• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Oleh : MUHAMMAD YUSUF NIM DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA BW

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI. Oleh : MUHAMMAD YUSUF NIM DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA BW"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN YURIDIS TERHADAP IZIN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL

BERDASARKAN PP NO 45 TAHUN 1990 JO PP NO 10 TAHUN 1983 TENTANG IZIN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN

PEGAWAI NEGERI SIPIL

SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Akhir danMemenuhi Syarat - SyaratUntuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum

Oleh :

MUHAMMAD YUSUF NIM 140200551

DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA BW

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(2)
(3)

SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

NAMA : MUHAMMAD YUSUF

NIM : 1402000551

DEPARTEMEN: HUKUM KEPERDATAAN

JUDUL SKRIPSI :TINJAUAN YURIDIS TERHADAP IZIN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL BERDASAKAN PP NO 45 TAHUN 1990 JO PP NO 10 TAHUN 1983

Dengan ini menyatakan:

1. Skripsi yang saya tulis ini adalah benar tidak merupakan jiplakan dari skripsi atau karya orang lain.

2. Apabila terbukti di kemudian hari skripsi tersebut adalah jiplakan,maka segala akibat hukum yang timbul menjadi tanggung jawab saya.

Demikian pernyataan ini saya perbuat dengan sebenarnya tanpa paksaan atau tekanan dari pihak manapun.

Medan, Oktober 2018

MUHAMMAD YUSUF NIM: 140200551

(4)

i ABSTRAK Muhammad Yusuf * Rosnidar Sembiring**

Rabiatul Syahriah***

Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa. Sedangkan perceraian adalah putusnya suatu perkawinan yang sah didepan hakim pengadilan berdasarkan syarat- syarat yang ditentukan undang-undanng. Oleh karena itu perlu dipahami jiwa dari peraturan mengenai perceraian itu serta sebab akibat yang mungkin timbul setelah suami istri itu perkawinannya putus. Pegawai Negeri Sipil yang akan melakukan perceraian harus memperoleh izin terlebih dahulu dari pejabat setempat. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana kewenangan Pemerintah dalam pembatalan perkawinan dan perceraian karenan tidak adanya izin, apa akibat hukum yang ditimbulkan, dan bagaimana tata cara terhadap izin perkawinan dan perceraian tersebut.

Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah dengan cara mengkaji aturan hukum seperti Undang-undang, buku-buku, peraturan-peraturan dan literatur-literatur yang berisi konsep-konsep yang dihubungkan dengan permasalahan yang dibahas dalam penulisan ini. Dengan demikian penelitian skripsi ini besifat yuridis normatif. Bahan yang dipakai adalah bahan hukum primer, sekunder, dan tersier.

Hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Pemerintah berhak memberikan atau menolak izin perkawinan dan perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil yang hendak melaksanakan perkawinan atau perceraian.Timbulnya hubungan antara suami istri, timbulnya harta benda, timbulnya hubungan antara orang tua dan anak.Pegawai Negeri Sipil harus mengajukan permohonan perceraian disertai alasan-alasan dan ditujukan kepada kepala SKPD. Kepala SKPD memerintahkan atasan dari Pegawai Negeri Sipil tersebut untuk melakukan mediasi, pemeriksaan, memberikan pembinaan, penasihatan, dan dibuatkan BAP.

Apabila kedua belah pihak sepakat untuk melakukan perceraian maka akan diterbitkan izin perceraian dari atasan atau pejabat yang berwenang dan yang menandatangani keputusan tentang izin perceraian tersebut.

Kata Kunci : Perkawinan, Perceraian, Pegawai Negeri Sipil

*Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

**Dosen Pembimbing I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

***Dosen Pembimbing II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

(5)

ii

KATA PENGANTAR Assalamu ‘Alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahirobbil'alamin, puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt, atas segala rahmad, hidayah, dan karunia-Nyalah sehingga penulis dapat dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam senantiasa terucap untuk Nabiullah Muhammad SAW, yang telah membawa kita dari zaman kejahiliaan ke zaman kebenaran hingga hari akhir. Yang mana ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan. Adapun judul dari skripsi ini adalah

“Tinjauan Yuridis Terhadap Izin Perkawinan dan Perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil Berdasarkan PP No 45 Tahun 1990 Jo PP No 10 Tahun 1983 Tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Pegawai Negeri Sipil”. Untuk penulisan skripsi ini penulis berusaha agar hasil penulisan skripsi ini mendekati kesempurnaan yang diharapkan, tetapi walaupun demikian penulisan ini belumlah dapat dicapai dengan maksimal, karena ilmu pengetahuan masih terbatas. Oleh karena itu, segala saran dan kritik akanditerima dari semua pihak dalam rangka penyempurnaan penulisan skripsi ini.

Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak sehingga pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan baik secara langsung maupun tidak langsung kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini. Maka pada kesempatan ini dengan segala hormat penulis menyampaikan ucapan terimakasih sebesar-besarnya kepada :

(6)

iii

1. Prof.Dr.Budiman Ginting, S.H., M.Hum.,selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

2. Prof.Dr.Saidin, SH., M.Hum., selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Puspa Melati Hasibuan, S.H., M.Hum., selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Dr.Jelly Leviza, S.H., M.Hum., selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

5. Ibu Dr.Rosnidar Sembiring, S.H., M.Hum., selaku Ketua Departemen Hukum Keperdataan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan Dosen Pembimbing I, yang telah memberikan waktu, membimbing dan mengarahkan penulis dalam proses penulisan skripsi ini.

6. Bapak Syamsul Rizal, S.H., M.Hum., selaku Sekretaris Departemen Hukum Keperdataan Fakultas Hukum Universitas sumatera utara.

7. Ibu Rabiatul Syahriah, S.H., M.Hum., selaku Dosen Pembimbing II, yang telah memberikan waktu, membimbing dan mengarahkan penulis dalam proses penulisan skripsi ini.

8. Ibuk Rosmalinda, S.H., LLM., selaku Dosen Pembimbing Akademik dari penulis, yang setiap semesternya selalu menanyakan dan memperhatikan serta memberikan nasehat terhadap penulis terntang perkembangan hasil IP atau IPK dari penulis, yang mana berkat beliaulah penulis semakin semangat dalam perkualiahan setiap semester berikutnya.

(7)

iv

9. Bapak dan Ibu Dosen staf pengajar Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu dan pengetahuan kepada penulis selama menjalani proses perkuliahan.

10. Teristimewa penulis sampaikan kepada orang tua tercinta, Drs. Ali Aceh Pasaribu dan Rosdiani Harahap S.Pd yang selalu mendoakan penulis, memberikan kasih sayang dan perhatian penuh kepada penulis, sangat sabar dalam mendidik penulis, serta selalu memberikan semangat dan motivasi kepada penulis.

11. Kepada keluarga penulis, Kak Fathul Jannah Pasaribu S.Pdi, Kak Khodijah Khoirunnisa Pasaribu S.Pd, Kak Annisa Zakiah Pasaribu S.Sos, Dek Murtado Mutohhari Pasaribu C.S.T, dan adek paling kecil Butet Solihah Pasaribu C.S.Ked yang telah memberikan semangat dan motivasi kepada penulis selama penulisan skripsi ini.

12. Kepada kawan-kawan penulis yang tergabung dalam MASKULIN, yang selalu memberikan kata-kata motivasi buat penulis dalam mengerjakan skripsi ini.

13. Kepada kawan-kawan penulis yang tergabung dalam KLINIS SKUAD, yang selalu memberikan semangat bagi penulis dalam mengerjakan skripsi ini.

14. Kepada kawan-kawan penulis yang tergabung dalam PATNER’S M2M PSP, yang selalu menanyakan kapan saya wisuda.

15. Kepada kawan tukar pikiran dari penulis Rudi, Ardian, Fauzan, Hanif, Solihin, Taher, Rifai, yang setiap bertemu pasti memberikan semangat dan motivasi terhadap penulis.

(8)

v

16. Kepada adek-adek penulis yang sudah menunggu kapan abangnya sidang dan wisudah, yang selalu mendoakan penulis agar semua urusan lancar dalam segala urusan terutama dalam hal penyelesaian skripsi ini.

17. Kepada seluruh Anggota Organisasi PPM PALUTA USU, UNIMED, UINSU, dan UMSU (Perhimpunan Pemuda dan Mahasiswa Padang Lawas Utara) yang selalu mendukung penulis dalam penulisan skripsi ini.

18. Kepada kawan-kawan penulis yang pertama kali kenal di Fakultas Hukum Usu, Roji, Acin, Iqbal, Faisal, Madan, Farhan, Abdul, Etra, Faridz, Alif, Mahmudin, Hetty, Ashri, Ridha, Dasma, Roro, Essy, Desi, Avissa, Reza, Indira, Sayid, Febri, Fajar, Tompul, Fahmi, Datuk, Joko, Ahmad, Ari, dll yang menjadi kawan penulis dalam masa awal perkuliahan.

