"Tokoh Gerakan Hidup Sederhana"
Ia datang ke Mekah terhuyung-huyung letih tetapi matanya bersinar bahagia. Memang, sulitnya perjalanan dan panasnya sinar matahari telah menyengat badannya dengan rasa sakit karena udara padang pasir dan lelah, tetapi tujuan yang hendak dicapainya telah meringankan penderitaan dan meniupkan semangat serta rasa gembira dalam jiwanya.
Ia memasuki kota dengan menyamar seolah-olah ia seorang yang hendak melakukan thawaf keliling berhala-berhala besar
di
Ka'bah, atau seolah-olah musafir yang sesat dalam perjalanan, atau lebih tepat orang yang telah menempuh jarak amat jauh, yang memerlukan istirahat dan menambah perbekalan.Padahal seandainya orang-orang Mekah mengetahui bahwa kedata- ngannya
itu
untuk menemui Nabi Muhammad ShallallahuNaihi
uta Sal-lam
dan mendengarkan keterangannya, pastilah mereka akan membunuh- ny^.Tetapi ia tak perduli akan dibunuh asal saja setelah melintasi padang pasir luas, ia dapat menjumpai laki-laki yang dicarinya dan menyatakan iman kepadanya. Kebenaran dan da'wah yang diberikan Nabi Muhammad Sballallahu
Alnihi ua
Sallam dapat memuaskan hatinya.Ia terus melangkah sambil memasang telinga, dan setiap didengarnya orang mengatakan
tentang Nabi
MuhammadShallallahu Alaihi
wa Sallam, ia pun mendekat dan menyimak dengan hati-hati; hingga dari cerita yang tersebardi
sana-sini,diperolehnya petunjuk yang
dapat menunjukkan tempat persembunyian Nabi Muhammad ShallallahuAkihi
ula Sallam, dan mempertemukannya dengan beliau.
100 701 SahabatNabi
Di
pagl hari ia pergi ke tempat itu, didapatinya Muhammad Shalln-lkbu Naihi
wa Sallam sedang duduk seorang diri. Didekatinya Rasulullah, kemudian ia berkata: "Selamat pagi wahai kawan sebangsa!" "wa Alaikum salam,wahai
sahabat", jawab Rasulullah.Kata
Abu
Dzar: "Bacakanlah kepadaku hasil gubahan anda!" "Ia bukan sya'ir hingga dapat digubah, tetapi adalah Al-Qur'an yang mulia!", Jawab Rasulullah. Kemudian Rasulullah membacakan, sedang Abu Dzar mendengarkan dengan penuh perhatian, hinggatidak
berselang lama iapun berseru:"Asyhadu Alla
llnln
lllnllnh wa Asyhadu Araru Muhanunodan 'Abduhu waRasuluh."Anda dari mana, saudara sebangsa?", tanya Rasulullah. "Dari Ghifar", ujarnya. Maka terbukalah senyum lebar di kedua
bibir
Rasulullah, semen- tara wajahnyadiliputi
rasa kagum dan ta'jub. Abu Dzar tersenyum juga, karenaia
mengetahui rasa terpendamdi balik
kekaguman Rasulullah setelah mendengar bahwa orang yang telah mengaku Islam di hadapannya secara terus terang itu, adalah seorang laki-laki dari Ghifar.Ghifar adalah suatu kabilah atau suku yang tidak ada taranya dalam soal menempuh jarak. Mereka jadi contoh perbandingan dalam melakukan perjalanan yang luar biasa. Malam yang kelam dan gelap gulita tak jadi soal bagi mereka, dan celakalah orang yang kesasar atau jaruh ke tangan kaum Ghifar di waktu malam!
Sekarang, dikala agama Islam yang baru saja lahir dan berjalan sem- bunyi-sembunyi, mungkinkah ada diantara orang-orang Ghifar itu seorang yang sengaja datang
untuk
masuk Islam? BerkatalahAbu
Dzar dalam mencerirakan sendiri kisahnya itu: "Maka pandangan Rasulullah pun fumn naik, tak putus ta'jub memikirkan tabi'at orangorang Ghifar, lalu sabdanya:" Sesungguhnya Allnh memberi
petunj*
kepada yang disulainya...!
