ﻢﻠﺴﻣ
C. Perkembangan Fikih Islam dalam Lintas Sejarah
2. Perjalanan al-Bukhari Mencari Ilmu ke Berbagai Negeri dan para Gurunya
hadis dari seorang sahabat atau tabiin kecuali telah kuketahui tempat kelahiran dan wafat mereka. Juga tidak akan kuriwayatkan sebuah hadis dari mereka kecuali telah kuketahui asal sanad tersebut dan menghafalnya sebagaimana aku menghafal al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya. Dalam riwayat lain diceritakan bahwa ia mengatakan, ”Aku hafal hadis di luar kepala sebanyak seratus ribu hadis sahih dan dua ratus ribu hadis lain yang tidak sahih.
Muh}ammad ibn Sala>m al-Bikandi> berkata pada al-Bukha>ri>, ”Wahai al-Bukha>ri>, sebelum engkau pergi meninggalkan Bukha>ra>, tolong engkau periksa kitabku, apakah ada banyak kesalahan di dalamnya?” Seorang sahabatnya lalu bertanya, ”Apa kelebihan pemuda ini hingga engkau memerintahkannya memeriksa kitabmu, sedang engkau yang saya ketahui adalah yang termahir dalam bidang hadis di Bukha>ra> ini?.” al-Bikandi> menjawab, ”Pemuda ini tiada duanya.” al-Bukha>ri> pun segera memeriksa kitab gurunya itu lalu memulai perjalanannya. 10
2. Perjalanan al-Bukhari Mencari Ilmu ke Berbagai Negeri dan para
ibn Ani>s di Syam hanya untuk menanyakan satu hadis,11 lalu ia pergi ke Mesir untuk menemui Maslamah ibn Mukha>lid. Sahabat Ja>bir ibn Abdullah juga pergi menemui Uqbah bin ‘A<mir al-Juhani> di Mesir dalam rangka untuk menanyakan satu hadis yang diriwayatkan oleh Ah}mad namun sanadnya terputus (munqat}i‘).12
Perjalanan pertama al-Bukha>ri> ke luar Bukha>ra> adalah saat ia diajak oleh ibunya dan saudaranya untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah pada tahun 210 H. Saat itu umurnya adalah16 tahun, dan ia telah menghafal kitab-kitab karangan Ibnu Muba>rak (118-81 H) dan Waki>‘ (w. 194 H), sekaligus menguasai tema-tema yang sering diperselisihkan oleh ahli mantik (logika).
Setelah selesai musim haji, ia ditinggalkan oleh ibu dan saudaranya yang kembali ke Bukha>ra> untuk memilih menetap di Mekah, tempat di mana para ulama berkumpul dan merupakan salah satu pusat keilmuan Islam.13
Zaman itu ulama yang masyhur dan mengajar di Mekah antara lain Imam Abu> Wali>d Ah}mad al-Azraqi>, Abdullah ibn Yazi>d, Isma>i>l ibn Sali>m al- S{a’ig, Abu> Bakar Abdullah ibn Zubair, dan Imam H{umaidi. Setelah Mekah, tujuan selanjutnya adalah Madinah, tempat semua orang berkumpul untuk mempelajari hadis Nabi.
Ia tiba di Madinah pada tahun 212 H di mana saat umurnya menginjak 18 tahun. Para ulama yang menetap di sana saat itu antara lain, Ibra>hi>m ibn Munz\ir, Mat}raf ibn Abdullah, Ibra>hi>m ibn Abi> Hamzah, Abu> S{a>bit ibn Muh}ammad ibn Ubaidillah, ‘Abd al-‘Azi>z ibn Abdillah al-Uwais. Di Madinah pula ia mulai mengarang kitabnya ”Ta>ri>kh al-Kabi>r” yang menurut riwayat,
11Muh}ammad ibn Isma>‘i>l Abu> ‘Abd Alla>h al-Bukha>ri, selanjutnya disebut al- Bukha>ri>, al-Ja>mi‘ al-S}ah}i>h{ (Cet. IV; Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2009), h. 32.
12Ibnu H{ajar al-Asqala>ni>, Fath{ al-Ba>ri> bi Syarh} S}ah}i>h} al-Bukha>ri>, selanjutnya disebut Fath} al-Ba>ri>, jilid. I, h. 141-142.
