Sumber: Analisis penulis (2016)
25 Dikutip dari respository.uinjkt.ac.id.pdf oleh Faturrahman. Dalam uraian Henry L. Tischler da- lam bukunya yang masyhur, Introduction to Sociology, ( Chicago: Holt, Rinehart and Wiston, 1990) hlm.380. Pada tanggal 15 Desember 2016, pukul 00:15 WIB.
26 Dikutip dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/34834/4/Chapter%20II.pdf pada tanggal 15 Desember 2016, pukul 00:59 WIB
27 Ibid, hlm.2
Menggali nilai luhur (tahap awal kristalisasi ajaran)
Melembagakan ajaran dan membangun identi- tas kelompok (deklarasi ADS)
Pengembangan aja- ran ADS (PAKCU DAN AKUR)
Madrais Tedjabuana Djatikusuma
Resistensi penjajah
Resistensi pemerintah
Pemerintah : Resistensi ke partisipasi
Page 23 of 203 Skema diatas menjelaskan tentang pergantian kepemimpinan yang telah berganti sebanyak tiga kali. Dalam komunitas ADS, kepemimpinan telah diganti sebanyak tiga kali. Kepemimpinan tersebut didapati dari garis keturunan laki-laki. Maksud- nya, pemimpin ADS pada periode berikutnya akan dipimpin oleh anak laki-laki dari pemimpin ADS itu sendiri. Kepemimpinan tersebut diganti setelah seorang pem- impin yang menjabat telah wafat. Pergantian pemimpin tersebut mulai dari Pan- geran Madrais, Pangeran Tedja Buana, dan Pangeran Djati Kusuma. Pada saat ini, karena Pangeran Djati Kusuma sudah berusia lanjut, kini sebagian tugasnya diselingi oleh Pangeran Gumirat yakni anak biologis dari Pangeran Djati Kusuma.
Bentuk pendidikan atau pembekalan untuk menjadi seorang pemimpin sudah di- ajarkan sejak kecil. Calon pemimpin yang berasal dari garis keturunan laki-laki) dari pemimpin ADS sejak kecil sudah diberikan arahan, bimbingan terkait kepem- impinan yang disesuaikan dengan tingkat usia. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan oleh narasumber kami, yakni Pangeran Gumirat Barna Alam. Be- liau mengatakan bahwa:
Pembekalan-pembekalannya aja dari sejak kecil diberikan arahan, diberi- kan bimbingan tapi diseseuaikan dengan tingkatan usia. 28
Selanjutnya pada setiap masa kepemimpinan biasanya masing-masing mempu- nyai gaya dan pola kepemimpinannya tersendiri karena permasalahan yang dihadapi pada setiap waktunya berbeda-beda dan akhinya membentuk pola kepemimpinan yang berbeda-beda dari setiap pemimpin.
Tabel 2. 1 Karakteristik Kepemimpinan
No Nama Karakteristik
Kepemimpinan 1 Pangeran Madrais Tegas, lugas, berani, 2 Pangeran Tedjabuana Negosiator, tidak suka
konfrontasi
3 Pangeran Djatikusuma Tegas, teguh pada prinsip, demokratis, egaliter
Sumber: Analisis Penulis (2016)
Tabel diatas memaparkan tentang karakteristik masing-masing pemimpin. Be- rawal dari periode kepemimpinan Pangeran Madrais, Pangeran Tedja Buana dan Pangeran Djatikusuma. Penjelasan tentang masing-masing karakter pemimpin akan dijelaskan dalam pemaparan selanjutnya.
1. Pangeran Madrais
Pangeran Madrais merupakan putera kepangeranan (kebangsawanan). Karakter- istik Pangeran Madrais yaitu lugas, tegas, dan meninggalkan hal konkret melalui tulisan yang disimpan rapi di Paseban Tri Panca Tunggal. Karakteristik Pangeran
28 Hasil wawancara dengan Pangeran Gumirat Barna Alam, di saung sekitar lingkungan paseban pada tanggal 5 November 2016, pukul 13:27 WIB.
Page 24 of 203 Madrais membuat Pangeran Madrais disegani dan ditakuti oleh rakyatnya saat masa kepemimpinannya. Tulisan Pangeran Madrais merupakan sebuah curahan hati keseharian beliau semasa memimpin komunitas ADS dan keluh kesah selama memimpin.
