Lampiran 1
LEMBARAN PENJELASAN UNTUK CALON SUBJEK
PENELITIAN
JUDUL PENELITIAN
“HUBUNGAN PANJANG TELAPAK KAKI DAN TINGGI BADAN IBU
DENGAN UKURAN PINTU ATAS PANGGUL”
Assalamualaikum wr,wb
Ibu-ibu Yth,
Nama Saya dr.Hendri Ginting, Saat ini Saya sedang menempuh pendidikan spesialisasi
di bagian Kebidanan dan Penyakit Kandungan Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Dan saat ini saya sedang melakukan penelitian yang
berjudul:
“HUBUNGAN PANJANG TELAPAK KAKI DAN TINGGI BADAN IBU
DENGAN UKURAN PINTU ATAS PANGGUL“
Pada tiap persalinan harus diperhatikan 3 faktor penting, yaitu jalan lahir, janin dan
kekuatan yang ada pada ibu. Jalan lahir terdiri dari tulang panggul dengan ukuran-ukurannya
yang diukur dengan pelvimetri. Pengukuran panggul ( Pelvimetri ) merupakan cara pemeriksaan
yang penting untuk mendapatkan keterangan tentang keadaan panggul. Pelvimetri dengan
pemeriksaan dalam (manual) yaitu dengan menggunakan jari tangan mempunyai arti yang
penting untuk menilai secara agak kasar pintu atas panggul serta panggul tengah, dan untuk
memberi gambaran yang jelas mengenai pintu bawah panggul. Sedangkan dengan Pelvimetri
Rontgenologik diperoleh gambaran yang jelas tentang bentuk panggul dan ukuran-ukuran dalam
ketiga bidang panggul.
Ibu-ibu yang terhormat,
Adapun latar belakang Saya mengadakan penelitian ini dikarenakan meningkatnya
kejadian seksio sesarea pada wanita dengan kecurigaan panggul sempit yang hanya dibuktikan
dari pemeriksaan klinis tanpa didukung dengan keterangan radiologis atau karena ketidak
seimbangan ukuran kepala janin dengan ukuran panggul ibu. Karena itu Saya bertujuan
40
membuktikan diagnosa panggul sempit dengan menggunakan pelvimetri radiologis atau menilai
ukuran pintu atas panggul pada pasien dengan ketidakseimbangan ukuran kepala-panggul
sehingga dapat diketahui ukuran panggul sebenarnya. Selanjutnya peneliti akan mencari
hubungan ukuran sepatu, tinggi badan, berat badan lahir janin, dan turunnya kepala janin
sebelum seksio dengan ukuran pintu atas panggul secara radiologis. Sehingga dari penelitian ini
diharapkan ukuran sepatu, tinggi badan, berat badan janin lahir, dan turunnya kepala janin
sebelum seksio sesaria dapat menjadi penduga adanya panggul sempit.
Cara pemeriksaannya adalah dengan melakukan foto rontgen pelvimetri dalam posisi
setengah duduk dan diukur tinggi badan ibu dan ukuran sepatu yang dilakukan di rumah sakit.
Adapun efek pemeriksaan ini dalam beberapa pustaka dikatakan cukup aman selama ibu tidak
sedang hamil. Sedangkan mengenai biaya penelitian tidak dibebankan kepada subjek penelitian,
melainkan akan ditanggung sepenuhnya oleh peneliti.
Pemeriksaan panggul secara radiologis ini bukan saja berguna dalam penyelesaian
penelitian ini, tetapi juga berguna sebagai informasi untuk ibu dalam mempersiapkan persalinan
berikutnya dalam hal kesiapan fisik, mental maupun ekonomi.
Saya akan menjaga kerahasiaan hasil pemeriksaan ini. Walaupun penelitian ini tidak akan
menimbulkan hal-hal yang merugikan atau membahayakan, namun bila ada pertanyaan atau
terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama penelitian, ibu-ibu dapat menghubungi saya, dr.
Hendri Ginting (telp: 061-77170701 / 085277287621) untuk mendapat penjelasan.
Kerjasama dan partisipasi ibu-ibu sangat diharapkan dalam penelitian ini demi kemajuan
kita bersama.
Terima kasih.
Medan, ... 2012
Peneliti
Lampiran 2
LEMBAR PERSETUJUAN SUBJEK PENELITIAN SETELAH
PENJELASAN
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama
:
Umur
:
Alamat
:
Kepada saya telah diberikan penjelasan mengenai prosedur, manfaat dan resiko penelitian yang
berjudul :
“HUBUNGAN PANJANG TELAPAK KAKI DAN TINGGI BADAN IBU
DENGAN UKURAN PINTU ATAS PANGGUL”
dan saya telah memahaminya.
Maka dengan sadar saya menyatakan bersedia menjadi responden penelitian secara sukarela, dan
saya memahami bahwa penelitian ini tidak akan berakibat negatif dan merugikan saya dan saya
dapat mengundurkan diri kapan saja.
