• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Sipatokkong BPSDM Sulawesi Selatan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Sipatokkong BPSDM Sulawesi Selatan"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

ISSN: 2721-5407 (Online) Volume 1 Nomor 3 Tahun 2020

197 JSBPSDM 1(3)(2020), 197-202

Jurnal Sipatokkong BPSDM Sulawesi Selatan

https://ojs.bpsdmsulsel.id/

Layanan bimbingan kelompok dengan media dadu magic untuk

mengidentifikasi pergaulan remaja SMK

Ninik Purwanti

SMKN 3 Buduran Sidoarjo, Indonesia

[email protected]

ABSTRAK

Tujuan artikel ini yaitu mengkaji tentang penggunaan layanan bimbingan kelompok terhadap pergaulan remaja SMK. Layanan bimbingan kelompok merupakan kegiatan pemberian bantuan kepada anggota kelompok dengan membahas topik tertentu (pergaulan remaja) dan memanfaatkan dinamika kelompok. Bimbingan kelompok merupakan layanan dasar dalam bimbingan konseling yang berfungsi preventif. Dalam hal ini untuk mencegah pergaulan yang tidak sehat pada remaja. Pergaulan remaja merupakan proses interaksi seorang remaja dengan remaja lainnya atau dengan sekelompok remaja, yang dapat membawa pengaruh positif maupun negatif. Sebagai upaya preventif, guru BK melakukan bimbingan kelompok dengan media dadu magic untuk mengidentifikasi pergaulan remaja SMK. Media dadu magic merupakan media yang dirancang dan dibuat seperti permainan monopoli.

Kata Kunci: Bimbingan kelompok, pergaulan remaja, media dadu magic

© 2020 Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Sulawesi Selatan

PENDAHULAN

Masa remaja merupakan masa peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa. Hal ini ditandai dengan perubahan fisik maupun psikis. Perubahan fisik pada laki-laki seperti tumbuhnya jakun, kumis, suara membesar, mimpi basah. Pada perempuan seperti payudara mulai membesar dan mengalami menstruasi. Sedangkan perkembangan psikis seperti sikap dan perasaan, keinginan atau kemauan yang tidak menentu (Hayati et al., 2016).

Remaja memiliki emosi labil, mencari pola hidup yang sesuai dengan dirinya meskipun dilakukan dengan coba-coba dan meniru orang lain. Jika tidak ada yang mengarahkan dan membimbing, remaja dapat terjerumus pada pergaulan yang tidak sehat atau negatif, seperti pergaulan bebas, suka merokok, minum-minuman keras atau menggunakan obat-obatan terlarang. Masa peralihan yang dihadapi oleh remaja dapat menimbulkan rasa tidak nyaman akibat dari perubahan fisik, sosial dan emosional, karena remaja dituntut untuk menyesuaikan diri dan menerima segala perubahan yang terjadi.

Oleh karena itu, pergaulan remaja seharusnya mendapatkan perhatian khusus dari orang tua, masyarakat, dan guru, khususnya guru BK di sekolah. Berdasarkan uraian di atas, maka guru BK melakukan layanan bimbingan kelompok sebagai upaya preventif untuk mencegah pergaulan yang tidak sehat atau negatif. Guru BK melakukan layanan bimbingan kelompok dengan media dadu magic untuk mengidentifikasi pergaulan remaja SMK.

PENGERTIAN PERGAULAN REMAJA

Pergaulan merupakan proses interaksi seseorang dengan orang lain atau dengan kelompok. Remaja merupakan masa peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa. Masa remaja ditandai dengan pencapaian hubungan yang matang dengan teman sebaya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pergaulan remaja merupakan proses interaksi seorang remaja dengan remaja lain atau

(2)

ISSN: 2721-5407 (Online) Volume 1 Nomor 3 Tahun 2020

198 dengan kelompok dalam hubungan yang matang. Remaja, khususnya peserta didik SMK sudah mulai menjalin hubungan sosial dengan teman sebaya dengan membentuk identitas kelompok. Remaja cenderung untuk meniru, mencoba-coba hal baru, mengikuti pendapat, kebiasaan atau nilai orang lain. Hal ini dapat berdampak positif maupun negatif (Tim Penyusun POP BK Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemdikbud, 2016).