Benar, Allah menunjuki.siapa
yangla
kehendaki! Abu Dzar salah seorang yang dikehendaki Allah unruk memperoleh petunjuk, orang yang dipilih-Nya akan mendapat kebaikan.Dan memang, Abu Dzar ini seorang yang tajam pengamatannya ten- tang kebenaran. Menurut riwayat, ia termasuk salah seorangyang menen- tang pemujaan berhala di zaman jahiliyah, mempunyai kepercayaan akan Ketuhanan serta iman kepada Tuhan Yang Maha Esa lagi Perkasa, maka iapun menyiapkan bekal dan segera mengayunkan langkahnya.
ABU DZAR AL€HIFARI "Tbkoh Gerokon Hidup Sederhana" 101
Abu Dzar telah masuk Islam tanpa ditunda-runda lagi! urutannya dika- langan Muslimin adalah yang kelima atau keenam. Jadi, ia telah memeluk
agama iru pada hari-hari pertama, bahkan pada saat-saat pertama agama Islam, hingga keislamannya termasuk dalam barisan terdepan.
Ketika ia masuk Islam, Rasulullah masih menyampaikan da'wahnya secara berbisik-bisik. Dibisikkannya kepada Abu Dzar begitupun kepada lima orang lainya yang telah iman kepada Allah. Bagi Abu Dzar, tak ada yang dapat dilakukannya sekarang selain memendam keimanan
itu
dalam dada, lalu meninggalkan kota Mekah secara diam-diam dan kembali kepada kaumnya.Tetapi Abu Dzar yang nama aslinya Jundub bin Junadah, seorang radikal dan revolusioner. Telah menjadi watak dan tabi'atnya menentang kebathilan dimanapun
ia
berada. Dan sekarangkebathilan itu
berada dihadapannya serta disaksikannya dengan kedua matanya sendiri. Batu-baru yang ditembok, yang dibentuk oleh para pemujanya, disembah oleh orang- orang yang menundukkan kepala dan merendahkan akal mereka, dan mereka diseru dengan ucapan yang muluk: Inilah kami, kami datang demi mengikuti titahmu!Memang, ia melihat Rasulullah memilih cara bisik-bisik pada hari- hari tersebut, tetapi tidak dapat tidak harus ada suatu teriakan keras yang akan dikumandangkan pemberontak ulung ini, sebelum ia pergi. Baru saja
masuk Islam, ia telah menghadapkan pertanyaan kepada Rasulullah:
"'Wahai Rasulullah, apa yang sebaiknya saya kerjakan menurut anda?"
"Kembalilah kepada kaummu sampai ada perintahku nanti!", jawab Rasu- lullah. "Demi Tuhan yang menguasai nyawaku", kata Abu Dzar juga, "saya takkan kembali sebelum meneriakkan Islam dalam masjid!"
Jiwa Abu Dzar memang radikal dan revolusioner! Pada saat terbukanya alam baru secara gamblang, yang jelas terlukis pada Rasulullah yang di- imaninya, serta da'wah yang uraiannya disampaikan dengan lisannya. apa- kah pada saat seperti
itu
ia mampu kembali kepada keluarganya dalam keadaan membisu seribu bahasa? Sungguh, hal itu diluar kesanggupan dan kemampuannya!Abu Dzar pergimenuju masjidilharam dan menyerukan dengan suara sekeras-kerasnya: "Asyhadu Alla llaaha lllallah, wa,\syhadu Anna Muham- madar Rasulullah". Setahu kita, teriakan ini merupakan teriakan pertama tentang Agama Islam yang menentang kesombongan orang-orang Quraisy dan memekakkan telinga mereka. Diserukan oleh seorang perantau asing
102 701 Sohabat Nabi
yang tidak mempunyai bangsa, sanak keluarga maupun pembela di Mekah.
