• Tidak ada hasil yang ditemukan

12 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "12 Universitas Kristen Petra"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

12 Universitas Kristen Petra

2. LANDASAN TEORI

2.1. Teori Komunikasi Harold Lasswell

Harold Lasswell menggambarkan proses komunikasi dengan menjawab pertanyaan Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect, yang artinya Siapa Mengatakan Apa Dengan Saluran Apa Kepada Siapa Dengan Pengaruh Bagaimana. Berdasarkan definisi tersebut dapat diturunkan lima unsur komunikasi yang saling bergantung satu sama lain, yaitu:

1. Sumber, adalah pihak yang berinisiatif atau mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi.

2. Pesan, adalah seperangkat simbol verbal maupun nonverbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan atau maksud dari sumber kepada penerima.

3. Saluran atau media, adalah alat atau wahana yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesannya kepada penerima.

4. Penerima, adalah orang yang menerima pesan dari sumber.

5. Efek, adalah apa yang terjadi pada penerima setelah ia menerima pesan tersebut, misalnya penambahan pengetahuan, terhibur, perubahan sikap, perubahan keyakinan, perubahan perilaku, dan sebagainya (Mulyana, 2005, p.69-71).

Teori komunikasi yang digambarkan oleh Harold Lasswell tersebut kemudian diturunkan menjadi model komunikasi dalam Public Relations oleh Soleh Soemirat dan Ardianto Elvinaro. Dalam model komunikasi tersebut dijelaskan bahwa pesan yang disampaikan oleh Public Relations melalui media akan memiliki efek pada khalayak.

2.1.1. Model Komunikasi dalam Public Relations

Soleh Soemirat dan Ardianto Elvinaro menggambarkan model komunikasi dalam Public Relations sebagai berikut :

(2)

13 Universitas Kristen Petra

Gambar 2.1. Model Komunikasi dalam Public Relations

(Sumber : Soleh Soemirat dan Ardianto Elvinaro, “Dasar-Dasar Public Relations”, 2010, p.118)

Perusahaan (sumber) melalui Public Relations atau juru bicara perusahaan (komunikator) menyampaikan pesan kepada masyarakat (komunikan) dan menghasilkan citra publik terhadap perusahaan (efek).

2.1.2. Public Relations

Ada beberapa definisi Public Relations yang dikemukakan oleh beberapa tokoh profesional dalam bidang ini, antara lain definisi dari Dr.

Rex F. Harlow yang mengatakan bahwa,

“Public Relations adalah fungsi manajemen tertentu yang membantu membangun dan menjaga lini komunikasi, pemahaman bersama, penerimaan mutual dan kerja sama antara organisasi dan publiknya;

PR melibatkan manajemen problem atau manajemen isu; PR membantu manajemen agar tetap responsif dan mendapat informasi terkini tentang opini publik; PR mendefinisikan dan menekankan tanggung jawab manajemen untuk melayani kepentingan publik; PR membantu manajemen tetap mengikuti perubahan dan memanfaatkan perubahan secara efektif, dan PR dalam hal ini adalah sebagai sistem peringatan dini untuk mengantisipasi arah perubahan (trends); dan PR menggunakan riset dan komunikasi yang sehat dan etis sebagai alat utamanya” (Cutlip, Center, & Broom, 2006, p.5).

Selain itu, ada pula definisi Public Relations yang dinyatakan dalam pertemuan asosiasi Public Relations seluruh dunia di Mexico City pada

Sumber Komunikator Pesan Komunikan Efek

Perusahaan Lembaga Organisasi

Divisi Public Relations

Kegiatan- kegiatan

Publik Public Relations

Citra publik terhadap perusahaan

(3)

14 Universitas Kristen Petra

bulan Agustus 1978, yaitu “Public Relations adalah sebuah seni sekaligus ilmu sosial yang menganalisis berbagai kecenderungan, memperkirakan setiap kemungkinan konsekuensinya, memberi masukkan dan saran – saran kepada para pemimpin organisasi, serta menerapkan program – program tindakan yang terencana untuk melayani kebutuhan organisasi dan kepentingan khalayaknya” (Jefkins, 2004, p. 10).

International Public Relations Association (IPRA) mendefinisikan Public Relations sebagai suatu kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh goodwill (niat baik), kepercayaan, saling pengertian, dan citra baik dari masyarakat (Ruslan, 2010, p.16).

