• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bila kaum Quraisy menyalakan api permusuhan melawan Rasulullah dan kaum muslimin, maka

Abu

Sufyan pasti

tampil di

antara mereka.

Lidahnya yang selalu mengeluarkan syair terus

menyindir

Rasulullah dengan kata-kaa kotor dan menyakitkan hati. Keadaan itu terus berlangsung selama dua puluh tahun.

Tatkala Islam telah

berdiri

teguh dan kuat, Rasulullah Shallallahu

Naihi

wa Sallam segera merencanakan untuk menaklukkan kota Mekah.

Mendengar berita itu, Abu Sufran segera memanggil keluarganya. "Bersiaplah kalian

untuk

mengungsi. Sebentar lagi tentara Muhammad akan tiba.

Mereka pasti akan membunuhku."

,jr.

Abu Sufyan kepada anak dan istrinya.

Namun keluarganya yang memang telah tersentuh dengan aiararr Islam membujuk

Abu

Sufyan, "Apakah belum

tiba

saatnya,bagi kamu unruk menyaksikan orang Arab dan non fuab tunduk kepada Muhammad, sedangkan kamu senantiasa memusuhinya? Seharusnya kamulah yang pertama kali dalam memperkuat barisan Muhammad serta membantu segala keper- luannya." jawab mereka.

Akhimya, Allah melapangkan dada Abu Sufyan untuk menerima Islam sebagai aE manya.

lalu

bersama putranya , Ja'far ia berangkat meninggal- kan kota Mekah untuk menemui Nabi Muhammad Shallallahu

Naihi

wa Sallam.

Abu Sufyan yakin, jika kaum muslimin mengetahuinya, tidak mustahil mereka akan membunuhnya sebelum sempat bertemu dengan Rasulullah Shallallahu

Alaihi

wa Sallam. Karena

itu

ia pun menyamar dan menyem- bunyikan indentitas dirinya. Dengan memegang lengan puffanya, ia ber- jalan kaki hingga beberapa

jauh

dan akhirnya dapat bertemu dengan Ra- sulullah Shallallahu

Naihi ua

Sallam.

Di

hadapan Rasulullah, Abu Sufyan membuka penyamarannya dan menjatuhkan

diri di

hadapan beliau. Namun Rasulullah memalingkan kepalanya tidak mau menerima Abu Sufyan. Abu Sufyan mendatanginya dari arah lain, tetapi Rasulullah tetap menghindar.

Hal itu

terjadi selama beberapa kali.

Setelah berlangsung beberapa lama, akhirnya Rasulullah menerima keislaman Abu Sufyan. Beliau bersabda, "Tiada dendam dan tiada penye- salan, wahai Abu Sufyan."

falu

beliau pun berkata, "Wahai Muhammad, ajarkankah kepada saudara sepupumu ini cara berwudhu dan solat."

Demikianlah

akhirnya

Abu

Sufyan memeluk agama

Islam

dan menjadi pelindung utama Rasulullah Shallallahu

Alnihi

uta Sallam.

148 707 SohabatNobi

Sebenarnya, cahaya Islam sudah

mulai

bersinar

di

hati Abu Sufyan sejak meletusnya perang Badr. Saat

itu

ia berada

di

pihak kaum Quraisy yang mengalami kekalahan telak. Dalam pertempuran tersebut, Abu Lahab tidak ikut serta. Karena itu, tatkala berita kekalahan kaum Quraisy sampai di telinganya, ia segera memanggil beberapa orang yang ikut dalam pertem- puran iru.

Di

antara mereka adalah Abu Sufyan bin Harits.

Abu Sufyan bin Harits segera menceritakan pengalamannya, "Demi Allah, tidak ada berita yang patut kusampaikan kecuali, kami menemui suatu kaum yang sangat kuat dan gagah perkasa. Kami berhadapan dengan orang-orang serba putih yang mengendarai kuda hitam belang dan putih, menyerbu antara langit dan bumi. Mereka tidak serupa dengan sesuatu pun dan tidak terhalang oleh apa pun." Yang dimaksud oleh Abu Sufyan

ini

adalah para malaikatyangikut bertempur membantu kaum muslimin.

Sejak saat iru, telah muncul keraguan di benak Abu Sufyan. Namun hidayah Allah baru ia dapatkan menjelang Fathu Mekah (Pembebasan kota Mekah).

Mulai

dari

detik-detik

keislamanya, Abu Sufyan mengejar dan menghabiskan waktunya dalam beribadat dan berjihad, untuk menghapus bekas-bekas masa lalu dan mengejar ketertinggalannya.

Dalam peperangan-peperangan yang terjadi setelah Fathu Mekah, ia selalu ikut bersama Rasulullah Shallallahu

Akihi

uta Sallnm. Ketika berlang- sung perang Hunain di mana sisa-sisa kaum kafir bersaru untuk menakluk- kan kaum muslimin, Abu Sufyan tak mau ketinggalan dalam membela panji-panji islam.