Dan sebagai akibatnya, ia mendapat perlakuan dari mereka yang sebetul- nya telah dimaklumi akan ditemuinya. Orang-orang musyrik mengepung dan memukulnya hingga jaruh.
Berita mengenai peristiwa yang dialami Abu Dzar iru akhimya sampai juga kepada paman Nabi, Abbas. Ia segera mendatangi tempat terjadinya peristiwa tersebut, tapi ia merasa tidak dapat melepaskan Abu Dzar dari cengkeraman mereka, kecuali dengan menggunakan diplomasi halus. Maka ia berkata kepada mereka: "Wahai kaum Quraisy! Anda semua adalah bangsa pedagang yang mau tak mau akan melewati kampung Bani Ghifar.
Dan orang
ini
salah seorang warganya, bila anda menganiayanya,maka ia akan dapat menghasut kaumnya untuk merampok kabilah-kabilah anda nanti!" merekapun menyadari halitu,
lalu pergi meninggalkannya.Tetapi Abu
Dzar yang telah mengenyam manisnya penderitaan dalam membela Agama Allah, takingin
meninggalkan Mekah sebelum memperoleh tambahan dari darma baktinya.Pada
hari
berikutnya, tampak olehnya dua orangwanita
sedang thawaf keliling berhala Usaf dan Nailah sambil memohon padanya. Abu Dzar segeraberdiri
menghadangnya,lalu
dihadapan mereka berhala- berhala iru dihina sejadi-jadinya.Kedua wanita
itu
memekik berteriak, hingga orang-orang gempar dan berdatangan laksana belalang, lalu menghujani Abu Dzar dengan puku- lan hingga ia tak sadarkan diri. Ketika ia siuman, maka yang diserunya tiada lain hanyalah "bahrua tiada Tuhan yang haq disembah melainkan Allah,danNabi
Muhammaditu
utusanNlah."
Maklumlah sudah Rasulullah Sballallahu
Alaihi
waSallam
akan watak dan tabi'at murid barunya yang ulung ini, serta keberaniannya yang menakjubkan dalam melawan kebathilan. Hanya sayang saatnya belumlag
tiba, maka diulangilah perintah agar dia pulang, sampai bila telah diden- garny^ nanti Islam lahir terang-terangan, ia dapat kembali dan turut men- gambil bagian dalam percaruran dan aneka peristiwanya.Abu Dzar kembali menjumpai keluarga dan kaumnya serta menetap kan kepada mereka tentang Nabi yang baru diutus Allah, yang menyeru agar mengabdi kepada Allah Yang Maha Esa dan membimbing mereka supaya berakhlaq mulia. Seorang demi seorang kaumnya masuk Islam;
Bahkan usahanya tidak terbatas pada kaumnya semata, tapi dilanjutkannya pada suku lain, diantaranya yaitu suku Aslam.
Di
tengah-tengah mereka dipancarkan cahaya Islam.ABU DZAR AL-cHIFARI "Tokoh Gerokan Hidup Sederhano" 103
Hari-hari berlalu mengikuti peredaran, Rasulullah telah hijrah ke Madinah dan menetap
di
sana bersama kaum Muslimin. Pada suatu hari, barisan panjang yang terdiri atas para pengendara dan pejalan kaki menuju pinggiran kota, meninggalkan kejugan debu yang ada dibelakang mereka.Kalau tetap bukan karena bunyi suara takbir mereka yang gemuruh, tenrulah yang melihat akan menyangka mereka
itu
suatu pasukan tentara musyrik yang akan menyerang kota.Rombongan besar itu semakin dekat, lalu masuk ke dalam kota dan langkah mereka mereka ke masjid Rasulullah dan tempat kediamannya.
