban, disiplin, musyawarah mufakat, kekeluargaan, menghormati kehormatan, tanggungjawab, kepentingan bersama, gotong royong, hidup sederhana, kerja keras, religius, menghargai orang lain dan patriotisme.
3. Etika Publik
Dalam kaitannya dengan pelayanan publik, etika publik didefinisikan sebagai refleksi terhadap standar/norma yang menentukan baik/buruk, benar/salah perilaku, tindakan dan keputusan untuk mengarahkan kebijakan publik (wahyudi Kumorotomo, 2015:5). Weihrich dan koontz (2005:46) mendefinisikan etika sebagai “the dicipline dealing with what is good and with moral duty and obligation”. Secara spesifik Collins Cobuild (1990:480) mendefinisikan etika sebagai “an idea or moral belief that influences the behaviour, attitudes and philosophy of life of
a agroup of people”.
a. Memegang teguh nilai-nilai dalam ideologi negara Pancasila b. Setia dan mempertahankan Undang-Undang Dasar negara
Republik Indonesia Tahun 1945
c. Menjalankan tugas dengan penuh profesional dan tidak memihak
d. Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian e. Menciptakan lingkungan kerja yang non diskriminatif f. Memelihara dan menjunjung tinggi standar etika luhur
g. Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada publik
h. Memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan program pemerintah
i. Memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap, cepat, tepat, akurat, berdaya guna, berhasil guna dan santun j. Mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi
k. Menghormati komunikasi, konsultasi dan kerjasama
l. Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai
m. Mendorong kesetaraan dalam pekerjaan
n. Meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis sebagai perangkat sistem karir
4. Komitmen Mutu
Mutu merupakan suatu kondisi dinamis berkaitan dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang sesuai atau bahkan melebihi harapan konsumen atau pengguna. William F. Christoper dan Carl G. Thor (2001:xi) mengatakan “quality can be defined as producing and delivering to customers without error and without waste
superior customer values in the products and services that each
Penyelenggaraan pemerintahan yang berorientasi pada layanan prima sudah tidak dapat ditawar lagi ketika lembaga pemerintah ingin meningkatkan kepercayaan publik. Apabila setiap lembaga pemerintah dapat memberikan layanan prima kepada masyarakat maka akan menimbulkan kepuasan bagi pihak-pihak yang dilayani.
Nilai-nilai dasar yang terkandung dalam komitmen mutu antara lain efektifitas, efisiensi, inovasi dan berorientasi mutu. Efektif diartikan sebagai berhasil guna, dapat mencapai hasil sesuai dengan target. Efisien diartikan berdaya guna, dapat menjalankan tugas dan mencapai hasil tanpa menimbulkan pemborosan. Inovasi diartikan sebagai penemuan sesuatu yang baru atau mengandung kebaruan. Sedangkan berorientasi mutu diartikan sebagai komitemn pada kepuasan pelanggan.
5. Anti Korupsi
Korupsi berasal dari bahasa latin corruptio dan corruptus yang berarti kerusakan atau kebobrokan. Dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Penegahan Tindak Pidana Korupsi jounto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 Tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, disebutkan bahwa terdapat 7 (tujuh) kelompok tindak pidana korupsi yaitu; kerugian keuangan negara, suap menyuap, pemerasan, perbuatan curang, penggelapan dalam jabatan, benturan kepentingan dalam pengadaan dan gratifikasi.
Sementara itu, selain ANEKA juga terdapat peran dan kedudukan ASN yang masuk dalam agenda ketiga pelatihan dasar CPNS berupa manajemen ASN, Whole of Government dan pelayanan publik.
1. Manajemen ASN
Menurut pasal 1 UU 5/2014, manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan pegawai ASN yang profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi politik dan bersih dari praktek KKN. Manajemen ASN lebih menekankan pada pengaturan profesi pegawai, harapannya agar selalu tersedia sumber daya ASN yang unggul selaras dengan perkembangan zaman.
2. Whole of Government
Whole of Government (WOG) adalah pendekatan penyelenggaraan pemerintahan yang menyatukan upaya-upaya kolaboratif pemerintahan dari kesatuan sektor dalam ruang lingkup koordinasi yang lebih luas guna mencapai tujuan-tujuan pembangunan kebijakan, manajemen program dan pelayanan publik.
3. Pelayanan Publik
Berdasarkan Pasal 1 UU 25/2009 tentang Pelayanan Publik, pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas jasa, barang, dan/atau pelayanan administrasi yang diselenggarakan oleh penyelenggara pelayanan publik.