TUGAS PERKEMBANGAN REMAJA SMK

Salah satu tugas perkembangan remaja yaitu mencapai kematangan hubungan dengan teman sebaya. Oleh karena itu harus ada yang mengarahkan dan membimbing agar remaja semakin matang dan tidak salah dalam bergaul dengan teman sebaya. Berikut adalah hubungan salah satu tugas perkembangan remaja dengan aspek perkembangan SKKPD pada tabel 1 dan rincian tugas perkembangan dalam tataran internalisasi tujuan pada tabel 2 (Tim Penyusun POP BK Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemdikbud, 2016)

Tabel 1.Hubungan antara tugas perkembangan dengan aspek perkembangan dalam Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik (SKKPD)

Tugas Perkembangan Aspek Perkembangan SKKPD

Mencapai kematangan hubungan dengan teman

sebaya Kematangan hubungan dengan teman sebaya Tabel 2.Rincian tugas perkembangan dalam tataran internalisasi tujuan

Aspek

Perkembangan Rincian Tugas dalam Tataran Internalisasi Tujuan Kematangan

hubungan dengan teman sebaya

Pengenalan Akomodasi Tindakan

Mempelajari cara-cara membina kerjasama dan toleransi dalam pergaulan dengan teman sebaya Menghargai nilai-nilai kerjasama dan toleransi sebagai dasar untuk menjalin persahabatan dengan teman sebaya

Mempererat jalinan persahabatan yang lebih akrab dengan memperhatikan norma

Pada masa remaja, mereka mulai menjalin hubungan kerjasama dengan teman sebaya dan memiliki rasa toleransi tinggi atau setia kawan yang cenderung mengikuti pola atau cara-cara bergaul dalam kelompoknya.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERGAULAN REMAJA

Remaja memiliki emosi meledak-ledak dan tidak stabil, sehingga mudah sekali terpengaruh orang lain. Beberapa lingkungan pergaulan yang berpengaruh terhadap perkembangan remaja yaitu lingkungan pergaulan remaja, lingkungan pergaulan sekolah dan lingkungan pergaulan masyarakat. Sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh Vintiffani. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pergaulan remaja yaitu pengetahuan dan pendidikan agama, pengaruh teman sebaya dan pola asuh orang tua (Inayatih et al., 2017).

Jika remaja bergaul di lingkungan yang sehat, remaja akan tumbuh menjadi pribadi yang baik. Begitu pula sebaliknya, remaja yang bergaul di lingkungan tidak sehat, seperti seks bebas atau pergaulan bebas, merokok, minum-minuman keras atau menggunakan obat-obat terlarang maka remaja akan mudah terpengaruh dan kemungkinan besar terjerumus dalam hal yang salah tersebut, apalagi remaja menghabiskan sebagian besar waktunya di luar rumah dengan temannya. Pergaulan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan kepribadian seseorang. Oleh karena itu, pergaulan yang tidak sehat atau negatif harus dihindari agar tidak terjadi kenakalan remaja. Kenakalan remaja merupakan perilaku remaja yang menyimpang dari

(3)

ISSN: 2721-5407 (Online) Volume 1 Nomor 3 Tahun 2020

199 norma-norma di masyarakat, yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain (Sumara et al., 2017).

BIMBINGAN KELOMPOK Pengertian Bimbingan Kelompok

Bimbingan kelompok merupakan proses pemberian bantuan kepada anggota kelompok yang terdiri dari 2-10 orang agar mereka mampu mencegah terjadinya masalah dan mengembangkan kemampuan atau keterampilan yang dimiliki.Topik pada bimbingan kelompok bersifat umum bukan rahasia. Penentuan topik bisa berasal dari guru BK atau dari anggota kelompok. Kali ini topik yang dipilih berasal dari guru BK yaitu tentang pergaulan remaja.

