MANGGE RANTE (1828-1953)
II. ASAL-USUL KELUARGA DAN PRIBADINYA
Lasadindi lahir di Enu, Kecamatan Sindue (dulu Kerajaan Sindue). Beliau adalah putera Yandala atau Yandara6 (orang Sindue) dengan seorang perempuan dari Pantai Timur.7 Dalam buku Cerita Rakyat Sulawesi Tengah disebutkan bahwa ayahnya bernama Rampatan.8 Ayahnya diberi gelar Rapotango (artinya orang yang mengetahui rahasia tanah), sedangkan ibunya yang bernama Daelino yang berasal dari Toposo (Labuan Toposo).
Ibunya dikatakan sebagai seorang keturunan bangsawan
5 Bambang Purwanto, “Belajar Dari Afrika: Tradisi Lisan Sebagai Sejarah Dan Upaya Membangun Historiografi Bagi Mereka yang Terabaikan”, dalam Jan Vansina, Tradisi Lisan Sebagai Sejarah (Yogyakarta:
Ombak, 2013), hlm. xxv-xxvi.
6 Wawancara dengan Panembulu dan Daerepu di Enu,
7 Paisal dan Husnul Fahimah Ilyas, “Biografi Ulama Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah” dalam Tim Penulis, Biografi Ulama di Kawasan Timur Indonesia (t.t., t.p, 2014), hlm. 66.
8 Tim Peneliti dan Penulis, Cerita Rakyat Sulawesi Tengah (Jakarta:
Depdikbud, 1979), hlm. 58.
Labuan. Leluhur Daelino dari pihak ibunya berasal dari Pantai Timur Sulteng. Hal yang simpang siur ini menandakan bahwa sejak kelahirannya, Lasadindi sudah dibuat misterius oleh masyarakat kampung kelahirannya tersebut.
Hasil penelusuran mengenai tokoh penganjur Islam ini mendapati bahwa nama ayahnya adalah Yandalara atau Rapotango. Beliau adalah anak kedua dari Pue Keloro (ayah) dan Yapa (ibu). Seperti diceritakan oleh Panembulu dan Daerepu bahwa Pue Keloro merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, putera dan puteri Rampatana. Beliau bermakam di Enu, dan dikenal dengan sebutan Pue Nteke. Pue Nteke merupakan cicit Lamagau, Raja Sindue. Sebelum Pue Nteke, dikenal nama-nama lain, seperti Madika Lusu Manuru dan dikenal dengan gelar Pue Mpevonju. Gelar ini diberikan karena raja tersebut dianggap keramat dan dapat merubah- rubah wajahnya. Kemudian disusul Madika Ruantaka Tanama (berkepala dua). Walaupun begitu, mereka mempunyai wibawa dan disegani di Sindue (Enu), tetapi mereka tidak diberi mahkota sebagai simbol kekuasaan. Oleh sebab itu, jabatan yang mereka adalah Madika Ada Ntana.9
Kedua saudara Pue Keloro adalah Nurubunga dan Keo.
Keo menurunkan Laro dan Laro mempunyai anak yang bernama Indila. Sementara Nurubunga menikah dengan Tandasura, putera Sampe Ada dan Nuruinta. Seperti diketahui oleh masyarakat Sindue bahwa Tandasura adalah salah seorang yang bertanggung jawab atas keselamatan La Malonda ketika berada dalam perlindungan Djaelangkara di Tawaeli.10 Dari Tawaeli ke Pantoloan menuju Toaya di sana. Untuk tinggal beberapa lama dan bertemu dengan Lasadindi.
9 Ibid.
10 Rim, dkk., Perkembangan Kerajaan Banawa Periode 1900-1911 (Yogyakarta: Kepel Press dan Balai Pelestarian Nilai Budaya, 2012), hlm.
133.
Sejarah Islam di Lembah Palu
— 254 —
I Pue Lasadindi atau Mangge Rante
— 255 —
Foto Pue Lasadindi bersama Soekarno Sumber: Koleksi Sendiri
Pernikahan Tandasura dan Nurubunga melahirkan tiga orang anak laki-laki, yakni Poli, Tampalagau, dan Sorentale.