19. Kepada kawan penulis di kampung Rinaldi, Ansyah, Sapari, Pontas, Jefri, Amirul, One, Juita, Bani, Emelia, Ika, Marito, Tukma, Indo, Yakub.

20. Kepada seluruh kawan-kawan penulis Stambuk 2014 yang takbisa penulis sebutkan satu per satu yang ada di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Medan, Oktober 2018 Penulis

Muhammad Yusuf

(9)

vi DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI... v

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah ... 8

C. Tujuan Penulisan... 9

D. Manfaat Penulisan ... 10

E. Metode Penelitian ... 11

F. Keaslian Penulisan ... 13

G. Sistematika Penulisan ... 15

BAB II KEWENANGAN PEMERINTAH DALAM PEMBATALAN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN KARENA TIDAK ADANYA IZIN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL A. Hukum yang mengatur tentang Perkawinan dan Perceraian Pegawai Negeri Sipil ... 17

B. Pembatalan Perkawinan Pegawai Negeri Sipil karena tidak adanya Izin . 30 C. Pembatalan Perceraian Pegawai Negeri Sipil karena tidak adanya Izin ... 36

BAB III AKIBAT HUKUM YANG DITIMBULKAN DARI PERKAWINAN DAN PERCERAIAN PEGAWAI NEGERI SIPIL A. Akibat hukum ... 39

B. Akibat hukum terhadap suami istri... 43

C. Akibat hukum dari perceraian ... 44

(10)

vii

D. Akibat hukum terhadap anak ... 46 E. Akibat hukum terhadap harta ... 49 BAB IVTATA CARA TERHADAP IZIN PERKAWINAN DAN

PERCERAIAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL

BERDASAKAN PP. NO. 45 TAHUN 1990 JO. PP. NO. 10 TAHUN 1983 TENTANG IZIN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN PEGAWAI NEGERI SIPIL

A. Tinjauan Yuridis terhadap PP. NO. 45 TAHUN 1990 JO. PP. NO. 10 Tahun 1983 Tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Pegawai Negeri Sipil... 52 B. Sanksi bagi Pegawai Negeri Sipil yang melakukan Perkawinan dan

Perceraian tanpa Prosedur Izin yang sesuai ... 58 C. Contoh Kasus Perceraian Pegawai Negeri Sipil ... 65 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan... 78 B. Saran ... 79 DAFTAR PUSTAKA ... 81

LAMPIRAN

(11)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara hukum, hal ini dijelaskan dalam Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pada Pasal 1 ayat (3) (amandemen ke-3) yang berbunyi “ Negara Indonesia adalah negara hukum”.

Makna Negara Indonesia sebagai Negara hukum esensinya adalah hukum nasionalIndonesia harus tampil akomodatif, adaptif dan progresif. Tampil akomodatif artinya mampu menyerap, menampung keinginan masyarakat yang dinamis, lalu adaptif artinya mampu menyesuaikan dinamika perkembangan zaman, sehingga kita tidak pernah pusing, dan yang terakhir tampil progresif artinya selalu berorientasi pada kemajuan.

Kehidupan manusia di dunia ini, yang berlainan kelaminnya secara alamiah mempunyai daya tarik menarik antara satu dengan yang lainnya berpasang-pasangan untuk hidup karena manusia merupakan makhluk sosial, mereka membutuhkan orang lain untuk bertahan hidup, melangsungkan hubungan dan melanjutkan keturunan. Dalam hal melanjutkan keturunan inilah dibuat peraturan untuk mengatur tentang melanjutkan keturunan yang disebut perkawinan. Perkawinan adalah perilaku makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa agar kehidupan di alam dunia berkembang biak.1

1 Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia, Mandar Maju, Bandung, 1990, hal. 1.

Aturan tata tertib perkawinan

(12)

sudah ada sejak masyarakat sederhana yang dipertahankan anggota- anggotamasyarakat dan para pemuka masyarakat adat dan atau pemuka agama..2 Di Indonesia perkawinan diatur dalam Undang-Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Perkawinan menurut undang-undang ini adalah ikatan lahir batin antara seorangpria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Menurut Ter Haar bahwa perkawinan itu adalah urusan kerabat, urusan keluarga, urusan masyarakat, urusan martabat, dan urusan pribadi.3

Tujuan perkawinan menurut Pasal 1 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 adalah membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pembentukan keluarga yang bahagia itu erat hubungannya dengan keturunan, dimana pemeliharaan dan pendidikan anak-anak menjadi hak dan kewajiban orang tua. Dengan demikian yang menjadi tujuan perkawinan menurut perundangan adalah untuk kebahagiaan suami istri, untuk mendapatkan keturunan dan menegakkan keagamaan, dalam kesatuan-kesatuan keluarga yang bersifat parental.4

1. Calon pengantin pria

Menurut Pasal 2 ayat (1)Undang-Undang No. 1 Tahun 1974, bahwa

“Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaan itu”. Menurut Islam adapun rukun perkawinannya yaitu :

2. Calon pengantin perempuan

2Ibid. hal 1.

3 Ibid. hal 8

4 Ibid. hal 22

(13)

3

3. Wali nikah 4. Dua orang saksi 5. Akad ijab dan kabul5

Keterangan di atas sudah jelas tentang rukun perkawinan bagi pasangan yang ingin menikah. Sama juga dengan Pegawai Negeri Sipil harus memenuhi rukun-rukun atau syarat-syarat tersebut. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian, Pegawai Negeri Sipil adalah mereka yang telah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam peraturan perundang- undangan yang berlaku, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi suatu tugas dalam suatu jabatan negeri atau diserahi suatu tugas negara lainnya yang ditetapkan berdasarkan sesuatu peraturan perundang-undangan dan digaji menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pada Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil, syarat-syarat perkawinan dan perceraian harus terpenuhi terlebih dahulu sebelum melakukan perkawinan dan perceraian karena apabila syarat-syarat itu tidak dipenuhi maka akan dikenakan sanksi, walaupun pada dasarnya tidak ada seorangpun ketika hendak melakukan perkawinan mengharapkan sesuatu hal yang buruk menimpa dalam perkawinannya.

Hidup telah diatur untuk berpasang-pasangan dari pejabat swasta, Pegawai Negeri Sipil sampai orang biasa. Banyak masalah dalam perkawinan yang berakhir pada perceraian dan akibat dari perceraian itu timbul masalah baru seperti hak asuh anak, pembagian harta, dan pemenuhan hak setelah terjadi perceraian. Sedangkan upaya terakhir untuk mempersatukan kembali suami istri

5 Zuhdi Muhdlor, Memahami Hukum Perkawinan, Al-Bayan, Bandung, 1995, hal. 52.

(14)

yang berniat bercerai dengan jalan membuka lagi pintu perdamaian dengan cara mediasi di pengadilan. Bagi orang yang beragama Islam akan membawa permasalahan ini ke Pengadilan Agama sementara agama lainnya ke Pengadilan Negeri tempat mereka tinggal.6

Pegawai Negeri Sipil adalah unsur aparatur negara, abdi negara, dan abdi masyarakat yang harus menjadi teladan yang baik bagi masyarakat dalam tingkah laku, tindakan dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Untuk dapat melaksanakan kewajiban yang demikian itu, maka kehidupan Pegawai Negeri Sipil harus ditunjang oleh kehidupan yang serasi, sehingga setiap Pegawai Negeri Sipil dalam melaksanakan tugasnya tidak akan banyak terganggu oleh masalah-masalah keluarganya.

Masalah perkawinan dan perceraian telah diatur pada Undang-Undang No.

1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Tetapi lain halnya dengan Pegawai Negeri Sipil karena ada Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 1990 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil.

7

Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 1990 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil dapat disimpulkan bahwa sehubungan dengan contoh dan keteladanan yang harus diberikan oleh Pegawai Negeri Sipil kepada bawahannya dan masyarakat, maka kepada Pegawai Negeri Sipil diberikan ketentuan disiplin yang tinggi. Untuk melakukan perkawinan dan perceraian Pegawai Negeri Sipil harus memperoleh izin terlebih dahulu dari pejabat yang bersangkutan. Pegawai Negeri Sipil pria yangakan beristri dari

6 Abdul Manan, Aneka Hukum Perdata Islam di Indonesia, Jakarta,Kencana, 2008, hal.

14.

7Peraturan Pemerintah No. 45 tahun 1990 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Pegawai Negeri Sipil, hal. 6.

(15)

5

seorang dan Pegawai Negeri Sipil wanita yang akan menjadi istri kedua/ ketiga/

keempat dari seorang yang bukan pegawai negeri sipil diharuskan memperoleh izin terlebih dahulu dari pejabat. Demikian juga pegawai negeri sipil yang akan melakukan perceraian harus memperoleh izin terlebih dahulu dari pejabat.

Sedangkan Pegawai Negeri Sipil wanita tidak diizinkan untuk menjadi istri kedua/

ketiga/ keempat dari Pegawai Negeri Sipil. Ketentuan berupa keharusan memperoleh izin terlebih dahulu dari pejabat bagi perkawinan dan perceraian Pegawai Negeri Sipil tersebut tidak mengurangi ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi lembaga perkawinan dan perceraian itu sendiri.