Medan, ………… 2012
Peneliti
Peserta Penelitian
42
STATUS PENELITIAN
“HUBUNGAN PANJANG TELAPAK KAKI DAN TINGGI BADAN IBU
DENGAN UKURAN PINTU ATAS PANGGUL”
1. REGISTRASI
a. Nomor penelitian : b. Nomor Rekam Medik : c. Asal Rumah Sakit :
2. IDENTITAS PASIEN a. Nama : b. Umur : c. Paritas : d. Alamat : e. Suku :
3. KETERANGAN WAKTU PASIEN MASUK : a. Riwayat persalinan : 1.
2. 3. 4. b. Status Obstetrikus :
TFU: Kepala: Floating/ tidak His : +/- DJJ: EBW : c. Pemeriksaan dalam :
Pembukaan: Turunnya kepala: Sel. ketuban:+/- Kaput:+ /- d. Adekuasi Panggul :
Promontorium : teraba / tidak teraba CV : CD:
Spina ischiadica: menonjol / tidak menonjol Arcus pubis: <90 / >90
Os Sacrum : Cekung / tidak cekung Os Coccygeus : mobile / immobile e. Diagnosa sebelum operasi :
f. Jenis operasi : elektif / emergensi g. Tanggal operasi :
h. Lahir bayi : BB: PB: AS: 4. TINGGI BADAN IBU :
5. UKURAN SEPATU ( SHOE SIZE ) :
6. PELVIMETRI RADIOLOGIS (tanggal pengambilan data) : a. Conjugata Vera :
b. Conjugata Transversa : c. Conjugata Oblique : 7. ALASAN BILA TIDAK MASUK PENELITIAN :
ASSOCIATION BETWEEN MATERNAL FOOT LENGTH AND HEIGHT AND PELVIC INLET MEASUREMENTS
Pasaribu HP, Sitepu M, Ginting H
Department of Obstetrics and Gynecology, Medical College Universitas Sumatera Utara,
Medan, Indonesia, November 2012 ABSTRACT
Objective : To determine the association between maternal foot length and height with pelvic inlet size based on radiological pelvimetry. Study design : Cross sectional study. Material and Method: Clinical pelvimetry before or after cesarean section and radiological pelvimetry after cesarean section was conducted to assess the pelvic size in patients operated due to contracted pelvis or cephalopelvic disproportion either elective or emergency cesarean section at H. Adam Malik and Dr. Pirngadi Hospital Medan since June 2011 that fulfilled inclusion and exclusion criteria. Relationship between maternal foot length and height with the pelvic size of the radiological pelvimetry was analyzed. Results : It was found that out of 42 samples, the majority had conjugata vera measuring <10 cm that were categorized as contracted pelvic equal to 61.9% . The mean maternal height and foot length on contracted pelvic group were 148.81 cm and 21:48 cm respectively. No significant relationship was established between maternal height and foot length with pelvic inlet size (p > 0.05). It was observed that contracted pelvis proportion in women with height of ≤ 150 cm and foot length of < 22 cm were 61% and 55.5% respectively. Conclusion : No significant relationship was found between maternal height and foot length with pelvic inlet size but it was shown that women with height of ≤ 150 cm and foot length of < 22 cm had more proportion of contracted pelvis.
Keywords : foot length, height, pelvic inlet size, pelvimetry radiology.
LATAR BELAKANG
Distosia yang secara literatur berarti persalinan yang sulit, memiliki karakteristik kemajuan persalinan yang abnormal atau lambat. Persalinan abnormal atau lambat umum terjadi bila ada disproporsi antara ukuran bagian terbawah janin dengan jalan lahir. Pada presentasi kepala, distosia adalah indikasi yang paling umum saat ini untuk seksio sesaria primer. CPD (cephalopelvic disproportion) adalah akibat dari panggul sempit, ukuran kepala janin yang besar, atau lebih sering kombinasi dari kedua di atas. Setiap penyempitan diameter panggul yang mengurangi kapasitas pelvis dapat mengakibatkan distosia selama persalinan. Panggul sempit bisa terjadi pada pintu atas panggul, midpelvis, atau pintu bawah panggul, atau umumnya kombinasi dari ketiganya. Karena CPD bisa terjadi pada tingkat pelvic inlet, outlet
dan midlet, diagnosisnya bergantung pada pengukuran ketiga hal tersebut yang
2 sebagai salah satu kendala dalam melahirkan secara normal karena menyebabkan
obstructed labor yang insidensinya adalah 1-3% dari persalinan.2,3,4