Dari tiga definisi di atas mengenai Public Relations diatas, dapat disimpulkan bahwa Public Relations memiliki tujuan untuk memperoleh goodwill (niat baik), kepercayaan, saling pengertian, dan citra baik dari masyarakat. Tujuan tersebut dapat dicapai apabila perusahaan dapat menjaga hubungan baik dengan publiknya, dan hal ini tidak terlepas dari aspek komunikasi. Komunikasi yang lancar antara perusahaan dengan publiknya akan menciptakan saling pengertian diantara keduanya. Dengan begitu, Public Relations dapat mengetahui opini publik, mengantisipasi isu yang terjadi serta konsekuensinya, dan ketika isu itu sudah menjadi krisis, Public Relations pun dapat membantu untuk menyelesaikannya dengan melibatkan manajemen isu.

Joe Marconi (2004, p.81) mengatakan bahwa Public Relations practitioners are often describe as”image maker”. Artinya, Public Relations sering dideskripsikan sebagai “pembuat citra”. Jadi, untuk dapat menciptakan sebuah citra, keberadaan Public Relations dalam suatu perusahaan sangat diperlukan. Segala kegiatan yang dilakukan oleh Public Relations adalah untuk menghasilkan citra yang baik.

2.1.3. Fungsi Public Relations

Fungsi Public Relations yang dilaksanakan dengan baik benar-benar merupakan alat yang ampuh untuk memperbaiki, mengembangkan peraturan, budaya organisasi atau perusahaan, suasana kerja yang

(4)

15 Universitas Kristen Petra

kondusif, peka terhadap karyawan yang perlu pendekatan khusus, perlu dimotivasi dalam meningkatkan kinerjanya, dan lain-lain. Public Relations menyadari bahwa komunikasi yang baik dan etis serta hubungan manusiawi yang benar- benar manusiawi merupakan alat dalam mengatasi hubungan yang tegang ataupun sampai terjadi konflik.

Sebagai “jalan penengah” antara organisasi dengan publik internal atau eksternal, dapat dikatakan bahwa fungsi Public Relations adalah memelihara, mengembangtumbuhkan, mempertahankan adanya komunikasi timbal balik yang diperlukan dalam menangani, mengatasi masalah yang muncul, atau meminimalkan munculnya masalah. Public Relations bersama-sama mencari dan menemukan kepentingan organisasi yang mendasar, dan menginformasikan kepada semua pihak yang terkait dalam menciptakan adanya saling pengertian, yang didasarkan pada kenyataan, kebenaran dan pengetahuan yang jelas, lengkap dan perlu diinformasikan secara jujur, jelas, dan objektif (Assumpta, 2002, p.34-35).

Hubungan baik antara publik internal dan eksternal dapat dicapai jika Public Relations menjalankan fungsinya dengan baik. Publik internal adalah orang-orang di dalam organisasi, seluruh karyawan dari top management sampai seluruh jajaran terbawah. Sedangkan publik eksternal adalah orang-orang diluar organisasi yang terkait dan diharapkan akan ada hubungannya dengan organisasi (Asumpta, 2002, p.27). Dengan terjalinnya hubungan yang baik, maka Public Relations dapat mencapai tujuannya.

2.1.4. Tujuan Public Relations

Frank Jefkins mengatakan bahwa tujuan dari Public Relations adalah meningkatkan favorable citra yang baik dan mengurangi atau mengikis habis sama sekali unfavorable citra yang buruk terhadap organisasi tersebut.

Secara umum tujuan Public Relations adalah untuk menciptakan, memelihara, dan meningkatkan citra yang baik dari organisasi kepada publik yang disesuaikan dengan kondisi-kondisi daripada publik yang bersangkutan, dan memperbaikinya jika citra itu menurun atau rusak

(5)

16 Universitas Kristen Petra

Dengan demikian ada empat hal yang prinsip dari tujuan Public Relations, yakni:

1. Menciptakan citra yang baik 2. Memelihara citra yang baik 3. Meningkatkan citra yang baik

4. Memperbaiki citra jika citra organisasi menurun atau rusak.

Dari serangkaian tujuan di atas pada umumnya Public Relations menekankan tujuan pada aspek citra. (Yulianita, 2007, p.42). Oleh sebab itu, komunikasi yang dilakukan oleh Public Relations akan memiliki efek pada citra perusahaan, sesuai dengan model komunikasi yang disampaikan oleh Soleh Soemirat dan Ardianto Elvinaro, dimana dalam penelitian ini digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.2. Model Komunikasi Public Relations Lion Air (Sumber : Olahan Peneliti, 2012)