B. RANCANGAN KEGIATAN AKTUALISASI
1. Sharing SessionPenulisan Hukum (legal writing)
saya memulainya dengan membaca doa (Nasionalisme: religius). Saat saya mengusulkannya dan mendiskusikannya dengan kepala bidang penelitian dan pengkajian perkara, saya akan menerima saran, masukan dan kritik dari beliau (musyawarah mufakat). Saya akan menggunakan tutur kata dan etika serta sopan santun saat berhadapan dan bertemu sekaligus berdiskusi dengan beliau (Etika Publik: Santun). Kemudian ketika saya membuat proposal, saya akan cermat dalam penulisan dan menggunakan bahasa indonesia yang baku yang sesuai EYD (Komitmen Mutu: kecermatan, ketelitian). Kemudian ketika saya menyusun kepanitiaan, saya akan membaginya secara adil dan proporsional dengan teman yang lain
(Komitmen Mutu: Partisipatif,keadilan) dan ketika mengadakan rapat untuk penentuan tema kegiatan dan waktu kegiatan, saya akan berusaha menggunakan nilai dasar musyawarah untuk mufakat dan menerima segala saran dan masukan yang membangun, saya tidak akan memaksakan kehendak/pendapat pribadi (Nasionalisme: musyawarah, mufakat). Saya juga akan mensosialisasikan kegiatan tersebut kepada peneliti dan/atau calon peneliti lainnya (Etika Publik: keterbukaan) dan ketika membuat laporan kegiatan sharing session ini, saya akan membuatnya dengan jujur dan penuh tanggungjawab dengan menggunkana tata bahasa dan penulisan yang sesuai EYD
(Komitmen Mutu: jujur, Amanah, tanggungjawab). Secara keseluruhan, kegiatan sharing session penulisan hukum termasuk dalam manajemen ASN, karena kegiatan sharing session penulisan hukum bertujuan untuk pengembangan kompetensi calon peneliti itu sendiri.
2. Sharing SessionLegal Research (Normatif dan Sisio Legal)
hasil). Kemudian ketika saya menyusun kepanitiaan, saya akan membaginya secara proporsional dengan teman yang lain (keadilan) dan ketika mengadakan rapat untuk penentuan tema kegiatan dan waktu kegiatan, saya akan berusaha menggunakan nilai dasar musyawarah untuk mufakat dan menerima segala saran dan masukan yang membangun, saya tidak akan memaksakan kehendak/pendapat pribadi (Nasionalisme: Adil, Musyawarah, Responsif, Partisipatif).
Saya juga akan mensosialisasikan kegiatan tersebut kepada peneliti lainnya (Etika Publik: Keterbukaan) dan ketika membuat laporan kegiatan, saya akan membuatnya dengan jujur dan penuh tanggungjawab (komitmen mutu: tanggungjawab, dedikasi, disiplin, jujur, amanah). Saya akan melaporkan hasil kegiatan sebagaimana mestinya (anti korupsi: Jujur, Tanggungjawab. Kegiatan sharing session legal research termasuk dalam kategori
manajemen ASN,karena kegiatan sharing sessionini bertujuan untuk pengembangan kompetensi calon peneliti dalam melakukan penelitian hukum (legal research).
3. Morning Review
Tentunya saya dalam mensosialisasikan kegiatan ini menggunakan kata-kata yang sopan dan baik serta padat berisi (Komitmen Mutu: Keterbukaan, Kejelasan). Setelah kegiatan selesai dilaksanakan, saya akan membuat laporan hasil kegiatan dan menyerahkannya kepada atasan (Komitmen Mutu: Tanggungjawab. Dalam membuat laporan kegiatan saya akan mengerjakannya dengan jujur, cermat dan penuh tanggungjawab (Anti Korupsi: Jujur, Amanah). Kegiatan morning review ini masuk dalam kategori manajemen ASN dan
Whole of Government.
4. Focus Group Discussion Perkara-Perkara Termutakhir (Analisis Perkara yang Telah Diputuskan)
Saya memulai kegiatan dengan berdoa kepada Tuhan YME
ASN, yaitu meningkatakan kompetensi peneliti dalam melakukan pengkajian dan penelaahan perkara.
5. Pembuatan dan Penulisan Jurnal Hukum
Saya kemudian mendiskusikan rencana kegiatan penulisan jurnal bersama peneliti yang lain, saya akan menerima saran dan masukan dari para peneliti yang lain (Nasionalisme: Musyawarah mufakat, komunikatif). Kemudian saya akan membentuk tim kecil untuk penulisan jurnal dengan anggota yang proporsional dan adil (Etika Publik: keadilan). Saya kemudian mengadakan rapat untuk menentukan isu hukum yang akan diangkat, saat rapat tersebut saya menggunakan dasar-dasar permusyawaratan untuk mufakat, saya tidak akan memaksakan pendapat sendiri (nasionalisme: Musyawarah mufakat). Saya melakukan pembagian tugas yang adil dan proporsional dalam mencari referensi (Etika Publik: Keadilan).
Kemudian di dalam melakukan penulisan, saya akan cermat dan teliti serta menggunakan kaidah bahasa Indonesia baku dan sesuai EYD. Selain itu, saya juga akan mengedepankan kode etik penulisan jurnal dan menghindari praktek-praktek plagiarisme (Komitmen mutu: kecermatan, ketelitian). Kegiatan ini termasuk dalam manajemen ASN terutama menyangkut peningkatan kompetensi peneliti dalam mengeluarkan produk penulisan.
