• Tidak ada hasil yang ditemukan

itu.

Abu Thalhah menyampaikan maksud kedatangannya, yaitu hendak melamar Ummu Sulaim menjadi isterinya. Ternyata Ummu Sulaim menolak Iamaran Abu Thalhah.

"Sesungguhnya pria seperti Anda, hai Abu Thalhah, tidak pantas saya

tolak

lamarannya. Tetapi saya

tidak

akan

kawin

dengan Anda, karena Anda kafir,

"

ujar Ummu Sulaim.

Abu Thalhah mengira, I-Immu Sulaim hanya sekadar mencari-cari alasan. Mungkin hati Ummu Sulaim telah berkenan terhadap laki-laki lain yang lebih kaya dan lebih mulia darinya.

"Demi Allah, apakah yang menghalangimu untuk menerima lama- ranku, hai Ummu Sulaim?"tanya Abu Thalhah.

"Tidak ada selain

itu!"

jawab Ummu Sulaim.

"Apakah yang kuning atau yang putih? Emas atau perak?"

"Emas atau perak?" IJmmu Sulaim balik bertanya.

'Ya, emas atau perak?" jawab Abu Thalhah menegaskan.

"Salcikan, hai Abu Thalhah! Kusaksikan kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya

jika

kamu masuk ag^ma Islam, saya rela kamu menjadi suamiku tanpa emas dan perak. Cukuplah Islam itu menjadi mahar bagiku."

Mendengar ucapan Ummu Sulaim tersebut, Abu Thalhah teringat pada patung sembahannya yang terbuat dari kayu bagus dan mahal. Patung itu khusus dibuat unnrk pribadinya, seperti kebiasaan bangsawan kaumnya, Bani Najjar.

Ummu Sulaim telah bertekad hendak menempa besi

itu

lagi selagi masih panas, yaitu mengislamkan Abu Thalhah. Sementara Abu Thalhah terbengong-bengong mengingat berhala sembahannya, Ummu Sulaim melanjutkan bicaranya:

"Tidak tahukah Anda, hai Abu Thalhah, patung yang Anda sembah

itu

terbuat dari kayu yang rumbuh

di

bumi?" tanya Ummu Sulaim.

"Ya, betul!" jawab Abu Thalhah.

"Apakah

Anda tidak

malu menyembah sepotong kayu menjadi Tuhan, sementara potonganny^ yang lain Anda jadikan kayu bakar untuk memasak? Jika

Anda

masuk

Islam,

hai

Abu Thalhah,

saya rela kamu menjadi suamiku. saya tidak akan meminta mahar darimu selain itu, " kata Ummu Sulaim.

ABU THAr.HlrH AI-ANSHART "fuhlowan di Atos Kapal" l=:::- 153

"Siapa yang harus mengislamkanku?" tanya Abu Thalhah.

"Aku bisa," jawab Ummu Sulaim.

"Bagaimana caranya?" tanya Abu Thalhah.

"Tidak

sulit. Ucapkan saja "Kalimah Syahadah!" Tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad Rasulullah. Sesudah

itu

juga kamu harus ke rumahmu hancurkan berhala sembahanmu, lalu buang!"

kata Ummu Sulaim menjelaskan.

Abu Thalhah tampak gembira.

lalu

dia mengucapkan dua kalimah syahadah.

Sesudah itu Abu Thalhah nikah dengan Ummu Sulaim. Mendengar kabar Abu Thalhah kawin dengan Ummu Sulaim dengan maharnya Islam, maka kaum muslimin berkata, "Belum pernah kami dengar mahar kawin yang lebih mahal daripada mahar Ummu Sulaim. Maharnya masuk Islam."

Sejak hari itu Abu Thalhah berada di bawah naungan bendera Islam.

Segala daya upaya yang ada padanya dikorbankannya untuk berkhidmat kepada Islam.