Ternyata rombongan
itu
tiada lain dari kabilah-kabilah Ghifar dan Aslam yang semuanya dikerahkan oleh Abu Dzar dan telah masuk Islam tanpa kecuali; baik laki-laki, perempuan, orang tua, remaja dan anak-anak.Sudah selayaknyalah Rasulullah semakin ta'jub dan kagum!
Belum lama berselang, ia ta'jub ada seorang laki-laki dari Ghifar yang menyatakan keislamannya di hadapannya beliau. Sabdanya menunjuk- kan keta'juban itu:
"Sungguh Allah memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-
Nyr."
Maka sekarang yang datang
itu
adalah seluruhwarg
Ghifar dan menyatakan keislaman mereka. Telah beberapa tahun lamanya mereka menganut Agama itu, semenjak mereka diberi hidayah Allah melalui tangan Abu Dzar dan ikut juga bersama mereka suku Aslam.Raksasa garong dan komplotan syetan telah beralih rupa menjadi raksasa kebajikan dan pendukung kebenaran!Nah,bukanlah sesungguhnya Allah memberi perunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya?
Rasulullah melepaskan pandangannya kepada wajah-wajah yang ber- seri-seri, pandangan yang dilipuri rasa haru dan cinta kasih. Sambil menoleh kepada suku Ghifar, beliau bersabda:
"
Suku Ghifar telah dighafar - diampuni - oleh Allah."Kemudian sambil menghadap kepada suku Aslam, sabdanya
"
Suku Aslam telah disalam -diterima dengan damai- oleh Allah."Dan mengenai Abu Dzar, muballigh ulung yang berjiwa bebas dan bercita-cita mulia
itu,
tidakkah Rasulullah akan menyampaikan ucapan istimewa kepadanya? Tidak pelak lagi, pastilah ganjarannya tidak terhingga, serta ucapan kepadanyadipenuhi
berkah! Dan tentulah pada dadanya104
l0l
SohoborNobfakan tersemat bintang tertinggi, begitu pun riwayat hidupnya akan penuh dengan medali. Turunan demi rurunan serta generasi demi generasi akan berlalu perBl, tetapi manusia akan selalu mengulang-ulang apa yang disab- dakan oleh Rasulullah Shallallahu
Naihi
wa Sallam mengenai Abu Dzar ini:Thkkan pernah lagi dijumpai di bawah langit
ini,
orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar! Kemudian ditambah juga:Bagaimana kebenaran ucapan dari Abu Dzar?
Sungguh, Rasulullah
Shallallahu Alaihi
utaSallam
bagai telah membaca hari depan sahabatnya itu, dan manyimpulkan kesemuanya pada kalimat tersebut. Kebenaran yang disertai keberanian, irulah prinsip hidup Abu Dzar seczra keseluruhan!Benar batinnya, benar juga lahirnya.
Benar akidahnya, benar juga ucapannya.
Ia akan menjalani hidupnya secara benar,
tidak
akan melakukan kekeliruan. Dan kebenarannya iru bukanlah keutamaan yang bisu, karena bagr Abu Dzar, kebenaran yang bisu bukanlah kebenaran!Yang dikatakan benar ialah menyatakan secara terbuka dan terus terang, yakni menyata- kan yang haq dan menentang yangbathil,
menyokong yangbetul
dan meniadakan yang salah.Benar iru kecintaan penuh terhadap yang haq, mengemukakannya secara berani dan melaksanakannya secara terpuji.
Dengan penglihatanl,layang tajam, bagai menembus ke alam ghaib yang jauh tidak terjangkau atau samudera yang tidak terselami, Rasulullah Shallallahu
Alaihi
ula Sallam menampakkan segala kesusahan yang akan dialami oleh Abu Dzar sebagai akibat dari kebenaran dan ketegasannya.Maka selalu dipesankan kepadanya agar melatih
diri
dengan kesabaran dan tidak terburu nafsu.Pada suatu saat Rasulullah mengemukakan kepadanya pertanyaan berikut ini:
"Wahai
Abu
Dzar, bagaimana pendapatmubila
menjumpai para pembesar yang mengambil barang upeti untuk diri mereka pribadi?" Jawab Abu Dzar:"Demi
yang telah mengutus anda dengan kebenaran, akan saya tebas mereka dengan pedangku!" Sabda Rasulullah juga: Maukah kamu saya beri jalan yang lebih baik dari itu? Ialah bersabar sampai kamu menemuiku."ABU DZAR AL-GHIFARI "Tokoh Gerakan Hidup Sederhano" 105
Tahukah anda kenapa Rasulullah mengajukan pertanyaan seperti itu?