6. Pembuatanpacta integritascalon Peneliti di Puslitka MKRI
saya akan menggunakan sopan santun, etika yang baik serta menggunakan bahasa indonesia yang sesuai kaidah EYD (Komitmen Mutu: Cermat, Teliti). Setelah disetujui, saya kemudian akan melakukan pengkajian secara cermat terkait perlu tidaknya pembuatan pacta integritas calon peneliti (Komitmen Mutu: Cermat, Teliti). Setelah itu, hasil kajian tersebut akan saya serahkan kepada atasan (Akuntabilitas: Responsif). Saya kemudian akan membuat FGD untuk membahas draft pacta integritas calon peneliti tersebut bersama peneliti lain. Saya akan menggunakan prinsip musyawarah mufakat, saya tidak akan memaksakan kehendak pribadi dan saya akan dengan senang hati menerima kritik, saran dan masukan dari peneliti yang lain (Nasionalisme: Musyawarah mufakat, komunikatif). Saya kemudian bersama peneliti yang lain akan membuat draft pacta integritas calon peneliti dan membandingkannya dengan yang ada di LIPI. Saya akan dengan penuh kecermatan, kehatia-hatian dan ketelitian dalam menyusun draft pacta integritas calon peneliti tersebut. Draft pacta integritas calon peneliti yang telah disusun kemudian saya serahkan kepada atasan untuk disetujui
(Komitmen Mutu: kecermatan, ketelitian). Setelah disetujui, saya kemudian akan mensosialisasikannya kepada peneliti lainnya baik secara langsung maupun melalui media sosial. Dalam mensosialisasikannya, tentunya saya akan menggunakan kalimat yang baik dan benar yang sesuai EYD serta padat berisi. (Etika publik: Keterbukaan, komunikatif). Secara keseluruhan, kegiatan pembuatan pacta integritas calon peneliti ini masuk dalam kategori
manajemen ASNdanWhole of Government.
7. Sharing Session Penyusunan Naskah Akademis Dan Legal Drafting
dan kritik dari beliau. Saya akan menggunakan tutur kata dan sopan santun saat berhadapan dan bertemu sekaligus berdiskusi dengan beliau (Etika Publik: Komunikatif, Responsif). Kemudian ketika saya membuat proposal, saya akan cermat dalam penulisan dan menggunakan bahasa indonesia yang baku yang sesuai EYD
(Komitmen Mutu: Kecermatan, Ketelitian). Kemudian ketika saya menyusun kepanitiaan, saya akan membaginya secara proporsional dengan teman yang lain dan ketika mengadakan rapat untuk penentuan tema kegiatan dan waktu kegiatan, saya akan berusaha menggunakan nilai dasar musyawarah untuk mufakat dan menerima segala saran dan masukan yang membangun, saya tidak akan memaksakan kehendak/pendapat pribadi (Nasionalisme: Musyawarah Mufakat, komunikatif). Saya juga akan mensosialisasikan kegiatan tersebut kepada peneliti lainnya (Etika Publik, Keterbukaan, Komunikatif) dan ketika membuat laporan kegiatan, saya akan membuatnya dengan jujur dan penuh tanggungjawab. Saya akan melaporkan hasil kegiatan sebagaimana mestinya (anti korupsi: Tanggungjawabn, kejujuran). Secara keseluruhan, kegiatan sharing session penyusunan Naskah Akademis dan Legal Drafting termasuk kedalam manajemen ASN, karena kegiatan ini dapat meningkatkan kompetensi calon peneliti.
8. Bedah Buku Hukum
saya memulainya dengan membaca doa (Nasionalisme: religius). Saat saya mengusulkannya dan mendiskusikannya dengan kepala bidang penelitian dan pengkajian perkara, saya akan menerima saran dan kritik dari beliau. Saya akan menggunakan tutur kata dan sopan santun saat berhadapan dan bertemu sekaligus berdiskusi dengan beliau (Etika Publik:Sopan, Santun, Komunikatif).Kemudian ketika saya membuat proposal, saya akan cermat dalam penulisan dan menggunakan bahasa indonesia yang baku yang sesuai EYD
kepanitiaan, saya akan membaginya secara proporsional dengan teman yang lain dan ketika mengadakan rapat untuk penentuan tema kegiatan dan waktu kegiatan, saya akan berusaha menggunakan nilai dasar musyawarah untuk mufakat dan menerima segala saran dan masukan yang membangun, saya tidak akan memaksakan kehendak/pendapat pribadi (Nasionalisme: Musyawarah). Saya juga akan mensosialisasikan kegiatan tersebut kepada peneliti lainnya (Etika Publik: Keterbukaan) dan ketika membuat laporan kegiatan, saya akan membuatnya dengan jujur dan penuh tanggungjawab. Saya akan melaporkan hasil kegiatan sebagaimana mestinya (anti korupsi: Tanggungjawab, jujur). Secara keseluruhan, kegiatan ini masuk dalam kategori Manajemen ASN, karena melalui kegiatan bedah buku ini, peneliti dan/atau calon peneliti dapat meningkatkan pengetahuan dan kompetensinya.
9. Conference Allert
Nama :ZAKA FIRMA ADITYA, S.H.,M.H.