Perceraian yang dilakukan Pegawai Negeri Sipil banyak pertimbangan yang harus dipikirkan dari mulai hak anak sampai hak dan kewajiban. Suatu perceraian yang telah terjadi antara suami istri secara yuridis memang mereka itu masih mempunyai hak dan kewajiban antara keduanya, terutama pada saat istri sedang menjalani masa iddah.

Iddah adalah masa menunggu bagi mantan istri yang telah diceraikan oleh

mantan suaminya, baik itu karena thalak atau diceraikannya. Ataupun karena suaminya meninggal dunia yang pada masa tunggu itu mantan istri belum boleh melangsungkan pernikahan kembali dengan laki-laki lain.8

Pada saat iddah inilah antara kedua belah pihak yang telah mengadakan perceraian, masing-masing masih mempunyai hak dan kewajiban antara keduanya. Bila suami melalaikan kewajibannya maka akan timbul berbagai permasalahan, misalnya si anak putus sekolahnya, sehingga anak tersebut akan

8 Muhammad Daud Ali, Asas-Asas Hukum Islam Tentang Perkawinan, Jakarta, Grafindo Pustaka Pelajar, 2004, hal. 125.

(16)

terlantar atau bahkan menjadi gelandangan. Sedangkan mantan istrinya sendiri tidak menutup kemungkinan akan terjerumus kelembah hitam.

Inilah fenomena-fenomena yang sering timbul dari perceraian yang mana tidak melaksanakan kewajibannya terhadap hak istri dan anak pada masa iddah.

Setelah terjadi perceraian pada hakikatnya si suami harus memberikan minimal perumahan pada mantan istri dan anaknya. Berkenaan dengan itu kewajiban suami tersebut, dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 81 ayat 1 yang berbunyi “Suami wajib menyediakan tempat kediaman bagi istri dan anak-anaknya atau mantan istrinya yang masih dalam iddah”.9

Kewajiban suami terhadap istri tersebut diatur dalam Undang-Undang No.

1 Tahun 1974 Pasal 41 (c), yang berbunyi : “Pengadilan Agama dapatmewajibkan Dari bunyi diatas sudah jelas bahwa bagi suami yang menceraikan istrinya dalam masa iddah wajib menyediakan tempat tinggal , ataupun membolehkan mantan istrinya untuk bertempat tinggal di rumahnya sampai batas masa iddah tersebut habis(berakhir).

Bila suami melalaikan kewajibannya ini, maka istri dapat mengajukan gugatan ke Pengadilan Agama. Gugatan tersebut dapat diajukan bersama-sama sewaktu istri mengajukan berkas gugatan atau dapat pula gugatan tersebut diajukan dikemudian. Akan tetapi ada pula kewajiban tersebut dapat dibebankan kepada mantan suami, misalnya pada waktu terjadi perceraian tersebut disebabkan istri murtad atau sebab-sebab lainnya yang menjadi sebab suami tidak wajib menunaikan hak istri dan bila telah ada kemufakatan bersama atas putusan Pengadilan Agama tentang nafkah anak tersebut, maka dapat pula nafkah anak tersebut ditanggung bersama antara keduanya (suami istri).

9 Moh Mahfud, Pengadilan Agama dan Kompilasi Hukum Islam dalam Tata Hukum Indonesia, (Yogyakarta Press), Yogyakarta, 1993, hal. 199.

(17)

7

kepada mantan suami untuk memberikan biaya kehidupan dana atau untuk menentukan suatu kewajiban bagi mantan istri”.10

Pegawai Negeri Sipil yang telah meninggal dunia dalam masa dinas kerjanya akan memperoleh uang pensiun sebagai balas tanda jasanya yang telah mengabdikan diri sebagai pegawai negeri untuk membantu roda pemerintahan, uang pensiun akan diberikan kepada suami/istri Pegawai Negeri sipil yang sebelumnya sudah terdaftar sebagai suami/istri Pegawai Negeri Sipil. Hal ini yang sering disebut sebagai pensiun duda/janda, dengan syarat-syarat yang telah

Pengadilan Agama adalah lembaga yang berwenang dalam menyelesaikan hak istri. Namun untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut diatas para pencari keadilan yang selalu agresif mengajukan pemasalahan ke Pengadilan Agama. Bila tidak mendapatkan kejelasan dan kepastian hukum sudah tentu pengajuan perkara haruslah sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan oleh undang-undang.

Pegawai Negeri Sipil merupakan salah satu unsur dalam masyarakat yang sangat penting dalam penyelenggaraan roda pemerintah yang keberadaannya sesuai dengan keputusan dari pemerintah serta menyadari peranan Pegawai Pegeri Sipil yang demikian pentingnya, maka pemerintah memberikan beberapa hak tertentu kepada Pegawai Negeri Sipil, antara lain hak atas gaji, hak atas cuti, dan hak atas pensiun. Dari hal tersebut salah satu yang membuat seseorang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil adalah adanya pensiun. Pensiun merupakan jaminan hari tua dan juga sebagai penghargaan atas jasa-jasa Pegawai Negeri Sipil selama bertahun-tahun bekerja dalam dinas pemerintahan.

10 Arso Armojo, Hukum Perkawinan di Indonesia, Jakarta, Bulan Bintang, 1981, hal. 59.

(18)

ditentukan oleh peraturan perundang-undangan, salah satu syaratnya suami/istri dari Pegawai Negeri Sipil tersebut dapat membuktikan pernikahannya dengan adanya akta nikah/buku nikah.

Prakteknya di masyarakat ada juga orang yang melakukan perkawinan dengan cara keagamaannya saja dan tidak dicatatkan pada kantor catatan sipil sehingga mereka tidak mempunyai buku nikah. Dari kenyataan tersebut, jelas bahwa pasangan suami istri yang tidak mempunyai buku nikah karena perkawinanya tidak tercatat atau dicatatkan, mengakibatkan tidak dapat memperoleh hak-haknya atas pensiun duda/janda yang diberikan kepadanya.

Berdasarkan beberapa hal-hal tersebut diatas, maka penulis tertarik untuk membahas ini secara lebih mendalam yang dituangkan dalam bentuk skripsi yang berjudul “TINJAUAN YURIDIS TERHADAP IZIN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL BERDASARKAN PP.

NO. 45 TAHUN 1990 JO PP NO 10 TAHUN 1983 TENTANG IZIN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN PEGAWAI NEGERI SIPIL”.

B. Perumusan Masalah

Untuk mempermudah pemahaman terhadap permasalahan yang dikaji serta mempermudah pembahasan masalah agar lebih terarah dan mendalam sesuai dengan sasaran yang tepat. Selain itu, perumusan masalah diharapkan dapat memberikan arah pembahasan yang jelas sehingga terbentuk hubungan dengan masalah yang dibahas. Maka dalam penelitian dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

(19)

9

1. Bagaimanakah kewenangan pemerintah dalam pembatalan perkawinan dan perceraian karena tidak adanya izin perkawinan dan perceraian Pegawai Negeri Sipil ?

2. Apakah akibat hukum yang ditimbulkan dari perkawinan dan perceraian Pegawai Negeri Sipil ?

3. Bagaimanakah tata cara terhadap izin perkawinan dan perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil berdasarkan PP No 45 Tahun 1990 jo PP No 10 Tahun 1983 tentang izin perkawinan dan perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil ?

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan utama dari penulisan skripsi ini adalah untuk memenuhi syarat mendapat gelar sarjana hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Disamping itu, penulisan ini juga bertujuan untuk menjawab permasalahan yang sudah disebutkan sebelumnya. Melalui penulisan ini yang ingin dicapai adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui tentang kewenangan dari pemerintah dalam hal pembatalan perkawinan dan perceraian karena tidak adanya izin dari perkawinan dan perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil tersebut.

2. Untuk mengetahui tentang akibat hukum yang ditimbulkan dari perkawinan dan perceraian Pegawai Negeri Sipil.

3. Untuk mengetahui tentang bagaimana tata cara atau prosedur yang dapat dilakukan oleh seorang Pegawai Negeri Sipil agar dapat memperoleh izin perkawinan dan perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil berdasarkan PP

(20)

No45 Tahun 1990 jo PP NO 10 Tahun 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil.

D. Manfaat Penulisan

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoretis maupun praktis bagi pembaca.