Gambar 2. 2 Pangeran Madrais
Sumber: Dokumentasi Pribadi (2016)
Pangeran Madrais yang merupakan tokoh pendiri dari ADS yang merumuskan bagaimana isi dari ajarannya dan melakukan banyak perlawanan dan juga penyebaran ajaran Madraisme atau Agama Djawa Sunda. Pangeran Madrais merupakan putera kepangeranan (kebangsawanan). Karakteristik Pangeran Madrais sendiri, yaitu lugas, tegas, berani dan merasa harus mewarisi sesuatu yang berguna bagi penerusnya. Keberanian dan ketegasannya terlihat dalam sepak terjang Pangeran Madrais melakukan gerakan resistensi terhadap penjajah Belanda dan VOC. Pada masanya, banyak tanah adat yang dicaplok oleh penjajah untuk kebijakan ‘tanam paksa’. Pangeran Madrais kemudain membangun kesadaran kaum tani dan mengkoordinir perlawanan fisik dan perlawanan budaya dengan menanam bawang (tanaman yang tidak diperintahkan untuk ditanam oleh VOC).
2. Pangeran Tedja Buana
Karakteristik Pangeran Tedja Buana yaitu beliau berupaya menyampaikan tulisan yang ditulis Pangeran Madrais dengan menerapkannya kepada rakyatnya dan ber- sikap tegas dalam memimpin komunitas ADS kala itu
Page 25 of 203 Gambar 2. 3 Pangeran Tedja Buana
Sumber: Dokumentasi Pribadi (2016)
Karakteristik kepemimpinan Pangeran Tedja Buana, yaitu berupaya menyam- paikan tulisan warisan Pangeran Madrais, lebih menghindari konfrontasi dengan pihak manapun dan memilih untuk membangun dialog atau bernegosiasi. Pan- geran Tedjabuana sendiri memimpin pada tahun 1939-1965 di mana situasi na- sional sedang berupaya mencari bentuk dan isi negara Indonesia yang ideal. Usa- hanya membangun dialog dengan pihak-pihak di luar komunitas ADS dibuktikan dengan aktivitasnya di BKKI yang dalam setiap kongresnya dihadiri oleh Presiden Soekarno.
Pada masa beliau, nama Agama Djawa Sunda (ADS) baru dideklarasikan. Sejak saat itu Pangeran kedua Kasepuhan Paseban ini memperjuangkan hak-hak sipil anggota komunitasnya melalui berbagai dialog, salah satunya lewat Badan Koordi- nasi Pengawas Aliran Kepercayaan (Bakor Pakem). Pada akhir kepemimpi- nannya, ADS banyak mendapat tekanan dari pemerintah maupun masyarakat sekitar. Karena memang menghindari konfrontasi yang dapat lebih merugikan komunitasnya secara fisik dan non fisik akhirnya beliau menyatakan ADS dibubar- kan. Kalimat yang terkenal dari Pangeran Tedjabuana yang diakuinya sebagai il- ham pada detik akhir kepemimpinannya adalah “Berlindung di bawah cemara putih”.
3. Pangeran Djatikusuma
Karakteristik Pangeran Djatikusuma: Berani mengambil resiko dalam mengambil keputusan, Sangat demokratir dan egaliter.
Page 26 of 203 Gambar 2. 4 Pangeran Djati Kusuma
Sumber: Dokumentasi Pribadi (2016)
Karakteristik Pangeran Djati Kusuma adalah berani mengambil resiko dalam mengajarkan adat, sangat demokratis, egaliter. Sosoknya memang begitu karismatik, sebagaimana Pupuhu-pupuhu sebelumnya. Setelah 17 tahun ADS membubarkan diri, Pangeran Djatikusuma menyatakan keluar dari Agama Katolik dan mendirikan PAKCU (Paguyuban Adat Karuhun Urang) pada tahun 1981 yang diikuti oleh 1600 orang pengikutnya.29
Namun, dengan terbitnya surat dari Kejari No. 44 Tahun 1982, PAKCU dibubarkan kembali oleh pemerintah.30 Maka, sejak dibubarkannya PAKCU, Pangeran Djatikusumah menyebut ajarannya AKUR (Adat Karuhun Urang). Dengan itu, Pan- geran Djatikusuma tetap dapat mengajarkan dan mengembangkan ajaran Pan- geran Madrais dengan leluasa. Usaha Pangeran Djatikusuma dengan mendirikan PAKCU, dan AKUR menunjukkan tekadnya dalam usaha pengembangan ajaran leluhur.