Unit Kerja : Bidang Penelitian dan Pengkajian Perkara
Pusat Penelitian dan Pengkajian Perkara, dan Pengelolaan Perpustakaan (Puslitka) MKRI Identifikasi Isu : Belum optimalnya nuansa Kekompakan dan Nuansa Akademis di Lingkungan Puslitka MKRI. Analisis dampak : Apabila isu ini tidak teratasi, maka dikhawatirkan nuansa akademis di puslitka menjadi
berkurang yang berimbas pada berkurangnya kualitas produk yang dikeluarkan oleh puslitka, diantaranya penelitian tahunan, penelaahan perkara, pengkajian perkara, pembuatan naskah akademis, pembuatan konsep pendapat hukum dan tulisan-tulisan yang lain baik dalam jurnal maupun proceeding. Selain itu, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun kedepan terdapat peneliti-peneliti baru puslitka yang menjadi peneliti yang attachsecara langsung ke hakim konstitusi. Akibatnya, ketika nantinya para peneliti di puslitka telah attach secara langsung kepada hakim padahal nuansa akademis di puslitka belum optimal, maka dikhawatirkan kualitas dukungan substantif peneliti terhadap putusan hakim dapat berkurang. Dampak terparah dari adanya problematika ini adalah menurunyya kepercayaan publik terhadap Mahkamah Konstitusi.
Isu yang diangkat : Masing-masing peneliti telah Memiliki Kesibukan masing-masing sebagai peneliti yang
melekat langsung kepada Hakim Konstitusi sehingga nuansa kekompakan, kerjasama dan nuansa akademis di Puslitka cenderung berkurang.
Gagasan Pemecahan Isu : Meningkatkan dan menghidupkan kembali kekompakan dan nuansa akademis di
NO KEGIATAN TAHAPAN
1 SHARING SESSION PENULISAN HUKUM
UNTUK CALON
PENELITI CPNS
1. Mendiskusikan dan mengusulkan rencana kegiatan
sharing session
penulisan hukum untuk peneliti CPNS kepada kepala bidang penelitian dan pengkajian perkara
kepala bidang penelitian dan pengkajian
perkara mengetahui rencana kegiatan sharing session penulisan hukum untuk Calon Peneliti CPNS
Dalam mengusulkan kegiatan sharing session penulisan hukum, saya memulainya
dengan membaca doa
(Nasionalisme: religius). Saat saya
mengusulkannya dan
mendiskusikannya dengan kepala bidang penelitian dan pengkajian perkara, saya akan menerima saran, masukan dan kritik dari beliau (musyawarah mufakat). Saya akan
menggunakan tutur kata dan etika serta sopan santun
Dengan terlaksananya kegiatan
sharing session penulisan
hukum untuk peneliti CPNS, maka dapat meningkatkan kualitas peneliti khususnya CPNS dalam melakukan penulisan hukum. Tujuannya, nantinya agar tulisan-tulisan dalam bentuk telaah perkara dan legal opinion yang akan digunakan hakim konstitusi dalam
memeriksa dan memutus
Peningkatan kualitas peneliti dalam
melakukan penulisan
hukum baik dalam bentuk telaah perkara, legal opinion maupun anotasi putusan dapat memperkuat nilai-nilai di mahkamah konstitusi
khususnya nilai indep (4 pilar) yaitu integritas, disiplin,
dedikasi dan profesional. 2. Membuat proposal
kegiatan meliputi latar belakang, tujuan dan manfaat dari kegiatan sharing session penulisan hukum untuk peneliti CPNS kepada kepala bidang penelitian dan pengkajian perkara
kepala bidang penelitian dan pengkajian
perkara
mengetahui latar belakang, tujuan dan manfaat dari rencana kegiatan sharing session penulisan hukum untuk Calon Peneliti CPNS. Proposal kegiatan disetujui atasan 3. Membuat dan
menyusun tim kepanitian untuk
sharing session penulisan hukum untuk peneliti CPNS
penulisan hukum bagi calon peneliti CPNS
saat berhadapan dan bertemu sekaligus
berdiskusi dengan beliau (Etika Publik: Santun). Kemudian ketika saya membuat proposal, saya akan cermat dalam penulisan dan menggunakan bahasa indonesia yang baku yang sesuai EYD (Komitmen Mutu: kecermatan, ketelitian).
Kemudian ketika saya menyusun kepanitiaan, saya akan membaginya secara adil dan proporsional
dengan teman yang lain (Komitmen Mutu: Partisipatif,keadil an) dan ketika mengadakan rapat untuk penentuan tema kegiatan dan waktu kegiatan,
perkara menjadi semakin
berkualitas, kompleks dan padat berisi. Sehingga, kegiatan ini juga dapat
konstitusi yang
modern dan
terpercaya. 4. Mendiskusikan
mengenai tema kegiatan dan narasumber
sekaligus
menentukan waktu kegiatan
Terpilihnya tema kegiatan yang representatif, terpilihnya
narasumber yang kompeten dan profesional dan waktu kegiatan 5. Menghubungi
narasumber
narasumber mengetahui waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan dan mengkonfirmasi kehadirannya 6. Mensosialisasikan
kegiatan sharing session penulisan hukum untuk peneliti CPNS kepada para peneliti
Para peneliti dan/atau calon peneliti
calon peneliti saya akan berusaha
menggunakan nilai dasar musyawarah untuk mufakat dan menerima segala saran dan masukan yang membangun, saya tidak akan memaksakan kehendak/pendapa t pribadi (Nasionalisme: musyawarah, mufakat). Saya juga akan mensosialisasikan kegiatan tersebut kepada peneliti lainnya (Etika Publik:
keterbukaan) dan ketika membuat laporan kegiatan, saya akan
menggunkana tata bahasa dan 8. Membuat laporan
hasil kegiatan dan menyerahkannya kepada kepala bidang penelitian dan pengkajian perkara