Pada awal peperangan

itu,

kaum muslimin mengalami kekalahan.

Sebagian dari tentara kaum muslimin melarikan diri. Hanya ada bebe-rapa orang sahabat saja yang tetap berada

di

samping Rasulullah Shallallahu

Alaihi

uta Sallam.

Di

antara mereka adalah Abu Sufuan bin Harits.

Kala itu Abu Sufuan sedang memegang erat tali kekang kuda Rasu- lullah. Kedka

dilihatnya

apayangterjadi, yakinlah ia bahwa kesempatan yang selama

ini

dinanti-nantikannya telah tiba. Ia ingin berjuang di jalan Allah dan syahid di hadapan Rasulullah. Maka sambil tak lepas memegang tali kekang kuda Rasulullah dengan

tangan kiri,

tangan kanannya yang memegang pedang berkelebat menebas batang leher musuh-musuhnya.

Sementara itu, kaum muslimin telah kembali berkumpul

di

sekitar Nabi dan siap menyerang musuh. Dan berkat kegigihan kaum muslimin dalam berjuang di jalan Allah, akhirnya Allah mengkaruniai mereka kemenangan yang gemilang.

ABU suFyAN BIN HARtrs "Ketua fumudo di Surgo"

:

149

Tatkala suasana

agak

tenang, Rasulullah memandang

ke

arah sekitarnya. Didapatinya seorang mukmin tengah memegang erat-erat

tdi

kekang kudanya. Rupanya, sejak pertempuran berkecamuk, orang itu tetap berada

di

tempat tersebut dan

tidak

pernah meninggalkannya. Ia tetap berdiri melindungi Rasulullah.

Rasulullah menatapnya lekatJekat, lalu berkata, "Siapakah ini? Oh, saudaraku Abu Sufuan bin Harits! saya telah meridhoimu dan Allah telah mengampuni dosa-dosamu! "

Ketika mendengar ucapan Rasulullah Shalhllahu

Alaibi

uta Salhm tersebut, hati Abu Sufyan berbunga-bunga. Semangatnya kembali muncul.

Ia pun kembali bergabung dengan kaum muslimin yang mengejar sisa-sisa

tentara musuh.

Sejak perang Hunain itu, Abu Sufyan benar-benar merasakan nikmat Allah dan keridhoan-Nya. Dia merasa mulia dan bahagia menjadi sahabat Rasulullah Shallallahu

Alaihi

uta Sallam. Hari-harinya dipenuhi dengan ibadah. Ia bagaikan tengkurap

di

atas Al-Qur'an siang dan malam, mem- baca ayat-ayatnya, mempelajari hukum-hukumnya dan merenungi segala apa yang terkandung

di

dalamnya.

Dia berpaling dari kemewahan dunia

dan

menghadap Allah dengan seluruh jiwa raganya. Sehingga pada suaru

ketika

Rasulullah melihatnya berada dalam masjid. Beliau bertanya kepada Aisyah, "'Wahai Aisyah, tahu- kan kamu siapakah orang iru?'

"Tidak,

ya

Rasulallah!" jawab Aisyah.

"Dia anak pamanku, Abu Sufyan bin Harits. Perhatikanlah! Dialah yang paling pertama masuk masjid dan paling terakhir keluar. Pandangannya tidak pernah beranjak dan tetap menunduk ke tempat sujud. Dialah ketua pemuda di surga."

Ketika Rasulullah Shallallahu

Alaibi

wa Sallam meninggal dunia, Abu Sufyan sangat sedih seperti seorang ibu kehilangan putra satu-sanrn- ya. Dia menangis bagaikan seorang kekasih menangisi kekasihnya. Sehing- ga jiwa penyairnya kembali memannrlkan rangkuman sajak yang memilukan dan menyayat hati setiap pembaca dan pendengarnya.

Pada zaman pemerintahan Umar bin Khattab Al Faruq, Abu Sufyan merasa ajalnya sudah dekat. Lalu digalinya kuburan untuk dirinya sendiri.

Dan tidak lebih dari tiga hari setelah itu, maut pun datang menjemputnya seolah memang telah berjanji sebelumnya.

150 701 SohobotNabi

Sebelum

ruhnya pergi meninggalkan jasad,

ia

berpesan kepada keluarganya, 'Janganlah kalian sekali-kali menangisiku. Demi Allah, saya

tidak berdosa sedikit pun sejak saya masuk Islam."

Khalifah Umar

bin

Khattab

turut

menyalatkan jenazahnya. Beliau menangis

kehilangan Abu

Sufyan

bin Harits,

sahabatnya yang mulia.

Semoga

Allah

menempatkannya

di

surga dan menjadi pemimpin para pemuda, sebagai mana yang dijanjikan Rasulullah Sballallabu

Naihi

wa Sallam. Amin.No

ABU SUFYAN BIN HARrrs "Ketuo fumudo di Surga" 151

Dalam dokumen Hikmah dan Pelajaran untuk Kehidupan Modern (Halaman 175-180)