memang pangeran Djatikusuma orangnya kekeh, tegas sama pendirian, dan tidak terlalu memperdulikan pikiran orang lain atas ketegasannya me- megang prinsip.31
Pangeran Djatikusuma dinilai demokratis dalam menjalankan perannya sebagai pupuhu. Beliau dalam mengambil keputusan tidak begitu saja atas kehendak pribadi, namun masih memberi ruang kepada para pembantu tugasnya seperti sekretaris, bendahara, dan ais pangampih untuk memberikan masukan. Beliau juga tidak menutup pintu jika ada warga yang ingin bertemu dan membicarakan suatu persoalan. Tidak ada prosedur yang rumit jika ingin bertemu langsung dengan Pangeran Djatikusuma.
29 Nushiron M. Nuh, “Paham Madrais/Adat Karuhun Urang (AKUR) Di Cigugur Kuningan : Studi tentang Ajaran, dan Pelayanan Hak-Hak Sipil”, Jurnal Multikultural dan Multireligius, Vol. X, h 555.
30 Ibid., hh 556.
31 Wawancara Ibu Kanti Dewi, di Paseban Tri Panca Tunggal pada tanggal 05 November 2016, pukul 10:16 WIB
Page 27 of 203 Fase menarik pada era kepemiminan Djatikusuma adalah perubahan sikap pemerintah terhadap AKUR. Sikap pemerintah kala memasuki era reformasi mau tidak mau harus merubah wajahnya yang represif menjadi demokratis. Wujud nyata perubahan sikap pemerintah adalah partisipasinya dalam upacara Seren Taun yang sebelumnya sempat dilarang. Kini setiap penyelenggaraan Seren Taun, pemerintah daerah dan pusat beserta aparat keamanan turut berpartisipasi, misalnya dalam segi pendanaan dan pengamanan acara. Beberapa elit politikpun sering hadir dalam kegiatan Seren Taun sebagai wujud keseriusan membangun hubungan baik pemerintah dengan masyarakat.
4. Pangeran Gumirat Barna Alam
Karakteristik Pangeran Gumirat: Demokratis dan mampu membangun hubungan baik dengan rakyat maupun pemerintahan
Gambar 2. 5 Pangerat Gumirat Barna Alam
Sumber: Dokumentasi Pribadi (2016)
Karakteristik Pangeran Gumirat yaitu Demokratis dan mampu membangun hub- ungan baik dengan rakyat maupun pemerintahan. Pangeran Gumirat merupakan pemimpin yang bersikap demokratis kepada anggota komunitas dan juga dengan pihak luar. Membangun hubungan baik dan juga pemimpin yang berusaha untuk terus menjaga tatanan nilai yang telah ada sebelumnya. Pangeran Gumirat belum resmi menjadi pemimpin komunitas ADS saat ini karena ayahnya Pangeran Djatikusuma masih hidup sehingga belum bisa digantikan. Hanya saja beliau membantu mengontrol rakyat komunitas ADS karena ayahnya sedang sakit dan memberikan amanah kepada Pangeran Gumirat yang nanti akan menjadi pem- impin setelah ayahnya meninggal dunia.
Struktur Kepemimpinan
Pimpinan tertinggi dalam tatanan elit adat komunitas Cigugur adalah “Pupuhu”.
Pupuhu adalah figur (panutan) bagi masyarakat komunitas ADS Cigugur. Pupuhu memiliki peran, seperti memberikan dawuh (arahan) kepada masyarakat komuni- tas Cigugur jika diminta ataupun tidak diminta. Biasanya Pupuhu mendapatkan informasi tentang kondisi masyarakatnya dari Ais Pangampih. Selain memberi dawuh, peran Pupuhu adalah membangun dialog dengan tokoh agama lain dan mencari titik kesamaan yang dapat digunakan sebagai pijakan untuk merekatkan solidaritas sosial.
