ﻢﻠﺴﻣ
C. Perkembangan Fikih Islam dalam Lintas Sejarah
1. Kelahiran dan pendidikan awal Imam al-Bukhari
Imam al-Bukhari, ami>r al-mu’mini>n fi al-h}adi>s\ (pemimpin orang mukmin dalam bidang hadis), pemuka para ahli fikih dan hamba yang dipilih oleh Allah untuk memperbaharui, menghidupkan dan menjaga sunnah Nabi-Nya, yang dilahirkan di Bukha>ra> pada hari ke-13 bulan Syawal 194 H (21 Juli 810 M), siang hari setelah shalat jumat ditunaikan.1
Nama lengkapnya adalah Abu> Abd Alla>h Muh}ammad bin Isma>i>l ibn Ibra>hi>m ibn al-Mughi>rah ibn Bardizbah atau Baz\dizbah al-Ju‘fi>.
Ayahnya Syaikh Isma>i>l terkenal dengan panggilan Abu> H{asan, adalah seorang ulama hadis yang masyhur di Bukha>ra>, yang pernah menjadi murid Imam Malik. Ia juga salah satu sahabat dari H{amma>d bin Ziyas dan Ibnu Mubarak, tabiin masyhur dan diterima riwayatnya di kalangan ulama hadis.2 Hal ini menunjukkan bahwa al-Bukha>ri> dibesarkan di dalam sebuah lingkungan keluarga yang relijius dan dipenuhi semangat keilmuan. Imam Ibn Hibban mencantumkan biografi Syaikh Isma>i>l dalam kitabnya al-S|iqa>t.3
1Ibn H{ajar al-Asqala>ni>, selanjutnya disebut Ibn H{ajar, Muqaddimah Fath{ al- Ba>ri> bi Syarh} S}ah}i>h} al-Bukha>ri>, selanjutnya disebut Muqaddimah (Riyadh: Bait al- Afka>r al-Dauliyyah, t.th), j. I, h. 234.
2Ta>j al-Di>n Abu> Nas}r ‘Abd al-Wahha>b ibn ‘A<li> Abd al-Ka>fi al-Subki>, T{abaqa>t al-Sya>fi’iyyah al-Kubra>, selanjutnya disebut al-T{abaqa>t, diedit oleh Mah}mu>d T{anahi (Beirut: Da>r Ih{ya>’ Kutub al-``’Arabiyyah, t.th) j. II, h. 213.
3Ibnu H{ibba>n al-Busti>, al-S|iqa>t (Cet. I; Mekah: Maktabah Mus}t}afa> al-Ba>z, 2004 H), h. 694.
Silsilah keluarganya dimulai dari ayah buyutnya, Bardizbah atau Baz\duzbah, yang berasal dari Persia dan hingga meninggal tetap menganut agama Majusi. Putra dari Bardizbah yang bernama al-Mugi>rah kemudian masuk Islam di bawah bimbingan gubernur negeri Bukha>ra> Yaman al-Ju‘fi> sehingga al-Mugi>rah dengan segenap anak cucunya dinisbatkan kepada kabilah al-Ju‘fi>.4 Dan ternyata cucu dari al-Mugi>rah ini di kemudian hari mengukir sejarah yang agung, yaitu sebagai seorang Imam ahl al-h}adi>s\.
Selain ayahnya dikenal sebagai seorang berilmu, juga sebagai ahli wara’
dan menjaga ketakwaan. Dikisahkan sebelum ajal menjemputnya, ia pernah mengatakan bahwa dalam harta yang dimilikinya tidak ada sedikitpun yang berbau syubhat apalagi haram.5 Ayahnya meninggal sewaktu al-Bukha>ri> belum beranjak dewasa. Al-Bukha>ri> dan adiknya termasuk beruntung karena ayahnya meninggalkan harta warisan yang cukup untuk kehidupan selanjutnya. Ibunyalah yang mengasuh dan membimbingnya sepeninggal ayahnya. Tentang ibunya, Ibn Hajar mengatakan ibunda Imam al-Bukha>ri> adalah seorang ahli ibadah (afeksionis) yang tekun hingga sebagian besar riwayat menjelaskan banyak terdapat kara>mah atau kelebihan-kelebihan yang diberikan Allah kepadanya.