Langkah-langkah Bimbingan Kelompok

Sebelum melakukan bimbingan kelompok, guru BK menyusun RPL bimbingan kelompok sesuai topik yang sudah ditentukan (pergaulan remaja) dan membentuk kelompok (forming). Tahap ini biasa disebut sebagai tahap pra bimbingan. Selanjutnya yaitu tahap pelaksanaan yang terdiri dari tahap pembukaan (tahap pembinaan hubungan, menciptakan suasana saling mengenal, hangat dan rileks, pernyataan tujuan dan manfaat bimbingan kelompok secara singkat), transisi, inti, dan penutupan. Setelah itu ada tahap pasca bimbingan kelompok(mengevaluasi perubahan yang dicapai, menetapkan tindak lanjut kegiatan yang dibutuhkan, dan menyusun laporan bimbingan kelompok).

Pada tahap pembinaan hubungan, ada hal-hal penting yang berpengaruh terhadap pembentukan hubungan antara guru BK dengan peserta didik/konseli yaitu penghargaan dan penerimaan positif terhadap peserta didik/konseli, empati dan ketulusan membantu peserta didik/konseli (Nursalim, 2014:3).

Teknik Bimbingan Kelompok

Teknik bimbingan kelompok yang digunakan oleh guru BK yaitu diskusi kelompok. Diskusi kelompok merupakan proses komunikasi antar anggota kelompok dalam membahas topik tertentu (pergaulan remaja) untuk memfasilitasi anggota kelompok belajar dari pengalaman anggota lain dalam menyelesaikan masalah dan mengembangkan kemampuan atau keterampilan yang dibutuhkan. Selain itu, dapat membuat anggota kelompok menjadi berani dan terampil mengemukakan pendapat.

Dalam diskusi kelompok, guru BK menggunakan media dadu magic untuk mengidentifikasi pergaulan remaja SMK. Media dadu magic dirancang dan dibuat oleh guru BK seperti permainan monopoli dengan topik pergaulan remaja.

MEDIA DADU MAGIC

Deskripsi dari Nama Media yang Digunakan

Semakin maraknya pergaulan yang tidak sehat pada remaja, kasus merokok, pacaran, dan hami diluar nikah, untuk mencegah hal-hal tersebut, guru BK melakukan bimbingan kelompok menggunakan media “Dadu Magic” dengan topik pergaulan remaja.

Tujuan Penggunaan Media

Untuk mengetahui sejauh mana peserta didik memahami tentang pergaulan remaja, mampu mengidentifikasi pergaulan yang sehat atau tidak sehat dan faktor-faktor yang mempengaruhinya serta agar terhindar dari pergaulan yang tidak sehat atau negatif.

Manfaat Media Dadu Magic

Bagi Guru BK akan memudahkan dalam penyampaian informasi tentang pergaulan yang sehat atau positif dan pergaulan yang tidak sehat atau negatif, yang biasa disebut pergaulan bebas. Bagi peserta didik, layanan yang diberikan oleh guru BK akan lebih menarik dalam suasana yang menyenangkan, memudahkan peserta didik (anggota bimbingan kelompok) dalam memahami

(4)

ISSN: 2721-5407 (Online) Volume 1 Nomor 3 Tahun 2020

200 informasi tentang bahaya pergaulan yang tidak sehat atau negatif (pergaulan bebas). Selain itu, pelaksanaan layanan bimbingan kelompok menjadi lebih jelas dan lebih efektif.

Rancangan/Desain Media Dadu Magic

Bahan-Bahan yang digunakan antara lain kertas manila warna kuning, kertas bufalo warna putih, orange, biru dan ungu, kertas A4, lem, penggaris, pulpen, spidol, gambar dari internet, gunting dan isolasi.

Gambar 1.Rancangan media dadu magic Prosedur Pembuatan Media Dadu Magic

Menentukan topik yaitu pergaulan remaja, lalu membuat rancangan/desain media pada kertas A4.