13Ibn Hajar, Muqaddimah, h. 247.
ia mengerjakannya saat bulan purnama pada malam harinya. Ulama hadis bersepakat bahwa al-Bukha>ri> menetap di tanah Hijaz (Mekah, Madinah, Thaif dan Jeddah) selama enam tahun berturut-turut.14
Selanjutnya ia mengarahkan tujuan perjalanannya ke Bas}rah, salah satu kota keilmuan Islam yang sekarang termasuk wilayah Irak. Guru-gurunya di sini antara lain, Imam Abu> ‘A<s}im al-Nabi>l, S{afwa>n ibn Isa, Badal ibn al- Muhbir, Hurma ibn ‘Imarah, Affa>n ibn Muslim, Muh}ammad ibn Ar‘arah, Sulaima>n ibn H{arb, Abu> Wali>d al-T{aya>lisi>, Muh}ammad ibn Sina>n, dan ulama-ulama lain yang sezaman (mu’as}arah). Al-Bukha>ri> berkata, ”Aku pergi pulang-pergi ke Bas}rah selama empat kali.”
Ku>fah dan Bagda>d adalah dua kota yang selanjutnya ia kunjungi. Tidak hanya sekali tapi berkali-kali semisal untuk mengecek validitas sebuah sanad hadis yang mungkin ia dapatkan di Ku>fah. Namun terdapat rawi dalam sanad tersebut yang menetap di Baghdad. Imam al-Nawa>wi> menyebutkan dalam kitab Tahz\i>b al-Asma>’ wa al-Lugha>t para ulama yang terkenal yang saat itu menetap di Ku>fah dan menjadi guru Imam al-Bukha>ri> antara lain, Abdullah ibn Mu>sa>, Abu> Nu‘aim, Ahmad ibn Yakub, Isma>i>l ibn Abba>n, H{asan ibn Rabi>‘, Kha>lid ibn Mukha>lid, Said ibn Hafs}, dan T{alaq ibn Ganam, Umar ibn Hafs}.15
Di Bagda>d, ibu kota keilmuan Islam waktu itu, ia menemui dan berguru pada Imam Ahlusunnah, Ah}mad ibn H{anbal, Muh}ammad ibn ‘I<sa> al- S{ibag, Muh}ammad ibn Saiq, dan Syarih} ibn Nu‘man. Di syam, ia mengambil riwayat dari Yusuf al-Farya>bi, Abu> Nas}r Ishak ibn Ibra>hi>m, Adam ibn Abi> ‘Abba>s, Abu> Yaman al-H{akam ibn Na>fi‘, dan H{aiwah ibn Syuraih}.
14Ibn Hajar, Muqaddimah, h. 248.
15Abd al-Sala>m al-Mubarakfu>ri>, selanjutnya disebut al-Muba>rakfu>ri>, Si>rah Ima>m al-Bukha>ri> (Cet. I; Makkah: Da>r ‘Ilm al-Fawa>id, 1422 H), h. 59.
Di Mesir, ia menemui ‘Ali> Usma>n ibn al-S{aig, Said ibn Abi> Maryam, Abdullah ibn S{a>lih}, Ah}mad ibn S}a>lih}, Ah}mad ibn Syabib, As}bag ibn al-Farra>j, Said ibn Abi> ‘I<sa>, Sa‘i>d ibn Kas}ir ibn Afir, dan Yah}ya ibn Abdullah al-Ruqa>.16
Tentang jumlah keseluruhan guru-gurunya, Imam al-Bukha>ri> berkata,
”Aku menulis dari sekitar 1080 orang dan semuanya adalah para ulama dan pakar hadis. Aku tidak akan menulis dan meriwayatkan hadis kecuali mereka mengatakan bahwa iman itu bertambah dan berkurang.17
Ibnu Hajar mengklasifikasikan para guru Imam al-Bukha>ri> ke dalam lima tingkatan (t}abaqa>t):
1. Tingkatan pertama (al-T{abaqah al-U<la>), yaitu mereka yang ia temui dari kalangan tabiin. Seperti Abu> Nu‘aim dari al-A‘masy, Muh}ammad ibn Abdullah al-Ans}a>ri> dari H{umaid, Maki ibn Ibra>hi>m dari Yazi>d ibn Abi> ‘Ubaid.