Itulah persoalan pembesar dan harta!
Nah itulah persoalan pokok bagi Abu Dzar dan untuk
itu
ia harus membaktikan hidupnya, suatu kemusykilan menyangkut masyarakat, ummat dan masa depan yang harus dipecahkannya!Hal
itu telah dimaklumi oleh Rasulullah, dan itulah sebabnya beliau mengajukan pertanyaan seperti demikian, untuk membekalinya dengan nasihat yang amat berharga: "Bersabarlah sampai kamu menemuiku."Abu
Dzar akan selalu ingat kepada wasiat guru dan Rasulini.
Iatidak akan menggunakan ketajaman pedang terhadap para pembesar yang mengambil kekayaan dari harta rakyat sebagai ancamannya dulu, tetapi ia juga tidak akan bungkam atau berdiam
diri
ketika mengetahui kesesatan mereka.Memang, seandainya Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa
Sallam melarangnya menggunakan senjata untuk menebas leher mereka, tetapi beliau tidak melarangnya menggunakan lidah yangtajam demi membela kebenaran, maka wasiatitu
akan dilaksanakannya.!Masa Rasulullah berlalulah sudah, disusul kemudian oleh masa Abu Bakar, kemudian masa Umar. Dalam masa kedua Khilafah
ini
godaanhidup
masih dapatdijinakkan
sebaik-baiknya dan unsur-unsur fitnah pemecah belah, hingga nafsu angkar^yalghaus dahaga tidak memperoleh angin atau mendapatkan jalan.Ketika
itu
tidak terdapat penyelewengan-penyelewengan yang akan mengakibatkan Abu Dzar bangkit menentang dengan suaranya yang lan- tang dan kecamannya yang pedas. Telah lama berlaku dalam pemerintahan Amirul Mu'minin Umar keharusan hidup sederhana dan menjauhi kemewa- han serta menegakkan keadilan bagi setiap pejabat dan pembesar Islam.Begitu juga para hartawan
di
mana mereka berada, telah melaksanakan disiplin ketat yang hampir saja tidak terpikul oleh kemampuan manusia.Tiada
seorangpun di
antara pejabatnya,baik di Irak, di
Syria, Shan'a, ataudi
negeri yang jauh letaknya sekalipun, yang memakan dan menjual makanan mahal yang tidak terjangkau oleh rakyat biasa, kecuali selang beberapa hari beritaitu
akan sampai kepada Umar. Perintah keras pun akan memanggil pejabat yang bersangkutan menghadap Khalifah di Madinah untuk menjalani pemeriksaan ketat.Akan tenanglah
Abu
Dzar kalau demikian, tenteram dan damai, selama al-Faruqul 'adhim masih menjabat AmirulMu'minin.
Selarna itu Abu106 107 SahabatNabi
Dzar dalam kehidupannya tidak diganggu oleh kepincangan-kepincangan so- sial seperti penumpukan harta dan penyalahgunaan kekuasaan. Pengawasan Umar ibnul Khatthab yang ketat terhadap fihak penguasa dan pembagian yang merata terhadap harta, telah memberikan kepuasan dan kelegaan ke- pada dirinya. Dengan demikian, dapatlah ia memusatkan perhatiannya dalam beribadah kepada Allah penciptanya dan berjihad di jalan-Ny1 tan- pa sedikitpun hendak berdiam diri jika melihat kesalahan di sana-sini, yang ketika
itu
memang jarang terjadi.Akan tetapi, setelah khalifah terbesar yang teramat adil dan paling mengagumkan
di
antaratokoh
kemanusiaan telah pergi, terasa adanya kehampaan dalam kepemimpinan. Bahkan hal tersebut menimbulkan kemunduran yang tak dapat dikuasai dan dibatasi oleh tenaga manusia.Sementara itu, meluasnya ajaran Islam ke berbagai pelosok dunia menum- buhkan kemakmuran
hidup.