1. Secara Teoretis

Penulisan skripsi ini diharapkan bermanfaat bagi dunia pendidikan untuk menambah literatur dalam bidang hukum perdata pada umumnya serta izin perkawinan dan perceraian pada Pegawai Negeri Sipil atau Aparatur Sipil Negara pada khususnya sehingga dapat lebih mengembangkan khasanah ilmu pengetahuan. Penulisan skripsi ini juga diharapkan dapat menambah pengetahuan penulis dalam pembuatan karya ilmiah dan sebagai sarana untuk menerapkan ilmu pengetahuan di bidang hukum yang pernah penulis dapatkan selama kuliah di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

2. Secara Praktis

Penulisan ini diharapkan dapat memberikan informasi, bahan masukan serta sumbangan pemikiran bagi seluruh masyarakat Indonesia dalam mempelajari tentang izin perkawinan dan perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil agar dalam pelaksanaanya, sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

(21)

11

E. Metode Penelitian

Metode adalah cara kerja atau tata kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran dari ilmu pengetahuan yang bersangkutan.11 Penelitian merupakan suatu kerja ilmiah yang bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran secara sistematis, metodologis, dan konsisten.12 Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu yang betujuan untuk mempelajari sesuatu atau beberarapa gejala hukum tertentu dengan cara menganalisisnya.13

Penelitian pada dasarnya merupakan suatu upaya pencarian dan bukannya sekedar mengamati sesuatu obyek yang mudah terpegang oleh tangan.14Pada dasarnya sesuatu yang dicari tidak lain adalah pengetahuan atau lebih tepatnya pengetahuan yang benar, dimana pengetahuan yang benar ini nantinya dapat dipakai untuk menjawab pertanyaan atau ketidaktahuan tertentu. Dengan demikian, metode penelitan adalah suatau upaya ilmiah untuk memahami atau memecahkan suatu masalah berdasarkan metode tertentu.15 Penulisan skripsi ini berusaha mengumpulkan informasi dan data-data yang diperlukan untuk menjadi bahan dalam penulisan skripsi. Bahan-bahan tersebut haruslah mempunyai hubungan satu sama lainnya yang berhubungan dengan judul skripsi ini. Dalam penulisan skripsi ini, menggunakan metode penelitian sebagai berikut:

11 Mukti Fajar Nurdewata, Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2010, hal. 94.

12 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tingkatan Singkat, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001,hal. 1.

13 Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001, hal. 38.

14 Ibid.,hal. 27.

15 Ibid.

(22)

1. Jenis Penelitian.

Penelitian terhadap permasalahan dalam skripsi ini dilakukan dengan cara penelitian yuridis normatif. Penelitian yuridis normatif atau penelitian hukum kepustakaan yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau hanya bahan data sekunder belaka.16

2. Data dan Sumber Data

Penyusunan skripsi ini, data dan sumber data yang digunakan adalah bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier.

a. Bahan hukum primer.

Yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat yaitu 1.) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW).

2.) Kompilasi Hukum Islam.

3.) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, dan 4.) Surat Edaran Nomor : 48/SE/1990 Tentang Petunjuk Pelaksanaan

Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 Tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil. dll

b. Bahan hukum sekunder.

Yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti hasil-hasil seminar atau pertemuan ilmiah lainnya, situs internet, pendapat dari kalangan para pakar hukum yang relevan dengan objek telaahan penelitian.17

16 Tampil Anshari Siregar, Metode Penelitian Hukum Penulisan Skripsi, Pusaka Bangsa Press, Medan, 2005, hal. 23.

17 Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1982, hal. 24.

(23)

13

c. Bahan hukum tersier.

Yaitu bahan hukum penunjang yang memberikan petunjuk, maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder seperti kamus umum, majalah dan jurnal ilmiah. Surat kabar dan majalah mingguan menjadi tambahan bagi penulisan skripsi ini sepanjang memuat informasi yang relevan dengan penelitian ini.

3) Alat Pengumpulan Data.

Penulisan ini, mengumpulkan data-data yang diperlukan untuk menjawab semua masalah yang menjadi objek penelitian dilakukan dengan cara:

a. Penelitian kepustakaan (library research).

Penelitian kepustakaan yaitu mencari dan mengumpulkan serta mempelajari informasi sebanyak-banyaknya dengan melakukan penelitian terhadap peraturan perundang-undangan, buku karangan para sarjana dan ahli hukum serta situs internet yang berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam penulisan skripsi ini.

Penelitian kepustakaan dilakukan denganmempelajari peraturan perundang-undangan, buku, situs internet yang berkaitan dengan judul skripsi ini yang bersifat teoretis ilmiah yang

dapatdipergunakan sebagai dasar dalam penelitian.18 F. Keaslian Penulisan

Penelitian ini dilakukan atas gagasan sendiri juga melalui masukan yang berasal dari berbagai pihak guna membantu penelitian dimaksud. Sepanjang yang

18Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta, Universitas Indonesia (UI- Press), 2007, hal. 21.

(24)

telah ditelusuri dan diketahui di lingkungan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, penelitian tentang, TINJAUAN YURIDIS TERHADAP IZIN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL BERDASARKAN PP NO 45 TAHUN 1990 JO PP NO 10 TAHUN 1983, merupakan judul yang diangkat menjadi judul skripsi ini belum pernah ditulis di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Penulis menyusun melalui referensi buku-buku, media elektronik (internet) sebagai sarana penunjang informasi jaringan perpustakaan terluas,Kalaupun ada judul yang serupa namun materi pembahasan yang dilakukan berbeda dan permasalahan yang diangkat juga berbeda. Sebagai contoh :

1. Nama: Amar Ma’ruf

Judul : IMPLEMENTASI PERATURAN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DAN PEJABAT (STUDI PP NO 10 TAHUN 1983 JO PP NO 45 TAHUN 1990).

Rumusan Masalah :

a. Bagaimana Implementasi Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1983 jo Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 1990 ?

2. Nama: Alfan Khaerul Umam

Judul : PERCERAIAN PEGAWAI NEGERI SIPIL (STUDI KASUS PERCERAIAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH CIAMIS) Rumusan masalah :

a. Apa alasan pengajuan izin perceraian Pegawai Negeri Sipil Kabupaten Ciamis 2014 ?

(25)

15

3. Nama : Muhammad Karami

Judul : PERCERAIAN DAN AKIBATNYA YANG DILAKUKAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DILINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA TEBING TINGGI MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974

Rumusan Masalah :

a. Upaya-upaya apa yang dilakukan Pemerintah Kota Tebing Tinggi terhadap Pegawai Negeri Sipil yang akan melakukan perceraian ?

G. Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan skripsi ini maka diperlukan adanya sistematika penulisan yang teratur yang terbagi dalam bab per bab yang saling berhubungan satu sama lain untuk memudahkan dalam membaca dan memahami serta memperoleh manfaat dari penulisan skripsi tersebut. Adapun sistematika penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Berisikan pendahuluan yang merupakan suatu pengantar dari pembahasan selanjutnya yang terdiri dari tujuh sub bab yaitu: Latar Belakang Penulisan, Perumusan Masalah, Tujuan Penulisan, Manfaat Penulisan, Metode Penelitian, Keaslian Penulisan dan Sistematika Penulisan.

BAB II KEWENANGAN PEMERINTAH DALAM PEMBATALAN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL

(26)

Sebagai dasar dari uraian yang ada dalam bab ini dibagi dalam tiga sub bab, yaitu Hukum yang mengatur tentang Perkawinan dan Perceraian Pegawai Negeri Sipil, Pembatalan Perkawinan Pegawai Negeri Sipil karena tidak adanya Izin, Pembatalan Perceraian Pegawai Negeri Sipil karena tidak adanya Izin.

BAB IIIAKIBAT HUKUM YANG DITIMBULKAN DARI PERKAWINAN DAN PERCERAIAN PEGAWAI NEGERI SIPIL

Bab ini terdiri dari tiga sub bab, yaitu akibat hukum terhadap suami istri, akibat hukum terhadap anak, dan akibat hukum terhadap harta.

BABIV TATA CARATERHADAP IZIN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL

BERDASAKAN PP NOMOR 45 TAHUN 1990 JO PP NO 10 TAHUN 1983 TENTANG IZIN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN PEGAWAI NEGERI SIPIL

Terdiri dari tiga sub bab yaitu tinjauan yuridis terhadap PP. No. 45 Tahun 1990 jo PP. No. 10 Tahun 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Pegawai Negeri Sipil, sanksi bagi Pegawai Negeri Sipil yang melaksanakan Perkawinan dan Perceraian tanpa Prosedur Izin yang sesuai, Contoh Kasus Perceraian Pegawai Negeri Sipil.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan dan saran merupakan penutup dalam skripsi ini, dalam hal ini penulis menyimpulkan pembahasan-pembahasan sebelumnya dan dilengkapi dengan saran-saran. Bab ini terdiri dari dua sub bab yaitu kesimpulan dan saran.

(27)

17 BAB II

KEWENANGAN PEMERINTAH DALAM PEMBATALAN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN KARENA TIDAK ADANYA IZIN PERKAWINAN DAN PERCERAIAN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL

A. Hukum Yang Mengatur tentang Perkawinan dan Perceraian Pegawai Negeri Sipil

Sebelum mempelajari lebih dalam tentang aturan yang mengatur tentang perkawinan dan perceraian Pegawai Negeri Sipil sebaiknya terlebih dahulu mengetahui perkawinan dan perceraian itu sendiri, sehingga kita lebih mudah dalam memahami dan menjabarkan maksud dari perkawinan dan perceraian tersebut.