Gambar 2. Rancangan/Desain alat peraga

Langkah-langkah pembuatan meliputi: Mencari gambar-gambar di internet yang sesuai dengan topik, membuat tanda pemain bagi peserta (menggunakan kertas bufalo warna orange dan ungu yang dipotong ukuran 10 cm x 10 cm dan digulung seperti tabung/teropong, kemudian diisolasi bagian pinggirnya)

Gambar 3.Cara membuat tanda pemain dari kertas bufalo

Membuat dadu yang digunakan untuk mengatur langkah permainan (menggunakan kertas bufalo orange), membuat kartu yang berisi pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta(menggunakan kertas bufalo warna orange, biru, dan ungu) sesuai gambar yang ditunjuk tanda pemain terkait topik pergaulan remaja seperti: katakan ya pada… katakan tidak pada…, ciri-ciri dari…, membuat

(5)

ISSN: 2721-5407 (Online) Volume 1 Nomor 3 Tahun 2020

201 yel-yel, faktor penyebab/yang mempengaruh pergaulan remaja, akibat dari…, cara mencegah…, kemudian membuat amplop dari kertas manila kuning diberi nama kesempatan, membuat kartu yang berisi kesempatan memberikan pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta (menggunakan kertas manila kuning yang dimasukkan pada amplop bertuliskan kesempatan).

Gambar 4. Kartu dan amplop kesempatan

Gambar 5. Media dadu magic

PENGGUNAAN MEDIA DADU MAGIC DALAM BIMBINGAN KELOMPOK

Cara penggunaan media dadu magic dalam bimbingan kelompok meliputi: tahap pembukaan, tahap transisi, tahap inti dan penutupan. Tahap pembukaan, guru BK membagi anggota bimbingan kelompok menjadi dua kelompok, dan satu orang sebagai pengamat sekaligus sebagai notulen yang menulis kesimpulan hasil diskusi kelompok.Perwakilan masing-masing satu orang anggota kelompok mengundi, siapa yang akan bermain terlebih dahulu. Yang menang akan bermain lebih dulu, anggota kelompok yang bermain melempar dadu. Memulai permainan dari start berjalan dihitung sesuai angka yang ditunjukkan oleh dadu. Setelah itu anggota kelompok memilih dan mengambil satu kartu. Kemudian berdiskusi untuk menjawab pertanyaan yang tertulis pada kartu dikaitkan dengan gambar/kata yang ditunjuk oleh tanda pemain (ditulis pada kertas A4 dan dibacakan/dipresentasikan di depan anggota kelompok pemain lawan), setelah itu anggota kelompok pemain lawan yang akan melempar dadu (bermain secara bergantian), jika tanda pemain bagi peserta menunjuk pada kata kesempatan, maka pemain harus mengambil kartu pada amplop kesempatan dan melaksanakan pesan yang tertulis pada kartu kesempatan, baik itu kesempatan untuk bertanya pada lawan/kesempatan menjawab pertanyaan pada kartu, pengamat akan mengamati jalannya permainan dan diskusi kelompok, kemudian menuliskan kesimpulan pada kertas bufalo putih yang nantinya akan disampaikan di akhir permainan.

Tahap transisi meliputi kegiatan selingan berupa permainan kelompok, kemudian guru BK menanyakan jika ada peserta didik yang belum mengerti, guru BK memberikan penjelasan(storming), guru BK menyiapkan peserta didik untuk melakukan komitmen tentang

(6)

ISSN: 2721-5407 (Online) Volume 1 Nomor 3 Tahun 2020

202 kegiatan yang akan dilakukan (norming), dan mengingatkan anggota bahwa kegiatan akan segera memasuki tahap inti.

Tahap inti meliputi proses/kegiatan yang dilakukan oleh anggota kelompok dalam kegiatan bimbingan kelompok (eksperientasi). Guru BK menetapkan topik pembahasan yaitu tentang pergaulan remaja.

Tahap penutupan/pengakhiran (terminasi) meliputi mengungkap kesan dan keberhasilan yang dicapai anggota, merangkum proses dan hasil yang dicapai, menyampaikan pesan dan harapan, dan menutup kegiatan bimbingan kelompok.

