ﻢﻠﺴﻣ
C. Perkembangan Fikih Islam dalam Lintas Sejarah
4. Akhlak dan Beberapa Catatan tentang Peri-kehidupan
riwayat.21
Namun al-Bukhari menolak dengan halus dan mengatakan pada sang utusan, ”Wahai utusan Amir, katakanlah pada tuanmu bahwa aku tidak akan menghinakan ilmu dan sekali-kali tidak akan membawanya ke depan pintu istana.
Jika sultanmu menginginkan ilmu itu, maka suruhlah ia mendatangi mesjid di mana aku mengajarkan pada khalayak umum atau suruhlah ia pergi ke rumahku.
Jika sultanmu meresa kecewa dengan jawabanku ini lalu melarangku memberikan ceramah dan mengadakan suatu majelis ilmu atau ia sengaja akan mengusirku, aku tidak berkeberatan. Semoga ini bisa menjadi alasanku di hadapan Allah pada hari kiamat nanti, bahwa aku tidak akan pernah menyembunyikan dan pelit untuk memberikan dan menyebarkan ilmu yang kumiliki.”
Sang sultan marah dan merasa direndahkan. Segera ia menyuruh salah seorang ulama yang dekat dengannya yang bernama Bahurais ibn Abi> al- Warqa>’ untuk membuat isu yang menjurus pada pelecehan dan mengatakan hal yang tidak-tidak terhadap pribadi al-Bukha>ri> dan para muridnya. Isu yang dibuat oleh ulama tersebut menyebar luas ke masyarakat yang sangat mempercayai dan sering menjadikan Imam al-Bukha>ri> tempat mengadu permasalahan kehidupan dan meminta fatwa. Akibatnya, al-Bukha>ri> pun diusir ke luar Bukha>ra>, kota kelahiran dan kampung halamannya.22 Hal tersebut membuktikan bahwa al-Bukhari tidak pernah dekat dengan penguasa politik atau kekuasaan. Ia tidak ingin merendahkan ilmu di depan penguasa yang zalim sekedar untuk menerima beberapa keping uang dirham.
4. Akhlak dan Beberapa Catatan tentang Peri-kehidupan
21Ibnu H{ajar, Fath} al-Ba>ri>, Jilid I, h. 253.
22Abu> Bakar ibn ‘Ali> al-Khat}i>b al-Bagda>di>, selanjutnya disebut al-Kha>t}i>b, Ta>ri>kh Bagda>d (Beirut: Da>r Gharb al-Isla>mi>, t.th.), jilid II, h. 330.
Al-Bukha>ri> adalah sosok ulama yang memilki akhlak yang mulia dan perikehidupan yang sangat menakjubkan. Kehidupan intelektualnya tidak menjadikannya meninggalkan dunia di mana yang mengabdikan dirinya untuk ilmu dan agama.
Seperti ayahnya, al-Bukha>ri> juga berdagang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya. Bentuk dagang yang ia warisi dan teruskan dari ayahnya adalah sistem mud}a>rabah, yaitu sistem bagi hasil yang jauh dari riba.
Bentuknya adalah akad antara dua orang atau lebih. Satu pihak pemilik modal an pihak lainnya yang akan menjalankan produksi modal tersebut. Keuntungan nantinya akan dibagi menurut kesepakatan. Sedang jika mengalami kerugian, hal tersebut ditanggung bersama. Dengan bisnis semacam ini, al-Bukha>ri> akan mempunyai banyak waktu untuk memenuhi dahaga ilmu dan perjalanannya mencari hadis Nabi. Hasil dari bisnisnya tersebut tidak luput ia sedekahkan kepada fakir miskin, sesama penuntut ilmu, juga para gurunya yang membutuhkannya.
Harta baginya adalah perantara menuju kebaikan. Kadang dalam menjalankan bisnisnya, terjadi persaingan dengan sesama pebisnis lainnya. Abu>
Hafs}, salah seorang murid ayahnya yang juga mitra dagang ayahnya, suatu saat datang kepadanya membawa keuntungan besar hasil bisnis selama ini dengan ayahnya yang sudah meninggal. Tiba-tiba datang sekelompok pedagang yang memaksanya untuk memberikan bagian keuntungan tersebut sekitar 5000 dirham.
Al-Bukha>ri> pun mengatakan pada mereka untuk datang pada malam harinya.
Lalu datang lagi beberapa pedagang yang meminta dari keuntungan tersebut sebesar 10.000 dirham. Ia berkata kepada mereka, ”Aku tadi berniat untuk
memberikan keuntungan bisnis ayahku pada para pedagang yang telah datang sebelum kalian. Artinya aku tidak akan berpaling dari niatku yang awal.”23
Maka dengan kesibukannya berdagang, kadang ia tidak hadir sehari dalam sebuah mejelis ilmu. Kadang ia terlihat di Ku>fah, lain hari ia sudah di Bas}rah.
