• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang Penyusunannya

Dalam dokumen Mawardi Djalaluddin, M.Th.I (Halaman 151-160)

ÇÍÒÈ

1. Latar Belakang Penyusunannya

kuburan Nabi dan minbarnya, untuk memastikan bahwa hadis yang ditulisnya benar-benar datang dari Nabi saw.67

Oleh karena itu, cukup beralasan apabila al-Ja>mi‘ al-S{ah}i>h} ini disepakati kesahihannya dan diterima oleh umat.

Kitab al-Ja>mi‘ al-S{ah}i>h} atau S{ah}i>h} al-Bukha>ri> adalah kitab hadis yang dinisbahkan kepada pengarangnya, Muh}ammad ibn Isma>‘i>l al- Bukha>ri>. Nama lengkap kitab ini adalah al-Ja>mi‘ al-Musnad al-S{ah}i>h{ al- Mukhtas}aru min Umu>ri Rasu>lillah S}alla> Alla>h ‘Alaihi wa Sallama wa Sunanihi wa Ayya>mihi (Himpunan ringkasan hadis sahih seputar kejadian, kebiasaan, dan peristiwa yang dialami Rasulullah saw. sepanjang hidupnya).68

al-‘Azi>z ibn Juraij (80-150H) juga menulis dan menyusun hadis. Di Syam, tampil Abu> Amr Abd al-Rahman ibn ‘Amr al-Awza>‘i> (w. 156). Di Ku>fah tampil Abu Abdullah Sufya>n ibn Sa‘ad S{auri> (w. 161 H), di Bas}rah tampil al-Rabi>‘ ibn S{abi>h} (w. 167 H.), Sa‘i>d ibn Abi> ‘Aru>bah (w. 156 H.) dan juga H{ammad ibn Salamah (w. 167 H.). Sedangkan di kota-kota lain, seperti di Yaman, tampil Ma‘mar ibn Rasyid (95-153 H.), di Khurasa>n ibn Basyi>r (104- 183 H.), di Ray, tampil Jari>r ibn ‘Abd al-Maji>d (110-188 H.), dan di Mesir, tampil ‘Abdullah ibn Wahb (125-197 H.). Namun yang perlu dicatat bahwa karya- karya mereka ini masih terlalu sederhana dan materinya pun masih campuran antara hadis Nabi dengan fatwa sahabat Nabi dan bahkan dengan fatwa tabiin.69

Karena itu para ulama berikutnya, yakni pada sekitar awal abad ketiga Hijriyyah, menyadari akan hal ini dan kemudian mereka berupaya mengumpulkan dan menyusun hadis-hadis yang diyakini dari Nabi. Untuk itu banyak di antara mereka, seperti Abdullah ibn Mu>sa> al-‘Abba>si> al-Ku>fi> (w. 213 H.) yang menyusun kitab al-Musnad, Musadda ibn al-Bas}ri> (w. 228 H.) juga menulis kitab al-Musnad. Demikian juga beberapa ulama lain telah menyusun kitab al- Musnad sebagai bentuk kitab yang telah mereka susun, seperti Asad ibn Mu>sa>

al-Umawi> (132-212 H), Nu‘aim ibn H{ammad al-Khuza>i> (w. 228 H), dan lain-lainnya.70 Dari merekalah sesungguhnya kemudian banyak dikutip dan dirujuk oleh beberapa ulama setelah mereka.

Hasil karya mereka itu dibaca dan dipelajari oleh para peminat hadis pada masa itu, termasuk al-Bukha>ri>. Namun al-Bukha>ri> yang cerdas, setelah membaca, menyelami, dan memahami kitab-kitab mereka yang menurutnya masih

69Lihat Ibn Hajar, Hady al-Sa>ri>, h. 6-7; lihat juga Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib, Us}u>l al-Hadi>s\., h. 338.