Melalui Public Relations dan juru bicara perusahaan, pihak Lion Air memberikan tanggapan dan konfirmasi kepada masyarakat mengenai berita tertangkapnya pilot Lion Air yang menggunakan narkoba melalui media massa. Satu hari setelah penangkapan pilot Lion Air di Hotel Garden Palace pada 4 Februari 2012, Edward Sirait selaku direktur Lion Air dan juru bicara perusahaan mengatakan kepada media bahwa Lion Air langsung memberhentikan pilot tersebut karena telah menyalahi peraturan perusahaan (Radar Surabaya, “Lion Air Pecat Pilot yang Nyabu”, 6 Februari 2012, p.1). Informasi yang diberikan oleh Edward Sirait

Sumber Komunikator Pesan Komunikan Efek

Perusahaan Lion Air

Public Relations

Berita penangkapan pilot narkoba

Masyarakat Citra Lion

Air di masyarakat

(6)

17 Universitas Kristen Petra

sehubungan dengan kasus tersebut dapat mempengaruhi citra Lion Air di mata masyarakat.

2.2. Media Relations

Bagian utama dari tugas praktisi Public Relations adalah membangun media relations, yaitu dengan memahami bagaimana cara bekerja sama dengan setiap media, cara menghasilkan isi (content) untuk masing-masing media, cara memenuhi persyaratan spesifik dan menangani audien media.

Praktisi Public Relations harus membangun dan menjaga hubungan saling menghormati dan saling mempercayai dengan awak media. Hubungan ini, meskipun saling menguntungkan, pada intinya tetap bertentangan, karena jurnalis tidak dalam bisnis yang sama dan sering kali punya tujuan komunikasi yang berbeda (Cutlip, 2006, p.305).

2.2.1. Pengertian Media Relations

Media Relations adalah aktivitas komunikasi yang dilakukan oleh individu ataupun praktisi Public Relations suatu organisasi, untuk menjalin pengertian dan hubungan yang baik dengan media massa, dalam rangka pencapaian publikasi dan organisasi yang maksimal serta berimbang (Nova, 2009, p.208). Definisi lain diungkapkan oleh Rosady Ruslan dalam bukunya yang berjudul Manajemen Public Relations, dikatakan bahwa

“Hubungan pers adalah suatu kegiatan Public Relations dengan maksud menyampaikan pesan komunikasi mengenai aktivitas yang bersifat kelembagaan, perusahaan atau institusi, produk, serta kegiatan yang sifatnya perlu dipublikasikan melalui kerja sama dengan media massa untuk menciptakan publisitas dan citra positif di mata masyarakat” (Dalam Nova, 2009, p.208).

Definisi media relations dari Rosady Ruslan tersebut merupakan definisi yang sesuai dengan penelitian ini. Dimana dalam definisi tersebut dikatakan bahwa publikasi di media dapat menciptakan publisitas dan citra positif di mata masyarakat. Namun, hal tersebut juga bergantung pada jenis publikasi di media, apakah negatif atau positif.

(7)

18 Universitas Kristen Petra

2.3. Berita

JB. Wahyudi mendefinisikan berita sebagai laporan tentang peristiwa atau pendapat yang memilki nilai penting, menarik bagi sebagian khalayak, masih baru dan dipublikasikan melalui media secara periodik. Menurut William S. Maulsby, berita adalah suatu penuturan secara benar dan tidak memihak dari fakta yang mempunyai arti penting dan baru terjadi, yang dapat menarik perhatian pembaca surat kabar yang memuat berita tersebut (Dalam Iriantara, 2006, p.79).

Berita yang dihadirkan kepada khalayak merupakan representasi dari kenyataan. Kenyataan tersebut ditulis kembali dan ditransformasikan lewat berita (Eriyanto, 2002, p.24-25). Proses membuat peristiwa agar kontekstual bagi khalayak merupakan proses sosial yang menempatkan kerja jurnalistik dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakatnya. Hal ini menjadi asumsi yang kira-kira bagi wartawan dan bagi khalayak disepakati bersama bagaimana peristiwa seharusnya dijelaskan dan dipahami. Aspek penting dari asumsi tersebut adalah pemberian makna bagi peristiwa, apa yang diasumsikan oleh wartawan dan apa yang diasumsikan oleh khalayak (Eriyanto, 2002, p.122). Suatu peristiwa menjadi bermakna dan bernilai bagi khalayak setelah berita tersebut dikonstruksi dan dibentuk oleh wartawan (Eriyanto, 2002, p.120).

