PENERAPAN UNDANG-UNDANG HAK CIPTA DALAM BIDANG KARYA FOTOGRAFI (STUDI KASUS DI E1 ORGANIZER KOTA
LUBUK PAKAM)
Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Hukum Universitas Sumatera Utara
OLEH :
VIVI ELIZA RAHMADHANI MARPAUNG NIM : 150200330
DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA BW
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019
dan rahmat yang tak terhingga yang telah diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya penulis persembahkan kepada kedua orang tua, sehingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“Penerapan Undang-Undang Hak Cipta dalam Bidang Karya Fotografi (Studi Kasus di E1 Organizer Kota Lubuk Pakam).”
Setelah sekian lama akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat akademis untuk menyelesaikan pendidikan program S-1 pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU). Penulis menyadari sebagai manusia biasa tidak akan pernah luput dari kesalahan, kekurangan, dan kekhilafan, baik dalam pikiran maupun perbuatan. Berkat bimbingan dari Bapak dan Ibu dosen Fakultas Hukum USU baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Dengan ini izinkanlah penulis mengucapkan rasa hormat dan terima kasih setinggi-tingginya kepada pihak-pihak yang telah banyak membantu dalam proses penyusunan skripsi ini. Terima kasih penulis ucapkan kepada:
1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH. M. Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara
2. Prof. Dr. Budiman Ginting, SH., M. Hum selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
3. Puspa Melati, S. H., M. Hum selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
4. Dr. Jelly Leviza, S. H., M. Hum selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
5. Dr. Rosnidar Sembiring, S. H., M. Hum selaku Ketua Departemen Hukum Keperdataan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
6. Prof. Dr. Saidin, S. H., M. Hum selaku dosen pembimbing I yang telah membantu dalam penyempurnaan skripsi ini dan memberikan banyak masukan serta bimbingan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
7. Syamsul Rizal, S. H., M. Hum selaku dosen pembimbing II yang telah membantu dalam penyempurnaan skripsi ini dan memberikan banyak masukan serta bimbingan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
8. Seluruh Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan didikan dan ilmu yang bermanfaat kepada penulis selama masa perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, serta kepada pegawai-pegawai Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
9. Bang Iwan selaku Pemilik Studio E1 Organizer Jln. Pantai Labu Dusun Jogja Lubuk Pakam yang memberikan informasi kepada penulis.
10. Untuk kakak-kakak saya Nova Fitria Marpaung dan Devi Annisa marpaung, Sepupu, beserta seluruh keluarga besar penulis yang memberikan dukungan dan doanya.
11. Untuk teman-teman tercinta seperjuangan Riris Novtasya, S. H, Titin Lisnawati Gultom, Fiony Rahmawati, S.Ked, Hellen Marcelina
Oppusunggu, S.Ked, Putri Medina Rangkuti, Akbar Alhafiz Aritonang,S.
E yang kusayangi, yang selalu saling mendukung satu sama lain, memotivasi dan berbagai kisah susah senang dan berbagai momen-momen berharga, terima kasih telah mewarnai kehidupan perkuliahan penulis menjadi saat-saat menyenangkan bagi penulis, serta bang Fadli Yanuar Lubis selaku salah satu produser film saya yang memberikan pengertian untuk tetap mengurus skripsi disaat kejar jam tayang film juga. Untuk Bripda Harry Yuanda yang terkasih sudah membantu baik dalam dukungan maupun membantu penulis menyiapkan surat kehilangan.
Kepada Kedua orang tua Tersayang Dr. Ely Ezir, M. S dan Rehulina br. Karo, Terima Kaih Ayah dan Mama yang tidak pernah berhenti mencurahkan doa dan kasih saying, membesarkan penulis hingga saat ini serta selalu memberikan dukungan baik motivasi maupun materi kepada penulis, tanpa doa dan dukungan ayah dan mama penulis sulit sampai pada titik ini.
Demikian penulis sampaikan, penulis meminta maaf kepada dosen pembimbing serta dosen penguji apabila ada sikap dan perilaku ataupun kata-kata yang tidak berkenan di hati semasa penulisan skripsi ini. Penulis sepenuhnya menyadari skripsi ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran yang sifatnya membangun, semoga penulisan ini dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat.
Medan, 21 Juni 2019 Penulis
Vivi Eliza Rahmadhani Marpaung
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………i
DAFTAR ISI………iv
ABSTRAK………vi
BAB 1 PENDAHULUAN………1
A. Latar Belakang………..1
B. Permasalahan……….………6
C. Tujuan Penulisan………...7
D. Manfaat Penulisan……….7
E. Tinjauan Pustaka………...8
F. Metode Penelitian……….21
G. Keaslian Penulis………23
H. Sistematika Penulisan………...24
BAB II PERLINDUNGAN HUKUM ATAS HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL………..26
A. Sejarah dan Perkembangan Hak Kekayaan Intelektual………....26
B. Teori Hak kekayaan Intelektual………....29
C. Sistem Penerapan Hukum Hak Kekayaan Intelektual…………..32
BAB III UPAYA HUKUM BAGI PEMEGANG HAK ATAS CIPTA…36
A. Upaya Hukum Terhadap Pelanggaran Hak Cipta……….36
B. Sanksi Perdata………...48
C. Sanksi Pidana………56
D. Non Litigasi………...70
BAB IV PENERAPAN UNDANG-UNDANG HAK CIPTA DALAM BIDANG KARYA FOTOGRAFI DI E1 ORGANIZER KOTA LUBUK PAKAM...75
A. Perlindungan Hukum Terhadap Hak Cipta Fotografi…………...75
B. Upaya Hukum bagi Pemegang Hak Atas Cipta terhadap Perbuatan Pelanggaran Cipta Produk Fotografi di E1 Organizer………..87
C. Penyelesaian Pelanggaran Hukum terhadap Hak Cipta Fotografi di E1 Organizer………...99
BAB V PENUTUP………118
A, Kesimpulan………...118
B. Saran……….119
DAFTAR PUSTAKA……….120
LAMPIRAN
1. Hasil Wawancara
ABSTRAK
PENERAPAN UNDANG-UNDANG HAK CIPTA DALAM BIDANG KARYA FOTOGRAFI (STUDI KASUS DI E1 ORGANIZER KOTA
LUBUK PAKAM)
Vivi Eliza Rahmadhani Marpaung*
Saidin**
Syamsul Rizal***
Para pemilik hak cipta yang telah terdaftar akan mendapatkan Hak Cipta, yaitu hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada pemilik hak cipta yang terdaftar dalam Daftar Umum Hak Cipta. Berdasarkan Hak Cipta tersebut, para pemilik Hak Cipta akan mendapatkan perlindungan hukum sehingga dapat mengembangkan usahanya dengan tenang tanpa takut Hak Ciptanya diklaim oleh pihak lain. Permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini yaitu mengenai penerapan undang-undang hak cipta dalam bidang karya fotografi sebagai bentuk perlindungan hukum terhadap pencipta atau pemegang hak cipta khususnya karya cipta di bidang fotografi..
Metode yang digunakan dalam penelitian dalam skripsi ini adalah penelitian hukum empiris. Jenis data yang dipakai adalah data empiris bebas yang terdiri dari bahan hukum primer, sekunder dan tersier. Teknik pengumpulan data yaitu dengan cara studi dokumentasi atau wawancara. Data yang telah diperoleh selanjutnya dianalisis secara kualitatif untuk mendapatkan hasil penulisan yang bersifat sistematis.
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa peraturan hukum dan perundang-undangan Indonesia telah memberikan perlindungan hukum terhadap pencipta atau pemegang hak cipta khususnya karya cipta di bidang fotografi dengan berlakunya Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.
Kata Kunci : Penerapan Undang-Undang, Hak Cipta, Fotografi.