70Ibn Hajar, Hady al-Sa>ri>, h. 6-7; lihat juga Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib, Us}u>l al- Hadi>s\., h. 338.

menyisakan percampuran antara hadis-hadis yang bernilai sahih, hasan, dan bahkan daif. Maka tergeraklah ia untuk mengumpulkan hadis-hadis yang sahih dalam satu kitab. Kebetulan ketika ia menemui gurunya, Isha>q bin Rahuwaih, juga mempunyai pemikiran yang sama mengenai kodifikasi tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibra>hi>m ibn Ma‘qal al-Nasafi>, ia mendengar Imam al- Bukha>ri> berkata, ”Ketika kami sedang bersama Isha>q ibn Rahuwaih, ia tiba- tiba berkata kepada kami, ”Bagaimana kalau salah satu di antara kalian mengumpulkan hadis-hadis Nabi yang sahih dalam sebuah kitab tersendiri?”

segera Imam al-Bukha>ri> tergerak hatinya untuk melakukan proyek tersebut.71 Dalam riwayat lain yang mendiskripsikan latar belakang penyusunan kitab ini sebagaimana yang dituturkan sendiri oleh Imam al-Bukha>ri> ialah, ”Aku berada di samping Isha>q ibn Rahuwaih lalu sebagian murid-muridku berkata,”Andaisaja engkau menyusun sebuah kitab yang meringkas seluruh sunnah Nabi”. Pernyataan ini membekas dalam benakku, aku pun mulai menyusun kitab ini.”72 Ia termotivasi memenuhi permintaan tersebut karena belum ada ulama yang menyusun hadis sahih secara khusus. Ia ingin menyusun sebuah kitab yang tidak diragukan oleh orang yang terpercaya.

Sebab lain penyusunan kitab sebagaimana yang disebutkan oleh Imam al- Bukha>ri> ialah mimpinya bertemu dengan Nabi, ”Aku melihat Nabi dan seakan berada di hadapannya langsung. Tanganku memegang sebuah kipas dimana aku mengipasinya. Setelah itu aku tanyakan pada beberapa ahli tafsir mimpi, dan berkatalah salah seorang di antara mereka, ”Kamu akan membersihkan kebohongan yang disandarkan atau dibuat-buat atas Nabi.” Tafsiran mimpi itulah

71Al-Suyu>ti>, Tadri>b al-Ra>wi>, h. 24.

72Lhat al-Bagda>di>, Ta>ri>kh Bagda>d, juz II, h. 8; al-Z|ahabi>, Siyar, juz XII, h. 401.

yang menggerakkan hatiku untuk mengumpulkan hadis Nabi dalam al-Ja>mi‘ al- S{ah{i>h}.73

2. Sistematika al-Ja>mi al-S{ah}>ih}

Al-Ja>mi‘ al-S{ah}i>h} disusun oleh al-Bukha>ri> tidak sekaligus, tetapi melewati waktu yang cukup lama, yakni sekitar enam belas tahun, sebagaimana yang dikemukakan langsung oleh Imam al-Bukha>ri> dari Warraq, muridnya, Imam al-Bukha>ri> mengatakan, ”Aku menyusun kitabku ini yang berisi 600.000 hadis dalam jangka waktu 16 tahun.”74 Namun sesungguhnya dia telah memulai penulisan kitabnya tersebut dengan membuat sistematikanya terlebih yang merupakan rangkaian kitab-kitab dan bab-bab yang disusun di masjid al-Haram, selanjutnya diteruskan di Raud}ah (suatu tempat di mesjid nabawi, tepatnya antara makam dan mimbar Nabi, yang saat ini ditandai dengan tiang berwarna putih) di Madinah,75 terutama dalam penulisan pendahuluan dan penyempurnaan sistematikanya. Sementara itu pengisian kitab-kitab babnya dilakukan olehnya diberbagai kesempatan dan tempat, sesuai dengan hasil penyelidikan dan penelitiannya terhadap hadis yang ditemukan dan adanya relevansi dengan judul kitab dan bab yang telah disusun sebelumnya.

Secara umum, kitab al-Ja>mi‘ al-S{ah}i>h} terdiri atas 97 kitab dan 3.450 bab. Sedangkan sistematika al-Ja>mi‘ al-S{ah}i>h dapat digambarkan sebagai berikut:

Mula-mula yang diketengahkan pertama adalah bab permulaan wahyu, yang merupakan dasar utama bagi syariat Islam. Setelah itu kemudian disusul dengan kitab I>ma>n, kitab ilmu, kitab t}aharah, kitab shalat dan kitab zakat. Berikutnya

73Ibnu H{ajar, Muqaddimah, h. 252.