Realitas yang dikonstruksi kembali oleh pekerja media maupun institusi media harus sesuai dengan faktanya. Dalam hal ini, seorang jurnalis hanya dibenarkan menyajikan fakta dan interpretasi ke dalam naskah berita yang dibuatnya, dan sama sekali tidak dibenarkan memasukkan opini pribadinya guna menjaga kemurnian dan keobyektifan berita (Siregar, 1998, p.27). Jika jurnalis memasukkan opininya ke dalam naskah berita yang dibuatnya, maka berita tersebut tidak lagi obyektif dan dapat mempengaruhi persepsi realitas sosial. Guther (1998) mengatakan bahwa bias media atau keberpihakan media dapat mempengaruhi persepsi realitas sosial (Dalam Donsbach, 2007, p.159).

(8)

19 Universitas Kristen Petra

2.3.1. Nilai Berita

Tidak semua kejadian atau peristiwa dapat menjadi sebuah berita jurnalistik. Ada ukuran-ukuran tertentu yang harus dipenuhi agar suatu kejadian atau peristiwa dalam masyarakat dapat diberitakan pers. Hal ini disebut sebagai kriteria layak berita (news value, news worthy), yaitu layak atau tidaknya suatu kejadian dalam masyarakat diberitakan oleh pers atau bernilainya kejadian tersebut bagi pers. Dengan beberapa kriteria yang ada dalam news value tersebut, maka reporter dapat dengan mudah mendeteksi mana peristiwa yang harus diliput dan dilaporkan (Siregar, 1998, p.27).

Nilai berita merupakan persyaratan awal sebelum menulis berita jurnalistik, karena nilai berita merupakan tolak ukur kelayakan sebuah peristiwa dapat diberitakan. Hal yang membuat suatu kejadian atau peristiwa menjadi layak berita adalah unsur penting dan menarik dalam kejadian tersebut. Berdasarkan pengertian berita yang disampaikan oleh JB. Wahyudi dan William S. Maulsby, dapat disimpulkan bahwa berita adalah laporan tentang peristiwa yang memiliki nilai berita (menarik, faktual, penting) yang dapat menarik perhatian khalayak. Jika suatu peristiwa tidak memiliki nilai berita, maka peristiwa tersebut tidak dapat dikatakan sebagai berita. Selain itu, nilai berita yang terkandung dalam kejadian juga akan menjadi magnet yang menyebabkan pembaca tertarik pada berita yang ditulis (Siregar, 1998, p.27). Oleh sebab itu, nilai berita merupakan aspek penting dalam berita dan dijadikan sebagai indikator dalam penelitian ini.

Nilai berita dalam buku-buku jurnalistik pada umumnya dinyatakan sebagai berikut:

1. Consequences, yaitu besar kecilnya dampak peristiwa pada masyarakat.

2. Human interest, yaitu menarik atau tidak dari segi ragam cara hidup manusia.

3. Prominance, adalah besar kecilnya ketokohan orang dalam peristiwa.

4. Proximity, yaitu jauh dekatnya peristiwa dari orang yang mengikuti beritanya.

(9)

20 Universitas Kristen Petra

5. Timeliness, berarti baru tidaknya atau penting tidaknya saat peristiwa terjadi (Iriantara, 2006, p.81).

Terkait dengan nilai timeliness, satu hal yang perlu diketahui tentang barunya suatu informasi, yaitu selain peristiwanya yang baru, suatu berita yang sudah lama terjadi, tetapi kemudian ditemukan sesuatu yang baru dari peristiwa itu, dapat juga dikatakan berita tersebut menjadi baru lagi (Sumadiria, 2005:80).

Selain itu, Fraser Bond (1961) mencatat ada empat faktor utama yang dapat merangsang bangkitnya perhatian orang banyak dan menghasilkan berita bernilai tinggi, yaitu:

1. Ketepatan waktu (timeliness)

Timeliness adalah jika peristiwa sedang terjadi saat ini, atau berita yang menarik bagi pembaca, pendengar, dan penonton saat ini.

Umumnya mereka menginginkan berita yang selalu baru dan aktual.

2. Kedekatan tempat kejadian (proximity)

Proximity adalah jika peristiwa atau situasi tersebut terjadi di dekat pembaca. Khalayak lebih tertarik perhatiannya terhadap berita tentang peristiwa kecil yang bisa dijangkau daripada peristiwa yang terjadi bermil-mil jauhnya.

3. Besarnya (size)

Size adalah ukuran suatu berita itu dimuat di media. Sesuatu yang sangat kecil maupun sangat besar selalu memikat perhatian orang banyak. Salah satu contohnya adalah jumlah korban bencana atau kecelakaan.

4. Kepentingan (importance)

Importance adalah peristiwa yang memiliki nilai-nilai penting bagi kehidupan, keluarga, pendidikan, atau kesejahteraan khalayak (Dalam Suhandang, 2004, p.144-145).