1. Pengertian perkawinan

Perkawinan adalah ikatan sosial atau ikatan perjanjian hukum antar pribadi yang membentuk hubungan kekerabatan dan yang merupakan suatu pranata dalam budaya setempat yang meresmikan hubungan antar pribadi yang biasanya intim dan seksual. Perkawinan umumnya dimulai dan diresmikan dengan upacara pernikahan. Umumnya perkawinan dijalani dengan maksud untuk membentuk keluarga. Tergantung budaya setempat bentuk perkawinan bisa berbeda-beda dan tujuannya bisa berbeda-beda juga.

Perkawinan umumnya dijalani dengan maksud untuk membentuk keluarga dan memperoleh keturunan. Umumnya perkawinan harus diresmikan dengan pernikahan.19

19Pondokbahasa(2008-09-14), Apa bedanya: “Kawin” - “Nikah” - “ Married” - “Merit”, diakses pada tanggal 01 Agustus 2018, Pukul 21.00 WIB.

(28)

Salah satu produk badan legislatif di negara kita yang menyentuh secara langsung perikehidupan masyarakat bangsa kita adalah Undang-undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 (LNRI 1974 No. 1 TAMBAHAN LNRI No. 3019).

Undang-undang Perkawinan nasional yang diundangkan tanggal 2 Januari 1974 ini berlaku secara efektif tanggal 1 Oktober 1975 yakni sejak berlakunya Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 sebagai peraturan pelaksanaannya. Untuk kelancaran dari ketentuan-ketentuan Undang-Undang Perkawinan dan Peraturan Pelaksanaan tersebut, dikeluarkan pula petunjuk pelaksanaanya, antara lain termuat dalam Peraturan Menteri Agama No. 3 Tahun 1975, Peraturan Menteri No. 4 Tahun 1975, Instruksi Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam No.

D/INS/117/1975, dan petunjuk-petunjuk Mahkamah Agung Mengenai Pelaksanaan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 dan Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 tanggal 20 Agustus 1975 No. MA/Pem/0808/75. Tujuh setengah tahun kemudian setelah Undang-Undang Perkawinan berlaku secara efektif, maka keluarlah pula Peraturan Pemerintah Nommor 45 Tahun 1990 tentang perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1983 Tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipi (Tambahan LNRI No. 3250) yang berlaku sejak diundangkan tanggal 21 April 1983. Ketentuan-ketentuan teknis Peraturan Pemerintah ini termuat dalam Surat Edaran Badan Admnistrasi Kepegawaian Negara No. 48/SE/1990.20

Kehadiran undang-undang yang mengatur segala masalah perkawinan yang selaras dengan perkembangan dan dinamika masyarakat ini, sudah lama sekali didambakan oleh masyarakat bangsa kita, bahkan sejak lima puluhan tahun

20 Riduan Syahrani, Perkawinan dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil, Media Sarana, Banjarmasin, 1986, hal. 1.

(29)

19

yang lalu, akan tetapi karena beberapa hambatan maka baru pada awal tahun 1974 berhasil diciptakan Undang-Undang Perkawinan Nasional yang bersifat unifikasi yang berlaku bagi seluruh warga negara Indonesia.21

Rumusan perkawinan menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 itu tercantum juga tujuan perkawinan yaitu untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal, ini berarti bahwa perkawinan dilangsungkan bukan untuk sementara atau jangka waktu tertentu yang direncanakan, akan tetapi seumur hidup atau selama-lamanya dan tidak boleh diputuskan begitu saja, karena tidak diperkenankan perkawinan yang hanya dilangsungkan untuk sementara waktu saja seperti kawin kontrak, pemutusan perkawinan dengan perceraian hanya diperbolehkan dalam keadaan terpaksa.22

21Ibid.

22Ibid, hal. 13.

Sebelum perkawinan dilangsungkan seringkali didahului dengan peristiwa pertunangan. Akan tetapi pertunangan tersebut bukanlah suatu kewajiban yang harus diikuti karena ini bukan lembaga yang wajib untuk diikuti, melainkan terserah kepada kedua belah pihak.

Setelah mencapai kesepakatan antara mempelai pria dan mempelai wanita barulah perkawinan dapat dilangsungkan. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk melangsungkan perkawinan menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 adalah sebagai berikut ini, sebagaimana disebutkan dalam Pasal 6 s/d 12:

a. Adanya persetujuan calon mempelai;

b. Adanya Izin kedua orang tua/wali bagi calo mempelai yang berusia dibawah 21 tahun;

(30)

c. Usia calon mempelai pria sudah 19 tahun dan mempelai wanita sudah 16 tahun;

d. Antara calon mempelai pria dan calon mempelai wanita tidak dalam hubungan darah yang tidak boleh kawin;

e. Tidak berada dalam ikatan perkawinan dengan pihak lain;

f. Bagi suami istri yang telah bercerai lalu kawin lagi satu sama lain dan bercerai lagi untuk kedua kalinya, agama dan kepercayaan tidak melarang mereka untuk kawin ketiga kalinya;

g. Tidak berada dalam waktu tunggu bagi calon mempelai wanita atau janda.23

Di Indonesia sendiri, masih berdasakan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dinyatakan juga bahwa syarat untuk sahnya suatu perkawinan harus berdasarkan hukum agama dan harus dilakukan pendaftaran perkawinan di lembaga pencatatan perkawinan setempat. Sehingga perkawinan yang dilakukan oleh warga negara Indonesia di luar negeri dapat diakui sebagai perkawinan yang sah apabila telah didaftarkan di lembaga pencatatan setempat dan mendapat surat bukti perkawinan.24

Selain adanya syarat pencatatan di negara setempat, hukum perkawinan kita juga mensyaratkan kepada setiap warga negara Indonesia yang melangsungkan perkawinan di Luar Negeri untuk segera mendaftarkan perkawinannya tersebut di lembaga pemerintah sekembalinya ke Indonesia.25

23Ibid.

24 Hukum Online, Tanya Jawab Hukum Perkawinan dan Perceraian, Lentera Hati, Ciputat, 2010, hal. 7.

25Ibid.

(31)

21

2. Pengertian perceraian

Perceraian adalah putusnya suatu perkawinan yang sah di depan hakim pengadilan berdasarkan syarat-syarat yang ditentukan undang-undang. Oleh karena itu perlu dipahami jiwa dari peraturan mengenai perceraian serta akibat- akibat yang mungkin timbul setelah suami istri itu perkawinannya putus.

Kemudian tidak kalah urgensinya adalah alasan-alasan yang mendasari putusnya perkawinan itu serta sebab-sebab apa terjadinya perceraian.26

Perceraian merupakan bagian dari perkawinan. Karena itu perceraian senantiasa diatur oleh hukum perkawinan. Hukum perkawinan di Indonesia tidak hanya satu macam, tetapi berlaku di berbagai peraturan hukum perkawinan untuk berbagai golongan warga negara dan untuk berbagai daerah. Hal ini disebabkan oleh ketentuan-ketentuan yang tersebut dalam Pasal 163 IS (Indische Staatsregeling) yang telah membagi golongan penduduk Indonesia menjadi tiga

golongan, yaitu : golongan Eropa, golongan Timur Asing, dan golongan Indonesia Asli (Bumiputera).27

Perceraian itu sendiri merupakan suatu proses dimana sebelumnya suatu pasangan tersebut sudah pasti berusaha untuk mempertahankannya namun mungkin saja jalan terbaik adalah suatu perceraian. Indonesia merupakan negara yang masih menjunjung tinggi adat ketimuran, dimana pernikahan dianggap sebagai sesuatu yang sakral. Namun demikian angka perceraian kerap melonjak tinggi di beberapa Pengadilan Agama di Indonesia.28

26Martiman Prodjohmidjojo, Hukum Perkawinan Indonesia, Indonesia Legal Center Publishing, Jakarta, 2007, hal. 1.

27Djamil Latif, Aneka Hukum Perkawinan di Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1981, hal. 15.

28 Siti Nuraini, Perkawinan dan Perceraian, http://syienaainie.blogspot.com, diakses tanggal 19 Agustus 2018.

(32)

Perceraian hanya dapat terjadi apabila dilakukan di depan pengadilan , baik itu suami karena suami yang telah menjatuhkan cerai (thalag)29ataupun karena istri yang menggugat cerai atau hak talak sebab sighat taklik talak.

Meskipun dalam ajaran agama Islam, perceraian telah dianggap sah apabila diucapkan seketika itu oleh si suami, namun harus tetap dilakukan di depan pengadilan. Tujuannya untuk melindungi segala hak dan kewajiban yang timbul sebagai dari akibat hukum atsa perceraian tersebut.30

Di mata hukum, perceraian tentu tidak bisa begitu saja. Artinya, harus ada alasan-alasan yang dibenarkan oleh hukum untuk melakukan sebuah perceraian.