9. Evaluasi kegiatan
Atasan mengetahui pertanggungjawa ban kegiatan dalam bentuk laporan hasil kegiatan
Diketahuinya kelemahan dan kelebihan dari pelaksanaan kegiatan
sehingga dapat menjadi acuan untuk
penulisan yang sesuai EYD (Komitmen Mutu: jujur, Amanah, tanggungjawab). Saya kemudian akan melaporkan hasil kegiatan sebagaimana mestinya (Anti Korupsi: Amanah, jujur,
tanggungjawab). Secara
2 SHARING SESSION LEGAL RESEARCH ( NORMATIF DAN SOCIO LEGAL)
1. Mendiskusikan dan mengusulkan rencana kegiatan sharing session penelitian hukum
normative dan
socio legal kepada kepala bidang penelitian dan pengkajian perkara
kepala bidang penelitian dan pengkajian
perkara mengetahui rencana sharing session penelitian hukum normatif dan socio legal bagi calon peneliti
Dalam mengusulkan kegiatan pelatihan penelitian hukum, saya memulainya dengan membaca doa
(Nasionalisme: religius). Saat saya
mengusulkannya dan
mendiskusikannya dengan kepala bidang penelitian dan pengkajian perkara, teliti, berorientasi pada hasil). Kemudian ketika saya menyusun
kepanitiaan, saya akan membaginya secara
proporsional
dengan teman yang lain (keadilan) dan ketika mengadakan rapat untuk penentuan tema kegiatan dan waktu kegiatan, saya
Tugas seorang peneliti adalah melakukan penelitian dan pengkajian perkara, oleh sebab itu
sharing session penelitian
hukum baik normative
maupun sosio legal, dapat meningkatkan pemahaman, pengetahuan dan skill peneliti dalam
melakukan penelitian hukum.
Kegiatan ini sangat
diperlukan untuk
Peningkatan kualitas peneliti dalam
melakukan penelitian
hukum baik secara
normative maupun
sociolegal dapat meningkatkan kualitas putusan hakim,
berdampak pada kembali tingginya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap MK. Secara
usbtantif,
kegiatan ini akan
berdampak pada nilai-nilai 2. Membuat proposal
kegiatan meliputi latar belakang, tujuan dan manfaat dari kegiatan sharing session penelitian hukum normative dan socio legal
kepala bidang penelitian dan pengkajian
perkara
mengetahui latar belakang, tujuan dan manfaat dari rencana sharing session penelitian hukum normatif dan socio legal untuk Calon Peneliti CPNS. Proposal kegiatan disetujui atasan 3. Membuat dan
menyusun tim kepanitian untuk sharing session penelitian hukum normative dan socio legal
Terbentuknya tim kepanitian yang representatif dan profesional
mengenai tema kegiatan dan narasumber
sekaligus
menentukan waktu kegiatan
kegiatan yang representatif, terpilihnya
narasumber yang kompeten dan profesional dan waktu kegiatan
akan berusaha menggunakan nilai dasar musyawarah untuk mufakat dan menerima segala saran dan masukan yang membangun, saya tidak akan memaksakan
Partisipatif). Saya juga akan mensosialisasikan kegiatan tersebut kepada peneliti lainnya (Etika Publik:
Keterbukaan) dan ketika membuat laporan kegiatan, saya akan membuatnya dengan jujur dan penuh
tanggungjawab (komitmen mutu: tanggungjawab, dedikasi, disiplin,
mendukung secara subtantif kepada hakim konstitusi
terhadap
perkara-perkara yang sedang ditangani. Sehingga, terlaksananya kegiatan ini dapat
konstitusi yang
modern dan
terpercaya. waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan dan mengkonfirmasi kehadirannya 6. Mensosialisasikan
kegiatan sharing session kepada para peneliti lain
Para peneliti dan/atau calon peneliti
mengetahui waktu dan tempat kegiatan kegiatan dengan lancar dan tanpa hambatan
8. Membuat laporan hasil kegiatan dan menyerahkannya kepada kepala bidang penelitian dan pengkajian perkara
9. Evaluasi kegiatan Diketahuinya kelemahan dan kelebihan dari pelaksanaan kegiatan
sehingga dapat menjadi acuan untuk melaporkan hasil kegiatan
sebagaimana mestinya (anti korupsi: Jujur, Tanggungjawab. Kegiatan sharing session legal research dapat meningkatakna kompetensi calon peneliti dalam melakukan
penelitian hukum baik secara normative maupun socio legal sehingga kegiatan ini termasuk dalam kategori
manajemen ASN. 3 MORNING REVIEW 1. Mengusulkan
kegiatan morning review kepada kepala bidang penelitian dan pengkajian perkara
Atasan mengetahui rencana diadakannya kegiatan morning review
Saya memulai kegiatan ini dengan berdoa kepada Tuhan YME agar diberikan
kelancaran.
Kegiatan
morning review merupakan kegiatan yang dapat
memperkuat visi
Pelaksanaan kegiatan
2. Membuat konsep morning review dan
mendiskusikannya dengan kepala Bidang penelitian dan pengkajian perkara
Terbentuknya konsep kegiatan morning review yang sifatnya humanis dan santai
(nasionalisme: Religius,
Ketuhanan) Saya kemudian
mengusulkan kepada atasan saya untuk kegiatan morning review, saya dengan senang hati akan menerima saran dan masukan dari beliau. Saya juga ketika
mengusulkan dan mendiskusikannya dengan atasan akan
menggunakan tutur kata yang baik dan sopan santun. (Etika Publik: Sopan, Santun) Setelah kegiatan disetujui, saya kemudian akan mendiskusikan konsep morning review disertai dengan jadwal kegiatannya, sekali lagi saya akan
konstitusi yang
modern dan
terpercaya.