Apabila persalinan dengan panggul sempit dibiarkan berlangsung sendiri tanpa pengambilan tindakan yang tepat, timbul bahaya pada ibu dan janin. Bahaya pada ibu dapat berupa partus lama yang dapat menimbulkan dehidrasi serta asidosis, dan infeksi intrapartum, ruptur uteri mengancam serta resiko terjadinya fistula vesikoservikalis, atau fistula vesikovaginalis, atau fistula rektovaginalis karena tekanan yang lama antara kepala janin dengan tulang panggul. Sedangkan bahaya pada janin dapat berupa meningkatkan kematian perinatal, dan perlukaan pada jaringan di atas tulang kepala janin bahkan bisa menimbulkan fraktur pada os parietalis.5,6
Pengukuran panggul (pelvimetri) merupakan cara pemeriksaan yang penting untuk mendapatkan keterangan tentang keadaan panggul. Pada wanita dengan tinggi badan kurang dari 150 cm dapat dicurigai adanya kesempitan panggul. Pelvimetri dengan pemeriksaan dalam (manual) mempunyai arti yang penting untuk menilai secara agak kasar pintu atas panggul serta panggul tengah, dan untuk memberi gambaran yang jelas mengenai pintu bawah panggul. Dengan pelvimetri rontgenologik diperoleh gambaran yang jelas tentang bentuk panggul dan ukuran-ukuran dalam ketiga bidang panggul. Akan tetapi pemeriksaan ini dalam masa kehamilan beresiko, khususnya bagi janin. Menurut English James,dkk CT pelvimetri tingkat radiasinya terhadap janin lebih kurang sepertiga dari tingkat radiasi secara X-ray pelvimetri sehingga lebih aman penggunaannya, namun tetap saja membahayakan janin. Oleh sebab itu tidak dapat dipertanggung jawabkan untuk menjalankan pelvimetri rontgenologik secara rutin pada masa kehamilan, kecuali atas indikasi yang kuat.5,7
Kennedy dan Greenwald dkk menyatakan bahwa wanita dengan perawakan
pendek (<152 cm atau 60 inci) dan ukuran sepatu kecil (<4.5) lebih mungkin persalinannya mengalami komplikasi disproporsi sefalopelvik atau terhentinya dilatasi dan penurunan janin, dengan demikian lebih mungkin mengalami panggul sempit.8
Aflah N. 2009 dalam tesisnya menyatakan bahwa terdapat hubungan yang
hubungan yang bermakna antara tinggi badan dengan diameter panggul lain seperti conjugata vera, conjugata transversa, conjugata obliqua, dan distansi intertuberum.9
Mahmood A.Tahir 1988 dkk menyatakan bahwa ukuran sepatu atau panjang
telapak kaki bukanlah prediktor klinis untuk meramalkan disproporsi sefalopelvik dan walaupun tinggi badan ibu adalah panduan yang lebih baik untuk meramalkan adekuasi panggul pada persalinan, 80% ibu dengan tinggi badan kurang dari 160 cm melahirkan secara pervaginam.10
Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara ukuran panjang telapak dan tinggi badan ibu dengan ukuran pintu atas panggul dengan manfaat dapat meramalkan kejadian panggul sempit berdasarkan ukuran panjang telapak kaki dan tinggi badan ibu sehingga dapat membantu mengurangi angka kejadian seksio sesaria.
BAHAN DAN CARA
Penelitian ini merupakan jenis penelitian cross sectional study dengan melakukan pelvimetri klinis sebelum atau setelah seksio sesaria dan pelvimetri radiologis setelah seksio sesaria untuk menilai ukuran pintu atas panggul pada pasien umur kehamilan aterm (38-42 minggu) tanpa riwayat kelainan atau trauma pada tulang panggul yang diseksio sesaria atas indikasi panggul sempit atau disproporsi sefalopelvik baik elektif maupun emergensi di RSUP. H. Adam Malik Medan dan RSUD. Dr. Pirngadi Medan sejak bulan Juni 2011 sampai jumlah sampel terpenuhi.
Pasien yang datang ke poliklinik ibu hamil atau IGD dengan umur kehamilan aterm (38-42 minggu) atau postterm (>42 minggu) dilakukan anamnesis, pemeriksaan Leopold, pemeriksaan dalam untuk menilai adekuasi panggul dengan atau tanpa ultrasonografi.
Kemudian pasien dikelompokkan menjadi yaitu kelompok panggul sempit dan kelompok panggul adekuat. Kelompok panggul sempit dilakukan seksio sesaria baik secara elektif maupun secara emergensi. Setelah seksio sesaria berat badan lahir bayi dicatat.
Pasien pada kelompok panggul adekuat direncanakan persalinan spontan pervaginam bila tidak ada kontraindikasi. Kemajuan persalinan diikuti. Bila selama persalinan terjadi disproporsi sefalopelvik, seksio sesaria dilakukan secara emergensi.
Pada hari ketiga paska operasi seksio sesaria dilakukan pelvimetri radiologis untuk menilai pintu atas panggul, pengukuran tinggi badan, dan ukuran panjang
4 telapak kaki setelah sebelumnya dilakukan informed consent dan pasien bersedia ikut serta dalam penelitian.