Salah satunya adalah riwayat yang menceritakan sewaktu kecil Imam al- Bukha>ri> mengalami kehilangan penglihatan atau buta. Dokter yang paling ahli pun tidak bisa menyembuhkan, hingga suatu malam ibunya bermimpi bertemu dengan Nabi Ibrahim as yang berkata padanya, ”Wahai ibu, disebabkan oleh banyak doa dan tangismu, Allah akan mengembalikan penglihatan anakmu.”
selain itu ketika shalat malam, sang Ibu tak lupa untuk memanjatkan doa
4Karl Brockelmann, Ta>ri>kh al-Adab al-‘Arabi>. Alih bahasa Dr. Abdul Halim Najar (Cet. V; Cairo: Da>r al-Ma’a>rif, t.th), j. III, h. 163.
5Ibn H{ajar, Muqaddimah, h, 234.
kesembuhan untuk anaknya. Maka pada pagi harinya, penglihatan Muh{ammad (al-Bukha>ri>) kembali seperti semula.6
Setelah ayahnya meninggal, pendidikan dan pertumbuhan al-Bukha>ri>
sepenuhnya di bawah bimbingan ibunya. Segera ia dimasukkan ke surau (kuttab) untuk mempelajari berbagai macam ilmu keislaman dan terutama untuk menghafal al-Qur’an sebagaimana kebiasaan anak-anak kecil waktu itu. Di sanalah ia mulai mengenal hadis Nabi. Abu> H{a>tim al-Warra>q, seorang murid dan sekertarisnya mengatakan, bahwa al-Bukha>ri> mengaku mulai mengenal dan menghafal hadis semasa di surau dan umurnya waktu itu sekitar sepuluh tahun atau kurang dari itu, sekitar tahun 204 H atau 205 H.
Kecerdasan serta tanda-tanda awal seorang ulama besar dalam diri al- Bukha>ri> mulai bersinar. Suatu hari di sebuah majelis ilmu di mana Allamah al- Da>khili>, seorang ulama hadis di Bukha>ra> mengajarkan hadis, al-Bukha>ri>
pun asyik mendengarkan dan tekun mengikuti majelis tersebut hingga ketika Allamah al-Da>khili> menyebutkan sebuah sanad hadis, ”Sufya>n dari Abu>
Zubair dari Ibra>hi>m”, al-Bukha>ri> berkata, ”Bahwa Abu> Zubair tidak pernah meriwayatkan dari Ibra>hi>m.” Sang guru pun gelisah dan terkejut. Tapi al- Bukha>ri> dengan tenang berkata, ”Cobalah Anda teliti sanad aslinya.” Setelah ia meneliti sanad aslinya ternyata al-Bukha>ri>lah yang benar. Kata sang Guru,
”Coba jelaskan sanad tadi menurutmu.” kata al-Bukha>ri>, ”Yang benar adalah Zubair –yaitu Zubair bin ’Adi> bukan Abu Zubair- dari Ibrahim.” Ketika al- Bukha>ri> menceritakan kisah ini, seorang bertanya, ”Umur berapa engkau saat itu?” Jawabnya, ”sebelas tahun.”7
6Ibn H{ajar, Muqaddimah, h, 234.
7Ibn H{ajar, Muqaddimah, h, 235.