2. Tingkatan kedua, adalah mereka yang semasa dengan para tabiin di atas, tapi mereka tidak meriwayatkan hadis dari tabiin yang kuat (s}iqa>t). Seperti Adam ibn Abi> Iya>s, Said ibn Maryam, Abi>
Mashar ibn Abdullah A‘la, dan Ayu>b ibn Sulaima>n bin Bila>l.
3. Tingkatan ketiga, yaitu para gurunya yang tidak bertemu dengan para tabiin tapi meriwayatkan dari kalangan tabi>‘al-ta>bi‘i>n senior.
Seperti Sulaiman ibn H{arb, Qutaibah ibn Said, Nu‘aim ibn H{amma>d, ‘Ali> ibn al-Madi>ni>, Yah{ya> ibn Ma’i>n, Ah}mad ibn H{anbal, Ishaq ibn Ra>hawaih, Abu> Bakar dan Usman putra Ibnu
16Ibn Hajar, Muqaddimah, h. 248.
17Ibn Hajar, Muqaddimah, h. 248.
Abi> Syaibah (pemilik Mus}annaf Ibn Syaibah). Imam Muslim juga meriwayatkan dari guru-gurunya pada tingkatan ini.
4. Tingkatan keempat, yaitu mereka yang berteman dan sedikit meriwayatkan dari generasi sebelumnya. Seperti Muh}ammad ibn Yah}ya al-Z|uhali>, Abu> H{a>tim al-Ra>zi>, dan Muh}ammad ibn
‘Abd al-Rahi>m Sya’iqah.
5. Tingkatan kelima, kalangan ulama yang sudah berumur dan mempunyai beberapa sanad hadis. seperti ‘Abdullah ibn Himad al- Amli>, Abdullah ibn Abi> al-‘A<s} al-Khawa>rizmi>, dan Husain ibn Muh}ammad al-Qabba>ni>.
Berdasarkan klasifikasi tingkatan tersebut, Abd al-Sala>m al- Muba>rakfu>ri> menyimpulkan bahwa al-Bukha>ri> pada akhirnya meriwayatkan dari para guru Imam Ma>lik dan Imam Abu> H{ani>fah atau ulama yang sezaman dengan mereka. Orang-orang yang sezaman dengan guru Imam Ma>lik dan Abu> H{ani>fah dan al-Bukha>ri> mengambil riwayat dari mereka antara lain:
1. Al-Bukha>ri> dari Muh}ammad ibn Abdillah al-Ans}a>ri> (t}a>bi‘ al- t}a>bi‘i>n) dari H{umaid (tabiin) dari Anas ibn Ma>lik (sahabat).
2. Al-Bukha>ri> dari Khalla>d ibn Yah}ya> dari ‘I<sa> ibn Tahman dari Anas ibn Ma>lik.
3. Al-Bukha>ri> dari Abu Nu‘aim (t}a>bi’ al-t}a>bi‘i>n) dari al-A‘masy (tabiin) dari al-Mukhad}ram (sahabat).
4. Al-Bukha>ri> dari Ali> ibn Ilya>s dari Haris ibn Us\ma>n dari Abdullah ibn Basysya>r (sahabat).
Sedangkan untuk guru-guru Imam Ma>lik dan Abu> H{ani>fah yang Imam al Al-Bukha>ri> meriwayatkan dari mereka antara lain: pertama, Makki>
ibn Ibra>hi>m. Dari sahabat ia meriwayatkan dari Yazi>d ibn Abi> ‘Ubaid dan Ja‘far al-S{a>diq. Sedang dari tabiin ia bertemu kurang lebih 17 orang dan menunaikan haji lebih 60 kali. Yah}ya> ibn Ma‘i>n juga meriwayatkan darinya.
Kedua, ‘Ali> ibn Iya>s, seorang tabiin di mana Imam Ah}mad ibn H{anbal, Yah{ya> ibn Ma‘i>n, Lais\ ibn Sa‘ad meriwayatkan darinya. Ketiga, Abu>
Nu‘aim Fad}l ibn Daki>n. Keempat Ubaidullah ibn Mu>sa>. Kelima, ’Is}a>m ibn Kha>lid al-Hamsi>.18