Karena, dalam kegiatan ini, para peneliti dituntut untuk saling terbuka, empati, jujur dan toleransi dalam naunsa
kebathinan yang mengedepanka n persatuan dan kesatuan.
meningkatkan nilai-nilai
organisasi di MK antara lain umumnya dan di unit kerja P4
Para peneliti dan calon peneliti mengetahui kegiatan morning review
4. Melaksanakan kegiatan morning review setiap jumpat pagi
5. Melaporkan hasil morning review kepada kepala pusat dan kepala bidang penelitian dan pengkajian perkara dalam bentuk laporan tertulis
6. Melakukan evaluasi
Kegiatan terlaksana
dengan lancar dan sesuai rencana
Kepala bidang penelitian dan pengkajian
perkara
mengetahui hasil dari morning review
pelaksanaan kegiatan morning review dalam setiap bulan
pelaksanaan morning review setiap bulan
senang menerima masukan dan saran. Setelah konsep dan jadwal kegiatan sudah dimantapkan, saya kemudian akan mensosialisasikan kegiatan morning review ini kepada para peneliti lainnya baik melalui pesan langsung maupun lewat media sosial (Etika Publik: Keterbukaan). Tentunya saya dalam
mensosialisasikan kegiatan ini menggunakan kata-kata yang sopan dan baik serta padat berisi (Komitmen Mutu: Keterbukaan, Kejelasan).
Setelah kegiatan selesai
kegiatan dan menyerahkannya kepada atasan (Komitmen Mutu: Tanggungjawab. Dalam membuat laporan kegiatan saya akan mengerjakannya dengan jujur, cermat dan penuh tanggungjawab (Anti Korupsi: Jujur, Amanah). Kegiatan morning review ini masuk dalam kategori manajemen ASN karena dapat meningkatkan pengetahuan kompetensi calon peneliti terhadap isu-isu yang sedang
berkembang
melalui sharing knowledge.
4 FOCUS GROUP
DISCUSSION PERKARA-PERKARA
1. Mengusulkan kepada kepala bidang penelitian dan pengkajian
kepala bidang penelitian dan pengkajian
perkara
Saya memulai kegiatan dengan berdoa kepada Tuhan YME
Pelaksanaan FGD perkara-perkara
termukhtakhir
TERMUTAKHIR (ANALISIS
PERKARA YANG TELAH
DIPUTUSKAN)
perkara terkait kegiatan morning review setiap jumat pagi
mengetahui rencana kegiatan FGD perkara-perkara
termutakhir
(Nasionalisme: religius), saya kemudian
mengusulkan adanya kegiatan FGD tersebut kepada kabid terlebih dahulu (Etika Publik: Komunikatif). Ketika bertatap
muka dan
berdiskusi dengan beliau, saya akan menggunakan sopan santun dan tata bahasa yang baik (Etika Publik: Sopan, Santun).
Saya akan menerima segala saran dan masukan dari beliau (Etika Publik:
Responsif). Ketika beliau
menyetujuinya, kemudian saya akan
bermusyawarah dengan peneliti lain untuk membuat
dapat
meningkatkan kualitas dan kemampuan peneliti dalam menelaah dan menganalisis perkara-perkara yang sedang dan telah disidangkan. Peneliti memiliki fungsi strategis yaitu membantu secara langsung dan secara substansial terhadap para hakim dalam memutus
perkara-perkaranya. Sehingga visi MK dalam
konstitusi yang Modern,
Terpercaya, independen dan
substansial dapat
meningkatkan nilai-nilai dasar di MK yaitu keterbukaan, empati dan toleransi
karena dengana danya FGD ini, para peneliti dapat saling terbuka dan saling bertukar pikiran, gagasan dan ide satu sama lain. Selain itu, kegiatan ini juga dapat
2. Membuat konsep
FGD dan
mendiskusikannya dengan kepala bidang penelitian dan pengkajian perkara
Terbentuknya konsep FGD yang representatif
3. Mensosialisasikan kepada peneliti mengenai kegiatan FGD meliputi tempat dan waktunya
Para peneliti dan/atau calon peneliti
mengetahui waktu dan tempat pelaksanaan FGD
4. Melaksanakan kegiatan
Kegiatan FGD terlaksana
dengan lancar 5. Melaporkan hasil
kegiatan FGD kepada kepala bidang penelitian dan pengkajian perkara
Kepala bidang penelitian dan pengkajian
perkara
konsep kegiatan (Nasionalisme: Musyawarah mufakat, komunikatif). Saya tidak akan memaksakan pendapat/ide pribadi. Justru saya akan menerima saran dan masukan dari peneliti yang lain. Ketika konsepnya sudah dibentuk dan jadwal kegiatannya sudah pasti, maka saya akan
mensosialisasikan kegiatan tersebut dengan peneliti yang lain (Keterbukaan). Terakhir, ketika kegiatan sudah terlaksana, saya akan membuat laporan hasil kegiatan, saya akan menulisnya dengan cermat dan jujur untuk
adil” dapat
kemudian saya serahkan kepada kabid
(Akuntabilitas dan anti korupsi: Tanggungjawab, Jujur).