Orang yangtidak
dapat menahan godaan dunia, banyak yang terjerumus ke dalam kemewahan yang melebihi batas.Abu Dzar melihat bahaya ini. Panji-panji kepentingan pribadi hampir saja menyeret dan mendepak orang-orang yang tugasnya sehari-hari mene- gakkan panji-panji Allah. Dan dunia, dengan daya tarik serta tipu muslihat- nya yang mempesona,
hampir
juga memperdayakan orang-orang
yang niengemban risalah untuk menpergunakannya sebagai wadah menyemai dan menanamkan kebajikan.Harta yang difadikan Allah sebagai pelayan dan harus runduk kepada manusia, cenderung berubah rupa, menjadi tuan yang mengendalikan manusia.
Hasil kekayaan bumi yang sengaja diperuntukkan Allah bagr semua ummat manusia, dengan menjadikan mereka mempunyai hak yang sama, hampir berubah menjadi suatu keistimewaan dan hak monopoli bagi mereka yang terbenam dalam kemewahan.
Dan jabatan, yang merupakan amanat untuk dipertanggungjawabkan kelak
di
hadapan pengadilanIlahi,
beralih menjadi alat untuk merebut kekuasaan, kekayaan dan kemewahan yang menghancurbinasakan.Abu Dzar melihat semua
ini.
Ia tidak memikirkan, apakahitu
men- jadi kewajiban dan tanggungjawabnya. Hanya saja ia langsung menghunus pedang, meletakkannya ke udara dan membedahnya.Kemudian ia bangkit berdiri dan menantang masyarakat yang telah menyimpang dari ajaran islam dengan pedangnyayang tak pernah tumpul itu. Tetapi secepatnya, bergemalah dalam kalbunya bunyi wasiat yang telah
ABU DZAR AL-cHIFART "Tokoh Gerakon Hidup Sederhona" L07
disampaikan Rasulullah ke padanya dulu. Maka dimasukkannya kembali pedang iru ke dalam sarungnya, karena tiada sepantasnya ia mengacung- kan ke wajah seorang Muslim.
[rv:.r-r] @'rfE it,qi'p- j ;F. lk ti
"Dan tidak tayak bagt
seoran1'Mu'*i,
untukrir*Urrun Mu'min
lainnya, kecuali karena keliru Aidak sengaja). (An-Nisa: 92 )Bukankah
dulu
Rasulullahtelah
menyatakandi
hadapan para sahabatnya bahwadi
bawah langitini
takkan pernah lagi muncul orang yang lebih benar ucapannya selain dari Abu Dzar?Orang yang memiliki kemampuan seperti ini, berupa kata-kata yang tepat dan
jitu,
tidak memerlukan lagi senjata lainnya. Saru kalimat yang diucapkannya, akanlebih
tajam dan banyak hasilnya daripada pedang walau sepenuh bumi.Maka dengan senjata kebenarannya ia akan pergi mendapatkan para
pembesar dan kaum hartawanl pendeknya kepada manusia
yang cenderung menumpuk kekayaan dan membahayakan Agama. Agama yang sengaja datang untuk memberikan bimbingan dan bukan untuk memungut upeti, sebab kenabian bukan suatu kerajaan, menjadi rahmat karunia bukan adab sengsara, mengajarkan kerendahan hati bukan kesombongan diri, persamaan bukan pengkastaan, kesahajaan bukan keserakahan, kesederha- naan bukan keborosan, kedamaian dan kebijaksanaan dalam menghadapi hidup bukan terpedaya dan mati-matian dalam mengejarnya.!Baiklah ia pergi mendapatkan mereka semua, dan biarlah Allah yang menjadi hakim diantara Abu Dzar dengan mereka, dan Allahlah sebaik-baik hakim!