Abu Thalhah dan isterinya, LJmmu Sulaim, termasuk "Kelompok Tujuh Puluh" yang bersumpah setia (bai'at) kepada Rasululah

di

Aqabah. Abu Thalhah ditunjuk Rasulullah menjadi kepala salah satu regu dari dua belas regu yang dibenruk malam itu atas perintah Rasulullah, unnrk mengislam- kan Yatsrib.

Dia

ikut

berperang bersama-sama Rasulullah Shalallahu

Alaibi

wa Sallam dalam setiap peperangan yang dipimpin beliau. Dalam peperangan- peperangan itu, Abu Thalhah banyak mendapatkan cobaan-cobaan yang mulia. Tetapi cobaan yang paling besar diderita Abu Thalhah ialah ketika dia berperang bersama Rasulullah dalam perang Uhud.

Abu Thalah mencintai Rasulullah sepenuh hati, sehingga perasaan cinta itu mengalir ke segenap pembuluh darahnya. Dia tidak pernah merasa jemu melihat wajah yang mulia iru, dan tidak pernah merasa bosan men- dengar hadits-hadits beliau yang selalu terasa manis baginya. Apabila Rasu-

lullah berdua saja dengannya, dia bersimpuh dihadapan beliau sambil berkata, "lnilah diriku, kujadikan tebusan bagi diri Anda dan wajahku peng- ganti wajah Anda."

Ketika terjadi perang Uhud, barisan kaum muslimin terpecah-belah.

Mereka lari runggangJanggang dari samping Rasulullah. Oleh karenanya kaum musyrikin sempat menerobos pertahanan mereka sampai ke dekat

754 7O7 Sohabot Nobi

beliau. Musuh berhasil menciderai beliau, mematahkan BrBr, melukai

diri

dan bibir beliau, sehingga darah mengalir membasahi mukanya. [-alu kaum musyrikin menyiarkan isu Rasulullah meninggal dunia.

Mendengar teriakan kaum musyrikin

itu,

kaum muslimin menjadi kecut, lalu lari porak-poranda meninggalkan Rasulullah. Hanya beberapa orang saja tentara muslimin yang tingal mengawal dan melindungi Rasulullah.

Di

antara mereka ialah Abu Thalhah yang berdiri

paling

depan.

Abu Thalhah berada

di

hadapan Rasulullah bagaikan sebuah bukit berdiri dengan kokohnya melindungi beliau. Rasulullah berdiri di belakang- nya, terlindung dari panah dan lembing musuh oleh tubuh Abu Thalhah.

Abu Thalhah menarik tali panahnya, kemudian melepaskan anak panah tepat mengenai sasaran tanpa pernah gagal. Dia memanah musuh satu demi satu. Tiba-tiba Rasulullah mendongakkan kepala melihat siapa sasaran panah Abu Thalhah.

Abu Thalhah mundur menghampiri beliau, karena khawatir beliau terkena panah musuh. "Demi Allah, janganlah Rasulullah mendongakkan kepala melihat mereka, nanti terkena panah. Biarkan leher dan dadaku sejajar dengan leher dan dada Rasulullah. Jadikanlah saya menjadi perisai Anda" ujarnya mantap.

Seorang

prajurit

muslim tiba-tiba

lari

ke dekat Rasulullah sambil membawa sekantong anak panah. Rasulullah memanggil prajurit itu. Kata beliau, "Berikan anak panahmu kepada Abu Thalhah. Jangan dibawa lari!"

Abu Thalhah senantiasa melindungi Rasulullah Shalallahu

Naibi

uta Sallam. Sehingga tiga batang busur panah patah olehnya, dan sejumlah prajurit musyrikin tewas dipanahnya. Allah menyelamatkan dan memelihara Nabi-Nya yang selalu berada di bawah pengawasan-Nya sampai pertempu- ran usai.

Abu Thalhah sangat pemurah dengan nyawanya berperang

fii

sabil-

illah,

namun lebih pemurah lagi mengorbankan hartanya

untuk

agama Allah. Abu Thalhah mempunyai sebidang kebun kurma dan anggur yang amat luas. Tak ada kebun di Yatsrib seluas dan sebagus kebun Abu Thalhah.