Poli kemudian menikah dengan Asnima dan melahirkan Daerepu. Daerepu kemudian menikah dengan Djainabo.
Mereka dikaruniai tiga orang anak perempuan, yakni Tasmia yang memberikan kepada Daerepu tujuh orang cucu, Halima dengan dua orang anak, dan yang terakhir meninggal dunia sebelum menikah.
Tandasura dikenal sebagai salah seorang pengikut yang selalu menyertai perjalanan Lasadindi di Sindue. Ia selalu menceritakan kepada anak dan cucunya mengenai perjalanan mereka menemui orang-orang Tajio dan Da’a di wilayah Pinembani dan mengajak mereka melaksanakan rukun Islam dan rukun iman secara tertib. Olehnya itu, Tandasura banyak mengenal dan dikenal oleh orang Tajio di daerah-daerah pegunungan di Sindue, sehingga ia banyak mengenal orang-
orang Tajio. Sebelum meninggal, ia mengatakan kepada anaknya agar belajar agama kepada Pue Loigi, sebutan lainnya.11
Tampalagau menikah dengan Palaria. Pernikahan ini dikaruniai beberapa orang anak, antara lain Andi Hawa dan Panembulu. Andi Hawa kemudian menikah dengan Lasadindi.
Pernikahan mereka dikaruniai seorang anak perempuan, yakni Ratu Hindia Lasadindi atau biasa dipanggil Pua Ratu. Beliau tinggal di Enu sekarang.12
Dari penjelasan di atas tidak pernah sekalipun saya menyebutkan asal munculnya sebutan Mangge Rante (pamannya Rante) kepada Lasadindi. Rante adalah keponakan Lasandindi dari pihak ibunya. Daelino mempunyai saudara perempuan, namun saya belum menemukan namanya. Saudara perempuan ibunya tersebut menikah dan memiliki anak perempuan yang diberi nama Paria, saudara sepupu Lasadindi.
Paria menikah dengan Nduya, dan dari pernikahan inilah lahir seorang anak laki-laki yang diberi nama Rante. Keponakannya ini tinggal di rumah Lasadindi untuk menuntut ilmu. Oleh karena itulah, Lasadindi pun dipanggil sebagai Mangge Rante.
Lasadindi beberapa kali menikah. Ada informasi yang menyebutkan bahwa beliau menikah delapan kali. Isterinya tersebar di Tanah Kaili.13 Namun demikian, informasi lain juga menyebutkan bahwa Lasadindi menikah dengan sepuluh orang isteri. Dari kesepuluh isteri beliau, baru dua orang yang dapat
11 Selain Pue Loigi atau Lasadindi, Lasadindi juga dikenal dengan nama lain, seperti Toma I Vole di kalangan Orang Bunggu di Mamuju Utara, Toma I Indorau di Bora, Orang Tua di Lembah Sada pada kalangan Orang Bugis, I Pue mBaso di kalangan Orang Tajio di Sindue. Dari berbagai sumber informasi lisan di Lembah Sada, Bora, Bambalamotu, Enu, Sirenja, Balukang, Toaya, dan Palu.
12 Panembulu, wawancara di Enu, 5 April 2015.
13 Paisal dan Husnul Fahimah Ilyas, “Biografi Ulama Sulawesi Tenggara Dan Sulawesi Tengah” dalam Tim Penulis, Biografi Ulama di Kawasan Timur Indonesia (t.t., t.p, 2014), hlm. 66.
diketahui namanya yakni Kaeria dan Andi Hawa. Sementara isterinya yang lain belum diketahui namanya. Namun yang pasti bahwa beliau menikah di Bora (Kerajaan Sigi) dan mempunyai seorang anak yang diberi nama Indorau.14 Di Marana juga, dan dikarunia seorang anak. Begitu pula di Silanga (Pantai Timur), ia menikah kampung itu dan dikaruniai seorang anak.15 Beliau juga menikah di Tipo dengan seorang perempuan dari Suku Da’a dan diakruniai seorang anak perempuan bernama Vole.16 Beliau menikah Wani juga, dan dikaruniai dua orang anak.