Kegiatan FGD perkara-perkara mutakhir ini masuk dalam kategori manajemen ASN karena dapat meningkatkan kompetensi calon peneliti dalam mengkaji serta menelaah perkara-perkara.
5 PEMBUATAN DAN
PENULISAN JURNAL HUKUM
1. Mendiskusikan kegiatan
pembuatan dan penulisan jurnal hukum kepada para peneliti CPNS MK
Para calon peneliti
mengetahui rencana kegiatan sekaligus
tergugah untuk mengikutinya
Saya mengawali kegiatan dengan berdoa
(Nasionalisme: Religius). Saya kemudian
mendiskusikan rencana kegiatan penulisan jurnal bersama peneliti yang lain, saya
Penulisan jurnal oleh peneliti MK merupakan salah satu langkah agar misi MK dalam
“meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai hak konstitusional
Pelaksanaan kegiatan
pembuatan dan penulisan jurnal hukum yang memenuhi kaidah etik penulisan jurnal dapat
meningkatkan nilai-nilai dasar 2. Membentuk tim
kecil untuk penulisan jurnal
hukum yang akan
akan menerima saran dan masukan dari para peneliti yang lain (Nasionalisme: Musyawarah mufakat, komunikatif). Kemudian saya akan membentuk tim kecil untuk penulisan jurnal dengan anggota yang proporsional dan adil (Etika Publik: keadilan). Saya kemudian mengadakan rapat untuk menentukan isu hukum yang akan diangkat, saat rapat tersebut saya menggunakan dasar-dasar permusyawaratan untuk mufakat, saya tidak akan memaksakan pendapat sendiri (nasionalisme: Musyawarah mufakat). Saya melakukan
warga negara”
dapat terwujud, karena secara tidak langsung tulisan-tulisan peneliti MK yang dimuat di dalam jurnal akan menjadi bacaan dan konsumsi masyarakat secara luas Kegiatan ini secara tidak langsung dapat meningkatkan kemampuan peneliti dalam mengkonsepsik an ide dan gagasannya yang biasanya diaktualisasikan dalam
pendapat-pendapat
hukum (legal opinion) yang digunakan oleh para hakim dalam memutus perkaranya. 4. Mencari referensi
dan bahan hukum untuk penulisan jurnal hukum
Terpilihnya
referensi-referensi hukum yang mendukung penulisan
5. Melakukan
pembuatan jurnal, editing yang disesuaikan
dengan manuskrip serta melakukan finishing
Terselesaikannya penulisan jurnal
6. Submit artikel jurnal yang telah dibuat ke jurnal terakreditasi
pembagian tugas yang adil dan proporsional dalam mencari referensi (Etika Publik: Keadilan).
Kemudian di dalam melakukan
penulisan, saya akan cermat dan teliti serta menggunakan kaidah bahasa Indonesia baku dan sesuai EYD. Selain itu, saya juga akan mengedepankan kode etik penulisan jurnal dan menghindari
praktek-praktek plagiarisme
(Komitmen mutu: kecermatan, ketelitian).
makalah maupun dalam bentuk legal opini, anotasi putusan dan eksaminasi
putusan. Sehingga kegiatan ini termasuk dalam manajemen ASN.
6 PEMBUATAN
PACTA INTEGRITAS CALON PENELITI DI P4 MKRI
1. Mendiskusikan rencana
pembuatan Pacta Integritas calon peneliti P4 bersama dengan para peneliti lainnya.
Para
peneliti/calon peneliti ikut serta dalam proses diskusi
pembuatan pacta integritas
Pertama, saya akan memulainya dengan berdoa kepada Tuhan
YME agar
diberikan
kemudahan dan kelancaran
(Nasionalisme: Religius). saya akan melakukan diskusi dengan peneliti yang lain dan membahas pembuatan pacta integritas calon peneliti P4 karena selama ini belum ada. Saya akan senang menerima masukan dan saran dari teman peneliti yang lain
Pembuatan pacta integritas dapat
meningkatkan kewaspadaan para peneliti agar tidak terjebak pada kebebasan berakademiknya yang terkadang sangat rawan untuk
disalahgunakan dan disalah artikan.
Sehingga, dengan adanya pacta integritas calon peneliti di P4 ini, para peneliti akan sangat
berhati-Pacta integritas calon peneliti menjadi acuan calon peneliti dalam
melaksanakan tugasnya
dengan penuh rasa
tanggungjawab dan intergirtas. Sehingga, dengan adanya pacta integritas calon peneliti ini dapat
meningkatkan nilai-nilai dasar di MK yaitu nilai
kepada kepala bidang penelitian dan pengkajian perkara
pengkajian dan membuat latar belakang, tujuan dan manfaat pembuatan pacta integritas calon peneliti di P4 untuk
Tersusunnya kajian tentang pentingnya
selanjutnya Saya kemudian akan mengusulkan pembuatan pacta integritas calon peneliti di P4 kepada atasan saya, tentunya dalam
mengusulkannya saya akan menggunakan sopan santun, etika yang baik serta menggunakan bahasa indonesia yang sesuai kaidah EYD (Komitmen Mutu: Cermat, Teliti). Setelah disetujui, saya kemudian akan melakukan
pengkajian secara cermat terkait perlu tidaknya
pembuatan pacta integritas calon peneliti di P4 (Komitmen Mutu: Cermat, Teliti).
hati dan netral dalam
memberikan pendapatnya, sehingga visi MK dalam
konstitusi yang
modern dan
terpercaya, dapat tercapai.
profesional.