Page 28 of 203
“Pupuhu, sebagai Rama, harus menjadi pengarah dengan dawuh-dawuhnya, selain itu Pupuhu juga memiliki peran penting dalam hubungan antar kelompok, yakni membangun solidaritas dengan mencari kesamaan-kesamaan dengan go- longan lain.”32
Dalam kapasitas figur kepemimpinan disebutkan, bahwa “Parigeuing (kepemimpi- nan) bisa berbentuk perintah, memerintah dengan bijaksana dan menarik sim- pati”33 Dalam Amanat Galunggung, parigeuing disebut juga sebagai Dasa Pasanta yang berarti sepuluh peneguh hati. Dapat dikatakan Dasa Pasanta adalah nilai- nilai lokal masyarakat soal bagaimana seharusnya sosok seorang pemimpin. Isi Dasa Pasanta adalah sebagai berikut34 :
1. Guna, perintah yang diberikan oleh pemimpin harus jelas manfaatnya 2. Rama, artinya ramah
3. Hook, artinya kagum 4. Pesok, artinya bangga 5. Asih, artinya kasing sayang 6. Karunya, artinya karunia 7. Mupreruk, artinya manusiawi 8. Ngulas, artinya koreksi 9. Nyecep, artinya penentram
10. Ngala angen, dapat menarik simpati rakyat
Pupuhu tidak dipilih secara langsung oleh masyarakat. Pupuhu diangkat dari garis keturunan laki-laki Pupuhu sebelumnya. Pupuhu akan mempersiapkan pengganti dari putranya jika dirasa sudah saatnya harus ada yang melanjutkan estafet kepemimpinan. Dalam kondisi khusus, jika Pupuhu tidak memiliki putra, maka mau tidak mau putrinya yang harus menggantikan posisi Pupuhu.
Kalo sekarang kan sudah ada Rama Anom yang disiapkan sebagai ini (pengganti Pangeran Djatikusumah), ya..kalo di tempat lain memang pernah ada kejadian kebetulan tidak ada putra, terpaksa putrinya.35
Sosok Pupuhu, sejak Ki Madrais hingga Pangeran Djatikusumah diakui oleh Kantidewi memiliki karisma yang kuat di mata masyarakatnya. Sosok Pupuhu secara hirsotris dipandang sebagai pimpinan, pembela, pahlawan yang juga mendapatkan ilham menjadi sumber legitimasi otoritasnya. Dalam konsep Weber tentang otoritas, Pupuhu bisa saja diidentifikasi sebagai otoritas kharismatik. Otori- tas yang mendapat legitimasi dari karisma didasarkan pada kesetiaan para pengi- kutnya terhadap kesucian yang tidak lazim, sisi teladan, heroisme, atau kekuatan khusus (seperti, mukjizat) yang dimiliki pemimpin.36
Ki Madrais memang orangnya sangat karismatik, dan penerus- penerusnyapun demikian termasuk ayah saya (Pangeran Djatikusumah),
32 Wawancara Rama Anom
33 Ira Indrawardana, “Perspektif Buaya Spiritual Adat Karuhun Urang Penghayat Kepercayaan Ter- hadap Tuhan Yang Maha Esa Tentang Kepemimpinan Bangsa Indonesia Dalam Analisis Wacana Potret Krisis Multi Dimensi Bangsa”, h 3.
34 Loc.Cit.
35 Wawancara Pak Kento, dirumah Pak Kento pada tanggal 04 November 2016, pukul 15:15
36 George Ritzer dan Douglas J. Goodman, “Teori Sosiologi dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern”, (Bantul : Kreasi Wacana, 2012), h 140.
Page 29 of 203 itu yang juga menjadi kekuatan setiap pimpinan adat selama ini untuk men- jalankan perannya.37
Rama Anom sebagai calon penerus memang telah disiapkan dengan cara pembi- asaan melakukan beberapa tugas-tugas pemimpin adat. Rama Anom menuturkan bahwa dirinya diminta oleh tetua adat untuk lebih sering turun ke masyarakat untuk melihat, mendengar, dan membicarakan langsung apa saja masalah yang sedang terjadi. Rama Anom dilatih untuk terbiasa memberikan dawuh pada saat masyara- kat membutuhkan arahan. Selain itu, bagi para keturunan Pupuhu, diwajibkan un- tuk mengkaji tulisan-tulisan peninggalan Ki Madrais yang berisi ajaran Sunda Wiwitan tentang ‘kesadaran kemanusiaan dan kebangsaan’ yang saat ini doku- mennya tersimpan di Paseban.