Dalam penelitian ini, nilai berita menurut Iriantara dijadikan sebagai indikator oleh peneliti, karena nilai-nilai berita tersebut dianggap paling relevan dengan penelitian ini. Namun, penilaian antara satu orang dengan yang lain terhadap nilai berita tersebut tidaklah sama karena setiap orang

(10)

21 Universitas Kristen Petra

mempunyai persepsi yang berbeda-beda mengenai hal penting dan menarik baginya (Siregar, 1998, p.27). Perbedaan persepsi masyarakat mengenai nilai berita yang terdapat pada berita penangkapan pilot pengguna narkoba tersebut akan menghasilkan citra Lion Air yang berbeda-beda pula, mengingat citra juga berangkat dari persepsi.

2.4. Citra

2.3.1. Pengertian Citra

Citra adalah suatu gambaran yang mengimplikasikan kebenaran dimana citra itu mengandung konotasi yang dangkal bahkan ilusi sekalipun (Marconi, 2004. P.81). Selain itu, ada juga defnisi lain dari citra, yaitu kesan yang timbul karena pemahaman akan suatu kenyataan.

Pemahaman yang berasal dari suatu informasi yang tidak lengkap juga akan menghasilkan citra yang tidak sempurna (Kasali, 1994, p.28).

Definisi serupa juga disampaikan oleh Philip Henslowe dalam bukunya yang berjudul Public Relations The Basic of Public Relations A Practical Guide, citra adalah kesan yang diperoleh menurut level pengetahuan dan pengertian mengenai fakta (mengenai orang, produk, atau situasi).

Informasi yang kurang lengkap atau salah akan memberikan citra yang salah (Henslowe, 2003, p.6).

2.3.2. Jenis-Jenis Citra

Citra dibedakan menjadi empat, yaitu (Henslowe, 2003, p.6 – 7):

1. Citra Bayangan (The Mirror Image)

Citra bayangan adalah citra yang dianut oleh orang dalam mengenai pandangan luar terhadap organisasinya. Citra ini seringkali tidaklah tepat bahkan hanya sekedar ilusi, sebagai akibat dari tidak memadainya informasi, pengetahuan ataupun pemahaman yang dimiliki oleh kalangan dalam organisasi mengenai pendapat atau pandangan pihak – pihak luar. Dalam situasi yang biasa, sering muncul fantasi „semua orang menyukai kita‟ (Jefkins, 2004, p.20).

(11)

22 Universitas Kristen Petra

2. Citra yang Berlaku (The Current Image)

Citra yang berlaku merupakan kebalikan dari citra bayangan. Citra yang berlaku adalah suatu citra atau pandangan yang dianut oleh pihak – pihak luar mengenai suatu organisasi. Namun sama halnya dengan citra bayangan, citra yang berlaku tidak selamanya, bahkan jarang, sesuai dengan kenyataan karena semata-mata terbentuk dari pengalaman atau pengetahuan orang-orang luar yang biasanya serba terbatas. Biasanya citra ini cenderung negatif. Citra ini sepenuhnya ditentukan oleh banyak sedikitnya informasi yang dimiliki oleh mereka yang mempercayainya (Jefkins, 2004, p.20).

3. Citra Perusahaan (The Corporate Image)

Citra perusahaan adalah citra dari suatu organisasi secara keseluruhan, jadi bukan sekedar citra atas produk dan pelayanannya. Citra perusahaan ini terbentuk dari banyak fakta, seperti sejarah, atau riwayat hidup perusahaan yang gemilang, keberhasilan dan stabilitas di bidang keuangan, kualitas produk, keberhasilan ekspor, hubungan industri yang baik, reputasi sebagai pencipta lapangan kerja, kesediaan turut memikul tanggung jawab sosial, dan komitmen mengadakan riset (Jefkins, 2004, p.22).

4. Citra Majemuk (The Multiple Image)

Banyaknya jumlah pegawai, cabang, atau perwakilan dari sebuah perusahaan atau organisasi dapat memunculkan suatu citra yang belum tentu sama dengan citra organisasi atau perusahaan tersebut secara keseluruhan. Jumalah citra yang dimiliki suatu perusahaan boleh dikatakan sama banyaknya dengan jumlah pegawai yang dimilikinya.