Kemudian dilakukan analisa data yaitu keakuratan pelvimetri klinis dengan standar pelvimetri radiologis dan menilai hubungan antara ukuran panjang telapak kaki dan tinggi badan dengan ukuran pintu atas panggul secara radiologis.
HASIL
Ada 42 pasien seksio sesaria yang dioperasi atas indikasi panggul sempit atau disproporsi sefalopelvik yang memenuhi kriteria inklusi berpartisipasi dalam penelitian ini
Tabel 4.1. Karakteristik Kasus Penelitian Berdasarkan Usia, Paritas dan Tinggi Badan.
Karakteristik Jumlah kasus penelitian
N=42 Persentasi (%) Umur (tahun) ≤ 20 5 11,9 21-30 21 50,0 31-35 10 23,8 >35 6 14,3 Paritas Primipara 19 45,2 Sekundipara 17 40,5 Multipara 6 14,3 Indikasi Operasi Panggul Sempit 26 61,9 Disproporsi Sepalopelvik 16 38,1
Asal Rumah Sakit
RSHAM 20 42,6
RSPM 22 52,4
Kelompok usia terbanyak adalah pada kelompok usia 21-30 tahun (50.0%), diikuti berturut-turut kelompok usia 31-35 tahun (23,8%), kelompok usia >35 tahun (14,3%), dan terkecil kelompok usia ≤20 (11,9%).
Kebanyakan kasus penelitian berasal dari paritas pertama atau primípara yaitu sebesar 45,2%, kemudian disusul oleh paritas kedua atau sekundipara masing-masing sebesar 40,5% dan 14,3%.
Pada penelitian ini kebanyakan indikasi operasi adalah karena panggul sempit secara klinis yaitu sebesar 61,9% sedangkan sisanya adalah karena disproporsi sefalopelvik sebesar 38,1%.
Proporsi subjek penelitian hampir seimbang antara subjek penelitian yang berasal dari Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan (42,6%) dan yang berasal dari Rumah Sakit Pirngadi Medan (52,4%).
Tabel 4.2. Ukuran Konjugata Vera Klinis Dan Pembukaan Serviks
Parameter Jumlah Kasus Penelitian
N=42 Persentase (%) Konjugata Vera (cm) ≥6 dan <8 5 11,9 ≥8 dan <9 11 26,2 ≥9 dan <10 10 23,8 ≥10 16 38,1 Pembukaan (cm) 0-4 31 73,8 5-10 11 26,2
Dari seluruh sampel penelitian kebanyakan memiliki konjugata vera < 10 cm yang dikategorikan sebagai panggul sempit yaitu sebesar 61,9% sedangkan sisanya adalah dengan konjugata vera ≥ 10 cm yang dikategorikan sebagai panggul adekuat yaitu sebesar 38,1%.
Kebanyakan pembukaan serviks adalah dalam kategori pembukaan 0-4 cm atau fase laten sebesar 73,8% sedangkan pembukaan > 4 cm adalah sebesar 26,2%.
Tabel 4.3. Ukuran Panjang Telapak Kaki dan Tinggi Badan
Parameter Jumlah Kasus Penelitian
N=42 Persentase (%) Panjang Telapak Kaki (cm)
<22 20 47,6
≥22 22 52,4
Tinggi Badan (cm)
≤150 27 64,3
>150 15 35,7
Kebanyakan subjek penelitian memiliki proporsi panjang telapak kaki dalam kategori yang seimbang antara kelompok ≥22 cm (52,4%) dan kelompok <22 cm (47,6%).
Tinggi badan subjek penelitian paling banyak pada kelompok ≤150 cm (64,3%) dibandingkan dengan kelompok >150 cm (35,7%).
6
Tabel 4.4. Karakteristik Kasus Penelitian Berdasarkan Pemeriksaan X-ray Pelvimetri.
Jenis ukuran Jumlah Kasus Penelitian Nilai Maksimum (cm) Nilai Minimum (cm) Mean (cm) Median (cm) SD (cm) Konjugata Vera 42 13,00 8,10 10,94 11,15 1,38 Konjugata Transversa 42 14,09 8,90 12,12 12,16 1,17 Konjugata Oblique 42 13,30 7,50 11,40 11,50 1,05
Rata-rata ukuran panggul berdasarkan pemeriksaan X-ray pelvimetri adalah konjugata vera 10,94 cm, konjugata transversa 12,12 cm, dan konjugata oblique 11,40 cm.