Pada awal masa Jepang, Lasadindi menikah di Alindau tetapi tidak mempunyai anak. Isteri yang berasal dari Alindau itu tinggal di Tibo, Sindue Tumbusabora. Informasi yang belum ada kejelasannya juga menyebutkan bahwa ketika berada di Randomayang, beliau menikah dengan seorang perempuan di kampung itu.
Banyak orang di Sindue dan Enu menyatakan bahwa Lasadindi adalah keturunan Bangsawan Sindue yang pernah memerintah di Kerajaan Sindue. Kerajaan itu dulunya berkedudukan di Enu, sebelum dipindahkan oleh Raja Lamagau. Menurut Syamsuddin Hi Chalid bahwa “Satu cabang keturunan raja Sindue (Lamagau), yang melhirkan raja yang tidak bermahkota, tetapi cukup berwibawa dan disegani tetap berdomisili di Sindue (sekarang Enu), adalah Madika Lusu Manuru dan dikenal dengan gelar Pue Mpevonju.”17 Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa Lasadindi
14 Tim Penulis, Op.cit., hlm. 61.
15 “Beliau juga (Mangge Rante, Pen) menikah di sana (Silanga, Pen), saya pernah ketemu isterinya itu. Tapi saya lupa namanya. Ada anaknya di sana, tapi sudah meninggal itu. Aa..hh! Kenapa saya bisa lupa namanya?
Saya pernah ikut ke Silanga dan Ampibabo. Waktu masih jaman Belanda, karena saya tidak ikut heredients hari terakhir. Dua minggu kami di sana.”
Panembulu, wawancara di Enu, 5 April 2015.
16 Tim Penulis, Op. Cit., hlm. 62-63
17 Syamsuddin Hi Chalid. Dkk., 1981. Sistem Kesatuan Hidup Setempat Daerah Sulawesi Tengah (Editor Sagimun M.D) (Jakarta: Proyek IDKD Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Depdikbud), hlm. 37.
adalah keturunan dari Pue Nteke, sedangkan I Pue Nteke sendiri merupakan keturunan Pue Mpevonju.
Selain sebagai keturunan bangsawan, Lasadindi dikenal sebagai keturunan ulama. Sejak dari Pue Nteke hingga Lasadindi, jalan hidup sebagai penganjur Islam telah dipilih oleh mereka. Ada satu cerita menarik yang dapat dijadikan dasar bahwa garis keturunan itu adalah pengajur Islam.
Ceritanya sebagai berikut.
Pada masa dahulu, dulu sekali, sebelum ada dunia ini.
Tuhan hendak membangun Mekah. Raja Sindue segera mengutus tujuh orang untuk membuat Kota Mekah. Kota Mekah dibuat dalam satu malam saja. Ketujuh orang tersebut adalah Yandara, Rampatana, Nurulino, Konae, Lagegere, Pue Keloro, dan Raja Bulu.18
Apa yang dapat dijelaskan dari cerita tadi? Ada dua sebenarnya, yaitu pertama, membuat Mekah adalah hal yang tidak mungkin dilakukan oleh orang Indonesia, apalagi Orang Sindue. Sebab posisi geografis yang terlalu jauh dan juga Mekah telah ada sejak sebelum Islam hadir di muka bumi. Namun bila didalami lebih jauh maka terdapat sebuah kenyataan bahwa Islam yang hadir di Sindue berasal dari Tanah Arab. Ceritanya begini, “Islam yang ada di Sindue ini langsung dari Tanah Arab.”19 Bila demikian, ada dua kemungkinan yang dapat saya simpulkan, yaitu penyebaran Islam secara masif terkait dengan keberadaan orang-orang Arab pada pertengahan abad ke sembilan belas di Wani. Atau bisa jadi penyebaran Islam di Sindue memiliki hubungan dengan Tuan Hadjie yang pernah berkunjung ke Sindue ketika Yandara masih hidup. Hal ini juga diperkuat dengan adanya pemikiran masyarakat Kaili di Sindue dan Banawa Tengah bahwa “Lasadindi dan Syekh Lokiya itu