Itu sangat mendasar, terutama bagi pengadilan yang notabene berwenang memutuskan, apakah sebuah perceraian layak atau tidak untuk dilaksanakan.

Termasuk segala keputusan yang menyangkut konsekuensi terjadinya perceraian, juga sangat ditentukan oleh alasan melakukan perceraian. Misalnya soal hak asuh anak, serta pembagian harta gono-gini.31

29 Thalaq : Melepas tali perkawinan dan mengakhiri hubungan suami istri

30 Budi Susilo, Prosedur Gugatan Cerai, Pustaka Yustisia, Yogyakarta, 2007, hal. 17.

31Ibid, hal. 1.

Perceraian adalah hal yang tidak diperbolehkan baik dalam pandangan agama maupun dalam lingkup hukum positif. Agama menilai bahwa perceraian adalah hal yang buruk yang terjadi dalam hubungan rumah tangga. Namun demikian, agama tetap, memberikan keleluasaan kepada setiap pemeluk agama untuk menentukan jalan islah atau terbaik bagi siapa saja yang memiliki permasalahan dalam rumah tanga, sampai pada akhirnya terjadi perceraian. Hukum positif menilai bahwa perceraian adalah perkara yang sah apabila memenuhi unsur-unsur cerai, diantaranya karena terjadinya perselisihan yang menimbulkan terjadinya percekcokan yang sulit dihentikan, atau karena tidak berdayanya seorang suami untuk melaksanakan

(33)

23

tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga.32

Hukum yang mengatur tentang perkawinan dan perceraian pegawai negeri sipil telah diatur didalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 telah diatur tentang perkawinan yang berlaku bagi setiap warga negara Indonesia dan penduduk Indonesia.

Dari beberapa hal diatas maka sudah sewajarnya kita sebagai makhluk ciptaan tuhan yang paling sempurna diantara ciptaannya yang lain agar kita dapat menghindari dari yang namanya perceraian terkecuali dalam keadaan yang sangat terpaksa atau darurat, dengan tidak menyalahi aturan perundang-undangan yang berlaku dan sudah ditentukan baik oleh agama, adat, ataupun pejabat pemerintah yang berwenang dalam hal ini sesuai dengan hukum yang mengatur tentang perkawinan dan perceraian Pegawai Negeri Sipil.

33

a. Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945

Sedangkan untuk perceraian Pegawai Negeri Sipil telah diatur di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Pegawai Negeri Sipil tepatnya pada Pasal 6 ayat 1,2, dan 3 Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 tersebut.

Aturan diatas masih bersifat khusus tentang hukum yang mengatur tentang perkawinan dan perceraian Pegawai Negeri Sipil sedangkan hukum yang mengatur secara umum tentang perkawinan dan perceraian pegawai negeri sipil ini adalah sebagai berikut :

32Ibid.

33 Soegeng Prijodarminto, Duri dan Mutiara dalam kehidupan Perkawinan PNS, PT Pradnya Paramita, Jakarta, 1994, hal. 21.

(34)

b. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3019);

c. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara ( UU ASN).

d. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok

Kepegawaian (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3041);

e. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 28 Tahun 2010 tentang penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah/Madrasah.

f. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Tahun 1975 Nomor 12, Tambahan Negara Nomor 3050);

g. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil.

h. Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 telah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku sesuai dengan Pasal 50 PP No 53 Tahun 2010.

Untuk lebih lanjut yang perlu diketahui perkawinan dan perceraian Pegawai Negeri Sipil ini yaitu tentang Peraturan Izin Perkawinan dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah atau PP

(35)

25

Nomor 45 Tahun 1990 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 1990 tentang Peraturan Pemerintah Republik Indonesia tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil.

Pasal 1 mengubah beberapa ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil yaitu :

1. Mengubah ketentuan Pasal 3 sehingga seluruhnya berbunyi sebagai berikut:

“Pasal 3 PP No 45 Tahun 1990 menyatatakan bahwa :

(a)Pegawai Negeri Sipil yang akan melakukan perceraian wajib memperoleh izin atau surat keterangan lebih dahulu dari Pejabat;

(b) Bagi Pegawai Negeri Sipil yang berkedudukan sebagai penggugat atau bagi Pegawai Negeri Sipil yang berkedudukan sebagai tergugat untuk memperoleh izin atau surat keterangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus mengajukan permintaan secara tertulis;

(c) Dalam surat permintaan izin atau pemberitahuan adanya gugatan perceraian untuk mendapatkan surat keterangan harus dicantumkan alasan yang lengkap yang mendasarinya”.

2. Mengubah ketentuan Pasal 4 sehingga seluruhnya berbunyi sebagai berikut:

“Pasal 4 PP No 45 Tahun 1990 menyatakan :

(a) Pegawai Negeri Sipil pria yang akan beristri lebih dari seorang, wajib memperoleh izin lebih dahulu dari pejabat.

(b) Pegawai Negeri Sipil wanita tidak diizinkan untuk menjadi istri kedua/ketiga/keempat.

(c) Permintaan izin sebagaimana dimakasud dalam Pasal (1) diajukan secara tertulis.

(36)

(d) Dalam surat permintaan izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (3), harus dicantumkan alasan yang lengkap yang mendasari permintaan izin untuk beristri lebih dari seorang”.

3. Mengubah ketentuan ayat (2) Pasal 5 sehingga berbunyi sebagai berikut:

“(2) Setiap atasan yang menerima permintaan izin dari Pegawai Negeri Sipil dalam lingkungannya, baik melakukan perceraian dan atau untuk beristri lebih dari seorang, wajib memberikan pertimbangan dan meneruskan kepada pejabat melalui saluran hierarki dalam jangka waktu selambat-lambatnya tiga bulan terhitung mulai tanggal ia menerima permintaan izin dimaksud”.

4. Mengubah ketentuan Pasal 8 sebagai berikut:

(a) Diantara ayat (3) dan ayat (4) lama disisipkan satu ayat yang dijadikan ayat (4) baru, yang berbunyi sebagai berikut :

“(4) pembagian gaji kepada bekas istri tidak diberikan apabila alasan perceraian disebabkan karena istri berzinah, dan atau istri melakukan kekejaman atau penganiayaan berat baik lahir maupun batin terhadap suami, dana atau istri menjadi pemabuk, pemadat, dan penjudi yang sukar disembuhkan, dana atau istri telah meninggalkan suami selama dua tahun berturut-turut tanpa izin suami dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya”.

(b) Ketentuan ayat (4) lama selanjutnya dijadikan ketentuan ayat (5) baru.

(c) Mengubah ketentuan ayat (5) lama dan selanjutnya dijadikan ayat (6) baru sehingga berbunyi sebagai berikut :

“(6) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) tidak berlaku, apabila istri meminta cerai karena dimadu, dan atau suami berzinah, dan atau suami melakukan kekejaman atau penganiayaan baik lahir maupun batin terhadap istri, dana tau suami menjadi pemabuk, pemadat dan penjudi yang sukar disembuhkan, dan atau suami telah meniggalkan istri selama dua tahun berturut-turut tanpa izin istri dan tanpa alasan yang sah atau karena hal yang lain di luar kemampuannya”.

(d) Ketentuan ayat (6) lama selanjutnya dijadikan ketentuan ayat (7) baru.

5. Mengubah ketentuan ayat (1) Pasal 9 sehingga berbunyi sebagai berikut:

“(1) pejabat yang menerima permintaan izin untuk beristri lebih dari seorang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) wajib

(37)

27

memperhatikan dengan seksama alasan-alasan yang dikemukakan dalam surat permintaan izin dan pertimbangan dari atasan Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan”.

6. Ketentuan Pasal II dihapuskan seluruhnya.

7. Ketentuan Pasal 12 lama dijadikan ketentuan Pasal 11 baru, dengan mengubah ketentuan ayat (3) sehingga berbunyi sebagai berikut :

“(3) Pimpinan Bank Milik Negara dan pimpinan Badan Usaha Milik Negara, wajib meminta izin lebih dahulu dari Presiden”.

8. Mengubah ketentuan Pasal 13 lama dan selanjutnya dijadikan ketentuan Pasal 12 baru, sehingga berbunyi sebagai berikut:

“ Pasal 12 PP No 45 Tahun 1990

Pemberian atau penolakan pemberian izin untuk melakukan perceraian atau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dan untuk beristri lebih dari seorang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1), Dilakukan oleh pejabat secara tertulis dalam jangka waktu selambat-lambatnya tiga bulan terhitung mulai ia menerima permintaan izin tersebut.”