Suatu sore ia terlihat duduk di dekat mimbar dan makam Nabi untuk menulis kumpulan hadisnya. Lusa berikutnya ia biasa berada di Khura>sa>n. Kehabisan bekalpun tidak menjadi masalah hingga terkadang ia memakan rumput-rumputan.
Sebab ia teringat keadaan mereka para sahabat Nabi melakukan hal yang sama sewaktu perang Khaibar.24
Kesederhanaan al-Bukha>ri> tampak pada ketawakkulannya pada Allah saat semua keuntungan bisnisnya sebagian besar disedekahkan kepada orang yang memerlukan. Bahkan kadang ia lupa untuk memenuhi hak badannya yang memerlukan tambahan gizi untuk bertahan. Imam al-Bazza>r mengatakan, ”Aku melihat al-Bukha>ri> dimana ia adalah seorang yang badannya kurus dan tubuhnya sedang.25
Kadang-kadang ia ikut bekerja kasar bersama budak-budak mengangkat pasir serta batu bata, membangun sebuah bangunan. Ini ia lakukan sebab semua itu dicontohkan oleh Nabi. Seperti ketika Nabi bersama para sahabat menggali parit Khandak atau ketika membangun masjid Nabawi di Madinah. 26
Dalam perjalanan rih}lah mencari ilmu, ia juga harus menyusuri padang pasir yang panas, menunggang kuda dan untanya. Tidak peduli musim panas atau
23Al-Muba>rakfu>ri>, Si>rah Ima>m al-Bukha>ri>, h. 74.
24Dinamai perang Khaibar atau perang Saif al-Bah}r, adalah salah satu kompi pasukan utusan Rasulullah ke daerah pantai Bah}rain dengan pimpinan sahabat Imrah Abu> Ubaidah ibn Jarra>h}. Karena panjangnya perjalanan yang ditempuh, mereka pun kehabisan bekal dan akhirnya terpaksa memakan dedaunan pohon yang tumbuh di sepanjang jalan. Lihat al-Bukha>ri>, al- Ja>mi‘ al-S{ah}i>h}., h. 785.
25Al-Subki>, al-Tabaqa>t, jilid II, h. 216.
26Ibn Hajar, Muqaddimah, jilid I, h. 248.
dingin. Atau ketika membaca sebuah surah dalam shalatnya tiba-tiba lalat kerbau besar menggigit kulitnya. Tapi ia tetap dalam kakhusyukannya. Setelah selesai dari shalatnya, terlihat 17 bekas gigitan lalat besar tersebut pada berbagai tempat di tubuhnya.27
Al-bukha>ri> juga termasuk seorang muslim yang menyukai kebersihan.
Hal ini tampak saat al-Bukha>ri> menemukan sebuah rambut jenggot yang terlepas dari empunya ketika sedang berada di masjid melakukan shalat. Segera ia ambil rambut jenggot yang jatuh tersebut, lalu ia kempit di lengannya. Setelah berada di luar masjid, ia pun membuangnya.28
Kehati-hatiannya (wara’) membawanya agar jangan sampai dalam interaksi kesehariannya menyakiti orang lain. Ia berkata, ”Sejak aku mengetahui bahwa gi>bah itu haram, aku tidak pernah sekalipun membicarakan aib orang lain.” 29
Salah satu bentuk penjagaan ilmu ialah dengan mengamalkannya. Waki>‘
ibn Jarra>h} berkata, ”Jika kamu ingin menghafal hadis Nabi, maka amalkanlah kandungan hadis tersebut.Imam al-Nawa>wi> menyebutkan dalam kitab Tadri>b al-Ra>wi> tentang adab meriwayatkan dan menulis hadis bahwa seyogyanya bagi seorang pencari hadis mengamalkan hadis-hadis yang ia dengar, terutama hadis- hadis ibadah, akhlak, dan amalan-amalan utama. Itulah zakatnya ulama hadis dan penyebab hadis tersebut mudah dihafal.30
Mengenai pengamalan sunnah Nabi, Imam al-Bukha>ri> termasuk orang pertama yang melakoninya. Misalnya ketika bulan suci Ramadhan tiba, kaum Muslim sesuai dengan sunnah Nabi dan sahabatnya, bersama-sama melaksanakan
27Ibn Hajar, Muqaddimah, jilid I, h. 249.
28Ibn Hajar, Muqaddimah, jilid I, h. 248.