18 Daerepu, wawancara di Enu, 5 April 2015.
19 Wawancara dengan berbagai sumber di Lembah Sada, Enu dan Toaya, 25 Maret dan 5-6 April 2015.
Sejarah Islam di Lembah Palu
— 258 —
I Pue Lasadindi atau Mangge Rante
— 259 —
memiliki hubungan.” Hubungan seperti apa? Belum dapat dijelaskan lebih rinci lagi. Namun pernyataan lain menyatakan bahwa “asal-usul mereka itu hanya satu, tetapi berganti nama dan wajah dengan cara terlahir kembali.”20
Kedua, nama-nama yang disebutkan itu berada di Sindue, Hal ini sebenarnya menjelaskan bahwa penyebaran Islam melalui Tasawuf. Ada kemungkinan bahwa di Sindue telah berkembang sebuah tharikat. Ini hanyalah sebuah dugaan saja.
Dugaan ini masih perlu dibuktikan lebih jauh.21 Ketujuh nama itu adalah generasi kedua dan ketiga penerima Islam di Sindue, khususnya di kalangan bangsawan. Bangsawan pertama yang memeluk Islam adalah Pue Nteke.
I Pue Nteke manggeni Islam tumai, ri Sindue sei. Rai ninjaniku dako riva ia nangala ajaran vetu. Aku sei aga, mabalajara ante I Pue Mangge Rante.22
Dan atas usaha beliau menyebarkannya, maka Islam pun menyebar luas di Sindue. Masyarakat Sindue pun segera memeluk agama, tapi mereka tidak serta merta meninggalkan kepercayaan lama mereka. Salah satu buktinya adalah hasil temuan Syamsuddin Hi Chalid mengenai mantra yang ada di Sindue. Mantra itu berbunyi:
Islamu alaikum, I Nabi mangkulili, Tabe-tabe pua Tabaraka, Ridayo sei, Kita Tomanuru, Kami mododo mantolu, Bagiaka miu isi mpovia, Isi ntana, tomanuru-manuru, Kita to pakaderea, Baliaka moi majadi, Jononto SinduE.
Terjemahannya adalah:
20 Hamsing, wawancara di Lembah Sada, 25 Maret 2015.
21 Makam sang aulia Allah ini banyak ditemukan di berbagai tempat di Indonesia. Padahal berdasarkan fakta sejarahnya, Syech Abdul Qodir Al-Jilani tidak pernah ke Nusantara semasa hidupnya.
22 Terjemahan bebasnya; I Pue Nteke yang membawa Agama Islam ke sini, di Sindue ini. Tapi saya ini tidak tahu dari mana ajaran itu diambil”.
Penembulu, wawancara di Enu, 25 Maret 2015.
Ucapan selamat dari Agama Islam, Untuk arwah para nabi, Permisi hai orang sakti, Kami berada di atas kuburan ini, Kalian tomanuru, Kami mohon membuka kebun baru, Beri kami hasil upaya, Hasil bumi, tomanuru yang menjelma, Kalian topokaderea, Berikan keberhasilan panen, Yaitu alang-alang to SinduE.23
Lasadindi yang terlahir dari keluarga bangsawan yang juga penganjur Islam, sehingga tidak heran bila di kemudian hari dirinya dikeramatkan oleh masyarakat yang pernah dikunjunginya. Pada kampung-kampung yang pernah dijadikan tempat bermukin, baik sementara atau lama, beliau menjadi mitos dan dimitoskan oleh masyarakat di kampung tersebut.
Salah satunya adalah Tibo, yang pada masa penjajahan Belanda dijadikan sebagai tempat bersembunyi dalam kejaran tentara Belanda. Begitu juga saat tentara Jepang datang, beliau memilih hidup sebagai petani di Tibo. Beliau tinggal bersama isterinya yang berasal dari Alindau. Mereka membuka kebun di Silumpa. Dalam persembunyiannya di Silumpa ini, beliau selalu didampingi oleh dua orang yakni Maola dari Tibo dan Marlan dari Enu.