Untuk menghindari berbagai hal yang tidak diinginkan, variasi citra harus ditekan seminimal mungkin dan citra perusahaan secara keseluruhan harus ditegakkan. Banyak cara untuk melakukan hal itu, antara lain dengan mewajibkan semua karyawan mengenakan pakaian seragam, menyamakan jenis dan warna mobil dinas, simbol, lencana, pelatihan staf, bentuk bangunan atau interior toko yang khas, desai

(12)

23 Universitas Kristen Petra

papan nama toko, letak interior, dan materi display seperti yang terlihat dalam toko yang memiliki banyak cabang (Jefkins, 2004, p.22).

Dalam penelitian ini, citra yang ingin diketahui oleh peneliti adalah citra perusahaan, yaitu citra Lion Air saat ini, khususnya setelah masyarakat mengetahui pemberitaan mengenai penangkapan pilot Lion Air pengguna narkoba. CK. Prahalad dalam bukunya The Competing for The Future, mengatakan bahwa sebuah perusahaan tidak hanya bisa bersandar pada citra yang sekarang berkembang, tapi juga harus bisa memprediksi dan menggali apa yang menjadi citra masa mendatang (Dalam Macnamara, 2006, p.243). Dengan mengetahui citra yang sedang berkembang saat ini, diharapkan hal tersebut dapat memberikan masukan kepada pihak Lion Air untuk mengantisipasi dan mengambil langkah demi memajukan citranya di masa yang akan datang.

2.3.3. Elemen-elemen Citra

Ada lima elemen yang digunakan untuk mengukur citra, antara lain:

(Vos, 1992, p.122-123)

1. Kesan Utama (primary impression). Kesan utama yang dimiliki orang terhadap organisasi. Kesan utama ini merupakan deskripsi singkat mengenai organisasi yang diberikan oleh seseorang dengan kata-katanya sendiri. Masyarakat akan membentuk kesan pertama dengan mengingat perusahaan melalui event atau kejadian terakhir yang terkait dengan perusahaan tersebut.

2. Keakraban (Familiarity). Agar masyarakat familiar dengan perusahaan, maka yang harus dilakukan adalah menciptakan kesadaran masyarakat mengenai keberadaan perusahaan.

Pengetahuan terhadap perusahaan dapat melalui produk atau service, orang yang bekerja di dalamnya dan kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh perusahaan. Orang yang tidak mengetahui hal- hal yang berkaitan dengan perusahaan tidak perlu menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan perusahaan tersebut.

(13)

24 Universitas Kristen Petra

3. Persepsi (Perception). Citra perusahaan dapat terbentuk melalui karakteristik dari atribut-atributnya. Untuk mengetahui karakteristik dari atribut organisasi, maka perlu dilakukan riset awal. Hal ini dilakukan agar diketahui sejauh mana responden merasa bahwa berbagai karakteristik masih berlaku.

4. Pilihan (Preference). Untuk menambah opini masyarakat mengenai karakteristik perusahaan maka masyarakat dapat bertanya apa kelebihan karakteristik tersebut, dan berapa bobotnya.

5. Posisi (Position). Posisi atribut organisasi di masyarakat dalam hubungannya dengan organisasi lain sangatlah penting.

Seperangkat karakteristik umum dapat diselidiki antara organisasi yang sebanding, dimana karakteristik utama yang memiliki unsur diskriminatif tinggi harus diidentifikasi dalam kaitannya dengan pesaing atau organisasi yang sifatnya serupa.

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, citra yang diberikan orang terhadap sesuatu tergantung pada informasi yang mereka miliki.

Informasi-informasi tersebut diperoleh masyarakat melalui media massa.

Oleh sebab itu, penting bagi praktisi Public Relations untuk menjaga hubungan baik dengan media, karena hubungan kerja yang kuat antara Public Relations dengan jurnalis akan menjadi aset yang sangat berharga (Guth, 2005,p.114).

2.5. Tahap Transisi Kehidupan

Dalam kuesioner, peneliti membagi usia responden ke dalam tiga kategori, yaitu usia 18-22 tahun, 23-30 tahun, dan 30-40 tahun. Pembagian usia tersebut dilakukan berdasarkan teori yang disampaikan oleh Levison, dimana pada masa dewasa muda, Levinson membagi dua fase transisi kehidupan, yaitu fase memasuki masa dewasa awal (usia 17-33) tahun dan fase puncak dewasa awal (usia 33-45 tahun)

1. Fase memasuki dewasa awal (usia 17-33) tahun terdiri dari:

(14)

25 Universitas Kristen Petra

- Transisi dewasa awal early adulth transtition (17-22 tahun). Pada masa ini individu masih berada pada masa remaja. Secara fisik bentuk tubuhnya tampak seperti orang dewasa lainnya, tetapi secara mental individu belum memiliki tanggung jawab penuh karena masih hidup bergantung secara ekonomi dari orang tuanya. Namun demikian, ada hasrat untuk hidup mandiri dan lepas dari bantuan ekonomi orang tua.