Selain Allamah al-Da>khi>li>, guru-guru awalnya di Bukha>ra> antara lain Muh}ammad ibn Salma>n al-Bikandi>, Abdullah Muh}ammad ibn al- Musnadi>,8 dan Ibrahim ibn Asy‘ab.9 Bersama para ulama ini, keilmuan al- Bukha>ri> mengalami peningkatan sekaligus mendapatkan pengakuan dari para ulama dan teman sejawatnya akan keluasan pengetahuan hadisnya. Kadang mereka merasa minder dan khawatir jika dalam hal periwayatan suatu hadis datang teguran pembenaran dari Imam al-Bukha>ri>. Tidak sedikit dari teman- teman sejawatnya meminta dirinya untuk menguji hafalan hadis dan membenarkan kesalahan dalam sebuah periwayatan. Bahkan gurunya sendiri, Muhammad ibn Sala>m al-Bikandi> juga merasakan hal yang demikian. ”Setiap kali Muhammad ibn Ismail menghadiri majelisku, pikiranku terasa tidak berkonsentrasi dan senantiasa khawatir jika dia banyak membenarkan penyampaian riwayat dariku.”
Sebelum kepergiannya keluar Bukha>ra> untuk mencari ilmu, Salim ibn Muja>hid menceritakan sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hajar al- Asqala>ni>, ”Ketika aku di rumah Muh}ammad Sala>m al-Bikandi>, ia berkata kepadaku, cobalah carikan aku seorang anak kecil yang kudengar telah menghafal 70.000 hadis.” Segera aku mencari anak kecil tersebut. Aku menemuinya dan kukatakan, ”Apa benar engkau menghafal 70.000 hadis?” Jawab al-Bukha>ri>,
”Benar, dan bahkan lebih dari itu. Aku tidak akan menyebutkan sebuah riwayat
8Seorang ahli hadis dan ulama besar Bukha>ra>, cucu dari Yaman al-Ju‘fi, di mana kakek al-Bukha>ri> mengucap syahadat padanya. Sebagai murid ia mengambil riwayat dari Fud}ail ibn
‘Iya>d}, Sufya>n ibn ‘Uyainah, dan Mu’tamar ibn Sulaima>n. H{a>kim berkata, “ Dia adalah Imam ahli hadis dengan tidak ada yang melebihinya pada zamannya di wilayah seberang sungai Eufrat.” Lihat Syams al-Di>n Muh}ammad ibn Ah}mad ibn Us\ma>n al-Z|ahabi>, selanjutnya disebut al-Z|ahabi>, Siyar A’la>m al-Nubala>’, selanjutnya disebut Siyar, diedit oleh Muh}ammad Aiman Syibrawi> (Cairo: Da>r al-H{adi>s\, t.th), juz IX, h. 57.
9Ibra>hi>m ibn Asy’ab seorang ulama besar Bukha>ra>, mengambil riwayat dari Sufya>n ibn ‘Uyainah dan Fud}ail ibn ‘Iya>d}. Salah satu muridnya ialah Ibnu H{umaidi, pemilik Musnad al-H{umaidi. Lihat al-Z|ahabi>, Siyar, juz IX, h.57.
hadis dari seorang sahabat atau tabiin kecuali telah kuketahui tempat kelahiran dan wafat mereka. Juga tidak akan kuriwayatkan sebuah hadis dari mereka kecuali telah kuketahui asal sanad tersebut dan menghafalnya sebagaimana aku menghafal al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya. Dalam riwayat lain diceritakan bahwa ia mengatakan, ”Aku hafal hadis di luar kepala sebanyak seratus ribu hadis sahih dan dua ratus ribu hadis lain yang tidak sahih.
Muh}ammad ibn Sala>m al-Bikandi> berkata pada al-Bukha>ri>, ”Wahai al-Bukha>ri>, sebelum engkau pergi meninggalkan Bukha>ra>, tolong engkau periksa kitabku, apakah ada banyak kesalahan di dalamnya?” Seorang sahabatnya lalu bertanya, ”Apa kelebihan pemuda ini hingga engkau memerintahkannya memeriksa kitabmu, sedang engkau yang saya ketahui adalah yang termahir dalam bidang hadis di Bukha>ra> ini?.” al-Bikandi> menjawab, ”Pemuda ini tiada duanya.” al-Bukha>ri> pun segera memeriksa kitab gurunya itu lalu memulai perjalanannya. 10
2. Perjalanan al-Bukhari Mencari Ilmu ke Berbagai Negeri dan para