__________________________
* Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
** Dosen Pembimbing I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
*** Dosen Pembimbing II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hak atas kekayaan intelektual (HAKI) atau Intellectual Property Right saat ini lebih menjadi isu global khususnya di kalangan negara-negara industri maju yang selama ini banyak melakukan ekspor produk industri kreatif berbasis HAKI.Perlindungan hukum terhadap HAKI telah menjadi perhatian dunia.Indonesia bahkan telah turut serta dalam perjanjian internasional yang berkaitan dengan HAKI.1 Hak atas kekayaan intelektual (HAKI) atau Intellectual Property Right adalah hak hukum yang bersifat ekslusif (khusus) yang dimiliki oleh para pencipta/penemu sebagai hasil aktivitas intelektual tersebut, dapat berupa hasil karya di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra, serta hasil penemuan (Invensi).2
Hak atas kekayaan intelektual (HAKI) secara umum dapat digolongkan ke dalam dua kategori utama, yaitu hak cipta dan hak kekayaan industri. Ruang lingkup hak cipta adalah karya cipta dalam bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra.Sedangkan lingkup hak kekayaan industri adalah dalam bidang teknologi.
HAKI sulit untuk didefinisikan .Meskipun demikian, uraian mengenai HAKI dapat digambarkan secara umum.Sebagai contoh, hukum HAKI dapat melindungi karya sastra dan karya artistik serta invensi dari penggunaan atau peniruan yang dilakukan pihak lain tanpa izin. Jika topiknya berkaitan dengan fotografi, hukum
1 Iswi Hariyanti, Prosedur Mengurus HAKI yang Benar, (Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2010), hlm 6
2 Ibid., hlm 16
2
HAKI akan melindungi seorang fotograferdari perbuatan penjiplakan, selanjutnya fotografer yang berssangkutan dapat menuntut pihak yang menjiplak foto tersebut ke pengadilan dan memperoleh kompensasi atas kerugian yang dideritanya atau keuntungan yang dihasilkan oleh si pelanggar.3
Berikut Perkembangan UU HAKI di Indonesia:
1. Undang-undang No. 12 Tahun 1997 tentang Perubahan atas Undang- undang No. 6 Tahun 1982 sebagaimana telah diubah dengan Undang- undang No. 7 Tahun 1987 tentang Hak Cipta
2. Undang-undang No. 13 Tahun 1997 tentang Perubahan atas Undang- undang No. 6 Tahun 1989 tentang Paten
3. Undang-undang No. 14 Tahun 1997 tentang Perubahan atas Undang- undang No. 19 Tahun 1992 tentang Merek
Adanya pertimbangan masih perlunya dilakukan penyempurnaan terhadap undang-undang tentang hak cipta, paten, dan merek yang diundangkan tahun 1997, maka ketiga Undang-undang tersebut telah direvisi kembali pada tahun 2001. Selanjutnya telah diundangkan:
1. Undang-undang No. 14 Tahun 2001 tentang Paten 2. Undang-undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merek.4
Dalam hubungan kepemilikan terhadap Hak Cipta, hukum bertindak dan menjamin Pencipta untuk menguasai dan menikmati secara eksklusif hasil karyanya itu dan jika perlu dengan bantuan Negara untuk penegakan hukumnya.
3 Lindsey Tim,Damian Eddy,Butt Simon,Utomo Tomi Suryo, Hak Kekayaan Intelektual ,(Bandung:PT Alumni,2006),hlm 2
4 Sinar Grafika,Undang-undang HAKI (Sinar Grafika,Jakarta,2003)hal.30,hal.51,hal.134.
Hal ini menunjukkan bahwa perlindungan hukum adalah merupakan kepentingan pemilik.Hak Cipta baik secara individu maupun kelompok sebagai subjek hak.Untuk membatasi penonjolan kepentingan individu, hukum memberi jaminan tetap terpeliharanya kepentingan masyarakat.Jaminan ini tercermin dalam sistem HaKI yang berkembang dengan menyeimbangkan antara dua kepentingan yaitu pemilik Hak Cipta dan kebutuhan masyarakat umum.
Hukum Hak Cipta bertujuan melindungi ciptaan-ciptaan para Pencipta yang dapat terdiri dari pengarang, artis, musisi, dramawan, pemahat, programmer computer, photographer dan sebagainya. Hak-hak para pencipta ini perlu dilindungi dari perbuatan orang lain yang tanpa izin mengumumkan atau memperbanyak karya cipta pencipta.
Sebagaimana yang termuat dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, yaitu dengan melakukan pendaftaran hak atas cipta. Dengan didaftarkannya hak cipta, pemiliknya mendapat hak atas cipta yang dilindungi oleh hukum. Dalam Pasal 2 tersebut, dinyatakan bahwa hak cipta merupakan hak eksklusif bagi pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.5 Kemudian Pasal 21 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 TentangHak Cipta, menyatakan bahwa tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta, pemotretan untuk diumumkan diatas seorang pelaku atau lebih dalam suatu pertunjukan umum walaupun yang bersifat komersial, kecuali
5Undang-Undang Bidang Hak Kekayaan Intelektual ,(Medan :Pustaka Bangsa Press) hal 4
4
dinyatakan lain oleh orang yang berkepentingan.Dengan demikian, hak atas cipta memberikan hak yang khusus kepada pemiliknya untuk menggunakan, atau memanfaatkan ciptaan terdaftarnya untuk karya tertentu dalam jangka waktu tertentu pula. Penerapan hukum lainnya juga diberikan sesuai dengan ketentuan- ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta, yaitu sebagaimana yang termuat dalam Pasal 56 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) yang menyatakan bahwa pemberian hak kepada pemegang hak cipta yang dilanggar haknya dapat melakukan gugatan kepada si pelanggar hak atas cipta baik secara pidana maupun perdata.6 Pada dunia fotografi para fotografer memberikan tanda atau citra tersendiri pada hasil potret mereka yang dikenal dengan istilah copy right. Pengertian Hak Cipta banyak macamnya. Beberapa diantaranya yang terpenting adalah :
1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku (Undang-Undang Bidang Hak Kekayaan Intelektual, 2011).
2. Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (UU No. 28 Mengenai Hak Cipta, 2014).
6Ibid ,hal 23
Ruang lingkup Hak Cipta meliputi ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra. Buku, program komputer, pamphlet, perwajahan, (layout) karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lain; ceramah, kuliah, pidato, dan ciptaan lain yang sejenis dengan itu; alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan; lagu atau music dengan atau tanpa teks; drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan pantonim; seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase, dan seni terapan; arsitektur; peta; seni batik; fotografi; sinematografi; terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, database, dan karya lain dari hasil pengalihwujudan, adalahcontoh-contoh yang tergolong Ciptaan yang Dilindungi.
Para pemilik hak cipta yang telah terdaftar akan mendapatkan Hak Cipta, yaitu hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada pemilik hak cipta yang terdaftar dalam Daftar Umum Hak Cipta. Berdasarkan Hak Cipta tersebut, para pemilik Hak Ciptaakan mendapatkan perlindungan hukum sehingga dapat mengembangkan usahanya dengan tenang tanpa takut Hak Ciptanya diklaim oleh pihak lain. Perlindungan terhadap hak atas cipta bagi pemegang hak cipta di Indonesia akhir-akhir ini masih sering dijumpai adanya pelanggaran terhadap hak atas cipta tersebut.Pelanggaran tersebut terjadi sejak dahulu sampai sekarang dengan menggunakan teknologi yang lebih maju dan dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.Salah satu produk yang bersifat global yang membutuhkan penerapan hukum yang sesuai terhadap hak atas cipta tersebut adalah potret, khususnya terhadap fotografi, istilah untuk salah satu karya seni dan
6
lazimnya suatu ilmu pada potret tertentu, dalam penggunaan yang paling umum merujuk pada hasil karya seni atau dokumentasi.7
Fotografi adalah sebuah kegiatan atau proses menghasilkan suatu seni gambar/foto melalui media cahaya dengan alat yang disebut kamera dengan maksud dan tujuan tertentu.Fotografi sebagai media berekspresi dan komunikasi yang kuat menawarkan berbagai persepsi, interpretasi, dan eksekusi yang tak terbatas. Fotografi tidak tetap dan atau konstan sama sekali, karena fotografi terus berubah sesuai dengan perkembangan jaman.Fotografi saat ini telah berkembang menjadi sebuah gaya hidup, hal ini dimulai semenjak munculnya era digital dan berkembangnya sosial
media.Hal ini bisa dilihat dari karya ciptaE1 ORGANIZER yang merupakan salah
satu pengelola fotografi yang banyak dipakai oleh banyak kalangan anak muda jaman sekarang. Karya cipta E1 ORGANIZER tersebut merupakan suatu karya seni yang telah memperoleh hak atas cipta melalui pendaftaran pada tahun 2018 di Direktorat Jendral sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.8
Berdasarkan Latar Belakang di atas penulis memilih JudulPenerapan Undang-Undang Hak Cipta dalam Bidang Karya Fotografi (Studi Kasus di E1 Organizer Kota Lubuk Pakam)
B.Permasalahan
Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana diuraikan di atas, maka secara lebih konkrit masalah penelitian yang penulis dapat rumuskan adalah sebagai berikut
7 Hariyani, Iswi, op, hal 88
8 Wawancara dengan Samuel Dedi Sahputra Hutabarat selaku pencipta pemilik hak cipta
1. Bagaimanakah Perlindungan Hukum bagi pemengang Hak atas Cipta Terhadap Perbuatan pelanggaranHak Cipta?
2. Apakah Upaya hukum bagi pemegang hak atas cipta terhadap perbuatan pelanggaran hak cipta Produk Fotografi di E1 Organizer?