Tabel 4.5. Karakteristik Pintu Atas Panggul Berdasarkan X-ray Pelvimetri
Parameter Jumlah Kasus Penelitian
N=42 Persentase (%) Konjugata Vera
Pintu atas panggul sempit 10 23,8 Pintu atas panggul adekuat 32 76,2
Konjugata transversa
Pintu atas panggul sempit 10 23,8 Pintu atas panggul adekuat 32 76,2
Kesempitan pintu atas panggul
Pintu atas panggul sempit 18 42,9 Pintu atas panggul adekuat 24 57,1
Ukuran pintu atas panggul dianggap sempit apabila konjugata vera kurang dari 10 cm. Dari pemeriksaan X-ray pelvimetri didapati hanya 23,8 % subjek penelitian dengan ukuran pintu atas panggul yang sempit.
Ukuran pintu atas panggul juga dianggap sempit bila konjugata transversa kurang dari 11,5 cm. Dari pemeriksaan X-ray pelvimetri didapati 23,8% subjek penelitian masuk dalam kategori panggul sempit berdasarkan ukuran konjugata transversa.
Berdasarkan ukuran konjugata vera dan konjugata transversa didapati ukuran pintu atas panggul normal sebanyak 57,1% dan sempit sebanyak 42,9%.
Tabel 4.6. Hubungan Ukuran Pintu Atas Panggul Berdasarkan Pelvimetri Radiologis Dengan Ukuran Panjang Telapak Kaki Ibu
Pjg.Telapak Kaki Ukuran Pintu Atas Panggul Total p Sempit Adekuat < 22 cm 10 (23,8%) 10 (23,8%) 20 (47,6%) 0,533 ≥ 22 cm 8 (19,1%) 14 (33,3%) 22 (52,4%) Total 18 (42,9%) 24 (57,1%) 42 (100%) Uji Fisher
Berdasarkan ukuran panggul atas didapati ukuran panggul adekuat sebanyak 10 kasus atau 23,8% pada panjang telapak kaki <22 cm dan 14 kasus atau 33,3% mempunyai panggul adekuat pada panjang telapak kaki ≥22 cm. Berdasarkan uji statistik Fisher tidak didapatkan hubungan antara variabel panjang telapak kaki dengan ukuran panggul atas dengan nilai p>0,05 (p=0,533).
Tabel 4.7. Perbandingan Rata-Rata Panjang Telapak Kaki Ibu Berdasarkan Kategori Panggul Atas Berdasarkan Pelvimetri Radiologis
Kategori Panggul P Sempit Rerata (cm) Adekuat Rerata(cm) 21,48 21,83 0,293
Uji Beda Mean
Dari tabel di atas rerata panjang telapak kaki pada panggul sempit dan panggul adekuat berturut-turut adalah 21,48 cm dan 21,83 cm. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik ukuran panjang telapak kaki antara panggul atas sempit dengan panggul atas adekuat berdasarkan pelvimetri radiologis (p>0,05)
Hal ini sesuai dengan pendapat Mahmood A.Tahir 1988 dkk yang menyatakan bahwa ukuran sepatu bukanlah prediktor klinis untuk meramalkan disproporsi sefalopelvik; tetapi berlawanan dengan pendapat Kennedy dan
Greenwald dkk yang menyatakan bahwa ukuran sepatu kecil (<4,5) atau panjang
telapak kaki yang kecil lebih mungkin persalinannya mengalami komplikasi disproporsi sefalopelvik atau terhentinya dilatasi dan penurunan janin, dengan demikian lebih mungkin mengalami panggul sempit.8,10
8
Tabel 4.8. Hubungan Ukuran Pintu Atas Panggul (PAP) Berdasarkan Pelvimetri Radiologis Dengan Ukuran Tinggi Badan Ibu.
Tinggi Badan Ukuran Pintu Atas Panggul Total P Sempit Adekuat ≤ 150 cm 11 (26,2%) 16 (38,1%) 27 (64,3%) 0,754 > 150 cm 7 (16,7%) 8 (19,0%) 15 (35,7%) Total 18 (42.9,6%) 24 (57,1%) 42 (100%) Uji Fisher
Berdasarkan ukuran panggul atas didapati ukuran panggul sempit sebanyak 11 kasus atau 26,2% pada tinggi badan ≤150 cm dan 7 kasus atau 16,7% yang mempunyai panggul sempit pada tinggi badan >150 cm. Bila dihitung secara statistik dengan menggunakan uji Fisher dijumpai nilai p>0,05 (p=0,754) yang berarti tidak ada hubungan antara tinggi badan dengan ukuran pintu atas panggul.
Tabel 4.9. Perbandingan Rata-Rata Tinggi Badan Ibu Berdasarkan Kategori Panggul Atas Berdasarkan Pelvimetri Radiologis.