Pohon-pohonnya rimbun, buah-buahannya subur, dan airnya manis.

Pada suatu hari ketika Abu Thalhah shalat di bawah naungan seba- tang pohon nan rindang, pikirannya terganggu oleh siulan burung berwarna hijau, berparuh merah, dan kedua kakinya indah berwarna. Burung

itu melompat dari

dahan

ke

dahan dengan sukacitanya, bersiul-siul dan

ABU TI{ALHAH ALANsHARI "Pahlawan di Atas

Kapl"

155

menari-nari. Abu Thalhah kagum melihat burung iru. Dia membaca tasbih, tetapi pikirannya tak lepas dari burung iru.

Ketika menyadari bahwa dia sedang shalat, dia lupa sudah berapa rakaat dia shalat. Dua atau tiga rakaatkah, dia tidak ingat. Selesai shalat dia pergi menemui Rasulullah dan menceritakan kepada beliau peristiwa yang baru dialaminya dalam shalat. Diceritakannya juga kepada beliau pohon- pohon nan rindang dan burung yang bersiul sambil menari-nari ketika sedang shalat.

Kemudian katanya, "Saksikanlah, wahai Rasulullah! Kebun

itu

saya

sedekahkan kepada Allah dan Rasul-Nya. Pergunakanlah sesuai dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya."

Abu Thalhah sering berpuasa dan berperang sepaniang hidupnya.

Bahkan dia meninggal ketika sedang berpuasa dan berperang

fi

sabilillah.

Lebih kurang tiga puluh tahun sesudah Rasulullah wafat, dia senantiasa puasa setiap hari, selain hari raya. Umurnya mencapai lanfut.

ttapi

ketuaan

tidak menghalanginya untuk jihad

fi

sabilillah dan melakukan perjalanan jauh demi menegakkan kalimah Allah.

Di

zaman

Khalifah

Utsman

bin Affan,

kaum muslimin bertekad hendak berperang

di

lautan. Abu Thalhah bersiapsiap untuk turut dalam peperangan

itu

bersama-sama dengan tentara muslimin.

"Wahai Bapak kami, Bapak sudah tua. Bapak sudah nrrut berperang bersama-sama dengan Rasulullah, bersama

Abu

Bakar dan Umar bin Khattab.

Kini

Bapak harus berisitirahat. Biarlah kami berperang unruk Bapak,

"

anak-anaknya.

"Bukankah Allah telah berfirman,

e.- I z .

-i,i,,W

a€+i, ?;;\bW $,u;otl,b:*i

ltr

:1r:rrl

@ ArLr;3*

orr;<:

ft

€J."5

"Beranglatlah lema dnlnml@adaan serumg dant stuah, dan berjihadlnlt knrru dengan lwrta dm

diimu

di

jalanAllah.

Yory demikian itu adolnh lebih baik bagimu

jikn

ltamu merryadai.

'

(At- Taubah : 41).

Firman Allah itu memerintahkan kita semua, baik tua maupun muda.

Allah taidak membatasi usia kita untuk berperang, " jawab Abu Thalhah. Ia menolak permintaan anak-anaknya uinruk dnggal di rumah dan bersikeras unruk ikut berperang.

156 707 SohobotNobi

Ketika Abu Thalhah yang sudah lanjut usia itu berada

di

atas kapal bersama-sama dengan tentara kaum muslimin

di

tengah lautan, ia jatuh sakit, lalu meninggal. Kaum muslimin melihat-lihat daratan, mencari tem- pat pemakaman jenazah Abu Thalhah. Namun setelah enam

hari

berla- yar, baru mereka menemukan daratan. Selama

itu

jenazah Abu Thalhah disemayankan di tengah-tengah mereka di atas kapal, tanpa berubah sedikit pun. Bahkan dia seperti orang yang sedang tidur nyenyak..3.

ABU THALHAH ALAIySHARI "fuhlawan di Atos Kopal" 757

Dalam dokumen Hikmah dan Pelajaran untuk Kehidupan Modern (Halaman 180-186)