3. Bagaimanakah Penerapan Undang-Undang Hak Cipta dalam Penyelesaian Pelanggaran Hukum Terhadap Hak Cipta Yang telah terdaftar?.
C.Tujuan Penulisan
Berdasarkan pokok permasalahan di atas, ada beberapa tujuan yang melandasi penelitian ini yaitu:
1. Untuk mengetahui bagaimana perlindungan hukum bagi pemegang ha katas cipta terhadap perbuatan pelanggaran hak cipta.
2. Untuk mengetahui upaya hukum bagi pemegang hak atas cipta terhadap perbuatan pelanggaran hak cipta produk fotografi di E1 Organizer.
3. Untuk mengetahui bagaimana penerapan undang-undang hak cipta dalam penyelesaian pelanggaran hukum terhadap hak cipta yang telah terdaftar.
D.Manfaat Penulisan
Diharapkan dalam penulisan karya ilmiah ini terdapat manfaat dan kegunaan yang dapat diambil, dijadikan acuan dalam penelitian tersebut. Adapun manfaat yang diperoleh pada penelitian ini adalah:
8
1. Manfaat teoritis
Diharapkan memberikan sumbangan pemikiran dalam pengembangan ilmu pengetahuan hukum khususnya yang berkaitan dengan perlindungan hak cipta di Indonesia terkhusus di bidang Fotografi.
2. Manfaat praktis
Sebagai bahan yang dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pemerintah atau para pengambil keputusan dalam menentukan kebijakan yang berkaitan dengan perlindugan hukum hak cipta di Indonesia.
E. Tinjauan Pustaka
1. Pengertian Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI)
HKI Merupakan hak eksklusif yang diberikan negara kepada seseoranng, sekelompok orang, maupun lembanga untuk memegang kuasa dalam menggunakan dan mendapatkan manfaat dari kekayaan intelektual yang dimiliki atau diciptakan. Sebagaimana diatur dalam undang-undang No.7 Tahun 1994 tentang pengesahan WTO (Agreement Establishing The World Trade Organization). Pengertian Intellectual Property Right sendiri adalah pemahaman mengenai hak atas kekayaan yang timbul dari kemampuan intelektual manusia, yang mempunyai hubungan dengan hak seseorang secara pribadi yaitu hak asasi manusia (human right).9
HKI pada umumnya berhubungan dengan perlindungan penerapan ide dan informasi yang memiliki nilai komersial. HKI adalah kekayaan pribadi yang dapat
9Hery, Op.Cit, hal, 6.
dimiliki dan diperlakukan sama dengan bentuk-bentuk kekayaan lainnya.
Misalnya, kekayaan intelektual dapat diperjual belikan seperti buku.HKI dapat juga disewakan selama kurun waktu tertentu dimana pihak penyewa membayar sejumlah uang kepada pihak yang menyewakan hak tersebut untuk menggunakan kekayaan intelektual tersebut.10
Pengertian Hak Atas Kekayaan Intelektual (HKI) atau Hak Kekayaan Intelektual (HKI) adalah hak yang berasal dari hasil kegiatan intelektual manusia yang memiliki manfaat ekonomi. HKI dalam dunia internasional dikenal dengan namaIntellectual Property Rights (IPR) yaitu hak yang timbul dari hasil olah pikir yang menghasilkan suatu produk atau proses yang berguna untuk kepentingan manusia. Konsep dasar tentang HKI berdasarkan pada pemikiran bahwa karya intelektual yang telah diciptakan atau dihasilkan manusia memerlukan pengorbanan waktu, tenaga dan biaya.Pada intinya Pengertian Hak Atas Kekayaan Intelektual (HKI) atau Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan Intellectual Property Rights (IPR) adalah hak untuk menikmati secara ekonomis hasil dari suatu Produk atau proses yang berguna untuk kepentingan manusia. Konsep dasar tentang HKI berdasarkan pada pemikiran bahwa karya intelektual yang telah diciptakan atau dihasilkan manusia memerlukan pegorbanan waktu, tenaga dan biaya.
10Tim Lindsay, dkk, Op.Cit., hal. 3.
10
Hak Kekayaan Intelektual itu adalah hak kebendaan, hak atas suatu benda yang bersumber dari hasil kerja otak, hasil kerja rasio.Hasil dari pekerjaan rasio manusia yang menalar.11
Berdasarkan konsep , menurut Abdulkadir Muhammad (2001:1-3), konsep Hak Kekayaan Intelektual meliputi :
a) Hak milik hasil pemikiran (intelektual), melekat pada pemiliknya, bersifar tetap, dan eksklusif; dan
b) Hak yang diperoleh pihak lain atas izin dari pemilik, bersifat sementara.12
Pada intinya Pengertian Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) atau Hak Kekayaan Intektual (HKI) Dan Intellectual Property Rights(IPR) adalah hak untuk menikmati secara ekonomis hasil dari suatu kreativitas intelektual.Berdasarkan pengertian ini maka perlu adanya penghargaan atas hasil karya yang telah dihasilkan yaitu perlindungan hukum bagi kekayaan intelektual tersebut.Tujuan adalah untuk mendorong dan menumbuhkan kembangkan semangat terus berkarya dan mencipta.Hak Kekayaan Intelektual (HKI) adalah hak eksklusif yang diberikan suatu peraturan kepada seseorang atau sekelompok orang atas karya ciptanya. Secara sederhana HKI mencakup Hak Cipta, Hak Paten dan ,Hak Merek. Namun jika dilihat lebih rinci HKI merupakan bagian dari benda(yaitu benda tidak berwujud (benda imaterill).13
11OK. Saidin, Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual (Inttellectual Property Right), Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, Hal 9.
12Hery,Op.Cit, hal, 5.
13https://www.slideshare.net/novitasari119/pengertian-haki-61760061, diakses tanggal 10 Agustus 2018.
2. Pengertian Hak Cipta
Kata “hak cipta” merupakan kata majemuk yang terdiri dari dua suku kata, yaitu “hak” dan “cipta”.Kata “hak” berarti kekuasaan untuk berbuat sesuatu karena telah ditentunkan oleh Undang-Undang.Sedangkan kata “cipta”
menyangkut daya kesanggupan batin (pikiran) untuk mengadakan sesuatu yang baru, terutama di lapangan kesenian.14
Pengertian Hak Cipta asal mulanya menggambarkan hak untuk menggandakan atau memperbanyak suatu karya cipta, Istilah copyright(Hak Cipta) tidak jelas siap yang pertama memakainya, tidak ada 1 (satu) pun perundang-undangan yang secara jelas menggunakannya pertama kali. Menurut Stanley Rubenstain, sekitar tahun 1740 tercatat pertama kali orang menggunakan istilah “copyright”. Di Inggris pemakaian istilah Hak Cipta (copyright)pertama kali berkembang untuk menggambarkan konsep guna melindungi penerbit dari tindakan penggandaan buku oleh pihak lain yang tidak mempunyai hak untuk menerbitkannya.15
Istilah Hak Cipta merupakan pengganti Auteursrechts atau Copyrights yang kandungan artinya lebih tepat dan luas, istilah Auteursrechtssendiri disadurdari istilah bahasa Belanda yang mempunyai arti hak pengarang.Secara yuridis, istilahHak Cipta telah dipergunakan dalam Undang- Undang Hak Cipta Tahun 1982 sebagai pengganti istilah hak pengarang yang dipergunakan dalam Auteurswet 1912.
14Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1988
15Muhammad Djumhana dan Djubaedillah, Hak Milik Intelektual (Sejarah, Teori dan Prakteknya di Indonesia), PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2003, hlm 43
12
Berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 28 Tahun 2014 Bab I, Ketentuan Umum, tentang Hak Cipta diberikan pengertian bahwa :
“Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu Ciptaan diwujudkan dalambentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.” (Pasal 1 ayat (1) UU Hak Cipta)“
Pencipta adalah seorang atau beberapa orang yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama menghasilkan suatu Ciptaan yang bersifat khas dan pribadi.”
(Pasal 1 ayat (2) UU Hak Cipta)“
Ciptaan adalah setiap hasil karya cipta di bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra yang dihasilkan atas inspirasi, kemampuan, pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan, atau keahlian yang diekspresikan dalam bentuk nyata.”
(Pasal 1 ayat (3) UU Hak Cipta)“
Pemegang Hak Cipta adalah Pencipta sebagai pemilik Hak Cipta, pihak yang menerima hak tersebut secara sah dari Pencipta, atau pihak lain yang menerima lebih lanjut hak dari pihak yang menerima hak tersebut secara sah.”
(Pasal 1 ayat (4) UU Hak Cipta)“
Lisensi adalah izin tertulis yang diberikan oleh Pemegang Hak Cipta atau Pemegang Hak Terkait kepada pihak lain untuk melaksanakan hak ekonomiatas Ciptaannya atau produk Hak Terkait dengan syarat tertentu.” (Pasal 1 ayat (20) UU Hak Cipta)“
Royalti adalah imbalan atau pemanfaatan Hak Ekonomis suatu Ciptaan atau Produk Hak Terkait yang diterima oleh pencipta atau pemilik hak terkait.”(Pasal 1 ayat (21) UU Hak Cipta).
Sejak tahun 1886, di kalangan negara-negara di kawasan barat Eropa telah diberlakukan Konvensi Bern 1886, yang ditujukan bagi perlindungan ciptaan- ciptaan di bidang sastra dan seni, dan dapat dikatakan bahwa Konvensi Bern ini adalah suatu pengaturan perlindungan hukum hak cipta yang dianggap modern untuk waktu itu.
Kecenderungan negara-negara Eropa Barat untuk menjadi peserta pada Konvensi ini, hal ini yang mendorong kerajaan Belanda untuk memperbaharui undang-undang hak ciptanya yang sudah berlaku sejak 1881 dengan suatu undang-undang hak cipta baru pada tanggal 1 November tahun 1912, yang dikenal dengan Auteurswet 1912. Tidak lama setelah pemberlakuan undang-undang ini, kerajaan Belanda mengikatkan diri tanggal 1 April 1912 pada Konvensi Bern 1886.Indonesia sebagai negara jajahan Belanda diikutsertakan pada konvensi ini sebagaimana diumumkan dalam Staatsblad1914 Nomor 797.16
Setelah Indonesia merdeka, ketentuan Auteurswet 1912 ini masih dinyatakan berlaku sesuai dengan ketentuan peralihan yang terdapat dalam Aturan Peralihan Pasal 1 UUD 1945, yaitu “Segala Peraturan Perundang-Undangan yangada masih tetap berlaku selama belum diadakan yang baru menurut Undang- Undang Dasar ini.”
16Suyud Margono, Hukum Hak Cipta Indonesia, Ghalia Indonesia, Bogor, 2010, hlm 53
14
Secara umum pembentukan Peraturan Perundang-Undangan di bidang Hak Cipta di Indonesia didasarkan pada ratifikasi terhadap perjanjian-perjanjian internasional di bidang Hak Cipta, beberapa perjanjian itu adalah :17
1.Konvensi Bern 1886 tentang Perlindungan Karya Sastra dan Seni;
2.Konvensi Hak Cipta Universal 1955 atau Universal Copyright Convention;
3.Konvensi Roma 1961;
4.Konvensi Jenewa 1967;
5.TRIPs 1994 (Trade Related Aspects on Intellectual Property Rights 1944).
Pembentukan perundang-undanganHak Cipta di Indonesia dimulai dariAuteurswet Staatsblad 1912 Nomor 600, kemudian diubah dan diganti dengan Undang-Undang RI Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta (Lembaran Negara RI Tahun 1982 Nomor 15, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3217), yang disahkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 12 April 1982, kemudian diubah dengan Undang-Undang RI Nomor 7 Tahun 1987 (Lembaran Negara RI Tahun 1987 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3362), disahkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 19 September 1987, yang diubah lagi dengan Undang-Undang RI Nomor 12 Tahun 1997 tentang Hak Cipta (Lembaran Negara RI Tahun 1997 Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 2679),disahkan dan diundangkan pada tanggal 7 Mei 1997, yang kemudian diubah
17Eddy Damian, Hukum Hak Cipta, PT. Alumni Bandung, 2005,hlm. 57
lagi dengan Undang-Undang RI Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta (Lembaran Negara RI Tahun 2002 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4220), yang disahkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 29 Juli 2002, dan terakhir diubah dengan Undang-Undang RI Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (Lembaran Negara RI Tahun 2014 Nomor 266, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 5599), yang disahkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 16 Oktober 2014.
3. Ruang Lingkup Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) dan Hak Cipta
a. Ruang Lingkup Hak Kekayaan Intelektual
Untuk memahami lingkup Hak Kekayaan Intelektual (HKI), perlu diketahui lebih dahulu jenis-jenis benda, yaitu benda berwujud (material)dan benda yang tidak berwujud (immaterial)seperti ditentukan dalam Pasal 503 KUH Perdata.
Benda immaterial atau benda tidak berwujud yang berupa hak itu dapatlah kita contohkan seperti hak tagih, hak atas bunga uang, hak sewa, hak guna bangunan, hak guna usaha, hak atas benda berupa jaringan, Hak Atas Kekayaan Intelektual (Intellectual Property Rights)dan lain sebagainya.18Baik benda berwujud maupun tidak berwujud dapat menjadi objek hak.
HakKekayaan Intelektual (HKI) dapat menjadi objek hak, apalagi bila ikut serta dimanfaatkan oleh pihak lain melalui lisensi.
18OK. Saidin, Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual (Inttellectual Property Right), Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, Hal 12.
16
Hak atas benda berwujud disebut hak absolut atas suatu benda, sedangkan hak atas benda tidak berwujud disebut hak absolut atas suatu hak.19
Menurut sistem hukum Anglo Saxon, Hak Kekayaan Intelektual (HKI) diklasifikasikan menjadi Hak Cipta (Copyright)dan Hak Milik Perindustrian(Industrial Property Rights).Dari Hak Cipta dapat diturunkan lagi Hak Turunan (Neighbouring Rights).20
Menurut Convention Establishing The World Intellectual Property Organizaion (WIPO), Hak Milik Perindustrian diklasifikasikan menjadi:
1.Paten (Patent)
2.Model dan Rancang Bangun (Utility Models) 3.Desain Industri(Industrial Design)
4.Merek Dagang(Trade Mark) 5.Nama Dagang (Trade Name)
6.Sumber Tanda atau Sebutan Asal (Indication of Source or Appelation of Origin)
Sedangkan klasifikasi Hak Milik Perindustrian menurut Anglo Saxonadalah :
1.Paten (Patent)
2.Model dan Rancang Bangun (Utility Models)
19Abdulkadir Muhammad. Hukum dan Penelitian Hukum. Citra Aditya Bakti, Bandung .2004, hal 3
20ibid, hlm. 4
3.Desain Industri (Industrial Design) 4.Rahasia Dagang (Trade Secret) 5.Merek Dagang (Trade Mark) 6.Merek Jasa (Service Mark) 7.Nama Dagang (Trade Name)
8.Sebutan Asal (Appelation of Origin) 9.Tanda Asal (Indication of Origin)
10.Perlindungan dari Persaingan Curang (Unfair Competition Protection)World Trade Organization (WTO), Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIP’s) menambahkan dua bidang lagi ke dalam kelompok hak-hak di atas, yaitu :
1.Perlindungan Varietas Baru Tanaman (New Varieties of Plants Protection)
2.Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu (Layout Design of Integrated Circuit)
Di Indonesia, Hak Kekayaan Intelektual (HKI) diatur dengan Undang-Undang tersendiri, antara lain :
1.Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman.