74Al-Nawawi>, Syarh} al-Bukha>ri>, h. 7.

75Tahzi>b al-Asma>’ wa al-Luga>t, jilid I, h. 92; lihat juga Abu> Syuhbah, Fi> Rih}a>b al-Sunnah, h. 58-59.

disusul dengan kitab s}aum, kemudian kitab haji. Setelah itu kemudian disusul dengan kitab buyu>’ beserta beberapa bab tentang muamalah, lalu kitab mura>fa’at, kitab syaha>da>t, kitab s}ulh}, kitab was}iyyah, kitab waqf dan kemudian kitab jiha>d.

Setelah selesai membicarakan masalah-masalah jihad, al-Ja>mi‘ al- S{ah}i>h} ini kemudian diisi dengan beberapa bab yang sesungguhnya tidak menyangkut masalah fikih, seperti bab tentang bad’u khalq al-‘iba>d (permulaan penciptaan makhluk), Biografi para Nabi, cerita mengenai surga dan neraka, mana>qib Quraisy dan fad}a>il al-s}ah}abah. Disusul kemudian dengan mengetengahkan bab Sirah Nabawiyyah, maga>zi>, dan di akhiri kitab tafsi>r.

Setelah mengetengahkan beberapa bab di luar fikih, al-Ja>mi‘ al- S{ah}i>h} ini kembali mengetengahkan kitab dan bab mengenai fikih seperti kitab nika>h}, kitab t}ala>q, kitab nafaqah, lalu kitab at}‘imah (makanan), kitab asyribah, kitab t}ibb, kitab ada>b, birr, S{ilah, dan isti’z\a>n. Setelah itu disusul kemudian dengan kitab nuzu>r wa al-kafa>ra>t, kitab h{udu>d dan kitab ikra>h, lalu kitab ta‘bi>r al-ru’ya>, kitab fitan, kitab ah}ka>m, disusul kemudian dengan kitab i‘tisa>m bi al-Kita>b wa al-sunnah dan di akhiri kitab tauhi>d.

Berikut tabel urutan kitab dalam al-Ja>mi‘ al-S{ah}i>h}:

NO. NAMA KITAB JUMLAH BAB

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Bad’u al-Wah}yi Al-I<ma>n Al-‘Ilm Al-Wud{u>’

Al-Ghusl Al-H{aid{

Al-Tayammum Al-S{ala>h

Mawa>qi>t al-S{alah

6 42 53 75 29 30 9 109 41

10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41

Al-Adz}a>n Al-Jumu‘ah S{ala>h al-Khauf Fi> al-‘I<dain Al-Witr

Al-Istisqa>’

Al-Kusuf

Suju>d al-Qur’an Taqs}i>r al-S{ala>h Al-Tahajjud

Al-S{ala>h fi> Masjid Makkah wa al-Madi>nah Al-A‘ma>l fi> al-S{ala>h

Al-Sahw Al-Jana>iz Al-Zaka>h Al-Hajj Al-‘Umrah Al-Muh}s}ar Jaza>’ al-S{aid}

Fad}a>il al-Madi>nah Al-S{aum

S{ala>h al-Tara>wi>h}

Fad}ail Lailah al-Qadr Al-I‘tika>f

Al-Buyu>‘

Al-Sala>m Al-Syuf‘ah Al-Ija>rah Al-H{awa>lah Al-Kafa>lah Al-Waka>lah

Al-H{ars} wa al-Muz\a>ra‘ah

166 41 6 26 7 29 19 12 20 37 6 18 9 98 78 15 20 10 27 12 69 1 5 19 113 8 3 22 3 5 16 21

42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73

Al-Syurb

Al-Istiqra>d} wa Ada>’ al-Duyu>n Al-Khus}u>ma>t

Al-Luqatah

Al-Maz\a>lim wa al-Ghas}b Al-Syirkah

Al-Rahn Al-‘Itq

Al-Muka>tab Al-Hibah Al-Syaha>dah Al-S{ulh}

Al-Syuru>t Al-Was}aya>

Al-Jiha>d wa al-Siyar Fard} al-Khumus Al-Jizyah

Bad’u al-Khalq Al-Anbiya>’