29Ibn Hajar, Muqaddimah, jilid I, h. 248.
30Al-Suyu>ti>, Tadri>b al-Ra>wi>, h. 383.
shalat malam berjamaah di masjid. Sama halnya dengan al-Bukha>ri>, ketika malam pertama bulan suci tersebut tiba, ia mengajak sahabat-sahabatnya melakukan shalat berjamaah di masjid. Membaca pada setiap rakaatnya sekitar 20 ayat hingga menjelang penggalan terakhir al-Qur’an. Ketika sahur tiba, ia membaca setengah atau sepertiga al-Qur’an. Walhasil, ia akan mengkhatamkan al- Qur’an setiap tiga hari sekali. Sebelum berbuka pada sore harinya pun ia akan menyelesaikan khataman al-Qur’an sehari itu. Dilanjutkan berdoa kepada Allah, sebab ditenggarai waktu berbuka adalah salah satu waktu dimana Allah akan mengabulkan doa seorang hamba.31
Berkenaan dengan kecerdasan dan kekuatan hafalan, yang merupakan penunjang utama dalam dalam melanjutkan dan mewarisi tugas para Nabi, Imam al-Bukhari termasuk pilihan Allah untuk menikmatinya. Imam Qutaibah ibn Said mengatakan, ”Selama hidupku, aku telah menemui banyak ahli fikih, ahli zuhud, dan ahli ibadah. Sejak aku bertemu dengan al-Bukha>ri>, tiga macam manusia yang sebelumnya kutemui tergabung dalam pribadinya. Bagiku ia seperti ‘Umar ibn al-Khat}t}ab dalam deretan sahabat.32
Perisitwa-peristiwa yang menunjukkan kecerdasan dan kekuatan hafalannya terlihat sejak kecil. Suatu hari dalam majelisnya, Ah}mad ibn Hafz}
memandang wajah al-Bukha>ri> dan berkata, ”Suatu saat, ia akan mempunyai reputasi besar.”33
Salah satu kisah terkenal mengenai kecerdasan dan kekuatan hafalan al- Bukha>ri> sebagaimana tertulis dan diriwayatkan dalam berbagai kitab seperti T{abaqa>t al-Kubra> karya Ibn Sa‘ad, berbagai syarh} S{ah}i>h} al-Bukha>ri>, dan Ta>ri>kh Bagda>d adalah peristiwa yang ia alami di Bagda>d. Para ulama
31Ibn Hajar, Muqaddimah, jilid I, h. 251.
32Ibn Hajar, Muqaddimah, jilid I, h. 251.
33Ibn Hajar, Muqaddimah, jilid I, h. 251.
Bagda>d saat itu berkumpul untuk menguji kecerdasan dan kekuatan hafalannya.
Setelah sebelumnya mereka hanya mendengar kehebatannya dari orang yang pernah bertatap dan meriwayatkan dari al-Bukha>ri>.34
Ketenaran Imam al-Bukha>ri> membuat para ulama hadis yang bermukim di Bagda>d, ibu kota kekhalifahan Islam yang semarak dengan berbagai kegiatan keilmuan, sepakat untuk mengundangnya suatu hari ke Bagda>d. Mereka sengaja mengambil seratus hadis untuk dibolak-balikkan redaksi matannya. Sanad-sanad hadis tersebut mereka campuradukkan dengan meletatakan sanad satu hadis pada sanad hadis yang lainnya. Seratus hadis tersebut kemudian dibagi kepada sepuluh orang. Setiap satu orang diberikan sekitar sepuluh hadis untuk disampaikan kepada al-Bukha>ri> sesuai jadwal pertemuan mereka dengannya.35
Pada hari yang ditentukan, berkumpulah seluruh penduduk kota Bagda>d dan kota-kota sekitarnya untuk menghadiri peristiwa yang langka ini. Jumlah mereka hampir mencapai 20.000 orang. Mereka ingin menyaksikan kehebatan dan kebenaran berita mengenai Imam al-Bukha>ri>. Setelah sepuluh orang tadi selesai menyampaikan hadis-hadisnya, satu-persatu dari mereka bertanya pada al- Bukha>ri>, ”Wahai al-Bukha>ri>! Apakah kau mengetahui redaksi dan sanad hadis ini?.”Al-Bukha>ri> menjawab bahwa ia tidak mengetahuinya. Jawaban sama datang dari al-Bukha>ri> hingga tersisa sembilan orang tadi menyampaikan dan bertanya mengenai jatah hadis yang ada padanya.36
Panitia pertemuan yang terdiri dari para ulama mengetahui bahwa al- Bukha>ri> memahami dan tahu dengan hadis-hadis yang mereka acak. Tapi bagi kaum awam yang mengikuti pertemuan tersebut menganggap bahwa al-
34Al-Muba>rakfu>ri>, Si>rah al-Ima>m al-Bukha>ri>, h. 166.