2.Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang.
3.Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri.
18
4.Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2000 tentang Desain Rangkaian Tata Letak Sirkuit Terpadu.
5.Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten.
6.Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek.
7.Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta
b. Ruang Lingkup Hak Cipta
Mengacu pada Undang-Undang Hak Cipta, maka Ciptaan yang mendapat perlindungan hukum ada dalam bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra.Dari tiga bidang ini Undang-Undang merincikan lagi di antaranya seperti yang ada pada ketentuan Pasal 40 Undang-Undang Hak Cipta. Menurut ketentuan Pasal 40 Undang- Undang Hak Cipta, Ciptaan yang dilindungi terdiri atas :
1.Buku, pamflet, perwajahan karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lainnya;
2.Ceramah, kuliah, pidato, dan Ciptaan sejenis lainnya;
3.Alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan;
4.Lagu dan/atau musik dengan atau tanpa teks;
5.Drama, drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan pantomim;
6.Karya seni rupa dalam segala bentuk seperti lukisan, gambar, ukiran, kaligrafi, seni pahat, patung atau kolase;
7.Karya seni terapan;
8.Karya arsitektur;
9.Peta;
10.Karya seni batik atau seni motif lain;
11.Karya fotografi;
12.Potret;
13.Karya sinematografi;
14.Terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, basis data, adaptasi, aransemen, modifikasi dan karya lain dari hasil transformasi;
15.Terjemahan, adaptasi, aransemen, transformasi, atau modifikasi ekpresi budaya tradisional;
16.Kompilasi Ciptaan atau data, baik dalam format yang dapat dibaca dengan program komputer maupun media lainnya;
17.Kompilasi ekspresi budaya tradisional selama kompilasi tersebut merupakan karya yang asli;
18.Permainan video; dan
20
19.Program komputer.
Di samping Ciptaan di atas ada lagi beberapa Ciptaan yang dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta. Sebagaimana yang dituangkan dalam ketentuan Pasal 39 ayat (1)(2) dan (3) yang menyatakan :
1.Dalam hal Ciptaantidak diketahui Penciptanya dan Ciptaantersebut belum dilakukan pengumuman, Hak Cipta atas Ciptaantersebut dipegang oleh negara untuk kepentingan Pencipta.
2.Dalam hal Ciptaan telah dilakukan Pengumuman tetapi tidak diketahui Penciptanya, atau hanya terterna nama aliasnya atau samaran Penciptanya, Hak Cipta atas Ciptaan tersebut dipegang oleh pihak yang melakukan pengumuman untuk kepentingan Pencipta.
3. Dalam hal Ciptaan telah diterbitkan tetapi tidak diketahui Pencipta dan pihak yang melakukan pengumuman, Hak Cipta atas Ciptaan tersebut dipegang oleh Negara untuk kepentingan Pencipta.
F. Metode Penelitian
1.Jenis penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian empiris.Penelitian empiris (empirical lawresearch) adalah penelitian hukum positif tidak tertulis mengenai
perilaku (behavior) anggota masyarakat dalam hubungan hidup masyarakat. 21 Berdasarkan pengertian di atas, penelitian mengkaji tentang Perlindungan Hukum Terhadap Hak atas Cipta dalam Bidang Karya Fotografi (Studi Kasus di E1 Organizer Kota Lubuk Pakam).
2.Sifat Penelitian
Adapun sifat penelitin yang akan diteliti oleh berdasarkan permasalahan di atas yaitu penelitian secara empiris/sosiologis. Penelitian hukum empiris atau sosiologis yaitu penelitian hukum yang memperoleh datanya dari masyarakat. 22 Sifat penelitian yang dilakukan oleh penulis bersifat Empiris/sosiologis.Penelitian sosial empiris didasarkan pada kenyataan di lapangan atau melalui observasi (pengamatan) langsung.
3.Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini mengggunkan data empiris bebas, Yaitu dalam materi penelitian ini, menggunakan jenis data primer dan sekunder.
a. Data primer, yaitu data yang diperoleh terutama dari hasil penelitian empiris, yaitu penelitian yang dilakukan dalam masyarakat berdasarkan observasi/pengamatan dan wawancara secara langsung. Bahan hukum primer ini bersifar otoritatif, artinnya mempunyai otoritas, yaitu
21Abdulkadir Muhammad. Hukum dan Penelitian Hukum. Citra Aditya Bakti, Bandung .2004, hal
22155
Ronny Hanitijo Soemitro. Dalam bukunya Mukti Fajar dan Yulianto Achmad. Dualisme Penelitian hukum (normative dan empiris). Yogyakarta. Pustaka Pelajar, 2010, hal. 154
22
merupakan hasil tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh lembaga berwenang untuk permasalahan tersebut.23
b. Data sekunder adalah sumber data yang akan diperoleh melalui kajian pustaka karya ilmah, jurnal,artikel,tesis dan pendapat para ahli yang berhubungan dengan masalah yang akan dibahas.
c. Data tersier adalah ensiklopedia, bahan dari internet,bibiliografi dan sebagainya. Sementara data yang digunakan berasal dari data Primer,Sekunder dan juga didukung oleh data tersier.
4.Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah melalui studi dokumentasi atau melalui penelusuran literatur serta dengan melakukan teknik wawancara.24 Wawancara dilakukan dengan Samuel Dedi Sahputra Hutabarat selaku pencipta pemilik hak cipta
5.Analisis data
Analisa data adalah pengolahan data yang diperoleh baik dari penelitian pustaka maupun penelitian lapangan.Terhadap data primer yang didapat dari lapangan terlebih dahulu diteliti kelengkapannya dan kejelasannya untuk diklasifikasi serta dilakukan penyusunan secara sistematis serta konsisten untuk memudahkan melakukan analisis.Data primer inipun terlebih dahulu di korelasi untuk menyelesaikan data yang paling relevan dengan perumusan permasalahan yang ada dalam penelitian ini.Data sekunder yang didapat dari kepustakaan dipilih serta dihimpun secara sistematis, sehingga dapat dijadikan acuan dalam
23Peter Mahmud Marzuki. Dalam bukunya Mukti Fajar dan Yulianto Achmad . Dualisme Penelitian Hukum(normative dan empiris), Yogyakarta. Pustaka Pelajar,2010, hal.157
24Soerjono Soekanto. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta. UI-Press, 2010, hal.172 dan 173
melakukan analisis.Dari hasil data penelitian pustaka maupun lapangan ini dilakukan pembahasan secaradeskriptif analitis.
Data yang sudah terkumpul dan tersusun secara sistematis kemudian dianalisis dengan metode kualitatif, yaitu mengungkapkan dan memahami kebenaran masalah dan pembahasan dengan menafsirkan data yang diperoleh dari hasil penelitian, lalu data tersebut diuraikan dalam bentuk kalimat-kalimat yang disusun secara terperinci, sistematis dan analisis sehingga akan mempermudah dalam penarikan suatu kesimpulan.
G.Keaslian Penulisan
Berdasarkan hasil penelusuran perpustakaan Fakultas Universitas Sumatera, penulisan yang berkaitan dengan Perlindungan Hak atasCipta dalam Bidang Karya Fotografi (Studi Kasus di E1 Organizer Kota Lubuk Pakam), adapun judul yang ada di perpustakaan Fakultas Hukum antara lain:
Imam Syahputra (2016), dengan judul penelitian, Perlindungan Hukum Terhadap Hak Cipta Fotografi (studi terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014) belum pernah ada dilakukan dan bukan merupakan hasil ciptaan atau penggandaan dari karya tulis orang lain dan sudah diperbandingkan judulnya dikampus, dimana penulisan menimba ilmu di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
24
H.Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan skripsi ini terbagi ke dalam bab-bab yang menguraikan permasalahannya secara tersendiri, di dalam suatu konteks yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Penulis membuat sistematika dengan membagi pembahasan keseluruhan ke dalam lima bab terperinci adapun bagiannya, yaitu :
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini merupakan awal yang berisikan latar belakang, permasalahan, tujuan penulisan, manfaat penulisan, tinjauan pustaka, metode penelitian, keaslian penulisan dan sistematika penulisan
BAB II PERLINDUNGAN HUKUM ATAS HAK KEKAYAAN
INTELEKTUAL
Bab ini berisi mengenai Perkembangan Pengaturan Hukum Hak Kekayaan Intelektual, Teori Hak Kekayaan Itelektual, Sistem Penerapan Hukum Hak Kekayaan Intelektual.