Al-Mana>qib

Fad}ail As}h}a>b al-Nabi>

Mana>qib al-Ans}a>r Al-Maga>zi>

Tafsi>r al-Qur’a>n Fad}ail al-Qur’a>n Al-Nika>h{

Al-T{ala>q Al-Nafaqa>t Al-At}‘imah Al-Aqi>qah

Al-Z|aba>ih} wa al-S{aid wa al-Tasmiyyah ala al- S{aid

17 20 10 12 35 16 6 20 5 37 30 14 19 36 199 20 22 17 54 28 30 53 89 125 37 125 53 16 59 4 38 16

74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97

Al-Ad}a>hi>

Al-Asyribah Al-Mard{a>

Al-T{ibb Al-Liba>s Al-Adab Al-Isti’z\a>n Al-Du’a>h Al-Riqa>q Al-Qadar

Al-Aiman wa al-Nuz\ur Al-Kaffa>rah

Al-Fara>id}

Al-H}udu>d Al-Diyah Al-Ikra>h

Istita>bah al-Murtaddi>n Al-Hiyal

Ta‘bi>r al-Ru’yah Al-Fitan

Al-Ah{ka>m Al-Tamanniy Akhba>r al-Ah}ad

Al-I’tis}a>m bi al-Kita>b wa al-Sunnah Al-Tauh}i>d

31 22 58 103 128 53 69 53 16 33 10 31 46 32 7 9 15 48 28 53 9 6 28 58

Itulah gambaran mengenai sistematika al-Ja>mi‘ al-S{ah}i>h}. Namun yang perlu dicatat bahwa sistematika yang dikemukan di sini merupakan ringkasan dari seluruh sistematika yang cukup panjang. Ada kitab yang berisi cukup banyak bab, tetapi ada yang hanya memuat beberapa bab saja. Demikian

juga ada beberapa bab yang memuat banyak hadis, namun ada beberapa bab yang hanya memuat beberapa hadis saja, kadang ada yang hanya memuat satu buah hadis saja. Bahkan ada bab yang hanya diisi oleh ayat al-Qur’an tanpa hadis dan ada bab yang tidak ada isinya, baik al-Qur’an maupun hadis.

Sepeninggal al-Bukhari, banyak ulama yang terkesan dengan sistematika al-Ja>mi‘ al-S{ah}i>h sehingga mereka menulis kitab seputar hal ini untuk mengetahui relevansi bab-bab dengan hadis-hadis yang dimuat di dalamnya serta mengetahui pemikiran fikih melalui sistematika tersebut. Tercatat beberapa karangan seputar sistematika kitab al-Ja>mi‘ al-S{ah}i>h} yaitu:

1. Al-Mutawa>ri> ‘ala> Tara>jum al-Bukha>ri>, karya Na>s}ir al- Di>n ibn al-Munayyir (620-683 H) seorang yang alim dalam bidang bahasa, adab, tafsir dan usul fikih, yang berasal dar iIskandariyah Mesir. Ia telah menganalisis sekitar 372 tema dari berbagai tema yang terdapat dalam al-Jami’ al-Sahih. Isi kitab ini memuat berbagai masalah usul fikih dan ketajaman beristinbat.

2. Syarh} Tara>jum Abwa>b al-Bukha>ri>, karya Syah Waliyullah al- Dahlawi> (1114-1176 H) seorang yang alim dalam ilmu hadis dan usulnya dari India. Ia menganalisis dari sisi hukum Islam sekitar 380 bab.

3. Al-Abwa>b wa al-Tara>jum li S{ah}i>h} al-Bukha>ri>, karya Muh}ammad Zakariyya> ibn Muhammad Yahya al-Kandahla>wi>

(1325-1402), seorang yang alim dalam bidang hadis dari India. Ia membuat kaidah-kaidah yang dapat membantu memahami sistematika al-Bukha>ri>, memperkenalkan cara berinteraksi dengannya. Suatu karya memuat penjelasan secara meluas seputar sistematika al- Bukha>ri>, yang banyak digali dari karya-karya sebelumnya, sehingga

bisa dikatakan sebagai insiklopedia sistematika kitab al-Ja>mi‘ al- S{ah}i>h}.

Dalam dokumen Mawardi Djalaluddin, M.Th.I (Halaman 151-160)