Untuk bisa mewujudkan keinginan tersebut, individu mempersiapkan diri dengan cara menimba ilmu dan keahlian melalui pendidikan formal ataupun pendidikan non-formal.

- Memasuki struktur kehidupan dewasa awal (22-28 tahun).umumnya pada masa ini individu telah menyelesaikan taraf pendidikan formal.

Untuk masyarakat yang maju wawasannya, mereka telah menempuh pendidikan (SMU), akademi atau universitas. Namun, bagi masyarakat yang belum maju secara intelektual, kemungkinan individu hanya menyelesaikan pendidikan tingkat menengah atas (SMU) bahkan ada yang lebih rendah (SD/SMP). Setelah itu individu memilih dan menekuni karir sesuai dengan minat-bakat dan kemampuannya.

Kadang-kadang ditemukan, adanya ketidakmantapan dalam menekuni pekerjaannya, (misalnya karena faktor penerimaan besarnya gaji, ketidakpuasan kerja) sehingga individu sering mengambil keputusan pindah atau berganti pekerjaan ke tempat lain. Selain itu, individu juga sedang membangun kehidupan rumah tangga, mewujudkan impian pribadi melalui kreativitas karir pekerjaan, dengan selalu tetap menerima bimbingan dari orang lain yang lebih dewasa atau lebih ahli/pengalaman.

- Usia transisi 30-an (28-33 tahun). Masa ini secara prinsip sama pada masa sebelumnya, yaitu individu masih tetap membangun karir pekerjaan dan membentuk kehidupan keluarga, serta berkarya untuk membangun struktur kehidupan berikutnya.

2. Fase puncak dewasa awal (usia 33-45 tahun) terbagi menjadi dua tahap, yaitu puncak kehidupan dewasa awal (usia 33-40 tahun) dan transisi

(15)

26 Universitas Kristen Petra

dewasa menengah (mildlife transtition usia 40-45 tahun). Pada puncak kehidupan dewasa awal:

- Individu merasa mantap atau memantapkan diri dengan pilihan pekerjaannya saat ini.

- Karena menanggung kehidupan keluarga, individu memperkuat komitmen (tekad) untuk membangun pekerjaan.

- Membentuk kehidupan pribadi yang bertanggung jawab sesuai dengan cita-cita masyarakat bangsa.

- Mewujudkan aspirasi dan cita-cita yang tertanam sejak masa mudanya dulu.

Sedangkan pada transisi dewasa menengah, Individu telah menempuh perjalanan hidup yang panjang , diantaranya meniti karir pekerjaan sampai mencapai posisi penting sebagai ahli atau pimpinan (kepala, manajer, direktur), membangun kehidupan rumah tangga yang ditandai dengan kehadiran anak-anak, dan lain-lain (Dariyo, 2003, p.119-120)

2.6. Nisbah Antar Konsep

International Public Relations Association (IPRA) mendefinisikan Public Relations sebagai suatu kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh goodwill (niat baik), kepercayaan, saling pengertian, dan citra baik dari masyarakat. Disamping itu, Joe Marconi juga mengatakan bahwa Public Relations adalah “image maker”. Dari kedua pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa Public Relations identik dengan pembentukan citra. Hal ini diperjelas dengan pernyataan Rhenald Kasali dalam bukunya yang berjudul Manajemen Public Relations mengatakan bahwa tugas Public Relations adalah menegakkan citra perusahaan atau organisasi yang diwakilinya agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dan tidak melahirkan isu-isu yang dapat merugikan.

Citra perusahaan ini terbentuk dari banyak fakta, seperti sejarah, atau riwayat hidup perusahaan yang gemilang, keberhasilan dan stabilitas di bidang keuangan, kualitas produk, keberhasilan ekspor, hubungan industri yang baik, reputasi sebagai pencipta lapangan kerja, kesediaan turut

(16)

27 Universitas Kristen Petra

memikul tanggung jawab sosial, dan komitmen mengadakan riset. Fakta- fakta tersebut tidak dapat diketahui oleh publik tanpa campur tangan dari media. Proses pembentukan citra tidak lepas dari adanya peran media masaa, karena salah satu peran dari Public Relations adalah membangun hubungan dengan media. Tanpa media, Public Relations bukan apa-apa.