Kategori Panggul P Sempit Rerata (cm) Adekuat Rerata(cm) 148,81 150,08 0,386
Uji Beda Mean
Dari tabel di atas rerata tinggi badan pada panggul sempit dan panggul adekuat berturut-turut adalah 148,81 cm dan 150,08 cm. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik ukuran tinggi badan ibu antara panggul atas sempit dengan panggul atas adekuat berdasarkan pelvimetri radiologis (p>0,05)
Hal ini sesuai dengan penelitian Aflah N. 2009 dalam tesisnya yang menyatakan bahwa tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara tinggi badan dengan diameter panggul lain seperti conjugata vera, conjugata transversa, conjugata obliqua, dan distansi interspinarum.9
Tabel 4.10. Proporsi panggul sempit berdasarkan tinggi badan ibu
Tinggi Badan N Persentase (%)
<150cm 11 61%
≥150cm 7 39%
Dari tabel diatas didapatkan sebanyak 11 orang (61%) pasien panggul sempit dengan tinggi badan <150cm dan 7 orang (39%) pasien panggul sempit dengan tinggi badan ≥150cm. Bisa disimpulkan bahwa wanita dengan tinggi badan <150cm memiliki proporsi panggul sempit yang lebih besar dibandingkan wanita dengan wanita dengan tinggi badan ≥150cm.
Tabel 4.12
Proporsi panggul sempit berdasarkan ukuran panjang telapak kaki
Ukuran panjang telapak kaki N Persentase (%) <22cm 10 55,5% ≥22cm 8 44,4% Total 18 100%
Dari tabel diatas didapatkan sebanyak 10 orang (55,5%) pasien panggul sempit dengan panjang telapak kaki <22cm dan 8 orang (44,4%) pasien panggul sempit dengan panjang telapak kaki ≥22cm. Bisa disimpulkan bahwa wanita dengan panjang telapak kaki <22cm memiliki proporsi panggul sempit yang lebih besar dibandingkan dengan wanita yang panjang panjang telapak kaki nya ≥22cm.
KESIMPULAN
Tidak dijumpai adanya hubungan yang bermakna antara ukuran panjang telapak kaki ibu dengan ukuran pintu atas panggul secara radiologis begitu juga tidak dijumpai hubungan bermakna antara ukuran tinggi badan ibu dengan ukuran pintu atas panggul secara radiologis dengan rerata panjang telapak kaki dan tinggi badan ibu tidak berbeda bermakna antara panggul sempit dan panggul adekuat.
Dari penelitian ini dijumpai wanita dengan panjang telapak kaki <22cm memiliki proporsi panggul sempit yang lebih besar dibandingkan wanita dengan panjang telapak kaki ≥22cm.
10
DAFTAR PUSTAKA
1. Raman S, Samuel D, Suresh K; A comparative Study of X-ray Pelvimetry and CT Pelvimetry; ANZJOG Volume 31 Issue 3, hal 217-220
2. Panggul Sempit Vs Melahirkan Normal Available from: www.Balita-Anda.com
3. Cecil Bull, H; Pelvimetry in obstetric ; Available from
www.pubmedcentral.nih.gov
4. SOGC. ALARM International: a program to reduce maternal mortality and morbidity, edition Ottawa: 2010
5. Winkjosastro H, Saifudin B A, Rachimhadhi T. Distosia karena Kelainan Panggul. Dalam. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwona Prawirohardjo,Yakarta 2002: 637-47
6. Cuningham F G, Norman F, Kenneth J, Larry C, John C, Katharine D, et al. Anatomy of the Reproductive Tract. In. Williams Obstetrics 21st Edition. Thw Mc Graw-Hill Companies, New Cork. 2001: 28-40.
7. Eanglish,J, et al ; Normal Pelvic Dimensions for Saudi Arabian Women in Tabuk Obtained by CT Pelvimetry; 1995
8. Awonuga, Merhi, Samuels et al. Anthropometric measurement in diagnosis of pelvic size: an analysis of maternal height and shoe size and computed tomography pelvimetric data. Arch Gynecol Obstet (2007) 276: 523-528. 9. Aflah N. Thesis: Ukuran Panggul Pada Pasien Pasca Seksio Sesaria Atas
Indikasi Panggul Sempit. Departemen Obstetri Ginekologi FK-USU, Medan. 2009