Layanan bimbingan kelompok dengan media dadu magic ini sangat membantu guru BK dan peserta didik dalam pelaksanaan layanan, sehingga peserta didik lebih mudah memahami tentang materi dari berdiskusi langsung dengan anggota kelompok, belajar dari pengalaman anggota kelompok cara menyikapi dan menyelesaikan permasalahan pergaulan dengan teman sebaya. SIMPULAN

Dengan penggunaan media dadu magic dalam bimbingan kelompok, maka bimbingan kelompok dikemas lebih menarik dengan suasana permaianan yang menyenangkan agar peserta didik/anggota bimbingan kelompok lebih mudah memahami materi informasi tentang pergaulan remaja yang sehat/positif, sehingga peserta didik dapat menghindari pergaulan yang tidak sehat/negatif. Sebagai saran bagi remaja SMK, diharapkan dapat memilih pergaulan yang sehat/positif dan menghindari pergaulan yang tidak sehat/negatif, serta saling mengingatkan kebaikan diantara teman. Bagi orang tua, diharapkan mampu menerapkan pola asuh yang baik, memberikan pendidikan agama, moral, dan budi pekerti, membimbing dan memantau pergaulan anaknya agar terhindar dari pergaulan yang tidak sehat/negatif. Bagi guru dan guru BK, diharapkan mampu memberikan teladan, memberi motivasi, mendidik dan membimbing peserta didik agar bergaul secara sehat. Selain itu guru diharapkan menggunakan media yang kreatif dalam kegiatan pembelajaran/ layanan bimbingan konseling. Bagi sekolah, diharapkan mampu memberikan pendidikan yang baik, menciptakan lingkungan belajar yang kondusif agar peserta didik mampu berkembang secara optimal dalam lingkungan yang sehat. Bagi masyarakat, diharapkan mampu meningkatkan moral remaja melalui kegiatan keagamaan dan kegiatan kemasyarakatan.

DAFTAR PUSTAKA

Hayati, Barriya Khoirul, dan Farid, M. (2016). Konsep Diri, Adversity Quotient dan Penyesuaian Diri pada Remaja. Person Jurnal Psikologi Indonesia, 5(02), 137–144.

Inayatih, Vintiffani dan Pujiastuti, W. T. (2017). Faktor-faktor yang mempengaruhi pergaulan remaja. Penelitian Dan PPM.

Nursalim, Mochamad. (2014).Strategi dan Intervensi Konseling. Jakarta: Akademia.

Sumara, D., Humaedi, S., & Santoso, B. M. (2017). Kenakalan remaja dan penanganannya. Penelitian Dan PPM, 4.

Tim Penyusun POP BK Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemdikbud. (2016). Panduan Operasional Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Sekolah Menengah Kejuruan .

Gambar

Tabel  1.Hubungan  antara  tugas  perkembangan  dengan  aspek  perkembangan  dalam    Standar  Kompetensi Kemandirian Peserta Didik (SKKPD)
Gambar 2. Rancangan/Desain alat peraga
Gambar 5. Media dadu magic

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan metode pembelajaran bermain sambil belajar menggunakan media tanaman, dapat menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan menarik bagi

Culture shock atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan gegar budaya adalah istilah psikologis yang menggambarkan keadaan dan perasaan seseorang dalam menghadapi kondisi

Adapun pendisitribusian frekuensi hasil kemampuan berbahasa anak anak di atas dapat dilihat pada tabel distribusi frekuensi di bawah ini. Hasil rata-rata persentase

Hasil penelitian menunjukkan bahwa akuntabilitas administrasi dapat meningkatkan pengelolaan penerimaan pajak hotel dan restoran karena : (1) Adanya akuntabilitas

Penyebab munculnya tindak kekerasan guru terhadap siswa menurut survey diantaranya adalah karena kesalahan yang dilakukan siswa, temperamen guru, dan berbagai alasan lain

Analisis inferesial yang digunakan untuk menguji kepentingan pengaruh kompetensi pedagogi guru terhadp motivasi belajar Siswa, adalah analisis regresi dengan persamaan: Y = 

Kompetensi pengelolaan pembelajaran, yaitu kemampuan yang harus dimiliki widyaiswara dalam merencanakan, menyusun, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran, yang meliputi

Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Provinsi Jawa Tengah sesuai dengan Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 84 tahun 2016 melaksanakan fungsi