BAB III TINJAUAN UMUM TENTANG HAK CIPTA
Bab ini berisi mengenaiFungsi dan Manfaat Hak Cipta, Persyaratan Hak Cipta dan Itikad Baik, Hak Cipta yang dapat dan tidak dapat didaftarkan, Bentuk-Bentuk Pelanggaran Hukum atas Hak Kekayaan Intelektual di Bidang Hak Cipta
BAB IV PENERAPAN UNDANG-UNDANG HAK CIPTA DALAM BIDANGKARYA FOTOGRAFI
Bab ini berisi mengenai Perlindungan hukum terhadap hak cipta fotografi, Upaya hukum bagi pemengang hak atas cipta terhadap perbuatan pelanggaran cipta produk Fotografi di E1 Organizer, penyelasaian pelanggaran hukum terhadap hak cipta yang telah terdaftar.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Merupakan bab terakhir dariisi skripsi ini. Pada bagian ini, mengemukakan kesimpulan dan saran yang didapat sewaktu mengerjakan skripsi ini mulai dari awal hingga pada akhirnya.
BAB II
PERLINDUNGAN HUKUM ATAS HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL A. Sejarah dan Perkembangan Hak Kekayaan Intelektual
Dilihat secara historis, undang-undangmengenai HaKI pertama kali ada di Venice, Italia yang menyangkut masalah paten pada tahun 1470.
Caxton, Galileo dan Guttenberg tercatat sebagai penemu-penemu yang muncul dalam kurun waktu tersebut dan mempunyai hak monopoli atas penemuan mereka. Hukum-hukum tentang paten tersebut kemudian diadopsi oleh Kerajaan Ingrris di jaman Tudor tahun 1500-an dan kemudian lahir hukum mengenai paten pertama di Inggris yaitu Statue of Monopolies (1623). Amerika Serikat baru mempunyai undang-undang paten tahun 1791.Upaya Harmonisasi dalam bidang HaKI pertama kali terjadi tahun 1883 dengan lahirnya Paris Convention untuk masalah paten, merek dagang dan desain.25
Kemudian pada tahun 1886 diadakanlah Berne Convention untuk masalah copyright atau hak cipta. Kedua konvensi itu membentuk biro administratif yang dikenal dengan nama World Intellectual Property Organization (WIPO).WIPO menjadi badan khusus di bawah PBB yang menangani administrasi perjanjian multilateral mengenai Hak Kekayaan Intelektual.
Hak Kekayaan Intelektual bukanlah suatu hal yang baru di Indonesia.Sejak zaman Pemerintahan Hindia Belanda, Indonesia telah
25http://dhaniagustian800.blogspot.co.id/2012/11/sejarah-singkatlatar-belakang-dan.htmldiakses Senin 5 Oktober 2015 jam 22:03
mempunyai undang-undang tentang Hak Kekayaan Intelektual yang sebenarnya merupakan pemberlakuan peraturan perundang-undangan Pemerintahan Hindia Belanda yang berlaku di negeri Belanda. Pada masa itu, bidang Hak Kekayaan Intelektual mendapat pengakuan baru 3 (tiga) bidang Hak Kekayaan Intelektual, yaitu bidang Hak Cipta, Merek Dagang dan Industri, serta Paten.
Peraturan perundangan HaKI di Indonesia dimulai sejak masa penjajahan Belanda dengan diundangkannya Octrooi WetNo.
136Staatsblad1911 No. 313, Industrieel Eigendom Kolonien1912 dan Auterswet 1912 Staatsblad 1912 No. 600.26
Undang-Undang Hak Cipta pertama di Belanda diundangkan pada tahun 1803, yang kemudian diperbarui dengan Undang-Undang Hak Cipta tahun 1817 dan diperbarui lagi sesuai dengan Konvesi Bern 1886 menjadi Auterswet1912, Indonesia (Hindia Belanda saat itu) sebagai negara jajahan Belanda, terikat dalam konvensi Bern tersebut, sebagaimana diumumkan dalam S.1914-797. Peraturan Hak Milik Industrial Kolonial 1912 merupakan undang-undang Merek tertua di Indonesia, yang ditetapkan oleh pemerintah Kerajaan Belanda berlaku sejak tanggal 1 Maret 1913 terhadap wilayah-wilayah jajahannya. Undang-Undang Paten 1910 mulai berlaku sejak tanggal 1 Juli 1912.
Pada jaman pendudukan Jepang, peraturan di bidang HKI tersebut tetap diberlakukan.Kebijakan permberlakukan peraturan HKI produk kolonial ini tetap dipertahankan saat Indonesia mencapai kemerdekaan
26https://www.academia.edu/5079927/SEJARAH_HAKIdiakses Senin 5 Oktober 2015 jam 22:36
28
pada tahun 1945, kecuali Undang-Undang Paten (Octrooiwet).Adapun alasan tidak diberlakukannya Undang-Undang tersebut adalah karena salah satu pasalnya bertentangan dengan Kedaulatan RI.
Setelah Indonesia merdeka, berdasarkan pasal 2 Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) dan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1945, maka ketentuan peraturan perundang-undangan Hak Kekayaan Intelektual zaman penjajahan Belanda demi hukum diteruskan keberlakuannya, sampai dengan dicabutdan diganti dengan undang-undang baru hasil produk legislasi Indonesia. Setelah 16 tahun Indonesia mereka, tepatnya pada tahun 1961, barulah Indonesia mempuyai peraturan perundang-undangan Hak Kekayaan Intelektual dalam hukum positif pertama kalinya dengan diundangkannya Undang-Undang Merek pada tahun 1961, disusul dengan Undang-Undang Hak Cipta pada tahun 1982, dan Undang-Undang Paten pada tahun 1989.
Setelah mengalami beberapa kali perubahan sebagai konvensi Internasional, diantaranya perjanjian TRIP’s,Undang-Undang bidang Hak Kekakayaan Intelektual dari ketiga cabang utama tersebut adalah Undang- Undang Hak Cipta (UU No. 28 Tahun 2014), Undang-Undang Paten (UU No. 14 Tahun 2001) dan Undang-Undang Merek (UU No. 15 Tahun 2001). Adapun Undang-Undang lain bidang Hak Kekayaan Intelektual lainnya adalah UU No. 29 Tahun 2000 tentang Varietas Tanaman, UU No.
30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang,UU No. 31 Tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, dan UU No. 32 Tahun 2000 tentang Desain Industri.
Dari beberapa konvensi yang berkaitan dengan Hak Kekayaan Intelektual, Indonesia dalam rangka mendukung pelaksanaan Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs) telah meratifikasinya. Konvensi yang telah diratifikasi oleh Indonesia, di antaranya yaitu :27
1.Paris Conevention for the Protection of Industrial Property and Convention Establishing the World Intellectual Property Organization, diratifikasi melalui Keputusan Presiden Nomor 15 Tahun 1997;
2.Patent Cooperation Treaty (PCT) and Regulation under the Patent Cooperation Treaty (PCT), diratifikasi melalui Keputusan Presiden Nomor 16 Tahun 1997;
3.Trademarks Law Treaty diratifikasi melalui Keputusan Presiden Nomor 17 Tahun 1997;
4.Bern Convention for the Protection of Literary and Artistic Works,diratifikasi melalui Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 1997;
5.World Intellectual Property Organization (WIPO) Copyright Treaty, diratifikasi melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 1997.