10. Mahmood A Tahir, Campbell M. Doris and Wilson W. Alex. Maternal height, shoe size, and outcome of labour in white primigravidas: a prospective anthropometric study. BMJ vol 297. Aberdeen. 1988
TABEL INDUK PENELITIAN
NO NAMA UMUR PARITAS ASAL RS MR TB CV klinis CV rad CT rad CORad Panjang Kaki Pembukaan CV Klinis Grup Kel. Panggul Atas Klinis Kel Panggul Atas Rad Kel Panjang Tapak Kaki Kel TB Kel Pembukaan Jenis Operasi Kel CT Rad Kel CV Rad 1 lina 35 G5P4A0 HAM 472200 153 >10 11.3 8.9 `12.1 23 2cm adekuat panggul adekuat panggul sempit >22 >150 0-4 emergensi PAP Sempit PAP Adekuat 2 ornil marlina 25 G1P0A0 HAM 472302 154 >10 9.7 9.1 11.4 22.5 1cm adekuat panggul adekuat panggul sempit >22 >150 0-4 emergensi PAP Sempit PAP Sempit 3 hotmaida simanjuntak 28 G1P0A0 RSPM 774764 146 9.5 11.7 12.15 12.6 21.5 2cm inadekuat panggul sempit panggul adekuat <21,9 <150 0-4 emergensi PAP Adekuat PAP Adekuat 4 kristina 36 G2P1A0 HAM 470621 148 >10 11.6 11.6 11.1 20 tertutup adekuat panggul adekuat panggul adekuat <21,9 <150 0-4 elektif PAP Adekuat PAP Adekuat 5 kurniati sitepu 24 G2P0A1 HAM 471657 146 8.5 10.68 10.85 10.76 21 1cm inadekuat panggul sempit panggul sempit <21,9 >150 0-4 emergensi PAP Sempit PAP Adekuat 6 nurfitria 19 G1P0A0 HAM 472166 145 8.5 10.8 9.8 11.1 22 1cm inadekuat panggul sempit panggul sempit >22 <150 0-4 emergensi PAP Sempit PAP Adekuat 7 riana tambunan 32 G1P0A0 HAM 466057 150 7.5 10 11.4 10.9 21 2cm inadekuat panggul sempit panggul sempit <21,9 <150 0-4 emergensi PAP Sempit PAP Adekuat 8 hotmaida 32 G3P2A0 RSPM 516515 144 8.5 10.4 11.7 10.8 21 2cm inadekuat panggul sempit panggul sempit <21,9 <150 0-4 emergensi PAP Adekuat PAP Adekuat 9 evaline juliati 28 G2P1A0 RSPM 441172 146 >10 12.5 13 12.5 21 7 cm adekuat panggul adekuat panggul adekuat <21,9 <150 5-10 emergensi PAP Adekuat PAP Adekuat 10 isar hamzah 31 G2P1A0 RSPM 833635 148 8.5 11 13 12 21.5 tertutup inadekuat panggul sempit panggul adekuat <21,9 <150 0-4 elektif PAP Adekuat PAP Adekuat 11 sumarni 36 G3P2A0 RSPM 780288 151 9.5 11.96 13.45 13.15 22 tertutup inadekuat panggul sempit panggul adekuat >22 >150 0-4 elektif PAP Adekuat PAP Adekuat 12 fitriani 35 G6P3A2 HAM 506419 143 >10 12.1 13.5 13.1 23 1cm adekuat panggul adekuat panggul adekuat >22 <150 0-4 elektif PAP Adekuat PAP Adekuat 13 irmawati siregar 19 G1P0A0 HAM 465086 147 >10 10.15 11.2 10.94 20 lengkap adekuat panggul adekuat panggul sempit <21,9 <150 5-10 emergensi PAP Sempit PAP Adekuat 14 Fitriyani 27 G2P1A0 RSPM 830610 155 >10 12.5 10.9 10.9 23 tertutup adekuat panggul adekuat panggul sempit >22 >150 0-4 emergensi PAP Sempit PAP Adekuat 15 eva 28 G1P0A0 HAM 504852 160 >10 12 13.5 11.5 21 9cm adekuat panggul adekuat panggul adekuat <21,9 >150 5-10 emergensi PAP Adekuat PAP Adekuat 16 susanti 23 G1P0A0 HAM 504472 155 >10 11.5 13.5 10 21 6cm adekuat panggul adekuat panggul sempit <21,9 >150 5-10 emergensi PAP Adekuat PAP Adekuat 17 kade 21 G1P0A0 HAM 505957 143 >10 10.5 12.5 12.5 23 6 cm adekuat panggul adekuat panggul sempit >22 <150 5-10 emergensi PAP Adekuat PAP Sempit 18 nursita simamora 36 G2P1A0 HAM 515726 150 >10 11.6 12.9 11.9 24.5 8cm adekuat panggul adekuat panggul adekuat >22 <150 5-10 emergensi PAP Adekuat PAP Adekuat 19 khairunisa 21 G1P0A0 RSPM 780305 156 >10 10.86 12.67 11.76 23 lengkap adekuat panggul adekuat panggul adekuat >22 >150 5-10 emergensi PAP Adekuat PAP Adekuat 20 erika 31 G1P0A0 HAM 452469 150 >10 12 11 11.3 22 tertutup