4. Melakukan Focuss Group Discussion secara intensif dengan para peneliti untuk pembuatan draft pacta integritas sekaligus meminta masukan dan saran dari peneliti senior lainnya.
Para peneliti dan/atau calon peneliti turut aktif dalam proses pembahasan/disk usi pembuatan pacta integritas calon peneliti
5. Membuat draft pacta integritas calon peneliti P4 dan
membandingkanny a dengan kode etik peneliti di LIPI serta kemudian meminta saran masukan dari kepala pusat dan kepala bidang kemudian
mendiskusikannya kembali melalui
FGD. Setelah itu, hasil kajian tersebut akan saya serahkan kepada kabid
(Akuntabilitas: Responsif). Saya kemudian akan membuat FGD untuk membahas draft pacta integritas calon peneliti tersebut bersama peneliti lain. Saya akan menggunakan prinsip
musyawarah mufakat, saya tidak akan memaksakan kehendak pribadi dan saya akan dengan senang hati menerima kritik, saran dan masukan dari peneliti yang lain (Nasionalisme: Musyawarah mufakat, komunikatif). Saya kemudian bersama peneliti 6. Melaporkan hasil
dari FGD dan isi pacta integritas calon peneliti yang telah disepakati untuk selanjutnya diserahkan kepada kepala pusat dan kepala bidang penelitian dan pengkajian perkara untuk dilakukan pengesahan.
Atasan
menyetujui draft pacta integritas calon peneliti
7. Mensosialisasikan pacta integritas calon peneliti P4 kepada seluruh peneliti
dilingkungan P4 MKRI.
yang lain akan membuat draft pacta integritas dan
membandingkanny a dengan yang ada di LIPI. Saya akan dengan penuh kecermatan,
kehatia-hatian dan ketelitian dalam menyusun draft pacta integritas tersebut. Draft kode etik yang telah disusun kemudian saya serahkan kepada atasan untuk disetujui
akan
menggunakan kalimat yang baik dan benar yang integritas calon peneliti ini masuk dalam kategori manajemen ASN karena dengan adanya pacta integritas ini, maka calon peneliti akan sangat berhati-hati dan cermat serta teliti dalam melakukan tugas pokok dan fungsinya.
7 SHARING SESSION PENYUSUNAN NASKAH AKADEMIS
DAN LEGAL
DRAFTING
1. Mengusulkan dan mendiskusikan kegiatan sharing session
penyusunan
naskah akademik
kepala bidang penelitian dan pengkajian hukum, saya memualainya
Penyusunan nashkah akademis merupakan salah satu tupoksi baru dari
Pelaksanaan kegiatan ini dapat
kepada kepala bidang penelitian dan pengkajian perkara
sharing session penyusunan Naskah akademis dan legal drafting
dengan membaca doa
(Nasionalisme: religius). Saat saya
mengusulkannya dan
mendiskusikannya dengan kepala bidang penelitian dan pengkajian perkara, saya akan menerima saran dan kritik dari beliau. Saya akan menggunakan tutur kata dan sopan santun saat berhadapan dan bertemu sekaligus berdiskusi dengan beliau (Etika Publik:
Komunikatif, Responsif).
Kemudian ketika saya membuat proposal, saya akan cermat dalam penulisan dan menggunakan bahasa indonesia yang baku yang
puslitka pasca persekjen 13/2017. Melalui naskah
akademis ini, nantinya tujuan yang diharapkan agar
penyusunan kebijakan di lingkungan Mahkamah Konstitusi dapat optimal dan tanpa celah di dalamnya (tidak multitafsir/ambig u). Oleh sebab itu, para peneliti di puslika sesungguhnya dituntut untuk menguasai skill pembuatan naskah akademis. Apabila kegiatan ini terlaksana, maka dapat meningkatkan terwujudnya visi MK dalam tentunya para peneliti di untut untuk disiplin, jujur dan profesional. Oleh sebab itu, nilai-nilai yang dapat dikuatkan dari adanya kegiatan
pelatihan penyusunan naskah ademis ini adalah nilai kejujuran, nilai competence,
proposal kegiatan meliputi latar belakang, tujuan dan manfaat kegiatan sharing session
penyusunan
naskah akademik dan
menyerahkannya kepada kepala bidang penelitian dan pengkajian perkara
kepala bidang penelitian dan pengkajian
perkara
mengetahui latar belakang, tujuan dan manfaat dari rencana sharing session
penyusunan Naskah akademis dan legal drafting. Proposal kegiatan disetujui atasan 3. Membuat dan
menyusun tim kepanitian untuk pelatihan
penyusunan naskah akademik
Terbentuknya tim kepanitiaan kegiatan sharing session
penyusunan Naskah akademis dan legal drafting 4. Mendiskusikan
mengenai tema kegiatan dan narasumber
sekaligus
menentukan waktu kegiatan