9. Ketentuan Pasal 14 lama selanjutnya dijadikan ketentuan Pasal 13 baru.

10. Mengubah ketentuan Pasal 15 lama dan selanjutnya dijadikan ketentuan Pasal 14 baru, sehingga berbunyi sebagai berikut:

“Pegawai Negeri Sipil dilarang hidup bersama dengan wanita yang bukan istrinya atau dengan pria yang bukan suaminya sebagai suami istri tanpa ikatan perkawinan yang sah”

11. Mengubah ketentuan Pasal 16 dan selanjutnya dijadikan ketentuan Pasal 15 baru, sehingga berbunyi sebagi berikut:

“Pasal 15 PP No 45 Tahun 1990 menyatakan bahwa :

(a) Pegawai Negeri Sipil yang melanggar salah satu atau lebih kewajiban/ketentuan Pasal 2 ayat (1), ayat (2), Pasal 3 ayat (1), Pasal 4 ayat (1), Pasal 14, tidak melaporkan perceraiannya dalam

(38)

waktu selambat-lambatnya satu bulan terhitung mulai terjadinya perceraian dan tidak melaporkan perkawinan kedua/ketiga/keempat dalam jangka waktu selambat-lambatnya satu tahun terhitung sejak perkawinan tersebut dilangsungkan, dijatuhi salah satu hukuman berat berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil;

(b) Pegawai Negeri Sipil wanita yang melanggar ketentuan Pasal 4 ayat (2) dijatuhi hukuman disiplin pemberhentian tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil.”

(c) Atasan yang melanggar ketentuan Pasal 5 ayat (2), dan Pejabat yang melanggar ketentuan Pasal 12, dijatuhi salah satu hukuman disiplin berat berdasarkan Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil.”

12. Mengubah ketentuan Pasal 17 lama dan selanjutnya dijadikan ketentuan Pasal 16 baru, sehingga berbunyi sebagai berikut:

“Pasal 16 PP No 45 Tahun 1990 menyatakan :

Pegawai Negeri Sipil yang menolak melaksanakan ketentuan gaji sesuai dengan ketentuan Pasal 8, dijatuhi salah satu hukuman disiplin berat berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil.”

13. Sesudah Pasal 16 baru ditambah satu ketentuan baru, yang dijadikan Pasal 17 baru yang berbunyi sebagai berikut:

(a) Tata cara penjatuhan hukuman disiplin berdasarkan ketentuan Pasal 15 dan atau Pasal 16 Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil;

(b) Hukuman disiplin berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil terhadap pelanggaran Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 Dan Peraturan Pemerintah ini, berlaku bagi mereka yang dipersamakan sebagai Pegawai Negeri Sipil menurut ketentuan

(39)

29

Pasal 1 huruf a angka 2 Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983.”

Terkait sanksi bagi Pegawai Negeri Sipil yang melanggar ketentuan tersebut seperti melakukan poligami, perselingkuhan, dan lainnya saat ini telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Perubahan atas PP No 30 Tahun 1980 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Pada Pasal 7 ayat (1) dinyatakan bahwa tingkat hukuman disiplin terdiri dari: 1) hukuman disiplin ringan; 2) hukuman disiplin sedang; dan 3) hukuman disiplin berat. Adapun yang termasuk jenis hukuman disiplin berat sebagaimana dimaksud pada ayat tersebut terdiri dari:

(1.) Penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 3 (tiga) tahun;

(2.) Pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah;

(3.) Pembebasan dari jabatan

(4.) Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri Pegawai NegeriSipil;

(5.) Pemberhentian tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil;

Bagi pegawai yang tetap cerai sebelum mendapatkan izin dari pimpinannya melanggar PP No. 53 Tahun 2010. Apabila mereka belum menerima persetujuan cerai dari pimpinan atau ketua Pembina Pegawai Negeri Sipil, berarti mereka melanggar disiplin. Sehingga bisa dikenakan hukuman disiplin ringan, sedang, dan berat.

B. Pembatalan Perkawinan Pegawai Negeri Sipil karena tidak adanya Izin

(40)

Menurut B.W. suatu perikatan dapat saja batal karena hukum atau dapat dibatalkan. Akan tetapi tidak dengan halnya dengan suatu ikatan perkawinan, karena pelangsungan perkawinan normaliter (dapat membuahi atau menghamili wanita tersebut) dilakukan oleh atau dihadapan pejabat negara. Undang-Undang No 1 Tahun 1974 menganut asas bahwa perkawinan itu hanya dapat dibatalkan /vernietigbaar (Pasal 22 Undang-Undang No 1 Tahun 1974).Tidak demikian halnya dengan nikah (perkawinan) menurut hukum Islam. Misalnya : seorang pria beragama Islam yang beristrikan empat orang wanita menjatuhkan talaknya pada salah seorang di antara istri-istrinya dan melangsungkan perkawinan dengan wanita lain, sebelum masa tunggu lampau. Perkawinan yang demikian menurut hukum Islam batal. Kebatalan tersebut menimbulkan akibat-akibat hukum yang sulit pemecahannya.

Perihal pencegahan perkawinan ataupun pembatalan perkawinan, merupakan peristiwa relatif jarang terjadi dalam kehidupan masyarakat, khususnya kalau dibandingkan misalnya dengan peristiwa putusnya perkawinan.

Ditilik dari istilahnya, sudah tersirat maknanya, bahwa untuk pencegahan perkawinan, berarti perkawinan yang dimaksud belum dilaksanakan, senyampang(kebetulan) baru akan dilangsungkan, kemudian ada peristiwa pencegahan yang diajukan oleh pihak-pihak tertentu atas alasan yang tertentu pula.34

34Moch.Isnaeni, Hukum Perkawinan Indonesia, Refika Aditama, Bandung, 2016, hal. 67.

Menyimak pecegahan perkawinan, berarti momentum perkawinan sejoli itu belum terlaksanakan, keburu dicegah sehingga perkawinan urung dilaksanakan. Berbeda dengan lembaga pembatalan perkawinan, berarti perkawinan yang bersangkutan sudah dilangsungkan, kemudian ada pihak yang

(41)

31

meminta perkawinan tersebut dibatalkan. 35 Perihal kejadian pembatalan perkawinan ini, apabila dibandingkan dengan pencegahan perkawinan, tingkat kompleksitasnya akan menjadi lebih rumit, mengingat dari perkawinan yang telah terjadi itu sudahmempunyai akibat-akibat hukum, apalagi kalau sudah ada anak yang dilahirkan.36 Kendati kompleks, pemerintah tetap berkewajiban untuk mengaturnya, dan sudah barang tentu ini bukan pekerjaan gampang. Oleh karena itu, manakala aturan pembatalan perkawinan terpampang dalam Undang-Undang Perkawinan, pada akhirnya akan dijumpai banyak sekali ketentuan yang memaksa banyak pihak yang mengernyitkan dahi menatap rumitnya masalah yang potensial timbul. Ketidakjelasan dapat saja menyerimpung (membuat agar tidak dapat berbuat/melangkah lebih jauh) banyak pemikiran saat mengkaji aturan yang ada.

Adu argumen menjadi kian jamak, kalau hasil telaah akan berbeda-beda, mengingat sudut pandang yang dijadikan tolak ukur tidak sama. Untung saja peristiwa konkret menyangkut tetap perlu dilakukan, guna mengantisipasi masa depan mana kala peristiwa pembatalan sebuah perkawinan benar-benar terjadi.37

Diawali Pasal 22 Undang-Undang Perkawinan dinyatakan bahwa perkawinan dapat dibatalkan, apabila para pihat tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan. Ternyata syarat-syarat untuk dilangsungkannya perkawinan, sebenarnya tidak dipenuhi, tetapi perkawinan terlanjur dilaksanakan. Syarat perkawinan yang seharusnya dipenuhi itu baru diketahui oleh pihak tertentu setelah perkawinan terjadi.38

35Ibid, hal. 70.

36Ibid, hal.70 dan 71.

37Ibid, hal. 71.

38Ibid.

(42)

Pembatalan suatu perkawinan hanya dapat diputuskan oleh Pengadilan.39 Permohonan pembatalan suatu perkawinan diajukan oleh pihak-pihak yang yang berhak mengajukan kepada Pengadilan daerah hukumnya suami-istri, suami atau istri.40 Tata cara pengajuan permohonan pembatalan perkawinan dilakukan sesuai dengan tata cara pengajuan gugatan perceraian.41 Hal-hal yang berhubungan dengan pemeriksaan pembatalan perkawinan dan putusan Pengadilan, dilakukan sesuai dengan tata cara tersebut dalam Pasal 20 sampai dengan Pasal 36 Peraturan Pemerintah ini.42

Sesuai proses, apabila syarat yang mendasari permohonan pembatalan perkawinan tersebut memang terbukti benar, oleh hakim perkawinan tersebut dinyatakan batal. Sesuai hakikatnya pembatalan itu berlaku surut, sehingga dianggap tidak pernah ada perkawinan.43

Berikutnya Pasal 23 Undang-Undang Perkawinan mengatur tentang siapa saja yang dapat mengajukan pembatalan perkawinan. aturan ini penting, tetapi ada beberapa segi yang masih kabur, namun tidak pernah ada penjelasan yang memadai. Pembatalan perkawinan oleh pengadilan, dinyatakan dalam Pasal 28 Undang-Undang Perkawinan adalah berlaku sejak saat berlangsungnya perkawinan, dengan kekecualian bahwa berlaku surutnya keputusan pengadilan itu antara lain tidak dikenakan pada anak-anak yang dilahirkan. Dari peristiwa pembatalan perkawainan berlaku surut, namun tidak mencakup anak yang telah dilahirkan, tentu saja berakibat panjang.44

39Pasal 37 PP No 9 Tahun 1975

40 Pasal 38 ayat (1) PP No 9 Tahun 1975

41Pasal 38 ayat (2) PP No 9 Tahun 1975

42 Pasal 38 ayat (3) PP No 9 Tahun 1975

43Moch Isnaeni, Op. cit, hal. 71.