B. Teori Hak Kekayaan Intelektual
Teori Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sangat dipengaruhi oleh pemikiran John Locke tentang hak milik.Dalam bukunya, Locke mengatakan bahwa hak
27Muhammad Djumhana dan Djubaedillah, Hak Milik Intelektual (Sejarah, Teori dan Prakteknya di Indonesia), PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2003, hlm 17
30
milik dari seorang manusia terhadap benda yang dihasilkannya itu sudah ada sejak manusia lahir.Benda dalam pengertian disini tidak hanya benda yang berwujud tetapi juga benda yang abstrak, yang disebut dengan hak milik atas benda yang tidak berwujud yang merupakan hasil dari intelektualitas manusia.28
Ada tiga teori terkait dengan pentingnya sistem Hak Kekayaan Intelektual dari perspektif ilmu hukum, yaitu :29
1. Natural Right Theory
Berdasarkan teori ini, seorang pencipta mempunyai hak untuk mengontrol penggunaan dan keuntungan dari ide, bahkan sesudah ide itu diungkapkan kepada masyarakat. Ada dua unsur utama dari teori ini, yaitu:
a. First Occupancy
Seseorang yang menemukan atau mencipta sebuah invensi (ide penemu) berhak secara moral terhadap penggunaan ekslusif invensi tersebut.
b. A Labor Justification
Seseorang yang telah berupaya di dalam mencipta Hak Kekayaan Intelektual, dalam hal ini adalah sebuah invensi seharusnya berhak atas hasil dari usahanya tersebut.Mencipta merupakan istilah dariHak Cipta, istilah tersebut mengandung arti, yaitu hasil karya yang dituangkan dalam bentuk yang khas. Sedangkan Invensi merupakan istilah dari Hak Paten yang mengandung arti, sebagai
28http://abcdanis.blogspot.co.id/2013/05/hak-kekayaan-intelektual_15.htmldiakses Minggu, 4 Oktober 2015 jam 22:14 WIB
29Tomi Suryo Utomo, Hak Kekayaan Intelektual(HKI) di Era Global : Sebuah Kajian Kontemporer, Yogyakarta, 2009, hlm 10
ide Inventor yang dituangkan ke dalam suatu kegiatan pemecahan masalah yang spesifik di bidang teknologi dan dapat berupa produk atau proses, atau penyempurnaan dan pengembangan produk dan proses.
2. Utilitarian Theory
Teori ini diperkenalkan oleh Jeremy Bentham dan merupakan reaksi terhadap Natural Right Theory. Menurut Bentham, Natural Right Theorymerupakan “simple nonsense”.Kritik ini muncul disebabkan oleh adanya fakta bahwa natural right memberikan hak mutlak hanya kepada inventor dan tidak kepada masyarakat.Menurut utilitarian theory, negara harus mengadopsi beberapa kebijakan (misalnya membuat peraturan perundang-undangan) yang dapat memaksimalkan kebahagiaan masyarakat.
3. Contact Theory
Teori ini memperkenalkan prinsip dasar yang menyatakan bahwasebuah paten merupakan perjanjian antara inventor dengan pemerintah. Dalam hal ini, bagian dari perjanjian yang harus dilakukan olehpemegang paten adalah untuk mengungkapkan invensi tersebut dan memberitahukan kepada publik bagaimana cara merealisasikan invensi tersebut. Berdasarkan teori ini, invensi harus diumumkan sebelum diadakannya pemeriksaan substantif atas invensi yang dimohonkan.Jika syarat ini dilanggar oleh inventor, invensi tersebut dianggap sebagai invensi yang tidak dapat dipatenkan.
32
C.Sistem Penerapan Hukum Hak Kekayaan Intelektual
Hak Kekayaan Intelektual merupakan hak yang mendapat perlindungan dari undang-undang, dan barang siapa yang melanggarnya akan dapat dikenakan sanksi. Perlindungan hukum dimaksudkan sebagai upaya yang diatur oleh undang-undang guna mencegah terjadinya pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual oleh orang yang tidak berhak.Jika terjadi pelanggaran, maka pelanggar tersebut harus diproses secara hukum, dan bila terbukti bersalah, maka dapat dijatuhi hukuman sesuai peraturan yang berlaku dengan ancaman hukuman baik yang sifatnya pidana maupun perdata.Tujuan perlindungan HKI itu sendiriadalah untuk memberikan kejelasan hukum mengenai hubungaan antara kekayaan intelektual dengan pencipta atu penemu, pemilik atau pemengang, dan pemakai yang mengunakan HKI.30
Bagaimanakah caranya untuk memahami apakah perbuatan itu merupakan pelanggaran HKI? Menurut Abdul Kadir Muhammad, perlu dipenuhi unsur-unsur penting sebagai berikut:
1) Larangan Undang-Undang. Perbuatan yang dilakukan oleh seseorang pengguna HKI dilarang dan diancam dengan hukuman oleh Undang- Undang.
2) Izin (lisensi). Pengguna HKI dilakukan tanpa persetujuan dari pemilik atau pemegang hak terdaftar.
3) Pembatasan Undang-Undang. Penggunaan HKI melampau batas ketentuan yang telah ditetapkan oleh undang-undang
30Hery, Op.Cit,hal.11.
4) Jangka waktu. Penggunaan HKI dilakukan dalam jangka waktu perlindungan yang telah ditetapkan undang-undang atau perjanjian tertulis atau lisensi.
Konsep Perlindungan HKI ini berlaku pada semua bidang HKI tanpa terkecuali.Jadi semua unsur-unsur yang disebutkan diatas untuk lebih mempermudah pemahaman tentang konsep perlindungan HKI yang ada di Indonesia.
Perlindungan hukum HKI merupakan suatu sistem hukum yang terdiri dari unsur-unsur sistem berikut ini:
1) Subjek perlindungan
.
Subjek yang dimaksud adalah pihak pemilik atau pemengang hak, aparat penegah hukum, pejabat pendaftaran, dan pelanggar hukum
2) Objek Perlindungan.
Objek yang dimaksud adalah semua jenis produk HKI yang diatur pleh Undang-undang, seperti Hak Merek, Hak Cipta, Hak Paten, Desain Industri, Rahasi Dangang, Tata Letak Sirkuit Terpadu, Perlindungan Varietas Tanaman.
3) Pendaftaran Perlindungan.
HKI yang dilindungi hanyalah yang sudah terdaftar dalam daftar umum merek dan dibuktikan dengan sertifikat pendaftaran, kecuali apabila undang-undang mengatur lain.
4) Jangka waktu perlindungan.
Jangka waktu yang dimaksud adalah lamanya HKI itu dilindungi oleh Undang-Undnag Merek 10 (sepuluh) tahun, Hak Cipta selama hidup
34
ditambah 50 (lima puluh) tahun sesudah meninggal, Hak Paten 20 (dua puluh) tahun, Desain industri 10 (sepuluh) tahun, Varietas Baru Tanaman 20-25 (dua puluh sampai dua puluh lima) tahun.
5) Tindakan hukum perlindungan.
Apabila terbukti terjadi pelanggaran HKI, maka pelanggar harus dihukum, baik secara pidana maupun secara perdata.31
HKI seseorang penting untuk dilindungi karena beberapa faktor, dimana HKI merupakan:
1) Hak-hak alami.
Hak yang paling mendasar pada HKI adalah bahwa seseorang yang telah mengeluarkan usaha ke dalam penciptaan memiliki sebuah hak alami untuk memiliki dan mengontrol apa yan teleh mereka ciptakan.
Pendekatan ini menekankan kejujuran dan keadilan. Berdasarkan ketentuan Pasal 27 ayat (2) Deklarasi Hak Asasi Manusia sedunia,“setiap orang memiliki hak untuk mendapat perlindungan (untuk kepentingan moral dan materi) yang diperoleh dari ciptaan ilmiah, kesusastraan, atu artistik dalam hal dia sebagai pencipta.”
2) Perlindungan reputasi.
Sebagai contoh, perusahaan sering menghabiskan banyak waktu dan uang untuk membangun sebuah reputasi bagi produk-produk mereka. Mereka mengadakan kampanye periklanan yang berkesinambungan dan menyeluruh, kegiatan sponsor dan promosi lainnya, mereka ingin mencegah pihak lain menggunkan reputasi mereka sehingga perlindungan
31Hery, Op.Cit,hal.12-13
adalah sesuatu yang penting karena reputasi perusahaan, yang diwujudkan dalam merek, nama, dan desain bagian luar dari produk.
3) Dorongan dan imbalan dari inovasi dan pencipta.
Banyak ahli setuju bahwa hukum HKI adalah sebuah bentuk kompensasi dan dorongan bagi orang untuk mencipta.Melalui pembatasan penggunaan inovasi diharapkan akhirnya meningkatkan taraf informasi dan inovasi yang tersedia di masyarakat.