Pupuhu dalam menjalankan kepemimpinannya dibantu oleh seorang sekretaris dan bendahara. Untuk posisi tersebut dipilih langsung oleh Pupuhu, bisa dari ka- langan keluarga pangeran ataupun di luar keluarga pangeran. Pada era Pangeran Djatikusumah, sekretarisnya adalah Pak Kento. Penulis beruntung dapat bertemu dengan Pak Kento saat turun lapangan di Komunitas Paseban, Cigugur, Jawa Barat. Namun, penulis tidak berhasil menemui bendahara komunitas Paseban Cigugur. Tugas besar yang dimiliki oleh Pupuhu dalam memimpin kehidupan kominitas ADS Cigugur juga dibantu oleh Ais Pangampih. Ais Pangampih adalah perwakilan Pupuhu yang ada di setiap wilayah-wilayah atau mereka menyebutnya
‘blok’. Ais Pangampih, bertugas melakukan pendampingan, pengawasan, dan memberi arahan di lapangan kepada masyarakat di setiap blok. Namun, tidak be- rarti Ais Pangampih memiliki wewenang yang otonom. Ais Pangampih biasanya menampung terlebih dahulu aspirasi yang disampainkan oleh masyarakat kemudian di bawa ke dalam forum pertemuan Ais Pangampih untuk dibicarakan apa solusinya bersama-sama. Jika persoalan cukup pelik, masalah itu dibawa ke hadapan Pupuhu untuk dimintai keputusannya.
Masalah yang disampaikan oleh masyarakat kepada Ais Pangampih meliputi hal- hal yang berkenaan dengan kehidupan sehari-hari. Elit adat dalam hal ini benar- benar menjadi referensi atau rujukan masyarakat dalam memecahkan suatu per- masalahan. Masyarakat meminta arahan mulai dari hal besar sampai hal kecil, seperti meminta nama untuk anak, ada kesulitan ekonomi, konflik antara suami dan istri, konflik antara tetangga, musibah penyakit dan kematian, dan sebagainya.
Semua itu disampaikan secara terbuka kepada Ais Pangampih selaku perwakilan pimpinan adat.
Ais Pangampih memang tugasnya seperti wakil Pupuhu, beliau menjadi mata dan telinga di tengah-tengah masyarakat lah gitu. Mereka ada kumpul rutinnya setiap beberapa pekan sekali untuk membicarakan masalah apa yang terjadi di masyarakat masing-masing wilayah dan mencari solusi ber- sama. Jika tidak mampu dipecahkan baru mereka sampaikan ke Pupuhu.
Dari Pupuhu nanti memberi arahan lalu diteruskan ke masyarakat lewat Ais Pangampih lagi.38
37 Wawancara Ibu Kanti Dewi, di Paseban Tri Panca Tunggal, pada tanggal 5 November 2016, pukul 10:16 WIB
38 Wawancara Pak Kento, dirumah Pak Kento pada tanggal 04 November 2016, pukul 15:15
Page 30 of 203 Berbeda dengan Pupuhu, pergantian Ais Pangampih dipilih dan diangkat oleh masyarakat di masing-masing blok. Kesamaan di antara Pupuhu dan Ais Pan- gampih adalah tidak ada pakem soal masa jabatan elit-elit adat. Pergantian Ais Pangampih dilakukan jika memang masyarakat merasa perlu dan sudah saatnya Ais Pangampih memilih penerusnya. Sistem pemilihan Ais Pangampih dilakukan dengan cara musyawarah dalam forum pertemuan warga. Masing-masing anggota masyarakat boleh mengusulkan nama yang dinilai pantas menggantikan Ais Pan- gampih. Nama yang diusulkan kemudian ditimbang kemudian disetujui oleh Pupuhu.