44Ibid.

(43)

33

Seperti, bagaimana kedudukan anak tersebut dengan pihak ibu dan bapaknya yang tidak lagi terikat tali perkawinan, apakah ada hubungan keperdataan atau tidak, hal ini tidak pernah jelas pengaturannya. Demikian juga status eks istri maupun eks suami. Terutama untuk eks istri, posisi hukumnya tergolong janda ataukah bukan. Selanjutnya kalau eks istri hendak melangsungkan perkawinan baru,apakah wajib menghabiskan waktu tunggu. Demikian juga terhadap harta perkawinan mereka, bagaimana nasibnya, tentu saja memerlukan penyelesaian. Kiranya tidak ada jalan yang lebih bijak, selain didasarkan pada musyawarah, dan kalau perlu ada campur tangan hakim demi adanya kepastian hukum juga keadilan.45

Beranjak dari situasi seperti itulah, peran hakim sedemikian sentralnya untuk ikut membangun hukum lewat putusan-putusan yang diharapkan mampu membentuk hukum yurisprudensi, demi menyempurnakan karakter undang- undang yang pada dasarnya tidak mungkin lengkap dan sempurna. Dari waktu ke waktu sosok undang-undang, semenjak lahir tak akan pernah berubah, padahal masyarakat yang dilayani selalu berkembang dengan pertumbuhan rasa hukum yang berputar sesuai zaman yang menempanya. Agar undang-undang yang bersangkutan tetap dapat dipergunakan dalam perjamuan masyarakat pemiliknya, maka penyesuaian demi penyesuaian sudah sepatutnya dilakukan, antara lain lewat hukum yurisprudensi. Dengan cara itu, undang-undang tetap semarak guna mewujudkan keadilan dan kepastian hukum sedasar tuntutan kebutuhan masyarakat.46

45Ibid, hal. 72.

46Ibid.

(44)

Terlebih-lebih putusan pengadilan lebih dapat diandalkan untuk dapat mengikuti perkembangan rasa hukum masyarakat yang selalu bergerak tanpa jeda.

Lewat cara ini pula diharapkan bidang perkawinan yang dikenal sangat sensitif, memperloleh kedudukan yang tetap kokoh dalam kehidupan sosial sesuai tuntutan kebutuhan. Pola ini memang tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab hakim, namun pendapat banyak pihak menyuarakan amat mendukung kalau hakim akan berperan sentral untuk menyempurnakan dan memperjelas sebuah undang-undang dalam konteks perkembangan masyarakat, mengingat secara kongkret paraga(karakter) hakim dekat bahkan ada di tengah-tengah kehidupan sosial. Keberadaan hakim seperti itu sudah selayaknya kalau telinga hatinya menjadi peka terhadap tuntutan kebutuhan masyarakat sekitarnya, untuk kemudian menjelmakannya dengan putusan-putusan sesuai keinginan khalayak luas.47

1. Pekawinan batal apabila sebagai berikut:

Sehingga dapat disimpulkan bahwa, perkawinan batal apabila:

a. Suami melakukan perkawinan, sedangkan ia tidak berhak melakukan akad nikah karena sudah mempunyai empat orang istri, sekalipun salah satu diantaranya itu dalam iddah talak raj’i.

b. Seseorang menikahi bekas istrinya yang telah di li’an.

c. Seseorang menikahi bekas istrinya yang pernah dijatuhi tiga kali talak olehnya, kecuali bila bekas istri tersebut pernah menikah dengan pria lain yang kemudian bercerai lagi ba’da al dukhul dari pria tersebut dan telah habis masa iddah.

47 Ibid, hal. 73.

(45)

35

d. Perkawinan dilakukan antara dua orang yang mempunyai hubungan darah semenda sesususan sampai derajat tertentu yang menghalangi perkawinan menurut Pasal 8 Undang-undang No. 1 tahun 1974 yaitu :

1.) Berhubungan darah dalam garis keturunan lurus kebawah atau keatas

2.) Berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping yaitu dengan saudara orang tua dan antara seorang dengan saudara neneknya

3.) Berhubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri, menantu dan ibu atau ayah tiri

4.) Berhubungan sesusuan, yaitu orang tua sesusuan, anak sesusuan saudara sesusuan dan bibi atau paman sesusuan.

e. Istri adalah saudara kandung atau sebagai bibi atau kemenakan dari istri atau paman sesusuan.

2. Perkawinan dapat dibatalkan apabila:

a. Seorang suami melakukan poligami tanpa izin dari Pengadilan Agama;

b. Perempuan yang dikawini ternyata kemudian diketahui masih menjadi istri pria lain yang mafqud;

c. Perempuan yang dikawini masih dalam iddah dari suami lain;

d. Perkawinan yang melanggar batas umur perkawinan sebagaimana ditetapkan dalam pasal 7 Undang-undang No. 1 Tahun 1974;

(46)

e. Perkawinan dilangsungkan tanpa wali atau dilaksanakan oleh wali yang tidak berhak;

f. Perkawinan yang dilaksanakan dengan paksaan.

Suami atau istri dapat mengajukan permohonan pembatalan perkawinan jika dilangsungkan dibawah ancaman yang melanggar hukum.48 Apabila ancaman telah berhenti dan dalam jangka waktu 6 bulan setelah itu masih tetap hidup sebagai suami istri, dan tidak menggunakan haknya untuk mengajukan permohonan pembatalan maka haknya gugur.49

C. Pembatalan Perceraian Pegawai Negeri Sipil karena tidak ada Izin Perceraian adalah bagian dari dinamika rumah tangga. Adanya perceraian karena adanya perkawinan, meskipun tujuan perkawinan bukan perceraian, tetapi perceraian merupakan sunnatullah, meskipun penyebabnya berbeda-beda.

Bercerai dapat disebabkan oleh kematian suaminya, dapat pula karena rumah tangga tidak cocok dan pertengkaran selalu menghiasi perjalanan rumah tangga suami istri, bahkan adapula yang bercerai karena salah satu dari suami atau istri tidak lagi fungsional secara biologis. 50

48 Lete Zia, Pembatalan Nikah dan Perceraian,

http://m.hukumonline.com/klinik/detail/it55da9df734a73/tentang-pembatalan -nikah-dan- perceraian, diakses pada tanggal 17 Agustus 2018, Pukul 00.03 WIB.

49Ibid.

50Boedi Abdullah dan Beni Ahmad Saebani, Perkawinan dan Perceraian Keluarga Muslim, Pustaka Setia, Bandung, 2013, hal. 49.

Perceraian dalam BW (Burgerlijk Wetboek) adalah salah satu alasan terjadinya pembubaran perkawinan, hal ini

termuat dalam Bab ke 10. Pada terjadinya pembubaran perkawinan umumnya dikemukakan alasan bubarnya perkawinan, yaitu karena kematian, karena keadaan tidak hadir suami atau istri selama 10 tahun, diikuti perkawinan baru istri/suaminya sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam bagian kelima bab

Referensi

Dokumen terkait

Pengaturan PERUM DAMRI diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2002 tentang Perusahaan Umum (PERUM) DAMRI. PERUM DAMRI berpedoman pada Undang-Undang

Pada umumnya setiap perjanjian baik perjanjian biasa maupun perjanjian kerjasama pasti membahas masalah tanggung jawab apabila terjadi risiko, dikarenakan jika tidak

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2019.. Dalam Undang-Undang tersebut terdapat khusus Pasal-Pasal yang membahas tentang pembiayaan bagi para pelaku UMKM. Adapun permasalahan

Pemerintah telah menjamin adanya perlindungan hukum terhadap suatu ciptaan sebagai produk dari Hak Kekayaan Intelektual seorang individu, tidak terkecuali pada

Berdasarkan Pasal 41 Undang-Undang Perkawinan diatas, maka jelas bahwa meskipun suatu perkawinan sudah putus karena perceraian, tidaklah mengakibatkan hubungan

M.Hum selaku Ketua Departemen Hukum Keperdataan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sekaligus Dosen Pembimbing I penulis yang telah banyak membantu penulis

Sebagai salah satu perusahaan penerbangan swasta terbesar di Indonesia, PT. Lion Air berkewajiban untuk menyelenggarakan kegiatan pengangkutan udara yang tertib, aman, nyaman

Penulisan skripsi ini berjudul Perlindungan Hukum terhadap Nasabah sebagai Konsumen Kartu Kredit yang dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan Fakultas Hukum Universitas Sumatera