Mengapa menjadi penting kekayaan intelektual seseorang untuk mendapatkan perlindungan hukum? Dikarenkan selain terdapat nilai ekonomis dalam mengekspresikan ide yang dimilikinya ke dalam bentuk yang berwujud, pencipta juga menghabiskan banyak tenaga, waktu, dan biaya dalam mengekspresikan ke dalam wujud nyata karyanya, sehinngga dapat dilihat, dibaca, didengar ataupun digunakan secaara praktis oleh pihak lain.32
32TimLindsay, dkk, Op.Cit, hal.13-15.
BAB III
UPAYA HUKUM BAGI PEMEGANG HAK ATAS CIPTA
A. Upaya Hukum Terhadap Pelanggaran Hak Cipta
Dalam setiap perbuatan hukum yang menimbulkan akibat hukum selalu diletakkan syarat – syarat tertentu. Menurut Vollmar, penggunaan wewenang yang tidak memenuhi syarat yang di tentukan Undang – undang sudah pasti tidak mendapatkan perlindungan hukum.33
a. Upaya hukum preventif adalah usaha untuk menghindari atau mencegah perbuatan pelanggaran atas suatu karya cipta. Pencipta selaku pemilik hak cipta dan pemerintah harus melakukan upaya preventif sebagai pencegahan pelanggaran. Adapun usaha pencegahan yang dapat dilakukan oleh pencipta adalah mendaftarkan karya cipta dan pemahaman pencipta terhadap Undang –undang Hak Cipta.
Sedangkan upaya pencegahan yang dapat dilakukan pemerintah antara lain : meningkatkan pemahaman kepada masyarakat melalui tindakan penyuluhan dan pembinaan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, membuat suatu pemahaman bersama antara para penegak hukum tentang pentingnya hak cipta, menyebarluaskan materi - meteri Hak Kekayaan Intelektual, dan memberikan sanksi yang setimpal sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan kepada pelaku pelanggaran karya cipta.
33 Vollmar HFA, Terjemahan I.S. Adiwimarta, Pengantar Studi Hukum Perdata, Rajawali Pers, Jakarta, Hal.9
b. Upaya Hukum Represif adalah suatu tindakan ketika sebuah karya cipta telah dilanggar. Upaya hukum represif ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan upaya perdata dan upaya pidana. Dari segi upaya perdata dapat dilihat melalui penerapan pasal 1365 Kitab Undang – Undang Hukum Perdata yang menyatakan bahwa tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian bagi orang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut. Dari segi upaya pidana dalam menyelesaikan kasus pelanggaran terhadap karya cipta musik mengenal adanya hukum biasa (banding dan kasasi) dan upaya hukum luar biasa (Peninjauan Kembali dan Kepentingan Hukum) dalam hal ketidakadilan dalam putusan pengadilan yang dirasakan oleh salah satu pihak yang berperkara. Dalam hal ketentuan pidana diatur dalam pasal 72 ayat (1) Undang – Undang Hak Cipta yang merumuskan:
“Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)”
Upaya hukum pidana dalam menyelesaikan perkara pelanggaran cukup efektif dibandingkan dengan upaya hukum perdata dikarenakan dalam upaya hukum perdata lebih menitik beratkan kepada proses ganti ruginya saja. Berbeda
38
dengan upaya hukum pidana yang menimbulkan efek jera yaitu kurungan badan bagi pelaku kejahatan atau pelanggaran.
Upaya penanggulangan pelanggaran hak moral diyakini memiliki hasil dan manfaat bagi para pihak baik pencipta ataupun pemegang Hak Cipta.
Seringnya terjadi pelanggaran menunjukkan banyaknya pelanggaran dan sulitnya mengatasinya. Seiring dengan masalah yang terjadi, guna mengapresiasikan kreativitas para pencipta, dan memberikan penghormatan dan perlindungan secara sepantasnya terhadap hasil karyanya dan hak-haknya dengan adanya penegakan hukum melalui jalur non litigasi yang merupakan penyelesaian sengketa melalui jalur di luar pengadilan. Penyelesaian sengketa seperti ini dikarenakan mereka yang mengalami pelanggaran atas karya ciptanya tidak mengetahui mengenai Undang-Undang Hak Cipta khususnya di kalangan fotografer. Dalam beberapa kasus pelanggaran, antara pihak yang bersengketa lebih memilih penyelesaian melalui jalur tersebut dikarenakan tidak memakan banyak biaya yang hanya untuk satu jenis ciptaan saja, selain itu dengan cara musyawarah tidak perlu berbelit-belit dalam penyelesaiannya karena hanya dibutuhkan kesepakatan antara pihak dalam pemberian ganti rugi yang wajar kepada pihak yang haknya telah dilanggar.Bab XIV Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta mengatur tentang ketentuan-ketentuan yang cukup memadai tentang penyelesaian sengketa secara perdata dengan mengajukan gugatan ganti rugi oleh pemegang Hak Cipta atas pelanggaran Hak Ciptanya kepada Pengadilan Niaga. Gugatan ganti rugi tersebut dapat berupa permintaan untuk menyerahkan seluruh atau sebagian penghasilan dari pelanggaran Hak Cipta atau produk Hak Terkait.
Ganti rugi tersebut diberikan dan dicantumkan sekaligus dalam amar putusan pengadilan tentang perkara tindak pidana Hak Cipta dan/atau Hak Terkait, dan dibayarkan paling lama 6 (enam) bulan setelah putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Selain gugatan ganti rugi atas pelanggaran Hak Cipta, pasal 99 ayat (3) Undang-Undang Hak Cipta memberikan hak kepada Pencipta, Pemegang Hak Cipta, atau produk Hak Terkait untuk dapat memohon putusan provinsi atau putusan sela kepada Pengadilan Niaga untuk :
1. Meminta penyitaan Ciptaan yang dilakukan pengumuman atau penggandaan, dan/atau alat penggandaan yang digunakan untuk menghasilkan Ciptaan hasil pelanggaran Hak Cipta dan produk Hak Terkait, atau
2. Menghentikan kegiatan pengumuman, pendistribusian, komunikasi, dan/atau penggandaan Ciptaan yang merupakan hasil pelanggaran Hak Cipta dan produk Hak Terkait.
Dengan adanya pelanggaran atas karya cipta fotografi, sanksi perdata yang dikenakan selain dikenakan gugatan ganti rugi, pihak yang merasa telah dirugikan sebagai seorang pencipta atas karya ciptaannya berhak atas pemulihan nama baik pencipta, pembatalan hak, dan berhak untuk menuntut penghentian semua kegiatan pelanggaran.
Mengenai tata cara gugatan atas pelanggaran Hak Cipta, pasal 100 Undang-Undang Hak Cipta menjelaskan :
1. Gugatan atas pelanggaran Hak Cipta diajukan kepada ketua Pengadilan Niaga.
40
2. Gugatan tersebut kemudian dicatat oleh panitera pengadilan pada tanggal gugatan tersebut didaftarkan.
3. Panitera Pengadilan Niaga memberikan tanda terima yang telah ditandatangani pada tanggal yang sama dengan tanggal pendaftaran.
4. Panitera Pengadilan Niaga menyampaikan permohonan gugatan kepada ketua Pengadilan Niaga dalam waktu paling lama 2 (dua) hari terhitung sejak tanggal gugatan didaftarkan.
5. Dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari terhitung sehak gugatan didaftarkan, Pengadilan Niaga menetapkan hari persidangan.
6. Pemberitahuan dan pemanggilan para pihak dilakukan oleh juru sita dalam waktu paling lama 7 (tujuh) hari terhitung sejak gugatan didaftarkan.
Kemudian dijelaskan lebih lanjut dalam pasal 101 :
1. Putusan atas gugatan harus diucapkan paling lama 90 (sembilan puluh) hari sejak gugatan didaftarkan.
2. Dalam hal jangka waktu 90 (sembilan puluh) hari tersebut tidak dapat dipenuhi, atas persetujuan Ketua Mahkamah Agung jangka waktu tersebut dapat diperpanjang selama 30 (tiga puluh) hari.
3. Putusan tersebut harus diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum.
4. Putusan Pengadilan Niaga harus disampaikan oleh juru sita kepada para pihak paling lama 14 (empat belas) hari terhitung sejak putusan diucapkan.