adekuat panggul adekuat panggul adekuat >22 <150 0-4 emergensi PAP Sempit PAP Adekuat 21 ernita dojor 34 G3P1A1 RSPM 601321 145 8.5 10.9 12.4 11.4 21 tertutup inadekuat panggul sempit panggul adekuat <21,9 <150 0-4 elektif PAP Adekuat PAP Adekuat 22 aguspina 22 G1P0A0 RSPM 597615 155 7.5 12.2 12.1 11.9 22.5 1cm inadekuat panggul sempit panggul adekuat >22 >150 0-4 emergensi PAP Adekuat PAP Adekuat 23 Rizqa 19 G1P0A0 HAM 381812 150 8.5 12.5 12.4 12 22 1cm inadekuat panggul sempit panggul adekuat >22 <150 0-4 emergensi PAP Adekuat PAP Adekuat 24 dewi laini 34 G2P1A0 RSPM 519191 143 8.5 11 12 11.5 22 tertutup inadekuat panggul sempit panggul adekuat >22 <150 0-4 elektif PAP Adekuat PAP Adekuat 25 nurainun 34 G3P1A1 HAM 350089 147 9.5 9 12 9.7 20 tertutup inadekuat panggul sempit panggul sempit <21,9 <150 0-4 elektif PAP Adekuat PAP Sempit 26 sundari 38 G2P1A0 RSPM 558198 147 9 10 13.4 12 22.5 2cm inadekuat panggul sempit panggul adekuat >22 <150 0-4 emergensi PAP Adekuat PAP Adekuat 27 ika agustina 24 G1P0A0 RSPM 562164 149 9 13 12.8 12.1 22.5 1cm inadekuat panggul sempit panggul adekuat >22 <150 0-4 emergensi PAP Adekuat PAP Adekuat 28 dasmi 21 G1P0A0 RSPM 598410 148 8.5 12.8 12 12.5 21 1cm inadekuat panggul sempit panggul adekuat <21,9 <150 0-4 emergensi PAP Adekuat PAP Adekuat 29 buani manurung 27 G2P1A0 RSPM 542199 154 7.5 8.1 14 10.7 23 5cm inadekuat panggul sempit panggul sempit >22 >150 5-10 emergensi PAP Adekuat PAP Sempit 30 afrina 28 G2P1A0 RSPM 579773 149 8.5 12.1 12 11.6 22 2cm inadekuat panggul sempit panggul adekuat >22 <150 0-4 emergensi PAP Adekuat PAP Adekuat 31 lisda mayasarah 24 G2P1A0 RSPM 554477 150 9 13 12.7 12.3 22 2cm inadekuat panggul sempit panggul adekuat >22 <150 0-4 emergensi PAP Adekuat PAP Adekuat 32 Betty napitupulu 36 G3P2A0 RSPM 601678 146 9 11.3 12.6 11.9 21.5 1cm inadekuat panggul sempit panggul adekuat <21,9 <150 0-4 emergensi PAP Adekuat PAP Adekuat 33 Jauhariah nst 28 G2P1A0 RSPM 607262 152 7.5 12.8 13.3 12.4 21.5 4cm inadekuat panggul sempit panggul adekuat <21,9 >150 0-4 emergensi PAP Adekuat PAP Adekuat 34 Jamilah lubis 20 G1P0A0 RSPM 554466 156 >10 11.7 11.7 11.7 20 6 cm inadekuat panggul adekuat panggul adekuat <21,9 >150 5-10 emergensi PAP Adekuat PAP Adekuat 35 Syafi wildani 37 G3P2A0 RSPM 552277 160 >10 11.3 12.7 12.5 22 6 cm adekuat panggul adekuat panggul adekuat >22 >150 5-10 emergensi PAP Adekuat PAP Adekuat 36 Dewi Sariati 16 G1P0A0 RSHAM 516600 154 >10 10,9 11,7 11 22 tertutup adekuat panggul adekuat panggul adekuat >22 >150 0-4 emergensi PAP Adekuat PAP Adekuat 37 Buana S 28 G2P1A0 RSPM 542199 154 7,50 8,18 14,09 10,79 21 5 inadekuat panggul sempit panggul sempit <21,9 >150 5-10 emergensi PAP Adekuat PAP Sempit 38 Nurainun 30 G3P1A1 RSHAM 350089 146 9,50 9,05 12,18 9,74 20 tertutup inadekuat panggul sempit panggul sempit <21,9 <150 0-4 elektif PAP Adekuat PAP Sempit 39 Rusmiati 23 G3P1A1 RSHAM 349891 144 9 9,29 11,16 11,14 22 3 inadekuat panggul sempit panggul sempit >22 <150 0-4 emergensi PAP Sempit PAP Sempit 40 Sri Muliati 25 G3P1A1 RSHAM 356308 142 8,5 8,65 11,10 9,99 21 2 inadekuat panggul sempit panggul sempit <21,9 <150 0-4 emergensi PAP Sempit PAP Sempit 41 Lenny Padang 30 G1P0A0 RSHAM 380240 147 8,5 9,57 11,39 10,44 20 2 inadekuat panggul sempit panggul sempit <21,9 <150 0-4 emergensi PAP Sempit PAP Sempit 42 Santi Silalahi 32 G1P0A0 RSPM 834281 153 9,5 9,5 13 12 22,3 tertutup inadekuat panggul sempit panggul sempit >22 >150 0-4 elektif PAP Adekuat PAP Sempit