Maka pergtlah Abu Dzar menemui pusat-pusat kekuasaan dan gudang harta, dengan lisannya yang tajam dan benar untuk merubah sikap mental mereka satu persatu.
Dalam
beberapahari
sajatak
ubahnya ia telah menjadi panji-panjiyang di bawahnya bernaung rakyat banyak dan golongan pekerja, bahkan sampai di negeri yang jauh dan penduduknya pun selamaitu
belum pernah melihatnya.Nama Abu Dzar bagaikan terbang ke sana, dan tak satu daerah pun yang dilaluinya - bahkan walau barn namany^yang sampai ke sana menim- bulkan rasa takut dan hati
ngeri
pihak penguasa dan golongan berharta yang berlaku curang.108 107 SohabatNobi
Seandainya penggerak hidup sederhana ini hendak mengambil suaru panji bagr
diri
pribadi dan gerakannya, maka lambang yang akan terpam- pang pada panfi-panjiitu
tiada lain dari sebuah seterika dengan baranya yang merah menyala. Sedangkan yang akan menjadi semboyan dan yang selalu diulang-ulangnya setiap waktu dan tempat, diulang-ulang juga oleh para pengikutnya seolah-olah suatu lagu perjuangan, ialah kalimat-kalimat berikut:"Beitalcanlah kepada para perurnpuk larta, yang nanurnpuk emos dan
perak,
merekaakan diseterika
denganseterika api
neraka, menyeteila hening dnn pinggang merela di hari kiamat"Setiap ia mendaki
bukit,
menuruni lembah memasukikota;
dan setiap ia berhadapan dengan seorang pembesar, selalu kalimatitu
yang menjadi buahmulutnya.
Begitupun
setiap orang melihatnya datang berkunjung, mereka akan menyambutnya dengan ucapan: "Beritakan kepada para penumpuk harta!"Kalimat
ini
benar-benar telah menjadi panji-panji suatu misi yang menjadi tekad serta pendorong dalam membaktikan hidupnya, ketika dilihatnya hartaitu
telah ditumpuk dandimonopoli,
serta jabatan yang disalahgunakan unnrk memupuk kekuatan dan meraup keuntungan; serta disaksikannya bahwa cinta dunia telah merajalela dan hampir saja mencari hasil yang telah dicapaidi
tahun-tahun kerasulan, berupa keutamaan dan keshalihan, kesungguhan dan keikhlasan.Abu Dzar menujukkan sasarannya yang pertama terhadap poros utama kekuasaan dan gudang raksasa kekayaan, yaitu Syria, tempat bercokolnya
Mu
awiyah bin Abu Sufyan yang memerintah wilayah Islam paling subur,paling
banyakhasil bumi dan paling
kaya dengan barang upetinya.Muawiyah telah memberikan dan membagi-bagikan harta tanpa perhitu- ngan, dengan tujuan untuk mengambil hati orang-orang terpandang dan berpengaruh, dan demi terjaminnya pemerintahan status quo yang masih dirindukannya.
Di
sana terhampar tanah-tanah luas, gedung-gedung tinggi dan harta berlimpah yang menggoda para da'i,penyiar agama Islam. Maka Abu Dzar cepat mengatasinya, sebelum hal itu berlarut-larut, dan sebelum pertolongan datang terlambat hingga nasi telah menjadi bubur.Pemimpin gerakan hidup sederhana
ini
pun berkemas-kemas, dan secepatkilat
berangkat ke Syria. Ketika beritaitu
didengar oleh rakyat jelata, mereka pun menyambut kedatangannya dengan semangat menyala penuh kerinduan, dan mengikud ke mana perginya.ABU DZAR AL-cHIFARI "Tokoh Gerokon Hidup Sederhono" 109