35Al-Bagda>di>, Ta>ri>kh Bagda>di>, jilid II, h. 20-21.
36Al-Bagda>di>, Ta>ri>kh Bagda>di>, jilid II, h. 20-21.
Bukha>ri> ternyata tidak seperti yang dengar selama ini mengenai kecerdasan dan kekuatan hafalannya.
Suasana menjadi hening, kini giliran al-Bukha>ri> untuk berbicara. Ia segera menunjuk pada orang pertama yang menanyakan dan menyampaikan hadis padanya dan berkata, ”Hadis Anda yang pertama, yang benar redaksi serta matannya adalah seperti ini. Hadis yang kedua seperti ini, hadis yang ketiga dan keempat seperti ini.” dan seterusnya hingga berkahir sepuluh hadis. pembenaran yang sama ia lakukan kepada sembilan orang lainnya. Walhasil orang pun segera menetapkan kebenaran berita mengenai dan kekuatan hafalannya.37
5. Kisah al-Bukhari dengan al-Z|uhli dan fitnah yang menimpanya Muh}ammad Yah}ya> ibn al-Z|uhli> adalah seorang ulama di Nisabu>r yang juga masyhur dan banyak memiliki murid. Di antara murid-muridnya ialah al-Bukha>ri> dan Muslim ibn Hajja>j. Majelisnya di Nisabu>r adalah kiblat para ulama. Ketika Imam al-Bukha>ri> memasuki kota ini, ia termasuk orang yang sangat gembira menyambutnya dan mengetahui kemampuannya sehingga ia memesankan kepada orang-orang agar berguru padanya. Banyaknya para murid Imam al-Z{uhli> yang berbondong-bondong menghadiri majelis al-Bukha>ri>
yang berakibat semakin berkurang majelisnya.
Berkata H{asan ibn Muh}ammad ibn Ja>bir, ”Ketika al-Bukha>ri>
mendatangi Nisabu>r, al-Z|uhli> mengatakan pada kami bahwa temuilah lelaki salih itu dan ambillah riwayatnya, lalu orang-orang berbondong-bondong menghadiri majelisnya sehingga mejelis al-Z{uhli> semakin berkurang. Setelah itu, muncul kedengkian dan usaha untuk menyudutkannya.”38
37Ibn Hajar, Muqaddimah, jilid I, h. 251.
38Ibn al-Subki>, al-T{abaqa>t, jilid II, h. 11.
Di hari ketiga kunjungan al-Bukha>ri> ke Naisabu>r, terjadilah peristiwa yang yang mengakibatkan ia keluar dari Naisabu>r. Diceritakan oleh Ah}mad ibn
‘Adi> peristiwa itu terjadi sebagai berikut:
Telah menceritakan kepadaku sekelompok ulama bahwa ketika Muh}ammad ibn Ismail sampai ke negeri Naisabu>r dan orang-orang pun berkumpul mengerumuninya, maka timbullah kedengkian padanya dari sebagian ulama yang ada pada waktu itu. Sehingga mulailah diberitakan kepada para ulama ahli hadis bahwa Muh}ammad ibn Ismail berpendapat bahwa lafal beliau ketika membaca al-Qur’an adalah makhluk.39
Pada suatu majelis ilmu, ada seseorang berdiri dan bertanya kepadaya:
“Wahai Abu> ‘Abdillah (yakni al-Bukha>ri>), apa pendapatmu tentang orang yang menyatakan bahwa lafalku ketika membaca al-Qur’an adalah makhluk?
Apakah memang demikian atau lafal orang yang membaca al-Qur’an itu bukan makhluk?” Mendengar pertanyaan itu, beliau berpaling karena tidak mau menjawabnya. Akan tetapi si penanya mengulang-ulang terus pertanyaannya hingga sampai ketiga kalinya seraya memohon dengan sangat agar beliau menjawabnya. Al-Bukha>ri> pun akhirnya menjawab dengan mengatakan, “Al- Qur’an kala>mulla>h (perkataan Allah) dan bukan makhluk. Sedangkan perbuatan hamba Allah adalah makhluk, dan menguji orang dalam masalah ini adalah perbuatan bid‘ah.”40
Hal ini sesuai dengan sabda Nabi yang diriwayatkan dalam kitab S}ah}i>h} al- Bukha>ri>,
39Ibn Hajar, al-Muqaddimah, jilid I, h. 252.
40Ibn Hajar, al-Muqaddimah, h. 252.