Pada awal tahun 2012, dua orang pilot Lion Air tertangkap menggunakan narkoba. Berita ini muncul di berbagai media, baik media cetak, maupun media elektronik dan menarik perhatian banyak orang, khususnya para pengguna jasa penerbangan. Berita yang menyangkut kepentingan banyak orang tersebut diekspos di media dalam kurun waktu beberapa minggu setelah kejadian tersebut. Banyaknya berita yang beredar di media hingga berkembang menjadi berita yang baru tentu saja dapat mempengaruhi citra Lion Air di mata masyarakat. Citra Lion Air bisa menjadi baik atau buruk akibat pemberitaan tersebut, maka dalam penelitian ini dilakukan pengukuran untuk mengetahui pengaruh berita penangkapan pilot Lion Air pengguna narkoba terhadap citra Lion Air di masyarakat.

Variabel citra diukur dengan menggunakan lima elemen citra, yaitu primary impresion, familiarity, perception, preference, dan position. Sedangkan variabel berita diukur dengan lima nilai berita, yaitu consequences, human interest, prominance, proximity, dan timeliness.

(17)

28 Universitas Kristen Petra

2.7. Kerangka Pemikiran

Bagan 2.1. Kerangka Pemikiran Sumber : Olahan Peneliti, 2012

Public Relations dideskripsikan sebagai “pembuat citra” (Marconi, 2004, p.81). Media sangat dibutuhkan

untuk mendefinisikan citra perusahaan bagi khalayak (Nova, 2010, p.204)

Citra perusahaan adalah citra dari suatu organisasi secara keseluruhan, jadi bukan sekedar citra atas produk dan

pelayanannya(Jefkins, 2004, p.22).

Berita mengenai pilot Lion Air yang menggunakan narkoba. (“Lagi, Pilot Lion Air Tertangkap Nyabu”,Kompas, 5 Februari 2012)

Enam elemen citra (variabel Y) : - Kesan utama (Primary

impression) - Keakraban

(familiarity)

- Persepsi (perception) - Pilihan (preference) - Posisi (position) (Vos, 1992, p.122-123)

Pengguna Jasa Penerbangan

Pengaruh Berita Penangkapan Pilot Lion Air Pengguna Narkoba terhadap citra Lion Air

Nilai Berita ( variabel X) : - Konsekuensi

(Consequences) - Ketertarikan (Human

interest) - Kepentingan

(Prominance)

- Kedekatan (Proximity) - Ketepatan waktu

(Timeliness)

(Iriantara, 2006, p.81)

(18)

29 Universitas Kristen Petra

2.8. Hipotesis

Hipotesis yang diajukan di dalam penelitian ini adalah:

H0 : Tidak Ada Pengaruh antara pemberitaan Pilot Lion Air pengguna narkoba terhadap citra Lion Air.

H1 : Ada Pengaruh antara pemberitaan Pilot Lion Air pengguna narkoba terhadap citra Lion Air

Gambar

Gambar 2.1. Model Komunikasi dalam Public Relations
Gambar 2.2. Model Komunikasi Public Relations Lion Air  (Sumber : Olahan Peneliti, 2012)

Referensi

Dokumen terkait

Pada saat ini banyak media yang dapat dipakai untuk menyampaikan pesan-pesan moral, salah satu media yang cukup digemari oleh masyarakat saat ini adalah buku novel grafis, karena

Berdasar hal-hal yang telah disampaikan di atas, maka peneliti ingin melakukan penelitian tingkat pengetahuan perempuan Surabaya mengenai pesan iklan Corporate Social

• Audiens mengingat bahwa pesan iklan yang disampaikan membuat audiens menyadari bahwa audiens kurang memiliki informasi mengenai bentuk kepedulian CocaCola terhadap

Bagaimana cara menyampaikan pesan yang efektif dan komunikatif untuk mengenalkan dan mengetahui disleksia yang terjadi pada anak usia 3-9 tahun kepada masyarakat melalui Iklan

Berdasarkan fenomena diatas, maka peneliti ingin mengetahui efektifitas iklan di medium surat kabar dalam menyampaikan pesan kepada target market Guna Wangsa

“Suster Reny juga lebih sering menggunakan tangan kanannya untuk menyampaikan pesan, biasanya kalau melarang dengan jari telunjuk digerakkan ke kiri dan ke

Namun satu yang menjadi kunci dari peranan public relations dalam organisasi nirlaba ini adalah mengedukasi publik terkait dengan situasi yang saat ini sedang dihadapi, serta

Diantara semua definisi yang menjabarkan definisi komunikasi kelompok, peneliti memilih perspektif yang dikemukakan oleh Deddy Mulyana bahwa komunikasi kelompok